Hola semuanya! Masih kuat untuk membaca fic gaje ini? Tak apa kalau mulai merasa mual atau pusing bisa istirahat dulu bacanya, besok atau kapan-kapan baca lagi...dhitta mengatakan ini karena dhitta sadar fic ini GAJE BANGET!

Hah terima kasih buat yang sudah bersedia membaca dan mereview! Nah langsung saja dhitta berikan sidestory terakhir dari The Shinobi Gank karena memang setelah sidestory ini dhitta ga akan buat lagi. Soalnya mau fokus sama cerita aslinya (jujur sekarang dhitta lupa sama alur shinobi gank gara-gara mikirin Kiba).

Baiklah lanjutkan! Dhitta akan berusaha agar fic ini tetap jalan! Doakan terus ya readers!

Ceritanya disini semua konflik puncak dimulai...bagaimana konfliknya? Baca saja lah!

The Shinobi Gank

Sidestory 4 : Unpredictable Kiba

" Silahkan dinikmati Tuan.." Seorang maid berpakaian khusus berwarna merah dan kuning meletakan dua piring besar berisi potongan ayam goreng fillet crispy dengan lelehan bumbu campuran madu dan lemon sedangkan yang sepiring lagi berupa potongan ayam goreng fillet juga, hanya saja berbeda bumbu yaitu dengan potongan cabai dan paprika juga lengkap dengan saus merahnya. Benar-benar menggugah selera.

" Huwaa...aku tak tahu kalau ada menu seperti ini!" Pekik Naruto heboh. Hari ini adalah hari sabtu. Dan tentunya semua orang sedang berlibur sekarang. Tak kecuali empat orang tampan ini. Mengikuti ajakan sang leader, siapa lagi kalau bukan Nara Shikamaru, para anggota Shinobi Gank sedang berwisata kuliner disekitar Tokyo. Sekitar beberapa meter dari pusat kota Tokyo mereka sekarang berada. Tepatnya disebuah restoran khusus ayam goreng yang katanya sangat terkenal itu.

Sasuke hanya memutar bola matanya bosan melihat tingkah norak sahabat kuningnya itu. Tapi bukan berarti ia tidak tertarik. Segera saja ia arahkan sumpit silvernya kearah makanan yang ada dihadapan mereka berempat. Yang menjadi pilihan pertama pria berambut hitam ini jatuh pada ayam goreng fillet crispy saus merah. Ia pindahkan dua potong ayam itu kedalam piring kecil keramiknya tak lupa dengan menambahkan sausnya.

" Enak...!" Seru Naruto. Ia masih mengunyah potongan ayam saus madu lemonnya. Dan itu sedikit membuat Shikamaru tertarik.

" Sasuke, bagaimana rasa yang itu?" Tanya Naruto. Sedangkan Sasuke hanya merem melek saat merasakan menu makan siang mereka. Bukan karena enak tapi karena kepedasan.

" PEDAS! Air..air..." Pekik Uchiha bungsu itu out of character. Membuat Naruto yang duduk disampingnya hanya melebarkan mata birunya saat menyadari lemon juice yang dipesannya tadi telah berpindah wadah keperut Sasuke.

" Teme! Kenapa menghabiskan lemon tea milikku?" Seru Naruto heboh sendiri. Pria penggemar lemon ini, err...maksudnya penggemar buah lemon ini langsung mendeath glare Sasuke.

Sasuke yang masih ngos-ngosan karena kepedasan, langsung mengangkat sebelah tangannya dan beberapa detik kemudian seorang maid datang kearah meja mereka yang ada dipojok dekat tangga. Ia kembali memesan satu lemon tea untuk Naruto.

" Hm..menurutku biasa saja, Teme! Tak terlalu pedas!" Naruto berkata dengan entengnya. Tentunya ia bisa berkata seperti itu setelah mendapat segelas lemon tea baru.

" Kau lupa Sasuke kan tak suka makanan pedas Naruto?" Tanya Shikamaru.

" Hehehe...aku lupa! Kupikir Teme kan suka makan ayam!" Ucap Naruto tanpa dosa. Menambah death glare Sasuke.

" Lagipula kenapa kau makan Sasuke?" Tanya Naruto dengan tampang yang sangat tidak berdosanya lagi. Tapi tetap tak membuat ketampanannya berkurang.

" Hn! Kupikir itu saus tomat!" Jawabnya sewot. Membuat Shikamaru yang ada disebelahnya langsung memindahkan piring kecil milik Sasuke yang berisi sepotong ayam pedas tadi dan menggantinya dengan miliknya sendiri yang masih bersih.

" Eh kenapa ditukar?" Tanya Sasuke bingung sambil menatap Shikamaru yang sedang menyantap ayam didalam piring kecilnya yang semula milik Sasuke.

" Kau kan tak suka pedas! Kalau ini dibuang kan sayang! Sudah makan saja yang ini, rasanya gurih dan agak manis asam sedikit!" Ucap Shikamaru dewasa. Sasuke hanya mengangguk setelah menggumamkan kata terima kasih tentunya pada Shikamaru yang sudah dianggapnya sudah seperti kakak sendiri. Walaupun ia sendiri memiliki kakak dan usia Shikamaru hanya terpaut beberapa bulan dengannya.

" Tak kusangka kau masih tak suka pedas!" Shikamaru berkomentar. Ia terus menyantap ayam yang ada dipiringnya.

" Ibuku tak pernah masak makanan pedas dulu! Dan sekarang chef dirumah pun tak pernah menyuguhkan makanan pedas!" Jelas Sasuke seraya mengambilkan dua potong ayam saus madu lemon kepiring Shikamaru.

