BAGIAN 3: KEKACAUAN
Kang Hyukjin menyempatkan diri meneguk habis sisa air mineral miliknya. Pria yang berprofesi sebagai dokter itu terlihat lebih baik setelah Chanyeol memaksa berbicara dan berakhir di dalam ruangan miliknya.
Suara keributan di lorong terdengar sayup-sayup di dalam ruangan itu. Chanyeol mengedarkan pandangan dan mendapati layar komputer yang berada di atas meja—menampilkan sebuah gambar yang tak benar dia pahami.
"Itu bagaimana virusnya bekerja. " Hyukjin berkata seolah menyadari kebingungan Chanyeol. "Tapi tidak ada satupun yang tau apa itu."
"Bukankah virusnya berasal dari unggas? Mungkin semacam flu burung?" Chanyeol mengalihkan pandangannya pada Hyukjin.
Hyukjin tertawa miring dan menggelengkan kepalanya. "Itu hanya omong kosong untuk menjawab pertanyaan media."
Chanyeol terkesiap. "Jadi—"
"Benar, bahkan WHO juga belum tau apa yang sebenarnya terjadi. Virus itu ditularkan melalui darah, kau takkan percaya dengan apa yang kukatakan." Dia berdecak dalam pertimbangan.
Matanya tertaut pada milik Chanyeol dan menyelami iris milik detektif itu. Chanyeol berkerut dalam kebingungan dan menunggu dengan sabar untuk lanjutan yang hendak dokter itu suarakan.
Tarikan nafas panjang terhela dari Hyukjin. Botol mineral yang telah kosong dia remas lalu melemparnya pada keranjang sampah di dekat lemari besi.
"Mereka yang telah meninggal tiba-tiba saja hidup kembali dan menggigit siapapun lantas yang tergigit meninggal dan hidup kembali. Seperti itulah virusnya bekerja."
Chanyeol tertegun. "Aku melihatnya saat menuju kemari." dia menimpal dalam suara nyaris tak terdengar.
Hyukjin terlihat takjub, sedetik kemudian kembali menarik senyum miring. "Dunia ini sudah gila." Ia tertawa dibuat-buat. "Bagaimana bisa mayat hidup kembali?"
"Tadi kau mengatakan virus itu ditularkan melalui gigitan?"
"Ya, gigitan juga cakaran. Jika kau memiliki luka dan darah mereka yang terjangkit mengenai lukamu, maka kau akan terinfeksi. Sebenarnya suntikkan itu tidak memberikan pengaruh apapun."
"Apa?" Chanyeol membola kembali.
"Jika kau tergigit, maka kau terinfeksi dan mati. Ketika kau mati… kau akan hidup kembali dan menggigit siapapun yang kau temui."
Chanyeol tertegun. Kalimatnya seolah hilang ditarik udara. Matanya menapak pada layar komputer kembali dan memperhatikan lama gambar abstrak yang tertera disana. Itu terlihat seperti gambar sel darah dengan jaringan saraf di sekitarnya. Chanyeol mencoba memahami dengan memperhatikan hal itu lebih jeli lagi, namun dia tak memiliki ide apapun terhadap hal itu.
"Tapi..." Chanyeol menegakkan kepalanya lagi menatap Hyukjin. "Ada seorang pengendara motor yang tewas karena kecelakaan, dia juga mengalami hal yang sama."
Alis Hyukjin tertaut dalam kebingungan.
"Bukankah virus itu ditularkan melalui gigitan atau cakaran?"
Hyukjin mendekat kepada Chanyeol lantas dengan suara pelan berbisik, "mayat di dalam ruang otopsi juga mengalami hal yang serupaㅡ" kalimatnya belum sempat terselesaikan kala derap kaki terburu terdengar keras pada koridor.
Perhatian kedua orang itu teralih cepat pada pintu sedang keduanya saling menukar pandang sesaat sebelum Chanyeol memutus tautan itu dan bergerak pada pintu.
Kenop berputar dan menariknya guna terbuka. Namun hanya sedetik ketika pintu kembali Chanyeol tutup, keras menghasilkan dentuman keras akibat bantingan.
"Apa yang terjadi?" Hyunjin melihat Chanyeol bingung seraya bangkit dari duduknya. Wajah detektif itu pucat dengan ekspresi ketakutan yang kentara pada paras yang tampan.
Chanyeol membawa pandangannya pada Hyukjin dan menjawab dalam bisikan. "Tim SWAT."
"Apa?"
...
Asap pekat membumbung memenuhi koridor. Derap langkah kaki terdengar cepat bersahut-sahutan di antara teriakan kesakitan dari orang-orang yang memenuhi rumah sakit.
