Terimakasih untuk semua review positif kalian... #peluk-peluk dan peluk
Dan sebagai ucapan terimakasih teramat dalam maka daku mengupdate chapter terbaru
Note : sebenarnya fic ini bukan genre humor loh..
Noh genrenya aja saya cetak tebal : ROMANCE, tapi kog baca koment2 kalian fic ini lucu?
#mungkin saya berbakat jadi pelawak?
'Hanya cerita ringan, pengantar tidur'
.
.
.
Disclaimer©
Naruto dan antek-anteknya masih setia menemani Om Kishi.. #Kapan ya Naruto bisa Move on
Genre : ROMANCE
Tapi gak janji bakal berasa romancenya ya..
Tapi saya pastikan kerasa gregetnya..
Awas lu kalau bohong #digiles pake silinder
Rate : T Aman untuk dikonsumsi TAPI
Bisa berubah sesuai Si Tu dan Si Kon.
Alur bisa berubah-ubah sesuai keinginan Author.. Wkwk
Warning : Typoo, OOC, Gaje pangkat Abal
Pair : Naruto dan Hinata
.
.
.
Must be Read!
.
.
.
My Lovely© Animea-Khunne-Chan
.
.
.
.
Bag 3
.
.
"Na.. Naru..to.. –san" entah darimana datangnya penyakit dadakan ini. Penyakit yang ia dapatkan sejak tiga minggu lalu. Penyakit yang hanya bisa kambuh saat berhadapan dengan pria yang berstatus sebagai tunangannya. Naasnya, Hinata belum menemukan obat penawar untuk penyakit jenis ini. Hinata tidak paham, lebih-lebih ia sangat tidak mengerti kenapa pengaruh yang diberikan laki-laki ini sampai membuatnya seperti ini. Rasanya entah mengapa, setiap tubuhnya bersentuhan dengan pria ini, otaknya tak bekerja sebagaimana seharusnya. Segalanya jadi terbalik, kinerja pada sistemnya sudah acak-acakan entah itu saraf sensorik atau saraf motoriknya yang eror. Ia bisa merasakan bahwa tubuhnya berada dibawah kendali yang diciptakan pria dihadapannya ini.
Meski suara yang dikeluarkan Hinata sudah seperti dengungan lalat yang terkena penyakit mengi dadakan namun berkat keadaan mereka yang intim seperti ini membuat telinga Naruto mampu mendengar ucapan lirih dari gadis di dalam area dekapannya ini. Bukannya mengejek suara Hinata yang jelek atau sebangsanya. Demi apapun, bahkan suara terkasihnya ini lebih merdu dari suara penyanyi termasyur bintang Hollywood sekalipun. Tapi, entah mengapa kalimat yang diucapkan Hinata serasa menggores luka dihatinya. Memang, Naruto sadar jika orang lain mendengar ucapan Hinata tadi pasti mereka juga berfikir tidak ada satu katapun yang salah pada ucapan Hinata. Lantas, apa yang membuat itu jadi menyakitkan untukmu Naruto?
'–San?' Pikir Naruto. Inner Naruto menggeleng tak percaya.
Oh, ayolah sayang. Mereka tidak sedang menonton pasar malam, mereka juga bukan di tengah jalan lebih tepatnya mereka tidak di hadapan umum. Apa Hinata tidak sadar mereka sedang berada di dalam lift dan hanya berdua. Kenapa gadis ini tetap bersikap anti pati padanya. Meski ia tahu ini kantor tapi juga tak seperti ini juga kan. Demi tuhan, tak ada siapapun disini. CCTV mati. Dan ia tahu, arahan nya pada Yamato berjalan lancar.
