Summary : Gadis itu terus berlari, melewati cahaya purnama yang membakar lukanya. Dan ketika sebuah pengkhianatan menghampirinya, dia bahkan tak lagi peduli dengan semak belukar yang terus mengejarnya. Bahkan ketika senyuman yang bisa menyelamatkannya lenyap. Lalu apa yang akan dilakukannya setelah ini? Terus berlari? Atau kembali ke rumah?
Disclaimer : Saint Seiya belongs to Masami Kurumada. And this fiction pure by me.
Warning : OOC, OC, TYPO(s), semi!AU (?)
The Curse and Her Love
RnR?
-Keep Enjoy-
-OOOooooOOOoooo-
"Cari pesawat Malaysia MH370 sampai dapat. Dan cari mayat yang namanya Udin."
NGIINGG
JEDAARR!
"HAHH?!"
Nyawa keempat orang tersebut serasa sudah melayang-layang di angkasa. Tantangan macam apa itu? Mencari pesawat MH370 mungkin masih bisa ditoleran, tapi mencari mayat yang namanya Udin?! Hell yeah! Namanya saja baru denger sekarang, apalagi ngeliat mukanya. Shura yang sudah kalang kabut, tentu langsung berteriak, "Demi Athena! Ampuni dosa-dosaku!" dan mengundang sweatdrop-an dari saint-saint yang ada di sana. Mitsuki segera mengelus-ngelus punggung Shura, tersenyum miris sambil menatap kertas itu. 'Apa yang harus ku lakukan?' batinnya. Begitu juga Aldebaran yang kini telah terduduk di atas tanah dan Aiolos yang masih terbengong-bengong.
Henna langsung menghampiri Mitsuki, dan ikut memberikan kekuatan pada temannya. Sedangkan Sophie sudah berjalan ke arah Milo yang menatap bingung ke sekelilingnya. Selain Milo, ada lagi Kanon yang kini nyengir, berjalan mendekat ke Shizen, dan setelah itu tertawa.
"Apa yang sudah Kanon-nii rencakan?" tanya Shizen yang heran menatap Kanon.
"Hahaha... tidak ada. Hanya keisengan belaka," jawabnya yang masih menyeringai kecil.
"Kasihan mereka. Kanon-nii harus minta maaf," suruh Shizen. Dan Kanon hanya mendelik ke arahnya.
"Ahh… bawel. Mereka gak bakal marah kok." Kanon memperhatikan lagi Mitsuki dan teman-temannya yang tengah menahan derita. Tanpa ia tau, Shizen sudah berdiri di sampingnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakukan Kanon. Lalu dengan langkahnya, gadis itu menghampiri Mitsuki, berusaha menghiburnya.
Milo yang merasa adanya kejanggalan di sini kini mulai mengingat-ingat kembali menit-menit sebelumnya. Rasanya dia melihat seseorang yang menulis di kertas itu. Ahh maksudnya, yaa, Kanon, orang itu yang tadi dengan sembunyi-sembunyi menulis di secarik kertas yang telah ia siapkan. Ternyata ini toh yang dilakukannya.
"Hei, hei. Mana ada tantangan yang seperti itu," Milo mendekat ke arah Shura dan yang lainnya. Matanya masih terfokus pada secarik kertas yang kini telah mendarat sempurna di atas tanah, "Itu kerjaanya Kanon! Coba kalian balikin kertasnya," Milo mengambil kertas tersebut dan membalikan ke sisi satunya. "Meng-cosplay kostum maid yang super ketat dan seksi. Lalu bergaya dengan sangat kawaii." tegas Milo, membuat Mitsuki, Shura, Aiolos, dan Aldebaran kejang-kejang saking shocknya.
"Demi Dewa Dewi Olympus! Apa salahku?!"
"Thanathos! Cabut nyawaku sekarang!"
'Apakah aku berdosa?' Aiolos hanya bisa berteriak dalam hati tatkala mendengar tantangan itu.