Rombongan itu datang tanpa di undang. Pakaian mereka serba hitam, menutupi seluruh tubuh dengan masker membungkam mulut dan hidung. Pada punggung masing-masing terdapat sebuah tabung dengan tangan menggenggam selang dan membabi buta menyemprotkan gas asap ke seluruh isi gedung rumah sakit.
Bukan. Itu bukan Tim SWAT seperti yang Chanyeol katakan.
"KELUAR! SEMUA KELUAR!"
Satu dari mereka berteriak. Pintu digedor kasar, ketika tak mendapat jawaban daun pintu itu di buka paksa dengan tendangan.
Chanyeol cepat menunduk di balik pintu. Jantungnya bertalu kasar menatap tangannya yang perlahan memutar kunci dengan tergesa.
"Menunduk!" dia menahan pekikkan kepada Hyukjin. Dokter itu kontan melakukan seruannya dan beringsut mendekati Chanyeol.
"Apa yang terjadi?" dokter itu berbisik dengan gusar. Dia mencondongkan sedikit tubuhnya menempel pada pintu lalu mengintip melalui kaca kecil untuk melihat ke luaran sana.
Kelopak mata yang sempat menyipit itu tiba-tiba membesar seolah hendak meloncat keluar dari tengkorak. Apa yang tertangkap retina seolah menarik oksigen membuatnya tercekat, kontan segera menunduk seperti Chanyeol.
Orang-orang berpakaian hitam itu tak datang untuk sekedar menyemprotkan asap saja, namun juga memukuli siapapun yang mengindahi perintah mereka. Sol sepatu tebalnya melayang pada tiap jengkal tubuh yang berlari berlawanan, tanpa iba sampai lautan manusia itu tak mampu bergerak pada tempatnya.
"Siapa mereka?!"
Pertanyaan itu tak hanya milik Hyukjin saja. Chanyeol pun. Detektif itu berulang bertanya dalam hati, mencoba menerka-nerka namun tak juga menemukan jawaban yang ia inginkan.
"SEMUA KELUAR!" teriakan itu terdengar kembali. Gedoran pada pintu mengikuti, semakin lama semakin jelas menuju ruangan milik Hyukjin.
Dokter itu bergetar dalam ketakutan. Dia meringkuk seperti janin dan memeluk kepalanya. Chanyeol tak memiliki waktu untuk menenangkan dokter itu. Pandangannya teredar menyeluruh pada ruangan dan terhenti pada lemari besi yang berdiri dekat dengan pintu.
"Bantu aku!" pinta Chanyeol tiba-tiba. Dia mendorong lemari besi itu kepayahan pada pintu. Gedoran pada pintu terdengar tepat setelah itu dengan seruan yang sama meminta untuk keluar. "Cepatlah!" pekik Chanyeol.
Hyukjin bergegas bangkit dan membantu Chanyeol mendorong lemari besi itu pada pintu dan menjadikannya sebagai tameng. Gedoran terhenti digantikan dengan tendangan kini, berulang namun lemari besi itu melakukan tugasnya dengan baik. Orang-orang itu beralih pada pintu yang lain dan melakukan hal serupa juga.
"Ini pembataian!" Hyukjin berteriak dengan suara yang bergetar. "Mereka membunuh semua orang!"
Chanyeol mengetahuinya namun dia tak memiliki apapun untuk mencegah hal itu. Bahkan jika dirinya adalah seorang detektif, dia tak bisa berkutik melihat bagaimana ganasnya orang-orang itu membantai siapapun yang mereka temui. Chanyeol kalah jumlah dan lagi dia tak tau darimana orang-orang itu berasal juga siapa atasan yang memberi mereka perintah.
Dering ponsel Chanyeol menggema menjadi sahutan untuk seruan Hyukjin. Dia buru-buru meraih benda pipih itu dan mendapati nama Jongin tertera pada layar. Chanyeol menerima dengan segera.
"PARK SEGERA KELUAR DARI SINI! ORANG-ORANG GILA ITU AKAN MELEDAKKAN GEDUNG RUMAH SAKIT!" Jongin berteriak menulikan pendengaran Chanyeol.
Chanyeol membeliak luar biasa seolah jantung baru saja copot dari rongganya. "Aku tak bisa keluar, mereka ada dimana-mana!"
"CEPATLAH BODOH, LAKUKAN SESUATU! AKU TAK BISA MENUNGGUMU, AKU HARUS MENJEMPUT KYUNGSOO!" Jongin berteriak terakhir kalinya sebelum memutus sambungan itu.
"TU-TUNGGU JONGIN—"
Panggilan itu terputus. Chanyeol menahan makian sedang jantung bertalu semakin tak terkendali pun kala nama Kyungsoo rekannya itu sebut. Pikirannya tanpa di perintah segera melayang pada Baekhyun.
