The Promises

.

Cast : Lee Hyukjae - Lee Donghae, etc.

Disclaimer; God owns the casts, I only own the plot, I am too poor to own Hyukjae and Donghae.

Warning; major typos, boyxboy, HaeHyuk.

Happy reading!

.

.

Jangan bilang kalau…

"Jadi kerang ini milik seseorang yang bernama dua-ha?"

Hening.

Donghae menghela nafasnya kemudian terduduk lagi sambil menggaruk-garuk kepalanya, sementara Hyukjae masih berdiri terpaku menatap Donghae dengan tampang bingung.

"2H. Hae dan Hyukkie, kan?" sebuah suara wanita mengagetkan kedua laki-laki itu. "Uh, maaf, aku tak sengaja lewat dan mendengar percakapan kalian,"

Donghae terkejut. Wanita ini, wanita yang tadi menyambutnya di pintu. Darimana ia tahu tentang Hae dan Hyukkie?

"Noona! Darimana kau tahu tentang hal itu?"

Donghae semakin terkejut, 'Noona? Dia punya seorang kakak perempuan!?'

Namun sesaat kemudian Donghae tersenyum. Bukankah ini merupakan sebuah bukti kuat bahwa Lee Hyukjae, yang berada di hadapannya kini, merupakan Hyukkienya?

"Jadi ini yang namanya Donghae?" wanita –yang Donghae asumsikan sebagai kakak Hyukjae– mulai berjalan masuk sambil menatap Donghae. "Hyukjae, apa kau lupa? Kau sendiri yang selalu bercerita tentangnya padaku sewaktu dulu. Kau kira aku tak akan ingat semuanya, huh? Ah, ya, kau juga bilang kalau dia merupakan cinta perta-"

"NOONA!"

"Baik, baik, aku akan keluar- Ya! Berhenti mendorongku,"

Terdengar suara pintu ditutup. Hyukjae memejamkan kedua matanya, berharap ini semua hanyalah mimpi. Namun begitu ia membuka mata, hal pertama yang ia lihat di hadapannya merupakan Donghae yang masih duduk di kursinya sedang tersenyum, menandakan kalau ini semua bukanlah sebuah mimpi.

"Apa kabar, Hyukkie?"

"Kenapa?" Hyukjae tertunduk, badannya mulai bergetar. "Kenapa kau malah lari dariku?"

Donghae terdiam.

"Lalu kenapa kau tiba-tiba datang dan mengacaukan segalanya lagi? Tidakkah kau tahu kalau aku sudah hampir berhasil melupakanmu?"

"Hyukkie…"

Hyukjae mulai terisak. "Apa kau sengaja? Apa ini semua merupakan bagian dari rencanamu untuk mempermainkan aku, huh?"

Hyukjae merasakan dua buah tangan menangkup wajahnya dan mau tak mau ia harus menatap si pemilik tangan, Donghae.

"Aku melihatmu menangis saat itu. Aku.. aku hanya merasa tak pantas. Aku yang membuatmu harus menunggu terlalu lama dalam kesedihan. Saat itu aku hanya berpikir, melupakan seorang Lee Donghae merupakan hal yang terbaik bagimu,"

Kini giliran Hyukjae yang terdiam.

"Sebenarnya aku juga tidak menyangka aku bisa bertemu lagi denganmu disini. Aku memutuskan melanjutkan sekolah ke Seoul karena ajakan dari Heechul hyung. Tapi jika kau tidak suka dengan kehadiran pecundang ini disini, aku bisa pergi," Donghae menarik kedua tangannya dari wajah Hyukjae kemudian berbalik untuk mengambil semua bawaannya.

Tunggu.

Perasaan ini, perasaan yang dirasakan Hyukjae sewaktu ia hendak pergi ke Seoul dan berpisah dengan Hae.

Dengan cepat Hyukjae menarik lengan kanan Donghae yang hendak mengambil ranselnya.

Tidak.

Dia tidak boleh kehilangan Donghae untuk yang kedua kalinya.

"Jangan pergi,"

Donghae tertegun.

"Aku yang seharusnya minta maaf karena sama sekali tidak mengenalimu saat itu,"

Donghae mulai merasakan kedua lengan Hyukjae melingkar di pinggangnya dari belakang.

"Sebenarnya aku masih menunggumu, Hae. Aku telah menunggumu selama 5 tahun ini dan kurasa tak akan jadi masalah meskipun aku tetap harus menunggumu untuk beberapa tahun lagi,"

Donghae masih tak bergeming.