Untuk Shura sendiri, ia hanya facepalm setidaknya lebih baik daripada menacari pesawat MH370, bukan? Lagian dia itu laki-laki, apa yang mau dipamerkannya? Bokongnya? Udah biasa. ABSnya? Juga udah biasa. Palingan ia harus menahan malu jika menggunakan kostum maid perempuan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Yaa, kecuali untuk Mitsuki. Biar bagaimanapun ia tetaplah seorang gadis yang pasti memiliki bimbang jika sudah bersangkutan dengan membuka aurat.
Kali ini Kanon hanya tersenyum canggung saat semuanya menatap dirinya. Dengan sungkan ia berjalan, mengambil pakaian maid dari kardus besar itu dan memberikannya kepada kelompok Mitsuki.
"Fufufu, ini menarik, bukan?" sekali lagi, Kanon dihadiahi bogem mentah oleh Mitsuki. Gadis itu dengan kasar merebut kostum maid yang ukurannya terlalu kecil dengan badannya. Dengan muka memerah, ia berjalan ke belakang semak-semak dengan Henna yang mengekor di belakangnya. Sedangkan Aldebaran dan Shura hanya menatap kostum itu dengan tidak minatnya.
Seperkian menit, mereka menunggu Mitsuki dan yang lainnya berganti baju. Hingga Mitsuki berjalan perlahan-lahan dengan wajah memerah dan Henna yang mendorongnya, menyuruhnya untuk lebih cepat berjalan. Kanon dan Milo menatap Mitsuki tanpa berkedip, dengan sigap tangan mereka terangkat menyentuh hidung mereka masing-masing. lalu, segera berbalik badan, agar tidak tergoda oleh pesonanya Mitsuki.
Setelah itu, disusul oleh Aldebaran, Aiolos, dan Shura yang juga menggunakan kostum maid ketat dan seksi. Aldebaran hanya menatap datar sekumpulan orang-orang itu yang mati-matian menahan tawa. Tapi, jauh di dasar hatinya, ia tengah menahan malu, tidak pernah seumur-umur hidup Alde, ia menggunakan pakaian wanita. Beda lagi dengan Shura, wajahnya merah padam walaupun ekspresinya tetap datar. Tangannya bergerak-gerak, berusaha menurunkan kostum maidnya yang super pendek. Sedangkan Aiolos hanya bisa menundukkan kepalanya, diam-diam merutuk Milo yang telah merencakana permainan gila ini.
"Mitsuki-chan, kamu imut banget." Sophie menepuk-nepuk pipi Mitsuki yang kini bersemu merah.
"Mitsu-chan lucu." Shizen juga berucap dengan senyum yang mengembang.
"Tuh kan, Mitsuki, udah aku bilang kau cocok menggunakan kostum ini," Henna berusaha mengembalikan percaya diri Mitsuki. Meskipun hal itu nyaris tak mungkin.
"Ta-tapi, ini te-terlalu pendek dan ketat, Henna-chan," wajah Mitsuki sudah semerah tomat. Tangannya berusaha menutupi bagian atasnya yang lumayan terbuka.
Aiolia menggeleng canggung saat melihat teman-temannya yang menggunakan kostum maid, terlebih pada Aiolos yang sejak tadi hanya diam berdiri memandang tanah. "Kenapa tidak dimulai saja?" tanyanya, yang lebih terdengar seperti perintah.
Mitsuki segera menghampiri anggota kelompoknya yang lain, lalu berkata, "Kami harus bagaimana?"
Hanya sepersekian detik bagi Aiolia untuk mencerna perkataan Mitsuki, "Begini, Mitsuki, kalian harus bergaya seimut mungkin dengan kostum maid itu," jelasnya. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Mereka masih belum bereaksi, sampai akhirnya, "Apa?! Bergaya imut?!" suara Shura menggelegar. Sedangkan Mitsuki yang baru saja sadar hanya bisa menggelengkan kepalanya kuat-kuat, dengan wajah pucat dan keringat dingin yang mulai berjatuhan, dia berkata, "Imut? Maksudmu kawaii?" tanyanya memastikan.
