Photograph (c) aidaverdyky
Myung-Soo and You
Romance-Comedy
Teenager
Myung-Soo adalah milik Tuhan, keluarga, Woolim Ent., Inspirit, dan eLements \(^o^)/
Watchout of the typo(s), baper area!
...
TOK TOK TOK
Aku mengetuk pintu coklat yang tampak kokoh di hadapanku. Tak sampai lima menit pintu itu terbuka menampilkan sesosok pemuda berambut hitam legam yang masih basah, begitu pula dengan area dagu dan lehernya. Aku menelan ludah yang entah mengapa terasa mengganjal di tenggorokkanku. Ck, kekasihku ini selalu saja bisa tampak seksi.
Pemuda di hadapanku, Kim Myung-Soo, tersenyum. Senyuman yang selalu bisa membuatku membeku dengan pipi menghangat. Aku masih mengerjap saat dia menarikku memasuki apartemennya. Myung-Soo tinggal sendiri di Seoul untuk melanjutkan kuliahnya dan demi mengejar impiannya menjadi fotografer. Walaupun menurutku akan lebih baik jika dia menjadi modelnya saja.
Ah, tidak tidak. Tidak boleh ada orang lain yang menikmati wajah tampan kekasihku ini.
"Kenapa kau menggeleng-gelengkan kepalamu Chagi?."
"Eh!?." Sepertinya aku membawa khayalanku terlalu jauh hingga tanpa sadar menggleng di hadapan Myung-Soo. Duh, bodohnya.
"A-ah, bukan apa-apa, Oppa." Kuberikan cengiranku hingga mataku menyipit yang pasti akan membuatku tampak lebih bodoh lagi.
CKREK
Dan inilah kebiasaannya yang terkadang membuatku kesal. Memotretku saat aku tak sadar. Lagipula, sejak kapan dia sudah memegang kameranya!?.
"Yak!."
Tetapi, Myung-Soo justru -selalu- tersenyum sambil bergumam-
"Kau cantik."
-Sesaat setelah menjauhkan kamera dari wajahnya yang membuatku melupakan niatku untuk mengomeli kelakuannya. Yang kulakukan justru menunduk demi menutupi rona merah yang kupastikan sudah menyebar hingga telinga.
"Kau bawa apa?."
Sekali lagi, Myung-Soo mengembalikan kesadaranku. Dan astagaaaa, karena kelakuannya aku sampai melupakan belanjaanku untuk Myung-Soo. Ini akhir minggu dan aku biasanya akan kemari untuk membawakan beberapa bahan makanan, karena berada di tingkat akhir kuliah dan bekerja sebagai fotografer freelance membuatnya terlalu sibuk bahkan untuk sekedar membuat ramen instan. Yeah, aku juga akan sekaligus mengganggu pekerjaannya, sebagai ganti kejahilannya memotretku tak tahu tempat.
"Bahan makanan, seperti biasa. Dan ini Kimbab buatan Eomma untuk kita." Ku sodorkan bungkusan yang lebih kecil kepada Myung-Soo yang matanya berbinar mendengar kalimat Kimbab-buatan-Eomma lalu berlalu menuju dapur untuk meletakkan bahan makanan.
Saat aku kembali bungkusan Kimbab buatan ibuku seudah terbuka dan terlihat Myung-Soo yang sibuk di depan laptopnya sambil mencomot beberapa potong Kimbab. Aku berjalan pelan karena berniat mengagetkannya, namun justru aku yang terkejut saat layar laptop kekasihku menampilkan wajah seorang gadis cantik yang ku kenal sebagai teman satu jurusan Myung-Soo. Dan seingatku gadis berambut pirang itu pernah berkata bahwa dia menyukai kekasih tampanku.
Oh, jangan bilang kalau mereka-
"Hei Chagi, kau melamun lagi." Myung-Soo melambai-lambaikan tangannya di hadapanku. Aku kembali menoleh ke arah layar laptopnya, namun aku tidak menemukan wajah gadis itu lagi. Yang ada kini wajahku dan Myung-Soo saat kami berfoto di salah satu acara kampus dua tahun yang lalu, tepat setelah Myung-Soo memintaku -yang merupakan mahasiswi baru sementara dia adalah senior yang berada dua tingkat di atasku- menjadi kekasihnya.
"Kenapa fotonya ada di laptopmu?."
"Siapa?." Tanyanya pura-pura bodoh membuatku mengerucutkan bibirku kesal. Dan sialnya dia terkekeh. Tuh kan, di pasti tahu maksudku.
"Kau cemburu ya? Aigooo, manisnya kekasihku yang sedang cemburu ini." Ujarnya seraya menarik pinggangku mendekat dan mencubit pipi tembamku. Aku mengelak, masih mencebikkan bibirku.
