I Guess, It's U chapter 3

Itasaku fic

Disclaimer by Mashashi Kishimoto

.

Kebenaran...

.

.

.

"Dia tahu kalau aku mulai tergetar."

Sejenak hanya tatapan mata sang Uchiha yang mengartikan ucapannya, memberikan waktu bagi gadis di hadapannya untuk mencoba mengerti apa maksud perkataan Itachi. Sebelum...

"ARGHHH!"

Sakura segera bangun dari duduknya ketika Itachi memegang kepalanya seperti menahan kesakitan yang luar biasa. "Itachi, ada apa?" tanyanya panik, berusaha memegang kedua lengan pria dihadapannya.

"ARGHH!"

Tapi Itachi hanya mengerang kesakitan, membiarkan dirinya merosot ke lantai. Rasa yang sangat sakit terasa menyerang kepalanya tanpa aba-aba, membuatnya tidak mampu membuka mata karena sakit yang tak terkira, ia bahkan tidak bisa mendengar jelas panggilan-panggilan Sakura padanya. Tidak sampai dua menit, rasa sakit yang tak tertahan tersebut membuatnya pingsan.

.

.

.

"Dengan begini, semua Edo tensei akan menghilang," gumam Itachi mendekat ke arah seseorang berkacamata di hadapannya, bermaksud melepas kacamatanya. "Dan perang akan berakhir."

Terlihat Uchiha bungsu yang memandang heran ke arahnya. "Dan kakak, kau juga akan..." ujarnya gelisah.

"Sebagai seorang Uchiha yang merupakan bagian dari Konoha Gakure, sekali lagi aku akan melindungi tanah airku," gumam Itachi penuh keyakinan. "Dan setelah itu, aku tidak memiliki urusan lagi di dunia ini," lanjutnya.

"Mengapa? Mengapa kau masih melindunginya setelah apa yang mereka lakukan padamu! Aku tidak akan memaafkan Konoha meski kau melakukannya!" ucap Sasuke dengan pandangan tak percaya ke arah kakaknya. "Tak memiliki urusan lagi dengan dunia ini, hah? Kaulah yang membuatku bertindak sejauh ini!"

Terbayang kembali wajah seorang berambut blonde dengan mata birunya yang sedang tersenyum ke arah Itachi. "Bukan aku yang akan merubahmu, menghentikan jurus ini adalah tugas terakhirku, selebihnya aku percayakan pada Naruto." Itachi mulai menutupi mata Kabuto dan membuka perlahan. "Beritahu aku segel menghentikan edo tensei!"

Sasuke mendesah. "Sepertinya apapun yang kukatakan tetap tak akan merubah tekadmu." Sasuke terus memperhatikan kedua orang di hadapannya. "Ketika aku melihatmu, aku mengikutimu kemari untuk memastikan apakah yang dikatakan oleh Tobi dan Danzou benar atau tidak. Tapi nyatanya, sekarang bukan hanya itu yang berhasil kupastikan... saat aku bersamamu, aku teringat akan masa lalu, perasaan ketika menghabiskan waktu bersama kakak yang kucintai..."

Itachi terus terdiam.

"Tapi entah kenapa itu malah membuatku merasa, kita berdua bersama seolah telah direncanakan dan semakin aku bisa mengerti dirimu, semakin aku membenci Konoha, kebencianku bahkan semakin bertambah dari sebelumnya, aku mengerti apa yang kau inginkan dariku, mungkin karena kau adalah kakakku, tapi karena aku adalah adikmu, aku tak akan berhenti apapun yang kau katakan. Sama seperti tekadmu untuk melindungi Konoha yang tak pernah berhenti, tekadku untuk menghancurkannya tak akan pernah ku akhiri, selamat tinggal..."

...kakak."

Itachi menunduk. Mengarahkan jarinya ke dahi adiknya. "Aku...masih bisa melakukannya. Aku akan menunjukan padamu...kebenarannya," Itachi membawa Sasuke ke dalam suatu genjutsu, genjutsu dimana Sasuke dapat melihat bayangan masa lalu, sebuah jutsu bernama kotoamatsukami.

