UNINTENDED

Chapter III

NARUTO milik Masashi Kishimoto

Rated M for save

Romance, Hurt/Comfort

Alternative Universe

#WARNING : OOC. Mental disorder : Aphasia

-000000000-

Aphasia merupakan penyakit gangguan verbal yang membuat si penderita kehilangan kemampuan untuk berbicara dengan baik akibat gangguan pada otak yang disebabkan oleh faktor psikologis. Tekanan dan beban mental yang terlalu berat yang membebani si penderita akan membuat mereka lebih memilih diam karena merasa tidak dapat menyampaikan perasaannya dengan benar, atau merasa bahwa ucapannya tidak akan berguna sekalipun dia katakan.

Penyakit itulah yang membuat hidup seorang Haruno Sakura berubah…

Sejak usia 10 tahun, Sakura telah kehilangan kedua orangtuanya dalam kecelakaan. Sakura menjadi satu-satunya korban selamat dalam kecelakaan maut yang merenggut nyawa Ayah dan juga Ibunya itu.

Selanjutnya, apa yang terjadi tak pernah dibayangkan oleh gadis kecil yang masih polos itu. Keluarga kedua orangtuanya bertengkar hebat memperebutkan hak asuh atas dirinya juga saling melontarkan tuduhan mengenai adanya orang yang mereka dicurigai sebagai pihak ketiga di antara kedua orangtuanya yang mereka sinyalir sebagai awal mula sebab pertengkaran yang mengakibatkan kecelakaan maut tersebut.

Keluarga dari pihak Ayah menuduh sang ibu telah berselingkuh dengan pria lain di belakang. Sedangkan keluarga pihak Ibu menuduh sang Ayah tidak becus mengurus rumah tangga mereka sehingga mengakibatnya banyaknya persoalan yang menimpa rumah tangga mereka.

Dan yang selanjutnya terjadi sungguh di luar dugaan keluarga besar itu. Sakura, yang menjadi pribadi tertutup semenjak kematian kedua orangtuanya, makin tenggelam di dasar kesendirian akibat pertengkaran tiada henti kedua keluarga. Sakura merasa, berbicara dan saling melontarkan tuduhan tidak ada gunanya. Kenapa mereka tidak bersikap dewasa dengan menerima secara lapang dada saja kematian putra putri mereka? Saling menyalahkan justru hanya menorehkan luka bagi masing-masing pihak.

Akhirnya, saat Sekolah Menengah Atas, Sakura memutuskan untuk keluar dari rumah dan tidak tinggal dengan salah satu dari keluarga besar kedua orangtuanya. Dia memilih hidup sendiri di sebuah apartement kecil. Biaya sewa per bulan di dapatnya dari gaji sebagai seorang penulis buku. Sedangkan biaya sekolahnya didapatkan dengan beasiswa penuh dari sekolah, karena dia merupakan siswi yang berprestasi di bidang akademik.

Berawal dari sebuah pertemuan singkat di sebuah Densha (kereta) dengan seorang pemuda, Sakura tak pernah menyangka akan dipertemukan kembali dengannya di sekolah mereka.

Pemuda itu adalah Uchiha Sasuke…

Kelas mereka berbeda, berlainan, meski saling berhadapan. Di tempat itulah Sakura sering memandang diam-diam ke arah sang pemuda raven tanpa pernah pemuda itu tahu atau rasakan. Tempat itu begitu dekat, namun juga terasa begitu jauh…

Jika ditanya, apa yang membuatnya sering memandang pemuda berambut sehitam arang itu, Sakura pun tak dapat menjawabnya. Dia hanya mengikuti nalurinya saja. Dan entah mengapa, saat memandang pemuda itu, Sakura menemukan kenyamanan dan ketenangan.

Mungkin karena hanya sepasang onyx hitam kelam itu yang memandangnya tanpa menganggapnya gila. Atau curiga. Karena hanya pemuda raven itu yang dapat memanusiakan dirinya sebagaimana mestinya.

Sementara teman-temannya yang lain justru dengan senang hati menganggapnya gila. Keterdiamannya membuat teman-temannya menjulukinya gadis bisu. Meski mereka tahu, sebenarnya Sakura bisa bicara. Sakura tak mengerti, apa yang membuat mereka bersikap seperti itu. Sedangkan gadis dengan helaian merah muda tak pernah ingin menyakiti mereka lewat perbuatan apalagi ucapan.

