Game Over

Cast : Baekhyun Chanyeol

Jackson

Summary: Chanyeol akan melakukan apapun untuk putranya meski harus kehilangan 10 milyar wonnya. Itu bukan hal berarti hanya saja ia sedikit tak rela jika uang itu harus bedebah busuk yang menerimanya.

...

"Brengsek.. Aku tidak peduli. Jika dalam 24jam kau tidak menemukannya. Kau dipecat!"

Ponsel hitam mahal itu terpantul di sofa. Lelaki bermata bulat itu baru saja melemparnya.

"Sial Jongin benar benar bodoh tidak bisa diandalkan!" Makinya pada seorang yang baru menghubunginya.

'Damn!'

Umpatan kesekian kalinya kembali terlontar. Chanyeol memijat pelepisnya. Seorang wanita terisak yang duduk di sofa tak jauh darinya menambah penat kepalanya.

"Semua karenamu Baekhyun!" Jackson tidak akan hilang jika kau tidak bersikeras dengan pekerjaan omong kosongmu itu!"

Baekhyun tidak lagi terkejut dengan teriakan Chanyeol. Lelaki tinggi yang menjadi suaminya sejak enam tahun itu memang kerap melontarkan kalimat sinis kepadanya. Entah sejak kapan teriakan itu sering menjadi teman pertengkaran mereka. Menjadi gema dalam rumah besarnya yang selalu sunyi.

Pun sama Baekhyun yang tidak mau kalah.

"Semua ini demi Jackson! Aku ingin yang terbaik untuk Jackson!" Dan aku tidak mungkin begitu saja mengabaikan kerja keras yang dibangun ayahku!" Baekhyun menghapus linangan di matanya yang enggan berhenti.

"Lantas bagaimana denganmu! Kau bahkan tidak ada waktu diakhir pekan ketika Jackson merengek ingin ke taman bermain."

Baik Chanyeol maupun Baekhyun sibuk bekerja. Chanyeol seorang CEO di perusahaan ayahnya. Pun sama Baekhyun seorang Direktur di perusahaan Ayahnya. Baekhyun tidak bisa berhenti, Selain Ayahnya yang kondisinya menurun karena hipertensi, dari awal sebelum menikah Baekhyun memang seorang wanita yang menyukai pekerjaannya. Mereka menghasilkan jutaan dolar tiap hari yang kian menumpuk. Nyatanya itu sama sekali tidak memuaskan.

Keluarga harmonis? Itu hanya angan-angan. Jika faktanya pernikahan mereka tidak dilandasi rasa saling menyukai diawalnya. Perjodohan untuk memperluas jaringan pasar dan menimbun kekayaan menjadi alasan klasik untuk membina keluarga baru mereka. Hingga Jackson putra yang hadir dalam hidup mereka tumbuh dengan baik bukan dengan kasih sayang Ayah Ibunya melainkan Bibi Jang pengasuhnya. Tak jarang Bibi Jang menenangkan Jackson yang ketakutan karena pertengkaran konyol kedua orang tuanya.

Baekhyun tidak tahan lagi. Ia tidak bisa berdiam diri saja dirumah. Jackson harus ia cari. Lantas kaki pendeknya berlari keluar meninggalkan tatapan benci Chanyeol. Meski begitu Chanyeol mengejarnya. Rasa khawatir menyusupi. Malam semakin larut, hujan lebat menambah kelam, petir bersahutan, mengejek mereka karena menjadi orang tua yang bodoh lalai akan Jackson, bocah lima tahun yang seharusnya mendapat penuh kasih sayang. Bukan hanya sekedar menyapa dipagi hari dengan kecupan selamat pagi, lalu kecupan itu ia dapat lagi ketika malam tiba dalam keadaan ia sudah tertidur. atau pembicaraan yang lebih sering lewat sambungan telepon.

'Apa Jackson sudah makan?'

'Maaf sayang Mommy tidak bisa menjemputmu! Ada rapat dadakan. Biar paman Lee yang menjemput seperti biasa. Ingat jangan nakal dirumah. Mommy sayang Jackson '

'Jackson. Daddy belum bisa pulang hari ini. Dua hari lagi Daddy baru pulang. Katakan apa yang kau inginkan sayang. Apa coklat? Coklat di Belgia begitu lezat. Berapa banyak yang kau mau sayang?"