Shikamaru sendiri hanya ber'oh' ria. Sedangkan Naruto mulai kembali menyantap makan malamnya, sebelum akhirnya ia memandang makhluk bernyawa yang ada dihadapannya. Siapa lagi kalau bukan Kiba. Pria berambut cokelat tua ini sama sekali tak menyentuh menu makan malam mereka. Ia malah sibuk memainkan sedotan juice melon miliknya. Ia putar sedotan itu dan terus ditekuk-tekuk sampai bengkok. Ia sedang melamun.

Shikamaru menyadari hal itu dan kembali mengangkat tangannya berniat memanggil seorang maid untuk memesan. Ada yang salah mungkin dengan selera makan sahabatnya ini. Memang dari kecil Kiba anti dengan madu juga ia tidak terlalu suka dengan paprika. Shikamaru hanya menghela napas panjang, tak seharusnya ia membiarkan Naruto memesan makanan. Alhasil inilah, ia hanya memesan makanan yang memang benar-benar ia suka. Sampai lupa dengan selera yang lainnya.

Shikamaru menyebutkan apa saja yang akan dipesannya. Maid itu sendiri hanya dapat mengangguk pelan dan menundukan wajahnya. Apalagi kalau bukan menyembunyikan wajahnya yang merona. Shikamaru hanya mendengus malas. Memang susah punya wajah ganteng.

Pesanan Shikamaru telah datang setelah beberapa menit menunggu. Seporsi besar ayam goreng fillet crispy yang diatasnya diberi saus BBQ yang menggugah selera dan beberapa mangkuk sup ayam. BBQ adalah salah satu makanan favorit Kiba. Dan semua anggota Shinobi Gank tahu itu. Tapi entah kenapa Kiba sendiri tak tertarik dengan menu makan malam yang baru dipesan itu.

" Kiba! Ayo buka mulutmu! Ayam menunggu...tuut...tuut..." Layaknya seorang ayah yang sedang membujuk anakknya yang sedang merajuk, Naruto menyodorkan sepotong ayam itu tepat didepan bibir Kiba.

1 detik

2 detik

30 detik...

Kiba belum membuka mulutnya, saus ayam pun telah menetes kebawah mengenai serbet putih yang ada dipangkuannya. Pria ini masih melamun dengan tatapan mata kosong. Namun beberapa saat kemudian bayangan akan sosok mungil yang menyuapinya makan kemarin malam melintas dalam otak Kiba. Ditambah dengan menu kemarin malam saat ia makan bersama dengan gadis itu adalah ayam dan sekarang pun ia sedang makan ayam. Sungguh sangat mirip atau mungkin kebetulan?

Dan itulah yang menyebabkan Kiba kehilangan kontrol untuk tidak tersenyum dan menyantap ayam itu. Dimatanya sekarang ini jelas ada Sasame yang tersenyum sambil menyodorkan makanan padanya.

" Terima kasih~" Gumam Kiba sambil mengelus lengan Naruto. Dan ini jelas membuat Naruto bergidik ngeri melihat kelakuan sahabatnya yang awalnya melamun ga jelas sekarang tiba-tiba mengelus lengannya lembut dan mengeluarkan senyuman mautnya seperti itu.

" Loh kok rambutmu kuning?" Tanya Kiba setelah bayangan Sasame hilang dan senyum itu tergantikan dengan tatapan ngeri Naruto.

" YA~! Kalian gay?" Teriak Sasuke mendadak sewot dan langsung menepis tangan Kiba. *jiah cemburu mas?*

" HUWAAAA! Kiba aku normal! Aku mencintai Hinata! Hinata-chan!" Pekik Naruto heboh. Sedangkan Kiba buru-buru meringis dan tertawa canggung. Tak lupa ia memasang tampang tablo. Entah kenapa tadi yang muncul dalam benaknya adalah bayangan Sasame, gadis kecil yang makan bersamanya kemarin malam. Dan jujur saja tadi ia menganggap Naruto adalah Sasame yang menyuapinya. Sungguh sangat mengerikan, sekarang pikiran pria berambut cokelat ini sudah penuh dengan gadis orange itu.

" Maaf-maaf Naruto aku tadi tak sengaja! Aku hanya sedang memikirkan...err...maksudku...ahh..lupakan!" Kiba terlihat kerepotan sendiri dengan bicaranya. Seolah lidahnya terbelit. Jujur malu juga jika ia harus mengakui bahwa ia sedang melamunkan dan memikirkan Sasame. Bisa ditertawakan habis-habisan nanti.

" Memikirkan gadis aneh berambut orange itu?" Celetuk Shikamaru enteng tanpa menatap Kiba. Ia masih sibuk dengan makanannya dan sesekali ia menyeruput jus mangga miliknya. Kiba hanya bisa membulatkan matanya.

" Da...da..dari...darimana kau tahu?" Tanya Kiba gugup sembari menyilangkan tangannya didepan dada, seperti perempuan yang keselamatannya terancam.

" Dari wajahmu." Jawab Shikamaru lagi kali ini sambil menatap Kiba dengan ekspresi malas.

" Eh? Masa?" Tanya Kiba tak percaya. Apa ekspresi wajahnya begitu mudah dibaca orang.

" Che...kau tak tahu ya? Shikamaru bisa baca pikiran tahu!" Bisik Naruto langsung mendekatkan wajahnya ke Kiba. Begitupun sebaliknya.

" Ah yang benar?" Bisik Kiba tak percaya. Mereka berdua berbisik seolah suaranya tak terdengar. Sasuke hanya bisa menepuk jidatnya melihat kelakuan orang disampingnya ini.

" Kalian membicarakanku dengan suara yang keras begitu. Apa ini cara kalian mengalihkan pembicaraan?" Tanya Shikamaru. Keduanya terdiam. Dalam hati Kiba, bagaimana bisa Shika tahu kalau ia berniat mengalihkan pembicaraan.

" Hey...apa yang tidak kuketahui? Gadis orange apa?" Tanya Sasuke seraya memasukan sepotong ayam kemulutnya.