"Aku.. aku benar-benar minta ma-"

Kalimat Hyukjae terputus karena terkejut oleh Donghae tiba-tiba yang berbalik kemudian memeluknya dengan erat.

"D-Donghae?"

"Sekarang, bisakah kau diam? Aku merindukan pelukan ini,"

Hyukjae tersenyum dalam dekapan Donghae kemudian membalas pelukannya. Pelukan yang juga sangat dirindukan olehnya. Dirasakannya aroma tubuh Donghae, tidak ada yang berubah. Ia merindukan segala yang ada pada diri Haenya.

"Ya! Tapi kenapa kau tak pernah bilang kalau kau punya seorang kakak perempuan?" Donghae yang seakan tersadar akan hal itu sontak melepaskan pelukan mereka.

"Kau tidak pernah bertanya," Hyukjae mencibir. "Kakakku, Lee Sora, tidak ikut ke Mokpo karena dia tidak mau kalau harus pindah dari sekolahnya. Jadi dia tetap tinggal di Seoul bersama nenek,"

"Dan kau menceritakan segalanya tentang aku kepadanya?"

Wajah Hyukjae mendadak memanas, "I-iya! Apa itu salah?"

Donghae hanya menggeleng pelan. "Oh, ya, kerang itu, awalnya akan kuberikan padamu saat itu. Aku pikir aku menghilangkannya. Tidakkah kau tahu aku panik setengah mati begitu mendapati kalau kerang itu sudah menghilang dari dalam kantung celanaku?"

"Kau berlari terlalu cepat!"

"Kau yang terlalu lambat!"

Hyukjae dan Donghae memalingkan wajah mereka masing-masing secara bersamaan.

Tiba-tiba Donghae teringat pada Heechul yang masih menunggunya di balik pohon yang tak jauh dari rumah Hyukjae.

Sial. Bisa-bisa 'hukuman'nya ditambah karena membuat Heechul menunggu terlalu lama.

"Baiklah, Hyukkie, aku harus pergi. Sampai jumpa besok," Donghae mengambil ranselnya dan mulai berjalan ke pintu.

"Tunggu, Hae,"

Donghae sontak berbalik, "Huh?"

"Tentang kemarin, err, di ruang organisasi," Hyukjae menunduk, tidak membiarkan Donghae melihat wajahnya yang memerah. "Kau hanya bercanda, kan?"

Donghae terdiam sejenak, mengingat kejadian kemarin yang membuatnya harus datang kemari. Sebuah senyum –atau mungkin seringaian? – terukir di wajahnya. "Bagaimana jika aku sama sekali tidak bercanda?" Donghae mengedipkan salah satu matanya sebelum pergi meninggalkan Hyukjae yang merasa wajahnya sudah semerah tomat sekarang.

-OoO-

Hyukjae terkejut begitu melihat Donghae yang menunggu kedatangannya di depan gerbang sekolah, lalu menyapanya dengan manis kemudian berjalan bersama menuju kelas. Tentu saja murid-murid lain hanya bisa menatap tak percaya ke arah mereka. Salah satu anggota dari organisasi sekolah dan the well-known popular boys berjalan berdampingan? Mungkin itu terlihat sangat konyol di mata mereka. Lagipula tidak ada satupun dari mereka yang tahu tentang 'hukuman' yang sedang dijalani Donghae dan juga hubungan Donghae dan Hyukjae yang sebenarnya.

Hyukjae merasa aneh karena dengan terpaksa harus berjalan bersama dengan salah satu anggota dari grup yang paling ia benci sekaligus orang yang paling penting baginya. Apalagi setelah anggota-anggota organisasi sekolah mulai menjejalinya dengan berbagai pertanyaan. Tapi hari ini Donghae tetap mengikutinya kemanapun ia pergi.

Hyukjae duduk di salah satu bangku yang kosong di kantin sekolahnya bersama Sungmin. Sungmin telah mendapatkan makanannya sementara Hyukjae masih harus menunggu Donghae yang mengambilkannya makanan.

"Hyuk-ah sebenarnya apa hubunganmu dengan Donghae-Donghae itu?"

Entah sudah berapa kali Sungmin menanyakan hal yang sama kepadanya. Hyukjae hanya bisa mengangkat kedua bahunya kemudian menempelkan salah satu pipinya ke meja, karena ia sendiri tidak tahu kenapa Donghae bisa jadi seperti ini.

"Hyukjae!"

Kedua anggota organisasi sekolah itu mendapati seorang laki-laki sedang tersenyum manis kemudian menaruh sebuah nampan berisi makanan di meja yang ditempati mereka.

