~***~Home Sweet Home—Encore!~***~

~It's Summer Time! Episode 2~

By: Morning Eagle

Disclaimer :: Bleach belong to Kubo Tite ::

Cover by Morning Eagle

Just to warn you all :: AU, OOC, Misstypos...for this story

(..)~*

*~(..)

(..)~*

Perhatian Rukia tidak pernah lepas dari si kembar yang sedang sibuk bergelut dengan pasir—mengambil dan meremas, kemudian menyatukannya menjadi sebuah bentuk yang abstrak. Kotone yang memakai baju renang two pieces seperti Rukia, berwarna pink berenda dan bermotif polkadot, serta Kouta yang memakai celana renang biru muda. Terkadang Kouta menggunakan perlengkapan alat-alat pasirnya untuk membuat khayalan pasir miliknya, seperti pengeruk pasir dan bentuk-bentuk pencetak pasir yang seperti pencetak agar-agar—menurut Rukia. Kotone ikut membantu Kouta, mendirikan sebuah istana pasir yang mereka katakan sebagai rumah para kepiting dan kerang laut, tapi ikan-ikan kecil tidak bisa memasukinya karena darat bukanlah tempat bagi mereka. Pintar, bergabung dengan sebuah imajinasi anak kecil yang terlalu lucu untuk ditangkap nalar orang dewasa. Termasuk Rukia dan Ichigo. Orang tua mereka.

Ichigo terduduk di samping Kouta—mengenakan celana baggy short dengan kemeja tipis yang tidak dikancingkan— mengamati putranya yang terkadang meminta bantuan ayahnya untuk menyusun pagar istana termasuk gerbangnya. Kotone yang melihat hal itu langsung mengambil posisi Kouta, duduk di pangkuan ayahnya dan mengamati pekerjaannya dengan mata terbelalak lebar. Sikap posesif kepemilikannya terkadang muncul, sedikit mengusik kakak kembarnya. Kouta hanya bisa memberengut kesal dan akhirnya ditenangkan Rukia dengan sebuah pelukan darinya. Perhatian kecil yang langsung membuat Kouta menyeringai lebar. Dan tangan kecilnya membentuk pasir di depannya menjadi sebuah kerang kecil—menggunakan pencetak pasir—dan memberikannya pada ibunya. Sebuah tanda terima kasih dan rasa sayang Kouta pada Rukia. Hal ini membuat Rukia tersenyum lebar dan mencium pipi merah Kouta sebagai balasannya.

Pemandangan manis sekaligus memberikan banyak pertanyaan janggal pada setiap pasang mata yang memandang keluarga kecil itu—Kurosaki. Pertanyaan seperti 'Apa mereka adalah kakak beradik?' hingga 'Pria muda itu mengurus ketiga anaknya seorang diri?' seringkali terlintas dari mulut-mulut lebar yang tidak bisa ditahan para pengunjung pantai. Tidak jarang sesekali tatapan para wanita muda berusaha menatap Ichigo—si pria muda yang terlalu menarik untuk mereka—dan berharap pria itu akan menatap mereka balik. Atau mungkin tatapan jahil pada sosok Kouta dan Kotone yang terlalu manis untuk dilihat, terlalu 'baik' untuk anak kecil seumuran mereka. Bahkan, sosok Rukia yang menarik seperti putri salju di gurun Sahara, karena kulitnya yang terlalu putih seperti albino. Namun, perhatian berlebihan yang diberikan orang-orang pada keluarga ini sama sekali tidak dihiraukan ataupun ditanggapi dengan raut wajah bingung dan masam. Ichigo dan Rukia terlalu sibuk untuk memperhatikan anak-anak mereka, yang terlalu antusias dengan liburan kali ini. Pantai dan pasir. Laut dan ombak.

"Airnya habis!" ucap Kouta yang melihat isi embernya kosong. "Aku akan mengambil airnya!"

"Hati-hati," kata Ichigo mengingatkan, melihat Kouta yang mulai mengambil ember kecilnya dan berjalan menuju laut. Untuk kesekian kalinya.

Kotone masih sibuk membuat miniatur kelinci mungil di samping Rukia, yang diamati dengan antusias oleh ibunya. Rukia pun ikut membantu putrinya itu, membuat patung kelinci yang sudah lama untuk diingat oleh jari-jarinya. Membentuk dan memahat. Sedikit untuk bernostalgia.

"Apa yang kalian buat?" tanya Ichigo ingin tahu dan langsung mengernyit begitu melihat bentuk bulat dan telinga panjang di depan matanya. Kali ini ada dua bentuk.

"Kenapa wajahmu?" Rukia memandang Ichigo bingung, yang menurutnya raut wajah suaminya mirip sekali dengan tokoh jahat di sebuah film kartun anak-anak. Terlalu seram untuk dilihat. "Kau mengerikan."

"Yang kau buatlah yang mengerikan."

"Usagi (1)! Otou-chan tidak menyukai usagi-chan?" ucap Kotone memandang harap pada ayahnya, tanpa melepaskan tangannya dari pasir buatannya.

"Bukan begitu," jawab Ichigo, terlihat bingung untuk menghadapi putrinya. "Hanya saja…kelinci buatan ibumu terlihat buruk."

"Tidak sopan!" Rukia memelototi Ichigo yang mulai menyeringai padanya. "Kau bahkan tidak bisa membuat boneka salju yang benar di musim dingin tahun lalu!"

"Oya? Kupikir akulah yang membuat badannya—yang benar-benar berbentuk bulat sempurna hampir satu jam lamanya!" Ichigo membalas Rukia, mulai membuat sesuatu dari pasir di hadapannya. Mungkin harimau ataupun panda lebih baik daripada kelinci berbentuk bulat.