" Itu gebetan baru Kiba!" Lapor Naruto. Dan laporan itu langsung dihadiahi death glare yang bersangkutan. Menyadari kalau Kiba sedang memberi tatapan horror ke arah Naruto, Sasuke hanya bisa merengut sebal.

" Ya~! Jadi kau tak mau menceritakannya padaku! Kenapa hanya Shika dan Naruto yang kau ceritakan? Menyebalkan!" Rajuk Sasuke. Naruto hanya terkikik geli.

" Sabar ya nak~" Ledek Naruto sambil mengelus punggung Sasuke dan langsung dibalas death glare mengerikan dari yang bersangkutan. Terjadilah saling perang death glare.

" Ceritakanlah pada Maknae kita satu ini! Dia jauh lebih berpengalaman!" Celetuk Shikamaru.

" YA~! Berhenti menyebutku dengan sebutan Maknae!" Omel Sasuke. Maknae adalah sebutan dalam bahasa Korea untuk anggota atau member termuda dalam suatu kelompok. Memang tak salah karena memang, jika diurutkan berdasarkan umur, Sasuke adalah yang termuda. Tepatnya setelah Shikamaru. Sedangkan Kiba adalah kakak tertua dalam Shinobi Gank dan Naruto menyusul diurutan kedua. Tak usah heran jika ternyata yang lebih muda terkadang jauh lebih dewasa dibanding yang lebih tua. Dan lebih tua terkadang lebih imut dibanding yang muda...sangar.

" Ah...iya Sasu-chan kan berpengalaman!" Ledek Naruto lagi. Dan dihadiahi lagi dengan jitakan dikepalanya. Hasil cetakan tangan dewa Sasuke.

" Hm...benar! Bagaimana dengan hubunganmu dan Sakura?" Tanya Kiba. Kembali ia memasukan dua potong ayam kemulutnya. Saat itu juga Sasuke langsung menyipitkan matanya.

" Jangan mengalihkan pertanyaanku dengan pertanyaan baru Kiba, jawab saja siapa gadis orange itu?" Tanya Sasuke. Kiba langsung menelan ludah. Ia memang tak pandai berbohong dan pasti kalah jika harus berdebat dengan adiknya yang satu ini.

" Hah~" Dimulai dengan helaan nafas panjang dari Kiba. Sasuke hanya memutar bola matanya bosan melihat ketegangan terlihat begitu kental diwajah Kiba.

" Kenapa begitu tegang...relax saja!" Naruto menenangkan dengan cengiran khasnya. Entah kenapa Kiba merasa begitu malu menceritakannya semuanya. Ia bukan menganggap bahwa sosok yang disukainya itu adalah sebuah aib. Hanya saja ia takut dengan reaksi sahabat-sahabatnya itu. Jujur ia takut dicemooh. Kiba bukanlah pribadi petarung semacam Sasuke, yang berani mengumbar segalanya.

'Kau pengecut Inuzuka Kiba...menyedihkan!' Inner pria tampan berambut cokelat ini mulai angkat bicara.

" Kenapa?" Tiba-tiba saja Shikamaru mengeluarkan suaranya. Semua menoleh pada sosok pria yang telah bertunangan itu, termasuk Kiba.

" Kenapa begitu tegang Kiba? Kau tegang? Tak perlu malu untuk menceritakan semuanya...sebagai sahabat kami mendukungmu! Apapun keputusan yang kau buat itu hakmu dan yang bisa kami lakukan sebagai sahabat hanya mendukungmu! Aku sudah tahu tentang masalah ini, begitu juga Naruto. Jadi adilah pada Sasuke. Bagaimana pun juga nantinya Sasuke jauh lebih mengerti perasaanmu dibanding aku dan Naruto karena kalian sama-sama mengalami hal yang sama!" Nasihat Shikamaru bijaksana. Dan pernyataan panjang itu langsung disambut dengan tepukan tangan oleh Kiba dan Naruto.

" Kenapa justru kita yang tua jauh lebih menyedihkan dibanding Shikamaru? Sungguh aku terharu..." Ucap Naruto.

" Kau berlebihan Naruto!" Komentar Kiba. Padahal ia ikut bertepuk tangan juga. Sedangkan Shikamaru hanya memutar bola matanya bosan dan menyandarkan tubuhnya dikursi.

" YA~! Jadi apa yang ingin kau ceritakan? Kenapa juga aku yang lebih bisa memahami perasaanmu?" Tanya Sasuke terus-menerus.

" Jadi kau tak mau memahami perasaanku...hah...adik macam apa kau?" Sewot Kiba. Again, Kiba memilih menghindar tak menjawab pertanyaan Sasuke dan justru memilih mengalihkan pembicaraan.

" Sudah! Jangan mengalihkan pembicaraan terus! Dan jangan sebut aku adik atau semacamnya, usiaku hanya terpaut satu tahun setengah denganmu Kiba!" Omel Sasuke balik. Kiba terdiam. Ia masih bergelut dengan pikirannya.

" Kalau tak mau cerita, akan kupaksa Naruto untuk cerita!"

" Ya~ Kenapa aku dibawa-bawa!"

" Baiklah-baiklah!" Seru Kiba sedikit putus asa. Nampak ekspresi kemenangan terlihat diwajah Sasuke. Ia langsung kembali dengan posisi duduk manis dan memandang Kiba penasaran.

" Apa salah jika pria kalangan atas sepertiku menyukai wanita kalangan bawah. Kau ingat pernah mengucapkan kalimat itu?" Kiba mulai memulai ceritanya.

" Hn! Lalu?"

" Dan aku mengucapkan hal yang sama seperti yang kau ucapkan. Aku mencintai pegawaiku sendiri dan begitu pula sebaliknya. Ia mencintaiku."