"I-ini? Ingatan Itachi?"

Saat itu, tampak Itachi dan seorang klan uchiha yang tak lain adalah Uchiha Shisui berdiri berdua di suatu tempat.

"Tak ada jalan untuk menghentikan pemberontakan klan uchiha, perang sipil akan terjadi di desa konoha, dan desa lain akan memanfaatkan hal ini untuk menyerang, merubahnya menjadi perang," Ucap Shishui.

"Ketika aku mencoba untuk menghentikan pemberontakan dengan kotoamatsukami, danzou mengambil mata kananku," saat itu tampak Shishui telah kehilangan mata kanannya.

"Dia tak percaya padaku, aku memutuskan untuk melindungi Konoha dengan caraku sendiri...dia mungkin akan segera mengambil mata kiriku, jadi aku akan memberikannya padamu sebelum itu terjadi." Shishui mengambil mata kirinya dan kemudian menyerahkannya pada Itachi.

"Shishui..."

"Kaulah sahabatku, satu-satunya orang yang bisa kupercayai..kumohon lindungilah Konoha dan nama Uchiha," ucap Shisui untuk terakhir kalinya.

Setelahnya, Itachi pergi ke gedung hokage, dimana para tetua telah menunggu.

"Kami tak bisa membiarkannya lagi! Mereka menyebutnya revolusi, tapi bagi kamu itu hanyalah cara untuk menggulingkan kekuasaan politik, kami akan menandai mereka pemberontak!"ucap Koharu.

"Koharu, jangan mengambil kesimpulan langsung seperti itu!" ucap hokage ketiga.

"Bagaimana, Hiruzen, Uchiha tak ingin berhenti. Kita harus mengambil gerakan guna menghindari kekacauan, termasuk anak-anak yang tidak tahu menahu," ucap Danzou.

"Jangan mengatakan hal seperti itu di depan Itachi! Lagipula, kalau perang sipil terjadi, akan sulit untuk melawan Uchiha, yang harus kita pikirkan sekarang adalah strategi," gumam hokage lagi.

"Ini adalah pertarungan waktu, kita harus bergerak sebelum mereka mendahului," Koharu bersikeras.

"Kalau kita dan tim ANBU kita menyerang bersama, kita akan bisa melakukan serangan mendadak, dan mengakhiri secara tepat."

"Uchiha adalah salah satu kekuatan kita, aku ingin menghentikan mereka dengan kata-kata, bukan kekuatan, aku akan memikirkan strategi untuk itu. Itachi, ulur waktu sebanyak yang kau bisa," perintah Hiruzen.

Namun, diluar Danzou terlihat tidak menerima keputusan rapat tersebut.

"Hokage ketiga berkata seperti itu, tapi pada akhirnya dia akan bergerak demi melindungi Konoha, begitulah sifatnya, jika itu terjadi, meskipun dia Hokage, dia akan mengambil tindakan yang drastis, jika perang sudah dimulai, kita harus menghabisi seluruh klan Uchiha, termasuk adikmu yang tidak tahu menahu masalah ini, tapi kalau kita menghabisi Uchiha sebelum itu terjadi, adikmu akan selamat."

"Apa ini sebuah ancaman?" tanya Itachi.

"Tidak, aku hanya ingin memberikanmu pilihan, kau bisa bergabung dengan klanmu, dan dihancurkan bersama dengan mereka, atau berdiri di sisi Konoha, menyelamatkan adikmu dan membantu menghancurkan klan Uchiha. Untuk melindungi desa, kita harus menghentikan pemberontakan sebelum itu terjadi, dan yang bisa melakukannya hanyalah agen ganda sepertimu, Itachi. Itachi, aku tahu ini akan sulit bagimu, tapi sebagai gantinya, aku akan membiarkan adikmu yang tidak tahu menahu masalah ini selamat, aku yakin kau ingin melindungi Konoha, apa kau mau menerima misi ini?"

Itachi terdiam dan menatap dingin Danzou.

