KAZUHIME TIFFANY BEAUDELAIRE™ PROUDLY PRESENT

"OPPA, SARANGHAEYO~!"

©2011

A Fanfiction by : Kazuhime Tiffany Beaudelaire™

Disclaimer : Masashi Kishimoto *alhamdulillah belum dikasih ke Kazu XD bayangin aja kalo Naruto jadi punya Kazu, Kazu bikin ending yang bener-bener memuaskan deh! -Kishimoto : jangan harap!-*

Starring : Sakura H. & Sasuke U.

Warning : OOC, gaje, typo di mana-mana, sedia plastik saja saat membacanya

Genre : Romance

Rated : T

Summary Chapter 2 :

Mengetahui Karin adalah mantan Sasuke, Sakura menjadi penasaran dan meminta Ino menyelidikinya! Kira-kira apa ya, yang membuat Sasuke menerima Karin yang err-...?

Enjoy my fic... ^_^

"OPPA, SARANGHAEYO~!"

Chapter 3

Gadis bermata shappire bernama Ino itu mengikat rambut pirangnya seperti biasa, dan bersiap berangkat sekolah dengan Sai yang sedang menunggunya di ruang tamu, berbincang dengan ibu Ino. Lalu gadis manis itu menuruni tangga, dan tersenyum melihat ibu dan pacarnya.

"Ayo berangkat Sai-kun, Ibu, Ino berangkat dulu, ya," Ino dan Sai berpamitan.

"Ya, hati-hati," ibu Ino tersenyum, tak kalah manisnya dengan Ino. Ino sepertinya memang mewarisi eye smile semanis itu dari ibunya.

Setelah berpamitan, Sai menuju motornya diikuti Ino, lalu mereka pun berangkat ke sekolah mereka, Hinokuni JHS.

"Trims ya, Sai-kun,"

"Anytime. Nanti pulang sekolah kutunggu di gerbang,"

"Wah, apa nggak merepotkan?"

"Sama sekali, nggak, Ino. Kamu kan pacarku," Sai tersenyum tulus. Ino beruntung mendapatkan senyuman itu, karena Sai hanya tersenyum tulus kepada orang-orang yang dekat dengannya, salah satunya gadis pirang ini.

"Hmmmm... baiklah. Kita berpisah di sini saja. Bye, Sai-kun" Ino melambai sebelum akhirnya berlari menuju kelasnya yang sudah mulai ramai.

"Ohay-, lho? Sakura belum berangkat, Tenten?" Ino meletakkan tasnya di bangkunya seperti biasa.

"Belum," jawab Tenten yang duduk di belakangnya. 'Nggak biasanya jam segini Sakura belum berangkat,' Ino melirik jam dinding kelasnya. Pukul 7. Kelas masuk pukul 07.15. Lalu Ino melirik Sasuke di bangkunya cukup lama, merasa dipandangi, sang empunya bangku balas melirik Ino, membuat gadis itu kelabakan.

"Eh... ehm! Kenapa Sakura belum berangkat jam segini?" Ino langsung mengalihkan perhatiannya pada Tenten, sementara Sasuke memutar bola matanya.

"Mana ku tahu!"

"Ish! Kau kan rumahnya searah dengan Sakura!" Ino memandang bete pada gadis berambut cokelat itu, tapi sedetik kemudian Tenten berseru, "Itu Sakura!"

Senyum Ino mengembang, "Sakura!"

Gadis pinky yang tadi dipanggil Ino hanya duduk di bangkunya sambil sibuk mengatur nafasnya. Sepertinya kelelahan.

Alis Ino terangkat, "Kamu nggak habis mendorong mobilmu sampai ke sekolah, kan?"

Yang ditanya hanya memasang deathglare pada gadis di sebelahnya, "Nggak,"

"Trus?"

"Porsche-ku lagi di bengkel, dan aku harus naik sepeda sampai sekolah, karena Papa menolak nganterin aku," Sakura menyenderkan punggungnya dan menutup mata emeraldnya.

"Naik sepeda? Itu sih cocok untukmu," Ino tertawa, Sakura mendengus. "Hey, Pig! Kamu pikir aku nggak capek 'nggoes' sepeda dari rumah sampai sekolah? Tiga kilo, ingat itu!" Sakura beralih dari menyender pada kursi menjadi menumpukan kepalanya pada lengannya yang terlipat di atas meja.