Sial! Lelaki itu bahkan berada di Daegu ditengah kekacauan yang melanda Gwangju tanpa penjelasan mengenai apa yang sebenarnya tengah terjadi!
Namun kemudian semua ketakutan itu menghilang sirna. Chanyeol tanpa kata mendorong lemari besi kembali menyingkir dari pintu tanpa peduli dengan Hyukjin yang melotot padanya.
"Hei apa yang kau lakukan!?" dokter itu kembali panik.
"Aku harus keluar dari sini!" sahut Chanyeol.
"KAU CARI MATI!" Hyukjin menghardik.
Chanyeol memang cari mati, namun dia tak sempat memikirkan kematian saat ini. Dia harus segera menjemput Baekhyun dan memastikan pacarnya itu dalam keadaan baik-baik saja.
Lemari besi itu kembali pada tempat semula. Chanyeol mengintip melalui kaca pada pintu melihat ke luar sana. Asap masih menggepul walau tak sepekat tadi. Orang-orang berpakaian hitam itu masih berada di koridor. Jumlah mereka tak sebanyak seperti yang Chanyeol lihat sebelumnya, dia menebak mereka tengah berpencar ke bagian gedung yang lain.
Chanyeol sebenarnya tak memiliki rencana apapun. Dia hanya ingin keluar segera dengan nekat sebagai modalnya. Pun ketika kunci Chanyeol putar dan menggenggam kenop kuat dengan siaga.
"Hei, kau tidak serius 'kan?" Hyukjin menahan gerakan pria itu.
"Gedung ini akan diledakkan!" Chanyeol menahan teriakan. "Kita harus segera keluar dari sini."
Hyukjin nyaris terlonjak dalam keterkejutan. Lidahnya kehilangan kata-kata sedang tubuh tiba-tiba saja bergetar dalam ketakutan. Chanyeol sekali lagi mengabaikan hal itu. Pintu di tarik perlahan dan menghasilkan sedikit celah. Matanya awas menatap melalui celah pintu dan menunduk.
"Kita akan mengendap keluar dan sebisa mungkin menghindari mereka." Chanyeol memberitau rencana tanpa sempat dia pikirkan matang itu.
"Tapi mereka dimana-mana!"
Chanyeol pun tau tapi mereka tak bisa berada di ruangan itu dan menunggu gedung rumah sakit diledakkan. Pintu Chanyeol buka lebih lebar, dia berjongkok lalu dengan perlahan beringsut keluar dari sana. Asap membantu rencananya. Detektif itu menempel pada dinding dan perlahan-lahan bergerak menjauhi pintu.
Dia melirik ke belakang dan menemukan Hyukjin melakukan hal yang serupa. Langkahnya semakin cepat diikuti tubuh yang menegak perlahan dan berlari menuju lorong utama. Sol sepatunya memantul di koridor, kemudian berdecit ketika dia paksa tungkai berhenti tiba-tiba.
Chanyeol seketika tercekat. Unit darurat taunya lebih parah dari yang dia pikirkan. Orang-orang berpakaian hitam tersebar lebih banyak disana. Mereka memisah pasien dan masyarakat sipil menjadi 2 kelompok. Satu pada sisi kanan dan sisanya pada bagian kiri.
Chanyeol melihat sekilas dan segera menyadari pada sisi kanan di penuhi oleh mereka yang berseragam rumah sakit dan sisanya masyarakat sipil yang datang meminta pertolongan pertama seperti himbauan pemerintah.
"Berhenti disana!" satu dari orang itu berseru pada Chanyeol.
Detektif itu lagi tercekat dan tungkainya reflek mengambil langkah mundur.
"Lewat sini!" Hyukjin berteriak dari belakang. Chanyeol tak mempertimbangkan apapun lagi membalikkan tubuhnya segera dan berlari secepat angin menyusul Hyukjin.
"HEI BERHENTI!" Orang berpakaian hitam itu berteriak mengejar.
Hyukjin berlari pada bagian timur gedung rumah sakit, tepatnya pada lorong terujung di lantai satu yang menghubungkan parkiran khusus staf rumah sakit. Dia menekan alarm pada kunci mobil dalam genggaman dengan tergesa dan menemukan kenderaan itu terparkir di dekat pintu keluar.
Itu terlalu jauh. Chanyeol membatin.
Pandangannya di edarkan pada seluruh mobil yang terparkir mencari kiranya ada mobil yang melintas. Namun tak ada satupun. Sedang derap langkah berlari semakin jelas terdengar menyusul.
"Detektif cepatlah!" Hyukjin berteriak. Chanyeol tak memiliki pilihan selain mengikuti Hyukjin menuju dimana mobilnya terparkir di depan sana.