Sungmin melirik makanan-makanan yang ada di nampan yang dibawa Donghae. Disana terdapat sekotak strawberry milk juga. "Hey, darimana kau tahu-"

"Kalau temanmu menyukai strawberry milk?" Donghae tersenyum diikuti anggukan Sungmin.

Hyukjae terdiam. Tentu saja dia tahu.

Donghae dan Hyukjae sudah sangat mengenal satu sama lain, jadi bukan hal yang harus dipertanyakan lagi jika Donghae mengetahui segalanya tentang dirinya.

Donghae menoleh ke arah Hyukjae kemudian menyeringai. "Karena aku adalah kekasihnya,"

"…"

"Benar, kan?"

"…"

"Hyukjae?"

Hyukjae mendadak tersedak air liurnya sendiri dan berujung pada dirinya yang sekarang harus terbatuk-batuk. Sungmin melirik Donghae dengan death glare-nya sebelum akhirnya berdiri lalu menarik Hyukjae pergi dari kantin.

Donghae membalikkan badannya, ke tempat dimana Heechul, Youngwoon dan Kyuhyun duduk. Mereka bertiga tertawa keras dan Heechul mengacungkan jempolnya pada Donghae sambil terus tertawa.

-OoO-

"Argh, aku tidak bisa mengerjakannya!" Donghae merengek kemudian memendamkan kepalanya pada meja.

Hyukjae tertawa kecil sebelum berdiri untuk menghampiri kursi dimana Donghae duduk. "Hmm, biar aku lihat,"

Hyukjae mengambil sebuah pulpen dan mulai menjelaskan dengan detail cara untuk menyelesaikan soal matematis tersebut.

Donghae terperangah. "Wow, aku tidak pernah menyangka Hyukkie bisa jadi sepintar ini,"

"Sebenarnya ada untungnya juga kau tidak kembali, aku jadi banyak membaca buku untuk menghilangkan stress jika aku sudah hampir menyerah dalam menunggu seseorang,"

Donghae tertunduk, perasaan bersalah mengggulitinya. "Aku tidak akan membiarkan kehilangan dirimu untuk kedua kalinya, Hyukkie. Apapun yang terjadi, aku tidak akan pergi kemanapun. Aku…"

Hyukjae menatap dalam mata Donghae.

"…menyayangimu,"

Sore ini, mereka berdua sedang mengerjakan tugas bersama di rumah Hyukjae. Donghae –yang memang sangat lemah dalam bidang akademik– memilih mendapat pelajaran tambahan dari Hyukjae, juara kelas selama 4 semester berturut-turut di kelasnya, daripada harus mendapat pelajaran tambahan dari guru.

'Hukuman' yang diterima Donghae seharusnya telah berakhir 2 hari yang lalu. Tapi sampai saat ini ia masih terus bersama Hyukjae, hanya saja dia tidak terlalu berlebihan seperti saat ia sedang menjalani 'hukuman' itu. Hyukjae sama sekali tidak mengetahui tentang pertaruhan itu, tapi sekarang ia merasa lebih tenang karena dia lelah untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah karena kata-kata manis yang selalu Donghae utarakan kepadanya seminggu terakhir ini. Bahkan sekarang Donghae juga dekat dengan anggota-anggota organisasi sekolah, dan seseorang sangat tidak suka melihatnya.

Donghae mungkin tidak mengetahui bahwa dirinya, yang merupakan anggota dari grup yang seharusnya saling membenci dengan anggota-anggota organisasi sekolah.

-OoO-

"Lee Donghae,"

Donghae yang sedang berjalan kaki ke rumahnya sepulang sekolah sontak menghentikan langkahnya, menoleh ke arah si pemanggil. "Heechul hyung?"

"Apa kau tidak menyadari kalau 'hukuman'mu sudah berakhir 3 hari yang lalu?" Heechul berjalan mendekati Donghae diikuti Youngwoon.

"D-dimana Kyuhyun?"

"Apa kau sedang mencoba untuk mengalihkan pembicaraan?" Heechul menyeringai tanpa sedikitpun menoleh ke arah Donghae. "Tapi, jika kau benar-benar ingin tahu, dia ada di gudang sekolah, dengan luka memar dan darah di sekujur tubuhnya,"

"A-APA!?" Donghae tidak dapat menyembunyikan rasa keterkejutannya. Dia telah bersiap untuk berlari kembali ke sekolah namun ditahan oleh Youngwoon.

"Tahan sebentar, Donghae. Dia tidak tewas,"

"Lalu apa yang kalian lakukan disini? Kenapa kalian tidak menyelamatkannya!?"

Heechul menepuk pundak Donghae dari belakang. "Bagaimana kalau aku bilang; karena kami yang membuatnya seperti itu?"

