Aku mengucak mataku kasar segera. Aku melihat sekeliling dan ternyata sudah sangat gelap dan sepi.
Jangan-jangan aku di kunci di dalam?
Aku mengambil tasku, bangkit dari kursi dan berjalan tergesah kearah pintu. Aku mendorong pintu itu dengan sekuat tenaga-
'Dubrak!'
"Awh.." aku mendudukan tubuhku yang tersungkur. Aku melihat tanganku yang sudah terbaret panjang dari pergelangan tangan hingga siku.
Ternyata tidak terkunci?
"Aduhh" rasa nyeri dan darah tak bisa berhenti mengalir juga berdenyut. Aku melepaskan kemejaku dan merobek lengannya. Dengan pencahayaan minim, aku berusaha melilitkan robekan lengan kemeja ke tanganku untuk menutupi luka baret sepanjang pergelangan tangan hingga siku sekuat mungkin untuk menghentikan pendarahannya.
Ahh, kenapa bisa sesakit ini sih? Bahkan darahnya langsung membanjiri kain kemejaku.
Aku bangkit sambil memegangi lengan kananku. Aku berusaha berjalan mencapai kantor secepat mungkin untuk mengambil dokumenku dan lekas ke rumah sakit. Sepanjang mata ini memandang jalanan sangat gelap seperti sudah semua orang meninggalkan kota.
Apa yang terjadi dengan kota yang tidak pernah tidur ini?
Aku sampai di depan pintu masuk yang terbuka lebar, Aku berjalan tanpa suara seperti biasanya saat mengintai. Tanganku terasa sangat nyeri saat berjalan sehingga tangan kiriku tak bisa melepas genggaman.
"Eshh.." aku terus masuk ke dalam hingga tepat berada di meja kerjaku. Sepertinya tak ada yang hilang, pajangan miniatur kecil idolaku, dan karya lukisanku.
Semua sepertinya baik-baik saja.
Aku segera menyalakan kembali komputer kantor. Layar windows mulai meloading semua file.
Aduhh lama sekali tanganku sangat sakit ini!
Akhirnya selesai juga loadingnya-
"APA?" Aku menatap layar monitor tak percaya. Hanya ada satu berkas file pengolah kata disana.
"Aish, Jeon JungKook apa yang telah kau lakukan!?" Aku menendang-nendang lantai kesal frustasi hingga berbunyi keras.
Ahh ini sungguh parah! Kau akan mati! Lihat saja nanti!
Aku menggigit bibir bawahku kesal hingga membengkak. Tangan kananku semakin nyeri, perih hingga tulang akibat pinggiran lancip pegangan pintu di cafe.
"Nun-nunnahh" aku mengejang kaget mendengar suara serak JungKook yang lirih. Aku memeras tanganku untuk kesekian kalinya dan berdiri berusaha mencari suara JungKook. Aku berjalan hingga menuju pintu masuk.
"Nunna, akh-" langkahku terhenti. Aku mematung tak bisa bergerak kala melihat JungKook.
JungKook terduduk. Ia terduduk di lantai sembari memegang rambutnya yang di jenggut erat. Ia terisak dan menangis sedu kesakitan. Pancaran sinar rembulan dari luar, aku dapat melihat wajahnya yang lebam dan penuh darah.
Perkataanku tadi, aku sangat menyesal telah mengatakan hal bodoh seperti tadi.
Namja itu menggeret JungKook masuk kedalam ruangan. JungKook menjerit kesakitan dan berusaha memukul-mukul tangan namja itu sekuat tenaga.
'JEDAG!'
"Jeon!" Aku memajukan satu langkah reflek ingin menangkap Jeon yang sudah tergeletak disana.
Namja itu- membanting kepala JungKook ke lantai dengan sangat keras. Ia menarik kembali rambut JungKook menyeretnya kembali mendekat kepadaku. Darah dari kepala JungKook terus mengucur dan membuat jalur di lantai.
"Berhenti dan lepaskan dia! Atau kau akan kutembak!" Aku menodongnya dengan tanganku kiriku yang membuat pistol. 3 jari diluruskan dan dua jari lainnya kutekuk.
Aku sadar ini gila. Tanganku tak dapat meraih pistol di saku celana belakangku. Kemungkinan kecil aku bisa menyelamatkan JungKook, namun dalam gelap ini jika ia memang mepunyai rasa takut ia akan mengehrntikqan langkahnya.
Ia berhenti.
Namja itu berhenti dan melepaskan rambut Jeon JungKook. Aku tak dapat melihat jelas wajahnya karena tertutup topi hitam yang ia pakai.
