comeback to My Life again, Please!
Andai…
aku bisa memanggil namamu
Dan aku bisa memegang tanganmu
.
.
.
.
Sehun hari ini terpaksa mengunjungi Kim Jongin untuk meminta saran kepadanya. Sejak melihat Luhan (setelah empat tahun), bayangan wajah Luhan terus mengganggu Sehun.
Kai tertawa melihat Sehun datang dengan wajah yang tidak begitu bahagia. Lucu sekali (menurut Kai). Sedangkan Kai masih menahan senyumnya (atau ketawanya) meliat penderitaan teman seperjuangannya ini.
"Kalau kau ingin tertawa, tertawa saja. Aku tidak akan memarahimu," ucap Sehun bersungguh-sungguh. Kai berhenti untuk menahan senyumnya, yang sekarang tergantikan wajah serius yang dibuat-buat.
"Hei, ada apa denganmu?"
"Ini masalah Luhan."
"Memangnya ada apa dengan Luhan. Ia kan sedang menghilang, setahuku."
"Iya. Tapi ia sudah kembali. Di Seoul," Sehun menekankan kata 'Seoul'. Kai mengangguk, sok mengerti.
"Terus?" tanyanya. Rupanya sekarang Kai sedang mengidap LoLa, loading lama.
Sedangkan Sehun mengeram pelan. "Ya, bantu aku untuk mendapatkannya lagi!" terlihat ada persimpangan kerutan di dahi Sehun (yang akan terlihat jika dikomikan).
Kai menyeringai. "Oh, hanya masalah itu! serahkan padaku."
Sehun hanya menatapnya dengan malas. "Aku tahu, kau itu playboy cap kaki gajah,"
"Cih, aku sudah tobat."
"Jinjja?" tanya Sehun dengan mimik tak percaya. "Bukankah tadi kau masih menyempatkan dirimu untuk melirik karyawati yang memakai pakaian begitu minim dan sangat seksi?"
"Hei, siapa bilang?"
Giliran Sehun yang tertawa kesenangan karena wajah panik Kai. Ya, mungkin ia takut diadukan kepada Kyungsoo.
"Sudah, diam sana!"
"Ya, ya aku diam." Sehun menarik nafas dan membuangnya secara teratun, selama tiga kali. "Ok, ayo cepat katakan solusimu!"
"Huuft, pemaksa."
.
.
.
.
Luhan tengah memilih beberapa buku. Setelah dua minggu berada di Seoul, ia belum menambah koleksi bukunya. Jadi ia menyempatkan dirinya untuk sedikit membeli beberapa buku yang disukainya.
Saking asiknya memilih buku, ia menelantarkan Jira (yang berada dibelakang dan mengerucutkan bibirnya). Luhan terlihat melirik Jira yang sedang melipat tangannya di dada, lagaknya seperti perempuan dewasa saja.
"Hei, Jira! Lebih baik kau memilih buku yang kau suka. Appa masih lama," perintah Luhan lalu kembali menatap buku-buku dengan pandangan berbinar. Saking lucu ekspresi yang diberikan Luhan, banyak orang yang berhenti dan terkagum dengan ekspresi itu.
"Huu.. oema jahat." Jira menghentak-hentakan kakinya, kesal. luhan seakan tidak peduli. Ia terus-terusan memilih buku-buku yang dikegemarinya.
Jira yang merasa sedang tidak dipedulikan menatap sebal 'oemanya'. Ia berjalan-jalan saja sekitar toko buku ini.
"Ssst… Jira-ya!" panggil seseorang dengan berbisik. Jira yang sedang dipanggil menoleh keasal suara. Ia mendapati seorang namja yang sangat dikenalinya tengah tersenyum.
"Thehun ahjuthi…" pekiknya. Rindu sekali ia dengan namja yang sangat disayanginya seperti sosok figur ayah yang sangat dirindukannya.
