"Annyeoooooong *tebar bunga bangke*

Uhoo chapter 3! D ga tau ini sampe berapa chapter. Aaaaaaaaaahh D pusing.

Aduh nilai b. indo D terjun menghantam dasar.

Oh dan kenapa D lama apdet? Ukhukhukhu... AHAHAHAHAHAHA! *dipenggal*

Salahkanlah kakak D yang menyandra sang laptop kesayangan. Entah buat apaan. Hanya orang dewasa yang mengerti. Dan D bukan orang dewasa.

.

.

.

.

Warning : YAOI, typo(s), OOC, alur maju-mundur-maju-mundur tak jelas dan memaksa, EYD terabaikan, kosakata miskin, absurd tingkat dewa, gaje menembus batas, author gila, dan 1004 peringatan lainnya yang malas D sebutkan

DAEJAE DAEHYUN X YOUNGJAE

.

DLDR!

.

Italic= Flashback

.

Entah sudah berapa kali tanganku ini memainkan serbet putih yang tadinya terlipat rapi di atas meja. Menunggu pesanan itu lama sekali. Apa yang dilakukan koki di tempat yang mereka sebut dapur? Apa mereka meneliti setiap gram bahan-bahan yang mereka gunakan? Atau mereka sedang menstrerilkan alat-alat masak pada suhu tinggi? Ah sudahlah. Yang pasti, perutku berbunyi sekarang.

Dan yang membingungkan itu namja aneh yang duduk di hadapanku. Jung Daehyun. Bagaimana bisa dia tidak merasa bosan? Sudah setengah jam piring berisi makanan belum datang ke meja. Sudah ribuan kali perutku berbunyi dengan elitnya. Sudah 1800 detik namja bernama Jung Daehyun ini menatapku tanpa ekspresi. Mengerikan.

Enggan bertemu pandang dengan namja ini, mataku terpaksa menatap objek lain. Sensasi aneh terasa di pipiku. Keringat dingin mengucur. Dan detak jantung dipercepat. Lihat? Seluruh anggota tubuh Yoo Youngjae itu bandel. Ya, mataku tak bisa, tak mau, tak sanggup. Dia merasa tak ada objek yang lebih sempurna dari Jung Daehyun. Namja berambut coklat. Tetangga baru Yoo Youngjae.

Aku menggeleng cepat, lalu menghela napas.

"Apa tempat tujuan masih jauh?"

Menatap tautan tangan di atas meja, dia menarik napas panjang. Menikmati penghangat ruangan restoran di rest area yang agak sepi. Suara tetesan hujan membentur jendela yang tepat di sampingku terdengar. Agak dingin. Pemandangan didominasi warna abu-abu. Di luar agak berkabut.

"Sudah dekat. Mungkin perlu waktu 15 menit lagi."

Hanya suara 'hmm' yang berhasil kuciptakan. Bibirku terlalu kering untuk merespon jawaban Jung Daehyun. Dan otakku terlalu kurus untuk berpikir. Ini sudah tengah hari dan aku belum sarapan sama sekali. Aku belum punya tenaga.

Petir menggelegar. Mataku menatap tetesan hujan yang mengalir di jendela. Rasanya aku pernah seperti ini sebelumnya. Di dalam ruangan hangat, di luar hujan deras, dan bersama Jung Daehyun. Bersama Tuan Muda Jung Daehyun. Tapi, aku tak ingat kapan. Seperti deja vu.

Untung saja bungkus obat ada di dalam saku celana jeansku. Kepalaku mulai sakit. Rasanya di dalam kepalaku ada tikus yang menggerogoti. Dan otakku berdetak layaknya jantung. Napasku memendek. Rasa sakit ini lebih sakit dari biasanya. Air mata sampai membutakanku. Erangan meluncur dari kedua bibirku yang pucat.

Jung Daehyun yang sedari tadi mengamatiku langsung sigap memberikan sebotol air mineral. Aku tak sempat mengucapkan terima kasih, jadi botol itu kusambar dan menumpahkan beberapa mililiter air ke dalam tenggorokanku. Rasa sakit di kepalaku mereda, lalu menghilang. Setelah aku mengusap mulut dengan punggung tangan, baru aku mengucapkan gomawo disertai senyum simpul terpaksa.

Matanya yang misterius menatap lurus ke arahku. Aku mau tidak mau jadi salah tingkah, gugup. Ditatap seperti ini oleh sang tetangga baru. Awkward.

"Apa kau pernah merasa kerepotan? Meminum obat setiap kali kepalamu sakit?"

Menurutmu aku harus menjawab apa? Jujur saja, aku kerepotan. Kalau saja tak ada kapsul hijau-putih ini ditanganku, tanganku akan bergerak di luar kendali lalu memukulkan benda apa saja yang bisa memecahkan kepala sialanku. Tapi, yahh. Ehm.. Entah kenapa kemarin aku bisa menahannya. Bukannya mengambil obat di mobil, aku malah memandang lekat-lekat wajah tampan namja berambut coklat yang bermandikan cahaya bulan. Ukh, wajahku memerah.

Aku mengangguk. "Uhm, kadang."