000000000000000000

Mendung dimusim gugur mulai terlihat. Apakah ini berarti hujan? Sepertinya belum, meski awan-awan hitam telah berkumpul namun belum ada rintik-rintik air yang tumpah dari gumpalan awan itu. Sebuah gedung tinggi menjulang berlabel Inuzuka Group nampaknya tak khawatir ataupun takut dengan guyuran hujan musim gugur yang mungkin akan turun. Bahkan mungkin jika akan datang badai sekalipun gedung berlantai belasan itu akan tetap berdiri pongah mencakar langit.

Jikalaupun kalian bernaung didalamnya takkan perlu khawatir dengan bahaya cuaca yang mengancam. Lihat saja aktivitas pria ini. Ia tetap santai mengganti-ganti setelan-setelan jas diruang pribadinya tanpa peduli dengan udara hujan. Jangankan terasa, terdengar suara rintik hujan andaikata ada pun takkan terdengar.

" Apa lebih baik aku pakai dasi kupu-kupu saja?" Gumam pria itu sambil memutar tubuhnya yang proposional itu didepan cermin. Seorang wanita paruh baya berpakaian anggun nampak setia menunggunya dibelakang cermin tempatnya mematut diri.

" Ibu, lebih baik aku pakai jas cokelat yang ini lalu dipadankan dengan dasi atau scarf ini bagaimana?" Tanya pria itu dengan ekspresi bingung yang sedikit kekanakan. Menanggalkan sedikit aura kewibawaannya saat berhadapan dengan orang telah melahirkannya kedunia.

" Semua bagus jika kau yang memakainya anakku..." Jawab sang ibu lembut sambil tersenyum malaikat. Dipuji seperti itu bagi pria berusia dua puluh dua tahun ini adalah hal yang biasa karena memang ia adalah pria yang sering dipuji dan dipuja wanita. Namun entah kenapa pujian dari seorang berhati malaikat seperti ibunya ini sepertinya akan tetap membuat pipinya merona merah dan salah tingkah. Kalian mungkin juga akan seperti itu kan? Jika tidak lupakanlah.

" Bu aku serius." Gumam si pria sambil sedikit memasang tampang seperti memohon agar sang ibu berpendapat lain selain yang telah disebutkan tadi.

" Ibu juga serius Kiba.." Jawab sang ibu tak membuat Kiba puas. Walaupun tadi ia sempat senang, err ralat bukan hanya senang tapi sangat senang dipuji seperti itu. Mana ada sih orang yang tak senang jika dipuji, apalagi jika disinggung mengenai rupa.

" Bu, aku benar-benar bingung." Kiba kembali menghadapkan dirinya kecermin. Melihat pantulan dirinya sendiri. Hari ini sepertinya kepercaya diriannya sedikit berkurang. Seperti ada sesuatu yang kurang pas dipenampilannya hari ini.

" Sini ibu bantu!" Ucap Inuzuka Tsume ibunda dari pria berambut cokelat bertatto. Tsume menghadapakan tubuh putranya kearah samping agar ia dapat melihat dengan jelas rupa putranya yang kini telah dewasa itu.

" Jika kau kurang nyaman dengan jas berwarna cokelat kau bisa ganti dengan warna yang lebih cerah. Misalnya merah marun dipadukan dengan scarf hitam.." Tsume nampak membantu putranya menanggalkan jas cokelatnya sehingga kini hanya menyisakan kemeja cream yang melekat ditubuh Kiba.

" Tapi bu aku tak pernah pakai jas warna merah marun..." Rengek Kiba bermaksud menolak. Tsume menaikan sebelah alisnya sesaat setelahnya ibu berusia lima puluh delapan tahun ini memutar tubuhnya dan memanggil seorang pelayan untuk mengambil setelan jas yang ia maksud tadi.

" Kau sendiri yang minta ibu untuk membantumu kan? Lagipula kita tak akan tahu bagus atau tidak jika tak mencoba..." Ucap Tsume sambil menyerahkan setelan jas merah marun itu pada putranya dan sedikit mendorong tubuh Kiba untuk segera masuk keruang ganti untuk mengganti pakaian.

Tak lama, tak sampai sepuluh menit Kiba telah keluar dengan gagahnya dengan sebuah kemeja berwarna hitam berbahan lux dan jas berwarna merah marun senada dengan warna celananya.

" Apa lebih baik bu?" Tanya Kiba sedikit kurang percaya diri. Tsume tersenyum lembut dan mengambil sebuah scarf berwarna hitam dengan sedikit aksen bandul-bandul kecil dibagian pinggirnya dari tangan putranya. Dengan terampil ibu dua anak ini menyimpulkan ikatan-ikatan sederhana pada leher putranya.

" Bu..."

" Hm...jangan bergerak, ibu kesulitan merapikan lipatannya.." Pandangan Tsume tetap fokus pada pekerjaannya. Kiba sedikit menghela napas panjang saat melihat wajah lembut milik ibunya ini. Betapa besarnya peran seorang Inuzuka Tsume bagi dirinya. Dan ia tak ingin membuat ibu yang sangat ia sayangi ini kecewa. Tentu kalian juga tak ingin ibu kalian kecewa pada kalian kan?

" Bu aku ingin bicara." Ucap Kiba. Tsume mengangkat wajahnya agar dapat memandang mata kecokelatan milik putranya itu. Warna dan bentuk mata yang ia wariskan pada putranya itu.

" Ada apa? Bicaralah..." Kiba kembali menghela napas. Haruskah ia katakan ini? Tapi memang harus.

" Apa kau tak takut yang terjadi pada Teme terulang padamu Kiba? Walaupun sifat ibumu dan Tante Mikoto itu berbeda 1800 tapi apa ibumu bisa menerima gadis itu?" Kalimat itu seperti kaset kusut yang terus mengulang-ngulang dipikiran Kiba. Apa ini lebih baik? Apa lebih baik jika ibunya tahu lebih dulu sebelum ia dan gadis berambut orange itu berhubungan lebih jauh?