Donghae membelalakkan matanya, tak percaya dengan kalimat yang baru didengarnya.

"Kau tahu kenapa dia harus dibuat seperti itu?"

Donghae memilih diam, menunggu perkataan Heechul selanjutnya.

"Karena dia mendekati Lee Sungmin, salah satu anggota organisasi sekolah,"

Donghae mendecak dalam hati begitu menyadari kemana arah percakapan ini yang sebenarnya.

"Jadi, Lee Donghae, jika kau tidak mau berakhir seperti dia," Heechul menarik nafasnya pelan. "Jauhi ketua organisasi sekolah itu,"

"Kau tidak bisa melakukan itu!" Donghae nyaris berteriak, wajahnya merah padam penuh amarah.

Heechul mendengus. "Kenapa? Aku sudah baik-baik mau menyekolahkanmu disini setelah orangtuamu meninggal, apa ini bentuk rasa terima kasihmu? Atau yang lebih parah, apa kau memang ingin melihat Hyukjae itu berakhir di pemakaman?"

Donghae terdiam, kedua tangannya dikepalnya kuat-kuat. Dia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang selain menuruti perintah Heechul. Karena Heechul, tidak pernah sekalipun bermain-main dengan perkataannya.

-OoO-

Hyukjae merintih kesakitan ketika merasakan punggungnya dibenturkan ke dinding kamar mandi.

"Lama tidak bertemu, ketua organisasi sekolah,"

"Heechul-ssi," Hyukjae mencoba mengatur nafasnya. Dia baru saja akan keluar dari kamar mandi sekolah pada siang itu begitu sekelompok orang yang sudah tak asing lagi baginya masuk dan salah seorang dari kelompok itu menarik kerah seragamnya lalu membenturkan punggungnya ke dinding. Hyukjae tak sempat menghindar karena dia sama sekali tidak mempersiapkan dirinya untuk hal seperti ini. "Apa maumu?"

Heechul mengangkat dagu Hyukjae dengan jari telunjuknya sehingga sekarang mereka berdua benar-benar bertatap muka. "Aku hanya ingin memperkenalkanmu dengan anggota baru kami,"

Heechul melepaskan cengkramannya pada kerah seragam Hyukjae kemudian mendorongnya keras sehingga sekarang Hyukjae terjatuh dengan dadanya yang membentur lantai.

"Lee Donghae adalah anggota baru kami, jika kau belum tahu," Heechul menunjuk seorang laki-laki berambut coklat yang berada di dekat pintu kamar mandi sambil menekankan kata 'adalah' yang ia ucapkan. "Kemarilah dan temui ketua organisasi sekolah kita, Donghae, kuyakin dia akan senang bisa menemuimu disini,"

Hyukjae membeku. Dia sama sekali tidak percaya Donghae ada diantara mereka. Bahkan ketika ia mendengar suara langkah kaki mendekatinya, Hyukjae mengatakan pada dirinya sendiri kalau itu tidak mungkin suara langkah kaki Donghae.

"… Aku…"

Suara langkah kaki itu berhenti. Hyukjae menutup kedua matanya erat-erat. Ia merasakan badannya dibalik kemudian kerahnya ditarik sehingga ia harus berbenturan dengan dinding lagi.

"…menyayangimu,"

"Berhenti menatapku seperti itu,"

Orang itu memang ada di hadapannya, tapi Hyukjae sama sekali tidak mengenalinya. Donghae tidak mempunyai mata yang dingin seperti itu. Tidak pernah sekalipun dalam hidupnya dia melihat Donghae yang seperti ini.

Tanpa menunggu persiapan apapun darinya, Hyukjae merasakan sebuah tendangan keras mengenai tulang iganya dan ia hanya bisa tersungkur ke lantai dan merintih kesakitan. Donghae kembali mencengkram kerah lehernya lalu memberikannya sebuah pukulan keras di pipi kanannya sebelum Hyukjae sempat benar-benar menyadari apa yang sedang terjadi.

Heechul menghampiri tubuh Hyukjae yang terbaring lemas kemudian menendangnya. Tidak ada respon. Namun jantung Hyukjae masih berdetak dengan cepat dan dadanya naik-turun menandakan kalau ia masih hidup.

"Bagus, Donghae," Heechul menepuk-nepuk punggung Donghae kemudian pergi meninggalkan kamar mandi itu diikuti Youngwoon.

"Hae akan melindungi Hyukkie …", "Apapun yang terjadi, aku tidak akanpergi kemanapun,"

Maafkan aku, Hyukkie.

.

.