Sialan! Kenapa kedua tanganku harus tidak berfungsi sekarang?!
Ia tetap maju dengan tangan kotor yang terbuka. Sekilas aku melihat gambar di lengannya. Aku berjalan mundur berusaha menjaga jarak dengannya.
"Kubilang, BERHENTI!"
Trik 'bermain logika dan selesai' telah membunuhku dan Jeong JungKook.
SIAL! KARENA KEBODOHANKU AKU SENDIRI AKU AKAN MATI!
'Zrukk!'
"Egh!" Seketika aku merasa lumpuh. Sebuah pisau berhasil menancap di perutku. Aku berlutut, memegangi pisau yang menembus perut.
Namja itu menunduk, memiringkan kepalanya menatapku yang sudah menderaskan darah ke lantai.
"Hehe.." suaranya sangat asing, menyeramkan layaknya suara tertawa iblis di dalam film horror.
Ia mengepal tangannya dan mengangkatnya. Aku menatap kepalan itu yang mendekat..
Semakin mendekat..
Sangat dekat..
"Nona? Nona?"
"AH?" Ja Kim bangun dari tidurnya. Ia segera mengedarkan pandangannya.
Semuanya-
Semuanya baik-baik saja.
Langit masih kemerahanan menandakan sore, lampu dari dalam hingga luar cafe masih gemerlap. Beberapa orang menatapnya aneh, yang lain sibuk memesan, mengobrol, dan melakukan kegiatan lain.
"Nona tidak apa-apa?" Ja Kim kembali melirik laki-laki yang berada di hadapannya dengan setelan pelayan kafe yang membalut kemeja putih yang ia kenakan. Ia menaruh gelas, mungkin hot chocolate pesanannya?
"Aku tidak apa" Ia menggeleng kecil dan segera menatap jam tangannya. Masih pukul 05.50 sore. Astaga, Ia tertidur selama satu setengah jam lebih.
"Ada masalahkah? Anda bisa menceritakannya, anda tahu, kami mempunyai relaxing service." Ja Kim menghentikan kegiatan memijat kening lalu meliriknya untuk sekali lagi.
Pria itu duduk di berhadapan dengannya dan tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang tersusun dalam gusi yang merah sehat.
"Oh, sebelumnya maaf saya lupa memperkenalkan diri. Saya Bang Yongguk." Ja Kim mengulas senyum kecil.
"Ja Kim." Balasnya datar namun berusaha ramah.
"Jadi, apa yang bisa saya bantu?" Suara beratnya entah kenapa membuat Ja Kim ingin tertawa. Iapun tertawa kecil.
"Kenapa Anda tertawa?" Ja Kim lagi-lagi menggeleng mengatakan bahwa tidak benar jika ia menertawakan pria itu.
"Ani, suaramu lucu saja " Bang Yongguk ikut tersenyum dan sedikit tertawa.
"Semua orang berkata seperti itu." Bang Yongguk mengulas senyum ramah.
Tiba-tiba perasaan Ja Kim tenang dan dia mulai rileks. Senyuman pria ini, Senyumannya bagai buddha.
"Uhm, aku hanya mimpi buruk tadi. Bukan masalah besar." Jelasnya pada Yongguk. Yongguk mengangguk mengerti.
"Apa anda seorang polisi?" Ja Kim menaikkan sebelah alisnya menatap Yongguk aneh.
"Apa aku terlihat seperti polisi?" Yongguk mengangguk.
"Mana bisa orang sepertiku menjadi seorang polisi?" Ja Kim menyangkal dengan nada merendahkan diri.
"Tentu saja, Anda terlihat nyentrik? Dan.." ia menatap Ja Kim dengan mata menyipit seraya menelitinya.
"Cantik seperti Scarlett Johansson" lanjutnya dengan taburan senyum Gummy.
Ja Kim menatapnya kaget dan seketika waktu terasa berhenti. Dia adalah pria pertama yang berkata seperti itu padanya. Bahkan wajahnya sekarang terasa panas.
"Ah kau terlalu berlebihan" Ja Kim tertawa, tersipu malu bahkan dengan namja yang baru ia kenal?
"Aku bukan polisi." Tegasnya sekali lagi.
"Lalu kenapa Anda selalu datang ke kantor polisi itu?" Ja Kim menaikkan sebelah alisnya heran menatap ibu jari Yongguk seraya menunjuk kearah kantornya.
Apa dia memperhatikanku? Stalker kah? Tapi aku dimata-matai? Sedikit mengerikan.
"Kau tahu? Kau sedikit mengerikan." Ja Kim menyeruput hot chocolate yang sempat ia abaikan lalu ia menyilangkan kaki dan menatapnya lurus, meneliti setiap gerakan Yongguk.
