EDIT CHAPTER 2. REPUBLISH.

Karena kemarin memaksakan diri update kilat, hasilnya malah kurang maksimal. Maaafkaan sayaa T-T makanya ini saya edit dulu chapter 2 jadi gak terlalu terkesan buru-buru. Ide saya sedang agak buntu. Sekali lagi saya mohon maaf.

Ohya, ralat umur masih kok. Di prolog kan saya nulis usia NaruSakuSasu 20 tahun & Kakashi 30, ini saya ubah. Aneh ajasih terlalu muda. Jadi :

Naruto, Sasuke, Sakura : 25 tahun

Kakashi : 45 tahun

.

.

CRIMSON PROJECT (CRIPT)

Chapter 2

Disclaimer : Naruto punya Masashi Kishimoto ya :D

Genre : Science fiction, romance

Pairing : Naruhina, Sasusaku

Warning : typo, OOC, belibet, gaje dan lain-lain.

.

.

.

Rumah, sekolah, kantor, dan gedung-gedung lain sudah tak dapat dibedakan. Semua luluh lantak hanya menyisakan puing-puing yang berserakan. Langit pun tak lagi berwarna biru cerah, yang ada gelap, campuran abu-abu dan merah karena seluruh kota, tidak bukan, seluruh planet terbakar. Suara ledakan dan jeritan sudah bagaikan musik di telinga. Bom dan misil itu entah datangnya dari mana, tak kunjung berhenti meledak dan memporakporandakan kehidupan. Apa memang tujuan mereka untuk memusnahkan semuanya tanpa pandang bulu? Tapi siapa yang melakukannya? Kenapa?

Kepalanya pusing, nafasnya sesak, lengannya terus mengeluarkan darah. Pikirannya dipenuhi kekhawatiran mengenai keluarganya. Di mana ibu, ayah, dan adiknya? Apakah masih hidup? Ia terus berjalan tidak peduli dengan granat yang terus berjatuhan bagai meteor. Ia tak tahu lagi ada di mana. Tempat sekitarnya sudah tidak bisa dikenali, hanya ada reruntuhan yang terbakar. Panas, sakit. Sampai terdengar suara yang sangat dikenalinya di tengah kekacauan tersebut.

Berjalan tertatih-tatih ke arah sumber suara dan ia menemukan ayah, ibu dan adiknya yang terjebak di bawah puing yang merupakan rumah mereka sendiri. Ia panik, ibu dan adiknya tampak sudah tak sadarkan diri dengan hanya kepala mereka saja yang terlihat di antara serpihan bangunan.

"Nak, kau.. uhuk-uhuk.. harus selamat."

Mendengar ayahnya yang masih hidup dan berbicara padanya dalam keadaan sangat memprihatinkan membuatnya semakin panik. Tangan kecilnya meraih kayu-kayu dan batu bata untuk membebaskan keluarganya, tetapi usahanya sia-sia, malah hanya meninggalkan luka lecet semakin banyak di telapak tangan.

"Dengarkan ayah. Mungkin ini adalah pertemuan terakhir kita. Tetaplah hidup..."

"AAAAAAAAA...!" Gadis itu terbangun dari mimpi buruknya, terduduk dengan nafas tersengal-sengal dan keringat dingin yang mengucur deras. Cairan bening terus mengalir dari sudut matanya. Seluruh tubuhnya terasa sakit. Samar-samar ia memperhatikan sekelilingnya. Ruangan dengan cat biru muda sewarna langit, perabotan yang tampak asing dan aneh. Tempat apa ini?

"Kau sudah bangun ternyata. Maafkan aku tadi malam menabrakmu. Sudah kupanggilkan dokter pribadi untuk merawat lukamu. Aku tak ingin berurusan dengan polisi jika membawamu ke rumah sakit. Semalam kau mabuk ya?"

Bukannya menjawab, sang gadis malah kembali berteriak sambil melempar bantal ke arah pintu, tempat orang yang baru saja bertanya dengannya tadi berdiri. Ia meracau tidak jelas. Kemudian berdiri dan hendak keluar melalui jendela.

