Disclaimer: Masashi Kishimoto

Chapter 3

"Aku ingat, dulu kita berempat sangat suka bermain pancingan boneka walau tidak pernah mendapatkan satu buah pun, bermain mobil untuk menentukan siapa yang terbaik menyetir, juga permainan drum itu." tukas Karin, menunjuk satu demi satu permainan yang sering dimainkan bersama sewatu masih kecil.

"Kau ingat dengan jelas, ya." kata Sasuke. "Kau ingin main berapa banyak? Biar kubelikan."

"Hm, berhubung kita disini hanya sebentar, mungkin empat koin untuk kita berdua sudah cukup." jawab Karin. "Aku tunggu disana, ya." Ia menunjuk mesin untuk memancing boneka dan segera berlari kesana.

Sasuke membeli koin sebanyak yang dipinta Karin. Kebetulan ia masih memiliki uang lebih lantaran nggak membeli makan siang disaat istirahat tadi. Ia tersenyum melihat Karin yang terlihat gemas melihat banyaknya boneka didalam box kaca tersebut.

"Mau mencobanya?" tawar Sasuke langsung.

Karin sedikit kaget mendengar suara Sasuke, namun ia tersenyum juga. "Aku tidak yakin bisa. Dulu juga begitu."

"Memang, kau ingin yang mana?" tanya Sasuke ingin tahu.

Wajah Karin memerah. Ia tampak malu. "A... aku sebenarnya ingin yang itu..." ia menunjuk sebuah boneka berbentuk kucing kecil yang tengah memegang hati. Ada sebuah gantungan disana, agar dapat dikaitkan ke tas.

"Kau diam-diam menyukai kucing, ya?" canda Sasuke.

"Iya." Karin tidak dapat menyembunyikan rasa malunya.

"Biar kuambilkan untukmu, oke?"

Karin mengangguk, menarik napas dalam-dalam, membiarkan jantungnya berdesir cepat. Sementara itu, Sasuke masih fokus untuk mengambil boneka yang diinginkan Karin.

"Oi! Sasuke!" tiba-tiba seseorang menepuk bahu Sasuke, membuat Sasuke tanpa sengaja menekan tombol untuk melepaskan capitan, dan boneka kucing yang sudah mendekati kotak itu terjatuh lagi ketumpukan boneka lainnya.

Sasuke dan Karin sama-sama menoleh untuk melihat siapa yang telah mengganggu mereka itu. Setelah tahu, mereka langsung menatap sinis dan berseru serentak. "Narutoooo!"

"Eh? Kenapa?" tanya Naruto tanpa merasa bersalah.

Tanpa ba-bi-bu lagi Karin langsung menjitak kepala Naruto. Dia benar-benar terlihat kesal.

"Tenang, Karin. Aku akan mengambilkannya untukmu. Aku sudah berjanji." kata Sasuke, kembali memasukkan sebuah koin kedalam mesin.

Naruto melirik Karin, tersenyum kepadanya walau gadis itu tidak sedang melihat ke arahnya. Sepertinya sesuatu terjadi, Naruto memang tidak tahu apa itu~tapi kalau dirinya yakin kalau ia tidak salah. Keduanya terlihat dekat seperti dulu.

"Nah, ini, Karin." Sasuke menjulurkan boneka kucing yang didapatnya pada Karin. Mata Karin berbinar karena terlalu senang, dan Sasuke merasakan sesuatu yang berbeda dari hatinya yang pernah terluka itu.

"Arigatou, Sasuke." kata Karin, langsung memasangkan boneka kucing itu ditasnya.

"Hoho, sejak kapan seorang Sasuke memberikan hadiah?" tanya Naruto iseng, setengah menggodanya.

"Ck. Diamlah." ucap Sasuke, "Kenapa kau ada disini?"

Naruto tersenyum tipis sebelum menjawab. "Hanya mengenang masa lalu."

"Sasuke," panggil Karin pelan. "Aku ingin bertanya, dan kalau tidak keberatan aku ingin kau menjawabnya dengan jujur... apa kau... masih suka memikirkan Hinata?"

Sasuke terdiam sesaat. "Belakangan ini... iya. Terutama saat kau kembali, Naruto."

"Kau menyukainya." Naruto berkata.

Kali ini, Sasuke tersentak. Seingatnya, hanya Karin yang tahu. Hanya Karin... matanya menoleh menatap Karin. Tetapi tampaknya gadis itu menunjukkan raut wajah biasa, seolah tidak bersalah. Dan mungkin gadis itu tidak bersalah.

"Aku bukan orang buta yang nggak bisa membaca perasaan teman dekatku sendiri." kata Naruto. "Bahkan kau tidak perlu mengucapkannya."

"Lalu, memangnya kenapa? Dan aku harus bagaimana?" rahang Sasuke mengeras, merasa kesal. "Kenapa sih kau tidak bisa berhenti membicarakan masa lalu?"