Kotone menatap kedua orang tuanya bingung, dengan alis bertaut tajam. Sepertinya pertengkaran tidak penting mereka sulit untuk ditangkap Kotone. Seperti sebuah percakapan yang tidak perlu untuk dimengerti otak kecilnya. "Otou-chan dan okaa-chan sedang membicarakan apa?"

Ichigo menatap terkejut putrinya, sedikit lega karena kepolosannya yang diwarisi dari ibunya. "Tidak, hanya saja ayah akan menunjukkan sesuatu yang lebih bagus daripada kelinci ibumu." Ichigo tersenyum lebar, sedikit bangga dengan pemikiran spontanitasnya.

"Oya? Apa itu?" tanya Kotone antusias, memandang ayahnya dengan harapan lebih.

"Harimau."

Kotone kembali mengernyit dan memandang tajam ayahnya. Hal ini membuat Ichigo bingung dan Rukia yang sedikit berharap dengan perubahan sikap putrinya. "Harimau memakan kelinci dan itu sangaaat buruuuk!" ucap Kotone dengan nada melengking yang terlalu berlebihan.

Rukia tersenyum lebar dan hampir tertawa karenanya. Ichigo yang menyadari sesuatu dari istrinya ini kembali menatap tajam dirinya. "Rukia, kau mengajarkan apa pada Kotone?"

"Hmmm…menurutmu?"

*~(..)~*

Kouta menunggu air laut di pinggir pantai, melihat ombak kecil yang mulai menghampiri kakinya. Dia langsung berjinjit kaget begitu air laut mengenai kakinya, sebelum mengeruk air sebanyak-banyaknya. Bibirnya tertarik simpul, tersenyum dengan hasil kerja kerasnya untuk mengambil air ke dalam ember. Tanpa membasahi tubuhnya.

Sesuatu menyentuh bahunya ringan, hampir membuatnya terjatuh ke dalam air yang menurutnya terlalu asin untuk mulutnya. Alisnya mengkerut bingung sebelum berubah antusias, begitu melihat sosok yang dikenalnya selama ini. "Kau sedang apa adik kecil?"

"Ojii-chan (2)!" teriak Kouta bahagia, memeluk kakeknya seerat mungkin. Kakeknya—Kurosaki Isshin—balas memeluk Kouta dengan erat dan antusias. Melihat cucunya begitu menyayangi dirinya, tidak seperti anak laki-lakinya.

"Ahh, Kouta-chan! Cucu laki-lakiku memang yang terbaik!" ucap Isshin bahagia, mengangkat Kouta ke dalam pelukannya.

"Apa yang jii-chan lakukan di sini? Apa jii-chan juga ikut bersama otou-chan dan okaa-chan?" tanya Kouta ingin tahu, memandang kakeknya dengan tatapan penuh harap.

Isshin tersenyum bahagia, membawa cucunya ke dalam dekapannya sambil berjalan lalu. Meninggalkan tempat Kouta mengambil air laut, juga menjauhi tempat Ichigo. Yang merupakan rencana besarnya hari ini. "Ojii-chan menyusul kalian kemari, karena liburan musim panas tidak lengkap tanpa Kouta-chan dan Kotone-chan di samping jii-chan! Nah, apa Kouta-chan ingin es krim cokelat?"

Kouta langsung berbinar begitu mendengar penawaran kakeknya dan melupakan tugas utamanya untuk membantu Kotone membangun istana pasir. Es krim terdengar lebih menggiurkan saat ini. "Tentu saja mau!"

"Bagus! Kalau begitu ayo kita pergi!" ucap Isshin antusias dan membawa Kouta dalam dekapannya, menuju tempat istirahat terdekat.

*~(..)~*First question: Where is Kouta?*~(..)~*

"Dimana Kouta?" tanya Ichigo, tidak menangkap sosok Kouta di depannya. Jarak laut dan tempatnya bersantai di bawah payung pantai tidaklah jauh, hanya terpaut beberapa kaki. Namun, sosok Kouta hilang dari pengawasannya.

"Apa maksudmu?" Rukia sama sekali tidak beralih dari pekerjaannya, membuat kelinci sedetail mungkin dari hasil ukiran harimau yang dibuat Ichigo. Yang terlalu bagus bila dibandingkan dengan milik Rukia, walaupun baru setengah jadi dari hasil akhirnya.

"Kouta…menghilang," ucap Ichigo takut, yang langsung bangkit dari duduknya. "Dia tidak ada."

"Apa?!" Rukia tersadar dari konsentrasi kerasnya, mengikuti pandangan Ichigo pada orang-orang di perbatasan laut, terlalu banyak untuk dilihat. Dan warna rambut putranya yang seterang mentari sama sekali tidak terlihat. "Kau tidak mengawasinya!"

"Aku memperhatikannya, hingga…berdebat denganmu soal kelinci aneh itu dan—ahhh! Itu hanya beberapa detik, Rukia! Aku yakin! Dan tiba-tiba Kouta menghilang!"

"Kurosaki-kun~"

"Tapi tetap saja kau lengah, Ichigo! Lalu, bagaimana sekarang? Kouta ku!" Rukia mulai panik, membuat perhatian Kotone beralih kepadanya.

"Kurosaki-kun~"

"Aku akan mencarinya, sebaiknya kau menjaga—"

"Kurosaki-kun!"

"Apa?!" Ichigo menangkap suara yang memanggilnya dari tadi, yang tidak disadarinya untuk beberapa detik. Sosok pria bertopi putih-hijau, yang membuatnya mengernyit ngeri. "Kau?!"

"Urahara-san?" tanya Rukia, menatap sosok Urahara Kisuke penuh tanya. Lebih tepatnya terkejut.

