Halaman Review !
Riztichimaru : Polos bgt emank, sama kayak authornya *dilempar ke sungai nil*
Zephyramfoter : Gra2 kamu ngomong gitu, Jadi pengen gambar Neji dgn rambut pendek.. xDD
Ella-cHan as NaGi-sAn : Haha.. syukur deh klo kamu suka xDD
Deidara' Katsu-himeUn : Salam kenal jugaa.. oke saia ngerti mksdnya AU (pertama x liat sangkain AU tuh = AUah gelap) *ngaco*
Ditha spenyk : *inosen* saia nggak nemu kilatnya, jadi nggk bisa update pke kilat.. xDD termasuk lama nggak saia ng-update'a?
Kurnia : Penname-mu tuh susah ya ditulis (slah mlu ngetiknya, mkanya pke nama asli) xDD ketuker gender? Hanya tuhan yg tau (lho?)
Akasuna no NiraDEI Un : btul btul btul… saia juga nggak tau bkalan berubah ato nggak *ditimpukin massa* hehe.. pasti kok, tp gak pasti (?) silahkaan…
Karinuuzumaki : mksdnya fic ku utk anak2? *maaph rada bolot* udh di kasi OOC di chpter 2 tp chap 1 nggak kesampean) xDD
Sweet's strawberry : Oke siip! Baca terus yaa! *ditabok karna maksa* xDD
Tobi-kun : gapapa xDD Hadooh, si Tenten udah ngasah golok tuh di dapur gue… wkwkwk
aRaRaNcHa : dia nggak bencong (klo bencong kan suka dandan kyk ce. Tp rambutnya? Intinya biar rambut panjang, Neji tetep Kakkoi ^o^) nah si Neji ntu, cuman seleranya aja yg beda.. kayak cewek.. hohoho! *sbnernya author jg nggk tega huhuhu, curhat* istilah lainnya Otomen = co yg kecewek – cewe-an
Pokok'a NejiTen SlamaLama'a : Neji doank sih yg berambut panjang.. jadi imej'a cocok bgt *disambit* hehe
~ Desclaimer : ~
Masashi Kishimoto
~ Warning : ~
Don't Like Don't Read, OOC, bahasa rada aneh mohon maklum, No Yuri/Yaoi, No hentai, rada Lebay mungkin
~ Story : ~
Mine
~ Title : ~
Time For Cooking!
Normal POV
Pagi yang lain telah datang, nyonya Hyuuga a.k.a ibu Neji sudah menyiapkan sarapan untuk anaknya pagi itu. Neji kelihatannya belum beranjak dari ranjangnya. Saat sang ibu melihat kondisi Neji, dapat diketahui kalau saat ini anaknya sedang sakit
"Waah.. suhu tubuhmu sampai 40 derajat. Kuambilkan kompresan sebentar ya. Hari ini kau istirahat saja, tidak usah pergi ke sekolah…"
"Eh? tapi hari ini Neji ada ulangan…"
"Ya ampun.. sudahlah Neji, kau kan masih bisa ikut ulangan susulan… Hhh.." ibu Neji pergi mengambilkan kompresan. Setelah itu, dicelupkannya handuk kecil ke dalam air kompresan dan di perasnya handuk tersebut
"Khh…" Neji merasakan air tersebut cukup dingin.
TING TONG TING TONG TING TONG TING TOOOONNNGG
Bel disamping pintu gerbang rumah Neji ditekan oleh seseorang dengan kasarnya. Terdengar sebuah teriakkan "WOY!" dari seorang cewek.
'Ya ampuun…' Ibu Neji hanya menghela nafas, kemudian membukakan pintu rumah. Terlihat sesosok perempuan yang sudah berdiri dengan ketidakmanisan-nya didepan pintu.
"Kamu… meloncati… pagar?" tanya nyonya Hyuuga bingung
"Ekh…!" Tenten kaget, orang yang sedang berdiri di depannya saat ini terlihat asing dan sama sekali tak dikenal, "I..iya.." ia hanya menunduk malu, kebiasaan tidak baiknya ketauan
"Kamu… siapanya anakku?"
"Teman… Neji Umm.."
"Ooh.. perkenalkan, saya ibunya Neji. Saat ini Neji sedang sakit. Jadi, hari ini ia tidak sekolah dulu. Kamu bisa izinkan anak saya kan?" sekejap ibu itu langsung tersenyum dan membuat pancaran sinar wajahnya terlihat berbeda dengan yang tadi.