Naruto mencoba menghirup udara yang telah bercampur dengan aroma lavender dari gadisnya ini dan menghembuskannya secara perlahan. Setidaknya cara ini ampuh untuk menenangkan hatinya. Tubuhnya semakin bergerak maju mempertipis jarak yang bahkan sudah tipis itu. Mengabaikan tubuh Hinata yang sekarang sudah sangat kaku akibat ulah Naruto yang tidak bertanggung jawab. Dirinya mungkin tak menyadari betapa Hinata ingin pingsan saat ini juga. Masih dengan posisi yang sama dengan kedua tangannya yang berada di kedua sisi kepala Hinata, Naruto sedikit menekukkan sikunya kebawah akibat jarak yang ia ciptakan dan memilih meletakkan dagunya dikepala Hinata. Dan tentu saja lagi-lagi hinata hanya mampu berdoa pada Kami-sama agar tak menghentikan degup jantungnya saat ini juga. Ia bisa merasakan aroma maskulin yang menguar dari tubuh yang bisa dibilang sedang mendekapnya sekarang. Membuat perasaannya nyaman dan tak karuan diwaktu yang sama.
Naruto memang bukan ABG labil jaman sekarang yang mementingkan aspek cabe-cabean dan apalah itu. Naruto merasa dirinya sudah dewasa sekarang, bahkan sudah sangat dewasa. Orang-orang juga pasti langsung bisa menilai itu hanya dengan melihat rupanya. Menjadi Presiden Direktur dan berhasil membawa perusahaannya sampai sesukses ini bisa dilihat bahwa dalam segi apapun dia sudah sangat matang dan dewasa. Tapi, justru disitu letak keabsurdan dan titik tolaknya. Bagaimana bisa dirinya merasa tersakiti hanya karena Hinata-nya itu memanggil dengan surfiks –San?. Tentu saja, hatinya sedikit tergores. Hinata bahkan memanggil pria aneh itu dengan surfiks –Kun dan itu membuatnya panas. 'Ck, aku sudah tidak waras'. Berkali-kali Naruto menghela nafas dan berfikir bahwa dirinya benar-benar sudah gila. 'Apa pertanggung jawabanmu karena berhasil membuatku sampai seperti ini?' dapat Naruto pastikan bahwa Hinata akan mendapatkan hukuman karena sudah berani-beraninya membuat sang Presdir menjadi kacau.
Hinata bisa bernafas agak lega saat Naruto menarik diri dan menciptakan jarak yang tak terlalu signifikan. Tak apalah, setidaknya dirinya bersyukur karena diizinkan untuk sekedar menarik nafas. Hinata berharap dirinya dapat segera bebas dari perasaan aneh ini.
"Kita sedang berdua, Hinata" Ucap Naruto. Mencoba memancing agar Hinata bisa mengalihkan tatapan itu padanya dan hasilnya Nihil. 'Apa lantai sialan ini lebih tampan dariku?' Harga diri Naruto tergilas melihat gadisnya tak mau memandangnya barang sedetik saja. Innernya sudah mencak-mencak tak karuan melihat respon yang diberikan Hinata sejak tadi. Yah, dia tahu ini akibat pesonanya yang kelewat batas. Ya ampun. Kalau benar Hinata menghindari nya karena dirinya yang sangat mengagumkan maka ia rela menukarnya dengan tampang standar seperti pegawai kebun dikeluarga Hyuuga berkepala mangkok itu.
Tiga minggu merupakan waktu yang terasa sangat lama untuk memahami isi hati gadis ini. Namun sayangnya hanya butuh 1 detik saja baginya untuk menyadari bahwa dirinya sudah terpikat olehnya. Dan tak bisa dielak lagi Naruto benar-benar mencintainya. Haha, Kilse sekali. Jika dalam sehari ia bisa menebak isi hati gadis-gadis bertebaran diluar sana maka hal itu tak berlaku bagi gadis ini. Tapi setidaknya, Naruto sedikit memahami cara berfikir Hinata yang selalu berusaha profesional dan memberikan yang terbaik jika itu menyangkut pekerjaan.
"Aku tak suka Diskriminasi, Hinata. Tapi sekarang aku sudah menjadi korban Diskriminasimu"
"Hah?, apa?" Hinata langsung mendongakkan kepalanya dan menatap kedua safir yang kini juga tengah menatapnya. Hinata mengerutkan alisnya mendengar penuturan pria ini.