Hyukjin membanting pintu mobil dan tergesa menghidupkan alat transportasi itu. Chanyeol duduk pada samping kemudi bersamaan dengan orang-orang berpakaian hitam itu sampai pada parkiran.
"CEPATLAH!" Chanyeol berseru tak sabaran.
Hyukjin menekan starter lebih kuat dan mesin mobil pun menderu. Tanpa menyisakan detik, segera menarik kompling lantas menginjak gas dengan cepat. Mobil meninggalkan areal parkiran menuju perataran rumah sakit dengan decitan ban tertinggal mengaum.
"Oh sial!" Hyukjin memaki nyaris bersamaan dengan Chanyeol.
Taunya perataran itu penuh sesak dengan kekecauan dimana-mana. Orang-orang berlari menjauhi gedung rumah sakit sedang orang-orang berpakaian itu mengejar. Mobil yang ada disana, ditinggalkan pemiliknya begitu saja membuat akses jalan Hyukjin terblokir.
Mereka terjebak tepat pada bibir parkiran.
"Ini mendesak jadi jangan tangkap aku!" Hyukjin berujar sebelum menginjak gas lebih kuat dan tak menunggu respon Chanyeol segera menabrakkan mobilnya dengan mobil yang terparkir di depannya. Suara alarm dari mobil-mobil itu bersambut-sahut membuat riuh kian ramai dalam kekacauan.
Mobil tak bertuan itu terdorong ke depan dan menabrak mobil lain di depannya—memberikan celah Hyukjin untuk keluar. Dokter itu dengan gesit menyalip celah yang ada dan tanpa perhitungan menabrak mobil-mobil lain yang menghalangi jalannya.
Bumper mobil telah penyot tak sempat pria itu pikirkan namun lagi-lagi terjebak di antara kumpulan mobil yang lain.
"Sial!" Hyukjin memaki. Klakson di tekan kuat seolah itu memberi hasil yang dia inginkan. Chanyeol melongokkan kepalanya keluar dari mobil dan berdiri untuk mengedarkan pandangannya ke seluruh perataran.
Mata bulatnya memicing, kemudian melebar ketika menangkap satu mobil patroli polisi yang terparkir tepat pada pintu masuk.
"Aku turun disini!" Chanyeol membuka pintu mobil tergesa dan tak menunggu respon Hyukjin segera berlari di antara celah-celah mobil.
"He-hei—" Hyukjin tak sempat mencegah ketika Chanyeol melompat turun dari mobilnya.
Detektif itu berlari cepat menuju pagar sambil sesekali melompati bumper mobil yang menghalangi langkah. Dia mendorong satu yang berpakaian hitam dan melompat tepat di samping mobil incarannya. Mobil patroli itu kosong dengan kunci menggantung pada tempatnya.
Chanyeol segera masuk ke dalam sana. Kemudi dia putar lalu menginjak gas meluncur pada trotoar.
Pada awal-awal karirnya di kepolisian, Chanyeol memiliki tugas untuk mengamankan pengendara yang ugal-ugalan dan sekarang dia menjadi satu di antara mereka tanpa satupun peduli untuk menilang.
Sudah tidak lagi.
Keadaan sudah tak lagi mengijinkan untuk peduli akan hal itu.
...
Sehun tersentak pada tidurnya merasakan getaran berulang dari ponsel di dalam kantung celana seragamnya. Remaja itu merutuk kesal sembari mengambil ponselnya dan menemukan nama Chanyeol tertera di layar. Rutukannya berubah menjadi makian. Dia tanpa pikir panjang mengusap dial merah, menolak panggilan itu dan bangkit dari posisi berbaring.
Jam telah menunjukkan angka 4 lewat beberapa menit. Hari telah beranjak sore, kurang dari 2 jam lagi sekolah akan berakhir.
Sehun merenggangkan ototnya yang terasa kaku dan menguap lebar sekali. Hari ini tidur siangnya lumayan lama dari biasanya. Sehun memutuskan untuk turun dari atap dan berpikir untuk menemukan sedikit cemilan sembari menunggu jam pulang berdentang.
Siswa SMA tingkat akhir itu bersiul sepanjang perjalanan. Koridor lantai teratas sepi seperti biasa. Gema memantul mengiringi siulannya di sela.
Ini sedikit aneh. Sehun melongokkan kepalanya pada kedua ujung koridor yang dia lewati dan menyadari tak ada satupun siswa yang lewat. Apakah siswa berandal yang gemar bolos hanya tinggal dirinya saja? Atau sekolah berakhir lebih cepat? Sehun bertanya dalam hati.