Bagi Sakura, kata-kata bagaikan pedang seorang pembunuh. Begitu tajam dan mematikan. Luka karenanya tidak akan bisa disembuhkan dengan mudah. Karena memang tidak terlihat. Luka itu mungkin selamanya ada di sana dengan membekaskan memar trauma.

Diam itu lebih baik dibanding menyakiti orang lain lewat ucapan.

-0000000000-

Sudah 3 hari Sasuke tidak masuk sekolah. Bukan karena dia membolos seperti layaknya anak-anak nakal yang hanya menghabiskan biaya sekolah dari orangtua, tapi karena dia harus bekerja membanting tulang untuk mencukupi kebutuhannya dengan sang kakak semata wayang, Uchiha Itachi.

Sudah setahun sejak kematian Ayah mereka, Uchiha Fugaku, sedangkan sang Ibu, Uchiha Mikoto meninggal saat melahirkan Sasuke ke dunia. Mikoto pergi tanpa sekalipun melihat putra bungsunya. Begitu pula Sasuke yang harus dibesarkan tanpa kasih sayang seorang wanita di dalam hidupnya.

Namun dia tak pernah khawatir akan kekurangan kasih sayang. Karena Ayah dan kakaknya melimpahinya dengan kasih sayang, lebih dari yang dia butuhkan. Sasuke beruntung memiliki keluarga seperti keluarganya meski kondisi ekonomi mereka tergolong biasa saja.

Saat sang Ayah meninggal, Sasuke guncang. Dia bagaikan kapal yang kehilangan nahkoda. Terombang-ambing tanpa tahu arah. Kehidupan mereka bertiga saja sudah cukup sulit karena sang Ayah hanya bekerja sebagai tenaga pembantu di kepolisian Konoha. Sekarang dia hanya hidup berdua dengan Itachi sang kakak yang memiliki kekurangan.

Itachi tidak dapat melihat. Kedua matanya buta saat dia berusia 12 tahun. Saat itu Itachi terserang demam tinggi. Fugaku yang tidak memiliki cukup uang, tidak bisa membawa sang putra sulung ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan dan hanya merawat sang putra ala kadarnya saja.

Saat itu, sebagai seorang Ayah, dia sudah berupaya maksimal mencari jalan keluar untuk mendapatkan biaya. Segala cara dilakukan. Termasuk menjadi tukang bersih-bersih sebuah rumah makan di malam hari.

Sasuke yang tidak tega melihat pengorbanan Ayahnya, dan juga penderitaan sang kakak yang terbaring lemah tak berdaya, akhirnya memutuskan untuk ikut mencari nafkah bagi keluarga. Usianya 14 tahun saat dia bekerja menjadi pengantar susu keliling setiap pagi dan menjadi tenaga serba bisa di sebuah toko supermarket pada sore harinya.

Berkat kerja keras sang Ayah dan adik kecilnya, Itachi mendapatkan penanganan medis. Namun sudah terlambat. Itachi harus kehilangan penglihatannya akibat demam tinggi yang menganggu syaraf di sekitar matanya.

Kehilangan penglihatan membuat pemuda tampan berambut raven panjang itu terpuruk. Dia merasa dunia sudah kiamat baginya. Gelap, sendiri, tanpa ada satu pun cahaya yang mampu ditembusnya. Beruntung, di saat sulit, Ayah dan adik semata wayangnya selalu berusaha mendukung dan menyemangatinya.

Namun Itachi selalu merasa hidupnya tak lagi berarti. Dia tak mampu melihat lagi. Itu membuat sulung Uchiha itu merasa dia sudah menjadi manusia yang tidak berguna. Menjadi sosok yang hanya akan menjadi beban, bagi orang lain dan juga keluarganya.