Dia tidak membalas. Tak apa, aku tak butuh balasan. Karena tak ada lagi topik yang bisa dibicarakan dan perut yang berbunyi terdengar di teligaku. Keheningan menyelubungi kami, dikepung oleh suara benturan air hujan di jendela, dan suara detingan sendok dan piring pengunjung lain.

Menghela napas. Rasa lapar menguasai tubuh. Dadaku terasa penuh. Kepalaku pusing. Menyebalkan. Berapa tahun lagi aku harus menunggu untuk mendapatkan sepiring makanan? Seharusnya aku membawa handphone atau sejenisnya untuk membunuh waktu. Dasar. dan bagaimana kalau Jung Daehyun ini macam-macam? Bagaimana aku bisa menghubungi umma?

Kutatap Jung Daehyun. Untunglah kali ini dia memalingkan wajah, menatap area parkir yang agak berkabut dan basah. Siluetnya sempurna. Matanya berkilau, kosong, menyembunyikan sesuatu yang tak kuketahui. Rambutnya masih berantakan seperti kemarin malam. Hoodie abu-abunya lecek dan kotor bekas tanah. Tampaknya dia seperti Bang Yongguk hyung, tidak peduli penampilan.

"Youngjae-ya."

Dia tidak menoleh ke arahku. Rahangnya menegang, dan jakunnya bergerak –dia menelan ludah. Aku membunyikan buku-buku jari untuk mengurangi rasa canggung. "Hm?"

"Kapan kau pindah rumah?"

Aku meremas tangan. Menggigit bibir bawah. Darimana dia tahu aku pindah rumah? Stalker?Aduh. Hampir seminggu ini aku mengalami hari-hari merepotkan. Dan itu karena Jung Daehyun. Siapa dia? Tetangga baru Yoo Youngjae? Memiliki banyak hubungan denganku? Huft. Biarkan waktu yang menentukan. Kuharap aku masih bisa bersabar. Dan berumur panjang.

"Aku lupa. Kalau tak salah saat lulus SMA." Menaikkan bahu, aku merasa jengkel.

"Kenapa kau pindah? Kurasa rumahmu yang dulu lebih bagus."

Aha. Jung Daehyun. Rumahku yang dulu? Kau tahu seperti apa rumahku yang dulu? Kau ini peramal? Apa urusanmu kalau aku pindah rumah? Kau itu hanya tetangga baru si buruk rupa, Jung Daehyun. Ingat, tetangga baru. Kita baru bertemu 6 hari yang lalu. Dan apa yang membuatmu merasa pantas untuk bertanya hal privasi begini pada si buruk rupa?

Lama kutatap matanya, dia menoleh. Langsung menebar senyum sejuta dolar yang mematikan. Untunglah aku bisa menahan diri untuk tidak berteriak ala fangirl.

"Kenapa aku harus memberitahu sampai situ? Tuan Muda hanya tetangga baru Yoo Youngjae. Tak lebih."

Jung Daehyun mengetuk ujung telunjuknya ke meja. Menyeringai. "Yap, memang. Kita memang tetangga."

Apa telingaku yang salah atau memang Jung Daehyun mengatakannya dengan nada.. menantang? Dia ingin mengujiku? Dia menggodaku? Dia ingin membuatku naik pitam? Atau dia ingin membuat hatiku luluh dengan mengakui gelar 'tetangga baru'-nya? Jangan sampai kejadian jari tengah terulang lagi. Ada banyak orang di sini.

Aku mengernyitkan wajah, lalu menghirup napas panjang menggunakan mulut. "Maksudmu? Apa-apaan kau ini, Tuan Muda Jung Daehyun."

Dia mendekatkan wajahnya, menatap lurus mataku. Senyumannya menghilang. Dan bisa kubilang jarak yang tersisa diantara wajahku dengannya kurang lebih 5 cm. Mataku membulat lebar. Detak jantung dipercepat. Seluruh panca indra di-nonaktifkan. Oh kumohon bunuh aku sekarang.

"Dulu aku juga tetanggamu. Dan kemarin hal itu terjadi lagi... Sejarah terulang kembali."

.

.

"Kau tidak mengantuk?"

Jung Daehyun menepuk pundakku. Aku sedikit tersentak. Hampir aku jantungan, lalu jatuh dari jurang. Suasana disini benar-benar membangkitkan kesunyian dan keheningan yang luar biasa. Bulan, suara ombak, nyanyian jangkrik, dan pepohonan tinggi yang berbaris.

Aku menggeleng. Kau ingat berapa kali aku bangun hari ini? Mataku sampai perih, terlalu banyak tidur. Seperti binatang nocturnal saja. Tidur di siang hari, bangun di malam hari. Mungkin aku bisa tidak tidur untuk 2 hari kedepan. Mungkin. Aku belum bisa menjaminnya.

Masih memeluk lutut, aku mengamati garis horizontal nunjauh disana. Angin membuat air laut berombak, air asin yang berwarna agak hitam. Bulan terpantul jelas di permukaan air. Dan dingin terus menusuk-nusuk jaringan kulitku. Ah. Aku menyesal tidak membawa jaket, dan malah memakai T-shirt coklat yang agak tipis sejak pagi.

"Hei."

Dia menoleh. Alisnya naik sebelah. "Hm?"

Menggosok lengan, berusaha untuk menghangatkan diri. Dan gugup dengan kalimat yang akan kuucapkan. "Tuan Muda.. erm.. punya baju lebih?"