"Jira, kemarilah." Pinta Sehun. Jira menurut, ia mendekati Sehun yang bersembunyi diantara rak-rak buku. Sesampainya disana, Sehun berjongkok, untuk memposisikan dirinya dengan Jira.
"Jira-ya, bisa Ahjussi minta tolong?"
Jira mengangguk patuh.
"Anak pintar." Dengan kasih sayang, Sehun mengusap-usap rambut Jira yang hitam. "Tolong berikan ini kepada oemamu, ya!" pinta Sehun. Namja itu memberikan sebuah paper bag kepada Jira.
"Apa ini ahjuthi?" tanya Jira kebingungan.
Sehun tersenyum misterius. "Nanti juga kau tahu. Oh ya, jangan bilang pada oemamu, jika ahjussi yang memberi ini." Sehun melihat jam tangannya. "Ahjussi pergi dulu. Saranghae Jira!" dicium pipi Jira dan melesat pergi.
Setelah kepergian Sehun, Jira mencari Luhan yang ternyata sedang berada di kasir. Jira menunggu Luhan dipintu keluar.
Luhan sebenarnya sedang mencari Jira. Tapi ketika melihat siluet anak kecil yang berada diluar, membuat kekhawatiran Luhan segera menghilang. Dengan tersenyum ia membuka pintu keluar. "Hai, Jira! Lama menunggu?"
"Thangat lama oema. Ayo cepat kita pulang." anak kecil itu memimpin duluan. Luhan merasa ada yang aneh dengan Jira.
"Jira, apa yang kau bawa?" tanya Luhan sambil menunjuk paper bag yang berada didekapannya. Jira menatap bawaan yang diberikan Sehun tadi. Dan tiba-tiba ia mengingat sesuatu.
"Ini untuk oema." Jira menyerahkan barang itu kepada Luhan dan segera menarik tangan Luhan menuju halte terdekat (Luhan belum menyempatkan dirinya membeli mobil untuk sekarang).
luhan masih kebingungan dengan isi dari paper bag ini. "Dari mana ini Jira-ya?"
"Maaf oema, aku tidak boleh membelitahuna," ucap Jira bijak. Luhan menatap aneh balita itu.
"Terserah," luhan menyerah.
.
.
.
.
"Oema! Cepat buka!" Jira dengan tidak sabar menarik tangan Luhan yang berjalan menuju dapur (setelah meletakan paper bag itu di meja depan televisi).
"Tunggu Jira, appa haus." Luhan bersikeras menuju ke dapur, tapi Jira memaksanya untuk melihat isi dari barang yang tadi dibawanya.
Luhan hanya menghela nafas. Ia tahu, pastinya ia akan kalah dari Jira. "Ok, Jira sayang, mari kita lihat apa isi dari tas itu." luhan pasrah sekarang.
Dengan 'ogah-ogahan' Luhan mengambil kotak yang berada di paper bag tadi. Melihat design kotak yang terlihat begitu familiar bagi Luhan membuat rasa penasarannya tumbuh.
Maskot 'manusia kakao' yang berada di kemasan tersebut membuat Luhan membulatkan matanya. Dengan tangan bergetar Luhan membuka tutup kotak itu.
Chocolate
Lagi-lagi tangannya bergetar untuk mengambil salah satu coklat yang berbentuk hati yang diatasnya diberi toping potongan strawberry. Ia memakannya. Rasanya masih sama. Tidak ada yang berbeda.
'aku akan menjadi seperti cokelat! Manis, dan banyak orang yang menyukainya. Dan coklat adalah salah satu makanan yang dapat menenangkan diri bukan? Aku ingin jadi cokelat'
Perkataan itu tadi. Sekelabat memori masa lalunya sekali lagi menghampiri. Tidak! Jangan! LUHAN TIDAK MAU!
...
Hari itu Luhan sedang menunggu seseorang ditaman kota. Dari tadi ia meremas pakaian yang dikenakannya karena gugup. Entahlah! Bukankah tadi ia begitu excited?
