_*_Black Hair Girl_*_
By: Morning Eagle
Disclaimer :: Bleach belong to Kubo Tite ::
Just to warn you all :: AU, OOC, Misstypos, Dark/Violent Contents ... for this story
Scene 2: Play With Fire
.
.
.
.
.
Aku mendengar suara itu dengan jelas. Keributan yang terjadi di lantai satu, seperti hentakan juga teriakan kemarahan. Sudah sering terdengar bila ayah berhadapan dengan kliennya, ataupun para pengkhianat yang seringkali diceritakannya. Aku hanya bisa berharap permasalahan itu segera selesai dan tidak mengganggu rasa takutku untuk kembali muncul ke permukaan.
Kututup buku yang sudah kutandai halamannya, diletakkan di atas kasurku, dan mulai berkelut keras memilih pilihan di kepalaku antara turun atau tidak. Melihat salah satu jari tangan terpotong di depan mataku bukanlah pilihan yang bagus. Aku sudah muak mendengar jeritan itu terulang dibenakku. Sarat akan penderitaan dan keputusasaan yang tak terbendung. Dunia kotor tidak bisa kembali pulih tanpa darah yang tercecer di atasnya. Baik sebuah pengorbanan ataupun bentuk pemusnahan kejahatan terbusuk yang pernah ada.
Suara Bambietta melengking tinggi, membuat jantungku berdegup semain kencang. Rasa penasaran membuat kedua kakiku turun dari ranjang dan segera berjalan cepat menuju lantai satu. Sekedar melihat apa yang sedang terjadi, dalam batasan yang tidak mengganggu mereka. Sebaiknya aku tetap mematuhi peraturan itu, bila tidak ingin hal buruk terjadi. Aku tidak ingin ayah mengurungku lagi di dalam kamar dalam kurun waktu yang tidak ditentukannya.
Kaki telanjangku melangkah mengendap di atas karpet mewah yang tidak menimbulkan suara berarti. Kuturuni anak-anak tangga dalam hitungan detik dan mengintip di balik tembok besar ke arah ruang tengah. Pintunya terbuka sedikit, memaparkan kejadian yang sedang berlangsung di dalam sana. Punggung seseorang menghalangi pandangan—kemeja hitam dan warna yang seharusnya tidak kudapati berada di antara perabot klasik berwarna putih gading ataupun lampu kristal di atasnya. Jingga terang bersinar dan hampir membutakan mata. Jantungku berdebar semakin kencang, ketika menyadari itu adalah orang yang sangat tidak ingin kulihat muncul di hadapanku. Pria yang menyembunyikan banyak rahasia di mata tajamnya dan sentuhan dinginnya.
Suara Bambietta menyadarkanku, ketika dia memohon sesuatu atau terdengar seperti teriakan kekesalan. Khas dirinya bila tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Rukia tidak ada kaitannya dalam hal ini!" Teriakannya membuat bulu kudukku berdiri. Mereka membahas tentangku?
Aku melangkah semakin dekat, hingga berhenti di depan pintu yang mengundangku untuk masuk ke dalam. Suara deritannya mengangetkanku, ketika tanganku tak sengaja mendorongnya terlalu keras. Dan perhatian Bambietta jatuh ke arahku, juga pria itu—Ichigo. Sial!
"Rukia?" Itu suara orang lain yang memanggilku, tepat di depan Ichigo. Ayah dengan tubuh tegapnya bak malaikat kegelapan yang berdiri tegap—Yhwach Basterbine. Masih tampak sama seperti biasanya, pakaian serba putih, kecuali rambut dan jenggotnya yang berwarna hitam pekat. Matanya memicing ke arahku, selalu memberikan getaran kekhawatiran di sekujur tubuhku. "Apa yang kaulakukan di sana?"
"A … aku…" Aku menimbang-nimbang, antara masuk atau segera lari ke lantai dua. Tapi, tatapan Ichigo yang jatuh ke arahku berhasil menahan kakiku untuk melangkah jauh. "Maaf, ayah—aku tidak bermaksud—"
"Lihat apa yang kau sembunyikan, Yhwach?" potong Ichigo, tanpa berbalik ke hadapan ayah dia membalas kata-katanya. "Kau menyembunyikan keberadaan anakmu sendiri dariku—dari ayahku? Kita rekan bisnis dan kau sudah berhasil menipuku, membuat Klan Kurosaki memilih satu-satunya cara yang sesuai dengan rencanamu."