"Kau kedinginan?"

Pokk. Dasar lidah Yoo Youngjae pabo. Secara tidak langsung kata-katamu tadi itu kode. Sialnya, Jung Daehyun itu peka. Kau mau dipeluk dengan tetangga barumu? Kau bunuh diri Yoo Youngjae. Ayo, di bawah kakimu itu laut. Kau tinggal lompat lalu mati. Kau harus mempertahankan harga dirimu. Dan wajahmu mulai memerah.

Hebat. Harga diri Yoo Youngjae runtuh sudah. Tanpa pikir panjang aku mengubur kepala kedalam lutut. Malu. Entah apa yang akan kuperbuat nanti. Jantung sudah menggetarkan beberapa cm persegi di sekitar dadaku. Suhu pipiku meningkat, tapi suhu tanganku hampir dibawah titik beku. Dan kadar ke-pabo-an otakku menambah.

Aku merasakan ada kain tebal yang menyentuh kulit lenganku. Mataku membulat.

Jung Daehyun meletakkan hoodie abu-abunya di pundakku. Kaus hitam yang ia kenakan tadi pagi mengekspos lehernya yang jenjang dan lengannya yang agak berotot. Kulit tan-nya terlihat biru karena pantulan sinar bulan. Rambut coklatnya agak berantakan, mungkin karena dia melepas hoodie. Ini cobaan Tuhan.

"Katanya kau kedinginan. Pakai saja."

Membeku, aku hanya bisa menatap sosok Jung Daehyun yang –euuungh menggoda. Kulit tan-nya seakan bersinar, namun rambut coklatnya menyerap cahaya di sekitar. Cengkraman tanganku pada lutut semakin kuat, akan berbekas kalau Tuan Muda Jung Daehyun terus menebar pesona di hadapanku.

"Ta-tapi kau nanti kedinginan kan? Lihat, kau hanya me-memakai kaus tipis seperti itu. Dan warnanya hitam, hitam itu menyerap dingin."

Dia meregangkan tubuh, lalu tersenyum. "Tak apa. Kulitku lebih tebal daripada kulitmu."

.

.

Aku menghela napas. Menatap pepohonan di luar jendela. Mereka seakan berlari, menjauh dari mobil yang ditumpangi si buruk rupa. Hujan masih mengguyur bumi. Kulihat ada butiran-butiran air di kaca spion mobil. Aspal terlihat mengkilap, kadang mencipratkan air ke sembarang arah. Kuharap hujan akan berhenti, dan aku akan menyapa awan putih yang tertempel di langit-langit bumi. Aaah dacron raksasa.

"Dulu aku juga tetanggamu..."

Otak Yoo Youngjae, kumohon berhentilah memutar suara Jung Daehyun. Itu membuatku muak. Rasanya ada gumpalan yang tersangkut di tenggorokan. Dia sama sekali tidak punya hubungan denganku. Dia baru officially bergelar 'tetangga baru Yoo Youngjae' kemarin. Apa dia mau bilang –secara tersirat– kalau aku punya kehidupan sebelumnya? Reinkarnasi? Datang beberapa tahun sekali ke bumi?

Jung Daehyun. Biarkan aku mendeskripsikannya dengan 5 kata.

Absurd. Aneh. Konyol. Gila. Tampan.

Aaagh berada di dekatnya saja dadaku berguncang hebat. Tanganku spontan meremas rambut hitam berantakan yang menempel di permukaan kulit kepalaku. Kepalaku sakit, tapi belum membutuhkan obat. Tapi suasana hatiku sedang buruk dan aku uring-uringan. Bagaimana ini, antara minum atau tidak minum. Menyebalkan. Ini karena Jung Daehyun. Karena tetangga baru si buruk rupa.

"Jung."

"Uhm." Tangannya bergerak memutar stir.

Aku menghirup napas panjang. Stay cool, Yoo Youngjae. Jaga harga dirimu. "Maksud kata-katamu yang tadi... Kau pernah menjadi tetanggaku? Kita baru bertemu 6 hari yang lalu."

Dia terdiam, menyungging senyum. Andaikan seluruh dunia bisa melihatnya, taman pemakaman umum akan penuh. "Memangnya kenapa?"

Kutinju bahunya yang terbalut hoodie warna abu-abu. Pipiku menggembung. Buku-buku jariku memutih. Tapi itu malah membuatnya terkekeh. Brengsek. Seperti apa lingkungan tempat dia dibesarkan? Genk berandalan? Apa dia titisan Bang Yongguk hyung?

Malas melanjutkan pembicaraan, aku berpaling. Kalau aku melayani nafsu, mobil ini akan meledak dalam waktu dekat. Atau aku akan menusuk kerongkongannya dengan tangan kosong, lalu membiarkan darah segar Jung Daehyun membuat karyanya di tubuhku. Ah maaf. Aku terlalu banyak menonton film bergenre gore.

Gerbang megah berukiran rumit berdiri kokoh di atas mobil Jung Daehyun. Pondasinya kuat, seakan orang yang mendesainnya berharap gerbang ini akan tetap berdiri sampai abad bertambah. Ada 2 pohon besar di belakangnya. Pohon yang subur, hijau menyegarkan mata dan coklat menghangatkan hati, meskipun air hujan menghalangi pandangan.

