Disclaimer : Tite Kubo

Rate : T

Genre : Romance

WARNING : Typo bertebaran dimana-mana, EYD yang amburaul, Penempatan tanda baca yang tidak sesuai, OOC, Gaje dan masih banyak kekurangannya.

(Baca Chapter 2 yang diedit biar tidak bingung membacanya)

PLEASE IF YOU DON'T LIKE DON'T READ

.

.

.

X0X0X0X0X0X0X0X

Sudah beberapa hari ini Orihime tinggal dengan Ulquiorra, pria yang mengaku sebagai Raja Vampire sekaligus calon suaminya. Gara-gara kehadiran Ulquiorra yang tiba-tiba didalam hidupnya membuat kehidupan Orihime yang dulunya biasa kini menjadi luar biasa, seperti saat ini dirinya tengah digendong oleh Ulquiorra berlari menghindari dari serangan dan kejaran dua orang yang tak dikenal saat pulang dari pergi berbelanja.

"Haineko..." teriak wanita bersurai orange.

WHUUSSS...

Pedang yang berada ditangan wanita bersurai orange itu melebur bagaikan debu.

CRAT...

Lengan kanan Ulquiorra terkena serangan darinya karena melindungi tubuh Orihime.

"Akh...sial..." rintih Ulquiorra.

Darah segar mengalir dari lengan Ulquiorra yang terluka, mau tak mau mereka berdua berhenti disebuah taman yang sepi. Orihime menatap cemas melihat keadaan Ulquiorra yang terdesak juga terluka karena mati-matian melindunginya.

BUAGH...

Pria bersurai putih pendek yang mengejarnya tadi tiba-tiba memukul tubuh Ulquiorra dari belakang dan tubuh langsung Ulquiorra tepental jauh.

BRUK...

SRAK...

"Akh..."

"Tuan Vampire..." jerit Orihime seraya berlari menghampiri Ulquiorra.

"A-aku ta-tak apa Hime..." ucap Ulquiorra lemah.

Pria bermata Ermerald ini merutuki dirinya sendiri karena lemah dan tak bisa melindungi gadis yang dicintainya, andai saja kekuatannya bisa pulih dengan sempurna pasti dengan mudahnya bisa menghabisi mereka berdua.

"Kau lemah sekali Ulquiorra, kemana sosokmu yang kuat dan agung itu," sindir pria bersurai putih pendek itu seraya tersenyum penuh kemenangan.

Belum sempat pria itu melancarkan serangannya, Ulquiorra sudah keburu pergi membawa Orihime menjauh dari mereka berdua.

"Kemanapun kau pergi, kami pasti akan menemukanmu. Ayo kita kejar mereka Ran-chan." Ucapnya pada wanita disebelahnya.

"Hm..." sahutnya seraya menganggukkan kepalanya.

Keduanya-pun melangkah cepat mengejar Ulquiorra.

Setelah berlari cukup jauh, Ulquiorra berhenti sejenak untuk beristirahat disebuah gedung tak terpakai dipinggiran kota. Nafas Ulquiorra terlihat terngengah-engah mengingat cukup banyak ia kehilangan darah karena lukanya. Orihime sangat cemas dan khawatir melihat keadaan Ulquiorra, tanpa berfikir panjang Orihime membuka kemeja sekolahnya dan memperlihatkan pundak putihnya.

SRUK...

"Hi-hisap da-darahku Tuan Vampire..." pinta Orihime dengan wajah merona merah.

Ulquiorra terdiam dan kaget mendengarnya, "Apa yang kau lakukan Hime, kau..."

"Cepat Tuan Vampire..." teriak Orihime.

Ulquiorra langsung mengeluarkan taringnya dan memeluk tubuh Orihime, sebelum menggigitnya, ia mencium lembut pundak kanan Orihime.

"Gomenasai Hime." Ulquiorra menancapkan taringnya.

"Akh..." rintih Orihime saat merasakan Ulquiorra menggit pundaknya.

Tubuh Orihime terasa panas juga bergejolak hebat saat Ulquiorra memeluk dan menggigitnya.

"Darahmu sangat manis dan panas Hime." Batin Ulquiorra.

Tak lama setelah Ulquiorra menghisap darah Orihime, pandangan mata gadis bersurai oranye kecokelatan ini terlihat kabur dan kepalanya terasa pusing.

