Disclaimer: KHR belongs to Amano Akira, Varia New Member (Selena dan Xenon) belongs to Eltrish. And don't forget that Xanxus and Squalo belongs to each other! (Fufufu, who can deny this fact?)

Warning: OOC, typo, cussing words, cerita amburadul, cacat, maksa, GJ, dan karya dari seorang penulis amatiran.

Fic ini juga merupakan fic dalam rangka meramaikan fandom KHR dengan pairing XS bersama Arisu-san!

Enjoy the story! ;)


Malam pergantian tahun. Berbeda dari malam pergantian tahun yang lalu, malam ini anggota Varia terlihat jauh lebih kerepotan.

"Momaaaa!" jerit Selena sembari menangis. Wajahnya berubah merah karena terlalu lama menangis. Di sebelahnya, Xenon juga ikut menangis sambil berteriak mencari mamanya, dengan kata lain Squalo.

"Aduh, jangan menangis lagi ya." bujuk Lussuria sambil menyodorkan berbagai macam mainan. " Squaly sedang pergi mengemban tugas, tapi malam ini dia pasti pulang kok."

"MOMAAAAAAAAAA!"

Jeritan Selena dan Xenon makin menjadi-jadi.

Lussuria sudah kehabisan akal untuk membujuk pangeran dan putri kecil Varia itu. Berbagai cara sudah ia lakukan. Ia sudah mencoba merayu dengan menggunakan mainan, makanan, menawarkan membacakan buku cerita, mengajak ke kebun binatang, membuatkan kue, Tuhan, dia sudah melakukan semua cara yang ia tahu agar bisa membuat kedua bocah ini diam dan berhenti menangis namun hasilnya nihil!

"Bagaimana ini?" tanya Lussuria terdengar stres. Bingung harus berbuat apa lagi.

"Entahlah, tapi kalau kita tidak bisa membuat mereka diam bos bisa marah besar." Timpal Levi yang sudah kelihatan stres juga. Mungkin ketimbang harus mengurus dua bocah egois seperti Selena dan Xenon ia lebih memilih pergi mengemban tugas. Sayangnya ia malah harus berada disini untuk mengurusi kedua bocah itu.

"Tapi kita harus gunakan cara apa lagi? Kita sudah mencoba semua cara yang ada! Makanan, mainan, kue, Agh! Pemborosan!"

Mammon yang baru pulang dari mengemban tugas juga langsung terlihat stres melihat hitungan pengeluaran untuk mengurus Selena dan Xenon.

"Shishishi, mungkin lebih baik kita hubungi Squalo supaya dia cepat-cepat menyelesaikan misinya dan kembali kesini?" usul Bel yang sedang memainkan pisaunya. Mungkin Bel adalah satu-satunya orang di dalam ruangan itu yang tidak terlihat stres.

"Hubungi? Maksudmu menelponnya? Kau pikir dia akan mengangkat?" tanya Levi ragu.

"Entahlah, tapi tidak ada salahnya kan mencoba? Lagipula kalau Squalo mengangkat dan pangeran juga puteri kecil ini mendengar suaranya, mungkin mereka bisa berhenti menangis?"

Wajah Lussuria, Levi dan Mammon langsung berubah berseri begitu mendengar Bel berkata 'mungkin mereka bisa berhenti menangis.' Ya, mereka bertiga akan melakukan apa pun asal kedua bocah ini bisa berhenti menangis. Tangisan Xenon dan Selena membuat mereka bertiga gila!

"Ya sudah, ayo cepat kita hubungi!" seru Mammon.

Lussuria buru-buru mengambil telepon yang ada dan menghubungi Squalo. "Squaly... Squaly... angkat teleponnya." ujar Lussuria penuh harap.

"Bagaimana? Diangkat tidak?" tanya Levi tak sabar.

"Belum, belum diangkat."

"MOMAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

Plik!

"Halo? Halo? Squaly?" panggil Lussuria panik. Sepertinya ia makin stres karena tangisan Selena dan Xenon yang makin menjadi-jadi.

"VOIIIIIIII! Jangan berteriak di telingaku, idiot!"

Lussuria buru-buru menjauhkan telinganya dari telepon. Jangankan Lussuria, Levi, Mammon dan Bel pun langsung buru-buru 'mengamankan' telinga mereka masing-masing dari teriakan Squalo yang luar biasa mematikan.

Dibilang 'jangan berteriak' juga sebenarnya yang berteriak itu dia kan? Batin Lussuria.

Tapi ya sudahlah, Lussuria malas berdebat. "Halo, Squaly? Kau sudah menyelesaikan misimu? Kapan kau kembali kesini?" tanya Lussuria masih terdengar panik.

"Voi! Sejak kapan kau mengurusi urusanku? Mau kapan aku kembali itu urusanku kan?"