Melihat reaksi Hinata yang sesuai dengan dugaannya, membuat Iner Naruto menyeringai penuh arti. Dirinya tetap memandang kedua amethys dihadapannya ini seolah dengan pandangan terluka. 'Hukumanmu dimulai, Sayang'
"A.. apa Maksudmu, Naruto-san?" dengan suara tergagapnya Hinata mencoba bertanya pada pria ini. Berusaha meyakinkan pendengarannya yang kemungkinan juga terganggu. Hinata semakin tak mengerti kenapa Pria ini berkata demikian padanya.
Mencoba membaca raut wajah gadis rumit ini, dirinya yakin bahwa Hinata merasa terusik dengan lontaran tajamnya itu. 'Sukses'
"Kau sadar dimana posisimu sekarang?" Naruto mencoba mengintimidasi gadis ini dengan mulut yang dipedas-pedaskan disertai tatapan tajam. Seolah tatapan ini bisa melubangi kedua mata Hinata detik ini juga.
"Ha?" Hinata hanya bisa menanggapi ucapan Naruto dengan gumaman lirihnya. lagi lagi hanya ekspresi tak percaya yang ditampilkan wajah ayu Hinata. Apa yang sedang Presdir ini coba katakan sebenarnya. Kenapa tatapan mata itu terasa sangat mengganggu dan membuat hatinya berdenyut seperti ini. Dirinya tak melakukan kesalahan kan? Atau dia tak berkata yang aneh-aneh kan?. Ingatannya masih sangat tajam, dirinya sedari tadi hanya diam dan itupun karena ulah Kolega sekaligus tunangannya.
Mengerti respon Hinata yang tampak tak mengerti dengan keadaan ini membuat dirinya semakin diatas angin. Sebenarnya Naruto juga tak paham dengan ucapannya dan mengapa mengerjai Hinata dengan cara seperti ini. Dirinya juga bingung, tapi dia tak ingin tampil bodoh karena tak memahami setiap kata-katanya sendiri. Setidaknya dirinya amat yakin, sebentar lagi dia akan mendapatkan 'itu' dari gadis ini.
"Sadari dulu bagaimana keadaanmu sebelum kau memperlakukan orang lain"
Hinata sudah seperti nenek-nenek lansia yang tengah shock kala mendapati dirinya sedang menstruasi. Terkejut, bingung dan tidak percaya, terselip rasa sakit kala pria ini melontarkan kata tajam dan begitu menusuk padanya yang bahkan sampai sekarang dirinya tak paham apa salahnya. Apa pria ini sadar apa yang dia katakan. Hinata semakin sadar bahwa turun dari lantai 25 gedung ini bisa terasa sangat lama. Dirinya tak sedang menuruni tangga darurat kan?.
"Kau perlu belajar bagaimana menghargai lawan bicaramu. Dan kau tak seharusnya melakukan ini padaku. Mengabaikanku—kau anggap aku ini apa?, dan itu menyebalkan" Entah belajar darimana Naruto bisa mengeluarkan kata-kata dingin dan runcing seperti itu.
'Apa?' Hinata hanya diam terpaku dan tak percaya. Semakin kesini ucapan Naruto semakin membuatnya dilema. Apa seperti itu tanggapan Koleganya terhadap reaksi darinya selama ini?, apa Naruto tak sadar bahkan selama ini Hinata berusaha untuk menghargai, ah tidak, Hinata malah sangat menghormati Presdir ini. Tapi kenapa?. Apa selama ini tinggkah lakunya selalu salah dimata Naruto. Dirinya diam bukan berarti mengabaikan, harusnya Naruto sadar itu. Hinata tak sedikitpun bermaksud untuk mengabaikan pria ini, dia hanya berusaha menghormati seorang Presdir. Kolega yang sekaligus menjadi atasannya ini harusnya mengerti kan. Dia sudah bersikap profesional.