"Baiklah…" Tenten tersenyum, kemudian membalikkan badan dan berbegas pergi meninggalkan rumah Neji.
Namun, tiba – tiba suara nyonya Hyuuga terdengar lagi..
"Tunggu!" Tenten yang menyadari dipanggil, kemudian berbalik
"Ada apa?" ia berusaha terseyum sebisa mungkin
"Hmm.. siapa namamu?"
"Ten… Tenten… " jawabnya singkat
"Ok, Tenten Mm… bisa… minta bantuan?" ucap ibu Neji dengan wajah gusar
"Memangnya ada apa?" tanya Tenten penasaran
"Kau… bisa…. Membuat anakku Neji…. Menyukaimu?" kata – kata nyonya Hyuuga membuat Tenten membelalakkan matanya.
"Su… suka? Tapi… Mm.. anda yakin kalau saya…"
"Tolonglah! Ini permohonanku seumur hidup.. aku, hanya bisa bergantung padamu nak…" omongan Nyonya Hyuuga terputus sebentar, "Pokoknya, tolong.. buatlah Neji menyukaimu" wajahnya terlihat agak sedih. Namun Tenten kurang memperhatikan, karena saking senangnya ia saat ini.
"Ta.. tapi… Ke… kenapa?" Tenten memastikan apakah ibu Neji benar – benar nggak salah ngomong saat ini.
"Pokoknya…. Aku merestuimu.. tolong ya. Kumohon!" inilah ucapan terakhir nyonya Hyuuga. yang diakhiri dengan senyuman, kemudian ia masuk kedalam rumah. Tenten masih bengong, nggak percaya bahwa akan mendengar kata 'Merestuimu' dari mulut ibu Neji
Mama Neji POV
'Aku nggak bisa meminta tolong lagi kepada orang lain. Entah kenapa, aku pikir akan berhasil kalau anak itu yang kumintai tolong. Hanya inilah satu – satunya cara untuk mengubah Neji. Kalau ia menyukai seorang perempuan, aku yakin, lambat laun sifatnya akan berubah seiring dengan berkembangan rasa sukanya… aku mohon ya tuhan… buatlah anakku berubah menjadi cowok yang sesungguhnya..' aku hanya bisa bergantung kepada perempuan yang bernama Tenten itu. semoga saja, ia berhasil membuat Neji berubah….
Tenten POV
'Gi.. GiMANA INI? Aku harus apaaaa? Berarti, mamanya Neji setuju donk kalo aku pacaran sama Neji… kyaaa! YOSH! Kalo begini, aku harus semangaaat! Masih ada harapaan Tenteeeeen!' aku panik, senang, bingung, semuanya bercampur aduk sepanjang perjalanan menuju sekolah.
Hingga bel Istirahatpun berbunyi, aku menemui Hinata.
"Hinata…!" Hinata berbalik, dan tersenyum lembut saat mengetahui bahwa akulah yang memanggilnya
"Ada apa nee-san?"
"Hmm… TOLONG, ajarkan aku memasak yaa!" ucapku menggebu – gebu sambil memohon kepada Hinata.
"Hha?" Hinata kelihatan bingung. Itu wajar saja, karena ia tahu bahwa aku nggak bisa dan nggak suka masak.
"Mmm… ayolah tolong aku Hina-chan… ya? Mau ya? Pliss…" kali ini kukuatkan lagi permohonanku
"Ngg.. ba.. baiklah.." akhirnya Hinata menyetujuinya, "Tenten-nee mau memasak untuk Neji-nii ya?"
"He eh… Tolong ya! Saat ini kudengar Neji sedang sakit…. Jadi setidaknya aku ingin memberikan sesuatu untuknya.. yaa, mungkin aja dia bisa sembuh dari sakitnya hehehe.." aku hanya bisa cengengesan dan mengerlingkan mataku saat mengucapkan kata 'tolong'
"Hm.. kalo begitu, pulang sekolah nanti Nee-san kerumahku ya?"