Ia masih menatapnya dengan senyum. Maniknya lurus tepat mengedar di wajah Ja Kim. Cara duduknya layaknya pria tulen, tapi senyumannya terisrat kemenangan.
"Hahaha semua orang berkata seperti itu," balasnya.
Mereka terus mengobrol, namun Ja Kim sengaja tak memberitahunya bahwa ia detektif, sedangkan Yongguk terus menunjuknya sebagai detektif.
Matanya selalu tersirat keyakinan dan bibirnya selalu membentuk lengkung senyum. Tangannya saling manautkan jemari menandakan ia yakin untuk berbicara dengan Ja Kim.
"Boleh Saya minta kontak Anda Nona?" Yongguk tersenyum manis.
"Eh?" Ja Kim membulatkan matanya.
Meminta kontakku? Yang benar saja! Moon Jongup bisa marah nanti kalau tahu. -pikir Ja Kim.
Tapi.. mungkin dia akan lebih curiga bila aku tak memberikannya. -pikirnya otomatis untuk kedua kalinya.
"Baiklah, mana ponselmu?" Ja Kim mengulurkan tangannya, meminta ponsel Yongguk. Ia dengan mudah melakukan invitation friend dengan Barckot code.
"Maaf, aku harus pergi." Ja Kim berjalan ke kasir, memesan cup Hot Chocolate dengan topping candy untuk Jeon JungKook sebelum kembali ke kantornya.
Ia berjalan cepat menelusuri ruang kerja. Jantungnya berdebar kencang, banyak orang dan terang lampu tak membuang memori mimpinya. Ia segera berlari ke meja kerjanya.
"Jeon!" Ja Kim dapat melihat wajah JungKook yang melihatnya bingung juga kaget.
"Wae?" Ja Kim menghembuskan nafasnya lega. Ia lalu memasang wajah datarnya kembali.
"Belum selesai eoh?" JungKook hanya tertawa bodoh, tapi itu sangat menggemaskan. Ja Kim kalah dan tak sengaja senyumnya lepas.
"Cepat selesaikan, ini sudah kubelikan." Ja Kim menaruh cup large size di meja kerjanya. Mata JungKook berkilau untuk kedua kalinya. Ia segera memasang wajah serius dan mengerjakan laporan Ja Kim.
Ja Kim mengambil kursi dan duduk di samping JungKook dan mengasak kepala JungKook gemas.
.
.
.
[HIDEN]
.
.
.
"ARGH!" Teriakan kesakitan pria itu bahkan menyebar melalui udara malam yang dingin. Sekeras apapun teriakannya tak akan ada yang mampu mendengar ringisan pedihnya.
Giginya bergemeretak keras memecah hembusan asap dingin yang keluar dari mulutnya memalui celah gigi. Tangan kirinya berusaha menahan tangan yang memaksa menekan pisau kearah matanya. Tangan kirinya sudah robek hingga tersentuh tulangnya dengan mata tajam pisau dapur itu.
Setetes darah merah pekat berubah menjadi aliran sungai merah yang mengalir deras dari tangannya ke mengenai wajah hingga berlumuran ke lantai.
"HENTIKAN!" Ia segera mendorong lawannya. Melihat celah kesempatan, ia membenturkan siku lengan lawannya itu kemeja dapur dengan amat keras.
'DAGH! DAGH! DAGH!'
"AKH! ARGH! HANTIKAN! BERHENTI! MENIKAMKU!"
Paduan suara gaduh dan jerit kesakitan seakan disiksa itu sangat mengerikan membuat dirinya mengeluarkan air mata kesakitan yang luar biasa. Akhirnya setelah lama berkelahi, tangan lawannya melepaskan pisau dapur itu dengan sendi peluru yang retak tak dapat bergerak lagi. Ia lekas mengambil perban dan perekat untuk menahan lawannya agar diam ditempat.
"Hosh.. hoshh... hshh .." setelah membuang nafasnya yang sangat tegang untuk waktu yang lama dengan kesakitan tingkat neraka yang harus ia tanggung. Nafas terkahirnya kembali normal dan terus berlanjut. Air matanya sudah mengering. Namun matanya yang lelah itu akhirnya tertutup lelap tanpa bisa nembantunya merapihkan kerusuhan berdarah itu.
maaf readers, chapnya agak lama update dan ini mungkin menurut kalian kependekan. sebagai gantinya chapter 4 akan di rilis secepatnya.
Terimakasih perhatiannya dan kesetiaannya.
jangan lupa review sama favnya yaaa ( ' 3 ' ) muuuaahh..