Malam harinya Itachi menemui seseorang bertopeng dan berambut panjang. Tobi.

"Bagaimana kau bisa tahu tentangku?"

"Kau mampu menyelinap dalam pertahanan klan Uchiha, dan bahkan ke dalam tugu rahasia di kuil Nakano, tempat yang hanya diketahui oleh klan Uchiha, setelah itu, aku memeriksa pergerakanmu dan mencoba untuk mencari tahu tujuanmu."

"Kalau begitu, berarti ini akan mudah, kau mungkin sudah tahu kalau aku adalah seorang uchiha yang dendam terhadap klan dan desa."

"Kau harus mengikuti syarat yang aku berikan maka aku akan membantumu menghabisi uchiha, tapi kau tak boleh menyentuh konoha dan juga Uchiha Sasuke."

Beberapa saat kemudian, terlihat Itachi yang berdiri di tiang listrik. Kemudian menuju ke kamar ayahnya.

"Begitu ya...jadi kau memilih untuk berada di pihak mereka," ujar Fugaku.

"Ayah, ibu..."

"Kami tahu itu, Itachi," ujar Mikoto sambil memandang penuh pengertian pada putra sulungnya itu.

"Itachi, berjanjilah satu hal padaku, kau harus menjaga Sasuke," pinta ayah Itachi.

"Aku tahu," lirih Itachi seraya meneteskan airmata.

"Jangan ragu-ragu, ini adalah pilihan yang kau pilih, kesakitan kami hanya akan terasa sesaat, tidak sepertimu, meski jalan yang kita lalui berbeda, tapi aku tetap bangga padamu, kau benr-benar lelaki sejati."

.

.

"Aku selalu berbohong padamu...

Memintamu untuk memaafkanku...

Aku selalu menjauhkanmu, dengan tanganku sendiri...

Aku tak ingin kau terlibat dalam masalah ini...

Tapi sekarang aku berpikir...

Mungkin kau bisa merubah ayah, ibu, Uchiha..

Kalau saja aku memikirkan ini sejak awal...

Kalau saja aku mencoba untuk melihat semuanya dari sudut pandangmu...

Dan memberitahumu kebenaran ini,

Tapi aku gagal...

Apapun yang aku katakan sekarang, aku tak akan bisa menggapaimu, itulah kenapa akhirnya aku mengatakan apa yang sebenarnya aku pikirkan," Itachi mengelus kepala Sasuke. "Kau tak perlu memaafkanku, apapun jalan yang kau pilih, aku akan tetap mencintaimu."

.

.

.

Uchiha sulung itu langsung terbangun. Terduduk di sebuah ruangan yang gelap. Nafasnya tersengal-sengal dan tampak keringat yang mengalir di pelipisnya. Mimpi itu...

Sesaat Itachi memandang kosong kegelapan di hadapannya, pikirannya terfokus pada mimpinya tadi. Mimpi itu terasa sangat nyata, atau mungkin itu memang kenyataan? Kenyataan yang terlupakan oleh kehidupan barunya.

'Kau terus berkata nanti dan nanti padaku, pada akhirnya kau berbohong dan bersembunyi dariku. Kakak, untuk kali ini, tepatilah perkataanmu...'

Suara Sasuke masih terngiang-ngiang di telinganya. Itachi memandang kedua tangannya kembali, seolah-olah ia baru bangkit dari kematian lagi. "Seharusnya...aku sudah menjadi debu saat ini."

Ya. Seharusnya Itachi sudah menjadi debu sejak para Edo Tensei buatan Kabuto musnah. Seharusnya tubuhnya sudah tidak ada di dunia ini, namun apa yang terjadi saat ini seperti mustahil. Bagaimana tubuh yang telah menjadi serpihan debu bisa menjadi utuh kembali, apalagi ada sebuah jiwa yang hidup di dalamnya.