"Hei ini lantai 7. Tenang saja aku tidak akan berbuat yang aneh-aneh. Kalau mau pulang biar kuantar saja sekaligus aku akan bertanggung jawab menjelaskan ke keluargamu." Seseorang tadi yang tak lain adalah Naruto mencengkeram pergelangan tangan si gadis yang terus berontak dan mengucapkan kata-kata yang tidak dimengerti Naruto. Karena kesal, Naruto meraih bahu gadis berambut panjang itu dan membuat mereka berhadap-hadapan.

.

.

.

Apartemen Naruto, 15 Agustus 20XX

06.30 AM

"Namaku Namikaze Naruto. Panggil saja Naruto. Kau sendiri?"

Mereka telah duduk di meja makan sambil menikmati roti bakar. Eh bukan, ternyata hanya Naruto saja yang makan sementara gadis di depannya menatap kosong ke piring berisi roti bakar selai stroberi yang masih utuh. Gadis itu akhirnya bisa tenang setelah menatap mata Naruto. Ia seolah terhipnotis pesona safir yang sejernih samudera itu.

Tidak mendapat jawaban, Naruto kembali mengutarakan pertanyaan.

"You aren't Japanese? I've been talking to you and you don't even answered."

'Jangan-jangan dia memang bukan orang Jepang. Tapi diajak bicara bahasa Inggris juga tidak ada respon. Padahal cantik loh. Ehh..' Batin Naruto.

Tiba-tiba gadis itu berdiri dari meja makan dan merogoh saku bajunya. Setelah menemukan kertas dan pena, ia menggambar sesuatu. Selesai, dan ia langsung menyodorkan kertas tersebut ke wajah Naruto. Di situ ia menggambar jalan, hutan, dan suatu benda berbentuk lingkaran yang ia tandai dengan warna tinta berbeda. Naruto cukup cerdas untuk memahami gambar itu.

"Baiklaah kuantar kau ke sana."

.

.

.

Istana Negara Konoha, 15 Agustus 20XX

08.00 AM

Setelah pertemuan antara Namikaze Minato dengan Hokage kemarin, Konoha akhirnya menemukan titik terang mengenai wabah penyakit di distrik Ame. Obatnya pun sudah didapat dan penyebaran penyakitnya sudah bisa dihentikan. Rencananya hari ini obat tersebut akan diberikan kepada para pasien. Tim yang ditugaskan untuk itu sudah berangkat ke Ame sejak pukul tujuh. Dan saat ini Minato kembali menghadap sang Hokage.

"Tsunade-sama, Saya menerima laporan dari tim yang menangani proyek senjata biologis bahwa senjata tersebut tidak bisa diselesaikan dalam waktu dekat ini." Minato mengawali pembicaraan.

"Senjata itu harus segera selesai. Anda juga tahu kan kekuatan maritim Suna mulai mengancam perbatasan laut. Mereka tidak segan-segan melanggar perbatasan dan menyandera nelayan setempat."

"Ada kabar buruk mengenai proyeknya. Salah satu ilmuwan mengalami kecelakaan saat percobaan penggunaan senjata dan saat ini sedang dirawat di rumah sakit. Keadaannya kritis."

"Bagaimana itu bisa terjadi? Sebegitu berbayahakah senjata itu?"

"Sangat, sangat berbahaya. Serum berisi bakteri dan virus dalam senjata tersebut dirancang untuk menghilangkan kesadaran sehingga korban dapat dikendalikan dari jarak jauh. Setelah tidak berguna lagi, dapat dilakukan induksi virus hingga terjadi pendarahan internal di sekujur tubuh."

"Dan ilmuwan tersebut masih hidup?"

"Dia sangat beruntung karena senjata tersebut belum sempurna dan seharusnya dibuat sangat spesifik untuk sel kulit orang Suna. Jadi akibat yang ditimbulkan hanya koma dan pendarahan kecil di tangan."