Saking senangnya, Luhan berangkat dua jam lebih cepat dari janji pertemuan itu (atau bisa kita sebut sebagai kencan).
"Hei, Luhan! Apa menunggu lama?" sebuah suara mengintrupsi kegiatan melamunnya. Luhan tersenyum melihat Sehun sudah datang.
"Nggak kok. Nggak lama," dustanya. Luhan sekarang betul-betul senang.
"Ayo kita berangkat!" Sehun menggandeng tangan Luhan. Wajahnya memerah. Ia malu. Aduh! Tingkahnya seperti seorang yoeja saja.
"Se-se-hun, kita mau kemana?" wajahnya yang manis tengah menyiratkan kebingungan. Dari tadi keduanya hanya berjalan menyusuri jalan setapak dengan diam saja.
"Tunggu saja," jawab Sehun cepat. Luhan menundukan wajahnya, menatap sepatu hitam yang dikenakannya.
"Oh, sudah sampai!" sehun memberitahu Luhan yang terus menunduk. Luhan menatap Sehun sebentar, lalu menatap sebuah bangunan didepannya.
'Kedai Cokelat Atok'
Luhan sangat aneh dengan nama yang terpajang di atap toko, yang tertulis menggunakan hangul.
Tanpa disadari Luhan, Sehun menariknya hingga masuk kedalam toko yang dominan dengan warna cokelat dan oranye.
Suasana ditoko itu begitu meriah. banyak kue-kue cokelat penuh warna menghiasi lemari pajangannya. Di atas counter terdapat berbagai menu yang hanya satu bahan utama, yaitu coklat.
"Hai, atok!" panggil Sehun kearah orang tua yang sudah berumur itu. ia tersenyum melihat Sehun datang kemari.
"Hai juga Sehunnie." Orang itu membalas perkataan Sehun. Logatnya saat berbicara terlihat lumayan aneh bagi Luhan.
"Seperti biasa, tok." Pesan Sehun yang terlihat menjadi langganan tetap di langganan coklat ini. sang kakek yang dari tadi dipanggil 'atok' itu memberi tanda ok dan menuju kebelakang.
"Sehun, itu siapa?" tanya Luhan yang dari tadi diam. Sehun hanya menampakan deretan gigi putihnya.
"Itu pemilik toko ini. orang Malaysia," jelas Sehun.
"Malaysia? Tapi wajahnya seperti orang Korea kebanyakan!"
"Kakek itu perawakan Malaysia-korea. Ia besar di Malaysia, lalu mencari pekerjaan di Korea." Sehun sepertinya begitu mengenal pemilik kedai cokelat ini, bahkan asal-usulnya saja Sehun sangat tahu.
"Ini Sehunnie!" kakek itu membawa sebuah kotak yang bergambar maskot 'manusia Kakao'.
"Oh, iya! Kau bersama siapa? Biasanya juga dengan Kyungsoo," tanya Kakek itu yang terus menatap Luhan.
"Kyungsoo hyung tengah sibuk dengan kuliahnya." Sehun melirik Luhan. "Kalau dia calon namjachinguku"
"Eh!" luhan jelas kaget. Apa sih maksudnya?
"Khamsahamnida, Tok!" Sehun membungkukan badannya dan pergi bersama Luhan.
Setelah jauh dari kedai tersebut, Luhan meninju lengan Sehun. Sehun jelas mengadu kesakitan (walau itu hanya bohongan).
"Apa-apaan sih?" tanya Sehun memasang wajah polos miliknya.
"Apa maksudmu mengatakan yang tadi?"
"Yang mana?" serang Sehun.
"I-i-itu…" Luhan malu mengatakan hal yang mengganjal hatinya tadi.
"Sudahlah, kita cari tempat duduk saja," Sehun dan Luhan mengedarkan pandangannya mencari tempat duduk.
"Itu, disana!" Luhan menunjuk sebuah bangku yang kosong. Keduanya duduk disana. Sehun membuka kotak itu. terlihat didalam kotak tersebut, berisi aneka coklat berbagai bentuk.
Rupanya ada white chocolate juga di dalam kotak itu. "Ini namanya 'Magic Chocolate'. Semua cokelat yang dibuat Atok ada disini. Tapi versi yang lebih kecil."
"Magic Chocolate?"
"Iya, magic chocolate!" Sehun tiba-tiba bersemangat. "Kata Atok, magic chocolate ini bisa membuat keajaiban dengan 33 cokelat yang berada di dalam kotak ini. semua melambangkan perasaan yang selalu kita rasakan yang digambarkan melalui cokelat."
Sehun mengambil salah satu cokelat dengan dua buah titik putih, dan satu lengkungan yang menghadap ke atas. Membentuk seseorang yang sedang tersenyum. "Kau tahukan apa arti cokelat ini?"
"Tentu aku tahu, cokelat itu menggambarkan perasaan yang sedang senang." Luhan dengan sangat percaya diri menjawab. Sehun hanya mengangguk.
"Lalu mana perasaan yang sedang menggambarkan perasaan Luhan hari ini?" Sehun bertanya dan menyodorkan kotak itu.
Luhan terlihat sedang berpikir. Pandangan matanya menemukan sebuah ekspresi yang begitu cocok dengannya hari ini. "Ige!"
"Yang ini?" Sehun menanyai sekali lagi, terlihat begitu ragu. Luhan mengangguk.
Pasalnya, Luhan memilih ekspresi sedih. Berbeda sekali dengan ekspresi yang ditampilkan Luhan. "Apa maksudmu?"
Luhan menundukan kepalanya dan memainkan kedua tangannya. "Aku sedih. Sehun akan ke Inggris. Aku membenci hal itu." Luhan mendengus. "Aku tidak suka perpisahan. Sungguh!"
Sehun tersenyum. Ia mengacak-acak rambut Luhan, walaupun tindakannya itu sangat tidak sopan. Mengingat Luhan lebih tua darinya.
"Kau jangan khawatir." Sehun mengambil sebuah cokelat berbentuk hati dengan toping strawberry dan menyuapkannya ke Luhan. Luhan menerimanya dengan senang hati.
"Aku akan menjadi seperti cokelat! Manis, dan banyak orang yang menyukainya. Dan coklat adalah salah satu makanan yang dapat menenangkan diri bukan? Aku ingin jadi cokelat…" Luhan menahan nafas. "Hanya untuk Luhan saja."
Perkataan Sehun membuat Luhan terperangah. "Jadi…"
"Jadiii…" Sehun menekankan perkataannya. "Jika Luhan kangen, makan cokelat baru bayangin jika aku ada disebelahmu."
Sehun memegang telapak tangan Luhan dan diletakan didada miliknya. Terdengar detakan jantung yang begitu kencang. Iramanya tidak beraturan, tapi begitu menyenangkan bagi Luhan. Seirama dengan miliknya.
Wajah Luhan memerah saat keduanya beradu pandang. Detakan jantung milik Luhan makin terdengar kencang. Posisi itu tetap dipertahankan keduanya, dengan sengaja.
Tanpa disadari keduanya, wajah mereka mendekat. Makin dekat, sangat dekat, hingga tidak memungkinkan jarak yang terjadi diantara keduanya. Dan pada saat detik berikutnya, bersatulah kedua bibir tipis itu dengan kehangatan.
Ciuman pertama keduanya telah tercuri. Tercuri pada orang yang tepat. Berlangsung begitu lama, tanpa melepaskan pegangan tangan yang sedari tadi terus merekat. Seakan-akan ada lem super yang dilapiskan ketelapak kanan keduanya.
Keduanya merasa melayang. Mungkin bagi keduanya senja kali ini adalah senja terindah yang mereka lalui. Dengan bersama tentunya.
Saking indahnya, bahkan kedua insan itu melupakan bahwa itu adalah ciuman perpisahan.
'ciuman pertama untuk perpisahan'
.
.
.
"AAAARRRRRGHT!"
Jira merasa jantungnya hampir meloncat keluar. Luhan berteriak begitu keras dengan pandangan yang begitu shock. Dipegangnya jantungnya, (berjaga-jaga jika jantungnya betul-betul keluar).
"OEMAAAAA!" sekarang Jira yang ikut-ikutan berteriak.
"ADA APA JIRA?!"
"OEMA JANGAN BELTELHIAK! TELINGA JILHA THAKIT!"
"JIRA JUGA JANGAN BERTERIAK! APPA SEDANG STRES!"
"Haah… Haah…"
"Haah… Haah…"
Keduanya tengah menstrelirkan nafas karena sedari tadi berlomba berteriak.
"Haah… Jilha capek. Haah… Jilha mau tidulh. Haah… thelamat, haah… malam oema!" Jira segera melesat pergi kekamarnya. Tapi, tak lama kemudian ia berbalik dan mencomot beberapa cokelat. "Jilha minta, ya oema!"
.
.
.
.
"Hai, Luhan!" sebuah suara yang sangat ceria dan cempreng hampir merusak telinga Luhan (walau terkesan lebay dengan pernyataan Luhan barusan).
"Noona, jangan berteriak." Protesnya. Yoeja itu hanya nyengir.
"Ayolah, rileks sedikit!"
"Aku sedang sibuk."
"Tidak bisa ditunda, ya? Padahal ada yang ingin kubicarakan."
"Yuri noona! Bisa diam sedikit saja, kumohon!" sekarang Luhan mulai memohon. Ia sedang dikejar deadline.
Yuri menyeringai melihat Luhan kesal. Ia paling suka melihat wajah manis itu marah-marah.
"Hahaha… kau marah?"
Luhan diam.
"Hei, jangan marah dong!" rayu Yuri.
Masih hening.
Kriik… krik…
"Huuft!" Yuri mulai menyerah. "Aku minta maaf. Tapi ada yang ingin kubicarakan." Luhan mulai tertarik. Menurutnya ini serius. Selama satu bulan bekerja disini, Yuri (selaku sekretaris Direktur) selalu doyan bercanda.
"Apa?"
"Kalau aku mulai menyukaimu!"
"Jangan membual Noona. Aku tidak mau diamuk Choi sajangnim tauk!"
"Ha… Ha… Ha… maaf, maaf. Aku khilaf." Yuri memegang perutnya, menahan ketawanya yang akan meledak.
"Fokuslah sedikit," pinta Luhan.
"Sekali lagi maaf." Yuri mengambil minuman di botol air mineralnya (yang dicuri dimeja Choi Siwon). "Kita ada proyek besar Luhan."
Luhan terlihat begitu senang. Apa ini gilirannya? "Jinjja? Wah, aku tidak sabar."
"Ya, harusnya kau tidak sabar. Karena kita akan bekerja sama dengan salah satu perusahaan terbesar di Korea Selatan. Keren bukan?" Yuri bertepuk tangan sendiri.
"Ya, harusnya aku memang bangga." Luhan tersenyum senang.
.
.
.
.
"Ayo Luhan!"
"Aku tidak mau!"
"Ada apa sih denganmu?" Yuri mulai mengira-ngira kelakuan Luhan yang mendadak aneh.
Tadi pagi, Luhan sudah stand by di depan mobilnya. Memakai kemeja yang terlihat di setrika begitu licin. Di tas kecilnya terdapat camera 'canon eos 650d'. kamera baru yang sangat disayanginya (setelah X-bi'nya').
Setelah sampai, wajahnya sudah pucat duluan.
Apakah sebegitu gugupnya?
Dan tiba-tiba Luhan menolak untuk masuk. Ia bilang, lebih baik dirinya menunggu di mobil untuk berjaga-jaga. Alasan yang begitu aneh bukan?
"Tidak ada alasan Luhan! Palli!" perintah Yuri. Luhan masih menggeleng. Yuri terpaksa menarik Luhan. Walau Yuri yoeja dan Luhan namja, yuri begitu kuat hingga membuat keduanya sudah sampai ke lobi.