"Untuk apa kau cemburu? Kau kan tahu aku hanya mencintaimu." Aku berniat membantah, namun pipiku justru menghangat. Ck, tubuhku memang sudah tidak bisa diajak kompromi jika berhadapan dengan Myung-Soo. Aku memilih bangkit, namun Myung-Soo mencegatku.
"Hei, hei kau mau kemana?."
"Ke kamar mandi." Sahutku jutek dan segera berlalu saat genggaman Myung-Soo mengendur.
Ku cuci wajahku, berusaha menghilangkan rona wajah. Sejujurnya aku tahu Myung-Soo tak akan pernah berbohong tentang perasaannya padaku, hanya saja kekasihku itu sungguh tampan dan itu membuatku khawatir pada gadis-gadis ganas di luar sana yang hobi melirik nakal Myung-Soo. Dan sialnya, beberapa diantara gadis-gadis itu cukup cantik. Aku menghela napas dan menangkan diriku, memastikan tidak ada rona kesal atau semu malu di kedua pipiku dan kembali ke ruang tamu. Myung-Soo pasti sedang sibuk dengan tugas akhirnya.
TAP TAP TA-
Langkahku kuhentikan di depan sebuah pintu. Pintu itu selalu tertutup sejak pertama kali aku datang ke apartemen ini. Tiba-tiba rasa penasaran menyeruak, membuat kakiku melangkah menuju pintu misterius itu.
Gelap. Itulah yang pertama kali kutangkap saat pintu itu terbuka.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga lang-
"Chagi, kau mau kemana!?." Aku terlonjak saat merasakan Myung-Soo mencekal tanganku dan berbicara dengan suara keras, hampir berteriak.
"Aku hanya penasaran Oppa." Myung-Soo menyentak tanganku dan berusaha membawaku keluar dari ruangan gelap yang sudah mulai bisa kuadaptasi.
"Lebih baik kita keluar dari sini." Aku memicingkan mataku curiga dan menarik tanganku dari genggamannya.
"Kim Myung-Soo!." Nada suaraku mendadak naik membuat Myung-Soo, bahkan diriku sendiri, terkejut.
"Apa yang kau sembunyikan dariku!?." Masih dengan mata memicing aku menginterogasi kekasihku. Belum pernah kulihat Myung-Soo segugup ini.
"Kita bicarakan diluar saja." Aku kembali menarik tanganku yang hendak digenggamnya. Jika sebelumnya pipiku yang memanas karena kata-katanya, kini mataku yang memanas. Pasti ada yang disembunyikan Myung-Soo dariku.
"A-apa kau punya... gadis lain?." Tanyaku menuntut sambil berusaha membendung tangis yang hampir pecah. Dua tahun menjadi kekasihnya belum pernah aku merasa serapuh ini.
"Chagi apa maksudmu? Aku tidak-."
"Lalu kenapa kau menyembunyikan ini?." Tanganku menunjuk ruangan yang masih gelap itu. Myung-Soo menghela napas. Terlihat frustasi dengan tingkahku. Lalu akhirnya dia memilih mengalah dan menggandeng tanganku memasuki ruangan itu.
"Sebenarnya aku masih ingin menyumpan ini hingga minggu depan karena masih belum sempurna. Tapi jika kau memaksa, mau bagaimana lagi?."
Aku kebingungan dengan kalimat yang dilontarkan Myung-Soo sambil menyalakan lampu. Dan tampaklah sebuah ruang yang sepertinya hanya berukuran dua kali dua meter dengan salah satu dinding tertutup kain yang sedikit berkibar terkena angin dari jendela samping. Aku menyernyit sebelum menoleh kearah Myung-Soo yang memberikan senyum tipis. Pemuda itu menarikku mundur lebih jauh dari dinding yang tertutup kain.
"Tunggu disini." Setelah berkata begitu Myung-Soo mendekati dinding di hadapanku lalu menarik kain yang ada. Memberiku sebuah pemandangan yang membuatku tercekat.
Di sana, di dinding putih itu, ada aku.
Ada gambar diriku yang terbuat dari kolase foto-fotoku yang diambil oleh Myung-Soo. Secara sengaja dan diam-diam. Bahkan aku bisa melihat fotoku sebelum Myung-Soo menjadi kekasihku.
"Maaf jika belum sempurna, aku masih butuh bebera-."
Myung-Soo tak bisa menyelesaikan kata-katanya karena aku sudah menerjangnya dan memeluk erat tubuh tegapnya.
"Maaf. Maafkan aku Oppa." Aku menangis di pelukan Myung-Soo yang kini mengelus rambutku sayang.
"Harusnya ini bisa menjadi kejutan yang lebih manis minggu depan." Aku mendongak dan mendapati Myung-Soo tersenyum kearahku. Senyumnya manis sekali, lebih manis dibanding senyum tipisnya yang biasa.