Mobil Jung Daehyun masih melaju. Rumah-rumah yang berderet semakin banyak. Mungkin karena hujan, para penghuninya bersembunyi di dalam rumah. Menyalakan penghangat, lalu berbagi cerita dengan keluarga. Sudah bertahun-tahun aku tidak merasakannya. Bahkan aku lupa rasanya.

Setelah aku dinyatakan positif mengidap kanker, umma menjadi lebih hati-hati denganku. Dia menjadi overprotective, jadwal makanku diatur, jarang jalan-jalan, terlalu sering menangis, dan aku merasa ada yang berbeda dari caranya memelukku. Rasanya lebih.. erat? Dia takut kehilanganku? Anak semata wayangnya? Padahal dulu dia jarang memelukku. Mengobrol denganku saja hanya sekali-dua kali.

Umma berhenti dari profesinya sebagai model, lalu bekerja di perusahaan biasa dengan gaji standar. Katanya sih, agar lebih banyak waktu bersamaku, lebih banya waktu untuk memasak makanan yang kusuka, lebih sering mengawasiku, lebih sering menjagaku. Singkatnya, umma berubah.

Kutatap goresan-goresan di tangan kananku. Ukurannya beragam, tergantung pada keberanian yang sanggup kukumpulkan. Pernah saat aku sendirian di rumah, aku sampai bisa menggores sepanjang 2 inci. Padahal tinggal sedikit lagi sampai urat nadiku terpotong, umma tiba-tiba datang. Seperti Junhong yang mencoba untuk menghentikanku. Kenapa? Mereka hanya mengganggu momentum paling bersejarah Yoo Youngjae saja. Menghentikanku hanya membuat penderitaan lebih lama.

"Youngjae-ya."

Saat aku sadar dari lamunan, mobil Jung Daehyun sudah berhenti. Dia melepas seatbelt. Senyum mengembang tertempel di kulit wajahnya. Aku menatapnya dengan wajah yang memerah sekaligus gugup. Spontan aku menyambunyikan lengan penuh goresanku dengan menempelkannya di depan dada.

"Wae? Kenapa kita berhenti?"

Dia membuka pintu. Otomatis aku mengikutinya. Aku dikuasai rasa ingin tahu. Hujan sudah berhenti dan sinar matahari mengintip dari balik awan. Silau sekali sampai harus menyipitkan mataku. Saat aku mengerjapkan mata, ada bayang-bayang berwarna ungu menghalangi pandangan.

"Nah.."

Jung Daehyun mendekat. Mengangkat kumpulan kunci yang digabungkan jadi 1 dengan seutas tali berwarna merah. Kunci-kunci itu bergemerincing saat berada di depan wajahku.

"Ini jawaban pertanyaanmu."

.

.

Bang Yongguk hyung meremas tangan. Napasnya berat, sesuai dengan suaranya. Bahunya naik turun. Kakinya bergetar. Dan sedari tadi dia menggigit bibir bawahnya. Tidak biasa seorang Bang Yongguk yang santai sekhawatir ini.

"Hyung?" Alisku bertautan. Suaraku terdengar pelan dan lemah, ada sesuatu di tenggorokanku. Gelas masih kugenggam. Menyisakan air mineral sebanyak sepertiga gelas bening berbentuk silinder.

Dia menggeleng. Aku tak mengerti. Dia membuka mulut, tapi tak mengeluarkan kata-kata. Aku tak mengerti. Dia menetapku, berusaha telepati, mungkin. Dan aku tetap tidak mengerti. Apa yang terjadi pada mantan ketua genk berandalan? Kenapa dia bersikap begitu pada si buruk rupa?

Suara gesekan tangannya terdengar, membuatku menelan ludah. Aku tidak tahan dengan perbuatan aneh namja ini. Jadi aku mengumpulkan keberanian.

"HYUNG!"

Matanya terbelalak. Kaget. Bagian putih matanya membesar, sedangkan pupilnya mengecil. Sesaat kemudian, dia menutup mata, lalu menghembuskan napas panjang. Aku tetap tidak mengerti. Dia yang aneh atau aku yang tidak peka?

"Apa kau sakit karena stress, Youngjae-ya?"

Tak bisa kusangka Bang Yongguk hyung akan bertanya hal seperti itu. Jawaban yang terlintas di kepalaku: 'Mana aku tahu! Aku bukan dokter, hyung!'. Tapi aku tidak sejahat itu, jujur saja. Nah, apa otakku masih sanggup untuk memikirkan jawaban yang lebih halus? Apa aku masih punya tenaga untuk mengarang cerita yang cukup logis?

"Mungkin. Tapi menurutku itu tak ada hubungannya dengan kanker, hyung."

Oke. Otakku tak sanggup. Maaf. Meskipun dulu aku selalu mendapat peringkat 1, sekarang keadaan sudah berubah. Semua memori pelajaran yang sudah kuusahakan masuk ke dalam otakku hilang dalam sekajap saat dokter memberitahu bahwa aku sakit. Lihat. Memori 12 tahun hilang dalam beberapa detik. Hebaaat. Dunia memang penuh kejutan.