SRUK...

Tubuh Orihime jatuh lemas dan hampir tak sadarkan diri dalam pelukkan Ulquiorra.

"Terima kasih Hime." Dikecupnya kening Orihime.

Tak lama Orihime pingsan dan kedua orang itu datang menemukannya dan Orihime.

"Mau lari kemana lagi kau, Ulquiorra Schiffer." Ejeknya.

Pandangan mata Ulquiorra terlihat menajam dan membunuh "Pergilah sebelum aku membunuh kalian."

Pria bersurai putih itu terawa sinis mendengarnya, "Jangan bercanda padaku Ulquiorra, kau ini lemah da..."

Perkataan dari pria itu terhenti saat sebuah cahaya kehijauan melesat kearahnya dan menghancurkan tubuhnya hingga menjadi debu. Tubuh wanita yang berada disamping pria itu gemetaran hebat tak kala melihat pasangannya lenyap menjadi debu.

"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Ulquiorra dingin.

"A-Ashido-sama..." jawabnya takut.

Iris Emerald milik Ulquiorra melebar mendengarnya dan menanyakan kembali pada wanita Vampire itu siapa yang menyuruhnya namun jawaban dari wanita bersurai orange itu tetap sama, kalau yang menyuruhnya adalah Ashido Kano, pemuda yang menyebabkan tewasnya pengantinnya lima ratus tahun yang lalu.

"Cero." Ulquiorra mengarahkan telunjuk tangannya tepat didahi wanita itu.

WHUSSSS...

Tubuh wanita itu-pun lenyap menjadi debu sama seperti teman prianya itu.

GREP...

Ulquiorra meraih tubuh Orihime dan membawanya pulang kerumah. Selama perjalan pulang Ulquiorra terus memikirkan tentang Ashido, teman dari Yukihime yang hidup hampir lima ratus tahun yang lalu dan seharusnya sebagai seorang manusia biasa pemuda itu sudah mati mengingat ini sudah ratusan tahun berlalu.

"Ashido Kano." Desis Ulquiorra.

*#*

JPRET...JPRET...JPRET

Pagi ini para petugas kepolisian tengah memotret dan menyelidiki jenasah seorang gadis muda di persimpangan jalan. Pihak kepolisian merasa bingung dan heran dengan luka yang dua lubang kecil dileher kanannya namun mengakibatkan gadis muda itu tewas karena kehabisan darah.

"Kira tolong kau dan yang lainnya meninjau daerah sekitar sini apakah ada orang yang mencurigakan." Ujar seorang pria bersurai merah panjang yang merupakan kepala kepolisian dikota ini.

"Siap komandan, akan saya lakukan." Sahut pria bersurai kuning ini, dan segera bergegas pergi menjalankan tugasnya.

Saat ini pihak kepolisian tengah menangani kasus pembunuhan penuh misterius ini, karena kejadian ini sudah lebih dari sepuluh kali dalam sebulan ini dan semuanya yang menjadi korban adalah para wanita muda.

Dan untuk kasus ini ada satu orang yang menjadi saksi mata atas pembunuhan misterius ini, pria itu adalah teman dekat dari sang korban.

"Ayame, bagaimana keadaan pria itu?

"Pemuda itu masih terlihat ketakutan sekali dan syok berat, tak hanya itu ia juga terus menyebut monster." Jawab Ayame.

"Monster?!" pria bersurai merah ini terlihat bingung dan penasaran dengan penjelasan dari anak buahnya.

Ayame menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan dari sang komandan.

"Bagaimana mungkin yang melakukan semua ini adalah seorang monster?! Tidak masuk akal sama sekali." Ujarnya seraya tertawa kecil.

"Mungkin saja yang melakukannya memang seorang monster." Sahut seorang pria bersurai hitam dengan mengenakan Hakama hitam yang terlihat sangat mencolok sekali di mata orang-orang.

Baik Ayame dan sang komandan langsung menoleh kebelakang, ke asal suara.

"Anda siapa?!" sang komandan menatap heran orang asing itu yang tiba-tiba datang.

"Apakah anda tidak tahu kalau tempat ini sudah diberi garis polisi dan orang luar dilarang masuk selain para petugas kepoilisian." jelas Ayame yang mencoba mengingatkan pria itu.