"Wah? Oh iya, aku saja yang cuma satu setengah kilo dibonceng Sai pake motor, hahaha~!" Ino tertawa lagi. Sakura tidak menggubrisnya, karena tepat saat itu, bel masuk berbunyi. Dan tak lama kemudian, seorang guru pria bercambang tapi lumayan keren (hoho~) masuk.

"Trus kemarin kamu juga nggak dijemput, pulangnya gimana?" bisik Ino sambil memperhatikan Pak Guru Asuma, guru Fisika di Hinokuni JHS yang sedang menulis di papan tulis.

"Oh, kemarin selesai les, aku bonceng motornya Tenten, kami kan searah," jawab Sakura santai. "Oh iya Ino, apa kamu sudah menyelidiki kenapa Sasuke bisa pacaran dengan Karin?" Sakura menyikut lengan Ino yang masih sibuk mencatat tulisan di papan tulis.

"Belum,"

"Ih, kamu ini!" bisik Sakura lumayan keras.

"Sstttt... jangan berisik nanti Pak Asuma menghukum kita menjelaskan teori tata surya menurut Gregor Johann Mendel!" bisik Ino.

"Bukan, baka! Itu teori genetika! Yang benar, teori tata surya menurut Immanuel Kant dan Simon de Laplace!"

"Yah, maksudku itu lah,"

"Haah, tapi kamu harus menyelidikinya!"

"Iya, tenang aja, kamu ini bawel banget sih, Forehead!"

Menurut seorang Haruno Sakura, pelajaran olahraga adalah pelajaran paling menyebalkan di dunia. Entah kenapa, Sakura sangat tidak menyukainya. Titik. Dan setiap minggu, sialnya, dia harus berjumpa, bahkan menghadapi pelajaran ini. Berbeda dengan cowok yang disukainya. Sasuke selalu ahli dalam olahraga, apapun. Terutama basket, sepakbola, dan lari. Tak heran badannya tinggi dan atletis, membuat kebanyakan siswi Hinokuni JHS merona saat melihatnya. Tapi itu bukan hal utama yang disukai Sakura dari Sasuke. Sasuke, walaupun angkuh, tapi dia itu baik. Kenapa Sakura berpikiran seperti itu? Pernah suatu kali Sakura mengikuti Sasuke saat pulang sekolah dengan harapan dapat mengetahui letak rumah Sasuke. Tapi Sakura malah melihat Sasuke memasuki gerbang sebuah bangunan bertuliskan panti asuhan, dan juga melihat cowok dingin itu TERSENYUM pada anak-anak panti, dan Sakura cukup dibuat merona oleh senyum Sasuke. Alih-alih mengetahui rumah Sasuke tapi malah melihat senyum Sasuke pada anak-anak panti, dan Sakura tidak menyesal. Sakura pernah berpikir, kenapa Sasuke bisa tersenyum seperti itu pada orang-orang yang tak mampu seperti anak-anak panti, tapi tidak padanya? Mungkin itulah baiknya Sasuke, sehingga membuat Sakura mati-matian ingin mendapatkan senyum langka itu. Selain itu, Sakura juga menyukai kecerdasan cowok raven itu. Bayangkan, setelah Shikamaru, seorang jenius tapi pemalas dari kelas IX-2, dan dirinya, Sasuke meraih peringkat ketiga di Hinokuni JHS.

"Dor! Kamu ini, melamun aja! Ngelamunin Sasuke-kun ya, Forehead?" Ino mengambil tempat di sisi kanan Sakura setelah sukses mengagetkannya.

"Ap-apaan sih! Kamu nih ngagetin terus! Aku cuma lagi bete, nih," jawab Sakura malas.

"Kapan kamu pernah bilang 'Aku lagi semangat nih!' setiap pelajaran olahraga? Udah deh, ini kan pelajaran terakhir di hari Sabtu," balas Ino.