Untuk beberapa saat pandangan pemuda Uchiha itu tampak kosong seiring nafasnya yang mulai kembali normal, mencoba mengumpulkan kepingan-kepingan jiwanya yang seolah masih terpencar. Bayangan wajah Sasuke yang kesal kearahnya membuat sebuah senyum tipis di bibir Itachi. Adik tercintanya memang seperti dirinya, berpendirian kuat dan sama sekali tidak terpengaruh orang lain, hingga Sasuke tidak tahu jika kepercayaan yang dipegangnya selama ini salah.

'Aku sengaja membiarkanmu memendam kebencian karena aku tahu suatu hari nanti aku harus dihukum oleh klanku, tapi kau malah memendam dendam itu pada Konoha, aku telah membuatmu menjadi seorang kriminal, aku gagal, aku berharap kau melawanku dan berjalan di jalan yang benar, tapi setelah kematianku, kau malah terjerumus ke jalan yang salah, aku ingin membuatmu berjalan di jalan yang benar dengan kebohonganku.'

'Kau ingin aku berjalan di jalan yang kau mau sementara kau membohongiku, aku tak mau berjalan di jalan yang kau mau!'

Kalau waktu bisa berputar kembali seperti halnya menggunakan Izanagi, Itachi tetap akan melakukan hal yang sama, melindungi Konoha. Membohongi Sasuke adalah salah, akan tetapi menyalahkan Konoha juga adalah hal yang salah. Dunia shinobilah yang membuat takdir bertindak semena-mena, bukan kemauan Itachi jika ia harus kehilangan seluruh orang yang disayanginya, jika ada jalan yang lebih indah, maka ia akan mencari jalan itu, dimanapun jalan itu berada.

Itachi menatap kembali tangannya yang terkepal erat. "Aku sudah mati..."

.

.

.

Sakura memandang sebotol obat di tangannya sambil terus berjalan ke arah tempatnya dibawa Itachi tadi. Langkahnya terhenti saat ada beberapa orang yang bergerumbul di depan daerah apartemen Itachi dan tampak sedang berbincang. Gadis bermata emerald itu memutuskan untuk tidak memperdulikan dan mulai masuk pintu masuk.

"Benarkah?" suara salah seorang wanita yang berada di gerombolan tersebut.

"Kudengar seperti itu. Pemuda berambut hitam yang baru masuk apartemen di daerah kita ini, kau melihatnya kan?" seorang pria paruh baya memberikan jawaban yang dijawab 'iya' oleh teman-temannya.

Sakura berhenti tanpa berbalik sambil mengernyitkan dahi dan mencoba mendengar pembicaraan mereka.

"...Beberapa saat lalu, dia dibawa polisi. Kelihatannya dia akan di penjara, kudengar polisi-polisi itu berkata kalau pemuda itu akan di bawa ke penjara bawah tanah di bukit selatan."

"Wah, kasihan ya. Padahal kukira dia orang yang baik, lihat saja, wajahnya tampan," sahut wanita di sebelah pria bertopi itu.

"Kalau dia orang yang baik tidak mungkin akan di seret polisi."

Sesaat, murid godaime hokage itu tampak berpikir. "Pemuda berambut hitam yang baru masuk apartemen-" Sakura tersentak dan langsung berlari ke tangga. "Apa pemuda itu Itachi?"

Langkah cepat gadis berambut merah muda tersebut langsung terhenti. Kunoichi muda itu menghela nafas saat mata indahnya menangkap sosok Itachi yang berdiri di depan pintu flatnya seraya bersandar disana sambil mendongakkan kepala.

Itachi mengalihkan pandangannya dan menatap gadis yang tak jauh darinya.

"Kenapa kau disini? Aku baru mengambilkanmu obat," gumam Sakura lalu berjalan pelan ke arah Itachi.

Putra Fugaku Uchiha itu berdiri tegak kemudian berjalan berlawanan arah dengan Sakura hingga melewati begitu saja gadis itu dalam diam.

"Hei, mau kemana?" tanya Sakura yang tidak mendapat respon sama sekali dari pemuda berambut panjang tersebut. "Itachi!" panggilnya.