"Oke!" kemudian kudekatkan bibirku ke telinganya, dan berbisik "Sebagai imbalannya, kuberitahu apa yang disukai Naruto selain Ramen… hehe" mendengar ucapanku, Hinata hanya ber 'Ehh?' ria dengan wajahnya yang memerah
semua orang tahu, gini – gini aku seorang wakil osis. Seluruh data pribadi siswa kumiliki secara detail. Baik kudapatkan dari menginterview mereka, sampai memantau mereka ataupun dari gosip yang tersebar. 'Kalau sekedar Naruto sih, aku tahu banyak.. soalnya dia satu – satunya murid yang paling MENONJOL di sekolah.. haha'
Dikelas,
Hari ini ulangan Matematika. Untunglah, otakku masih bisa kugunakan.. seusai sekolah, langsung saja aku segera menemui Hinata. Tak kusangka, yang akan ikut pergi kerumah Hina-chan bukan hanya aku saja, melainkan Ino, Sakura, bahkan Temari pun ada!
"Mau masak buat yayank Neji yaa?" mereka berempat meledekku…! Dasar! aku hanya bisa teriak dan membalas, *author : cuih! Ya..yank? Hoeek!*
"Biar kutebak, Sakura dan Ino buat Sasuke.. Temari, buat Shikamaru dan Hinata untuk NARUTO pasti… hihihi" ucapanku barusan mendatangkan teriakkan
'kyaa! !' dari Sakura dan Ino,
'Ehh?' dari Hinata yang tentunya dengan wajah semerah buah pome a.k.a delima dan
'Huh' dari Temari, sementara mukanya sedikit timbul semburat bocah Konoha…
Di Perjalanan,
"Tenten-nee, kenapa nggak ngasih kado aja sama Neji-nii? Jadi kan, Nee-san nggak perlu cape – cape buat masakan…" ucap Ino kepadaku
"Yaa… sekali – kali, aku kan pengen ngasih hal lain yang bukan berupa kado…" aku cuman nyengir kecil saat itu
"Kasih cinta dooong" Ino membalas gaje
"Eaaa… Bahasa lo NAJIS.." Sakura melirik Ino dengan nistanya. Ampun deh, kalau sudah bersama dengan mereka, 'seharipun hidupku nggak akan bisa tenang…'
"Memangnya kalian semua ngapain minta bantuan memasak sama Hinata? Jangan – jangan kaliaan… nggak bisaa…" sebelum ucapanku diteruskan, mereka berdua *InoSaku* sudah mengangguk dan menunduk malu. Sementara Temari hanya tersenyum, entah berarti 'ya' atau apa, aku kurang ngerti soal Temari.
"Hyaaa! Ternyata aku punya temaaan… yeeei! kukira hanya aku saja yang nggak bisa masak…!" aku memeluk mereka semua. suaraku barusan membuat wajah mereka kembali tersenyum bahkan tertawa geli.
"Ah Nee-san! Kukira mau meledek.. huuuu!" ujar Ino dan Sakura, sementara Temari hanya menyunggingkan senyuman kecil.
Tak lama berjalan, akhirnya kami sampai di depan sebuah rumah model kuno khas jepang milik Hinata
"Silahkan.." suara Hinata terdengar lembut di telingaku. Aku dan yang lainnya segera masuk ke dalam rumah.
Di dapur,
"Mohon bantuannya yaa Hinata!" ucap seluruhnya dengan serempak
"Em" lagi – lagi Hinata tersenyum, kemudian mengambilkan peralatan masak yang akan digunakan
Normal POV
"Inoo… ambilin bumbu karenya doonk.."
"Nih Jibar (Jidat Lebar).." sambut Ino sambil memberikan bumbu kare tersebut kepada Sakura "bilang apa?"
"Makasih jelek…" ucapan Sakura barusan membuat Ino menjitak kepalanya.
Ino and Sakura's heart voice :
'Kare buatanku PASTI disukai Sasukeeeee! Aku takkan kalah dari si Jidat lebar / si Babi gondrong itu!'
Tak lupa, death glare-pun diselipkan di adegan SakuIno..
-Skip SakuraNo's battle-
Selama memasak, HANYA Hinata saja yang terampil dengan jemari – jemari lentiknya
"Tenten-nee, cara memotong wortelnya seperti ini…" Hinata memotong wortel – wortel tersebut dengan rapihnya. Tidak seperti milik Tenten yang berantakan dan tak berbentuk apapun. Maklum, selama masa hidupnya, Tenten hanya bisa memasak AIR… *di lemparin kunai*
"Temari-nee, garamnya ha.. harus di tambah… bumbu penyedapnya ju..juga agak kurang" ucap Hinata sambil mencicipi kuah kare buatan Temari
"Sakura, Ino… A..anu…"
"Ada apa Hinata…?" Hinata menunjuk ke tangan Sakura dan Ino saat itu
"I..itu… tepung terigu, bu..bukan tepung kare…"
"EHHHKKKKK!" karena kebodohan dua orang dungu itu *disambit* mereka terpaksa bikin ulang..
