Title : Unusual Feeling
Main Cast : Sehun x Luhan (BxB)
Genre : Fantasy, Romance
Rating : M (Mature) take your own risk if you below 18yo.
by: Whiteyes, 2015
Summary : Luhan kehilangan akal saat melihat seorang yang baru saja ia lihat seumur hidupnya, yang anehnya, membuat hormonnya berteriak senang dan memerintah sarafnya untuk segera menghampiri orang itu.
Warning : Please kindly leave this story if you just want to throw the hatred. No bash, no hate, no harmful words! I already warned you.
.
.
.
.
CHAPTER II
.
.
.
.
Luhan berdiri disebuah ruangan serba putih pada sisi kanan dan kiri dan pada bagian depan dan belakang ruangan tersebut terbuat dari cermin. Ia menatap dirinya sendiri dalam cermin, memikirkan mengapa ia bisa ada diruangan itu. Dan sejak kapan flatnya menjadi seperti ini? Tangan Luhan terangkat untuk memastikan dirinya dengan menyentuh wajahnya sendiri, dan refleksinya pada cermin melakukan hal yang serupa. Ia mengerutkan wajahnya untuk sekali lagi memastikan bahwa tidak ada yang salah dengan refleksi didepannya. Dan sekali lagi, refleksinya melakukan hal yang serupa dengan apa yang Luhan lakukan. Setelah memastikan bahwa semua baik-baik saja, Luhan menurunkan tangannya yang menyentuh wajahnya.
Tunggu
Refleksinya tidak melakukan hal yang sama! Jemari Luhan bergerak menyentuh dinding cermin didepannya dan sang refleksi hanya terdiam. Apa ini?! Oh ya, pasti Luhan sedang bermimpi.
Mimpi.
'Bangun Luhan, Jadilah dirimu yang dulu, Luhan yang sebenarnya, bukan Luhan yang lemah!' kata sang refleksi.
'Apa katanya? Hey! Aku Luhan, sekarang atau dulu sama saja kan?' sang refleksi terdiam lalu menampilkan seringai kecil pada Luhan yang membuatnya bingung. Sang refleksi tertawa mendengar jawaban Luhan yang menurutnya sangat konyol. Sang refleksi mendekat kearah cermin, nyaris, nyaris mendekati Luhan jika saja cermin tersebut tidak ada disana, tidak menghalangi pergerakan sang refleksi untuk menyentuh Luhan. Ia tertawa kecil dan menunduk, seperti mempertimbangkan apakah ia akan tetap tertawa karena tingkah konyol nan polos Luhan yang sangat lucu, menurutnya
'Kau yakin kau tau dirimu yang sebenarnya?' kata sang refleksi, sambil mendongakkan wajahnya menghadap Luhan, menampilkan bola matanya yang berwarna merah terang
.
.
.
Luhan membuka matanya dengan lebar. Segera ia mengatur nafasnya seakan dia telah berlari marathon sejauh berpuluh-puluh kilometer.
"Kau sudah sadar? Apa kau baik-baik saja?" Luhan terlonjak kaget saat mendengar suara pria didekatnya, pria yang menatap wajahnya dengan datar, meski ada sedikit pancaran emosi kekhawatiran, Sehun mengambil segelas air dimeja dekat tempat tidur Luhan dan memberikannya pada Luhan, yang langsung diterima Luhan.
"Ya, kurasa. Ada apa denganku?" tanya Luhan setelah meminum air yang disodorkan oleh Sehun.
"Kau pingsan saat kau berjalan kedapur, apa kau benar baik-baik saja?" jelas Sehun.
"Ya, terima kasih telah merawatku" kata Luhan
"tidak perlu dipikirkan, maaf telah lancang memasuki kamarmu, sofa bukan pilihan baik untuk tempat merawat orang yang pingsan" kata Sehun sambil menjelajah isi kamar Luhan.
"Luhan, kurasa aku harus pulang, dan kau harus beristirahat," Ujar Sehun tiba-tiba, "aku sudah memesan sup ayam, ada di meja makan, dan kau harus makan, aku tidak mau menggendongmu lagi." Tambah Sehun tiba-tiba.
"Terima Kasih" Balas Luhan, Sehun pun tersenyum dan mengatakan sampai bertemu besok, lalu melangkahkan dirinya untuk keluar.
"Sehun" Langkah Sehun nyaris keluar dari kamar Luhan jika saja Luhan tidak memanggilnya.
"Catatanku ada dimeja belajarku, ambilah, buku tulis bersampul hitam itu semuanya catatan. Dan terima kasih banyak untuk merawatku, maaf aku tidak bisa mengantarmu kedepan" Kata Luhan sambil menunjuk meja belajar yang terletak diujung kamarnya.