"Maafkan atas kelancangan kami, tapi kami berdua datang untuk mensucikan tubuh gadis ini." Ucap seorang gadis cantik bersurai hitam pendek yang mengenakan Hakama hitam.

"Pergilah, disini bukan tempat yang bisa kalian datangi sesuka kalian." Usir Ayame ketus.

Namun keduanya terlihat diam dan cuek saja, merasa diabaikan oleh mereka berdua Renji menarik tangan gadis cantik itu namun sebuah tali yang diselubungi cahaya kuning mengikat kedua tangannya.

"Jangan sentuh adikku dengan tangan kotormu itu." Ucap pria itu dingin.

Tubuh Renji kaku dan tak bisa bergerak sama sekali, ia merasa bingung tali apa yang mengikat kedua tangannya karena tali ini terasa sedikit panas dan susah untuk dilepaskan.

"Rukia buatlah perisai agar orang-orang itu tak mengganggu." Ucap pria itu dingin.

"Baik Nii-sama."

"Kekkai." Ucap gadis cantik ini dan tak lama sebuah perisai kuning keemasan tercipta disekitarnya.

Pria tampan bersurai hitam ini terlihat berjalan mendekati sang korban lalu mengeluarkan sesuatu dari balik Hakama hitamnya seraya merapalkan sebuah mantra, dan tiba-tiba saja dari dalam tubuh gadis itu keluar asap putih yang sangat tebal.

Semua orang kaget juga panik melihat asap tebal yang keluar dari tubuh korban, buru-buru mereka semua mendekat namun sesuatu menghalangi jalan mereka.

"Jangan bercanda denganku. Apa yang kalian lakukan pada korban?" bentak pria bersurai merah itu dengan penuh emosi.

"Aku hanya mensucikan jasad gadis ini agar tidak menjadi budak dari mahkluk mengerikan itu," jelasnya yang membuat semua orang bingung dan keheranan.

"Rukia, lepaskan perisainya."

Rukia mengarahkan kedua telapak tanganya membentuk setiga dan perisai yang melindungi mereka berdua hilang dan lenyap.

Renji berlari menghampiri keduanya untuk memarahinya karena sudah berbuat diluar batas. Akan tetapi pria tampan bermata abu-abu ini terlihat tenang saja dan tidak terlalu serius menanggapi omelan dari Renji karena ia datang ke tempat ini bersama sang adik untuk menjalankan tugas juga mencari jejak para Vampire.

"Sebelum aku pergi, bolehkah aku bertanya pada anda?" tanyanya pada polisi bersurai merah itu.

"Apa itu? Jika bukan hal yang aneh-aneh aku akan menjawabnya,"

"Bisa kau jelaskan apa penyebab kematian dari gadis itu?" pria tampan itu menatap sang Komandan kepolisian dengan tajam.

"Wanita muda ini tewas karena kehabisan darah, bukan karena sebuah luka tusukkan, racun atau-pun pukulan," jelas pria bersurai merah itu dengan ketus.

Pria tampan ini tersenyum mendengar jawaban dari polisi muda itu, "Lalu apa bisa anda jelaskan bagaimana seorang manusia bisa membunuh, tanpa melukainya sedikit-pun atau meracuninya?"

Pria bersurai merah ini terdiam terpaku mendengar pertanyaan dari pendeta kuil suci itu.

"Mungkin saja itu adalah efek dari sebuah obat." Balas pria bersurai merah itu yang tak mau kalah.

"Benarkah? Apa anda yakin dengan hal itu?"

"Te-tentu saja, memang apa lagi yang bisa membunuh gadis itu?" ujarnya dengan gugup.

"Vampire." Ucapnya dengan serius.

Namun perkataan dari pria bersurai hitam itu langsung menjadi bahan tertawaan semua orang yang mendengarnya, karena dizaman sekarang ini mana ada mahkluk yang bernama Vampire yang merupakan sebuah mahkluk khayalan dan karangan fiktif belaka dari sebuah filem dan buku.

"Jangan bercanda Tuan pendeta, lawakanmu itu tidak lucu." Ucap salah seorang opsir polisi.