"Iya, kawaii." tegas Aiolia.
Milo dan Kanon masih betah berdiam diri. Memperhatikan lekuk tubuh Mitsuki yang bisa dibilang sempurna untuk gadis seusianya. Tentu saja dengan jarak yang sedikit jauh. Sophie yang melihat kakaknya yang sedang memperhatikan hal yang tidak-tidak, kini mendekat ke arah Milo dan Kanon.
"Milo-nii, Kanon-nii, apa yang kalian lihat?" suaranya terdengar jernih seperti biasa, tapi tak dipungkiri kalau itonasi seperti itu berhasil membuat bulu kuduk Milo dan Kanon meremang. Dengan kegugupan dan kengerian, Milo buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain, seolah beberapa waktu yang lalu tak terjadi apapun.
"Sophie? Kami tidak melihat apapun."
Alibi. Pikir Sophie. Dan dengan tatapan tajamnya gadis itu berkata, "Jauhin mata kalian dari hal-hal yang akan menimbulkan dosa, Nii-san." gadis itu segera meninggalkan keduanya.
Aldebaran berjalan maju, membuatnya menjadi pusat perhatian sekarang. Aiolos pun mengikuti langkah Aldebaran, menyisihkan kedua yang lain di belang mereka. Keringat dingin tak henti menetes dari pelipisnya, memancarkan jelas sirat kegugupan dan kegelisahan. Aldebaran yang memang tidak tahan menggunakan kostum ketat itu, kini langsung menggerak-gerakan perutnya yang buncit. Bergaya dengan kawaiinya sedangkan tubuhnya sendiri merespon dengan goyangan perut.
Setengah mati mereka menahan tawa saat melihat Aldebaran bergaya seperti itu. Terlebih untuk Milo, Aiolia, dan Kanon yang sudah ngakak sejadi-jadinya di balik pohon.
"Aldy! Itu gaya apa?! Ahahaha!" Dite yang tak bisa menahannya lagi pun kini mengeluarkan semua tawanya. Wajah Aldebaran kini merah padam, tak bisa menahan malu lagi.
"Aldebaran, lucu," suara jernih Mu yang kini terdengar sedikit aneh karena menahan tawanya berhasil membuat Aldebaran menghentikan aksinya. Dengan canggung ia menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal itu. "A-aku akan ganti pakaian!" ia segera meleset dari tempat itu. Mengambil pakaiannya, dan membuat semua orang di sana tertawa lepas. Dia benar-benar terlihat seperti badut tadi.
Setelah diam beberapa saat, kini, Aiolos dan Shura yang beraksi. Mereka sengaja meminjam bando kucing yang tadi dikenakan oleh Henna dan teamnya. Lalu, dengan senyum super kawaii, mereka mengepalkan kedua tangan mereka sambil mengangkatnya ke atas bahu, bergaya ala kucing yang kehilangan majikan, "Miaw~" ucap mereka berkali-kali, dengan wajah semu merah yang tak kalah dari Aldebaran. Beberapa saint ada yang bersemu juga saat melihat duo itu mengeluarkan aksi kucing-kucingan mereka. Entah bersemu karena terpesona atau karena ikutan malu, yang jelas rona merah sangat-sangat jelas tercetak di wajah mereka.
Beda halnya dengan Aldebaran, SHura dan Aiolos justru malah tertawa bersama saat menyadari aksi konyol mereka, dengan setianya mereka menunggui Mitsuki yang kini bersiap menjalani aksinya.