Dia menatap mataku. Matanya coklat, hampir hitam. Rasanya dia tidak cocok menjadi ketua genk berandalan. Dia lebih cocok menjadi model atau aktor atau sejenisnya. Ekhem. Dia tampan. Aku saja sampai tak bisa menghitung jumlah penggemarnya sewaktu di SMA. Berisik sekali.

"Atau, apa kau stress karena sakit?"

Jawabannya sudah ada di ujung lidahku. Bersiap-siap dilontarkan. "Ya."

Menggangguk, tanda bahwa ia mengerti. Hei, siapapun pasti stress kalau sakit kan? Hanya orang dengan ketabahan dan kesabaran luar biasa yang tidak stress menghadapi penyakit sialan seperti yang kualami. Huft. Sedangkan Yoo Youngjae? Hanyalah seorang buruk rupa yang mengharapkan terlepasnya kepala dari leher.

"Kapan kau dinyatakan sakit?"

"Erm..." Aku mengangkat bahu, "Saat kelas 3 semester akhir.. SMA... Kalau tak salah."

Alis Yongguk hyung naik. Raut wajahnya menyedihkan. Seakan dia ingin berbicara, tapi bingung memilih kata-kata yang pas. Dia menarik napas panjang.

"Apa saat itu kau masih di-bully?"

Suara Bang Yongguk hyung tenang, lugas, dan berat. Seperti biasanya. Tapi suara itu membuat perutku bergejolak. Seperti ada gumpalan tanah liat bersarang di tenggorokan. Dan teori relativitas berlaku saat ini juga. Waktu berjalan lambat, jarum jam masih berputar. Mataku perih.

Kumohon jangan ingatkan lagi kenangan saat itu. Kumohon. Kumohon jangan membuatku melihat lembaran-lembaran kehidupanku yang ingin kubakar. Aku sudah berusaha untuk melupakannya, tapi kenapa Bang Yongguk hyung malah membuat otakku memutar kembali setiap detik kejadian itu?

Aku mengangguk.

Hampir. Aku hampir menangis. Aku berkedip, berusaha untuk mencegah air mata jatuh. Kalau jatuh, ini akan jadi kedua kalinya aku menangis di hadapan Bang Yongguk hyung. Dan gelarku akan diperbarui, 'si cengeng buruk rupa'. Hmm. Lumayan, nama yang tak terlalu buruk.

Bang Yongguk hyung menghela napas. Matanya menatap titik yang jauh di bawah sana. Seakan dia bisa melihat ke dalam tanah, menemukan cacing dan mayat-mayat busuk tersembunyi di bawah lantai ruang tamuku.

"Kenapa kau tidak bilang padaku kalau kau sakit?"

Kali ini aku menghirup napas panjang, lalu menghapus air mata dengan ibu jari. Ada benda kecil berwarna putih yang bergerak di depan mataku. Sel darah putih.

"Kau akan kerepotan. Dan para yeoja brengsek itu akan mencabik-cabik daging pantatku karena aku dianggap mencuri perhatian ketua genk berandalan, sang idola sekolah."

Tidak tahan, aku menggigit bibir. Ya, aku tak suka merepotkan orang. Aku tak mau membuat orang benci padaku karena direpotkan. Aku ini aneh. Bahkan apa yang membuatku tahu orang lain benci padaku saja aku tak tahu. Ingat, aku ini selalu bernegative thinking. Dan aku tak bisa mencabut akar kebiasaan ini.

.

.

Wish no. 6 = Jangan manja, umma sering menyuruhku begitu

.

.

Mataku mengerjap-ngerjap. Kepala langsung terasa pening karena membuka mata terlalu cepat. Pening sekali, aku jadi tidak bisa melihat dengan jelas. Benda kecil berwarna putih berkeliaran di kornea mataku, karena kelihatannya begitu. Sel darah putih menguasai pandangan.

Aku menghela napas. Menutup mata beberapa detik, lalu membukanya lagi. Untunglah sel-sel penganggu itu sudah menghilang. Dan aku bisa melihatnya dengan jelas sekarang. Meskipun sebenarnya aku tak akan sanggup menerima kenyataan. Kenyataan itu menyakitkan kau tahu? Kata-kata itu populer sekali.

Ini kamar lamaku.

Karena aku melihat foto masa kecilku yang buluk di atas meja reyot dan tulisan namaku di pintu kamar, itu bukti yang cukup kuat untuk menyebut tempat ini sebagai kamar lamaku. Seakan sudah berabad-abad lalu rumah ini berdiri di atas kulit bumi, seakan sudah melihat perkembangan dunia yang drastis, dan mengetahui segalanya. Yahh rumah ini sebetulnya mengetahui segalanya tentangku. Jung Daehyun yang mengucapkannya.

Jendela dengan engsel berkarat. Tembok penuh debu dan kasar. Lantai berderit, kalau aku berjalan pasti akan menimbulkan suara yang mengganggu. Meja retak dan benda-benda yang menunggu untuk ku observasi di atasnya. Lemari butut berhiaskan cermin pecah. Dan kasur di bawah T-shirt ku, tidak terlalu kusam untuk kamar seperti ini, dan empuk. Nyaman sekali. Kalau saja tidak ada suara aneh di sampingku, aku pasti akan kembali tidur.

Suara aneh.