Namun suatu hari hidup Itachi berubah. Tuhan memberinya satu kesempatan lagi bagi pemuda raven berambut panjang itu untuk merasakan bahwa dirinya juga dibutuhkan, meski telah kehilangan penglihatannya. Semangatnya kembali menyala ketika dia sedang belajar mengenali lingkungan sekitar rumah tanpa melihat dan bertemu seorang gadis. Itachi, yang tidak ingin menyusahkan Sasuke ataupun Ayahnya, tanpa sepengetahuan mereka berdua, Itachi nekat berjalan keluar dari rumah.

Seingatnya, tak jauh dari rumahnya ada taman di sana. Itachi akan mencoba berjalan sampai ke taman itu dan menghabiskan waktu di sana. Lalu dia akan mencoba kembali pulang ke rumah. Untuk mengetahui apa dia mampu melakukannya.

Memang langkahnya terseok dan beberapa kali harus membentur sesuatu karena belum terbiasa. Hingga Tuhan mempertemukannya dengan gadis itu.

Gadis berambut hitam panjang itu disana. Memperhatikan langkah sang pemuda. Saat Itachi hampir menabrak tiang listrik –lagi-, gadis itu menjerit keras.

"Awaaasss…!" seketika Itachi menghentikan langkahnya. Celingukan, dia mencari sumber suara. Mungkin dia lupa, sekalipun dia lakukan itu, dia tak dapat melihat orang yang menolongnya.

Gadis itu tersenyum lebar saat melihat tingkah yang Itachi lakukan. Gadis itu tahu, sang pemuda tak dapat melihatnya.

"Kesini ! Melangkahlah maju. Yaaakk… ayo terus. Terusss…" gadis manis itu memberi aba-aba pada Itachi. Itachi mengikuti sumber suara itu dengan langkah pelan dan hati-hati. Entah mengapa sebagian dirinya ingin mengikuti suara gadis yang sama sekali tidak dikenalnya itu. Hingga akhirnya dia sampai di depan sang gadis berambut hitam tersebut.

"Yaakk stop!" ujarnya riang. Itachi mendesah, andai dia bisa melihat wajah gadis bersuara ceria ini. Ini pertemuan pertama mereka. Bahkan dia hanya bisa mendengar suara semanis permen gadis itu, tapi entah mengapa rasanya seperti mereka sudah lama saling mengenal.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya gadis bersuara semanis permen itu dengan nada antusias.

"Aku hanya sedang berusaha mengenali lingkungan sekitar rumah."

"Bagus jika begitu. Kau terlihat bersemangat meski tidak bisa melihat."

"Kau sendiri? Apa yang kau lakukan di sini?" Itachi balik bertanya padanya.

"Aku hanya sedang berjalan-jalan. Aku tinggal tidak jauh dari sini. Dan aku melihatmu…" jawabnya ceria.

Mereka pun menghabiskan sepanjang sore dengan berbincang berdua. Gadis itu memperkenalkan dirinya sebagai Namikaze Aki. Aki adalah gadis yang sangat menyenangkan. Berbicara dengannya membuat Itachi tak pernah merasa bosan. Mereka juga tak pernah kehabisan topik pembicaraan. Apapun tema yang dibahas, gadis itu akan dengan antusias menyambutnya.

"Sudah sore…"

"Oh ya? Waktu begitu cepat berlalu ya…"

"Waktu akan terasa cepat karena kita terlalu asyik mengobrol." Aki membalasnya dengan tawa renyah. Suara tawa itulah yang membuat Itachi pun ikut tertawa.

"Ayo kita pulang…" Ajak Itachi sambil bangkit dari duduknya.

"Duluan saja! Aku masih capek…" ujar gadis itu riang. Meski tak dapat melihat, Itachi tahu gadis itu pasti berkata sambil tersenyum lebar.

"Nii-san… Ya ampun. Apa yang kau lakukan di luar rumah?" tiba-tiba Sasuke datang dengan tergopoh-gopoh berlari, mencari kakaknya. Dia sudah merasa cemas saat tidak menemukan sang kakak di dalam rumah.

Betapa kagetnya pemuda tampan itu menemukan sang kakak bersama seorang gadis yang ternyata lumpuh dan terduduk di kursi roda. Wajah gadis itu nampak pucat seputih kertas. Namun entah mengapa tak mampu menutupi binar ceria yang terpancar jelas di wajahnya.