Pria bersurai hitam itu tersenyum sinis menatap mereka semua, "Tidak apa-apa jika kalian tidak percaya dan mentertawaiku, namun bisa aku pastikan kalau akan ada jatuh korban lagi karena setiap Vampire membutuhkan darah manusia untuk tetap hidup."

"Namaku adalah Byakuya Kuchiki kepala pendeta kuil Shinigami generasi ke-9 datanglah ketempatku jika anda ingin menanyakan sesuatu." Ucap Byakuya sebelum pergi.

"Dasar orang yang aneh." Dengus Ayame.

Namun sepertinya Renji terlihat penasaran dengan perkataan dari pria asing itu, karena semua penjelasan dan penuturannya ada benarnya juga.

"Vampire?!" gumam Renji.

Kejadian tentang kematian wanita muda yang kehabisan darah, langsung menjadi headline utama dibeberapa koran dan majalah kota juga berita di internet dan jejaring seosial. Banyak para wanita muda dan gadis takut keluar malam-malam sendirian karena kejadian pembunuhan yang sangat meresahkan ini juga membuat pusing pihak kepolisian.

*#*

Beberapa hari setelah kasus kematian yang menimpa seorang gadis dipersimpangan jalan, kasus serupa-pun terjadi kembali dan korbannya adalah seorang gadis muda dengan luka yang sama dilehernya. Hal ini menimbulkan spekulasi dan pertanyaan besar di pihak kepolisian siapa orang yang menjadi pelaku pembunuhan berantai ini.

Renji-pun mulai memikirkan tentang perkataan pria asing itu mengenai Vampire dan untuk menghilangkan rasa penasarannya, pria bersurai merah ini-pun mulai mencari tahu mengenai mahkluk mitologi itu.

Siang ini Renji berniat untuk pergi ke purpastkaan kota dan saat mengendarai mobil patroliny tanpa sengaja Renji melihat Rukia tengah berjalan santai dengan masih mengenakan Hakama hitamnya yang terlihat mencolok.

Renji memberhentikan mobil patrolinya dipinggir jalan, "Hei, gadis kuil." Panggil Renji seraya membuka pintu mobilnya.

"Polisi bodoh itu." Pikirnya dalam hati.

Rukia memilih terus berjalan dan tak mengidahkan panggilan dari polisi muda itu hingga sebuah tangan mencengkeramnya.

Gadis cantik ini menolehkan kepalanya, "Mau apa kau, Tuan polisi?" Rukia menatapnya tajam.

"Bisakah kita bicara sebentar,"

Rukia menaikkan sebelah alisnya, "Apa yang ingin anda bicarakan padaku Tuan?"

"Bagaimana kalau kita bicara didalam cafe saja," ajak Renji.

Pandangan mata Rukia menajam menatap pria bersurai merah itu dan mulai menunjukkan sikap tidak suka, "Apa kau sedang mencoba merayuku?" tuduhnya.

"Tidak. Aku tidak ada niat seperti itu. Lagi pula aku tidak tertarik dengan anak kecil sepertimu," jawab Renji jujur yang tanpa sadar sudah membuat perasaan Rukia tersinggung dan marah.

Tanpa berkata apa-apa Rukia pergi meninggalkan Renji.

"Hei, tunggu Nona." Teriak Renji seraya berlari mengejar Rukia.

"Shunpo." Ucap Rukia dan seketika tubuhnya langsung pergi menghilang dengan cepat.

Renji terlihat sangat kaget dan bingung karena Rukia menghilang dengan cepatnya padahal ia sudah berlari mengejarnya.

"Dimana gadis itu? Larinya sangat cepat sekali." Gumamnya.

Renji-pun kembali kedalam mobilnya dan melanjutkan perjalannya ke perpustakaan kota untuk mencari buku yang dibutuhkannya untuk mencari informasi mengenai Vampire.

X0X0X0X0X0X0X0X

SREK...

Misaki Sensei membuka pintu kelasnya dan dibelakangnya ada seorang pemuda tampan bersurai hitam yang ikut masuk kedalam kelas. Wajah para siswi terlihat berbinar senang dan terpesona saat melihat pemuda itu namun tidak untuk Orihime yang merasa kaget, syok berat melihatnya.

"Astaga! Dia?!" jerit Orihime dalam hati.

