A/n: Habis lebaran baru bisa publish, mumpung masih lebaran saya mau minta maaf kepada reader sekalian jika selama ini pernah bikin kesalahan hontou ni gomen nasai~

Bleach © Tite Kubo

Warning: au, ooc, typo(s) bahasa tidak baku, dan cerita yang abal.

T.A.G present:

Unmei

#2: RAMALAN

.

.

.

Langit pagi kota Kara Kura tampak biru cerah, secerah hati seorang pemuda berambut orange mencolok yang kini tengah berlari menyusuri jalanan pemukiman. Pukul 10.00 pagi waktu setempat kala pemuda beriris musim gugur itu berhenti di depan sebuah pintu flat dimana sang kekasih tinggal. Lengan kekarnya mengetuk pelan pintu dengan dekorasi boneka kelinci yang menggantung dibagian tengahnya itu. Tak berapa lama terdengar sahutan dari dalam dan pintu mengayun terbuka bersamaan dengan seorang gadis manis bersurai hitam dan sepasang biner amethyst cerah.

"Gomen ne, aku agak terlambat," kata pemuda itu sambil menggaruk tengguknya yang tidak gatal.

"kau lebih dari telat!" ucap gadis bernama Rukia itu sambil menggembukan pipi sementara kedua tangannya disilangkan di depan dada.

"Oh ayolah hanya terlambat sebentarkan?" Ichigo nyengir kura.

"Sebentar, kau tau jam berapa sekarang? Telat satu jam Ichigo!" kata Rukia sambil menunjuk nunjuk jam tangan berbentuk kepala kelinci yang melingkar manis di lengan kurusnya.

"Maafkan aku Rukia, itu tadi karena alarm dikamarku rusak jadi aku tidak bisa bangun lebih pagi dan…"

"Ini tidak bisa dimaafkan begitu saja," potong Rukia sambil kembali menggembungkan pipinya.

"Baiklah bagaimana caranya agar kau mau memaafkanku?" tanya Ichigo sambil memasang tampang pasrah.

"Mudah saja kok, nanti di taman ria aku mau kamu membelikanku Strawberry sundae, okonomiyaki, takoyaki, ramen, tempura, lalu gula gula juga pizza dan hot…"

"Rukia apa perutmu muat dengan semua itu?" potong Ichigo dengan raut muka tidak enak.

"Tentu saja, ayo berangkat sekarang!" kata Rukia sambil menarik tangan Ichigo yang membuat pemuda itu tak mampu berkata-kata.

.

.

.

Taman Ria

.

.

.

Siang yang begitu cerah tanpa setitikpun awan, dibawah naungan sang mentari yang menyinarkan cahaya lembutnya sebuah taman ria yang cukup ramai berada. Kebetulan hari minggu sehingga keadaan sangat ramai, pun begitu mereka berdua tampak menikmati semua permainan di taman ria mulai dari jet coster, rumah hantu, istana boneka, dan berbagai wahana di tempat itu.

"Ichigo…kita coba ramalan yuk!" ajak Rukia setelah mereka meninggalkan wahana merry-go-round, lengan kurusnya kini sudah main tarik tangan pemuda itu menuju sebuah stand ramalan yang tak terlalu besar namun cukup banyak antriannya.

"Masuknya satu-satu ya," kata petugas yang menjaga stan itu setelah menyerahkan tiket.

"Ichigo aku masuk duluan," dan gadis mungil itu masuk kedalam ruang berdesain gothic. Tempat itu nampak remang dengan pencahayaan minim dari lampu-lampu kristal kecil yang disusun di sudut-sudut ruang semetra kain hitam dipasang sedemikian rupa menutupi temboknya, menjadi wallpaper suram. Dan di ujung ruangan duduklah seorang gadis muda berwajah tegas. Tubuh mungilnya berbalut busana gothic lolita serba hitam, seekor burung hantu seputih salju tampak bertengger di bahunya.

"Silahkan duduk mau diramal tentang apa?" tanya wanita beriris kelabu itu sambil meletakkan tangannya di atas meja di hadapannya.

"Um… tentang cinta!" ucap Rukia malu-malu setelah duduk di kursi .

"Baiklah," wanita itu mengambil sebuah teko dan menuangkan isinya kedalam teh yang masih bercampur dengan daunnya tanpa disaring.

"Minumlah teh ini." Kata gadis berkepang dua itu sambil menyodorkan cangkir itu pada Rukia.

"Ramalan daun teh ya? Baiklah." dengan senang hati Rukia meminum teh itu hingga hanya daun tehnya saja yang tersisa dan kembali menyerahkannya pada si tukang ramal. Sang peramal mulai mengamati sisa-sisa daun teh tersebut. Memutar mutar cangkir dan melihatnya dari beberapa sudut berbeda.

"Kau beruntung punya kekasih yang sangat sayang dan setia kepadamu," katanya sambil tersenyum simpul, nona peramal masih memutar mutar cangkir di tangannya, "dia rela berkorban demi yang dicintainya, dia lelaki terakhirmu. Tapi sepertinya ada aura janggal yang mengikutimu, berhati-hatilah dan waspadai sekeliling."

"Kalau itu aku tau kok," Rukia tersenyum, "terimakasih banyak atas ramalannya," setelah membungkuk sejenak Rukia meninggalkan peramal itu.

"Tunggu!" panggil sang peramal tapi Rukia telah keluar.

.

.

.

Rukia telah keluar dengan senyum lebar, bahkan ucapan dari peramal tadi tak membuat mood-nya berubah sendu. Apalah yang harus ditakutkan? Ia sudah mulai menerima kenyataan. "Ichigo, giliranmu."

Gadis itu masih melempar senyum sambil melihat punggung sang kekasih yang tampaknya sedikit ogah-ogahan melangkah memasuki ruang peramal.

.

.

.

Kini giliran pemuda itu memasuki ruangan serba hitam itu. Menemui peramal yang sama dengan yang Rukia temui.

"Apa yang ingin kau ketahui?" tanya sang peramal sambil mengocok kartu tarot, Ichigo mengambil duduk di depannya sedikit malas-malasan. Tiba-tiba udara di sekitar mereka terasa berat.

"Aku? Hem sebenarnya aku tak percara dengan ramalan maaf saja ya." Kata Ichigo cuek.

Peramal itu tersenyum, "Banyak orang bilang tak percaya dengan ramalan, aku hanya perantara yang mengintip sedikit pemandangan dari masa depan, terserah kau mu percaya atau tidak. Gadis bermata violet itu pacarmu kan?" Tanya peramal itu sambil meletakkan kartu tarotnya di atas meja. Ichigo hanya menggangguk.

"Dia, ada sesuatu yang mengikutinya dan sesuatu itu akan membuat kaliau tidak akan bisa bersama untuk selamanya." kata peramal dengan nada rendah.

"Brak"

Ichigo tiba-tiba bangkit dari kursinya sambil menggebrak meja, ekspresinya menegang kerutannya kian dalam, sepasang matanya menatap tajam pada sang peramal, "lelucon atau kutukan yang kau ucapkan ini?"

Tentu saja ia tak merasa senang karena bukan berita bagus yang ia dengar, meski Ichigo tak percaya dengan ramalan pemuda itu cukup sensitif menyangkut hubungannya dengan Rukia yang disayanginya.

"Aku tidak sedang membuat lelucon atau mengutuk kalian, aku hanya mengintip sedikit masa depan gadis itu, ochitsuite,"

"Aku tak percaya dengan perkataanmu, maaf permisi!" Dan Ichigo beranjak pergi dari tempat itu.

"Seringkali orang-orang sepertimu akan marah bila aku meramalkan hal yang buruk. aku hanyalah peramal. Dan kenapa pasangan ini tak pernah mau mendengar ucapanku sampai selesai? Nande daro na, Nee Suzume bachi…" Gumam nona peramal sambil menatap burung hantunya yang kini balas menatap balik sang majikan sambil menelengkan kepalanya.

.

.

.

"Bagaimana Ichigo?" Tanya Rukia begitu mereka keluar dari area tukang ramal.

"Bagaimana apanya?"

"Ramalannya lah!"

"Ah aku tak percaya dengan ramalan sudah jangan dibahas."

"Apa hasilnya buruk?" tanya Rukia sambil menunduk sedikit muram.

Melihat perubahan sikap pada diri sang pujaan hati, mebuat Ichigo merasa tidak enak, "ara, ie, tak ada apapun yang buruk. Dia hanya berkata kalau kita ini pasangan yang serasi dan akan memiliki hubungan yang lenggeng," Oh Ichigo bohong, "tapi yang jelas Rukia," Ichigo mengangkat dagu rukia hingga wajah mereka saling bertemu, "tanpa ramalan itu sekalipun aku tak akan pernah meninggalkanmu sampai kapanpun."

Perlahan senyum lembut Rukia mengembang.

.

.

.

Waktu begitu cepat berlalu sebentar saja senja mulai turun. Keduanya tampak lelah setelah puas mencoba beberapa wahana setelah meninggalkan stand peramal tadi.

"For the last of this day, aku mau naik itu lalu sebelum pulang!" Ucap Rukia menunjuk ferrish well.

"Ah, jangan ngomong pakai bahasa asing gitu deh, tapi baiklah, ikou,"

Keduanya kini telah berada di dalam ferrish well, dan Rukia tampak begitu bahagia. Dari atas sini mereka dapat melihat pemandangan seluruh area taman ria, berbagai wahana dibawah juga pengunjung lain yang tampak kecil. Ichigo tersenyum melihat Rukia yang tampak bahagia memandangi pemandangan yang berada dibalik kaca ferrishwell. Namun tak dapat dipungkiri, Ichigo tidak mampu menutupi kegusaran di dalam benaknya.

'Dia, ada sesuatu yang mengikutinya dan sesuatu itu akan membuat kaliau tidak akan bisa bersama untuk selamanya.'

Kata-kata itu terus saja terngiang di kepalanya berputar-putar dan berulang-ulang hingga ia tak dapat menikmati sisa wahana permainan. Tanpa Ichigo sadari sepasang iris violet menatapnya sendu, "Ichigo kau kenapa?" Tanya pemilik amethyst itu khawatir.

"Ichigo…" panggil Rukia sekali lagi sambil melambaikan tangannya di depan wajah sang kekasih.

"Eh?" Ichigo tersadar dari lamunannya dan segera menangkap jemari Rukia.

"Ichigo…" Perlahan pemuda itu mendekatkan wajahnya ke wajah Rukia dan mengecup bibir Rukia dengan lembut. First kiss yang tak diduga-duga. Meski hanya sejenak perasaan hangat mengaliri hati Rukia. Meski setelah mereka melepas ciuman singkat itu tersadar Rukia kalau sang kekasih tampak gusar.

"Wajahmu murung? kau kenapa?"

"Aku tidak apa-apa." Ichigo tersenyum kecut mereka pun turun dari biang lala dan pulang.

Selama perjalanan pulang di kereta pun Ichigo tampak tidak muram. Padahal ini kencan pertama mereka, dan ciuman pertama mereka, namun kenapa berakhir begitu muram? Rukia begitu penasaran namun gadis itu hanya terdiam. Melangkah pelan disebelah Ichigo.

'Kaliau tidak akan bisa bersama untuk selamanya.
Ada sesuatu yang mengikutinya'

kata-kata itu terus menerus menghantui pikiran Ichigo.

"Ada apa denganmu Ichigo?" Batin Rukia.

"Sudah sampai!" ucap Ichigo ketika mereka telah sampai di depan rumah Rukia, "Kalau begitu aku pulang dulu ya, Rukia."

"Ichigo… terimakasih ya atas hari ini."

Pemuda itu hanya mengangguk, "Ja ne Rukia…"

"Jaa Ichigo."

Pemuda itu berlalu dan Rukia yang masih merasa heran memasuki flat-nya. Sebenarnya Ichigo kenapa? Apa aku berbuat salah padanya? Tanpa disadari oleh Rukia lagi lagi Seseorang dari kejauhan mengamatinya, bahkan jauh sebelum gadis itu tiba di rumah, di jalan tadi, di taman ria, saat bersama Ichigo. Namun mereka tak menyadari, karena keberadaannya tersembunyi dengan rapi. Orang itu bergumam pelan, "Rukia Kuchiki…"

=========================TO BE CONTINUED=========================

a/n wah gomeen minna atas keleletan author nge-update enih fic. Chapter ini sepertinya makin gaje daah huhu gomen saya buntu ide. Btw adakah yang mau jadi beta reader saya? *kedip kedip