Oke. Apa yang pertama kali muncul di otakmu saat mendengar kata itu di ruangan lama yang membangkitkan suasana horor. Ditambah, penerangan di sini redup meskipun di luar terang-benderang. Jadi... apa? Boneka seukuran manusia yang bisa berbicara? Makhluk bermata kosong dengan cakar dan taring tajam? Alien pemakan manusia yang bersembunyi dari cahaya matahari? Atau psikopat yang sedang memamerkan evil smile-nya dan mencakar tembok dengan kuku-kuku jarinya sendiri?

Haruskah aku meliriknya? Ya. Haruskah aku menoleh? Tentu. Bagaimana jika salah satu dari dugaanku tadi tepat? Memangnya kau akan tahu sebelum melihatnya? Dan bukannya kau sendiri ingin mati? Oke. Aku memang ingin mati. Kalau begitu menolehlah. Dan kuharap kau mati dalam keadaan yang paling cantik. Persetan dengan gelar si buruk rupa itu. Yang penting kau harus terlihat cantik dan seksi.

Sungguh. Aku ingin menggeleng cepat. Aku ingin menghilangkan suara-suara percakapanku sendiri di dalam tubuhku. Di dalam otakku. Tapi, menyebalkan, bantal di bawah kepala membuatku susah menggerakkan kepala. Kalaupun bisa, bantal itu akan bergeser dan menarik perhatian suara aneh yang masih saja terdengar di sampingku. Mundur kena, maju kena.

Aku menarik napas panjang, mengeluarkannya. Tarik napas, buang. Lalu aku menoleh. Kuharap yang kulihat di sampingku itu sang psikopat. Karena kadang aku suka mengkhayal menjadi psikopat. Pasti rasanya menyenangkan, membelah-mengoyak-menghancurkan-mencincang tubuh korban dan tertawa puas, seperti di film-film. Oh iya. Kuingatkan lagi. Aku terlalu sering nonton film bergenre gore.

Oh.

Ini lebih buruk dari semua dugaanku tadi.

Jung Daehyun.

Oooohh. Kupu-kupu dan burung merpati dan naga terbang dengan riangnya di dalam perutku. Mataku terbelalak dan napasku terhenti. Jantungku berdetak cepat. Dan keringat dingin mengucur membasahi telapak tangan. Kakiku lemas dan wajahku memerah.

Bulu matanya tertutup dengan damai tanpa beban. Rambut coklatnya yang berantakan menindih bantal –yang lebih mengagetkan lagi karena dia sebantal denganku. Kulit tan-nya seakan bersinar dan menghangatkan kasur. Dadanya naik-turun, dia tertidur. Dan suara aneh itu dengkurannya yang tenang.

Apa aku harus menyentuh pipi itu? Apa aku harus mendekat? Apa aku harus memeluknya? Apa aku harus membangunkannya? Apa aku harus berteriak karena baru saja melhat tetangga baru yang sudah tidur seranjang dengannya? Detik ini juga aku memeriksa apakah pakaianku masih menempel di tubuh atau... atau... dugaan paling buruk seumur hidup semua orang yang hanya bisa dihapus dengan terputsnya kepala Yoo Youngjae dari lehernya.

Menghela napas luar biasa panjang karena T-shirt coklatku yang kusut dan celana jeans bernoda tanah dan rumput masih membungkus rapi tubuhku. Perasaan seperti baru saja selamat dari medan perang tanpa luka sejengkal pun. Tapi saat tangan Jung Daehyun yang tertidur secara tidak sengaja menggenggam bahuku, perasaanku kembali seperti baru saja telanjang bulat di depan segerombolan psikopat kanibal dengan pisau daging di tangan mereka.

Ya. Aku tak bisa menahannya lagi. Suara detak jantungku terdengar keras sekali di telinga. Menggetarkan koklea dan mengirimnya ke otak, sebuah paket bertuliskan SUARA DETAK JANTUNG YOO YOUNGJAE menggunakan huruf kapital, bold dan italic dan underline. Karena memang begitu keadaannya. Suara itu terdengar keras sekali.

Ujung jari tengah yang kugunakan untung mengakhiri pembicaraanku dengan namja berambut coklat di taman menyentuh pipi Jung Daehyun. Hampir. Kulitnya seakan menyetrum jadi aku takut menyentuhnya, menggesekkan punggung kulit ujung jari tengahku yang pucat dengan kulit tan pipi namja ini yang memesona. Aku tak cukup berani untuk menyentuh mahakarya Tuhan ini. Aku terlalu terpesona. Dan tak bisa mengendalikan detak jantung yang menggila di dalam tubuhku.

Lekuk wajahnya sempurna. Rahangnya rileks. Alisnya tenang seperti genangan air. Aku merasa pernah melihatnya seperti ini. Wajahnya hanya berjarak beberapa inci dariku. Bahkan aku bisa merasakan hembusan napasnya menggelitik pipi. Ini jarak yang berbahaya. Bisa saja aku tak bisa menahan doronan dari dalam tubuhku untuk mencium bibir penuh menggoda itu. Tapi, aku tak berharap itu terjadi.

"Jung."

Kuucapkan 4 huruf itu dengan suara yang teramat pelan. Aku tak ingin membangunkannya. Aku masih ingin menatap wajah polos tanpa dosanya lebih lama lagi. Uuuuukh kuharap mataku bisa mengabadikan pemandangan indah ini.