Langkahnya dia percepat menuruni tangga. Lantai 4 adalah kelas tingkat terakhir. Koridor masih sepi, dia melihat ke dalam kelas dan tak mendapati satu orang pun disana. Meja dan kursi tertata berantakan dengan tas dan buku yang berserakan di lantai.
Apa yang terjadi? Pikirnya kembali.
"KYAAAA~"
Teriakan itu terdengar membahana. Suaranya memantul terdengar dari lantai bawah. Sehun membawa langkahnya segera menuju tangga dan disanalah dia menemukan seluruh siswa sekolah.
Wajah panik dengan tangisan berbaur satu. Para siswi meraung sedang siswa memaki dengan tangan mendorong siswa-siswa yang lain. Sehun mematung tak mengerti pada tempatnya.
Ponsel kembali berdering dengan nama pemanggil yang sama dari Chanyeol.
Sehun menerima panggilan itu tak sadar sedang fokus masih terbagi pada koridor lantai 3.
"Hyung—"
"Sehun kau masih berada di sekolah 'kan!?" suara Chanyeol terdengar memburu di ujung sambungan sana. Sehun menyergit, bertanya-tanya setan apa yang tengah mengejar pria yang menjadi pacar kakaknya itu.
"Ya, aku di sekolah. Ada apa?"
"Tetap berada disana. Aku akan menjemputmu sekarang!" Chanyeol menyahut dengan nada serupa.
"Apa yang terjadi?" Sehun bertanya, kerutan pada keningnya bertambah orang bingung membumbung kian banyak.
"Kita harus ke Daegu untuk menjemput Baekhyun, pastikan kau sudah berada di depan dan jangan sampai tergigit!"
"Apa—tut-tut…" sambungan itu terputus.
Sehun menukik dalam kebingungan yang semakin mendera. Tergigit? Ia mengulang dalam hati.
Sehun menuruni tangga dan berbaur dengan siswa-siswa yang lain. Koridor penuh sesak sedang tangga menuju lantai 2 tak memiliki sisa celah sedikitpun.
Sehun urung untuk turun melalui tangga. Dia menuju jendela dan menggeser kaca itu lalu memanjatnya dengan mudah.
"Huh?" matanya menyipit ketika tak sengaja menangkap bayangan pada seberang gedung.
Dua orang wanita berlari menghindari rombongan di belakangnya. Mereka berjumlah lebih dari 5 dengan tangan melayang di udara berusaha menggapai kedua sosok itu.
Salah satu terjerebab jatuh dan temannya lekas membantu bangkit dan itu menjadi kesalahan fatal. Lima orang itu menggapai tubuh mereka mudah dan menggerubunginya. Sehun semakin memicingkan pandangan dan menyadari jika orang-orang itu menggigit kedua wanita itu dengan beringas.
Darah terciprat banyak pada jendela kaca merampas nafas Sehun seketika. Remaja itu mendadak mual di saat yang bersamaan, ucapan Chanyeol terngiang dalam ingatan.
"Jangan sampai tergigit."
"DIA DISINI! CEPATLAH, DIA ADA DISINI!" para siswi berteriak tiba-tiba. Koridor menjadi lebih kacau, beberapa sampai jatuh terdorong—terinjak oleh pemakai seragam yang sama tanpa ada satupun yang berniat menolong.
Sehun masih berdiri pada kusen jendela dan mengedarkan pandangannya pada ujung koridor. Seorang siswa berjalan disana, kemudian langkahnya berubah cepat dalam larian dan menuju para siswa dengan kalap.
Gelegatnya terlihat sama—tidak, itu memang persis seperti yang Sehun lihat pada seberang gedung. Belum selesai keterkejutannya berakhir, Sehun kembali di kejutkan dengan penampilan siswa itu.
Penampilannya kacau dengan darah tersebar dimana-mana. Lehernya terluka parah dan matanya memutih seolah tak memiliki retina. Dan yang lebih menarik perhatian Sehun adalah mulut siswa itu—
"KYAAA TOLONGGG!" teriakan itu membuat para siswa menjadi lebih kacau. Mereka berpencar, sebagian berlari pada ujung lorong yang lain, beberapa masuk ke dalam kelas dan sisanya tetap memaksa menggunakan tangga mencoba menghindari siswi itu.
Sehun pada tempatnya berubah panik dan lekas merangkak turun dari jendela. Kakinya mendarat pada genteng dan berjalan gesit di atas sana. Si berandal SMA itu menuruni tembok dengan lincah lalu melompat dengan pendaratan sempurna pada halaman sekolah.
Di halaman sekolah itu, Sehun mendapati para siswa juga guru yang berlumuran darah dengan luka pada tubuh mereka. Mata memutih dengan mulut kotor oleh darah mengejar siapapun yang mereka temui disana.