"Hari ini kita kedatangan murid baru, namanya adalah Ulquiorra Schiffer dia pindahan dari Inggris." Ujar Misaki Sensei.

"Berteman baiklah dengannya."

"Baik Sensei!" teriak para gadis serempak.

Disaat para gadis terlihat bahagia dengan kedatangan Ulquiorra lain hal dengan Orihime yang merasa bencana besar buatnya.

Tidak bisakan pria bermata Emerald itu membiarkannya sendirian dan mengganggunya disekolah. Ingin rasanya Orihime membacakan sebuah mantara untuk Ulquiorra agar pergi menjauh dari dirinya dan kehidupannya.

"Ulquiorra, kau bisa duduk dibelakang Orihime." Kata Misaki Sensei seraya menunjuk sebuah meja yang kosong.

"Terima kasih, Sensei." Ulquiorra-pun berjalan menuju bangkunya dan duduk disebelah Orihime.

Deg'

Jantung Orihime berdegup kencang saat Ulquiorra duduk dibelakangnya, keringat dingin keluar dari pelipisnya saat merasakan sebuah pandangan mata menusuknya dibelakang.

"Mohon kerja samanya, Hime." bisiknya lembut.

Orihime hanya bisa diam seraya menahan nafas mendengarnya.

"Kakak tolong aku." Jeritnya dalam hati.

Setelah acara perkenalan murid baru Misaki Sensei memulai pelajarannya yaitu matematika dan selama pelajaran Orihime tidak bisa berkosentrasi karena Ulquiorra terus memperhatikannya. Sementara itu para gadis terlihat mencuri-curi pandang pada Ulquiorra dan tidak fokus mendengarkan pelajaran.

TING...TONG...

Bel istirahat berbunyi Misaki Sensei-pun menyudahi pelajarannya dan saat baru keluar dari kelas beberapa langkah semua siswi langsung mengeliligi Ulquiorra dan mulai bertanya padanya.

"Ada apa dengan para gadis manusia ini?" pikir Ulquiorra bingung.

Ulquiorra merasa sangat risih dan sebal dengan para gadis yang menurutnya mengganggu. Sementara itu Orihime memilih untuk pergi dari kelas dan meninggalkan Ulquiorra, namun baru juga berjalan dua langkah dari mejanya.

GREP...

Tangan Orihime dicengkeram erat oleh Ulquiorra, "Kau mau kemana Hime?" tanyanya dingin.

"Makan siang," jawabnya takut.

SRAK...

Ulquiorra bangkit dari duduknya lalu menarik tangan Orihime dan meninggalkan para gadis yang menurutnya sangat berisik dan juga bau karena banyak memakai parfume yang menyengat.

Para gadis itu terlihat kesal dan marah saat Ulquiorra pergi makan siang dengan Orihime.

"Huh! Gadis jelek itu mengganggu saja." Dengus Senna kesal.

Saat berjalan dikoridor para murid memandangi dirinya dan Ulquiorra terlebih dengan para siswi yang memandangi wajah Ulquiorra dengan tatapan terpesona dan mendamba.

"Psst...Siapa pemuda tampan itu." Bisik salah satu gadis.

"Entahlah tapi di sangat tampan sekali." Balasnya seraya terus memperhatikan wajah Ulquiorra.

"Tapi kenapa pemuda tampan itu berjalan menggandeng tangan gadis cupu itu."

"Mereka berdua terlihat tidak serasi dan pantas berjalan bersama." Cibir seorang gadis berkuncir satu keatas.

Kuping Orihime terasa panas mendengar perkataan para gadis mengenai dirinya dan Ulquiorrra. Andai saja mereka semua tahu kalau pemuda tampan yang tengah mereka kagumi adalah seorang Raja Vampire, apakan mereka masih mau memandangnya dengan tatapan terpesona.

Ulquiorra membawa Orihime kebelakang sekolah untuk menikmati makan siang dengan tenang tanpa adanya teriakkan dan ganggungan dari para gadis.

"Itu makananmu Hime?" Ulquiorra memandangi kotak bekal makan siang Orihime.

"Iya, memangnya anda bisa memakannya,"

"Aku bisa memakan makanan manusia tapi makanan utamaku tetaplah darah.
Ulquiorra mengambil sesuatu dari kotak bekal makan siang milik Orihime.