Gadis itu memberikan isyarat agar Sasuke tidak berbicara tentang dirinya yang tak bisa berjalan pada sang kakak. Sasuke hanya mengangguk meski sebenarnya tak paham dengan alasannya.

"Jyaa mata, Itachi-kun.."

Sasuke pun segera menuntun sang kakak untuk kembali ke rumah. Dia tidak bisa membayangkan jika kakak semata wayangnya itu tidak dia temukan dan hilang dari pandangannya.

"Kumohon nii-san. Tolong jangan pergi lagi tanpa aku. Aku tidak mau sesuatu terjadi padamu… " ujar Sasuke lagi sambil memeluk sang kakak. Itachi membalas pelukan adik bungsunya dengan usapan di kepala

"Sasuke… Daijoubu ne…"

-000000-

Kenapa kepalanya selalu menengok dan seolah mencari sosok itu lagi? Padahal dirinya sudah memerintahkan mata dan juga kepalanya untuk berhenti mencari sosok berhelai merah muda itu di ujung kelas sana. Namun ada rasa rindu karena 3 hari saat dirinya tidak masuk sekolah, dia tidak bisa bebas memandang gadis itu seperti biasa.

Diam-diam memandang gadis itu seolah sudah menjadi hobi baru baginya. Dan memang tak sulit menemukan gadis itu. Dia selalu duduk sendirian di pojok kelas tanpa satu orang pun teman yang mengajaknya bicara atau mempedulikannya.

Pada awalnya teman sekelas Sakura memperlakukan gadis itu seperti biasanya. Namun lama kelamaan mereka tampak jengah karena Sakura sendiri-lah yang membuat jarak dengan mereka. Pertanyaan dan juga ajakan dari teman-teman sekelasnya hanya ditanggapi dingin, bahkan terkadang tidak ditanggapi sama sekali oleh Sakura. Gadis itu seolah membangun tembok pembatas antara dirinya dan dunia di sekitarnya. Sakura tampak membangun penjara tak kasat mata dan membiarkan dirinya terkungkung di dalam sana.

Tepat saat bel istirahat berbunyi, Sasuke pun sudah tak kuasa menahan langkahnya untuk menghampiri gadis berhelai merah muda itu di dalam kelasnya. Mencari alasan untuk bisa menyapanya dari dekat. Kebetulan dirinya juga memang tidak akan pergi ke kantin karena sedang hemat uang makan untuk membiayai kebutuhannya sehari-hari bersama sang kakak. Meskipun untuk itu, dirinya harus menabahkan diri atas kasak-kusuk yang muncul disekitarnya saat tahu dirinya akan menghampiri si 'Silent Hill', Haruno Sakura.

"Hey, Sakura-san…" sapa Sasuke ramah. Entah mengapa, sekali lagi kegugupan melanda dirinya.

Gadis itu tidak menjawab sapaannya. Namun sepasang emerald teduh itu balas menatapnya. Setidaknya dia tidak diabaikan seperti mereka yang lain.

"Aku ingin mengembalikan ini. Waktu itu terjatuh dan beberapa hari kemarin aku tidak masuk sekolah. Maaf baru mengembalikannya padamu sekarang…" Sasuke menyerahkan buku gadis itu yang tak sengaja terjatuh. Sakura menerima uluran buku tersebut dan menyimpannya di dalam tas.

"Te-terimakasih…" ucapnya pelan. Sangat pelan. Namun senyuman mengembang di wajah Sasuke. Mendengar gadis itu mau berbicara saja sudah merupakan kebahagiaan tersendiri baginya.

"Tidak masalah… ah iya, aku pergi dulu. Jyaa ne, Sakura-san." Sasuke sudah akan beranjak pergi saat sebuah tangan memegang lengannya. Pemuda raven itu pun menghentikan langkahnya.

"Aku akan mentraktirmu di kantin."

"Eh ? ti-tidak perlu Sakura-san…"

Namun gadis itu tidak lagi mendengarkan penolakan Sasuke. Gadis itu justru berjalan mendahuluinya.

Sasuke menatapnya dengan senyuman hangat. Setidaknya, Sakura sudah mau berbicara dan pergi keluar bersamanya.

-00000000-

Part ini masih diapdet sama odes.

Makasih sudah sudi mampir kemari

Xoxo