There's a Possibility

Berdasarkan kisah nyata.

Disclaimer: Naruto adalah milik Masashi Kishimoto


Musim semi. Taman kota kembali menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang ingin bersenang di luar. Anak-anak bermain kejar-kejaran, sementara para orang tua duduk di bangku, menukar cerita tentang kehidupan mereka. Tapi tidak semua orang pergi ke taman kota dengan orang lain. Ada satu wanita muda yang menikmati waktunya sendirian.

Hinata kembali mengikat rambutnya yang telah tumbuh beberapa centi setelah satu setengah tahun ia memotongnya pendek. Kebanyakan orang yang mengenalinya selalu bilang ia lebih cocok rambut panjang, oleh karena itu ia membiarkan rambutnya tumbuh lagi.

Ia menghirup udara segar di sekitarnya sambil membaca buku baru yang ia beli di toko kemarin. Terkadang ada orang yang melewatinya, namun ia terlalu sibuk membaca cerita tentang seorang wanita yang pergi keliling dunia untuk menemukan adik cowoknya. Terkadang angin bertiup kencang, dan Hinata harus berusaha untuk tidak membiarkan syal dan bukunya diterbangkan angin. Setelah beberapa jam ia merasa lapar dan mutuskan untuk pergi ke sebuah bistro setelah menyelesaikan satu bab lagi.

Ia mendengar langkah seseorang yang berhenti dan turun dari sepedanya untuk membuang sesuatu ke tong sampah di samping bangku dimana Hinata duduk. Ia merasakan pandangan orang itu tiba-tiba melekat pada dirinya. Ia masih mencoba lanjut membaca, dan berharap orang itu bergegas pergi. Namun orang itu tidak beranjak juga.

Merasa sedikit bingung, ia mengangkat wajahnya.

Di depannya, masih di atas sepedanya, berdiri seorang lelaki, sepertinya seumuran. Rambutnya kuning, mata biru, badannya tinggi. Hinata menurunkan bukunya. Ada... sesuatu yang aneh... seolah-olah ia merasa terhubung dengan orang itu.

"Anu..." lelaki itu berbicara gugup.

Hinata memandangnya dengan penuh tanya.

"Buku cerita yang bagus, aku juga sudah membacanya," lelaki itu berkata dengan senyum lebar.

"Sungguh?" tanya Hinata dengan riang sambil melipat bukunya untuk melihat sampunya.

"Ya sungguh, menurutku ceritanya bagus, kamu tidak akan menyesal membacanya."

"Kalau begitu aku bisa tenang, aku kemarin hampir membeli buku yang lain," ujar Hinata tersenyum.

Beberapa detik berlalu dan keduanya terdiam, hanya saling memandang.

Kemudian lelaki berambut kuning itu berkata, "anu, apa kamu sudah membaca beyond the sea? Kudengar itu adalah buku yang memiliki unsur-unsur yang serupa. Jalan ceritanya berbeda, tapi sama menariknya untuk dibaca."

Hinata tersenyum lagi, "akan kubaca."

Lelaki itu kembali terdiam dan memandang Hinata untuk waktu yang lama. Karena merasa malu terus dipandang olehnya, Hinata bangkit dan menjelaskan bahwa ia harus pergi.

"A-apa kamu akan berada disini besok?" lelaki itu bertanya.

Hinata berpikir sejenak, sebelum menjawab, "mungkin."

"Aku akan berada disini! Kuharap kamu akan datang!" ujar lelaki itu semangat.

Hinata tertawa sedikit, kemudian ia bergegas pergi.

Ugh apa itu tadi? Orang aneh... Sebaiknya aku gak kesini lagi.

Diam-diam Hinata berbalik untuk melihat orang itu sekali lagi. Ia melihatnya menutupi wajahnya dengan tangan kanannya. Kedua pipinya merah.

Langkah Hinata terhenti dan ia kembali melihat ke depan.

Jangan-jangan dia...

Ia memasukkan bukunya ke dalam tas.

"Ah mana mungkin... tidak ada yang namanya cinta pandangan pertama."