"Aku membicarakannya karena kau masih terlihat terluka, Sasuke! Kau harus menyembuhkan luka itu, supaya kau bisa melangkah ke masa depan. Aku masih ingat denan jelas perkataanmu kemarin... kau tidak ingin berhubungan dengan gadis siapapun, karena khawatir mengkhianati Hinata, kan?!" seruan Naruto semakin keras, membuat beberapa orang disekitar mereka menoleh.

Karin menarik napas, berusaha menengahi. "Kita cari tempat lain, bagaimana? Yang lebih tenang."

Kedua laki-laki itu mengangguk, menyetujuinya sebelum emosi mereka meledak di game center.

-X-

Akhirnya mereka bertiga malah duduk bersisian di bangku stasiun. Pasalnya, masing-masing dari mereka kehabisan uang untuk sekedar nongkrong di kafe atau sejenisnya. Karin duduk diantara Naruto dan Sasuke, untuk berjaga-jaga bila terjadi pertengkaran.

"Pernah kau menyesal, Sasuke?" tanya Naruto hati-hati.

"Pernah. Sering malah." jawab Sasuke, wajahnya tertunduk. "Sepertinya yang kau bilang sebelumnya benar. Aku masih terluka. Masih tergantung sama sosok Hinata."

Naruto menoleh, menatap Karin yang tidak berkomentar, tapi jelas dari balik kacamatanya bahwa gadis itu benar-benar terlihat sedih dan kecewa. Kesimpulan dari pembicaraan mereka kemarin ternyata benar... Sasuke sama sekali belum bisa membuka hatinya.

Lalu, bagaimana dengan masalah hatinya sendiri dan Karin?

"Kita bertiga memang terluka, Sasuke." Karin berkata pelan, membuat Sasuke juga menatap Karin. "Tetapi bukan berarti kita selalu hidup dibayangi oleh masa lalu. Mungkin kita tidak bisa melupakannya, namun kita harus tetap merelakannya."

"Memangnya kamu... sudah merelakannya?" tanya Sasuke. "Ck. Tentu saja. Hinata tidak pernah dekat denganmu, kan?"

"Aku malah membencinya. Tetapi dia memang dekat dengan kita, denganku juga." Karin menjawab, "Jadi aku juga kehilangannya. Apa lagi..."

Suara Karin tercekat. Dan Naruto paham yang ingin dikatakan Karin sebenarnya. Sejak Hinata tidak ada, hubungan gadis itu dengan Sasuke melonggar. Itu benar-benar membuatnya terluka.

"Apa?"

"Lupakan saja. Sampai sekarang pun, kau tidak pernah benar-benar melihat perempuan lain selain Hinata." suara Karin memelan.

"Sasuke," Naruto tersenyum, mengulurkan sebelah tangannya untuk menepuk bahu Sasuke, agar Sasuke menatap kearahnya. "Maksud Karin adalah, kau harus melihat gadis lain. Kau harus membuka hatimu, membiarkan cinta masuk lagi kedalam hatimu, merelakan cinta pada Hinata. Mungkin itu sulit, tetapi itu yang terbaik untuk hatimu yang terluka. Hinata sudah tiada, kau tidak mungkin memberikan cintamu hanya untuknya. Life goes on."

"Sejak kapan kau sebijak itu, sih?" Sasuke berusaha untuk bercanda. "Kau sendiri bagaimana? Kau juga menyukai Hinata, Naruto. Jangan menasehatiku bila kau sendiri tidak bisa melakukan apa yang kau nasehatkan itu."

Naruto tersentak sesaat. Lalu, dia tersenyum. "Sejak dulu Hinata tidak memilihku... tidak ada alasan bagiku untuk menggantungkan hidupku untuk memikirkannya."

Deg.

Kata-kata Naruto membuat Sasuke tersadar, apa perbedaan luka mereka selama ini. Dia menarik napas, meresap kata-kata Naruto sekali lagi kedalam hatinya yang merapuh itu.

"Baiklah." Sasuke berkata. Karin mendongak menatap Sasuke, berusaha mencari kebohongan dari kata-kata itu. Tetapi tampaknya tidak ada. Sasuke benar-benar serius. "Akan kucoba... jika itu yang kau mau, Naruto. Aku mempercayai kata-kata teman kecilku."

Entah bagaimana, Karin menghembuskan napas lega.

"Kau sendiri bagaimana, Naruto?" tanya Sasuke, "Aku ingin membalik pertanyaan itu padamu. Kau pernah menyesal?"

"Tentu saja." jawab Naruto. "Aku menyesal kenapa aku lari saat itu. Kalau aku tidak lari, Hinata tidak akan mengejarku dan..."

Naruto menghembuskan napas panjang. "Tapi itu sudah berlalu, kan?"

"Jangan berbohong." Sasuke menatap Naruto begitu intens.

"Hah, aku tidak pandai berbohong, ya..." keluh Naruto. "Aku... benar-benar kehilangannya."