Yuri mengibaskan rambut panjangnya. Mungkin menestralisasikan rasa salah tingkahnya gara-gara insiden tadi. Yuri mulai melangkah, tapi ia merasa dibelakangnya tidak ada Luhan. Didapatinya Luhan masih berdiri seperti patung di pintu.
"Luhan, ayo masuk. Kau menghalangi orang mau lewat itu."
Mendengar pemberitahuan Yuri, Luhan refleks melangkah ke samping dan membungkuk hormat meminta maaf. Yuri hanya geleng-geleng kepala.
Dengan wajah menunduk, namja manis itu mendekati Yuri. Keduanya menuju resepsionis cantik yang sedang duduk-duduk santai.
"Kami ingin bertemu dengan CEO kalian," Yuri membuka suara dan terkesan begitu wibawa sekali (bahkan Luhan hanya melongo dibuatnya).
"Apa anda sudah membuat janji?" tanya resepsionis itu dengan pandangan menyelidik.
"Tentu. Kami dari 'ELF corporation' sudah membuat janji," ujar Yuri dengan pedenya.
"Tapi sayang sekali agassi, beliau belum datang," jawab sang resepsionis.
Yuri mendesah kesal. berbanding terbalik dengan Luhan yang tiba-tiba berseri dibelakang Yuri. "Terima kasih," ucap Yuri. Keduanya berbalik untuk pulang.
Luhan terus saja menghibur Yuri (walaupun ia tidak merasa sama sekali simpati). "Mungkin kita masih ada waktu bertemu dengannya," hibur Luhan.
Tapi jangan sampai deh!
Yuri yang mendadak lemas, tiba-tiba tegap kembali (Luhan hampir saja jatuh melihat mendadaknya sikap Yuri). "Aku ada ide." Yoeja itu berbinar-binar. Dan ia sekali lagi melesat ke meja resepsionis.
Sedangkan Luhan hanya melihatnya saja tanpa berniat menyusul. 'semoga Yuri noona tidak lama' doanya dalam hati.
Ia mengernyitkan dahinya saat dilihatnya, sang resepsionis sedang menunjuk kearahnya (atau kebelakangnya). Yuri juga mengikuti arah pandang yang ditunjuk. Luhan yang juga penasaran ikut-ikutan menoleh kebelakang.
Dan tiba-tiba udara disekitarnya begitu panas hingga membuatnya berkeringat. Wajahnya pucat kembali. Debaran dijantungnya begitu keras hingga membuat badan Luhan bergetar. Ya Tuhan! Apa yang terjadi pada Luhan?
Kenapa kau ada?
TBC
A/N :
Bawa chap. 3. Alhamdullilah selese. Dan rupanya gak sesuai perkiraan. Jadi keasyikan sendiri waktu ngetiknya (cerita kayak gini tipe aku bgt!)
Dan soal 'Toko Atok'nya aku terinspirasi ama kartun BOBOIBOY.
Aku juga mau minta maaf untuk TYPO.a!
Nah, untuk chap. Ini aku udah ngasih flashback-nya (walaupun Cuma dikit).
Rencana sebelum.a mau bikin 1 chapter untuk flashback tok. Tapi kayaknya gak terlalu cocok. Mending kayak ini aja.
Kemungkinan dua chapter akan ada flashback.
Ok! Ayo reviewnya! Bagi SIDERS, tolong tobat, ya kalau bingung mo nulis apa tulis aja kata-kata singkat (biarpun hanya 1 kata) gak masalah. Yang penting kalian bisa menghargai karya seseorang.
Ini sebenarnya dari pengalaman pribadi sih (dulu SIDERS), waktu jadi author jadi tau bagaimana rasanya. Aku juga mulai mencoba agar updatenya cepet (pengalaman)
Untuk yang FOLOW, FAVORITE, REVIEW makasih!