"Oh, begitu." Seru Orihime.

"Ngmong-ngmong para gadis itu sangat berisik sekali, telingaku jadi sakit mendengar jeritan mereka," keluh Ulquiorra seraya memakan sosis berbentuk gurita.

Orihime terkekeh kecil mendengarnya, "Siapa suruh kau terlalu tampan Tuan,"

"Benarkah?!" Ulquiorra tidak menyadari dengan ketampanan wajahnya sendiri.

"Tapi menurutku yang paling tampan tetaplah Ishida-kun..." Orihime langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat melihat raut wajah Ulquiorra yang menakutkan.

"Siapa itu Ishida-kun, Hime?" tanya Ulquiorra dingin.

"Dia Teman kecilku," jawab Orihime takut.

"Benarkah itu Hime," Ulquiorra menatapnya tajam.

"I-iya, lagi pula aku kan milik anda selamanya," Orihime menundukkan wajahnya takut menatap Ulquiorra.

Seulas senyum tipis menghiasi wajah tampannya, "Kalau begitu habiskan makananmu Hime,"

Orihime-pun memakan bekalnya dengan perasaan bercampur aduk antara takut dan kesal pada Ulquiorra. Diam-diam dari balik jendela dilantai tiga seorang pemuda bersurai hitam berkacamata menatap tajam dan dingin pada Ulquiorra yang tengah asik menikmati makan siangnya dengan Orihime.

Pria bermata Emerald itu-pun bukannya tak menyadari tatapan dingin yang ditunjukkan padanya dengan perlahan ia menolehkan wajanya dan menatap pemuda itu seraya tersenyum sinis.

Kedua mata pemuda itu membulat tak kala merasakan aura kegelapan dari tubuh Ulquiorra, tubuhnya langsung terasa kaku dan gemetaran hebat.

"Perasaan apa ini? Siapa pemuda yang berada disamping Orihime." Batinnya.

.

.

.

Baru juga Ulquiorra bersekolah selama empat hari namun ia langsung menjadi murid paling populer dikalangan para siswi juga Sensei wanita yang tertarik dengan wajah tampan dan feromon yang dimilik oleh Ulquiorra.

Dan seperti pagi ini saat membuka loker sepatunya, sudah banyak surat cinta didalamnya. Ulquiorra menatap malas tumpukan surat cinta itu yang menurutnya sampah tak berguna karena hanya berisikan kata-kata cinta semu untuknya. Diambilnya semua surat cinta itu lalu dengan mudahnya Ulquiorra membuang surat cinta itu kedalam tempat sampah.

"Mengapa anda membuangnya Tuan?"

"Itu memang sampah tak berguna untuk aku baca, ayo kita kekelas Hime." Ulquiorra menarik tangan Orihime.

Wajah Orihime terlihat kesal dan memerah menahan amarah, ingin sekali ia memukul wajah Ulquiorra karena tidak bisa menghargai perasaan para gadis yang sudah berusaha dan berani menulis surat cinta padanya. Orihime saja tidak memiliki keberanian untuk menulis surat cinta dan mengungkapkan perasaan terpendamnya pada Ishida, teman kecilnya.

Pelajaran pertama untuk hari ini adalah olahraga, semua murid berbaris rapih ditengah lapangan dan matahari lumayan bersinar dengan terik membuat tubuh terasa panas dan gerah.

"Hari ini Sensei akan mengambil nilai lari 100 meter dan yang mendapatkan nilai jelek akan mendapatkan tugas dari Sensei. Kalian mengerti."

"Ya." Teriak mereka semua bersamaan.

"Nama yang bapak panggil nanti maju kedepan."

Semua murid-pun membubarkan dirinya dan berdiri dipinggir lapangan menunggu namanya dipanggil termasuk Ulquiorra yang terlihat pucat dan lemas. Walaupun sinar matahari tidak membuatnya mati terbakar namun tubuhnya terasa lemas dan sedikit tak bertenaga jika harus terus menerus berdada dibawah sinar matahari.

Saat nama Ulquiorra dipanggil untuk pengambilan nilai para gadis yang berdiri dipinggir lapangan berteriak memberikan semangatnya.