Hening.

"Sejak kecil, Hinata lebih dekat denganku daripada kalian berdua. Jarak rumah kami bahkan hanya beberapa meter. Aku benar-benar menyukainya. Tapi, dia malah menyukaimu, Sasuke." ujar Naruto.

"Gomen."

"Iie. Bukan salahmu." kata Naruto. "Walau begitu, kau lebih sering ada disisinya. Siapa yang membantunya saat dia terjatuh? Kau. Siapa yang menolongnya mengambil layangan yang nyangkut dipohon? Kau. Sasuke, bagaimanapun juga kau lebih berarti baginya.

Rasa kehilangan ini mungkin tidak bisa hilang, tapi... setidaknya aku harus terus bisa membuka hatiku, kan? Seperti sebuah perjalanan dengan awal dan akhir."

"Kau sendiri bagaimana, Karin?" tanya Sasuke.

Wajah Karin bersemu sesaat. Ia sama sekali belum siap kalau mengatakan kalau dia menyukai Sasuke. Naruto menatapnya dan tersenyum, seolah memberikan dukungan pada Karin-apapun yang terjadi.

Suara kereta yang mendekat membuat Karin cepat-cepat mengalihkan perhatian suasana hening itu. "Etto... kita lanjutkan kapan-kapan."

"Eh?" Sasuke tampak tidak terima. "Kau curang."

Karin meleletkan lidahnya, lalu tertawa. "Kau tidak ingin tertinggal kereta lagi, kan? Bisa-bisa sampai rumah larut malam."

Naruto meringis pelan. Bisa benar Karin mencari alasan.

Sasuke mendengus ketika melihat Karin sudah berdiri menghadap mereka. "Baiklah. Terserah katamu. Aku masih belum puas."

"Nanti kau juga tahu." kata Naruto, kereta yang mengantar Sasuke dan Karin pulang sudah berhenti didepan mereka dan membuka pintunya.

"Jangan-jangan kau sudah tahu?" Sasuke yang sudah berdiri itu menoleh lagi.

Naruto hanya tersenyum simpul, kemudian mendorong punggung Karin dan Sasuke masuk kedalam kereta. "Jaa."

"Hei! Curang sekali!" seru Sasuke, menatap Karin dan Naruto bergantian.

Karin melangkah masuk kedalam, sedangkan Naruto sudah berbalik meninggalkan stasiun. Sasuke hanya menghela napas ketika kedua temannya itu meninggalkannya didekat pintu kereta. Lalu, lelaki itu melangkah masuk kedalam kereta untuk mencari sosok Karin dan duduk didekatnya seperti biasanya.

-X-

"Oi, Karin..."

"Hei, Sasuke. Kau masuk juga." Karin membalas sapaan Sasuke. Tapi bukan itu yang penting. Mata Sasuke terfokus pada sosok yang duduk dihadapan Karin. Tempat duduk yang biasanya menjadi miliknya.

"Oh, kau yang tadi siang." tukas Sasuke. "Neji."

"Hm, ya." Neji menyahut singkat.

"Begini, Sasuke. Neji baru saja selesai les, jadi dia sudah naik kereta ini sejak tadi." jelas Karin.

Sasuke menarik napas, kemudian mengambil duduk tepat disebelah Karin. Daripada membiarkan Karin berdua saja dengan Neji, lebih baik dia ikut nimbrung.

Eng, sebentar. Kenapa ia merasa marah?

"Kalian selalu saja bersama-sama, ya." kata Neji tenang. "Apa kalian benar-benar tidak memiliki hubungan apa-apa?"

"Tentu saja tidak," kata Karin, lantas membuat Sasuke langsung menoleh kearahnya. Aneh, pikiran dan reaksinya benar-benar berbeda. Pikiran Sasuke bilang kalau seharusnya ia tidak peduli, tapi yang dilakukannya malah sebaliknya.

Pendengarannya mulai menajam, berencana untuk menyimak baik-baik ucapan Karin dan Neji.

"Oh."

Kereta mulai melaju dengan cepat. Karin menoleh keluar jendela, kebiasaannya didalam kereta. Sementara Karin tidak memperhatikan, Sasuke dan Neji saling bertatapan tajam.

Untuk beberapa saat, Sasuke seperti kenal dengan Neji. Wajahnya terlihat tak asing. Tetapi lelaki itu sama sekali tidak dapat mengingat siapa Neji sesungguhnya. Kenapa?

Sasuke menghela napas, berusaha menghiraukan firasat anehnya tentang Neji.

-X-

Huaa... chapter 3 selesai juga :p

Aku senang membuat chapter ini, karena mereka mulai terbuka dengan perasaan masing-masing, meski minus Karin, sih. Biarkan luka Karin itu menjadi rahasia hati Karin untuk sementara *halah*

Yup, segini aja basa-basinya. Terima kasih telah membaca fanfict ini, dan sampai bertemu di chapter berikutnya! (: