You and Me

Summary : Draco curiga akan kedekatan Voldemort dan Harry. Ia memutuskan untuk mengikuti mereka berdua. Kira-kira apa yang terjadi hingga membuat Draco terkejut dan marah? RnR please~

Balas review dulu yuk,

*Fujo Stress-sensei : Sebelumnya saya berterima kasih karena telah menyempatkan diri mampir ke fict saya. Saya sadar, fict saya ini tidak memuaskan. Maksud dari kalimat "Penempatan dialognya mati," itu apa ya?. Saya adalah saya, author senior adalah author senior, saya juga ingin seperti mereka. Tapi bukan berarti sekali bikin langsung Perfect kan? Jadi saya harap anda memaklumi saya. Oh, dan satu hal lagi, anda harus tau, saya tidak akan puas dengan 1-2 pujian. Saya akan lebih giat agar mendapat banyak pujian dan di akui. Sekali lagi saya berterima kasih pada anda yang memberikan kritikan membangun. Saya berharap anda muncul lagi untuk meng-kritik fict-fict saya dan semoga chapter ini lebih baik dari sebelumnya.

*AntChae6855 : Kalau gak di kerjain, nanti jadi gak seru dong. Hehehe, ini udah updet.

*Jamcomaria : entahlah, menurut anda enaknya kapan?*dihajar* ini updet.

*AnindyaCahya : Baru tau ya kalau Harry cute?

*Hatakehanahungry : memang bukan pihak hitam yang ngebunuh, tetapi…

*Anami Hime : Ah, maaf kalau tidak bisa updet kilat.

*Olive1315 : Ini udah updet. Harry kan emang dari dulu punya sifat licik.

.

.

.

Malam ini, awan kehilangan bintangnya, membuat sang rembulan kesepian. Di sebuah Manor yang begitu megah, indah namun memiliki aura yang mencekam, dapat terlihat beberapa penyihir tengah duduk di kursi yang diketahui harganya sangat lah mahal(gak penting banget). Dapat terlihat pula ekspresi-ekspresi dari penyihir-penyihir yang ada di sana, ekspresi dari penyihir-penyihir hitam. Ekspresi ketakutan, tegang, bahagia, bahkan ada juga yang tidak berekspresi apapun. Bila ditanya, mengapa ada yang bahagia, orang itu akan menjawab; "Aku bahagia karena akan bertemu Pangeran kegelapan yang tampan itu~"

Tidak, mereka tidak gila. Pangeran Kegelapan bukanlah lagi seorang monster berwajah ular tanpa hidung, tetapi Pangeran Kegelapan yang sekarang telah memiliki perawakan yang tinggi, gagah, berkulit putih dan tampan. Ya, dia bukanlah lagi pria berwajah aneh dan menjijikan semenjak ia menemukan tubuh lamanya lalu menyihir tubuhnya sendiri menjadi pria berumur 25 tahun.

Tak lama kemudian, Pangeran Kegelapan yang dibicarakan akhirnya muncul. Di belakangnya menyusul seorang lelaki berambut hitam berantakan dan memiliki bola mata berwarna emerald, warna yang indah, seindah kutukan Avada Kadavra.

'Harry?! Kenapa dia ada di dekat Voldemort?!' batin Draco yang tengah duduk tenang di samping ayahnya. Ayahnya, Lucius Malfoy, sepertinya tau apa yang ada di pikiran anaknya saat ini. Ia pun berbisik pelan,

"Dia adalah tangan kanan Tuan Voldemort,"

'Tch! Tau gitu ketika aku di ajak oleh ayah, aku akan ikut ke sini. Agar bisa bertemu Harry tentunya,' ujar batin Draco menyesal

Draco memang paling tidak suka berkumpul hanya untuk melakukan perdebatan yang tentu saja tak penting baginya.

Harry langsung melihat ke arah Draco ketika merasakan aura sihir milik sang pemuda pirang itu. Senyum manis perlahan terukir di wajah manis Harry.

"Baiklah, rapat ini akan kita mulai. Harry, bacakan informasi apa saja yang informan kita dapat." Perintah Pangeran Kegelapan dan dibalas dengan anggukan singkat oleh Harry

"Dari informasi yang didapat, telah diketahui beberapa anggota dari pihak putih telah berguguran. Sedangkan sang pemimpin sendiri –Dumbeldore—tidak peduli akan semua itu, ia terus mencari cara agar dia bisa menang di akhir pertempuran," ujar Harry serius sambil mengarahkan pandangannya pada kertas yang ia genggam. Tidak ada yang menginterupsi kalimat yang dilontarkan Harry, mereka semua terbang di alam pikiran mereka masing-masing.

Termasuk juga dengan Draco yang kini tengah memikirkan Harry.

'Bibirnya indah, pasti rasanya manis. Harry, aku ingin bercinta denganmu,' batin Draco melayang.

"Jadi, apa yang harus kita lakukan?" Tanya Lucius tak kalah serius dari Harry dan membuat Draco sadar dari lamunan liarnya. Pangeran Kegelapan menyeringai,

"Apa yang akan kita lakukan? Pertanyaan bagus. Kita akan menghancurkan pihak putih dari dalam," jawab Pangeran Kegelapan tegas dan benar-benar percaya diri akan rencananya

"Hah? Dari dalam? Siapa yang akan melakukannya?" Tanya seorang penyihir dengan wajah bingung.

"Maka dari itu kita adakan rapat ini. Dari kalian semua, siapa yang mau berkorban?" Tanya Pangeran Kegelapan dengan senyum mengerikan, "Selain kau, Potter," tambah Pangeran Kegelapan ketika mengetahui bahwa Harry ingin mengucapkan sesuatu dan hal itu membuat Harry memutar kedua matanya kesal.

"Eh?" Draco yang mendengar itu terheran. Ia merasa, ketika Pangeran Kegelapan berbicara dengan Harry, ada nada kasih sayang di dalamnya.

'Itu…mungkin hanya perasaanku saja, mana mungkin Voldemort berkata penuh kasih sayang,' batin Draco membuang pikirannya barusan. Ruangan tersebut sunyi senyap, bahkan jangkrik tidak ingin mengeluarkan suara miliknya. Tiba-tiba Harry menyeringai,

"Look, mereka tidak ada yang berani, Dark Lord. Jadi, biarkan aku saja. Aku ingin bermain-main dengan pihakputih," kata Harry senang. Pangeran kegelapan menghela nafas berat dan men-death glare orang-orang pengecut yang ada di ruangan tersebut.

"Fine, kau yang akan menjadi penghancur dari dalam. Tapi ada syaratnya…" Pangeran Kegelapan memberi jedah pada kalimatnya. Alis Harry melengkung bingung akan kata-kata Pangeran Kegelapan.

"Kau tidak boleh membunuh siapapun," ujar Pangeran Kegelapan seakan mengerti bahwa Harry bingung akan ucapannya. Harry pun menyetujuinya dan mengangguk hormat.

"Baiklah, rapat ini sampai disini. Kalian dapat pulang sekarang, terima kasih," kata Harry dengan senyum ramah yang dibuat-buat. Tanpa menunggu lama, ruangan yang tadi digunakan untuk rapat ditinggalkan oleh para penyihir-penyihir. Disana hanya tersisa beberapa penyihir saja yang masih ingin memikirkan tentang pertempuran. Termasuk Draco dan Lucius. Pangeran Kegelapan bangkit dari duduknya.

"Potter, kemari," perintahnya dengan angkuh. Harry hanya menuruti perintahnya. Draco yang melihat itu menjadi penasaran.

"Dad, aku mau ke kamar mandi dulu," pamit Draco kepada ayahnya yang sedang mengobrol dengan penyihir lainnya. Lucius hanya mengangguk dan melanjutkan obrolannya.

.

.

.

"Ada apa?" Tanya Harry dengan nada bosan

"Kau ini, aku ini Dark Lord," ujar Pangeran kegelapan di depan Harry.

"Oh, come on. Rapat sudah selesai Tom. Jadi aku tidak perlu bertindak sopan padamu," ujar Harry dengan nada menggoda. Tom hanya memutar kedua matanya bosan.

"Dasar mata empat," ejek Tom, Tom mendorong Harry sampai menempel pada tembok. Kedua tangannya di letakkan di kanan dan kiri kepal Harry.

"Dari pada kamu. Dasar Gay," balas Harry tidak mau kalah. Harry menggembungkan pipinya sebal karena di ejek. Tom menyeringai senang akan reaksi tangan kanannya,

"Bukannya kau juga Gay," Tom pun mencium bibir Harry kasar dan rakus. Harry mencoba melawan, namun gagal. Dalam hal ini, entah mengapa Harry selalu saja kalah di tangan Tom. Ia pun memasrah kan segalanya. Mencoba menghanyutkan diri dalam sebuah ciuman maut dari pangeran kegelapan.

"Mmh…T…Tom!" Harry mendorongnya dengan tenaga penuh, setelah itu Harry menghirup nafas sebanyak-banyaknya.

"Ups, apa aku berlebihan? Itu salahmu karena memiliki bibir yang manis, Harry," goda Tom menjilati bibir Harry dan pergi meninggalkan lelaki berkacamata bundar sendiri. Harry mendudukkan dirinya di lantai.

"Idiot. Yang kusukai itu bukan kau," gumam Harry sebal dan meninju dinding di belakangnya.

Tanpa di sadari oleh Tom dan Harry, ada sepasang mata silver menatap marah akan kejadian barusan.

-TBC-