Mendengar hal itu Tsunade tak kuasa menahan emosinya. Kalau saja ia bukan Hokage yang harus menjaga sikap, pasti meja di depannya sudah terbalik dan bahkan hancur. Ia berpikir keras. Ini menyangkut rakyat Konoha.

"Aku tak pernah memerintahkan pembuatan senjata sekejam itu! Aku tahu ini perang, tapi sangat tidak etis membuat manusia sekarat dan mengendalikannya semacam zombie. Orang itu berhak mati dengan cara yang baik, lebih baik langsung mati daripada sekarat terus menerus di bawah kendali orang lain. Selain itu, kalau proyek ini sampai bocor ke Suna mereka bisa menyerang kita sekarang juga. Apalagi saat ini kondisi kita lemah karena keadaan di Ame. Sudah kuputuskan, untuk menghindari lebih banyak korban dan pertumpahan darah, Crimson Project dihentikan! Semua dana pemerintah untuk proyek akan ditarik hari ini juga."

Wanita cantik yang sudah tidak muda lagi itu mengakhiri pidato singkatnya dan langsung menghubungi staff terkait untuk mengurus penarikan dana.

Minato terdiam, tak bisa berkata-kata lagi. Semua rancangan cara kerja senjata itu dibuat oleh Kakashi. Dan Minato pun sangat mengerti alasan Kakashi melakukan itu. Namun salahnya juga dari awal tidak menjelaskan detail proyek kepada Hokage. Sekarang keputusan Godaime Hokage sudah bulat. Ia hanya bisa memberikan kabar ini ke Kakashi dan segera menutup lab untuk Crimson Project.

.

.

.

Jalanan Konoha, 15 Agustus 20XX

08.00 AM

Sepanjang perjalanan dari apartemen Naruto, dua orang yang berada dalam mobil itu tak mengucapkan sepatah kata pun. Mereka tenggelam dalam lamunannya masing-masing. Pikiran Naruto dipenuhi pertanyaan siapa gadis misterius ini? Kenapa dia bisa ada di hutan tengah malam? Sementara gadis di sebelahnya entah memikirkan apa. Pandangan matanya dipenuhi ketakutan, kekhawatiran dan ekspresi kesedihan yang sangat terlihat.

"Naah seingatku di sini aku menabrakmu. Di dekat patokan bertuliskan 10km Konoha dan bekas ban mobil di aspal jalan ini karena aku mengerem mendadak." Naruto berucap sambil menunjuk-nujuk jalan itu berharap gadis itu paham isyaratnya.

Bukannya memperhatikan Naruto sang gadis malah langsung melangkah tertatih-tatih ke dalam hutan. Lukanya belum sembuh. Tidak peduli, ia menerobos lebatnya tumbuh-tumbuhan yang ada. Kepalanya mengook ke sana kemari melihat sekeliling, seperti mencari sesuatu. Matanya tiba-tiba berubah, namun tidak disadari oleh Naruto yang sedari tadi mengikutinya sambil terus terheran-heran. Akhirnya ia menemukan benda itu!

'Kenapa dia langsung lari seperti kesetanan begitu sih. Padahal masih sakit. Untung saja di sini tidak ada hewan buas.' Batin Naruto.

Benda yang ditemukannya benar-benar di luar dugaan Naruto. Ia tidak tahu apa namanya dan sulit juga untuk mendefinisikannya. Yang jelas hanya dengan melihat benda aneh itu Naruto langsung diam terpaku sampai-sampai membuka mulutnya.

"Wuaahh apa ini? Bentuknya seperti shuriken di anime favoritku waktu kecil. Tapi ukurannya besar sekali!" Hancur sudah image tampan yang ada pada Naruto karena sekarang dia memasang tampang bodoh seperti dirinya ketika masih anak-anak dan mendapat mainan baru.

Keterkejutannya semakin menjadi ketika pintu shuriken(?) itu terbuka dan tentu saja sang gadis masuk ke dalam. Karena penasaran Naruto mengikutinya. Bagian dalamnya lebih mencengangkan lagi. Seperti interior pesawat yang ada di film-film Ultraman, penuh dengan alat yang tampak canggih. Suara asing itu mengalihkan Naruto dari ketakjubannya. Ketika ia menoleh gadis berambut panjang itu tampak sedang menatap layar monitor seperti layar laptop yang menampilkan sebuah video. Tak ingin ikut campur, ia memilih untuk melihat-melihat sekeliling.