Bagi Hinata, dirinya bukannya mendiamkan atau mengganggap Naruto tak ada. Hei, bagaimana dia bisa berfikir seperti itu bahkan pada seorang Presdir. Apa Hinata sudah gila. Dirinya juga tak bermaksud seperti itu, dia juga tak ingin diam dan menunduk tanpa mengucapkan sesuatu seperti ini. Dia juga ingin berbicara normal apa adanya. Dan apakah Naruto tahu, bahwa Hinata seperti ini karena Naruto sendiri. Jadi jangan menyalahkan orang lain dan menuduh seperti itu padanya. Apa Naruto tidak tahu Hinata sudah ingin menangis sekarang. Dia sungguh tidak tahu, kenapa dia bisa bersikap seperti ini hanya pada Naruto. Bahkan, Hinata hanya bisa merutuki dirinya sendiri kenapa bahkan satu katapun tak bisa keluar dari mulutnya. Semakin hari, perasaannya semakin sensitif jika itu menyangkut pria ini.
Naruto tersentak melihat pelupuk mata gadisnya mengeluarkan cairan bening. Namun dirinya mampu menguasi keadaan seperti sedia kala. 'Tidak, tidak. Dasar Mulut sialan!' dalam hati Naruto memaki dirinya sendiri karena sudah membiarkan Hinata menangis. 'Oh, ayolah. Jangan seperti ini sayang. Kau sudah menyiksaku dengan semua persyaratanmu. Jadi kumohon, jangan siksa aku lagi' Naruto sungguh ingin mendekap erat gadisnya sekarang, memberikan kehangatan dengan tubuhnya. Menghapus air mata yang dengan bodohnya dirinyalah yang membuatnya keluar dari sepasang ametys indah ini. Menciumi jejak-jejak samar akibat air mata yang menetes di pipi mulusnya, mengecup kedua kelopak yang sudah ia sakiti ini. Melumat bibir merah tipis yang sedikit gemetar akibat menahan tangisnya agar tak pecah. Naruto tahu Hinata adalah gadis lugu. Tapi ia tak perduli sekarang, apapun yang akan dilakukannya dia tak perlu meminta izin pada siapapun pada Hinata sekalipun dan itu adalah haknya. 'Aku akan segera menyudahi ini, sayang. Tapi maaf, kau tetap harus mendapatkan hukuman'.
Hinata hanya memandang sendu pria yang masih membelenggunya ini. Hinata sadar dirinya pastilah sudah menangis sekarang. Tak ingin terlihat lemah tapi dirinya memang benar-benar lemah saat ini. Tangannya pun tak bisa digerakkan untuk sekedar menghapus air matanya. Lucu, ini benar-benar lucu. Sebenarnya apa maumu Naruto?.
Hinata mencoba untuk diam dan tak menampilkan reaksi terkejut saat tangan kanan Naruto menyingkap indigonya kebelakang telinganya. Amethysnya menatap kedua safir yang kini juga tengah menatapnya penuh arti. Hanya saja dia sedang tak bisa mengartikan tatapan itu sekarang. Sayang reaksi tenang yang coba ditampilkannya berubah menegang saat melihat Naruto mendekatkan wajahnya.
Naruto bisa merasakan tubuh gadis ini menegang kembali akibat perlakuannya. Naruto membiarkan instingnya sebagai lelaki mengambil alih.
Tak bisa berkutik, dua kali diperlakukan seperti ini membuat pandangan Hinata sedikit mengabur. Ia tak bisa mengerti rasa aneh yang terjadi pada dirinya, serasa ada ribuan kupu-kupu terbang menggelitik perutnya, hatinya berdesir setiap merasakan hembusan Nafas naruto bergerilya di lehernya. Mengepalkan kedua tangannya hingga kuku jarinya memutih menahan sensasi asing dalam tubuhnya saat nafas itu menerpa telinganya. A.. apa y-yang i-ingin..kau la-lakukan?. Tubuhnya menegang mencoba menahan desiran yang membuat seluruh badannya gemetar.