Mitsuki berjalan, menatap canggung ke sekitarnya. Setelah menghembuskan napas beberapa kali dan menenangkan diri, ia melanjutkan, "Moo…" panjang, atau lebih serupa dengan desahan kecil. Mitsuki menunduk, membuat bagian atasnya terkspose sedikit jelas, ia lalu membuat gerakan memajukan bibirnya, seolah sedang mencium seseorang, tentu saja dengan mata terpejam. Milo dan Kanon yang melihatnya sudah ber-nosebleed ria. Wajah mereka merah padam, memperhatikan lekuk tubuh Mitsuki yang memang sempurna. Begitu juga dengan wajah Mitsuki.
"Astaga, Milo-nii!..." Sophie segera memberikan tissue kepada kakaknya. Melupakan fakta bahwa di depan sana ada sahabatnya yang sedang menjadi tontonan para pria.
Henna yang sudah geram-geramnya melihat para saint pria menatap Mitsuki dengan penuh nafsu segera meninju mereka satu per satu, tanpa terkecuali. Membuat Shizen bergidik ngeri. "Kalian! Dasar buaya darat!" bentak Henna. Lalu, cepat-cepat ia mmebawa Mitsuki untuk berganti baju lagi, begitu juga Sophie dan Shizen yang mengekor di belakangnya.
"Yuuuuhhhuuuu!~ Ksatria Baja Hitam datang! Siap menyelamatkan dunia!"
"Diamlah, Seiya! Kau seperti bocah."
Seiya meluncur dari atas, mendarat dengan sempurna di atas tanah. Dan langsung membawa kericuhan. Seiya, Shiryu, Hyoga, Ikki, dan Shun, tak terlihat adanya Athena di sekitar mereka. Menandakan bahwa Athena telah sampai di Pope Chamber's dengan selamat.
Shizen menatap kelima orang yang baru datang tersebut dengan rasa penasaran tinggi. Pandangannya berhenti sedikit lama ke arah sang Saint Pegasus yang meluncur dari atas. Edangkan Seiya yang sejak tadi jadi pusat perhatian masih belum sadar adanya 'orang baru di antara mereka.
Manik apinya kini beralih ke arah pria berambut panjang yang sedang menceramahi Seiya dengan hikmatnya. Juga masih belum sadar akan kehadiran. Namun itu tak berlaku untuk tiga orang lainnya. Terbukti dengan mereka yang melangkah ke arah Shizen. "Siapa kau?" pria berambut hijau yang palinng kecil di antara mereka memulai pembicaraan. Shizen lekas mengalihkan pandangannya ke arah Shun, dan tersenyum menatap pria tersebut.
"Aku Yuiri Shizen. Murid dari Gemini Saga, salam kenal," suara lembut Shizen disertai dengan senyum manisnya membuat ketiga pria tersebut mengangguk-angguk, tak luput memandang Shizen dengan kakugaman. "Aku Cygnus Hyoga. Salam kenal juga, Shizen," sapa Hyoga, pria berambut kuning. Ia mengulurkan tangannya, dan disambut oleh uluran kanal Shizen. "Ah, aku Andromeda Shun dan ini kakakku, Phoenix Ikki. Shun menyikut lengan kakaknya. Dengan tersirat menyuruh kakaknya untuk bersikap ramah. "Salam kenal, Shizen." ucap Ikki dan dibalas anggukan Shizen.
"Mereka itu, juga teman kalian?" tanya Shizen hati-hati. Masih mengernyit heran melihat kedua orang lainnya. "Si Bodoh itu namanya Seiya. Dan yang rambutnya panjang bernama Shiryu. Harap maklum, mereka memang sering seperti itu." Hyoga mengerlingkan matanya, kesal. Namun segara dilemparnya senyum ke Shizen saat melihat Shizen tersenyum geli ke arahnya.
"Dan Shun itu pacarnya Sophie," tiba-tiba saja Henna telah berada di samping Shizen. Membuat Shizen terkejut atas kedatangan Henna yang tiba-tiba . "Ma-masa sih?" tanya gadis itu. Masih terlihat tak yakin. Namun segera ia mengulum senyum saat melihat Shun yang tampak malu-malu mengiyakan.