"Aihh~ Akhirnya kalian menyadari keberadaanku! Sejak tadi aku memanggil namamu, Kurosaki-kun!" Urahara terlihat lega dengan perhatian yang berhasil diperolehnya, membuka kipas musim panasnya di depan mulutnya—menyembunyikan seringaiannya.

"Apa yang kau lakukan di si—ah, lupakan saja!" kata Ichigo buru-buru. "Sekarang aku harus mencari Kouta!"

"Kouta-kun? Ohh—tadi aku melihatnya," ucap Urahara, memberikan jawaban yang sangat dibutuhkan oleh pasangan Kurosaki muda di depannya.

Ichigo mencengkram pundak Urahara penuh harap, bahkan hampir mengguncangnya. "Dimana? Dimana Kouta?!"

"Ahh—tunggu dulu! Kau mau membuat tulang pundakku remuk?"

"Tidak, mungkin patah—"

"Ichigo!" tegur Rukia, melihat suaminya yang mulai kehilangan kesabaran. Putranya menghilang dan hampir membuat Ichigo gila—belum sepenuhnya.

"Dia…dibawa oleh seorang pria tua," jawab Urahara, mengamati Ichigo dan Rukia yang berubah pucat. Mengetahui kemungkinan putra mereka diculik oleh seseorang.

"Siapa?!" tanya Ichigo dan Rukia bersamaan, membuat Urahara bergidik kaget. Begitu juga dengan Kotone, yang masih terduduk dan menggenggam pengeruk pasir di tangannya.

"Itu…Isshin-san." Urahara tersenyum lebar, memberikan jawaban yang hampir membuat Ichigo terkena serangan jantung mendadak.

"Orang tua itu!" geram Ichigo yang semakin mencengkram pundak Urahara tidak sabaran. "Apa yang dia lakukan di sini?!"

*~(..)~*First answer: There is Kouta!*~(..)~*

"Kouta!" teriak Ichigo dari kejauhan, menemukan putranya sedang terduduk di counter es krim. Tidak jauh dari tempatnya dan Rukia bersantai. Matanya mendelik tajam pada ayahnya—Kurosaki Isshin—yang tersenyum pada Ichigo dengan senyum terlebarnya di samping Kouta.

"Ichigoooo! Oh, putraku yang—"

Belum sepenuhnya Isshin menyelesaikan kata-katanya, Ichigo sudah merebut Kouta dari sisinya dan memandang tajam Isshin. Kesal bercampur marah. Sedikit lega karena Kouta sudah ada di dalam pelukannya. "Apa yang kau lakukan pada Kouta?"

"Aku hanya membelikannya es krim! Ah, putraku sungguh tidak rindu pada ayahmu yang kesepian ini?" ucap Isshin memberengut, hampir menyamai wajah Kouta yang sedang sedih. Hanya saja tidak terlihat menggemaskan.

"Tidak. Dan apa yang kau lakukan di sini?"

"Otou-chan!" potong Kouta, yang meronta dalam pelukan Ichigo. "Aku belum menghabiskan es krimnya!" Kouta melirik es krimnya yang masih setengah lagi tersisa, dengan batang biscuit utuh di atasnya.

Ichigo yang melihat putranya mulai memberengut—sedikit hampir menyamai wajah Isshin—mulai mengembalikan Kouta pada tempatnya semula. Di depan es krim cokelat yang hampir dihabiskannya. Ichigo mengambil tempat duduk di samping putranya, sambil memandang malas pada Isshin yang masih tersenyum lebar.

"Aku kemari karena kesepian tanpa kehadiran cucu-cucu manisku! Karin-chan dan Yuzu-chan menghabiskan liburan musim panas mereka tanpa mengajakku! Jadi—kupikir tidak ada salahnya mengajak Kisuke-san berlibur di pantai!"

"Bohong," sanggah Ichigo, mengetahui niat buruk di balik rencana ayahnya.

"Kau tidak mempercayaiku?" ucap Isshin antusias. "Kau tidak mempercayai bahwa sungguh suatu kebetulan aku dan Kisuke-san berlibur di pantai yang sama tempatmu berlibur bersama Rukia-chan dan cucu-cucu manisku? Dan suatu kebetulan aku yang berjalan-jalan di pantai tidak sengaja menemukan Kouta-chan sedang mengambil air dengan ember kecilnya?"

"Sepertinya itu sudah direncanakan."

"Tidak! Tentu saja tidak!"

"Ah—sudahlah," balas Ichigo bersikeras. Mungkin ayahnya mengetahui rencana libur musim panasnya dari Yuzu, atau mungkin Karin. Atau mungkin Rukia, yang tidak sengaja mengatakan rencana liburan akhir pekan mereka pada ayah mertuanya yang tidak sengaja menelepon mereka. Tanpa memberitahukan hal ini padanya. Membuatnya jengah.

"Kouta-chan, sepertinya otou-chanmu tidak menyukai jii-chan bermain denganmu," rengek Isshin yang memeluk Kouta erat.

Kouta menatap lebar ayahnya, sedikit bertanya dan berkerut tajam. "Benarkah itu otou-chan? Tapi, aku ingin bermain bersama jii-chan! Aku menyayangi jii-chan!"

"Lihat!" ucap Isshin menyetujui kata-kata Kouta. "Cucu manisku menyukaiku!"

"Jii-chan!" teriak Kouta senang, memeluk kakeknya dalam pelukan eratnya. Dan ini membuat Ichigo menghela napas panjang. Putranya memang menyayangi kakeknya, melebihi dirinya dan Kotone. Sebagian sikap Kotone lebih mirip Ichigo, berkerut tajam begitu melihat kakeknya dari kejauhan. Kotone tidak menyukai pelukan tiba-tiba yang diberikan kakeknya padanya, tidak selain ayahnya.