Beberapa saat kemudian terdengar suara isakan. Naruto yang sedang mengamati sebuah gulungan aneh di meja yang juga aneh mengalihkan pandangannya. Perasaan aneh mengganggu pikirannya. Ia benci mendengar ataupun melihat wanita menangis. Ia tak tega dan mulai khawatir. Mungkin ini hanya salah satu bentuk simpati Naruto terhadap orang yang sudah dicelakainya.

Perlahan ia mendekati sang gadis yang duduk dengan kepala tertunduk. Bahunya bergerak-gerak tanda ia sedang menangis. Monitor di depannya sudah mati. Naruto berdiri di sampingnya menepuk bahunya. Gadis itu tak kunjung menoleh. Malah tangisnya semakin pecah. Kening Naruto berkerut, ia tak tahu harus bagaimana. Berbicara dengan gadis ini saja sudah sulit. Ditambah menangis pula. Naruto juga heran, sejak semalam dengan luka yang ada di tubuhnya gadis ini tidak pernah menangis. Tapi di sini, di dalam benda unik ini malah tiba-tiba air matanya tumpah begitu saja.

Entah apa yang sedang merasukinya, Naruto menurunkan tubuhnya dan bertumpu pada kedua lutut. Saat tinggi mereka sudah sejajar ia melingkarkan lengannya pada tubuh mungil yang bergetar sesenggukan itu, mencoba memberikan ketenangan dalam dekapan yang hangat. Tak disangka gadis itu membalas pelukannya.

"Te-terima kasih.."

Naruto tersentak. Bagaimana bisa?

"Kau, bisa berbicara?"

"Tentu saja. Ada hal mendesak yang harus kubicarakan denganmu."

Naruto mengacak rambutnya frustrasi. Apa lagi ini?

.

.

.

Namikaze Tower, 15 Agustus 20XX

11.05 AM

"Jadi, Hokage memerintahkan Crimson Project untuk dihentikan. Aku minta kau dan timmu yang masih tersisa untuk membereskan laboratorium. Dan jaga baik-baik serum berbahaya itu. Jangan sampai menyebar atau berada di tangan yang salah." Manik safir itu menatap pria di depannya dengan serius. Siapa lagi pemilik mata indah itu kalau bukan Minato Namikaze.

"Akan segera saya laksanakan. Tapi saya mohon izin untuk membuat antidote serum tersebut. Untuk Sakura." Kakashi Hatake berkata sambil membenahi maskernya.

Minato hendak menanggapi namun suara ketukan pintu menginterupsi. Setelah membungkuk memberi salam kepada Kakashi dan Minato, Uchiha Sasuke, orang yang baru saja masuk tadi, mulai bicara.

"Ada apa Anda memanggil saya Minato-sama?"

Minato menghela nafas, tampaknya ia harus kembali bercerita panjang. Belum lagi ia juga masih harus menjelaskan pada Naruto yang tak kunjung datang. Padahal sudah dihubungi sejak dua jam yang lalu.

"Tou-san maaf terlambat. Ada apa tiba-tiba menyuruhku ke kantor?"

"Sudah berapa kali kukatakan untuk mengetuk pintu sebelum masuk Narutoo." Perempatan mulai muncul di dahi Minato.

"Ehehe maaf, kebiasaan." Naruto hanya tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Memang di depan ayahnya, Naruto bisa langsung berubah menjadi kekanak-kanakan.

Tak mau membuang waktu lagi, Minato mulai menceritakan alasannya mengundang mereka semua ke ruang kerjanya. Setelah penjelasannya selesai, Sasuke terbelalak, namun dengan cepat kembali memasang wajah datar khas Uchiha walaupun tak bisa dipungkiri perasaannya campur aduk. Kakashi yang memang sudah mendengar terlebih dahulu hanya bisa menatap atasannya denga pandangan yang sulit diartikan. Berbeda untuk Naruto, ia menunduk dengan wajah tertekuk, tangannya mengepal. Susah payah ia menahan emosi yang akhirnya tetap meledak juga.