"Ikki juga pacarnya Henna kok," kini Mitsuki yang datang dari arah belakang, dengan bajunya yang lebih sopan. Sekali lagi Shizen mengerlingkan matanya tak percaya.
"Yaa! Kau jangan bicara yang macam-macam!" Henna berteriak ke arah Mitsuki dengan wajah bersemu. Sedangkan Ikki sedang sibuk –ata berpura-pura sibuk, seolah tak mendengar apapun. Hal tersebut membuat tawa Mitsuki semakin menjadi, kini juga disusul oleh tawa Sophie.
"Seiya, di mana kau meninggalkan Athena sendirian?" Shiryu yang sudah puas mengomeli Seiya kini bertanya tentang Saori. Pasalnya Saori, yang tadi berkata ingin buang air menyuruh mereka untuk menunggunya, tapi Seiya dengan bodohnya malah menarik lengan Shiryu dan ketiga temannya yang lain untuk berjalan-jalan. Ouh, ouh, lupakan fakta bahwa Athena telah sampai di Pope Chamber's. Dasar nakal.
Seketika wajah Seiya memucat. Tersadar akan kesalahan fatal yang dilakukannya, bisa-bisa gajinya dipotong! Tunggu dulu, memangnya bisa gajinya dipotong? Dapat gaji saja tidak!
"Astaga Shiryu! Kenapa kau tidak mengingatkanku dari awal?!" dengan paniknya Seiya segera menarik lengan Shiryu, menyeret lelaki itu untuk segera kembali ke tempat toilet umum. "Dasar, Baka!" ucap Shiryu.
Lupakan kedua saint goblok itu. Dan beralih ke kelompok 2 yang mendapat nomor urut ke-3. Sophie, gadis itu kini sudah berada di depan ember. Lama menatap ikan yang berenang bebas di dalamnya. Tak sadar bahwa sejak tadi Saga, Kanon, dan Shizen sedang memperhatikannya.
"Sophie, jangan bermain-main," ucap Milo memperingati adiknya. Dengan wajah bersemu, Sophie segera mengambil ikan itu, dengan bulatan air yang menyelimuti ikan tersebut, maksud Sophie agar ikan tersebut tetap bisa bernapas.
Namun ternyata, Sophie tidak segera meletakkan ikan bersirip safir yang indah itu ke ember satunya. Niatnya ingin menunjukan ikan unik itu ke Shizen. Tapi ternyata…
"KYAAA! Jauhkan makhluk itu dariku!" teriaknya. Kakinya melangkah mundur ke belakang, hingga punggungnya menempel pada batang pohon. Tak ada lagi ruang untuknya kabur.
"Tapi ikan ini lucu, Shizen, lihatlah," Sophie menyodorkan ikan itu ke arah Shizen.
"TIDAK! TIDAK! Jauhkan makhluk menjijikan itu!"
"Makhluk apa kau bilang?"
"Makhluk menjijikan itu! Makhluk bersirip itu! Jauhkan dariku, SOPHIE!" Saga menggelengkan kepalanya, tersenyum geli melihat kedua gadis itu. Segera ia menghampiri Sophie dan mengelus kepala gadis itu, "Baiklah, baiklah, kalian tidak ingin kekacauan ini berlanjut bukan?" sedangkan Kanon masih terpingkal melihat kedua gadis itu. Dan dengan gusarnya Sophie menjauhkan ikan itu dari Shizen. "Tapi ini bukan makhluk menjijikan, Shizen!"
"Baiklah, bukan makhluk menjijikan, tapi jauhkan itu." kini suara Shizen melembut. Sedangkat wajahnya sudah semakin pucat. Henna dan Mitsuki tertawa bersama saat melihat kejadian itu. Rasanya aneh saja melihat gadis yang sejak awal pertemuan terlihat kalem namun ternyata menyimpan energy suara yang membahana seperti itu saat panik. Dan, catat itu di otak kalian, bahwa Shizen takut dengan ikan.