Apa yang sebenarnya terjadi? Sehun berulang bertanya.
"RRRWWWW~" geraman itu menusuk pendengaran menyadarkan Sehun akan sosok yang tengah mendekatinya.
"KYAAA!" dia kontan berteriak. Tungkainya dia paksa melangkah cepat menjauh dari sana menuju gerbang. Sosok menyeramkan itu tidak hanya satu yang mengejar, jumlah mereka bertambah dan mengerang lebih keras.
"SEHUN!" Chanyeol berteriak sembari menekan klakson. Ban mobil patroli itu yang pria itu kendarai berdecit keras ketika rem terinjak tiba-tiba dan berhenti tak jauh dari Sehun
Siswa SMA itu memacu langkah lebih cepat menuju mobil itu dan melompat bagai ninja masuk ke dalam mobil. Chanyeol segera menginjak gas dan mereka melesat pergi meninggalkan sekolah bersama kuruman mayat-mayat yang tertinggal di belakang sana.
...
Tak ada pembicaraan di dalam mobil itu. Bernafas pun menjadi hal sulit bagaimana gulungan di dada seolah hendak merampas seisi paru-paru.
Sehun berulang menarik nafasnya. Ketika dia berhasil melakukan hal itu, Chanyeol tiba-tiba saja membanting setir menghindari mobil yang lain seketika membuat Sehun kembali menahan nafasnya.
Ini seperti mimpi. Seperti mereka tengah terjebak dalam sebuah permainan dengan musuh dimana-mana. Jalanan kacau, gedung yang terbakar, teriakan juga… mayat hidup yang memakan siapapun yang mereka temui di jalanan.
"Sehun coba hubungi Baekhyun!" disela fokusnya pada kemudi Chanyeol meminta. Sehun masih tak mampu menahan keterkejutan dalam dirinya membuat Chanyeol berubah tak sabar.
"Cepatlah!" serunya.
Sehun tersentak buru-buru mengambil ponsel. Tangan bergetar menari di atas layar mencari kontak Baekhyun. Dia menghubungi saudara kandungnya itu dan menunggu sambungan terhubung dalam risau.
"Tidak aktif." Sehun memberitau. Gurat wajahnya kian panik terlihat dalam usahanya menghubungi Baekhyun. Sehun kembali mengulang panggilan namun sapaan yang di terimanya masihlah berasal dari operator.
"Chanyeol hyung!" Sehun tiba-tiba berseru menunjuk jendela di sampingnya, tepatnya pada sosok mayat hidup yang menempel disana. Darah dari mulutnya menciprat mengotori jendela dengan sayup-sayup erangannya masuk ke dalam mobil.
Chanyeol lekas membanting setir dan menabrakkan diri pada pagar pembatas jalan. Mayat itu terhimpit keras namun tak menghentikannya berusaha masuk ke dalam mobil. Chanyeol menabrakkan sisi mobil lagi pada pagar dan menginjak gas kuat membuat sosok itu terpental pada badan jalan lalu terlindas oleh ban mobil dibelakang sana.
Sehun sepucat mayat. Shock menghantui dengan apa yang baru saja ia lihat dengan matanya sendiri. Dia melirik Chanyeol takut-takut namun tak menemukan ekspresi serupa dari pacar kakaknya itu.
Chanyeol seperti psikopat yang baru saja membunuh korbannya tanpa rasa bersalah tertinggal. Pria itu terlihat tenang walau kenyataan tanpa Sehun ketahui, dia sama besar menanggung ketakutan pada dirinya.
"A-apa itu hyung?" Sehun bercicit bertanya. Kekuatannya tersedot habis oleh rasa takut sampai bicara pun menjadi sulit untuk di lakukan.
"Mayat hidup." Chanyeol menjawab singkat.
"Mayat hidup?" Sehun mengulang merasa tak yakin dengan pendengarannya sendiri. "Bagaimana bisa mayat hidup kembali?"
"Terus hubungi Baekhyun, saat ini yang terpenting kita harus menjemput kakakmu!" Chanyeol menyahut.
Sehun tak membantah walau rasa penasaran masih menggorogoti dirinya. Tangannya masih bergetar memegang ponsel, mencoba kembali menghubungi Baekhyun. Matanya dibiarkan jauh keluar dari kaca mobil di depannya dan membiarkan otak merekam semua kejadian yang tertangkap oleh inderanya itu.
Tak ada yang peduli tentang lampu lalulintas yang harus di patuhi.
Chanyeol menerobos jalanan tanpa melihat kanan kiri juga tak peduli dengan mobil yang semakin penyot sana sini.