Selama sejam LEBIH, akhirnya Kare buatan masing – masing selesai…
"Fiiiiuuuuh… gilaa, masak kare aja ribet kayak gini.." Ino menyeka keringat di dahinya
"Itu karna kamu bodoh… lihat! Punyaku lebih harum dan enak dibanding milikmu.." ucap Sakura yang cuman manas – manasin Ino.
Dan mereka berduapun melanjutkan pertengkaran yang dimulai sejak berumur 3 Tahun sampai sekarang! (16) *Fuun mulai ngaco*
-SKIP again, the battle of SakuraNo-
"Yeaah.. akhirnya selesai jugaa…" Tenten menghela nafasnya "Trims ya Hinata" kemudian tersenyum puas
"Haah… selesaaaaai…" Temari merentangkan kedua tangannya yang letih, dan melepaskan rasa bahagianya saat ini.
Setelah puas memasak, mereka semua berbegas pulang
"Kami pamit ya Hinata! Sampai jumpa!" seru Ino, Sakura, Temari dan Tenten.
"Mm" Hinata mengangguk. Dan masalah masak memasakpun selesai.
Tenten POV
Aku lupa memberi imbalan kepada Hinata. Sekejap, langsung saja kukeluarkan HP-ku dan mulai mengetik e-mail
To : Hinata -sensor alamat email-
Thx ya udah dibantu. Sebagai imbalan, aku kasih tau sesuatu tentang Naruto, ultah Naruto seminggu lagi lhoo! Makanan Favoritnya selain ramen adalah -sensor- setiap jam 04.00 pm pada hari sabtu, Naruto sering mampir ke taman kota sambil ngajak jalan anjingnya. (naruto punya anjing?) pergi ke kedai Ichiraku nyaris diantara jam 03.00 – 04.00 pm setiap Hari! Tapi kadang, jadwal mangkal di Ichiraku suka berubah dan dalam sehari bisa datang kesana sebanyak 2x. Setiap Rabu pagi jam 05.00 am dia suka berjalan santai melewati route pantai. Aku nggak tau kenapa hanya di hari Rabu? Meski punya anjing, dia suka segala macam barang bermotif kucing… semangat! -smile-
From : Tenten Nee-san -sensor alamat email-
'Saat ini Hinata pasti sedang tersipu manis dengan wajahnya yang sudah memerah itu deh.. hehe..' *Author : Tenten salah, Hinata nggak lagi nyengir, tapi lagi pingsan habis membaca e-mail dari Kamu*
Sambil berjalan menuju rumah Neji,
Aku terus bersemu ria bahkan sampai keceplosan tertawa kecil. Aku tak peduli, meskipun semua orang yang saat ini sedang memandangku berpikiran bahwa aku gila… karna hari ini, aku sedang dalam kondisi yang prima a.k.a Moody.
Setibanya dirumah Neji, kupencet tombol bel disamping gerbang sekali. Setelah itu, melompati pagar seperti biasanya. tapi kali ini, orang yang membukakan pintu rumah bukanlah sang nyonya Hyuuga melainkan si Neji sendiri,
"Lho? Mana ibumu? Kok malah kamu yang ngebukain pintu?" tanyaku dengan wajah bodoh
"Ha? Memangnya ada masalah kalau aku yang ngebukain? Kau sudah bertemu ibuku? Aa, dia sudah pulang barusan. Yang penting, ngapain kesini? Kau nggak liat sekarang jam berapa?" ucap Neji yang kali ini cukup panjang dan banyak tanya.
"Cerewet! Aku kan mau menjengukmu..!" ucapku kasar seperti biasa, lalu masuk kerumah Neji seenaknya tanpa dipersilahkan terlebih dahulu.
"Oi..! dasar.." aku mengabaikan teriakannya.
Di Ruang tamu,
"Ini.. untukmu" kusodorkan sebuah mangkuk bertutup yang kuisi dengan kare tadi. Dan juga, teh hijau hangat ditermos kecilku. Kutuangkan teh kesukaannya itu di gelas kaca miliknya,
"Nih minum… kudengar dari ibumu, katanya saat ini kau sedang sakit…" dia mengambil Teh yang kuberikan
"Hh… cuman panas biasa.." dan meneguk teh hijau buatanku, "Enak… kumakan ya karenya? Sudah siapkan obat sakit perut…? yaah, tau sendiri kan kalau kau itu nggak bisa masak… Haha.." ia tertawa, baru kali ini melihat ekspresinya yang seperti itu. Manis sekali…
"Kenapa bengong?" ucapnya sambil menepuk bahu ku hingga membuatku sadar dari lamunan.