Itachi berhenti sebentar lalu mendengus pelan. "Kukira aku bisa, tapi aku masih sama," gumamnya. "Aku sudah melihat kenyataan dan kupikir aku sudah mengerti, tapi sama seperti dulu, kenyataan yang kulihat seperti ilusi. Sudah terlambat untuk menyesal, kenyataan datang secara kejam," lanjutnya sambil berjalan kembali.

Sakura menaikkan kedua alisnya. "Apa maksudmu?" tanyanya tidak mengerti.

Uchiha sulung itu terus berjalan tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan Sakura hingga punggungnya menghilang di ujung koridor.

"Apa sih maksudnya? Ditanya ini dijawab itu," gumam Sakura sedikit kesal. "Hahh, setidaknya dia harus menelan obat ini dulu! Aku sudah repot-repot mengambil ini!"

.

.

"Paman, satu mangkuk lagi!"

"Siap!"

"Yamato, kau yang traktir, ya..." ujar Kakashi seraya berjalan keluar kedai.

Yamato menghela nafas. "Kakashi-senpai, uangku sudah menipis," keluhnya.

"Baiklah, kali ini aku yang bayar," sahut Sai yang duduk disebelah Naruto. "Naruto, kau benar-benar lapar, ya?" tanyanya melihat tiga mangkuk bertumpuk di sebelah meja Naruto.

"Huahhh, kenyangnya..."

"Naruto memang seperti itu, maaf ya, Sai, sudah merepotkanmu," gumam Yamato lalu minum segelas air.

"Sudahlah, jangan sungkan, Taichou. Kau sudah berulangkali mentraktirku, kini giliranku. Naruto, kau bayar sendiri, ya. Kau makan paling banyak, jadi kupikir uangmu juga banyak," gumam Sai sambil menyerahkan beberapa lembar ryo ke Teuchi. "Terima kasih, paman. Ramenmu sungguh enak."

"HEI! Apa maksudmu, Sai?! Tidak bisa! Ini tidak adil, diskriminasi!" protes Naruto.

"Naruto-kun, kau kan baru pulang misi," sahut Ayame.

"Kau kan anaknya hokage keempat, mana mungkin uangmu sedikit, heh, Naruto," sahut Kiba yang disusul gong-gongan setuju Akamaru.

"Tidak ada hubungannya dengan ayahku!" elak Naruto.

Diluar kedai, tampak Kakashi yang sedikit terkejut mendapati seseorang yang berjalan ke arahnya. "Itachi..."

"Aku ingin bicara dengan anda," suara dalam Itachi terdengar hingga ke dalam kedai yang ramai.

"Hai, Itachi! Kau mau makan ramen juga?" tanya Naruto sambil keluar dari kedai.

Itachi menggeleng. "Tidak, terima kasih."

"Ikut aku," perintah Kakashi lalu berjalan ke arah gedung hokage.

.

.

.

"Kau yakin? Jangan karena aku baik padamu lalu aku membiarkan kau bertindak sesuka hatimu. Bagaimanapun juga kau masih mendapat tugas yang bahkan belum kau selesaikan seperempatnya, aku sebagai orang yang bertanggungjawab terhadapmu belum bisa mengabulkan permohonanmu. Paling tidak kau bisa melakukannya seminggu lagi, setelah aku tidak menjabat sebagai Hokage," ujar Kakashi seraya menatap pemuda berambut hitam di sebelahnya.

Udara malam yang berhembus lewat jendela ruangan Hokage menyapa tubuh Itachi. Pandangannya terjatuh pada meja hokage di depannya. "Bukan maksudku tidak menjalankan tugas dengan baik, tapi ini mendesak. Aku harus segera melakukannya."

"Kau tahu sendiri, kalau kau melakukan ini, semuanya akan meragukanmu lagi. Bersabarlah."

"Sesungguhnya angin apabila hembusannya kencang, tidaklah akan meniup keras kecuali pada pucuk pohon paling atas, aku mengerti," gumam Itachi.

"Aku akan rencanakan hal itu terlebih dulu. Mungkin Naruto, Sai dan aku yang akan bersamamu, kau tidak perlu khawatir, yang kau butuhkan saat ini hanya bersabar," kata Kakashi tenang.

