Black Ops
Disclaimer : JKT8 is belong to Masashi Kisimoto & JOT.
Chapter 2 : Hiden package.
16 mei 2015
Semua perlengkapan pengintaian, penyadapan, dan pertahanan pribadi telah selesai di persiapkan. Kinal beserta semua anggota timnya kini tengah berkumpul untuk mengulas kembali misi mereka nanti sebelum berangkat.
"ada yang ditanyakan ?" Kinal mengitarkan pandangannya pada anggota kelompoknya. Lalu Dhike mengangkat tangannya.
"iya ?"
"setelah kita menemukan target, apakah kita akan langsung mengamankannya ?"
"tidak. Perintah kita Cuma menemukan informasi tentang keberadaan target dan kelompok yang menculiknya. Untuk selanjutnya kita akan tunggu perintah dari Kapten." Jelas Kinal. Dhike mengangguk.
"apa ada pertanyaan lain ?" Sendy mengangkat tangannya.
"bagaimana dengan kontak senjata ?"
"kontak senjata tidak diijinkan. Seperti kukatakan tadi, tugas kita Cuma mencari informasi. Selebihnya kita tunggu perintah Kapten. Jangan terlihat mencurigakan, jika mereka mulai mencium gerak-gerik kita mungkin mereka akan menghilang dan mustahil ditemukan. Mengerti ? ada pertanyaan lagi ?"
Beberapa saat Kinal menunggu, tak ada lagi yang mengajukan pertanyaan. Kinal pun memutuskan mengakhiri pertemuan mereka.
"baiklah, tiga puluh menit lagi kita berangkat."
Di kantin yang terletak di dalam gedung organisasi rahasia tersebut. Bersama dengan orang-orang lain yang juga tengah mengisi perut mereka, tiga orang gadis sepantaran duduk dalam satu meja sambil menghadap makanan masing-masing. Mereka tak lain adalah Shania, Beby, dan Nabilah. Tiga orang gadis belia yang baru saja melaksanakan misi pertama mereka setelah setahun lalu direkrut.
"dengar-dengar, konvoi pengawalan kemarin lusa disergap ya ?" tanya Beby.
"iya. Mereka dihabisi dalam sekejap. Kendaraan mereka hancur di tembak RPG. Kelihatannya penyerang mereka bukan orang-orang biasa." jawab Nabilah sembari menyuapkan makanannya.
"kak Kinal diperintahkan menyelidiki mereka." Shania menyahut. "mereka mungkin baru berangkat hari ini."
"kak Kinal memang orang yang hebat. Dia selalu dipercaya memimpin tim dalam misi level tinggi." Kata Nabilah. Shania mengangguk.
"kira-kira, apa kita akan ikut serta dalam misi ini, ya ?" Beby bertanya. Shania terlihat menggeleng.
"entahlah Beb. Kita kan Cuma anak baru."
"panggilan ditunjukkan kepada Shania, Beby, dan Nabilah. Mohon datang ke ruangan saya segera."
Dari pengeras suara yang terpasang di sudut ruangan mereka mendengar nama mereka dipanggil. Mereka mengenali suara itu.
"ada apa Kapten memanggil kita, ya ?" tanya Nabilah.
"tidak tahu. Ayo." Shania berdiri dari kursinya dan berjalan menuju ruangan Melody diikuti kedua rekannya.
"permisi Kapten."
"iya. silahkan duduk. Ada yang ingin saya bicarakan."
Shania, Beby, dan Nabilah duduk di kursi yang sudah tersedia untuk mereka masing-masing.
"ada apa Kapten memanggil kami ?" tanya Shania mewakili teman-temannya.
"begini. Saya minta kalian untuk pergi menemui komandan pasukan konvoi pengawalan itu. Ini alamat tempat dia dirawat." Melody menyerahkan sebuah kertas berisi data tentang si komandan dan tempatnya dirawat. Shania menerimanya lalu membagikan kepada kedua rekannya.
