"Near, aku telah menemukan tersangkanya." Kata Light dengan senyuman kemenangan yang sangat picik.

"Siapa?" Tanya Near penasaran.

"Pelakunya adalah Tota. Kau pasti tidak percaya kan? Dan ini buktinya." Kata Light sambil menyerahkan bukti foto death note.

"Kau pasti bercanda." Kata Near.

"Aku serius Near... Kau tahu kan kalau aku bukan orang yang suka main-main." Kata Light sambil tersenyum cool. "Menurutku, Tota menyuruh kita memecahkan kasus ini agar kita tidak tahu bahwa dia adalah pelakunya." Lanjut Light.

"Ya, kau bukannya suka main-main, tapi kau suka ngelawak nggak jelas. Dan apa alasannya Tota membunuh para korban?" Tanya Near.

"Dia cemburu dengan mantan-mantanku itu." Kata Light sambil berbaring.

"Jadi benar Tota yang membuatmu menangis? Apa yang si bodoh itu lakukan kepadamu?" Tanya Near dengan wajah penuh menunggu jawaban.

Bukannya menjawab, Light hanya menguap dan dia tertidur.

"Light, kau tertidur?" Bisik Near pelan tepat di telinga Light, dia tidak mau mengganggu tidur Light. Light tidak menjawab. "Light... sebenarnya aku mencintaimu." Kata Near dengan wajah sedih sambil mencium pelan bibir Light lalu membuka celana Light pelan-pelan. Ia memasukan penisnya ke lubang belakang Light.

"Lawliet... aku merindukanmu..." kata Light dengan senyum bahagia dan penuh kenikmatan.

"SIAL! Ia mencintai onii!" Teriak Near dalam hati. Ia memasukkan penisnya sekali lagi.

"Ah Lawliet, itu nikmat sekali." Kata Light dengan penuh kenikmatan.

"Light, dalam sekali perkataanmu..." Kata Near penuh kesedihan.

Saat ia akan memasukkan untuk ketiga kalinya, seseorang mengetuk pintu. "Oy Light! Sudah waktunya makan malam! Sayu mencarimu!" Teriak Tota.

Near pun langsung membetulkan penampilannya dan membuka pintu dengan ekspresi datar seperti biasanya.

"Light tertidur tuh." Katanya sambil menunjuk Light di dalalm. "Aku pulang dulu deh!" Lanjut Near sambil berjalan melewati Tota. Tota menatap sinis Near.

"Kenapa? Kau ada masalah denganku, sensei?" Kata Near dengan wajah yang masih seperti biasanya, padahal di dalam hatinya dia penasaran.

Tota memasuki kamar Light. "Lawliet, aku menyayangimu..." Gumam Light dalam mimpi. Tota tersentak dengan muka shock dan sedih.

"Lawliet, aku ingin memecahkan kasus denganmu lagi..." Gumam Light lagi, kali ini dengan ekspresi penuh kesedihan.

Tota menggumam. "Lawliet? Yang pernah memecehakan kasus dengan Light selama ini kan ha...ha...hanya..."

Keesokan harinya, Light dan Near menyusun rencana untuk menangkap Tota.

"Bagaimana jika kita langsung meminta bantuan kepolisian untuk menangkap Tota? Tota kan polisi dan pastinya dia mempunyai pistol yang berbahaya bagi kita—jika dia dengan tega ingin membunuh kita—." Usul Near.

"Kau mau tiba-tiba Tota kabur begitu saja yang membuat usaha kita sia-sia? Kita harus menangkapnya secara diam-diam!" usul Light.

"Bagaimana jika ia membunuh mantan terakhirmu itu, alias Misa? Kau mau melihat Misa mati begitu saja?" Bentak Near.

"Dan jika dia kabur, pasti dia akan membunuh semua orang yang dekat denganku Near!"Balas Light.

"Kita akan menangkapnya malam ini dengan bantuan polisi! Aku tidak mau tahu!" Teriak Near sambil meninggalkan Light.

Malam harinya, beberapa polisi datang ke rumah Light. Light memimpin penangkapan Tota. Saat mereka menyerang Tota, Tota terbangun dari tidurnya.

"Ada apa ini kalian menyerangku? Aku kan bagian dari kalian juga! Dan aku ada salah apa?" Teriak Tota.

"Kau ditangkap, atas pembunuhan 5 mantan pacar adik iparmu itu Matsuda-sensei..." Jawab Near dengan senyum kemenangan.

"Kalian ini! Aku tidak membunuh mereka!"

"Kau membunuh mereka karena cemburu, benarkan Tota?" Tanya Light dengan senyum sinis yang membuat Tota terhentak. "Light...? Apa maksud-mu dengan kata-katamu itu?" Tota menjawab dengan muka sedih.

"Sudah! Jangan banyak cincong! Kalau kau tertangkap ya tertangkap! Bawa dia dari sini!" perintah Light yang membuat para polisi mulai menangkap Tota yang langsung membuat Tota mencoba melawan dengan kebingungan ini.

Sayu terbangun. "Ada apa ini?" Teriaknya dengan histeris melihat suami tercintanya dipegangi oleh para polisi.

"Suami-mu itu—atau adik ipar-ku itu—ditangkap atas pembunuhan Takada dan lima orang lainnya Sayu..." Kata Light sambil menenangkan Sayu.

"Dia tidak mungkin membunuh Takada!" Kata Sayu sambil terisak.