"Sial!" pria itu memaki. Rem dia injak tiba-tiba membuat mobil tersentak sekali dengan kuat. Jalanan kembali macet. Perjalanan ke Daegu yang seharusnya hanya memakan waktu 3 jam terbuang banyak dengan keadaan jalan yang semakin kacau.
Sehun memilih diam di antara pekerjaannya terus berusaha menghubungi Baekhyun yang masih tak mendapatkan jawaban. Sehun pikir karena Baekhyun berada di gunung dengan akses sinyal yang buruk itulah mengapa ponselnya menjadi sulit untuk dihubungi.
Matanya berpendar pada seluruh jalanan dan terhenti tepat pada sisi kanannya. Jendala kaca terlihat buram oleh bercak darah yang telah mengering namun tak benar menutupi pandangan Sehun pada supermarket disana.
Lampu di dalam pusat perbelanjaan itu berkedip-kedip. Orang-orang berlari masuk dan keluar dari sana dengan troli mengisi barang tanpa kantung plastik. Sehun segera menyadari jika supermarket itu baru saja di jarah namun tak ada satupun yang peduli.
Kota benar telah kacau sepenuhnya.
Langit telah gelap dan nyatanya membuat keadaan semakin tak terkendali. Chanyeol tak memiliki pilihan, kembali naik pada trotoar dan menyelinap masuk ke dalam lorong-lorong di antara bangunan toko.
Bulan menghiasi langit ketika mobil patroli itu meninggalkan kota Gwangju. Chanyeol memilih untuk menghindari jalan raya dan mengambil sisi jalan yang bisa ditembus tanpa terjebak macet sama sekali.
"Baterai ponselku mulai habis hyung." Sehun memberitau di antara rutukan menatap ujung layar ponsel. "Apa hyung tau dimana penginapan Baekhyun hyung?" Dia beralih pada Chanyeol setelahnya.
Jalan penggunungan mulai terlihat di depan mata dengan kabut tipis menghalangi pandangan mata.
"Baekhyun memberitau sebelumnya." Jawab Chanyeol. "Gunakan ponselku, terus hubungi Baekhyun." Chanyeol menyerahkan ponselnya kepada anak SMA itu.
Sehun menerimanya dan segera melakukan panggilan kembali.
Keadaan begitu senyap berbanding terbalik dengan keadaan Gwangju. Tak ada teriakan juga mayat hidup yang berkeliaran menggigiti orang-orang. Yang ada hanyalah hembusan angin penggunungan dengan ranting pohon melambai ketika mobil melewatinya.
"Ponsel Baekhyun hyung aktif!" Sehun terpekik senang bukan main.
"Katakan padanya kita akan segera sampai!" Chanyeol meminta kembali, suaranya terdengar tenang berusaha mengenyahkan kekhawatiran yang masih mendera.
Sehun mengangguk dan menunggu dering ponsel itu dengan tak sabar.
"Baekhyun hyung—" belum sempat Sehun menyelesaikan kalimatnya, Chanyeol segera mengambil alih ponsel itu.
"Baek aku ingin kau tetap tenang. Aku sedang berada dalam perjalanan untuk menjemputmu, jadi bersembunyilah di tempat yang aman!" Chanyeol berujar terburu.
Neon box yang menuliskan nama vila yang Baekhyun katakan baru saja terlewati membuat Chanyeol semakin dalam memacu kecepatannya.
"Aku sudah sampai di vila!"
"Cha-Chan... aku takut sekali," Baekhyun sesunggukkan di ujung sambungannya.
"Katakan kau berada dimana? Aku akan menjemputmu!" mobil patroli itu berbelok masuk ke dalam perataran vila.
"Aku berada di kamar. Lantai dua, kamar paling ujung." Ucap Baekhyun. "Aku tidak bisa keluar. Luhan membunuh Tao dan dia berada di lorong."
"Aku akan kesana. Tetap bersembunyi." Chanyeol melepas sabuk pengamannya dan beralih pada Sehun. "Kau tetap disini."
Sehun segera mengangguk tanpa bantahan.
Dashboard mobil Chanyeol buka dan menemukan sebuah pistol disana. Chanyeol mengambilnya dan menggenggam benda itu erat-erat, sedang tangan yang lain tetap memegang ponselnya yang tersambung dengan Baekhyun.
Chanyeol keluar meninggalkan Sehun yang ketakutan setengah mati di dalam mobil. Detektif itu masuk ke dalam vila dan sosoknya menghilang dalam hitungan detik.
Chanyeol menatap awas dengan pistol dia arahkan ke depan. Meja resepsionis berantakan tanpa seorang pun berada disana. Lorong panjang lantai satu sama senyapnya berbanding terbalik dengan riuh di lantai dua.