Setidaknya mungkin ia akan belajar untuk melupakan Sasame jikalau ibunya tak menyetujuinya. Walaupun sebenarnya itu bukan yang ia harapkan. Yang ia harapkan adalah ibunya mengangguk mantap dan berkata 'kaulah yang menentukan masa depanmu nak! Ibu menyetujuimu!' Astaga mungkin Kiba akan langsung melompat kegirangan.

Tapi jika ibunya tak menyetujui? Takkan tahu jika tak mencoba kan? Perlahan pria bertatto taring dipipinya ini menghela napas panjang. Sekilas Tsume melirik kearah putranya, mungkin merasakan degup jantung putranya mengencang.

" Apa ibu ingin aku menikah cepat?" Plak! Jika diizinkan Kiba ingin sekali menepuk jidatnya keras. Kenapa kalimat itu yang keluar? Kenapa pertanyaan tentang pernikahan? Ia kan hanya ingin meminta restu untuk berpacaran, kenapa yang disebut masalah menikah cepat?

" Ibu tak mau memaksamu. Jika itu menurutmu lebih baik cepat menikah, mau bagaimana lagi?" Tsume menjawab pertanyaan putranya itu dengan lancar. Memang itulah prinsip Inuzuka. Tak terlalu mementingkan apa statusmu. Tapi tetap saja masalah pacaran dengan orang kalangan bawah menjadi hal yang sedikit err...tabu. Mungkin ini terlalu berlebihan.

" Urusan pacaran aku dibebaskan, apa urusan menikah pun begitu?" Seketika gerakan tangan Tsume terhenti, ia turunkan jemari lentiknya yang sudah keriput itu meski sudah perawatan. Ditatapnya wajah putra bungsunya itu dengan tatapan heran.

" Kau sudah memiliki calon?" Jantung Kiba kembali berdetak tak menentu saat mendengar pertanyaan langsung tanpa basa-basi dari Tsume. Bukan tak punya, tapi...

" Aku tak tahu Bu."

" Apa maksudmu?"

" Aku tak tahu apakah ia mau menerimaku atau tidak Bu." Senyum terlihat dari wajah Tsume. Suasana tegang yang tadi sempat menyelimuti solah meleleh dan kalah tenaga dengan senyum malaikat milik ibunda Kiba ini.

" Gadis itu adalah gadis beruntung, anakku..."

" Eh? Maksud ibu?"

" Selama ini ibu selalu mendengar dari banyak orang bahwa kau adalah seorang playboy, pria cassanova." Kiba tersenyum malu menanggapi pembicaraan ibunya. Malu juga dibilang playboy.

" Ibu tahu ini sulit tapi pastikanlah calonmu itu dapat menerima apa adanya dirimu sayang. Kau yang sekarang dan kau yang sudah memiliki istri nanti pasti berbeda. Takkan ada lagi petualangan nak, karena kehidupan rumah tangga bukanlah hal yang mudah untuk dijalani. Jadi pikirkan itu jauh kedepan, jangan sampai hal sepele saja mampu membuatmu kacau dan memutuskan hal yang bodoh." Nasihat Tsume penuh perhatian. Diusapnya kepala putranya lembut. Andaikata Kiba sudah menikah nanti maka sudah selesailah semua tujuan hidupnya. Kedua anaknya telah dewasa dan telah memilih jalan hidupnya masing-masing. Sudah tak perlu lagi dirinya yang tua ini.

" Aku mengerti bu. Tapi yang aku khawatirkan keluarga tak dapat menerimanya..."

" Tak ada yang perlu dipikirkan masalah itu. Baik buruknya calonmu nanti itu adalah pilihanmu sayang. Ibu takkan ikut campur, kau sudah dewasa. Tapi ibu hanya memberi saran padamu nak, apapun pilihanmu nanti itulah yang sudah menjadi jalan hidupmu. Jangan pernah kau sesali." Kiba tersenyum. Betapa pengertiannya Tsume padanya membuatnya tak kuasa untuk tidak memeluk sosok ibunya ini.

" Terima kasih bu..." Ucap Kiba tulus seraya memeluk tubuh ibunya.

" Pilihlah yang terbaik sayang. Ibu percaya padamu asalkan kau tak mengecewakan ibu..."

000000000000000000

Mata kecokelatan Sasame menatap awas setiap space Inuzuka Boutique sekarang. Catwalk megah sudah berdiri kokoh ditengah ruangan. Sekitar seratus tamu undangan yang terdiri atas kerabat, keluarga serta para pengusaha lainnya tengah berbincang dan menikmati suguhan berupa anggur merah disetiap meja bundar yang tersedia.

Sasame sedikit merapihkan renda-renda pakaiannya. Ia terlihat begitu manis dengan sebuah dress bernuansa hitam dengan renda sederhana berwarna orange. Tak lupa sebuah hiasan bulu dengan aksen daun menghias rambutnya yang diikat setengah. Kira-kira itulah deskripsi seragam dari pegawai Inuzuka Boutique hari ini.

" Sasame-chan.." Sedikit terkejut dengan suara berat seseorang yang memanggilnya dari belakang, dengan sedikit gerakan kaku, Sasame membalikan tubuhnya dan mendapati seorang pria berpakaian senada dengannya yaitu sebuah setelan jas hitam dengan dari kupu-kupu berwarna orange.

" Sandayu-sama..."

" Ini sudah masuk jadwal kehadiran Keluarga Inuzuka. Sebaiknya kau bersiap-siap..." Ucap seorang laki-laki paruh baya yang dipanggil Sandayu oleh Sasame. Sasame tersenyum dan langsung mengikuti Sandayu dari belakang.