"Jadi, kau tidak ingin bertunangan denganku?!" Bambietta berteriak ngeri, menggenggam bajunya hingga berkerut kusut. "Kau lebih memilih dia daripada aku, Ichigo? Ada apa denganmu?!"
"Aku ingin mengganti calon tunanganku—mengulang perjanjian yang sudah dibuat," ucap Ichigo tanpa beban, tersenyum congkak ke arahku. Napasku semakin tercekat karenanya, tidak ingin mendengar kata-katanya berlanjut. Aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, sebuah pilihan terburuk yang pernah ada. "Aku ingin Rukia yang menjadi tunanganku, Yhwach."
Keheningan serasa seperti mencekik. Bambietta membelalakkan matanya hampir menyerupai bola golf. Ayah terdiam tanpa kata, seakan tidak bergeming dengan penuturan seenaknya dari Ichigo. Pria congkak yang membuatku tidak bergeming, selalu membawa atmosfer di sekitarnya ke arah yang lebih buruk. Kegelapannya seperti lumpur hisap. Dia benar-benar berbahaya.
"Jugram," panggil ayah, kepada salah satu orang kepercayaannya yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan. Aku tidak menyadari keberadaannya, hingga rambut panjangnya tergerai lembut saat berjalan ke arah tuannya. Jugram Haschwalth—pria terdingin yang menyerupai perwujudan elf berdarah dingin. Pemberi keputusan yang dititahkan langsung dari Sang Raja itu sendiri. Pengawas juga penjagal, tidak mengenal ampun saat melakukan tugas terkejam sekalipun. "Bawa Rukia ke kamarnya."
"Yhwach! Kau tahu kebohonganmu akan menghancurkan perjanjian yang sudah dibuat?" Ichigo mengancam, menggeram marah saat ayah tidak mempedulikan permintaannya. Bahkan, Bambietta tersenyum lega seperti penyihir hitam. Seringaiannya setajam nenek sihir menukikkan sudut mulutnya.
"Pembicaraan kita sudah berakhir di sini, Kurosaki Ichigo. Tidak ada yang berubah dan tidak ada pihak yang dirugikan, selama kau masih memegang teguh janjimu untuk bertunangan dengan putri pertamaku—Bambietta. Aku ingin kau tidak mengganggu keluargaku, terutama yang tidak ada kaitannya dengan perjanjian."
Jugram meraih lenganku dan berusaha sehalus mungkin membawaku ke lantai atas. Aku sempat menolak, sesaat ketika melihat Ichigo memandangku putus asa. Aku tidak mengerti apa yang ada di dalam pikirannya, selain keuntungan dan hubungan timbal balik yang setara. Dia benci dikhianati juga mendapatkan kebohongan yang menusuk dari belakang punggungnya.
"Rukia, kembali ke kamarmu." Ayah memperingatkan sekali lagi. Terdengar ketegasan yang kentara dalam nada suaranya, membuatku merasakan bagaimana rasanya masuk ke dalam air es di musim dingin. Kulangkahkan kakiku segera—berlari sambil menunduk ke arah kamarku. Kembali ke dalam tempat teramanku, di mana seharusnya aku tidak merasakan apa yang namanya penyesalan, juga kebimbangan. Di sanalah satu-satunya tempatku bisa bernapas bebas, di antara tumpukan buku juga cahaya mentari yang terpatri pada kaca rias dan dinding seputih marshmallow. Kehangatan masih tesirat maknanya, bermain-main di atas permukaan kulitku.
Hidupku mulai berubah, diawali dengan pertemuanku dengannya. Ichigo mengubah perlahan, dari caraku berjalan hingga mataku menatap dunia. Setitik racun hitam menyebar terlalu cepat di atas susu putih yang terlihat murni. Dia merusaknya semudah meremukkan kertas dalam satu genggaman. Dan kini dia mempermainkan hidupku—di balik pengawasan keluargaku sendiri, bahkan diriku sendiri. Ichigo telah meremukkan hatiku.