Chanyeol mengambil langkah hati-hati menaiki tangga dengan deru nafas kepayahan Baekhyun yang menemani inderanya.
"Cha-Chanyeol?" Baekhyun memanggilnya.
Pria itu tak menjawab tak ingin menimbulkan sedikit suara pun. Dia berada pada anak tangga terakhir dan segera mendapati pandangan mengerikan disana. Darah menempel terlalu banyak pada dinding juga lantai. Kedua sisi lorong itu kosong, seolah tak berpenghuni.
"Lorong kanan atau kiri?" Chanyeol bertanya dalam bisikan.
"Kiri." Baekhyun menjawab.
Chanyeol membawa langkahnya pada lorong sebelah kiri dan mencari kamar yang Baekhyun katakan.
"RRRWWW~" geraman itu terdengar tiba-tiba dengan langkah terburu menuju Chanyeol. Pria itu berbalik sigap dan menodongkan pistolnya.
"Tao?" dia terkesiap. Matanya membola menatap tak percaya sosok itu. Tubuhnya nyaris tak terbentuk dengan bola mata putih sepenuhnya dan mulut terbuka lebar-lebar.
"RRRWWW~" Tao menerjang dan Chanyeol tanpa pikir panjang segera menarik pelatuk tepatnya pada kepala dan menghancurkan seisi otak itu.
DORR!
Gema tembakan terdengar keras. Tao terhempas jatuh dan tubuhnya tak bergerak di lantai.
Baekhyun di dalam kamar terkejut luar biasa namun segera menyadari jika itu adalah Chanyeol. Dia segera bersiap di balik pintu dan memutar kenop.
"Chanyeol!" Baekhyun segera keluar dari kamar dan berlari menuju detektif itu.
"Cepat kita harus keluar dari sini!" Chanyeol berteriak.
"Minseok dan Junki masih di kamar!" Baekhyun kembali ke ujung lorong dan memanggil kedua temannya itu.
"RRRWWWW!"
Chanyeol segera mengarahkan pistolnya kembali ke depan dan bersiap untuk sosok yang akan datang itu. Teriakan Baekhyun memanggili Minseok dan Junki menggemaㅡmembuat mayat hidup itu menemukan posisi mereka dengan cepat.
"Baekhyun cepatlah!"
Chanyeol menembak satu lagi mayat itu dan menyadari jika jumlahnya tak hanya satu. Suara geraman terdengan semakin riuh, ketika Chanyeol melihat kearah tangga lantai 3, dia menemukan lebih dari empat sosok mayat itu berada disana.
"CEPAT!" Chanyeol berteriak.
Baekhyun berlari segera ketika Minseok dan Junki telah keluar dari kamar. Ke empat orang itu segera mengikuti Chanyeol menuruni tangga dan berlari menghindari mayat-mayat yang berlari menuju mereka.
Junki tak benar memperhatikan langkahnya dan tersandung tepat pada bibir tangga.
"KYAAA!" dia berteriak.
"JUNKI!" Baekhyun dan Minseok berseru dan buru-buru membantu pria itu untuk bangkit. Namun terlambat ketika mayat-mayat itu datang dan menemukan lengannya.
"AARRRGGGHHH!" Junki melolong dalam teriakan. "TOLONG AKU!"
"JUNKI!" Baekhyun dan Minseok masih berusaha menarik temannya itu untuk bangkit.
Mayat-mayat itu menggerubungi tubuh Junki dan melahap seluruh tubuhnya. Baekhyun dan Minseok tercekat, nyaris kehilangan nafas melihat hal yang sama itu terjadi kembali.
"CEPATLAH!" teriakan Chanyeol mengembalikan fokus mereka kembali.
Chanyeol berlari menuju mobil diikuti Baekhyun dan Minseok. Keduanya menempatkan diri duduk pada jok belakang sedang Chanyeol bersiap dengan kemudinya kembali.
"Sehun!" Baekhyun terpekik senang melihat adiknya itu berada disana. Di hendak melompat untuk sebuah pelukan namun tak jadi dilakukan ketika retinanya menangkap mayat-mayat itu keluar dari vila.
"Chanyeol!" Baekhyun berseru menunjuk pintu vila.
Mayat-mayat itu mengejar dengan geraman keras mencoba menghalangi mobil patroli itu. Chanyeol tanpa pikir panjang menabrakkan mobilnya membuat mayat terlindas lantas mati untuk kedua kalinya.
Mobil melesat pergi meninggalkan vila dengan debu dan asap mobil menari bersama dedaunan di udara.
bersambung
Siapa yang baper sama nikahannya Yoora? Rasanya pengen nikahin ChanBaek sekalian disana ga sih wkwkw
Makasih yang udah sempetin baca, see you lagi~