"Hha..h" Malu. Hinata merasa malu sekarang, dirinya bahkan tak bisa mengotrol suara aneh yang keluar begitu saja akibat perlakuan Naruto. Tubuhnya masih berdiri kaku. Lebih kaku, kala bibir halus Naruto meneluri lekuk garis rahangnya. Dan Nafasnya sudah sangat berantakan kala bibir itu berhenti disudut kiri bibir Hinata. Pergerakan sensual Naruto berhenti disana, Hinata bahkan sudah teramat sulit untuk sekedar menghidup udara disekitarnya saat merasakan nafas hangat Naruto yang menerpa bibir tipisnya. Dadanya naik turun hingga kedua bola mata bulannya pun tak mampu untuk sekedar melirik sesenti saja, Ia bisa merasakan ujung hidungnya bersentuhan dengan ujung hidung Naruto, membuat kedua nafas mereka saling bertabrakan. Batinnya sudah berteriak sejak tadi untuk menyingkir dari posisi ini, kakinya juga sudah terasa lemas sekarang namun dirinya tetap diam dalam kungkungan posesif pria ini. Tapi entah sejak kapan, Hinata merasakan tangan kanannya berada di depan dada Naruto, mencoba menjauhkan tubuh mungilnya dari tubuh tegap pria ini. Berharap usahanya ini membuahkan hasil.
Merasakan sebuah tangan yang mencoba mendorong tubuhnya menjauh malah membuat Naruto semakin merapatkan badannya ketubuh Hinata. Tangan kiri yang menjaga Hinata agar tak kabur dari posisi ini mengenggam jemari lentik Hinata dan menekannya ke didinding lift. Tangan kanannya memeluk pinggang ramping Hinata hingga Naruto bisa merasakan bahwa Hinata seakan menyatu dengan tubuh tegapnya. Detik berikutnya Hinata tak bisa memikirkan apapun lagi dan hanya mampu membelalakkan matanya kala bibir Naruto menempel di bibirnya.
'Shit!' Naruto mengumpat dalam hati. Kenapa tak sedari dulu dirinya merasakan bibir tipis ini. ia hanya membiarkan bibirnya menempel dengan bibir Hinata. Meski dalam hati Naruto benar-benar ingin menghisap bibir ini hingga semua hasratnya terpenuhi. 'Damn' sungguh betapa gairah Naruto begitu menggebu ingin membawa gadis ini ke ranjangnya. Menemaninya dari malam hingga fajar menjelang. Tapi, Naruto harus segera mengenyahkan pikiran kotornya pada gadis ini. Naruto sadar gadisnya ini berbeda, gadis ini terlalu lugu dan polos. Jika ia menuruti keinginan abstrak dikepalanya itu, maka bisa dipastikan Hinata tak akan mau untuk menemuinya lagi. Setidaknya ia akan buat Hinata perlahan datang padanya.
Dengan enggan, Naruto melepaskan bibirnya dari bibir tipis Hinata, bibirnya menyunggingkan senyum tipis saat melihat ekspresi tak percaya dari Hinata.
"Manis, rasanya manis. Sayang" dan ajibnya suara karismatik Naruto mampu menyadarkan Hinata dari keterkejutannya beberapa detik lalu.
Wajah Hinata merah padam, tangan kanannya yang terbebas dari kuncian Naruto meraba bibirnya. 'Di—a me..menci—umku?'
"Itu bukan Ciuman, tapi kecupan"
Seolah mengerti isi hati Hinata, Naruto menarik pinggang Hinata dengan tangan kanannya dan menggantikan jemari Hinata dengan tangan hangatnya untuk mengusap bibir manis yang habis disentuhnya itu. Hinata tak menolak, bergerakpun juga tidak. Entah kenapa dirinya membiarkan Naruto melakukan apapun padanya sekarang. Dirinya sudah tak bisa memikirkan apa-apa. Mungkin ia hanya belum sadar atas apa yang terjadi barusan. Dia juga tak begitu mendengarkan ucapan Naruto, yang sebenarnya entah didengarnya atau tidak.