"Tapi masalahnya-"

Belum juga Lussuria menyelesaikan kata-katanya, Selena dan Xenon berlompatan dengan riang di sekitar kakinya sambil meminta telepon di tanganya. "Moma! Moma! Momaaaa!" teriak kedua bocah itu kegirangan.

Tidak tega, akhirnya Lussuria memberikan telepon itu kepada Selena.

"Moma?" panggil Selena sembari tersenyum lebar. Air mata sudah berhenti mengalir dari matanya, begitu juga dengan adik kembarnya.

"VOI! Kenapa sekarang berubah jadi kau bocah brengsek?" tanya Squalo kaget.

"Momaaa..." Selena tersenyum lebar sekali begitu mendengar suara Squalo. "Moma kapan puyang? Selenya kangen." ungkap puteri egois itu. Xenon yang ada disebelahnya pun mulai protes minta diberi giliran bicara.

"Voi! Voi! VOIII!"

"Iya, iya, syebental."

Tak lama kemudian Selena pun ganti memberikan teleponnya kepada Xenon. Kini adik kembar Selena itu yang memegang telepon. "Voi?"

"Apa lagi sekarang!" teriak Squalo.

"Mo... ma..." panggil Xenon sambil tersenyum.

"Ck... Iya, iya, aku pulang! Jangan menangis selama aku tidak ada ya, mengerti bocah brengsek?"

"Iya moma."

"Hn, ya sudah!"

Plik! Squalo pun menutup teleponnya.

"Moma... bilang jangan menangis." kata Xenon pada Selena. Kakak kembarnya itu pun menangguk setuju. Kemudian Selena menoleh ke arah Lussuria.

"Popa manya?"

"Eh? Um, bos... bos ada di kantornya. Ta-tapi mungkin lebih baik kalian tidak masuk kesana karena bos sedang sibuk."

Wajah Selena kembali berubah masam. "Popa! Popa! POPAAAAAAAAAAAA!" teriaknya. Lussuria, Levi dan Mammon kembali menutup telinga.

"Aduh, bagaimana ini? Tadi mereka mencari Squalo, sekarang mencari bos. Permintaan mereka tidak ada habis-habisnya!" seru Mammon kembali stres.

"Aku benci anak-anak..." komentar Levi yang tak kalah stres.

"Kenapa kalian semua bingung? Sekarang kita tinggal membawa mereka ke tempat bos dan semua masalah akan selesai kan?" tanya Bel enteng. Ia pun melangkahkan kakinya mendekat ke arah Selena dan Xenon lalu menangkat keduanya.

"Pangeran dan puteri kecil, sekarang aku akan membawa kalian ke tempat bos." jelas Bel.

"Bukan puteli kecyil!" protes Selena.

"Ups, iya, maksudku tuan puteri yang terhormat." ralat Bel buru-buru sebelum mood Selena tambah buruk. Ia pun membawa kedua bocah itu ke arah pintu keluar.

"Be-Bel! Kau yakin mau membawa mereka ke tempat bos? Bos pasti marah! Dia kan tidak suka anak-anak!" seru Mammon yakin.

Bel hanya nyengir lebar. "Yah, mungkin bos memang tidak suka anak-anak, tapi ini kan anaknya sendiri." kata Bel santai. Ia pun berlalu sambil membawa Selena dan Xenon dalam gendongannya.

Selepas kepergian Bel, ketiga anggota Varia lainnya hanya bisa membisu.

"Kau yakin Bel akan baik-baik saja?" tanya Lussuria pelan.

"Entahlah, kuharap begitu." jawab Mammon.

"Tapi akhir-akhir ini mood bos gampang sekali berubah, aku tidak bisa menebak apa yang akan terjadi." ungkap Levi.

Lussuria menghela nafas panjang. "Ya sudahlah, aku harus menyiapkan makan malam untuk pesta tahun baru nanti." Ia pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan dan menuju ke dapur meninggalkan Levi dan Mammon sendiri di dalam ruangan.


Suara ketukan pintu terdengar. Xanxus mengalihkan pandangannya dari atas tumpukan-tumpukan kertas bodoh yang sudah menghabisi waktunya. "Siapa?" tanya Xanxus dengan nada tak bersahabat. Biasanya kalau sudah seperti ini tinggal tunggu hitungan waktu saja sebelum mood Xanxus berubah menjadi buruk.

"Ini aku bos. Boleh masuk?" tanya Bel dari balik pintu.

"Masuk." perintah Xanxus singkat. Ia meletakkan penanya di atas meja dan berhenti bekerja. Matanya yang semerah batu ruby itu melebar begitu melihat 'makhluk' yang ada di gendongan Bel. "Kau... siapa yang menyuruhmu membawa bocah-bocah itu kemari?"

"Tapi bos, dari tadi mereka ribut mencarimu terus." ungkap Bel sambil melangkah masuk ke dalam. Begitu mata Selena dan Xenon menemukan sosok Xanxus, mereka berdua langsung melompat turun dari gendongan Bel dan berlari menghampiri ketua Varia itu.