"eum" Sehun tersenyum samar, nyaris tak terlihat, saat mengambil catatan Luhan. "Tentu, selamat malam, Luhan" kata Sehun dan ia pun akhirnya meninggalkan Luhan sendirian dikamarnya.
Luhan terdiam memikirkan mimpinya 'diriku yang sebenarnya? Apa maksudnya?' gumam Luhan, iapun memutuskan untuk tidak memikirkannya dan bangkit untuk menuju ke meja makan, terlihat semangkuk sup dengan nasi. Dengan lahap Luhan memakannya. Ia ingin cepat-cepat mengisi perutnya dan beristirahat, entah mengapa ia merasa lelah dengan hari ini walau berjalan seperti biasa. Mungkin Sehun benar, ia butuh istirahat.
.
.
.
.
"Kau gila, hah?!" sebuah makian terlontar saat Sehun memasuki sebuah rumah bergaya eropa kuno. Seorang namja yang tingginya tidak lebih dari Sehun menghampirinya sembari melipat tangannya.
"Aku merindukannya, hyung" Jawab Sehun datar.
"Belum saatnya! Bisakah kau menunggu? Memangnya kau saja yang merindukannya?!" nada pedas terlontar dari namja lawan bicara Sehun.
"setidaknya kau bisa duduk disebelahnya, Jongin juga bisa melihatnya dari dekat, dan aku harus berdiam diri begitu?! Tsk" nada yang digunakan Sehun tetap datar, namun terkandung kesan yang begitu sinis.
"Setidaknya tunggu hingga ia berumur 18 tahun, bodoh! Dia belum si-" ucapan namja itu berhenti saat ia merasakan dirinya dipeluk dari belakang. Ia merasa orang yang memeluknya memberikan ciuman singkat pada tengkuknya.
"Jika kau berada di posisi Luhan, aku juga akan melakukan hal yang sama, baby Kyungie" bisik namja berkulit tan tepat ditelinga Kyungsoo, lawan bicara Sehun yang daritadi terus menerus melontarkan ketidaksetujuan dengan apa yang Sehun lakukan pada Luhan.
"Jongin," gumam Kyungsoo sambil membalikkan dirinya menghadap kekasihnya itu, terlihat Jongin menatapnya dengan mata merah menyala. "Kau ingin minum?" tawar Kyungsoo sembari menyentuh wajah Jongin dan mendekatkan wajah itu. Jongin tidak menjawab, ia melesakkan wajahnya keleher Kyungsoo dan menciumnya dalam, sampai akhirnya ia membenamkan taringnya dan meminum apa yang menjadi kebutuhannya selama ini.
"bodoh" ujar Sehun meninggalkan pasangan yang sedang sibuk itu, ia melesat kekamarnya dan membaringkan dirinya keranjangnya yang nyaman.
"Jika tak ada kejadian itu, kau pasti akan tetap disisiku" gumam Sehun sambil ia memejamkan matanya seakan-akan ia mencoba untuk tidur. Sehun pun tak mengapa harus Luhan yang mengalami semua ini. Ia menanggung beban yang berat dan menerima hukuman yang tidak adil, menurutnya. Bukan salah Luhan harus lahir dengan takdir tersebut, namun takdirlah yang salah terus mengikuti Luhan sampai ia berhasil dimanfaatkan oleh orang brengsek itu.
Mereka adalah vampire. Namun, hanya 12 orang yang memiliki kekuatan istimewa yang menyertai mereka, termasuk Sehun. Dan sialnya, mereka bukan hanya sekedar vampire biasa, mereka adalah pureblood, kasta tertinggi dari vampire. Dan dibuatlah peraturan agar dunia tetap tentram dan damai karena sebagian vampire takut dengan keberadaan pureblood, apalagi pureblood yang mempunyai kekuatan spesial. Mereka tidak diperkenankan menggunakan kekuatan mereka untuk keegoisan mereka sendiri, kejahatan dan kehendak mereka sendiri. Jika hal tersebut dilanggar, maka hukuman yang sangat menyakitkan akan diambil. Pelanggar harus melupakan kehidupan mereka dan pengasingan diri. Hukuman yang sangat kejam untuk Sehun, untuk Kyungsoo, untuk mereka semua…
.
.
.
.
TBC
Note : Terima kasih yang telah membaca dan terima kasih banyak bagi yang telah meninggalkan review. Adakah yang sudah bisa menerka ceritanya? Oiya cerita ini inspired by Twilight, Vampire Knight, Tokyo Ghoul dan Blood dan beberapa lagu yang belakangan ini aku dengarkan. Aku akan sangat mengapresiasi jika kalian memberikan review. Walau hanya singkat. Setidaknya ada pembaca yang menginginkan cerita ini lanjut. Hanya 1/10 dari readers yang memberikan review. But that's ok. I appreciate it, terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini.