.
.
.
.
.
.
Aku berbaring terlentang tanpa bisa tertidur, memandangi langit-langit kamar yang terlihat gelap tanpa sinar lampu. Hari menjelang malam dan mereka masih mengunci pintu kamarku tanpa memberikan penjelasan secara rinci. Selain makan malam yang diantarkan Jugram tanpa kata-kata terucap, ayah mengurungku di kamarku sendiri seperti seorang tahanan. Ini sungguh tidak adil, tanpa alasan yang jelas aku mendapatkan perlakuan tak sebanding dengan Bambietta. Mungkin sekarang dia sedang menari-nari di ruang tengah—merayakan kemenangannya yang menurutku tidak perlu dirasakannya atas diriku.
Aku sama sekali tidak menginginkan apapun, selain merasakan kaki telanjangku menapaki rumput liar di halaman. Tidak mengharapkan kemewahan seperti yang Bambietta miliki tanpa bersusah payah meminta, atau bahkan tunangan bak pangeran impian. Ichigo tidak mendekati kriteria sempurna, menurut standar Prince Charming dari buku dongeng. Dia kebalikannya, yang tidak kuinginkan untuk muncul di dalam kehidupanku.
Mengapa semuanya berbalik menyerangku di saat aku hanya terdiam bisu tanpa melakukan apapun? Apa yang mereka inginkan sebenarnya—kedudukan dan martabat? Apakah aku tidak sebanding untuk melakukan tugasku sebagai salah satu anggota keluarga inti Basterbine?
Kepalaku berdenyut keras, karena memikirkan permasalahan yang tidak ada akhirnya. Aku memutuskan untuk mencuci muka dan mendinginkan kepalaku. Langkah gontai tanpa merasakan adanya kehidupan yang mengalir di pembuluh darahku—sungguh malang hidupku yang terkurung di antara kekelaman dunia bawah. Air yang seperti es membuat hidungku mengernyit saat membasahi wajahku. Cerminan diriku terlihat lebih buruk dari yang seharusnya. Rambut kusut, bibir kering, dan mata kosong tanpa ada emosi senang ataupun sedih. Seperti boneka usang yang terbuang. Menyedihkan.
Suara kertakan ringan menyita perhatianku. Berasal dari arah kamarku, walaupun hanya sesaat tapi terdengar cukup jelas. Lalu hening kembali, membuat tubuhku awas dan siaga secara berlebihan. Air dinginnya tidak membantuku untuk tenang, namun menambah beban di kepalaku semakin menekan.
Napasku berhembus panik, ketika perlahan mengendap dan mengintip kembali ke kamarku. Masih gelap seperti sebelumnya, selain cahaya rembulan malam yang datang dari arah jendela. Yang seharusnya tertutup rapat dan tidak terbuka sebagian. Gorden putihnya bergerak tertiup angin malam, membawa pandanganku kepada sosok seseorang yang duduk di atas ranjangku. Dia, masih terlihat sama seperti terakhir kali aku melihatnya di lantai bawah siang tadi. Ichigo—sedang mengamati boneka kelinciku dalam genggaman tangannya. Alisnya berkerut masam, seakan bisa membunuh kelinci itu hanya dengan sekali tatap.
Dia tersadar, mengangkat wajahnya untuk menatapku langsung. Terlalu sensitif juga awas, bahkan saat aku mengendap di dalam kamarku sendiri.
"Well, hello princess," sapanya terlalu manis.
"Bagaimana caramu masuk?" bisikku panik, berusaha untuk tidak menarik perhatian penjaga di depan kamarku. Dan—mengapa aku harus berhati-hati terhadap dirinya?
"Jendela kamarmu tidak terkunci," tunjuknya santai pada jendela. "Kecerobohan yang sebenarnya akan merugikanmu sendiri, bila bukan aku yang datang dan memperingatkanmu."
Aku tahu dia memiliki maksud lain. Dari caranya memandang juga berbicara, Ichigo lihai dalam memainkan peranannya. "Apa yang kau inginkan?"
"Menemuimu, putri. Di saat tawaranku tidak didengarkan oleh ayah keras kepalamu itu, lebih baik aku mengatakannya kepada yang bersangkutan secara langsung—dalam hal ini adalah kau."
"Aku?" Aku memandang pintu kamar sekali lagi, memastikan mereka tidak mendengar pembicaraan kami dan masuk ke dalam kamar. "Kupikir pembicaraan ini sudah kau selesaikan sendiri dengan ayahku. Aku tidak ada kaitannya dengan masalahmu, Ichigo."
"Benarkah?" tanyanya tidak peduli, menaikkan sebelah alisnya terlalu tinggi. "Sungguh lucu kau tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitar lingkunganmu. Boneka porcelain yang hanya terpajang di lemari pajangan terdalam. Menyembunyikan sesuatu yang sangat berharga di hadapan dunia—Yhwach sungguh licik, bukan?"
Aku tidak mengerti apa yang dia katakan, selain rasa muakku untuk segera mendorongnya keluar dari kamarku. "Keluarlah, Ichigo. Aku tidak mau mencampuri masalahmu, karena itu adalah keinginan dari diriku sendiri. Jadi, hentikanlah perbuatanmu yang sia-sia. Keputusan ayahku tidak akan bisa digoyahkan, kecuali kau bisa meyakinkannya."
"Aku tidak peduli lagi dengan Yhwach, karena yang kuinginkan adalah dirimu," ucapnya langsung. "Hei—pernahkah kau merasakan kebebasan yang lebih menyenangkan daripada terkurung di dalam kamar kecilmu ini, Rukia?"
Tanpa sengaja aku menubruk laci bajuku. Tekanannya berhasil mempengaruhiku dan membuatku takut setengah mati. Di dalam kegelapan, matanya menyala terang seperti hewan buas.
"Aku bermaksud menawarkan kebebasan untukmu. Di mana kau bisa melakukan apapun yang kauinginkan, tanpa meresahkan penjagaan ketat dari Yhwach juga para penjaganya. Kau—ikut bersamaku keluar dari tempat menyesakkan ini."
"Melarikan diri … dari rumahku sendiri?" tanyaku tidak percaya, hampir memekik menjerit, namun dengan cepat kuurungkan kecerobohanku.
"Ini bukan rumahmu," sanggahnya, tidak menyetujui perkataanku. "Yhwach selalu mengurungmu di dalam pengawasan kasat matanya dan berbohong mengenai identitas dirimu sebagai salah satu anggota keluarga inti. Aku bermaksud menawarkan kebebasan untukmu, bukan menjadi buronan para penjahat dunia bawah, Rukia."
"Aku tidak mengerti kebebasan yang kaumaksud. Selama ini, aku tidak merasakan beban untuk menghabiskan waktuku di dalam kamarku—"
"Tanpa bisa melihat laut, namun hanya membayangkannya di dalam benakmu? Tidak bisa merasakan jernihnya air pegunungan, di saat kau meminum air penyulingan yang tak lagi bersih? Kau akan selamanya terkurung di sini dan mengikuti alur permainan Yhwach tanpa bisa menolak, porcelain doll," potongnya, memainkan boneka kesayanganku dan menekan kepalanya terlalu kasar. Dia bermaksud merusaknya.
"Hentikan," cegahku, berlari ke arahnya untuk mengambil kembali boneka kelinci malangku. Di saat tanganku terulur, Ichigo menarik pergelangan tanganku terlalu cepat. Tubuhku terjatuh di atas kasur, dengan posisinya yang menjulang di atasku. Dia menahanku untuk tetap berada di bawah kendalinya.
"Aku sangat menginginkanmu, Rukia. Begitu besarnya ambisiku, hingga berbalik menghancurkan diriku hingga ke dalam jantungku."
"Mengapa aku?" tanyaku putus asa, saat tangannya menekan erat pergelangan tanganku. Aku tidak bisa bergerak banyak, selain menatapnya dan bernapas terlalu berat. Kehangatan tubuhnya yang menghimpit perlahan berubah menjadi bara api penyiksaan. Pikiranku sendiri terasa pening karena merasakan napasnya berhembus menyapu wajahku, wangi tubuhnya memabukkan sejernih alam liar itu sendiri.