Setelah suasana tenang kembali, Kanon mengambil salah satu kertas yang tergantung di atas pohon, menyisihkan satu lagi kertas yang akan menjadi tantangan bagi kelompok terakhir.
Awalnya semua baik-baik saja, hingga wajah Kanon yang terlihat memucat. Saga segera menghampiri adik kembarnya. Menangkap bacaan yang tertulis di dalam kertas itu dan ikut-ikutan memucat seperti Kanon. Semua yang melihat hal itu pun dengan penasarannya mengerubuni kembar itu, dan merampas kertas sialan itu dari tangan Kanon.
Ekspresi mereka bermacam-macam. Ada yang berwajah semu, ada yang ikutan memucat seperti Saga dan Kanon, ada yang menyeringai jahil, dan ada juga yang otaknya langsung bekerja memikirkan hal-hal mesum yang sangat tak masuk akal.
Contohnya saja Deathmask yang menggodai Kanon dengan kata-kata tak sepantasnya didengar oleh anak di bawah umur. Atau Milo yang histeris sendiri karena tak sudi adiknya berciuman dengan pria lain. Atau Aiolia yang sibuk mempersiapkan kameranya. Menghunting moment langka itu. Dan Shizen yang hanya tersenyum pasrah dengan kesialan yang telah ia alami hari ini. Bukannya tak ingin merutuk atau apa, namun rasanya dia sudah kebal jika harus mendapat kesialan yang tak seberapa dibanding kesialan-kesialan yang telah didapatnya dulu.
"Ne, Shizen, aku akan membunuh Kalajengking itu jika kau mau," Aphrodite mengusap-usap punggung Shizen, mencoba menenangka gadis itu dari apa yang baru dialaminya.
"Ti-tidak usah Dite-nii. Aku sudah biasa kok," matanya menyipit dan bibirnya membentuk seulas senyum. Menunjukan bahwa ia baik-baik saja. Tapi sepertinya, Aphrodite telah salah mengartikan ucapan Shizen. Terbukti dengan pelototan yang dilemparnya kepada Shizen, membuatnya merasa risih sendiri diperhatikan seperti itu.
"Apakah ada yang salah, Dite-nii?" tanya Shizen akhirnya.
"Ka-kau sudah biasa? Biasa dengan apa Shizen?! Jangan bilang bahwa kau,kau–"
"Dite-nii, jangan berpikiran yang tidak-tidak dulu," Shizen menghela napasnya, lalu melanjutkan, "Maksudku, aku sudah sering mendapatkan musibah bahkan yang lebih dari ini."
Aphrodite hanya memasang cengiran tak berdosa. Lalu melanjutkan lagi usapan-usapannya di punggung Shizen. Sedangkan Saga sendiri kini terlihat frustrasi, tidak mungkin dia mencium gadis-gadis kecil itu. Dikira dia pedofil apa? Tentu saja beda dengan adiknya yang rada tak waras itu. Tunggu dulu? Tidak waras? Sepertinya Saga sendiri melupakan tentang jati dirinya, yang aslinya memang mengalami kelainan psikologis itu.
"Tenang saja, Sophie, Shun ada kok," ucapan Henna berhasil membuat Sophie blush berat. Entah jodoh, atau kebetulan. Yang jelas ia bisa tenang sedikit kalau pria berambut hijau itu ada di sini. Namun tentu saja itu tak akan semudah kelihatannya. Karena kenyataanya pria berambut biru yang memang sedikit atau malah sangat over kepada adiknya pasti akan melakukan berbagai cara agar Sophie tak berciuman dengan pria.
"Iya, setidaknya kau aman," Mitsuki ikut-ikutan menggodai Sophie. Membuat teman mereka tambah nge-blush
"A-ah… kalian ini! Milo-nii pasti tidak akan membolehkanku!" jawab gadis itu malu-malu.
"Jadi, Sophie mau?" Henna semakin gencar menjahili Sophie saat melihat wajahnya yang tambah merah.