Sesaat Itachi terdiam. "Kenapa...gadis itu tidak kau ikutkan?" tanyanya sedikit canggung.

Kakashi menaikkan sebelah alisnya. "Ahh, maksudmu Sakura. Emm, kau tahu, apa kelemahan Sakura?"

"..."

"...Tidak akan pernah sanggup melukai Sasuke."

Sudut bibir Itachi tertarik kesamping, cukup tipis. Entah ada gelombang perasaan apa yang kini tiba-tiba menyerangnya. Ini bukan seperti ia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya, tapi untuk kali ini, sama seperti yang lalu-lalu, dia tidak akan terlalu memperdulikan hal itu. Harapannya tidak seegois itu. 'Memang apa yang aku harapkan?'

.

.

.

Sakura memandang jalanan dari jendela kamarnya, memikirkan sesuatu yang kini mengusik hati dan pikirannya.

'Kukira aku bisa, tapi aku masih sama. Aku sudah melihat kenyataan dan kupikir aku sudah mengerti, tapi sama seperti dulu, kenyataan yang kulihat seperti ilusi. Sudah terlambat untuk menyesal, kenyataan datang secara kejam.'

Huh. Sakura menghela nafas untuk kesekian kali. "Kenapa aku harus memikirkan maksudnya? Aku tidak punya kepentingan dengannya. Kami juga bukan apa-apa..."

Untuk hari ini saja, untuk pertama kalinya gadis Kunoichi itu memikirkan lelaki lain selain Sasuke dan Naruto. Dan lagi, Sakura tidak mengerti apa yang dikatakan Itachi tadi. Dia mulai tergetar? Tergetar? Apa maksudnya? Dan tergetar oleh apa? Atau siapa?

Kata-kata orang Uchiha memang sulit untuk dimengerti. Mereka selalu mengatakan hal-hal yang seolah-olah seperti sebuah syair, meskipun kata-kata itu terkadang bisa menyakitkan. Seperti kata-kata Sasuke yang mengungkapkan sebesar apa kebenciannya pada Konoha dan teman-temannya.

'Hm, Sasuke lagi ya?' pikir Sakura seraya tersenyum pahit.

BUGH

"Rasakan itu, brengsek!"

"Kau pasti mati kali ini!"

Sakura mengedarkan pandangannya ke arah jalan dan melihat beberapa orang sedang bergerombol, seperti sedang memukul seseorang. Gadis itu menajamkan kembali tatapannya, matanya melebar saat tahu siapa orang yang sedang orang-orang itu pukuli. "Itachi!" pekiknya lalu segera turun dan menghampiri gerombolan itu.

"Kau bajingan! Tak pantas ada di Konoha!"

"HENTIKAN!"

Beberapa pria itu menghentikan kegiatannya dan menatap Sakura. "Siapa kau?"

"Tidak penting siapa aku! Beraninya kalian melakukan hal yang tidak sepantasnya seperti itu!" ujar Sakura yang terkejut Itachi terduduk dan terluka. "Siapa kalian? Dan apa alasan kalian melakukan hal itu padanya?!"

Pria yang sepertinya pemimpin kelompok tersebut menyeringai. "Apa urusanmu? Kau tidak menyebutkan siapa dirimu, kenapa kami harus memberitahumu? Pergilah jika kau tidak ingin seperti dia, gadis cantik. Atau kau ingin menghabiskan malam bersamaku?"

"Tidak Sudi! Cepat lepaskan dia!"

"Siapa kau? Kau tidak berhak memerintahku!" sahut pria berjubah hitam tersebut.

"Aku tidak ingin melakukan ini, tapi kalian yang membuatku melakukan ini!" Sakura bersiap-siap memukul para pria di hadapannya.

BUGH

BUAGH

BUAGH

"Huh, sudah kubilang, kalian yang memaksaku melakukan ini."

Tampak para pria yang menghajar Itachi itu pingsan dan terluka. Sementara Itachi hanya diam, tidak memperdulikan yang dilakukan Sakura.