Ia menuju bistro dimana ia akan memesan makan siangnya, sambil berdebat dengan dirinya apa besok ia kembali ke taman kota itu lagi. Akhirnya ia memutuskan untuk bertemu lelaki itu lagi. Tidak ada salahnya. Lagian... apa yang bisa terjadi?

Dua tahun kemudian...

"Itu dia..."

"Dobe jangan panik."

"Gimana aku gak bisa panik nih... Tinggal beberapa detik lagi..."

"Udah sana, cepat."

"Sasuke, aku merasa seperti mau-"

"Sana! Kameranya udah jalan!"

"Ouch!"

Naruto terdorong oleh Sasuke ke depan dari tempat persembunyian mereka. Ia hampir bertabrakan dengan Hinata yang baru sampai di tempat pertemuan mereka.

"N-Naruto-kun?"

"Oh hey Hinata!" Naruto tertawa gugup sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.

"Senang kamu sudah sampai disini, ada sesuatu yang mau kutunjukkan ke kamu!"

Hinata tertawa saat Naruto mengambil tangannya dan menariknya, melewati beberapa pohon dan semak-semak.

"Nah sudah sampai!"

Hinata terdiam sejenak.

"N-Naruto-kun... ini indah sekali."

Ternyata Naruto telah menyiapkan piknik di dekat ujung jurang yang menampakkan matahari tenggelam.

"Ini luar biasa, aku tidak tahu ada tempat seperti ini, kamu bahkan menyiapkan piknik..."

Hinata memandang Naruto dengan air mata menuruni pipinya.

"Aku terharu sekali Naruto-kun."

"Ah bukan cuma itu..." Naruto mengambil tangan Hinata dan mulai berdansa dengannya.

Tiba-tiba dari dekat terdengar alun lagu yang romantis. Hinata tertawa saat Naruto mencoba berdansa waltz dengannya.

"Kukira kamu tidak suka berdansa," ujar Hinata.

"Aku gak bisa berdansa, bukan tidak suka," ujar Naruto balik.

Hinata tersenyum dan meletakkan telinganya ke dada Naruto untuk mendengar detak jantungnya. Mereka berdansa tanpa menukar sepatah katapun, sampai Naruto mengangkat tangan Hinata ke bibirnya, dan dengan nada serius dan gugup ia bertanya saat mereka bertukar pandang, "Hinata, maukah kamu menikahiku?"

Hinata terhenti dan menatap Naruto dengan tidak percaya. Angin berhembus dengan lembut, dan Hinata, entah kenapa, teringat doanya di taman kota beberapa tahun lalu.

Ia tersenyum lembut sambil memeluk Naruto sebelum menjawab, "iya."

Naruto menghembuskan napas panjang sebelum mengeratkan pelukan mereka.

"Jangan lepaskan aku," ia pinta.

"Tidak akan," janji Hinata.

"Oh ya... Hinata?"

"Hm?" Ia kembali mengangkat wajahnya.

Naruto tersenyum.

"Jangan pernah berubah."


Akhirnya saya berhasil selesaikan satu fanfic. Dulu saya memulai fanfic ini untuk membantu keadaan saya waktu diputuskan dulu. Saya menunggu, ingin melihat jalan hidup saya membawa saya kemana. Ya dan kalian bisa menduga, saya bertemu seorang lelaki yang baik. Pertemuan kami kurang lebih seperti yang diutarakan di cerita ini, tanpa lamarannya. Saya berharap fanfic ini bisa memberikan harapan untuk semua orang yang lagi patah hati karena saya juga dulu berpikir tidak mungkin saya bisa sembuh. Kenyataannya saya salah, dan sekarang saya yakin ada kemungkin untuk semua orang untuk maju dan bangkit lagi. Anehnya, pacar saya punya kepribadian yang mirip Naruto, saya sampai pikir ini lelucon nasib. Hal yang paling mengejutkan adalah, dimana bekas pacar saya ingin dulu saya berubah karena ia kurang suka kepribadian saya yang pendiam, pacar saya yang sekarang tidak ingin saya berubah. Dan itulah yang ingin saya sampaikan, jangan berhenti berharap untuk menemukan orang yang akan berkata, jadilah dirimu sendiri. Tidak apa-apa kamu berbeda.