"Baiklah, terserah kalian," ucap Ichigo miris, hampir berbisik. Dan kedua orang di depannya ini sama sekali tidak menghiraukan dirinya. Masih berpelukan erat sementara tangan kecil Kouta berusaha meraih sendok es krim di depannya.

Isshin menangkap sesuatu yang janggal, lebih tepatnya menganggu pandangannya dari sosok Ichigo. Beberapa wanita muda mengerling jahil dan tertawa kecil kepada Ichigo yang membelakangi mereka. Isshin tahu hal itu secara pasti, putranya masih bisa dibilang muda untuk menarik perhatian lawan jenis. Terlalu muda.

"Kau benar-benar anakku!" ucap Isshin tiba-tiba, hampir membuat Ichigo bergidik kaget dari posisi topang dagunya.

"Apa-apaan kau ini?" Ichigo menatap ayahnya tidak suka, sekaligus kesal karena jempol yang ditunjukkan Isshin padanya. Dua ibu jari.

"Lihat ke belakangmu."

"Hah?" Tanpa pikir panjang Ichigo menatap ke belakangnya, tidak melihat tatapan para wanita muda yang menatap dirinya penuh harap. Sesekali mereka tertawa cukup keras, tapi tatapan Ichigo tidak jauh dari laut. Dan ombak. "Kau tidak pernah melihat ombak?"

Isshin hanya bisa tersenyum miris, entah harus bahagia atau sedih. Bahagia karena anaknya tidak akan pernah menaruh matanya pada wanita lain selain Rukia—menantunya—dan sedih karena mungkin anaknya ini terlalu tidak peka terhadap sekitarnya. Lebih tepatnya masalah perhatian dan cinta. Sedikit hambar melihat Ichigo tidak jarang hanya berjalan santai melewati istrinya yang menunggu sebuah perhatian untuk dirinya. Yang terkadang ditangkap oleh mata Isshin. Dan masih seperti itu. Terkadang.

"Kau bukan anakku," ucap Isshin mengkoreksi. "Kau terlalu tidak peka untuk ukuran seorang pria menarik, Ichigo!"

"Apa sebenarnya maumu, baoyaji (3)," tanya Ichigo yang hampir saja salah menyebutkan sebuah kata penting, di depan Kouta. Dilarang menggunakan kata-kata kasar ataupun mengejek. Kata-kata membodohi ataupun menyudutkan orang, pepatah Rukia di dalam rumah mereka mulai menghantui pikirannya. Melihat dirinya hampir saja mengumpat di depan putranya, yang masih bergelut dengan es krimnya.

Ichigo menangkap sosok Urahara yang berjalan ke arahnya dengan membawa sesuatu. Tepatnya menggendong seseorang. Ah—Kotone yang memberengut. Dan anehnya Kotone terlihat akrab dengan Urahara, menarik topi pria itu sebagai tumpuan, hingga miring ke satu arah.

"Urahara," panggil Ichigo, dengan tatapan mencari seseorang yang tertinggal. Istrinya. "Di mana Rukia?"

"Rukia-san sedang membereskan barang-barangnya, sementara putrimu terus merengek untuk mencarimu. Juga kakaknya," jelas Urahara yang menurunkan Kotone pada Ichigo.

"Ah! Cucu kesayanganku, Kotone-chan!" ucap Isshin girang, hampir menarik Kotone ke dalam pelukannya. Sebelum mendapat tatapan tajam dari cucu perempuannya.

"Jii-chan! Aku tidak mau jii-chan! Otou-chan!" rengek Kotone dan meraih tangan ayahnya yang sudah terulur ke arahnya. Masuk ke dalam pelukan Ichigo.

Isshin mendapat penolakan tajam dari Kotone dan langsung memberikan rasa sedihnya pada cucu kesayangannya yang satu lagi—Kouta. Memeluknya dalam dekapan erat. "Kouta-chan! Kotone-chan tidak menyukai jii-chan! Bagaimana ini?"

Kouta yang sudah menghabiskan semua es krimnya, menatap Isshin penuh haru. Pelukannya dibalas oleh Kouta, ditambah dengan noda es krim yang masih tertinggal di sudut mulutnya—diberikan pada baju pantai Isshin. "Jii-chan! Tapi….tapi aku menyayangi jii-chan!"

"Es krim!" teriak Kotone, yang matanya sudah menangkap gelas es krim kosong di hadapan Kouta. Dan dia mengetahui bahwa itu adalah es krim, dengan jelinya. "Aku mau—"

"Kotone-chan mau es krim?" potong Isshin penuh harap. "Jii-chan akan membelikannya untukmu!"

Kotone menatap ragu kakeknya, antara mau atau tidak. Masih memeluk tubuh ayahnya dan enggan untuk melepaskannya. Seperti sebuah pengalihan dari tatapan sayang berlebihan milik kakeknya. "Aku…mau—"

"Kalau begitu peluk jii-chan dulu, cucu manisku!"

Kotone bergidik kaget dan menatap ayahnya dengan tatapan ragu. Ichigo hanya bisa tersenyum lebar, melihat putrinya mirip dengan dirinya. Tidak menyukai rasa kasih sayang berlebihan milik Isshin, ayahnya. Tapi, Ichigo tidak bisa menarik putrinya dari hal itu, yang langsung memberikan Kotone pada ayahnya. Setidaknya Kotone berhak mendapatkan rasa kasih sayang itu dari kakeknya.

"Aku akan pergi ke tempat Rukia dulu," ucap Ichigo yang langsung berdiri dan mengelus kepala Kouta sebelum pergi. "Tolong jaga mereka, oyaji."

"Serahkan padaku!" jawab Isshin yang memeluk cucu-cucunya dalam dekapan erat.