"Lalu bagaimana dengan nasib Sakura-chan?! Apa kalian tidak akan bertanggung jawab dan membiarkannya begitu saja?!"

"Tenanglah dulu Naruto."

"Apa Tou-san sudah melihat keadaan Sakura-chan?! Belum sempat kan?! Dia belum sadar juga sampai hari ini. Selang-selang infus atau entah apa itu ada di kedua lengannya. Dokter pun tidak bisa berbuat apa-apa."

Setelah berkata seperti itu Naruto langsung pergi sambil membanting pintu. Ia kalut. Nyawa orang yang dicintainya terancam dan bahkan ayahnya sendiri seolah tak bisa berbuat apa-apa. Ia kembali memacu mobilnya ke rumah sakit tempat Sakura dirawat. Sebenarnya alasannya terlambat datang tadi pun karena mengunjungi dan menunggu Sakura berharap sang pujaan hati itu segera siuman. Namun yang ditunggu tak juga membuka matanya.

FLASHBACK ON

Rumah Sakit Konoha, 15 Agustus 20XX

09.30 AM

Saat ini Naruto akan menuju rumah sakit Konoha untuk melihat keadaan Sakura. Dan sepanjang perjalanan ia terus berdoa demi keselamatan Sakura. Sesampainya di kamar rawat Sakura, dokter sedang memeriksa keadaannya dengan ditemani dua orang perawat. Sakura terlihat sangat kurus dan pucat.

"Permisi dokter, bagaimana keadaannya?"

"Silahkan masuk dulu tuan Namikaze. Keadaan nona Haruno belum menunjukkan perkembangan yang baik. Ia masih belum sadar. Kami pihak rumah sakit belum pernah menangani kasus ini dan kami pun tidak tahu virus dan bakteri macam apa yang menyerangnya. Jadi kami hanya bisa menghentikan perdarahan dan juga menjaga asupan nutrisinya saja." Dokter dengan nametag Kabuto itu memang sudah mengenal Naruto karena dahulu keluarga Naruto lah yang mendirikan rumah sakit ini. Apalagi yang membawa Sakura ke rumah sakit juga Naruto dan Kakashi.

Tatapan Naruto berubah sendu. Ia tak tahu harus bagaimana lagi. Rasanya ada begitu banyak masalah yang menimpanya saat ini. Proyek senjata ini, perang dengan Suna, Sakura, dan gadis aneh yang tak sengaja ditabraknya.

"Sakura-chan, cepatlah sembuh. Aku merindukanmu." Naruto menggenggam tangan Sakura dengan erat sambil terus memperhatikan wajah Sakura yang begitu damai.

"Sa-sasuke-kun.."

"Ini aku Naruto, bukan Sasuke. Si brengsek itu bahkan belum menjengukmu hingga hari ini kan." Hati Naruto seakan ditusuk dengan puluhan pedang. Bahkan saat sedang koma pun hanya Sasuke yang ada.

"Tidak adakah tempat untukku, Sakura-chan?"

.

.

.

TBC

Terima kasih untuk yang sudah review, follow dan favorite Tapi saya gak bisa janji bakal update cepet T-T maaf ya daripada gabisa menepati janji nih. Berikut balasan review.

Fury F : iya kira-kira begitu._. tapi gak berhenti sampai disini kok senjatanya. Terimakasih sudah rajin review.

Yudi (Guest) : penasaraan yaa? Tunggu aja kelanjutannya. Hohoho *ketawajahat* Terimakasih sudah rajin review.

Aya' naruhina chan (Guest) : Terimakasihh banyaak*bungkukbungkuk* Loh kan ceweknya disini belum pasti hinata *senyummisterius*

Kuneko Hyuzumaki : Ciee penasaran ciee *ketawajahat* Tunggu saja ya. Terimakasih sudah rajin review.