"Kau yang tak ternoda oleh kekotoran dan kekejaman dunia, malaikat di tengah bara api yang membakar habis udara. Aku akan menunjukkan dunia kepadamu, dimana tidak ada yang bisa menghalangimu untuk berjalan bahkan berlari sekalipun." Mulutnya berbisik di telinga kiriku, membuatku memejamkan mata menahan gemetar panik yang membuat kakiku terasa lemas. Bibirnya menyentuh sekilas permukaan kulit leherku, menambah sensasi gelitik yang berteriak di dalam perutku. "Dengan satu syarat, kau tidak boleh pergi dari sisiku—sampai kapanpun."
Mataku terbuka lebar, ketika kalimat itu perlahan berubah menjadi hal terburuk yang pernah ada. Pria ini menginginkan diriku sebagaimana apa yang dikehendakinya.
"Lalu, apa bedanya dirimu dengan ayahku?" tanyaku panik. "Kau yang mengikatku sama saja dengan memasukkanku kembali ke dalam sangkar itu sendiri, bukan?"
"Jangan samakan aku dengan Yhwach," balasnya berbisik, menyapukan ibu jarinya di atas bibirku. "Aku dengan sukarela memberikan dunia padamu, Rukia. Apapun yang kauinginkan—matahari ataupun bulan—kau akan mendapatkannya. Dan sebagai persyaratannya, aku menginginkanmu."
Kepalanya disandarkan di perpotongan leherku, bernapas lembut seakan sedang tertidur lelap. Kedua lengannya memeluk erat tubuhku, membuatku merasakan sedikit rasa kesepian yang muncul setitik. Ichigo hidup seorang diri di dalam dunia yang kotor. Dia sama denganku, menjalani takdir yang tidak akan pernah bisa kami lepaskan dari hati yang tak lagi bersih. Bermain di balik dunia yang memaparkan kebohongan—kami berada di pijakan tergelap tak terlihat.
"Aku menyukai caramu mengubah diriku, seakan kau sedang berusaha menetralkan kebencian juga kejahatan yang sudah kurasakan sejak aku lahir di dunia ini. Kau tahu, itu adalah suatu hal yang mustahil untuk dilakukan, bukan? Namun, kepolosan dan keluguan dirimu merupakan permata di atas bara api yang menyala abadi."
"Kupikir tidak demikian, Ichigo." Kata-kataku terucap menjadi sebuah bisikan yang memilukan, bergetar sendu. "Aku bukan siapapun, yang bisa mengubah ataupun memasuki tempat di mana kau tumbuh. Kita memiliki pilihan masing-masing, bahkan di tempat tergelap sekalipun."
"Karena itu aku membutuhkan dirimu, untuk hidup."
"Sudah cukup, Ichigo—" Kutepis tangannya yang menangkup wajahku begitu lembut. Aku tidak bisa merasakan hal ini lebih lama lagi. Dia bukan milikku, begitu juga diriku yang bukan miliknya. "Aku tidak akan pergi kemana pun, tidak denganmu!"
Ichigo semakin menekanku kuat. Matanya berkilat akan amarah yang terbentuk, diiringi seringaian mirisnya. "Kalau begitu, perlukah aku menculikmu, Rukia?"
Aku bergidik takut, di saat dia mengatakannya terlalu serius. Bahkan, dia bisa menembak siapa pun yang muncul dari balik pintu, aku yakin akan tekadnya yang sekuat baja. Keras kepala bercampur dengan kontrol dominan yang tak bisa ditolak.
"Aku berjanji akan memperlihatkan dunia kepadamu. Berapa kali harus kuyakinkan ini kepadamu?" Ichigo berbisik, kembali melembutkan suaranya. "Ikutlah denganku?"
Daripada membusuk di tempat ini, pikiran terdalamku memberontak keluar. Kenyataannya, keberadaanku tidak diterima dengan baik oleh ayah yang selalu sibuk dengan pekerjaan kotornya, juga Bambietta yang lebih mementingkan kehidupan bebasnya. Tidak ada yang lebih baik, selain memandangi jendela dan berharap ada seseorang yang bisa menjemputku—kemana pun yang lebih baik daripada di sini. Itulah yang selalu kusangkal dalam hidupku.