"Ulquiorra-kun!! Berjuanglah." Teriak para gadis.

"Kami mendungkungmu." Para gadis mulai menggila saat Ulquiorra sudah berlari melewati rintangan.

Ulquiorra berhasil melewati semua rintangan dengan catatan waktu paling cepat dikelas dan mendapatkan nilai tertinggi. Para gadis berebut ingin mengucapkan selamat pada Ulquiorra namun tatapan dingin dan tak suka darinya membuat nyali para gadis menciut dan mengurungkan niatnya.

"Hime..." panggil Ulquiorra lemah.

PLUK...

Ulquiorra meletakkan kepalanya dibahu kanan Orihime, para gadis langsung menatap garang dan tajam kearah Orihime.

"Mati aku." Batin Orihime.

Gadis bersurai oranye kecokelatan itu hanya bisa tersenyum kikuk menatap teman-teman sekelasnya yang cemburu juga iri padanya.

"Ul..."

"Hime aku ingin minum," potong Ulquiorra cepat.

"Aku akan meng..."

"Yang kuinginkan adalah darahmu," bisik Ulquiorra pelan.

Wajah Orihime pucat pasi mendengarnya, "Ta-tapi Tuan..."

GREP...

Ulquiorra langsung menggendong Orihime ala bridalstyle, semua gadis berteriak histeris dan iri melihatnya. Pria tampan ini mengatakan kalau kaki Orihime terkilir saat lari tadi dan ia akan mengantarnya ke ruang kesehatan, Oda Sensei-pun mengijinkannya pergi keruang kesehatan.

"Selamat siang," ucap Orihime saat masuk kedalam ruang kesehatan bersama Ulquiorra.

Suasana ruang kesehatan sepi tak ada Sensei yang bertugas berjaga dan itu berarti saat ini Orihime hanya berdua saja dengan Ulquiorra ditempat ini.

BRUK...

Uquiorra menghempaskan tuuh Orihime keatas ranjang dan tak lama Ulquiorra menacapkan taringnya.

"Hmphh...aahhh..." erang Orihime tertahan saat pundak kanannya digigit oleh Ulquiorra.

Pundaknya terasa panas juga sakit saat taringnya mencapkan dikulitnya. Jika Orihime merasa kesakitan lain hal dengan Ulquiorra yang merasa senang dan menikmati setiap tetesan darah yang dihisapnya.

SLUP...

Ulquiorra menjilat bekas gigitannya dan tak lama dua lubang kecil dibahu Orihime menutup.

Kedua mata Orihime terlihat sayu dan kesadarannya sudah menipis karena darahnya cukup banyak dihisap oleh Ulquiorra.

BRUK...

Orihime jatuh pingsan tak sadarkan diri dalam pelukkan Ulquiorra.

"Lagi-lagi seperti ini." Batin Ulquiorra.

Pria bermata Emerald ini-pun membaringkan tubuh Orihime dan menatap lekat-lekat wajah damai Orihime, "Gomenasi, Hime."

Cup'

Ulquiorra mencium lembut bibir Orihime.

"Aishiteru, Hime."

Tanpa Ulquiorra sadari kalau seorang pria bersurai hitam menatapnya dari celah pintu ruang kesehatan yang sedikit terbuka. Kedua mata pemuda itu terlihat melebar dan tubuhnya menegang juga gemetaran menyaksikan adegan didepan matanya.

"Va-Vampire." Gumamnya tak percaya.

TBC

A/N : Setelah mentok ide dan tidak bisa menemukan kelanjutan cerita akhirnya Inoue bisa meneruskan Fic ini walaupun butuh waktu yang lama # Maaf, bungkuk badan dalam-dalam.

Biar tidak merasa bingung dan aneh membaca kelanjutan fic ini, mohon baca chap 2 yang di edit jalan ceritanya.

Inoue mengucapkan terima kasih kepada siapa-pun yang mau membaca Fic ini.

Maaf tidak bisa membalas Riviewnya ^^

Untuk kelanjutan cerita ini paling cepat pertengahan tahun atau mungkin bisa awal tahun depan mengingat Inoue lagi sibuk di dunia nyata tapi kalau ada waktu pasti Inoue akan mengupdatenya.

Jika berkenan Read and Riviewnya.

Inoue Kazeka.