"Bu-bukan be-begitu," Sophie tak bisa lagi menyembunyikan wajahnya yang semakin memerah. Dan dibalas dengan gelak tawa Mitsuki dan Henna.
Deathmask yang melihat kerenggangan antar kelompok kini mempunyai inisiatif untuk meredakan suasana yang panas itu. Dengan senyum menyebalkan, bersama Aiolia mereka menyuruh semuanya untuk tenang. Tidak ada yang bergerak, tidak ada yang bersuara. Sebelum suara helaan napas terdengar.
Setengah menyeringai kecil, Deathmask menatap Saga dan Kanon bergantian. Seolah berkata, 'Akan ku kirim kalian ke Neraka.' Dan tatapan super menyebalkan itu, membuat Saga dan Kanon tambah bergidik ngeri dengan nasibnya ke depan. Setidaknya mereka berharap bisa selamat.
Aiolos menghela napas ketika melihat rekannya yang semakin jahil mengerjai kelompok Saga. "Kenapa tidak kita mulai sekarang?" tanyanya. Suaranya yang lembut namun tegas kini berhasil membuatnya menjadi pusat perhatian. Aiolia, sang adik juga kini sudah berada di samping kakaknya. "Bagaimana denganmu, Sophie?" tanya pria tersebut, menghiraukan sumpah serapah dari Milo. Kebisingan Milo juga membuat Deathmask risau, maka dengan gaya preman pasar, segera pria tersebut menahan Milo yang sudah mengambil ancang-ancang menyerang Aiolia. "Diam di sini, Kalajengking!" bentaknya.
"Aku tidak sudi adikku berciuman denan laki-laki lain!" Milo balas meneriaki Deathmask.
"Jadi kau ingin lihat adikmu mencium sesame jenisnya?" kata-kata Deathmask seperti pukulan telak bagi Milo. Seketika laki-laki itu terdiam. Berpikir 1000 kali tentang pernyataan Deathmask barusan. 'Dasar kepiting sialan!' rutuknya dalam hati.
Sophie yang mendengar itu hanya bisa tersenyum canggung dengan wajah yang memerah. Sesekali tatapannya beralih kepada Shun yang juga menatapnya. "I-itu, aku," ucapnya tergagap.
"Sudahlah Sophie, tidak apa kok," Mitsuki tersenyum jahil sembari mendorong pelan bahu Sophie mendekat ke arah Shun. Juga, laki-laki berambut hijau yang tak kalah semunya itu hanya bisa menatap mau-malu ke arah Sophie. Berhasil membuat Henna dan Mitsuki tertawa kecil di belakang sana.
Wajah Sophie semakin merah tatkala ia melihat Shun yang berada di hadapannya. "Gomen ne, Shun." tanpa menunggu jawaban dari Shun, segera Sophie membungkam mulut pria itu dengan bibirnya. Tak menghiraukan teman-temannya yang sudah bersiul-siul gaje di belakang sana.
"Ku bunuh kau, ANDROMEDA!" teriak Milo, menyiapkan antaresnya. Namun hal itu tak berhasil karena Aiolia dan Deathmask yang menahannya sejak tadi malah semakin mencengkram lengannya. Malah membuatnya meringis kesakitan. "Diamlah Milo, adikmu tak akan mati hanya karena mencium Shun," tenang Aiolia.
Baiklah lupakan soal Milo dan Shun. Bagaimana jika kita intip si kembar yang wajahnya sudah semerah tomat, melirik-lirik kecil satu sama lain, namun tak ada yang berani membuka suara. Dan selepas itu pandangan mereka jatuh pada Shizen yang juga sudah sangat memerah. Mungkin gugup, mungkin juga malu. Tapi, biar bagaimanapun, rasa tak rela itu pasti ada, tentu mereka juga tak sudi kalau Shizen harus mencium seorang pria. Sumpah serapah juga sudah diteriakan dalam hati sejak tadi.