"Sudahlah, tenangkan dirimu Sayu." Kata Light sambil memeluk Sayu.

Near melihat adegan itu penuh rasa kecemburuan.

Light dan Near mengurus kasus tersebut ke kepolisian. Light dan Near mencuri dengar apa yang dibicarakan oleh para polisi.

"Menurutmu, apa hukuman yang akan di berikan para jaksa kepada Matsuda-san? Apa mereka akan berbaik hati?"

"Tidak mungkin mareka berbaik hati karena dia seorang anggota kepolisian dan seorang dosen di akademi kepolisian! Mereka pasti memerikan hukuman yang berat agar nama kepolisian tidak tercoreng hanya karenanya!"

"Sepertinya mereka akan memberikan hukuman mati untuk Matsuda-san... Kasihan sekali ya dirinya..."

"Matsuda dihukum mati?" Kata Near kaget mendengarnya, tapi dia memang kalau itu adalah hukuman yang masuk akal dan adil. Light malah tsenyum penuh dengan kemenangan dan sinis, "Inilah pembalasan akibat 'menyiksa' dan memanfaatkan adikku juga diriku." Kata Light dalam hati.

"Mmm, omong-omong, apa yang dilakukan adik iparmu yang bodoh itu hingga kamu menangis Light?" Tanya Near.

"Dia menyiksaku..." Kata Light dengan muka sinis.

"Dia menyiksamu dengan cara apa?"

"Dia dengan memaksa melakukan 'itu; dengannya." Jawab Light dengan tenang, tidak seperti keadaan hatinya yang sakit.

Near kaget sekaligus iba mendengarnya.

Near menatap foto kelompok kepolisian yang menyelidiki 'KIRA' yang berada di kamar onii-nya itu. Sebenarnya Near belum sama sekali pun masuk ke kamar onii-nya ini selama ini. Dia memberanikan diri hanya untuk melihat kenyataan tentang hubungan onii-nya dengan Light juga melihat foto Tota yang terlihat ekspresi-nya sangat lugu itu dapat membunuh lima orang dan memotong jari-nya juga dapat menyiksa Light hanya 'demi' cinta-nya terhadap Light yang membencinya.

Di foto itu Tota berdiri di samping Light. Di muka mereka sama sekali tidak ada rasa benci apalagi dendam, senyum mereka sangat tulus. Lalu Near melihat ke kiri Light. Di situ onii-nya duduk—dengan gaya-nya yang bisa dibilang abnormal—di depan tengah. Di antara Light dan L, ada bentuk hati, membuat hati Near terasa sakit.

Dia pun melihat kesekeliling kamar itu dan baru menyadari kalau di kamar itu penuh dengan foto Light dan L juga barang-barang yang sepertinya hadiah dari Light ataupun barang yang mereka beli berdua.

Boneka beruang yang tersenyum dengan menggunakan syal berwarna biru muda itu nggak mungkin onii-nya sendiri yang membelinya karena orang itu hanya tertarik dengan warna hitam dan putih, tidak dengan lainnya.

Near mengambil boneka itu lalu melihatnya lumayan lama dan memeluknya. "Light dan onii... Kenapa nggak aku duluan ya yang mengenal Light..." ucapnya sedih sambil melihat boneka itu dengan sedih pula.

Light menatap death note-nya dan menghela nafas. "Apa menurutmu lebih baik si bodoh itu dibunuh sebelum dia dihukum mati?"

"Lebih baik sih begitu agar terjamin kalau dia belum sempat membuat kepolisian percaya dengan kebenaran kata-katanya jika dia memberi tahu yang benar." ucap Ryuk.

Light tersenyum sinis dan mengambil death note itu.

Tota menatap kosong ke keluar sel. Sel yang hanya di isi olehnya ini dan sepi senyap karena memang dirinya sengaja di taruh di tempat yang sepi."Light... Apa ini kau sengaja rencana kan atau analisis-mu salah...?"

"Hey Matsuda-san! Kau dipanggil oleh Near..."

"Near?" bingungnya. "Mungkin Near bisa membantu-ku..." batin Tota yang berjalan menuju keluar sel yang pintunya telah dibuka oleh petugas itu.

COUGH! Tiba-tiba Tota terbatuk dan darah keluar. "Matsuda-san?"

Di pagi ini Light bangun dengan tenangnya dan tersenyum penuh kemenangan. Tapi begitu dia keluar dari kamar-nya, dia sudah mengetahui kalau dia harus berakting.

"Ada apa Sayu?" lari Light begitu melihat Sayu menangis dan ada Near juga dua polisi yang berada di depannya.

Sayu dengan wajah penuh tangisnya dan isakan langsung memeluk Light. Light pun berpura-pura memasang wajah bingung—yang begitu terlihat natural sampai-sampai tidak ada yang menyadarinya—. "Ada apa sebenarnya ini?"

Near menghela nafas. "Adik ipar-mu itu meninggal karena adanya pendarahan dalam perutnya..." ucap Near dengan nada cuek, tanpa rasa sedih, tapi sebenarnya dia iba melihat Sayu yang begitu sedih mendengarnya.

Light—sekali lagi berpura-pura juga—memasang tampang kaget, "Apa maksudmu dengan itu? Itu benar Near?"

"Ya, begitulah..."

Light pun mendekap erat Sayu, berharap tangisan itu tak perlu dia keluarkan lama-lama dan cepat berhenti.