*~(..)~*Second question: Where is Rukia?*~(..)~*

Ichigo menemukan tempat bersantai mereka di bawah payung pantai besar yang sudah kosong—tanpa alas duduk ataupun barang-barang mereka di sana. Padahal dia yakin inilah tempatnya bersama Rukia dan anak-anaknya menghabiskan waktu bersama. Sebelum pergi mencari Kouta yang 'diculik' oleh ayahnya sendiri. Apa mungkin Rukia sudah pergi?

Ichigo menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal, menelusuri kembali jalan yang diambilnya sambil mengingat-ingat tempat mereka berawal. Mungkin dirinya salah mengingat, atau mungkin terlewat beberapa bagian. Matanya menelusuri setiap payung yang ditempati beberapa orang. Ahh—dia mengenali beberapa orang yang masih berada di tempatnya, seperti si pria gemuk dan wanita terlalu kurus di sebelah tempatnya. Juga di sebelah mereka adalah keluarga kecil seperti dirinya, dengan anak-anak mereka yang terlalu sulit untuk duduk di tempat tanpa melempar pasir satu sama lain. Perang pasir. Apa bisa dilakukan di musim panas tanpa membuat matamu kemasukan pasir kotor?

Ichigo berbalik dan berusaha untuk mencari-cari sosok istrinya lagi—yang terlalu mungil—di antara kerumunan orang-orang. Pilihan kedua dipilihnya kemudian, yaitu sosok Rukia yang sudah pergi menyusul dirinya dan anak-anaknya. Mungkin saja dia tersesat, karena terlalu kecil untuk melewati kerumunan orang yang mungkin bisa membawanya ke arah yang salah. Ichigo kembali menggali pikirannya, mencari sebuah petunjuk untuk mempermudah pencarian. Warna hitam dan ungu. Hitam untuk rambutnya dan ungu untuk baju renangnya. Itu yang bisa diingat oleh Ichigo. Dan dia langsung menemukannya, sosok Rukia yang terhalang oleh papan seluncur besar di depannya—tertancap pada pasir pantai.

*~(..)~*Second answer: There is Rukia! With—*~(..)~*

Rukia yang tidak sendiri, tapi bersama dua orang pria dengan warna rambut pirang pucat. Kulit terbakar matahari dan tidak bisa menyembunyikan wajah muda mereka, terlalu muda dibandingkan usia Ichigo dan Rukia. 'Mungkin bocah berandal yang terlalu sibuk mengganggu wanita daripada membereskan masalah tugas fakultas mereka', pikir Ichigo. Tanpa pikir panjang Ichigo melesat ke arah istrinya dan mendengar perbincangan mereka yang terlalu keras untuk ditangkap dalam jarak beberapa kaki.

"Ayolah manis, kami hanya ingin mengajakmu bermain bersama," ucap si pria yang terlalu kurus dengan rambut tergerai sebahu. Menatap Rukia penuh minat.

"Sudah kukatakan aku kemari bersama keluargaku," jawab Rukia menolak, dengan tatapan tidak suka yang ditunjukkannya secara jelas. Bahkan tas dan barang yang dibawanya terlalu berat untuk menahan suaranya agar tetap stabil.

"Kau bisa meninggalkan ayah ibumu untuk sementara waktu," lanjut si pria kedua, dengan tubuh lebih kekar dan rambut cepak pirangnya. Terlalu mengkilat karena gel rambut murahan yang berlebihan pada kepalanya. "Kau tidak harus selalu menjadi anak penurut bukan, manis?"

Rukia mendesah kesal sambil berkacak pinggang, berpikir untuk tidak menendang kedua orang yang sudah menghalangi jalannya. "Bukan orang tuaku tepatnya. Tapi bersama—"

"Suami," potong Ichigo melanjutkan, yang langsung memeluk Rukia ke dalam dekapannya, hingga punggung istrinya menyentuh tubuhnya hangat. "Dia istriku."

Kedua pria di depannya menatap tidak percaya, sedikit bingung dan menyeringai bodoh. "A…apa maksudmu?"

"Dia is-tri-ku!" ucap Ichigo memelototi pria yang terlalu bodoh untuk mengerti situasi yang ada—menurut dirinya. "Sebaiknya kalian berhenti mengganggu dan memaksa wanita dengan cara murahan seperti itu. Memaksa dan merayu bukanlah perpaduan yang bagus."

Si pria kurus masih berusaha untuk memahami situasi dan memaksa dirinya untuk tidak terintimidasi oleh Ichigo. Menurutnya, kedua pasangan ini terlalu aneh untuk dikatakan sebagai suami istri. Si wanita yang terlalu mungil dan muda, bila dibandingkan si pria yang terlalu tinggi dan berkerut—lebih tepatnya alis yang berkerut permanen di tengah dahi. Rukia terlihat seperti gadis sekolah menengah atas yang terlalu mungil, dengan kulit putih mulus seperti putri salju. Dan Ichigo lebih mirip seperti singa liar yang lepas dari kandangnya, daripada disamakan dengan Prince Charming. "Jangan berbohong! Kami yang menemukan gadis ini pertama kali! Dan kau tidak terlihat seperti…suaminya—"

"Apa?" Ichigo benar-benar terlihat marah, dengan alis yang bertaut semakin dalam. "Kau mau kutunjukkan tanda pengenalku atau tanganku yang akan melayang tanpa rasa sungkan ke arah wajahmu?"

Rukia yang sedikit lega dengan keberadaan Ichigo, langsung bersandar padanya dan memeluk lengan Ichigo yang melingkar erat pada pinggangnya. "Mungkin kalian bisa mempertimbangkan hal itu," lanjut Rukia, menatap Ichigo hangat.

Kedua pria itu hanya bisa meneguk ludah dan berjalan pergi meninggalkan Rukia—target utama mereka. Ichigo terlalu mendominasi dan berkuasa, walaupun tubuhnya tidak sekekar ataupun sebesar pria kokoh pada umumnya. Hanya saja dia terlalu kuat, untuk dipandang sekaligus dilawan.