"Itu hukuman untukmu, karena lebih memilih lantai ini dari pada tunanganmu"
Naruto teramat sangat senang. Dia kira Hinata akan menamparnya karena berani mengambil cium—ah, kecupan darinya. Tak disangka Naruto malah mendapati reaksi tak terduga seperti ini. Naruto benar-benar menahan kekehannya agar tak membuyarkan lamunan gadisnya. Reaksi gadisnya yang seperti anak kecil yang tengah hilang ingatan dan ini sungguh menggemaskan.
Naruto memiringkan kepalanya dan mengikis jarak dengan Hinata. Menekan bibir itu kuat-kuat membuat Hinata terbelalak. Bahkan mata indah itu tak berkedip sedari tadi.
"Pejamkan matamu, Hinata" Naruto menghentikan sebentar ciumannya sebelum akhirnya Hinata benar-benar mengikuti arahannya dan melanjutkan kegiatan yang sangat menyenangkan ini. Dirinya sudah tak perduli dengan kemejanya yang mungkin tampak kusut karena diremas sangat kuat oleh Hinata. Naruto sadar Hinata pasti terkejut, tapi entah mengapa Hinata dengan cepat menuruti ucapannya. Naruto kembali melahap bibir ranum itu dan menghisapnya seolah dirinya tak akan bertemu bibir manis itu dalam waktu yang lama.
"Engh.." Hinata mengerang tertahan kala merasakan gigi Naruto menggigit bibir tipisnya. Sakit, rasanya sakit. Tapi yang Hinata sendiri tak mengerti dia justru menikmati perlakuan asing Naruto padanya. Namun rasa sakit itu perlahan hilang saat dengan lembut Naruto menghisap lembut bibirnya.
Naruto menghentikan ciumannya pada Hinata. Tangan kanannya membelai pipi Hinata yang penuh dengan rona merah. Tangan kirinya mengusap bibir basah Hinata akibat ulahnya.
Ciuman singkat dan memabukkan.
Meski ini bukan French Kiss tapi perasaan Naruto sudah bebas sekarang. Ia bahkan ingin berteriak sekencang-kencangnya karena berhasil menjarah bibir tipis ini. Naruto lega, akhirnya ia benar-benar sudah memiliki gadis ini sekarang, terlepas dari status yang disandang keduanya. Apa pikirannya sekotor itu?. tidak, bukan tidak, tapi memang iya. Pikiran lelaki normal mana ada yang tak kotor kalau sedang bersama gadis, apalagi gadis itu cantiknya minta ampun.
"Lain kali, jangan membuatku kesal. Atau kau, akan mendapatkan hukuman lebih dari ini, Hinata"
Cup
Naruto memberikan kecupan singkat terakhirnya pada Hinata bertepatan dengan itu pintu lift berdenting, menandakan bahwa mereka telah sampai di lantai bawah.
"Sampai jumpa besok, Hinata" Ucap Naruto sebelum dirinya menghilang dari hadapan Hinata.
Tubuh Hinata merosot kelantai bertepatan dengan pintu lift yang kembali tertutup menyisakkan seorang Hyuuga Hinata. 'Tadi i—itu.. a—apa?'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
Yeyeyeyeye... Lalalalala #Pftttt
kalau kemarin guling sini guling sana sekarang udah lompat sana lompat sini pake gaya balerina..
Udahlah gitu aja yang bisa saya tampilin disini, gila sumpah. Apa anda merasa bingung dengan cerita ini? Saya harap tidak... #Nyantai aja lagi.
Apa fic ini sesuai dengan ekspektasi anda atau malah keluar jalur?
Ni saya udah bikin wordnya agak dipanjangin, apa iya masih kurang panjang?
Inget ini fic ringan loh, jadi bacanya gak usah pake beban gitu ya.. #Sok tahu lu thor.
Jika anda berkesan dengan fic ini, bersediakah anda mereview..
Saya akan lebih semangat jika kalian bersedia..
Ditunggu reviewnya ya... bye #salam tempel