Tapi, memangnya ada apa minggu depan?.
"Dari ekspresimu sepertinya kau lupa ada apa minggu depan." Ucapnya membuatku mengangguk polos. Aku benar-benar tidak tahu.
"Astaga. Kau lupa hari ulang tahunmu sendiri, Chagi?."
"Eeh!?." Oh iya, minggu depan kan ulang tahunku. Kenapa aku bisa lupa?. Astagaaa.
Myung-Soo tersenyum, masih dengan senyumnya yang paling manis, sambil mengangkat daguku.
"Mungkin ini terlalu awal. Tapi... Selamat ulang tahun gadisku yang cantik." Saat Myung-Soo mendekatkan bibirnya ke telingaku, aku menahan napasku tanpa sadar.
"Aku mencintaimu. Sangat." Dan kurasa aku masih lupa caranya bernapas.
Kekasih tampanku ini menarik kepalanya kembali demi menikmati wajahku yang mungkin sudah semerah tomat masak. Mau tak mau aku tersenyum juga akhirnya dan kembali menyembunyikan wajahku di dada bidang Myung-Soo.
"Aku juga mencintaimu, Oppa." Balasku lirih. Tapi aku yakin Myung-Soo masih bisa mendengarnya karena dia turut memelukku erat.
Eumm, sepertinya ada yang kulupakan.
"Oh ya, kenapa foto gadis itu bisa ada di laptopmu?." Tanyaku cepat sambil menarik diri dari rengkuhan hangatnya. Bukannya menjawabku, Myung-Soo justru tertawa.
"Kau ingin tau?." Aku mengangguk.
"Benar-benar ingin tahu?." Kembali kuanggukkan kepalaku berusaha meyakinkan.
"Yakiiin?." Tampak binar jenaka dari matanya.
"Yak! Oppa, aku serius." Dan pecahlah tawa Myung-Soo yang kembali membuatku terpaku. Dia benar-benar tampan.
"Baiklah. Dia klienku." Aku mendengarkan.
"Dia memintaku menjadi fotografer untuk pre-weddingnya." Aku mengangguk mengerti. Ooh, jadi begi-
"APAA!?. Bukankah dia dulu bilang kalau dia menyukaimu, Oppa?." Tanyaku kemblai membuatnya tertawa.
"Itu kan dulu, Chagi. Dia sudah menemukan laki-laki lain yang mencintainya dan mereka memilih untuk segera menikah tahun ini." Aku terkejut. Terlalu terkejut dengan semua yang terjadi hari ini.
"Lalu kapan kita akan menyusul mereka?." Tanyanya tiba-tiba.
"A-apa?."
Sentuhan tangan Myung-Soo di pipiku membuatku tak bisa mencerna kalimatnya dengan baik.
"Yeah, jangan pura-pura tidak paham, Chagi." Pandangannya melembut.
"Tapi aku kan masih terlalu-." Kalimatku terhenti oleh kekehan Myung-Soo.
"Aku tidak mengajakmu menikah sekarang juga, Chagi. Tapi kalau sekarang kau mau aku tidak keberatan." Kucubit gemas pinggangnya, membuatnya meringis namun masih tak mau melepaskan pelukannya padaku.
"Aku akan menunggumu." Pelukannya semakin erat dan aku bisa merasakan perasaan Myung-Soo mengalir melalui sentuhannya. Hangat dan menyenangkan.
Dan juga, apakah ini lamaran tak langsung?. Tidak romantis, tapi entah mengapa aku menyukainya. Aku menyukai kejujuran dan ketulusan dibalik kalimat tak romantis Myung-Soo.
"Tapi jangan terlalu lama juga, oke?."
Myung-Soo melepaskan sejenak pelukannya untuk menatapku yang justru tertawa melihat raut wajah memelasnya. Pada akhirnya aku mengangguk meyakinkannya. Aah, senangnya. Aku jadi tidak sabar mendapat lamaran resmi dari kekasih tampanku ini.
-Fin-
...
A/N: Malam minggu, waktunya update Infinite Project kkkkk. Gimana-gimana? Baper kagak? wkwk. Aku yang nulis aja senyam-senyum sendiri kkkkk. Gak OOC kan? Myungie yang asli setauku ceria dan lembut kok hehe *mencari pembenaran* Oh ya, maaf ya kalo di pertengahan (bagian kamar rahasia) agak aneh hehe.
Semoga suka yaaa. Kalo enggak, yaaa coba nikmatin dulu. Siapa tau ntar suka wkwk *maksa*
Okeee. Sampai ketemu hari Rabu. Payy-payy
.
DaGamma Frost: Maafin yaaa. Jadwalnya Dino-Oppa masih lama :""" ini kuurutin dari yang paling muda ehehe. Nikmatin aja dulu cerita abang-abang ganteng yang lain. Semoga suka *lempar heartsign*