"Iya, penutup minggu yang sama sekali nggak menyenangkan," Sakura tambah bete. "Apalagi hari ini, lari dua puluh kali putaran mengelilingi lapangan utama, guru Gai itu gila atau bagaimana sih, masa lari dua puluh kali putaran dijadikan nilai untuk menentukan kelulusan!" tambahnya dengan bersungut-sungut, emerald-nya menatap lapangan utama di mana dia dan teman-temannya akan 'disiksa' nanti.

Ino hanya memutar bola mata shappire-nya, "Itu sih, udah dari jaman dulu. Udah ah, yuk, ke lapangan, sebentar lagi giliran kita yang lari," Ino beranjak diikuti Sakura.

Dan penyiksaan bagi Sakura pun dimulai... Lari dua puluh kali putaran!

Di ruang ganti...

"Saku, nanti kamu pulang duluan, aku bareng Sai..."

"Hm... baiklah. Aku juga udah selesai. Kalau gitu, aku pulang duluan ya, Ino. Tapi... aku nggak yakin apa bisa sampai rumah dengan selamat setelah penyiksaan tadi?" Sakura terduduk kelelahan di salah satu bangku di ruang ganti yang masih penuh dengan anak putri. Gadis pinky itu sudah mengenakan seragam Hinokuni JHS-nya, walaupun olahraga menjadi pelajaran terakhir hari ini. Hanya satu di pikiran Ino saat melihat Sakura saat itu, kacau. Muka pucat dan ditekuk, rambut awut-awutan, mata kelelahan, tapi tak meninggalkan kesan 'cantik' di mata setiap orang yang melihatnya.

"Sepertinya mendung," Ino mendongak, menatap langit kelabu melalui jendela kecil di ruang ganti. "Kamu yakin mau tetap pulang naik sepeda? Kamu kan kecapekan, Saku?" tanya Ino dengan nada khawatir. Memang sih, melihat keadaan Sakura saat ini sedikit agak tidak memungkinkan untuk membiarkannya menempuh jarak tiga kilometer dengan sepeda, mendung lagi.

"Aku nggak apa-apa. Sudah, ya, bye~" ujar Sakura beranjak dari duduknya.

"Bye~, nanti sampai rumah telepon aku, ya," kata Ino yang dibalas dengan anggukan Sakura.

"Haaahh~ anak itu mengkhawatirkan!" keluh Ino. 'Oh iya, aku harus mengorek info tentang Karin dan Sasuke,' batin Ino sambil mengedarkan pandangannnya ke seluruh penjuru ruangan. 'Tenten dan Temari sudah keluar. Hanya ada aku, Koyuki, Hinata, Shiho, Tayuya, dan, ah!' gadis pirang itu tersenyum lalu menghampiri Tayuya.

"Hei," Ino mencolek bahu gadis berambut merah pucat itu.

"Eh, Ino. Ada apa?" tanya Tayuya yang sedang memasukkan kaos olahraganya ke dalam tas.

"Anoo- kamu kan dulu pernah sekelas sama Karin?" Ino duduk di bangku sebelah Tayuya.

"Iya, emangnya kenapa?"

"Aku... boleh minta sedikit info tentang dia nggak?"

"Tentang Karin?"

"Yap,"

Tayuya menghela nafas, lalu mulai bertanya, "Apa yang mau kamu ketahui?"

Ino tersenyum.

Sakura dengan gontai menuju parkiran sepeda siswa, dan menemukan sepedanya di sana. Gadis itu hanya ingin cepat sampai di rumah, lalu istirahat. Lari dua puluh kali putaran bukan hal mudah baginya, apalagi dia sangat membencinya. Berkali-kali Sakura menghela nafas berat.

"Sepertinya akan hujan, lebih baik aku cepat," gumamya, lalu mulai menaiki sepedanya.

Tes... Tes... Tes...

"Wah gawat, tinggal satu kilometer lagi kenapa harus hujan, sih? Mana aku nggak bawa payung!" gerutu seorang gadis di atas sepeda yang berwarna sama dengan rambutnya, pink. "Sudahlah, terobos aja!" Sakura tak mempedulikan gerimis yang makin deras, menjadi hujan.