"kenapa kami harus menemuinya, Kapten ?" Beby bertanya.
"entahlah, aku punya firasat dia menyimpan sesuatu yang penting. Kalau tidak, untuk apa sang komandan berada di mobil yang terpisah dari orang yang dikawalnya. Biasanya pemimpin sebuah tim akan berada tidak jauh dari sesuatu yang ia lindungi untuk memastikan keselamatannya." Melody menatap ketiganya bergantian. "Kecuali, dia sedang mengamankan sesuatu yang lain." Beby nampak mengangguk paham dengan penjelasan sang Kapten.
"jadi kita harus mencari tahu dan mengamankan 'sesuatu' yang disimpan sang Komandan pasukan itu ?" tanya Beby. Melody mengangguk.
"benar. Kalian akan pergi menemui sang Komandan dan menanyakan barang yang ia simpan. Barang itu pastilah menjadi bagian dari Reindhart Arka. Jadi mereka-para penculik itu-mungkin sudah menyadari 'sesuatu' yang hilang itu." tutur Melody. Shania mengangguk mengerti.
"baik Kapten. Kami akan melaksanakan tugas ini dengan sebaik-baiknya." Katanya bersemangat.
"bagus." Melody tersenyum melihat semangat Shania. "sekarang kalian boleh pergi."
"siap !"
Ketiganya pun beranjak dari kursi yang diduduki sejak tadi dan keluar meninggalkan ruangan Melody.
Sebuah mobil SUV hitam berhenti halaman parkir sebuah rumah sakit. Tiga orang gadis keluar dari mobil tersebut lalu berkumpul sejenak di samping mobil, mereka melakukan sedikit pembicaraan sembari mengamati sekeliling rumah sakit.
"baiklah, menurut data yang diberikan komandan bernama Antoni Kusuma itu dirawat di bangsal yang terletak di sudut. Ruangannya dirawat pasti dijaga oleh beberapa personil." Kata Shania.
"bagaimana kalau mereka tidak mengijinkan kita masuk ? bagaimana pun keberadaan organisasi kita ini seolah-olah tidak ada, kan ?" sahut Beby. Shania tersenyum.
"tenang saja. Ini." Shania menunjukkan sebuah tanda pengenal milik departemen negara yang tersemat foto dan identitas dirinya di sana. "Kapten memberikan ini padaku tadi." Katanya.
"wah, oke. Kalau begitu kita bisa masuk." Ucap Beby. Ketiganya pun memasuki gedung rumah sakit. Shania langsung menanyakan lokasi ruangan tempat Komandan berpangkat kolonel itu dirawat pada resepsionis. Setelah mendapatkannya mereka pun berjalan menuju arah sesuai petunjuk si resepsionis.
Kamar yang mereka tuju terletak di sudut lorong terjauh. Di sana terlihat dua orang berpakaian preman berjaga di depan pintu.
"permisi, apa benar ini kamar Kolonel Antoni Kusuma dirawat ?" Shania bertanya tanpa ragu setelah tiba di depan ruangan dan berhadapan dengan dua orang berbadan kekar-kekar itu.
"ada perlu apa ?" tanya seorang di antara mereka.
Shania langsung menunjukkan tanda pengenal palsu nya. "saya ingin membicarakan sesuatu dengan beliau." Katanya tegas.
Petugas yang berjaga itu mendengus. "kalian pikir kami percaya. Badan Intelijen mempunyai anggota seumuran kalian ?" tanyanya dengan nada meremehkan. Shania mendekat satu langkah.
"kalian pikir untuk apa tugas Badan Intelijen ? untuk menyelidiki sesuatu yang sangat rahasia. Untuk itu diperlukan penyamaran yang baik. Kalian tidak percaya kan kalau kami adalah anggota Badan Intelijen. Berarti kami memang tidak akan dicurigai oleh target kami saat bertugas." Shania menatap mata petugas itu. Nampak sesaat ia berpikir lalu kemudian mempersilahkan Shania, Beby, dan Nabilah masuk.