Oh. Maafkan aku Jung Daehyun. Ralat, maafkan aku Yoo Youngjae.

Tanganku tak bisa lagi kutahan. Aku sampai menelan ludah saat punggung tanganku sudah menyentuh pipi halus Jung Daehyun, sang tetangga baru. Seperti ada dinamit yang akan meledak, wajahku memerah. Sangaaaat merah, dan aku tak mau mengakuinya. Kepalaku terlalu pusing.

Dia mengerang kecil, tapi aku tidak menyingkirkan tanganku. Yeah menantang maut. Tanganku bergerak perlahan, takut menimbulkan gerakan mendadak yang bisa membangunkan Jung Daehyun. Oh Tuhan. Ini cobaan yang berat sekali.

Aku menghela napas. Menyingkirkan tanganku dari pipi Jung Daehyun, lalu mendekap tangan itu. Merasakan kalor yang dihantarkan pipi Jung Daehyun. Tidak terlalu terasa, tapi cukup untuk menenangkan hati di dalam ruangan bernuansa horor, rumah lamaku yang misterius.

Jung Daehyun.

Nama itu terngiang-ngiang di kepala sialanku.

Terbayang rambut coklatnya dibajiri cahaya bulan. Siluet sempurna wajahnya. Proporsi tubuhnya yang diidamkan seluruh makhluk bumi. Sudah pasti dia memiliki sejuta penggemar.

"Apa kau sudah punya pacar?"

Suaraku terdengar serak. Apa aku dehidrasi? Dan aku mengucapkan pertanyaan tadi karena yakin Jung Daehyun tak akan menjawabnya. Namja itu tertidur pulas. Bermain di alam mimpi. Mungkin dia memimpikanku? Ah kau terlalu berharap Yoo Youngjae. Buat apa dia memimpikanku? Mimpi membunuhku? Hmm.. Itu lebih cocok.

Menghela napas lagi, aku berpaling lalu menatap langit-langin kamar yang didominasi sarang laba-laba. Ranjang agak bergerak, mungkin Jung Daehyun mengubah posisi tidurnya. Sepertinya dia bukan tipe yang diam saat tidur.

"Belum."

DEG!

Jantungku seakan copot lalu menggelinding tak tahu arah, terlindas bus sekolah, lalu dipungut psikopat kanibal yang kelaparan. Dengan kecepatan penuh aku menoleh. Retina mataku langsung menerima bayangan seorang Jung Daehyun yang menatap langit-langit, dengan tangan menjadi bantalan. Matanya terbuka, berkilau dan indah. Bulu matanya lentik. Dan bibirnya perlahan menyungging senyum.

Aku bangkit, berdiri di atas tumpuan lutut dan memandang Jung Daehyun dengan mata yang terbuka sangat-sangat lebar. Kepalaku pusing karena terlalu cepat bangun dari tidur. Aku tidak memiliki waktu untuk menenangkan detak jantung yang menggila.

"Ka-kau bangun?!" Maaf. Aku harus memuntahkan gumpalan yang sedari tadi tertahan di kerongkongan. Jadi, aku hampir berteriak. Dan kepalaku terasa berat sekali.

Jung Daehyun menghela napas. "Ani. Aku tidak tidur."

Mulutku menganga. "Ta-tapi-tapi kau tadi tidur! Buktinya tadi kau mendengkur!"

Alisnya bertautan. Dia tersenyum licik, menatapku. "Pura-pura."

Pura-pura? Pura-pura?! Jadi dia berpura-pura tidur? Jadi dia berpura-pura tidur selagi aku mengelus pipinya? Jadi dia merasakannya? Jadi dia mendengarnya? Kh. Runtuh sudah harga diri si buruk rupa. Nah, apa yang akan kau lakukan Yoo Youngjae? Menciumnya?

"Dan tak kusangka kau akan menyentuhku. Padahal kukira kau membenci namja bernama Jung Daehyun ini."

Matanya yang dalam dan gelap seakan menembus tengkorakku. Otakku langsung mengering dan mataku terbakar. Wajahku memerah, napasku berat. Dadaku sesak dan aku bingung apa yang terjadi pada tubuhku saat ini. Menyebalkan. Dan lagi-lagi dikarenakan oleh Jung Daehyun, tetangga baru Yoo Youngjae.

Aku membuang muka, berharap bisa menyembunyikan semburat merah yang sedang memamerkan diri. Ada terlalu banyak suara di benakku sehingga aku tak dapat memuatkan pikiran pada satu hal. Dan lebih baik aku tidak menjawabnya sesuai hati nuraniku. "Berisik."

Dia bangkit, duduk bersila. "Kenapa? Kau malu?"

"Berisik."

Wajahnya mendekat, dan tentu saja aku menjauhkan diri. Tanganku mendorong dadanya. Aku takut menatap cincin kecil yang mengelilingi pupil matanya. Seakan benda itu masuk ke dalam tubuhku, lalu menemukan kumpulan pikiran aneh si buruk rupa. "Jangan mendekat! Aku jijik!"

"Kh." Senyumnya mengembang. Dia mendengus. "Lalu kenapa kau tadi menyentuh pipiku? Tampaknya kau menikmatinya."