"Itachi?" panggil Sakura, tapi pemuda itu tetap tertunduk. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya sambil menghampiri pemuda itu. "Hei, kau mendengarku?" tanyanya lagi seraya menggoncangkan pelan bahu Itachi.

Itachi bangkit dengan tubuh terhuyung-huyung. "Kau tidak perlu melakukan hal ini."

"Kau dihajar begitu saja oleh mereka, kenapa kau diam saja?" tanya Sakura tidak mengerti.

Itachi hanya diam dan berjalan dengan luka-luka di sekujur tubuhnya.

"Kau bodoh atau apa? Kau itu seorang ninja! Kau yang dikatakan Akatsuki sempurna! kenapa kau menyerah begitu saja?!" ujar Sakura tetap tidak mengerti jalan pikiran pemuda itu. "HEI!"

Itachi berhenti. "Aku pikir tak ada orang yang sempurna di dunia ini, itulah kenapa mereka lahir mampu menyerap dan mempelajari berbagai hal, dan dengan membandingkan antara kita dengan orang lain, kita akan bisa berada di posisi yang lebih baik," ujar Itachi tanpa berbalik. "Aku membiarkan mereka karena mungkin ini adalah hukuman untukku, meski mereka bukan dari klanku aku pikir mereka hanya ingin berada pada perasaan yang lebih baik."

Sakura terhenyak. Jadi Itachi diam saja hanya karena ia merasa bersalah dengan masa lalunya? Lalu, kenapa pria itu membiarkan begitu saja sementara ia bisa menjelaskan?

"...terima kasih."

Gadis berambut senada bunga sakura itu seolah tersadar dan langsung menghampiri Uchiha sulung yang mulai berjalan kembali. "Biar aku mengobatimu terlebih dulu, tugasku sebagai medis untuk mengobati siapapun yang terluka."

"Biarkan saja, ini tidak seberapa," tolak Itachi.

Sakura tersenyum tak percaya. "Huh. Apa semua Uchiha memang keras kepala? Aku tidak mengerti jalan pikiranmu," gadis itu memandang kesal pada Itachi yang berjalan kepayahan. Sakura mengginggit bibirnya. "Berhenti atau kau akan lebih kesakitan!"

"Kau pikir kau siapa?" Ujar Itachi yang membuat Sakura kembali melebarkan matanya. "Kau bukan siapa-siapa, jadi jangan bersikap seperti itu..."

Lutut gadis itu seolah lemas begitu saja. Pikirannya tiba-tiba menjadi kosong.

'Kau pikir kau siapa? Kau bukan siapa-siapa, kau sama lemahnya dengan Naruto.'

Kata-kata kedua Uchiha itu terasa sama di telinga Sakura. Sama-sama terasa menyakitkan, sama-sama terdengar dingin dan kaku, juga sama-sama membuat kedua matanya berkaca-kaca.

"Memangnya...kalau aku bukan siapa-siapa, aku tidak boleh memperdulikan orang lain? Memangnya kalau aku bukan siapa-siapa aku tidak bisa melakukan apa yang aku inginkan? Kukira kau berbeda. Kau dan dia sama saja!"

Itachi terhenti kembali, untuk beberapa saat dia hanya berdiri seraya mengatur nafasnya yang mulai terasa sesak. Ternyata ia masih sama. Sama-sama masih melakukan kebohongan. Itachi menoleh sedikit ke belakang.

Gadis itu...

...sudah pergi?

Sesaat Itachi merasa sakit kepala kembali menyerangnya. Ia hanya menutup mata, berusaha menyesuaikan diri dan menetralisir sakit itu. Tapi, ini terlalu sakit...

Perlahan, tubuhnya kembali merosot, tapi kali ini, tidak sampai menyentuh tanah, ada yang menangkap tubuhnya, meski hanya bahu dan kepalanya saja. Pemuda pemilik susano'o itu memandang lemah orang yang menangkapnya sebelum tersenyum.

"Sasuke..."

.

.

.

Review please! ^_^

Arighato gozaimatsu! Thanks yang udah review, baca, follow, apalagi ngefavoritin fic ini!