"Tadaima," Sakura merebahkan dirinya di sofa ruang tamu, dan tak ada yang menjawab. Ayah dan Ibunya jelas belum pulang, dan Ayame pasti sedang di dapur, atau sedang bersama Kabuto, supirnya. Sakura memutar bola matanya, lalu memasuki kamarnya, dan mandi, dan setelah itu akhirnya ia tertidur saking lelahnya.

Minggu pagi...

"~ Mr. Taxi Taxi Taxi soutou jeukshi jeukshi jeukshi~"

"Ya halo?"

"Sakura!" gadis berambut pink menjauhkan telinganya dari ponsel dengan wajah jengkel. "Apa sih?"

"Aku sudah menemukannya!"

"Menemukan apa, Ino?" jawab Sakura malas.

"The reason why Uchiha Sasuke accepted Karin as her girlfriend!" Ino terlihat –ralat- terdengar ceria. Well, gadis itu sih selalu ceria.

"Ohya? Trus apa alasannya? Eh, by the way kamu tahu dari siapa?" jiwa menggosip Sakura bangkit.

"Tayuya, dia kan dulu pernah sekelas dengan Karin, dan saat aku memintanya, dia berbaik hati mengabulkan permintaanku~" jelas Ino.

Sakura menyeringai. "Lalu bagaimana?"

"Jadi, dulu itu kan Karin anaknya kan terlihat kutu buku banget, lumayan cerdas dan berkutatnya sama buku-buku di perpustakaan mulu makanya pakai kacamata, dulu si Karin juga pendiam, dan tiba-tiba dia nembak Sasuke,"

Sakura sedikit menaikkan alisnya, "Kurang masuk akal sih, kok bisa dia nembak Sasuke-kun?"

"Tayuya bilang, udah lama Karin suka sama Sasuke. Dulu waktu masih kelas delapan kan image Karin lumayan baik di sekolah kita," jelas Ino di seberang.

"Aku baru tahu kalau image gadis itu cukup baik dulu,"

"Hm, mereka kan sekelas, bahkan pernah kerja kelompok bersama, karenanya mereka cukup dekat, sampai akhirnya Karin memutuskan menyatakan cintanya pada Sasuke,"

"Oh... Emang nembaknya pakai apa?"

"Surat,"

"Yang benar?"

"Iya. Dulu Sasuke juga lumayan dekat dengan Karin karena mereka biasanya ada di perpustakaan. Nah setelah Karin nulis surat, suratnya itu dititipkan pada Tayuya untuk diberikan pada Sasuke,"

"Oh, iya, sih, menurutku, alasan Karin pakai surat itu karena sampai sekarang emang aku belum menjumpai seseorang yang punya nomor handphone Sasuke. Padahal Sasuke itu lumayan berada, kan,"

"Sepertinya sih begitu. Tapi Naruto pasti punya, mereka kan sohib brooo. Kulanjutkan. Lalu karena menganggap Karin adalah gadis baik-baik, Sasuke menerimanya,"

"Wah,"

"Tapi itu nggak lama. Sebulan kemudian, Sasuke melihat Karin dengan sisi yang benar-benar berbeda seperti saat berada di sekolah, bersama seorang cowok lagi, dan saat itu juga Sasuke akhirnya memutuskan gadis berkacamata itu..."

"Oooohhh jadi si Karin itu sisi aslinya berbeda dengan yang dulu diketahui Sasuke-kun... Emang sih sekarang Karin itu udah lumayan beda dari yang kulihat kelas delapan dulu. Sejak kelas sembilan kurasa, terutama sejak kehadiran siswa baru bernama Kin itu, mereka kan membentuk geng yang nggak jelas," Sakura merendahkan suaranya, sedikit geli tapi merasa tak enak, 'Tapi memang begitu adanya,'

"Yah, dialah Karin yang sebenarnya, dan Tayuya juga memutuskan untuk menjauh dari Karin, dia bilang begitu kemarin,"

Sakura mengangguk-angguk. "Apakah Karin itu pacar pertama Sasuke-kun?"

"Kalau itu aku nggak tanya, Forehead,"

Sakura mendengus. "Apakah Sasuke-kun menyesal telah pacaran dengan Karin?"

"Itu juga aku nggak tanya,"

"Haah... baiklah. Ya udah, makasih banget ya, Pig, infonya, hehe,"

"Anytime, Forehead," dan sambungan telepon pun diputus.