Ingin rasanya aku meninju pipi namja brengsek yang kusebut Tuan Muda ini. Dia menggodaku? Apa tujuan sebenarnya membawaku ke rumah lamaku? Berduaan? Ew. Rasanya lebih menyebalkan daripada saat di jurang.

Aku menarik napas panjang, lalu kutatap lama-lama matanya. Matanya jernih dan berkilau. Aku jadi ingat pantulan langit berbintang kemarin. Mengumpulkan keberanian di depan Jung Daehyun itu susah.

"Memang kenapa Tuan Muda? Kau meminta lebih?"

Ujung bibirnya naik. Matanya menyipit. Dan wajahku memerah. Aku merasakan firasat buruk.

"Jadi kau mengharapkan itu? Kau suka menyentuhku?"

Oh. Aku lupa berpikir tadi. Ukh kepalaku sakit. Haruskah aku mengulang kembali kejadian jari tengah? Tidak. Lebih baik aku mengalihkan pembicaraan.

"Bagaimana kau membawaku ke sini?"

Dia menekuk leher. Aku mendengar suara tulangnya bergemeretak. "Menurutmu?"

Oke. Dia menyebalkan sekarang. Aku jadi malas melanjutkan pembicaraan. Kalau ucapannya yang menyatakan bahwa dulu dia pernah menjadi tetanggaku, aku di masa lalu pasti sudah stress dan depresi dan akan langsung meminta umma untuk pindah saat itu juga.

Helaan napas keluar dari mulutnya. "Aku menggendongmu. Oke aku tahu kau tak menyukainya."

Ow. Jadi dia menggendongku. Hebat. Sekuat apakah Jung Daehyun sampai dia bisa menggendong si buruk rupa, Yoo Youngjae? Atau dia ingin membuatku terpana? Digendong oleh namja tampan sepertinya? Tidak mungkin. Tidak akan. Dan apa yang akan dia katakan untuk mengejutkanku lagi? Menggendongku ala bridal style?

"Oh. Jadi, kau menggendongku. Aku pingsan. Dan kau menggendongku. Oke. Masuk akal."

Aku menarik napas panjang. Aku seperti termos yang mendidih, bersiap mengeluarkan bunyi melengking memekakkan telinga.

"Yang tidak masuk akal itu kenapa kau tidur di sampingku?! Aku hampir jantungan kau tahu!"

Suaraku tadi naik beberapa oktaf. Hampir sejantan Jung Changmin hyung saat memanggil Jung Daehyun untuk menemuiku. Tapi itu wajar kan? Aku takut keperawanku hilang! Sudah pasti aku waspada! Apalagi dengan namja yang baru kukenal beberapa hari yang lalu.

Ekspresinya santai sekali. Bahkan tautan di alisnya sudah lama hilang. "Memangnya kau mau aku tidur di lantai? Dan memangnya menurutmu aku tidak capek mengemudi sampai sejauh ini?"

Aku menarik napas, lagi. Kemudian mengeluarkannya sekuat tenaga. "Kuhargai jasamu karena sudah menculikku sampai sini... Tapi Tuan Muda, aku pasti waspada dengan tetangga baru yang tidur seranjang kan?"

Kali ini dia menarik napas panjang. Ini seperti ajang tarik-buang napas saja. Dan kadar karbondioksida di ruangan ini bertambah.

"Memang kau kira apa yang kulakukan denganmu? Di ranjang yang sama?"

"Tuan Muda itu tetangga baru Yoo Youngjae, oke? Dan Yoo Youngjae tidak biasa dengan orang asing."

"Oh oke. Arraseo. Maaf kalau begitu, Yoo Youngjae." Dia memutar bola mata. Pastinya dia kelelahan. Kelelahan berdebat dengan Yoo Youngjae tentang tidur seranjang, yang biasanya membuat orang ambigu.

Jung Daehyun turun dari tempat tidur. Ranjang tuanya sedikit berderit, suaranya menjengkelkan. Dan debu langsung mengepul saat sepatunya menghantam lantai. Dia menatapku.

"Ayo."

Aku menyipitkan alis. "Untuk?"

Tangannya menggenggam lenganku. Sensasi aneh terasa di sana. Membuatku makin tidak nyaman. Ingin aku berontak, tapi kekuatan tangannya jauh lebih kuat dariku.

"Tentu saja membuatmu mengingatnya."

Matanya menatap lurus ke mataku. Rambutnya berantakan dan dadanya naik turun.

"Masa lalumu."

.

.

.

.

.

.

TBC

Yey. Ini chapter paling gaje. Ah semua chapternya gaje sih.. Iya kan? IYA KAN? IYA KAN?! *plakk*

Jujur D bingung kenapa Youngjae bisa seranjang sama Daehyun. Nambah-nambahin words? Itu mungkin salah satunya. *plakkplakk*

DAN MAKASIH BUAT YANG UDAH REVIEEEEW! MUACH MUACH BUAT KALIAN SEMUAAAAA! KALIAN HARUS TAU KALO D SAYANG KALIAAAAN! *dipenggal*

Dan D masih butuh segudang kritik dan saran kerena level D masih rendaaaaaaah banget

Jadi jangan lupa reviewnya neeeeee :'D