Yang dapat dirasakan saat ini oleh Sasame adalah perasaan gugup yang amat sangat. Matanya dengan seksama memperhatikan sebuah red karpet yang telah dibentangkan didepan pintu masuk. Dan dilihatnya pula sudah banyak pegawai yang mengambil posisi berbaris disisi kiri-kanan red karpet guna menyambut Keluarga Inuzuka. Inuzuka Kiba akan berjalan disana dengan gagah tentunya.

" Tenang saja, Sasame-chan aku tahu ini pengalaman pertamamu mengikuti acara ini tapi tetaplah relax. Semua akan baik-baik saja." Ucap Sandayu menenangkan. Mungkin ia sadar dengan kegugupan Sasame saat ini. Sandayu adalah pegawai pria paling senior. Ia sangat ramah. Usianya jauh lebih tua dari Sasame.

Sasame tersenyum dan tak lama ia telah berdiri di tempatnya. Terlihat diseberangnya Shizune menghela napas lega karena telah melihat Sasame. Wanita bijaksana ini khawatir terjadi sesuatu dengan Sasame karena sedari tadi Sasame tak terlihat. Sasame tersenyum canggung menanggapi kekhawatiran Shizune dan selanjutnya ekspresi minta maaf(?) ditujukannya oleh Karin yang menggumamkan kalimat 'Dari mana saja kau?' padanya.

Tak beberapa lama deretan mobil mewah terlihat. Puluhan wartawan langsung mengarahkan kamera blitznya kearah deretan mobil itu. Silaunya blitz semakin bertambah kala sosok pria tampan dengan balutan sebuah jas berwarna merah marun dengan scraf berwarna hitam. Perpaduan yang sangat cocok dengan kulitnya yang kontras putih bersih. Salah satu anggota Shinobi Gank kini tengah bersinar.

Sasame sama sekali tak berkedip melihat, sosok atasannya Inuzuka Kiba yang kini tengah berjalan berdampingan dengan seorang wanita paruh baya berbalut sebuah V-neck long dress berwarna cream lembut. Inuzuka Tsume mengeluarkan senyum malaikatnya. Sosok keibuan yang begitu dirindukan oleh Sasame.

Dibelakang keduanya, terlihat seorang wanita berambut cokelat yang dikenali Sasame menggapit lengan seorang pria tinggi berdarah Eropa yang sangat asing dimata Sasame.

Inuzuka Hana nampak begitu anggun dengan balutan sebuah Halter long dress berwarna merah yang membentuk tubuh dengan aksen berlian disekitar perut dan memanjang sampai bagian dada. Kulit putih terawat miliknya terlihat begitu bercahaya dikarenakan lengan dan bagian lehernya yang terbuka. Rambutnya yang cokelat dibuat ikal bergelombang. Dan jemarinya yang bebas nampak menggenggam sebuah clutch mewah berwarna senada dengan permata ruby besar ditengahnya. Sungguh penampilan putri sulung keluarga Inuzuka hari ini sangat istimewa.

Disampingnya berdiri gagah sosok pria dengan tinggi kira-kira mencapai lebih dari 180cm yang memakai setelan jas hitam dengan dasi berwarna merah, sangat senada dengan istrinya, Hana. Dialah Hayden. Suami dari InuzukaHana. Seorang pria berdarah Amerika. Ia adalah seorang seniman muda yang kini telah memiliki sebuah sanggar lukis yang cukup terkenal di Washington DC yang dibangun bersama istrinya, Hana.

Sasame hanya bisa menundukan kepalanya hormat saat deretan orang-orang penting itu sudah mulai hampir melewatinya. Namun saat Kiba dan Tsume hampir saja melewatinya, ia dapat merasakan ada seseorang yang menendang sepatu hak miliknya.

" BRUK.."

Dan kejadian itu berlangsung sangat cepat dan jelas ini menyebabkan Sasame kehilangan keseimbangan dan terjatuh dengan posisi terlungkup tepat dihadapan Kiba dan Tsume yang sedang berjalan

Semua terdiam. Dengan cekatan Tsume langsung berniat membantu pegawainya namun ada satu hal yang tak disadari olehnya dan yang lain yaitu tepat sebelum jatuh, tangan Sasame tak sengaja menyenggol pajangan guci antik setinggi 2 meter yang sengaja diletakan disamping tempatnya berdiri tadi sebagai hiasan. Guci itu jatuh dan akan menimpa Tsume dan Sasame.

" IBU!"

" AWAS!"

" PRANG!"

Suasana hening langsung menyelimuti seluruh orang yang ada diruangan tersebut. Semuanya menatap kesatu objek. Tak ada lagi blitz kamera yang menyala. Semua menganga melihat kejadian yang begitu cepat itu. Selang beberapa detik dari euphoria kebahagian, kejadian ini sontak langsung menjadi pusat perhatian. Bahkan beberapa tamu yang semula hanya berdiri ditempat duduknya pun ikut menghampiri tempat kejadian itu untuk sekedar melihat siapa pelaku kekacauan itu.

Red carpet yang awalnya bersih dan cemerlang itu kini telah kotor dengan adanya pecahan guci yang berceceran dan darah. Beberapa tamu terlihat meringis ngeri melihat kejadian ini, dan sebagian lagi terpaku membatu tak percaya. Sama halnya dengan Kiba. Ia diam membatu menatap semuanya tak percaya.

Ada dua perasaan yang bercampur dalam hati Kiba. Perasaan terkejut dan malu. Malu karena ini adalah pertama kalinya dalam sejarah terjadi kekacauan dalam acara pembukaan musim butiknya. Ini bukan kekacauan biasa. Melainkan luar biasa. Semua pasang mata mengarah padanya.

Ditundukan kepalanya hanya sekedar untuk melihat kebawah. Terlihat tubuh mungil Sasame, yang masih jatuh tersungkur. Terlihat Sasame kesulitan untuk bangkit dari posisi tubuhnya. Sasame sedikit menyerngit kesakitan. Dapat kalian bayangkan sakitnya kaki Sasame saat ini. Dari kakinya terlihat luka-luka goreskecil dan mengeluarkan darah.