"Eeh.. enggak"
"Kau lapar tidak?"
"Ha? Nggak tuh" jawabku sok, yang pada akhirnya membuat perutku murka karena keegoisanku
KRUUUK
"Haha… nggak usah bohong Tenten.. bentar ya, rasanya donat yang diberikan ibu masih ada.." ia pergi ke dapur. Aku tidak ingin menunggu, seenaknya nyelonong pergi ke lantai dua. Secara tidak sengaja aku melihat sebuah pintu kamar terbuka. Otomatis, hal tersebut membuatku datang ke kamar itu.
Neji POV
"Fiuh… donatnya masih ada 2…" segera kuambil dari kulkas dan kuletakkan di ruang tamu bersama segelas jus jeruk.
"Tenten ini…" aku baru sadar bahwa Tenten tidak ada di ruang tamu saat itu. kucoba cari disekitar lantai satu tapi ia tidak ada. Sampai akhirnya, aku berlari kencang menuju kamar.. dan ternyata feeling-ku benar. Saat ini Tenten terbujur kaku di depan pintu kamarku..
"Neji… i..ini…" suara lirihnya membuatku sadar, bahwa Tenten tidak bisa lagi dibohongi.
-TBC-
Dibawah ada Sakura en Ino side story tuh.. *nunjuk2 ke bawah* klo mau, silahkan dibaca… *nyengir lebar* Jaa~ tunggu next chap-nya ya.. dan kalo ada waktu, intip yaa gambar cover chap 3 ini.. hehe
*promosi*
*ditendang ke laut mati ama readers*
Summary Chapter 4 :
Akhirnya rahasia terkuak! Terus, terus.. Karena terlalu lama di rumah Neji, akhirnya Tenten kepaksa nginep! Muahahaha.. seperti apa yaa? Tunggu aja.. *Ditampol readers* yang pastiii, yang pastii... ehem.. sudahlah *ga mau ngumbar chap 4*
Sakura and Ino Gaiden *wkwkwk*
Sakura dan Ino berlari kerumah Sasuke secepat mungkin setelah mereka selesai memasak Kare dirumah Hinata,
"Sakura tungguuuuuu!" Ino berlari mengejar Sakura. Hingga mereka tiba disebuah rumah tua milik keluarga Uchiha.
"SASUKEEEE…! ! !" teriak mereka berdua ganas sambil menggedor – gedor pintu dengan ketidak-sopanannya *Author : ini sih, sampai sepuluh ribu tahun lagi juga.. Sasuke nggak bakalan suka ama lo berdua kalee…* -PLAK!- *author dikemplang sama duo setan -PLAAAK- Sakura en Ino maksudnya*
Pintu rumah dibuka..
JEREREREREEENNNGG
"Ya?" tanya seorang Uchiha remaja yang saat ini sedang kuliah di Universitas -sensor-
"ITACHI-NII Aduuuh~~ Nii-san, Sasukenya manaa yaa?" ucap mereka berdua sok dimanis – manisin. Padahal wajah mereka saat ini udah cukup membuat Itachi merinding *What?*
"Sasuke… pergi ke Aussie sama orangtua kami barusan, semenit yang lalu. Pulangnya minggu depan…. Kalo cuman punya urusan sama Sasuke, lebih baik pulang sana.. bye" ucap Itachi datar kemudian menutup pintu dan kembali masuk kedalam rumah.
*sebenernya Itachi ngiri karna dia nggak diajak pergi jalan – jalan. Makanya ngomongnya rada sinis gitu*
*Itachi nangis gaje dipojokkan kamar*
Sementara Sakura en Ino,
"Sa.. Sasuke…Ke.. Ke.. KELUAR NEGRI! ! ! !"
"Yang lebih parah lagi… Ba.. Ba… BARUSAN PERGINYAA! ! !"
"HAAAAHHHHH?" mereka berdua cengo kayak monyet nggak kebagian kacang. seketika kuah kare ditangan mereka jatuh ke tanah. Dan angin pecundang datang berhembus melewati mereka…
HYUUUUU~
End
Reader : GA… GAJEEEE! ! ! !