"Karena inilah aku tidak suka pantai, tempat ramai," celetuk Ichigo, masih memeluk Rukia dalam dekapannya. Terlihat seperti sepasang kekasih tidak seimbang yang menghabiskan waktunya berpelukan, hingga matahari terbenam di ujung cakrawala. Menikmati sunset.

Rukia memiringkan wajahnya ke samping, berusaha menatap suaminya yang berubah murung. "Kalau begitu…kenapa kita datang kemari—kalau kau tidak suka pantai yang ramai?"

Ichigo terdiam, menatap Rukia lembut sebelum mengecup pipi putihnya yang sekarang berubah merah. Karena sinar matahari yang terlalu menyegat bersinar terik. "Itu…karena kita jarang menghabiskan waktu bersama. Kupikir, kalian akan senang dengan suasana yang baru."

Rukia tersenyum lebar mendengar pernyataan suaminya. Terlalu senang dengan kebaikan dan kepedulian Ichigo kepadanya juga anak-anaknya. "Ahh—itu terlalu manis, suamiku."

"Apapun untukmu, istriku," balas Ichigo menggoda dan mengecup pipi Rukia untuk kedua kalinya. "Dan…aku sedikit kecewa padamu."

"Apa?" tanya Rukia bingung, sedikit takut. Mungkinkah dia sudah melakukan kesalahan kepada Ichigo? "Kenapa?"

"Kau…tidak memakai bikini," bisik Ichigo.

Rukia terlihat geram dengan tingkah laku suaminya—yang terlalu kekanak-kanakan menurutnya—dan melempar tas di bahunya kepada dada bidang Ichigo. Dengan gertakan pada tangan dan kedua mata tajamnya. "Yang mana? Bikini putih pada wanita berdada besar itu?" tunjuk Rukia kesal pada sosok wanita yang sedang bermain bola voli. "Atau yang berbikini merah dengan tubuh montok itu? Kau tinggal memilih."

"Rukia," protes Ichigo, sambil menyampirkan tas bawaannya pada bahunya. "Aku tidak bermaksud—"

"Sudah pernah kukatakan kalau aku tidak pantas memakai bikini, Kurosaki Ichigo."

Ichigo menggeram frustasi, sedikit menyesali pilihan kata-katanya. "Bukan! Maksudku…hanya saja—"

"Aku tidak pernah menyangka sebelumnya kalau kau begitu terobsesi dengan…bikini," kata Rukia sedikit bergidik.

"Rukia!" bisik Ichigo, hampir berteriak frustasi. Istrinya sama sekali tidak menangkap maksud godaannya dan juga rayuannya—yang menurut Ichigo mungkin istrinya akan berubah malu begitu mendengar kata-katanya, atau mungkin akan mencoba memakai bikini. Setidaknya, itu terlihat lebih manis daripada memberengut seperti sekarang. Terkadang Rukia hanya bisa serius dan menutup rapat-rapat perasaan sensitifnya dalam hati. Ini membuat Ichigo frustasi dan pilihan untuk mengubur diri dalam pasir pantai mungkin bisa membantunya menjernihkan pikiran.

"Atau kau suka dengan desain yang berenda itu?" Rukia masih melanjutkan penelitiannya, entah apa yang menurutnya sudah menyita perhatian suaminya dari dirinya—mungkin saja Ichigo lebih berminat pada gadis berbikini berbadan montok daripada dirinya yang seperti anak kecil bertubuh rata. Yang tentunya salah besar. Hanya sebuah kesalahpahaman. "Kau tahu, kemungkinan besar aku akan diserang lagi seperti tadi bila memakai bikini. Mungkin presentasenya akan naik lebih tinggi."

Ichigo langsung menarik Rukia untuk segera berjalan mengikutinya, sebelum menarik perhatian orang banyak pada pertengkaran tidak penting mereka. Mungkin terlalu ringan untuk disebut sebagai sebuah pertengkaran. Dan Rukia hanya menurut saja, merapat pada tubuh Ichigo sambil menunggu jawaban suaminya.

"Baiklah," desah Ichigo. "Kau menang. Tidak lagi membahas bikini." Ide yang buruk untuk menggoda Rukia dengan rasa frustasi menghadang dua kali lebih besar.

Rukia mengangguk setuju, masih dengan kerutan di wajahnya. Jengkel sekaligus bingung. "Sepertinya…itu ide bagus. Atau kau lebih suka gadis muda yang berpakaian baju renang sekolah—"

"Rukia!"

*~(..)

(..)~*

*~(..)

~Thanks for my playlist! Hot Air Baloon by Owl City! Wonderland by Monkey Majik~

(..)~*

*~(..)

(..)~*

"Otou-chan! Okaa-chan!"

Ichigo dan Rukia menatap kedua anaknya yang memanggil dari meja di counter es krim—masih di tempatnya semula, sebelum Ichigo meninggalkan mereka sesaat tadi. Dan di samping si kembar, terdapat Urahara dan Isshin yang terduduk santai—Isshin yang menyeringai dan Urahara yang terduduk lemas. Dengan kepala yang bersandar pada lipatan tangannya.

"Nee, nee (4), okaa-chan!" panggil Kouta pada Rukia yang mendekat padanya. Mata besarnya berbinar terang, seperti genangan air yang disinari rembulan malam. "Aku berhasil mengalahkan Nyahanya ji-chan (5)!"

"Nyahanya?" Rukia terlihat bingung, menatap Kouta dan Kotone bergantian. Terlihat senyum lebar di kedua wajah anaknya, serta mulut yang penuh noda cokelat dan pink. Es krim.