Ada dorongan dalam diri Kiba untuk menolong, memapah dan menanyakan apakah ia baik-baik saja. Tapi entah kenapa tubuhnya tak mau menuruti kata hatinya.

Tak jauh dari Sasame terlihat Hayden berlutut dan membersihkan beberapa serpihan guci yang melekat di jas yang ia kenakan. Berterima kasihlah pada sosok pria tampan ini. Ya...yang berteriak 'awas' tadi adalah kakak iparnya, Hayden. Disaat tadi Kiba menyelamatkan ibunya, terlihat sekilas oleh matanya Hayden refleks menarik Sasame menjauh dan mendorong guci itu sebelum tepat menyentuh karpet. Sehingga kini guci malang sedikit terlempar.

" Kau baik-baik saja...?" Tanya Hana pada suaminya setelah mampu mengontrol keterkejutannya. Hana sedikit meringis melihat keadaan Sasame. Sepertinya pecahan guci itu tak luput untuk melukai Sasame. Dan yang pasti ia melihat hak sepatu Sasame bengkok. Pastilah kaki gadis malang ini terkilir. Ia hanya bisa menutup mulutnya.

" Untung kau sempat menyelamatkannya..." Hana terlihat sangat bersyukur, suaminya dapat dengan cekatan menyelamatkan Sasame.

" Hm. Kau baik-baik saja? Kakimu?" Tanya Hayden dengan bahasa Jepang yang sedikit terdengar aneh.

Sasame hanya mengangguk dengan kepala tertunduk. Air mata telah menggenang di pelupuk matanya. Ia sungguh malu. Bisa tertangkap jelas dalam telinganya suara bisikan-bisikan seperti 'Astaga siapa itu?' atau 'Bagaimana ini bisa terjadi?' dan yang terparah 'Siapa pegawai bodoh itu? Penghancur acara saja' dari orang-orang disekitarnya. Terutama para tamu undangan.

Hatinya teriris sakit. Bukan maksudnya menghancurkan semuanya. Sungguh tadi ada orang yang menendang hak sepatunya sehingga ia terjatuh.

" Astaga dasar pegawai bodoh! Kau hampir melukai Bibi Tsume kau tahu! Dasar bodoh!" Tiba-tiba saja sosok seorang wanita berambut pirang dengan strapless mini dress berwarna pink tua datang membentak Sasame dan menempeleng kepala gadis berambut orange itu.

" YA~!" Bentak Hana. " Pelankan suaramu sedikit bodoh! Kenapa kau membentaknya? Buat malu dasar bodoh...!" Bisik Hana sembari mendelik kearah wanita yang tak lain dan tak bukan adalah Shion.

" Kakak! Bagaimanapun gadis bodoh ini telah hampir mencelakai bibi Tsume!" Shion tak mau kalah. Semakin berteriak.

" Sudahlah nak, aku tak apa. Bawa ia ke ruang kesehatan, lihat kakinya terluka..." Ucap Tsume tersenyum. Sungguh Sasame merasa sangat bersalah saat melihat senyum malaikat Tsume. Wanita itu masih tetap bisa tersenyum meski ia sudah membuatnya hampir celaka.

Hana memberi sinyal pada beberapa pegawai lain untuk membawa Sasame. Shizune yang awalnya tak berani mendekat langsung memapah Sasame, sedangkan Karin memanggil petugas kebersihan untuk membersihkan pecahan guci yang berserakan. Para tamu telah kembali ke tempat duduknya masing-masing dan menyaksikan acara fashion show. Suasana kembali kondusif.

Jujur acara fashion show yang semulanya diadakan setelah sambutan Kiba sedikit dimajukan jadwalnya dikarenakan insiden ini. Anggaplah sebagai pengalih keadaan.

" Bibi! Pegawai bodoh begini buat apa diobati! Dasar-..."

" Berhentilah mengoceh!" Bentak Kiba. Shion langsung menutup mulutnya rapat. " Mau bagaimana lagi? Mengoceh takkan membuat semuanya kembali! Acaranya sudah hancur..." Desis Kiba dan tak lama langsung meninggalkan tempat insiden itu diikuti yang lain. Sekilas mata pria berusia 22 tahun itu bertemu pandang dengan mata Sasame. Tatapan itu. Kiba terlihat begitu kecewa.

Seperti ada ribuan pedang kasat mata menusuk-nusuk hatinya, itulah yang dirasakan Sasame. Sungguh perkataan Kiba sangat melukai hatinya. Ia yang salah...

Ia telah membuat kekacauan. Semuanya hancur karenanya. Ia hampir mencelakai Inuzuka telah membuat keluarga Inuzuka malu... Dan yang terpenting ia telah membuat orang yang dicintainya kecewa.

" Ayo obati lukamu Sasame-chan..."

00000000000000000

Suasana butik hari ini sangat suram. Sehari setelah kejadian di acara pembukaan. Semua orang berusaha untuk melupakannya. Tapi sepertinya kejadian itu tak dapat membuat semua pihak dapat dengan mudah melupakan semuanya.

Bayangkan saja hampir semua stasiun televisi dan surat kabar memuat berita tentang kejadian itu. Meski bukan menjadi trending topik atau headline, tapi tetap saja membuat siapa saja yang membacanya penasaran. Acara yang biasanya begitu spektakuler itu mendadak menjadi hancur akibat sebuah insiden.

Insiden jatuhnya seorang pegawai. Dan itu membuat para pemburu berita menyerbu butik terkenal ini untuk mendapat informasi. Terutama informasi tentang siapakah si biang keladi yang menghancurkan acara itu.