"aku baru tahu Badan Intelijen mengambil langkah seperti itu untuk merekrut agen mereka." Gumam salah seorang di antara mereka setelah Shania san kedua rekannya masuk.
Sesampainya di dalam. Terlihat di bangsal sang kolonel berusia sekitar tiga puluh tahun dengan kumis itu tipis tengah duduk bersandar pada tepian ranjang sembari membaca sebuah buku. Kaki kirinya digips, menandakan tulang keringnya patah. Kepalanya pun di perban sampai menutupi seluruh bagian kepalanya. Ia menoleh ketika Shania, Beby, dan Nabilah masuk diiringi senyum yang menenangkan.
"selamat siang Kolonel, maaf menggangu anda di saat seperti ini." ucap Shania. Sang kolonel tersenyum.
"oh, tidak apa-apa. Aku juga bosan karena yang berkunjung akhir-akhir ini Cuma pria-pria tua." Katanya. Shania, Beby, dan Nabilah mengambil tempat duduk di samping ranjang sang Kolonel.
"jadi... ada perlu apa gadis-gadis belia seperti kalian datang menemuiku ? langsung saja." sang Kolonel menutup bukunya dan meletakkannya di atas meja di sisi kanan tempat tidurnya.
"kami perlu tahu benda apa yang anda simpan." Shania menatap sang kolonel serius. Sang kolonel pun megerutkan dahinya.
"sebenarnya kalian ini darimana ?" tanya sang kolonel. Shania tak lagi menunjukkan tanda pengenal palsunya.
"kami dari sebuah gugus tugas khusus yang sangat rahasia." Kata Shania.
Sang kolonel memperhatikan mereka satu-persatu. "bagaimana aku bisa percaya dengan kalian ?"
"anda ingat peristiwa ancaman peledakan Gedung Kedutaan satu tahun lalu oleh kelompok Garis Merah ?"
"tentu saja. Aku sendiri yang bertugas memimpin pasukan pencegahan. Tapi, akhirnya tidak terjadi apa-apa kan ? itu Cuma gertakan mereka saja."
"itu karena kami berhasil menghentikan aksi mereka. Bahkan sebelum bisa memberikan ancaman berarti." Shania tersenyum.
"apa buktinya ?"
"anda pasti juga ingat ada peristwa kebakaran hutan di hari yang sama, kan ?" tanya Shania lagi. Sang Kolonel mengangguk pelan.
"kebakaran itu disebabkan oleh bahan peledak yang tidak bisa kami jinakkan saat menyergap mereka di hutan yang sama, jadi terpaksa kami meledakkannya di tempat itu juga."
Sang Kolonel nampak berpkir sejenak, lalu menatap ketiganya bergantian.
"benda itu sangat berbahaya dan penting." Bisiknya. Sang kolonel menggerakkan tangannya ke arah laci di meja yang ada di sebelah kirinya.
"ada di situ."
Shania menoleh ke arah Nabilah. Ia paham dan berjalan ke arah yang di tunjukkan sang Kolonel. Nabilah menarik laci, lalu diambilnya sebuah disk berwarna biru polos.
"di dalamnya ada sesuatu yang besar. Kalau kalian memang dari organisasi rahasia itu aku percayakan itu pada kalian. Jangan sampai jatuh ke tangan mereka." Sang Kolonel berkata sembari menatap ketiganya bergantian. Seakan ia benar-benar mempertaruhkannya pada mereka.
"terima kasih, Kolonel. Kami akan menjaganya." Shania berdiri. "kalau begitu kami permisi dulu. Jaga diri anda." Shania tersenyum lalu berbalik menuju pintu keluar bersama kedua rekannya.
"kalian juga."
To Be Continued...