"Menantuku! Putri ketigaku!" teriak Isshin yang mengejutkan Rukia secara mendadak, membuatnya hampir melompat di tempat. "Kau benar-benar berhasil memberikan cucu terbaik untukku! Aku sungguh—"

"Berisik!" potong Ichigo, menahan wajah Isshin sebelum mendekat dan mendekap Rukia dalam pelukan mautnya. Dan Isshin terlontar ke belakang, terjatuh duduk di atas pasir pantai.

"Anakku sungguh membenciku! Bagaimana ini Masaki?!"

"Isshin-sa—ah, maksudku, otou-san," ucap Rukia perlahan, sedikit merasa prihatin karena Ichigo mendorongnya menjauh. Walaupun bukan hal aneh lagi dalam keluarga mereka.

"Jii-chan terjatuh!" teriak Kotone girang, memperlihatkan gigi-gigi putihnya yang sekarang sudah berwarna cokelat.

"Apa yang kalian lakukan?" tanya Ichigo pada anak-anaknya, melihat kedua anaknya terlihat sangat kotor. Ichigo meraih tisu di atas meja dan membersihkan mulut Kotone dan Kouta secara bergantian. "Kalian benar-benar kotor. Sudah ayah katakan untuk tidak memakan es krim terburu-buru, kalian bisa tersedak."

"Tapi kami berhasil mengalahkan Nyahanya ji-chan!" balas Kouta, menunjuk sosok Urahara yang masih tertunduk lemas dan memegangi perutnya.

"Nyahanya ji-chan!" Kotone mengikuti.

"Siapa Nyahanya ji-chan?" tanya Rukia lagi, untuk kedua kalinya. Dan sudut matanya menatap sosok Urahara—yang ditunjuk oleh kedua anaknya. "Maksud kalian, Urahara ji-chan?"

"Nyahanya ji-chan!" koreksi Kotone, masih menunjuk Urahara yang tidak bergerak. "Nyahanya!"

"Bahkan mereka tidak bisa mengatakan nama Urahara dengan benar," bisik Ichigo, menyeringai begitu melihat anak-anaknya terlihat keras kepala. Sungguh terlihat menggemaskan. "Apa yang kalian lakukan pada Nyahanya ji-chan?"

"Ichigo-kun, sebaiknya kau tidak perlu memanggilku dengan sebutan itu," jawab Urahara, masih menunduk lemas dan memperhatikan Ichigo tanpa bergerak.

"Kau kenapa?"

Urahara tersenyum miris, begitu melihat si kembar menyeringai padanya. "Kami melakukan lomba memakan es krim. Dan anak-anakmu sungguh hebat…menghabiskan es krim sebanyak itu. Apa karena aku yang sudah bertambah tua, ya? Perutku benar-benar sakit—"

"Apa?" Ichigo terkejut mendengar penjelasan Urahara, memandangnya dan Isshin secara bergantian. "Kalian membiarkan Kouta dan Kotone memakan es krim sebanyak apa?"

"Mereka berhasil menghabiskan hampir 4 gelas, ah—3 mungkin?" jawab Isshin semangat, karena berhasil menarik perhatian si kembar yang sekarang mulai menyukainya. Semakin menyukai.

Ichigo dan Rukia melotot tidak percaya, memandang gelas es krim kosong yang memang nyata di depan mata mereka. Serta si kembar yang terlihat lebih semangat daripada sebelumnya. Mereka memang menyukai es krim, tapi tidak pernah makan sebanyak ini. Lebih tepatnya tidak diperbolehkan.

"Kau…membiarkan anak-anakku memakan es krim..sebanyak itu?!" ucap Ichigo hampir berteriak pada Isshin. "Kau mau membuat mereka sakit perut?!"

"Mereka cucu-cucu kesayanganku, mana mungkin aku menolak permintaan mereka, bukan? Lihat! Mata mereka yang berbinar-binar seperti kelereng kristal bercahaya—"

"Lebih baik kau hentikan penjelasan dramatisirmu," potong Ichigo. "Dan kalian, seharusnya kalian tidak memakan es krim sebanyak ini! Tidak baik untuk perut kalian."

"Benar apa yang dikatakan ayahmu," lanjut Rukia menyetujui. Memelototi anak-anaknya adalah pilihan terbaik, untuk membuat mereka merasa bersalah. "Dan, kalian membuat Nyahanya ji-chan sakit perut."

Urahara sedikit tersentak begitu mendengar Rukia juga memanggilnya dengan sebutan itu. Terdengar lucu untuk dikatakan. "Rukia-san, kau juga—"

"Tapi, jii-chan membelikanku es krim," gumam Kotone, merasa sedih dan menyesal.

"Aku tidak mau melihat jii-chan menangis," tambah Kouta, menatap memelas pada sosok ayah dan ibunya.

"Cucu-cucuku! Kalian benar-benar yang terbaik!" Isshin memeluk si kembar penuh haru. Yang diterima Kouta dengan senang hati dan Kotone yang sedikit menggerutu—walaupun balas memeluk kakeknya. Setidaknya Isshin sudah membelikannya es krim cokelat dan strawberry.

"Apa yang kau ajarkan pada anak-anakku?" Ichigo berusaha untuk menarik perhatian si kembar, tapi sepertinya tidak bisa. Dia benar-benar dihiraukan seperti ombak lalu.

"Cucu-cucuku," koreksi Isshin. "Pelajaran pertama, selalu belikan es krim untuk Kouta-chan dan Kotone-chan—bila kau ingin menarik perhatian mereka, anak laki-lakiku!"

"Mereka bukan anak kucing ataupun kelinci yang bisa dipancing menggunakan wortel!" Ichigo frustasi dan terbersit untuk mengubur Isshin di dalam pasir sedalam-dalamnya.