Dan seperti saat ini. Sebuah stasiun TV berita tengah menanyangkan berita itu. Mata kecokelatan milik Kiba dengan seksama mengamati setiap detil acara peliputan itu. Disampingnya berdiri dengan anggun sosok asistennya.

"IBU"

"AWAS"

" PRANG!"

Suara itu kembali terdengar. Suara teriakannya dan teriakan kakak iparnya. Saat itu pula dengan cekatan Kiba langsung bangkit dari kursinya dan melemparkan remote TV diruang kerjanya itu kearah TV yang sedang menyala itu.

" TRAK.."

Seketika TV itu mati dan terlihat layar TV itu retak. Anko hanya bisa meringis pelan seraya memejamkan matanya. Dari sudut matanya yang berhias maskara tebal itu ia dapat mengintip bosnya yang sedang memijat keningnya frustasi.

" Kami semua menunggu keputusan anda Tuan Muda. Saya harap anda dapat membuat keputusan hari ini." Ucap Anko setelahnya. Kiba terlihat menghela napas panjang.

" Panggil Sasame! Suruh dia menghadapku!" Perintah pria beriris sewarna cokelat itu. Anko menurutinya dan detik berikutnya suara hak sepatu wanita sexy itu terdengar menjauh dari ruangan Kiba.

Sasame menatap nanar pintu kayu besar berukir indah di hadapannya. Entah kenapa rasa kagum yang dulu ditujukan olehnya saat pertama kali melihat pintu bereukir indah ini kini sudah tak tampak lagi dibelahan wajah mungilnya. Sekali lagi hanya tatapan nanar yang ditunjukan olehnya. Dibalik pintu inilah nanti nasibnya akan ditentukan.

Dirasakannya sebuah tepukan halus dibahunya yang terbalut seragam itu. Ia tersenyum sejenak kala melihat sosok Anko dibelakangnya.

" Aku hanya bisa menemanimu sampai sini, bersabarlah..." Suara menenangkan Anko terdengar. Sasame kembali tersenyum getir. Ya...ia memang hanya bisa bersabar sekarang.

Anko sendiri dapat menangkap aura kesedihan dari Sasame. Ia tak pernah menyangka ini semua akan terjadi. Sungguh ia tak menyangka. Pepatah bahwa tak selamanya air laut itu tenang rasanya cocok untuk juniornya ini. Terbukti dengan kejadian ini. Jauh sebelum hal ini terjadi, Anko tak pernah melihat atasannya sekalut ini. Dan ia juga tak pernah melihat Sasame selama bekerja dibutik ini menunjukan ekspresi dan raut wajah sesedih ini.

Hanya satu doa dari Anko yaitu semoga saja semua ini berjalan baik-baik saja dan apapun keputusan yana akan diambil Kiba nanti adalah keputusan terbaik untuk keduanya. Biar bagaimana pun ia tak ini sesautu hal yang buruk terjadi kembali.

Perlahan Anko membuka pintu itu dan mempersilahkan Sasame untuk masuk. Setelah yakin bahwa Sasame telah berada didalam ia pun perlahan mulai menutup pintu itu.

Disaat Anko tengah sibuk berdoa, didalam Sasame dapat melihat jelas punggung tegap atasannya yang sedang berdiri membelakanginya. Ia amati tubuh atasannya itu perlahan. Mencoba kembali mengagumi sosok Kiba yang kini entah kenapa terasa begitu jauh darinya.

Sadar akan diperhatikan, pria Inuzuka itu pun membalikan tubuhnya dan menatap datar sosok Sasame yang berdiri tak jauh dari meja kerjanya. Dari tatapan datar penuh kebohongan miliknya ia dapat melihat jelas bahwa bahu Sasame sedikit bergetar. Gadis itu juga langsung menundukan kepalanya saat tadi sempat bertemu pandang dengannya.

" Kau tahu jelas apa alasanku memanggilmu kesini bukan?" Tanya Kiba dingin setelah beberapa saat terdiam.

" Saya...sa..saya sangat menyesal Kiba-sama.." Ucap Sasame lirih. Ia masih menutup matanya. Seolah akan terjadi sesuatu hal yang buruk menimpanya jika ia mengangkat wajahnya dan saling berpandangan dengan Kiba.

" Menyesal? Hanya itu...?" Tanya Kiba kembali. Kini tak terdengar angkuh. Tapi lebih terdengar seperti bisikan dan penuh dengan nada kekecewaan.

Sasame semakin dalam menundukan kepalanya. Ia tak tahu apa lagi yang bisa dikatakannya saat ini. Lidahnya terasa kelu saat ini. Begitu pula dengan tangan dan kakinya yang terasa kebas dan mati rasa.

" Sungguh kau membuatku kecewa Sasame..." Setetes cairan bening yang sedari tadi ditahan pun kini telah meluncur bebas dipipi gadis ini. Sekali lagi puluhan pedang kasat mata itu kembali menusuk hatinya.

Kiba tak pernah main-main dengan kata-katanya dan itu berarti ia telah sungguh-sungguh membuat Kiba kecewa.

" Aku punya pembelaan a...at..atas ini semua...sa...saya..ada sesuatu..hal yang membuat semua itu terjadi begitu saja. Dan...sa...ya punya penjelasan atas ini semua..." Sasame mengeluarkannya pembelaannya.

" Kau dipecat."

The Shinobi Gank Sidestory: Unpredictable KibaTo be continued

Jiah...lagi-lagi masih to be continued! Sabar ya readers mudah-mudahan satu chapter lagi dan semuanya tamat...untuk sidestory ini.

Saya usahakan untuk apdet asap deh...kekekeeke kalo reviewnya banyak *digigit*

Makasih yang sudah membaca dan mereview. Penasaran dengan kelanjutan Kiba dan Sasame terus siapa yang ya yang memanipulasi kecelakaan itu? Tunggu ya! *kagak*