"Popaaa!" panggil Selena dan Xenon sembari berlari mendekat. Mereka berdua berdiri di dekat kursi Xanxus dengan mata berbinar-binar.

Xanxus menundukkan wajahnya, sekilas ia memandangi bocah-bocah yang terlihat begitu antusias melihatnya baru kemudian kembali memandangi Bel dengan tatapan tajam. "Cepat keluar."

"Shishishi, tapi bos, kalau tidak aku, kau akan kerepotan mengurus mereka berdua."

"Jangan membuatku mengulangi perintah yang sama berulang-ulang."

"Aku sih terserah saja, tapi jangan salahkan aku kalau nanti-" Belum selesai Bel bicara, sebuah gelas berisi whisky melayang membentur tembok. Bel tahu kalau bosnya itu memang tidak bisa santai, jadi yah apa boleh buat deh. Ia harus segera angkat kaki dari tempat ini kalau belum mau mati. "Baiklah bos, aku pergi sekarang." pamit Bel buru-buru sebelum mendapatkan 'hadiah' tambahan dari Xanxus.

Sekarang dalam ruangan itu hanya tersisa Xanxus dan kedua bocah di dekatnya.

Xanxus melirik ke arah Selena dan Xenon. "Bocah-bocah brengsek, mau apa kalian kemari?"

Selena dan Xenon hanya tersenyum dengan lebar. "Popa..."

"Aku tanya mau apa kalian kemari? Kalau hanya mau menganggu lebih baik kalian cepat pergi dari sini. Jangan membuang waktuku percuma untuk melayani kalian."

"Selenya... kangen moma." ungkap Selena terlihat sendu. "Selenya kangen popa."

Xenon yang ada di sebelahnya pun ikut terlihat sendu. "Moma... Popa..."

Entah karena kasihan atau sekedar mengisi kebosanan, Xanxus mengangkat kedua bocah itu ke pangkuannya. "Kalau kalian mencari hiu brengsek itu, dia akan tiba tak lama lagi."

Selena memeluk manja Xanxus sambil tersenyum begitu juga Xenon. Oh, akhirnya Xanxus mengerti perasaan Squalo yang tak bisa mengenyahkan keberadaan bocah-bocah kecil ini. Mereka menyebalkan, tapi sulit untuk tidak menghiraukan mereka.

Belum lama momen jarang itu berlangsung, mendadak pintu kantor Xanxus terbanting kencang. "VOIIII! Dimana bocah-bocah brengsek itu!"

Sosok Squalo yang dengan sukses menghancurkan pintu pun melangkah masuk ke dalam. Mata abu-abunya menjelajahi sisi ruangan dan melebar begitu menemukan sosok Xanxus dengan kedua bocah yang ia cari di pangkuannya. Tunggu. Apa? Xanxus memangku mereka!

Squalo tidak bisa menahan cengirannya. "Wah, wah, memutuskan menjadi orang tua yang baik untuk kedua bocah itu?"

"Diam hiu brengsek. Aku hanya berbaik hati menghibur mereka yang sedih karena ditinggal pergi mamanya mengemban tugas."

Mama.

Kata itu terulang di dalam kepala Squalo dan dalam sekejap membuat wajahnya berubah masam. Hei, seenaknya saja menentukannya menjadi mama bagi dua orang bocah. Dia bahkan bukan perempuan!

"Hmph, sejak kapan kau berbaik hati pada orang lain, Xanxus? Sudah, akui sajalah kalau kau mulai mengganggap mereka sebagai anakmu."

Mata Xanxus memicing. Dengan satu gerakan cepat ia langsung menurunkan Selena dan Xenon dari pangkuannya. "Oh, ya? Bukannya kau yang mulai menganggap bocah-bocah ini sebagai anakmu?"

"Tidak!" bantah Squalo cepat.

"Akui saja sampah brengsek."

"Aku bilang tidak!"

Sementara Xanxus dan Squalo mulai berdebat, Selena dan Xenon terlihat riang melihat sosok 'orang tua' mereka kembali bertemu setelah sekian lama terpisah berkat misi bodoh tak berguna itu. "Popa! Moma!"

Xanxus dan Squalo sama-sama memandang bocah-bocah kecil itu lalu menggeram. "TUTUP MULUT KALIAN, BOCAH-BOCAH BRENGSEK!"

Sementara itu di lain tempat, di dapur markas Varia, Lussuria yang sedang memanggang kue dikejutkan oleh suara bantingan benda yang tak salah lagi berasal dari kantor Xanxus. Ia menghela nafas panjang.

Sepertinya malam ini tidak akan menjadi malam yang tenang. batin Lussuria.

Benar saja dugaan Lussuria, tak lama setelahnya suara bantingan benda dari kantor Xanxus semakin menjadi-jadi diiringi oleh suara teriakan juga makian dari Squalo hingga pergantian tahun berlalu.


Thanks for reading!

Review (critics and comments) would be appreciated!

See you next time~