"Katakan?" Bibirnya mengecup keningku, mengatakan semuanya akan baik-baik saja.
Haruskah—bersama dengannya?
"Rukia?" Kurasakan bibirnya bergerak di atas mulutku, membuatku bergidik terkejut karena tidak menyadarinya. Mataku terbelalak lebar, saat melihat bagaimana Ichigo memerhatikanku. Terekspos jelas ambisi juga hasratnya, seliar adrenalin yang memberontak keluar. Dan tidak ada kebaikan yang terlihat di sana, tidak cahaya ataupun kehangatan perasaannya.
"Ya," jawabku cepat, membuat keputusan tanpa mempertimbangkannya dengan kepala dingin. Menantang bahaya itu sendiri adalah sesuatu yang tidak pernah kulakukan sebelumnya. Dan bahayanya mulai tersenyum tepat di depan wajahku.
"Kita pergi sekarang. Kemasi barangmu," perintahnya, bangun dari posisinya dan membebaskanku dari jeratannya yang menyiksa. "Hanya kau dan aku—kita berdua pergi kemana mereka tidak akan pernah bisa menemukanmu lagi."
Dan kuharap aku tidak menyesali keputusanku, walaupun di lubuk hati terdalamku, aku berteriak melawannya. Aku—dengan kedua tanganku sendiri—bermain dengan api.
.
.
_*_to be continued_*_
.
.
.
.
.
.
.
Author's note:
Scene 2 up! Ya, hampir sebagian besar ini mengenai percakapan Ichigo dan Rukia. Ichigo membawa Rukia keluar dari kediaman Yhwach dan perlambang Hades membawa pergi Persephone. Yup! Ichigo itu Hades dan Rukia Persephone. Mungkin bisa dikatakan begitu, dan kalian bisa menebak bagaimana kelanjutannya setelah Ichigo berhasil membawa Rukia pergi.
Dan chapter kali ini lebih pendek dari sebelumnya. 2500 words (kurang sedikit) XD Beneran mentok sampai di sini, karena memang batasannya hanya ini untuk Scene 2, yang kususun dalam kerangka ceritanya. Jadi, mohon menunggu lagi untuk kelanjutan barunya?
Sedikit curhat, aku banyak mendengarkan lagu-lagu Sia selama mengetik chapter ini dan memang feel-nya dapet banget! Jadi, bisa disarankan bila kalian ingin mencobanya, untuk mendengarkan lagu yang setipe dengan Sia atau juga Ellie Goulding dan Snow Patrol.
Terima kasih banyak bagi yang sudah membaca fic ini! Aku masih mencoba untuk mengetik fic rate-M yang memang tidak semudah rate-T, tapi bisa lebih bebas dalam menggunakan kata-katanya… XD Dan terima kasih juga bagi yang sudah menyempatkan untuk mereview fic ini! Saran dan kritik kalian sangat kuterima! Love u guys~ 3 :D
.
.
Balasan untuk anonymous dan no-login reviewers:
Guest: Terima kasih untuk reviewnya! Oke, semoga genre-nya bisa terasa sampai akhir fic Sudah kulanjut dan semoga kamu suka dengan chapter terbarunya~
darries: Makasih sudah mereview! Hehe.. Ichigo anak mafia, jadilah begitu XD Bambietta tunangannya itu (tambah parah), tapi Ichigo memberontak di sini. Bukan novel kok, itu mitologi Yunani, mengenai dewa dewi kuno, masih 1 cerita sama Hercules itu. Yup, Rukia anaknya Yhwach XD Yhwach sendiri punya hubungan kerja sama sama Ichigo, jadi untuk mengikat hal itu Ichigo dan Bambietta tunangan. Sudah kulanjut dan semoga kamu suka dengan lanjutannya~
My playlist (as always):
Sara Bareilles- Gravity
Bastille- Oblivion
G.R.L- Lighthouse
Ellie Goulding- Love Me Like You Do, Hanging On (feat. Tinie Tempah)
Sia- Salted Wounds, Dressed in Black, Elastic Heart (feat. The Weeknd & Diplo)
These songs don't belong to me…