Sakura masih memikirkan percakapannya lewat telepon dengan Ino beberapa saat yang lalu, tapi tiba-tiba Sakura memegangi keningnya, ada sedikit rasa nyeri si situ.

Hari Senin...

"Teng... Teng..." bel masuk berdentang diikuti gerombolan siswa-siswi Hinokuni JHS dari kelas VII sampai kelas IX keluar dari kelas mereka masing-masing menuju lapangan utama untuk upacara. Yah, rutinitas tiap Senin pagi. Tak terkecuali sepasang sahabat Sakura dan Ino, yang keluar dari ruangan dengan papan nama IX-1.

"Sakura? Kamu nggak baris di barisan PMR seperti biasa?" Ino bertanya sambil memandang anak-anak PMR yang berdiri dalam barisan terpisah dari barisan siswa, yaitu di belakang, jadi jika sewaktu-waktu ada yang sakit dalam barisan upacara, anak-anak PMR akan mengetahuinya. (sistem di sekolahku, berhubung aku anak PMR :D)

"Nggak ah. Lagi ingin baris di barisan biasa, nggak apa, kan?" kata Sakura lesu.

"No problem sih, tapi..." Ino mengamati Sakura. "Kamu pucat, Saku,"

"Ah Ino, wajahku kan memang pucat," Sakura membetulkan posisi topinya.

"Bukan, Sakura. Kamu sakit? Kalo sakit mending aku antar ke UK-"

"Aku nggak apa-apa, Ino, kamu berlebihan,"

"Tapi..."

"Udah, upacara sebentar lagi dimulai," Sakura menempatklan diri di barisan kelas IX-1, di depan Ino yang cuma geleng-geleng kepala melihat sahabat kecilnya itu sangat keras kepala.

"Dasar kepala batu," gumamnya yang hanya dibalas cengiran oleh Sakura.

"Undang-Undang Dasar Negara Konoha, tahun..."

Sakura menutup emerald-nya. Rasa pusing yang menyebalkan mulai melandanya. Rasa yang sama seperti yang dirasakannya kemarin.

"Pembukaan. Bahwa sesungguhnya..."

Sakura menunduk menahan rasa nyeri di kepalanya. Sambil membetulkan letak topinya, dia juga memegangi dahinya, 'Tolong jangan sekarang...'

"Dan oleh sebab itu, maka..."

Sakura menghela nafas, mati-matian menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak terjatuh, tapi rasa pusing itu sudah tidak bisa ditolerir lagi.

"Karena tidak sesuai dengan..."

"BRUKK!"

Ino memekik, tapi seseorang di sebelah gadis pirang itu lebih sigap.

"Sakura!"

To Be Continued

Author's Note :

Akhirnya bisa update chapter 3'nya... aku sedikit ada problem di bagian Ino telpon-telponan sama Sakura tentang Karin, soalnya alasannya agak nggak masuk akal, tapi ini fic Kazu kan, jadi Kazu bisa berkreasi sesuai yang Kazu inginkan hahaha~~ *ditembaki ma reader*

Dan Sasuke cuma nongol bentar di sini ^^v dan buat yang request SasuSaku ngobrol , di chap-chap depan pasti ada kok, sante ae XDD

By the way anyway busway ini balasan review chapter 2 :

Me : iya ini udah update~ gak terlalu sih, soalnya Sasuke di sini pendiem sangat, jadi cewe-ceweknya belum pada tahu aura sesungguhnya seorang Uchiha... *halah!*

Mugi-chan : wah makasih~ suka nggak hayo? Kita liat nanti *hoho*, iya nih baru update... fighting!

4ntk4-ch4n : ntar ada sesi ngobrol barengnya kok sante ae *huahahahha*, ini udah update~

daevipiaa chimamoto : hallo juga XP makasih ya, ini udah update...

Uke thankz banget buat reviewnya dan jangan kapok review oke, karena review kalianlah penyemangatku dalam setiap pembuatan fic *halah*, dan terimakasih juga buat silent readers yang mungkin udah menyempatkan baca fic nggak jelas Kazu... *ojigi*

Anyway, see ya at next chapter!

Fighting!