"Apa salahnya dengan kelinci?" Sekarang Rukia yang mengernyit pada Ichigo, tidak setuju dengan pernyataan suaminya. "Kelinci terlihat lucu."

"Rukia! Itu hanya perumpamaan," jelas Ichigo semakin frustasi, meremas angin kosong di kepalan tangannya.

"Apa otou-chan juga ingin makan es krim?" tanya Kouta dengan mengedipkan matanya beberapa kali, menghalau pasir yang masuk ke matanya—membuatnya semakin terlihat berbinar karena air mata. Dia menatap Ichigo yang mengerutkan alisnya kesal, yang disangkanya adalah ekspresi memberengut marah—karena ingin es krim tentunya. Sebuah pemikiran yang masih sangat polos.

"Otou-chan mau es krim?" Kotone mengikuti kakak kembarnya, menatap ayahnya dengan tatapan manisnya.

Ichigo hanya bisa tersenyum lebar menatap kedua anaknya yang sungguh perhatian kepada dirinya. Walaupun, mereka tidak mengerti apa yang baru saja dibicarakannya dengan Isshin. "Tidak, cukup es krim untuk hari ini."

*…*…*Encore! It's Summer Time!Episode 2*…*…*

*…*…*…*…*おわり *…*…*…*…*

Author's note:

Dictionary (Japanese):

(1) Usagi: kelinci

(2) Ojii-chan: kakek

(3) Oyaji: ayah

(4) Nee, nee: memanggil yang berarti 'eh, eh' atau 'hei, hei'

(5) Ji-chan (Oji-chan): paman

Encore episode 2~ Yeaay~ Dou da? Sedikit agak kesulitan dalam mengerjakan chapter ini XD hihihihi… Apalagi ada dua tokoh baru di sini, Isshin dan Urahara! Aku suka sekali dengan partner unik yang satu ini, selalu membawa keributan dan kegembiraan secara bersamaan! Hahaha…juga kejutan berkali-kali ^^b

Sebenarnya masih ada lanjutan liburan musim panasnya, tapi karena terlalu panjang, aku membaginya ke dalam 2 chapter. Dan chapter depan adalah pesta kembang api! Sesuai permintaan zircon mercon! Hehe…^^

*Some explanation:

Untuk bagian ini: ("Apa sebenarnya maumu, ba—oyaji (3)," tanya Ichigo...) kata ba yang dimaksud Ichigo adalah baka (bodoh).

Ichigo sebenarnya hanya ingin melihat reaksi Rukia, begitu meminta istri (mungil) nya itu memakai bikini. Ichigo berharap Rukia akan bereaksi manis (alias malu-malu) ataupun melakukan apa yang diminta Ichigo, tapi Rukia salah paham ^^; yang menyangka Ichigo lebih suka wanita yang berpakaian bikini dan malah mengejek dirinya. (Rukia beranggapan dia sama sekali tidak cocok memakai bikini dengan tubuh kecilnya =_=;)

Siapa Nyahanya? Itu Urahara! Karena Kouta dan Kotone lebih suka mengganti sesuatu dengan kata-kata yang lebih menarik (menurut mereka), maka nama Urahara pun diganti menjadi Nyahanya. Kenapa Nyahanya? Itu terlintas begitu saja dari otakku! Hahaha..entah kenapa suaranya terdengar lucu XD

Balasan untuk anonymous dan no-login reviewer:

KeyKeiko: Terima kasih sudah mereview senpai! XDb Iya, masih ada lanjutannya untuk beberapa chapter..hehe..Ini sudah kuupdate~ Waduh, sampai review 2x ya senpai? Hehe XD

darries: Makasih sudah mereview darries-san! XDb Hehehhe..iya, Kouta cengeng banget, tapi di chapter ini cengengnya menghilang dulu, karena udah dapet es krim gratis XD wkwkkwkw *hati2 meluknya, jangan ketauan Ichiruki XD* Hehe, saranmu terkabul! Papa Isshin sudah datang! Wkwkwk... dia sumber untuk meramaikan (biang onar) keluarga Kurosaki, semoga kamu suka dengan chapter ini ya! Hehe.. Oke, ini sudah kuupdate~ Terima kasih buat semangatnya~ ^^

Erli: Makasih sudah mereview ya! Ah…terima kasih juga untuk sukanya! Semoga bisa menikmati chapter ini, Erli-san~ Eh, ada reviewmu lagi ya, hhehe.. Aku orang apa? Ak orang Indonesia..hehe ^^

tiwie okaza: Terima kasih sudah mereview tiwie-san! XDb Wkwkwkkw..nah, sekarang giliran Ichigo dijailin papa Isshin! Hihihi..Oke, sudah kuupdate ini, semoga kamu suka~

nanda teefa: Makasih sudah mereview ya nanda-san! XDb Hihihih..iya, ceritanya dilanjutkan. Karena masih greget buat nerusin cerita si kembar..hehe *plakk* Ah, memang sedang jarang ya yang genre family ^^; karena kebetulan aku juga lagi mencari-cari n suka dengan genre ini, jadi terbersit ide buat ngetik deh..hehe.. Black Rosette masih tetap lanjut kok, tenang saja XDb Iya, romance nya harus nyempil2 di sini..wkwkkw karena udah ada dua anak yang harus dirawat dan dijaga.. Hehe, untuk bikini nya Rukia belum pakai dulu di sini, tapi dia sudah menyiksa Ichigo karena kepolosannya..wkwkwk.. Oke, ini sudah kuupdate, semoga kamu suka ya~ Black Rosette menyusul~ XD

Dan terima kasih banyak untuk para readers yang sudah membaca fic ini! Juga bagi yang sudah mereview, me-fave, ataupun me-follow, arigatou gozaimasu! *bighug

See you on the next chapter! ^^

Kouta: byebye! (0u0)v

Kotone: (=u=)v