"Ano, Nii-san," Shizen memanggil mereka, seolah meminta penjelasan terperinci langsung dari Saga dan Kanon. Dan ternyata, sang kakak pun juga masih bingung mau menjelaskan dari mana.
Diam, hening, sunyi. Tidak ada satu pun yang berbicara di antara mereka. Hanya suara ramai dari teman-teman mereka yang menggebu-gebu menyuruh mereka untuk segera melaksanak 'tugas laknat itu. Kanon menghebuskan napasnya. "Kau lihat aku ya, Shizen," katanya lagi. Lalu berdiri dan menatap teman-temannya, seolah mencari seseorang di kumpulan sana.
"Apa yang akan kau lakukan Kanon?" tanya Saga. Mengikuti adiknya berdiri dan menatap teman-temannya juga.
"Aku hanya…"
TBC
Shizen : Kok lama banget sih updatenya?
Caca : Hihihi, ide baru jalan. Terus waktu itu UN dan hampir 2 minggu pergi. Belum lagi FFN tidak bisa dibuka, so, gomennasai minna udah buat nunggu
Shizen : Entah ada yang nunggu atau tidak -_-
Caca : #pundung
Kanon dan Saga : Hoi, kita kapan on air nih?! Dah lama nunggu tau!
Caca : #masihpundung
Shizen : #sweatdrop Ah, ternyata Caca masih bergalau ria. Yaudah deh, karna kemarin Saga-nii dan Kanon-nii ulang tahun, Caca dengan senang hati mengundang (baca: memaksa) mereka untuk bantuiin bales review. Udah yuk, langsung aja ^_^
Tsukirin Matsushima29
Shizen : Kyaa!.. Nitsu-nee nari nyan nyan! *ikutan nari*
Saga & Kanon : 'Adek gue T_T'
Kanon : Heh, Thea lu gak usah bayangin DM nari keak gitu! Sumpah, dia kayak kepiting lagi berkubang! XD *ngakak*
Caca : Tau nih, Saga sama Kanon bertengkar mulu -,-
Saga & Kanon : DIAM KAU AUTHOR NISTA!
Caca : #pundung
Shizen : Wuahh.. akhirnya Saga-nii dan Kanon-nii bisa kompak ^_^
Saga : Udah! Udah… pokoknya makasih ya udah nyempetin singgah di kolom review
Shizen : Arigatou.. *bungkuk*
AmuletWin777
Shizen : Ahahaha… ^_^ *nunjuk-nunjuk cerita di atas* Maafin author kami yang sangat nista ini yaa, Mitsu-chan, Teru-san..
Caca : #Tambah_pundung
Kanon : Mitsuki…. Aku akan membantumu!..
Saga : *sweatdrop* Udah uy, gak perlu dibantu lagi -_-
Shizen : Eh? Ahh tentu saja Mitsu-chan, kita akan menjadi teman dekat. Pasti! ^_^
Saga & Kanon : Terima kasih sudah membaca dan mereview!
Kanon : Lu ngikutin kata gue!
Saga : Bukan! Kamu tuh!
Shizen : Akhirnya mereka kompak lagi…
Ketrin'Shirouki
Caca : Eeh.. ehh.. Ket-chan gak baka kok… lagian gak masalah kalo review telat sih. Review kalo sempet aja. Gak usah maksa.. ^^
Saga : *bisik ke Kanon* Akhirnya dia bisa ngomong bener juga…
Kanon : Iya nih. Syukur deh
Saga : Berabe kan kalo dia nista terus. Entar kasian Shizennya…
Kanon : Jangankan Shizen, kita aja sering dia nistaiin. Iya kan?
Saga : Iya ni–
Caca : Aku mendengar apa yang kalian katakan! Baka! *ngidupin obor*
Saga & Kanon : NGACIIRRR!
Caca : *ngejar Saga dan Kanon*
Shizen : *sweatdrop* Me-mereka emang seperti itu. Gomennasai Ketrin, Henna-chan. Dan terima kasih sudah mampir kemari… ^^
RnR?