'Jackson, Bagaimana jika kau pergi ke kebun binatang hanya dengan Mommymu saja. Jackson tau? Paman Jongin begitu menyebalkan. Dia menyeret Daddy untuk berkunjung melihat pabrik di Busan. Ada sedikit masalah. Kau tak keberatan kan sayang?'

Dan Jackson sebagai anak yang di didik dengan baik hanya tersenyum kecewa 'Yes Mom Dad.. Bekerjalah dengan semangat.'

Chanyeol menarik pergelangan tangan Baekhyun kuat yang hendak masuk mobil. "Apa kau gila!" teriaknya melawan derasnya hujan. Mereka sudah basah. Hujan benar mengejek mereka.

"Jackson! Aku ingin Jackson. Bagaimana jika dia juga kehujanan dan menggigil ketakutan karena gelap. Bagaimana jika penculik itu menyakitanya. Aku harus mencarinya, Lepas sialan!"

"Tidak! Masuk ke dalam." Chanyeol tidak peduli Baekhyun yang meronta. Langkahnya cepat menarik kembali masuk Baekhyun.

"Bibi Jang!"

Yang dipanggil berlari cepat menghadap.

"Bantu Baekhyun mengganti bajunya. Dan Jangan biarkan dia keluar kamar."

"Bibi Jang, Kumohon aku hanya ingin mencari putraku!"

Wanita paruh baya itu menatap sendu, kelopak matanya tak berkedip menahan genangan di pelupuknya agar tak luruh. Ia pun sama menahan sesak. Bocah yang ia rawat sejak tubuhnya masih merah hilang entah kemana. "Nyonya! Jika Anda tetap memaksa mencari sekarang. Itu akan membahayakan keselamatan anda sendiri. Pihak polisi dan semua orang kepercayaan Nyonya dan Tuan juga sudah dikerahkan. Sebaiknya Nyonya menunggu hingga esok pagi untuk mencari tuan muda lagi. Percayalah Nyonya Putramu yang kuat itu akan baik-baik saja." Lantas Baekhyun menurut untuk masuk ke dalam kamarnya dan mengganti baju.

Chanyeol tetap di posisinya duduk di sofa. Ponsel ia genggam erat. Lima belas menit sekali ia akan menghubungi setiap orang yang dikerahkan. Nafasnya coba ia atur untuk menahan emosinya. Lambat sekali. Bergerak seperti siput. Pikirnya begitu. Kabar terakhir yang ia dapat sejak siang adalah Jackson yang sekolah di taman kanak kanaknya dijemput oleh pria berjas hitam rapi mengatasnamakan pesuruh Chanyeol. Bahkan Chanyeol sendiri yang berbicara dengan Jackon di telepon untuk minta ijin. Bodohnya cctv sekokah Jackson sedang rusak. Bukankah itu terdengar tidak masuk akal.

Jarum jam putih besar itu menunjuk pada angka tiga dini hari dan mata bulat Chanyeol enggan terpejam. Kesunyian membawa lamunan Chanyeol pada putranya yang tumbuh sehat serta rupawan seperti parasnya.

'Dad! Ayo bangun kita sarapan bersama. Bibi Jang sudah membuat kimbab yang lezat.'

Nyatanya Chanyeol hanya menjawab 'Hmm ya tunggulah sebentar di meja makan' lalu Chanyeol kembali terlelap, terlalu lelah akibat lemburnya semalam yang seakan tidak pernah kosong setiap malamnya. Dan Senyuman sehangat mentari Jackson berakhir dengan hembusan nafas kecewa. Bocah malang itu sudah terbiasa dengan penolakan.

'Dad! Bisakah kita mandi bersama? Satu kali saja. Temanku Hyunjin selalu mandi bersama dengan Ayahnya dan Ayahnya selalu mengosok punggungnya.'

'Tidak untuk pagi ini sayang! Daddy terburu-buru ada rapat pagi. Tidak apa kan sayang'

Si kecil hanya mengangguk sendu. Lantas ia berganti merengek pada ibunya yang masih tertidur. Ujungnya penolakanlah yang ia dapat.

'Dad! Kapan kita akan ke COEX mall. Temanku Hyunjin sudah melihat ikan pari besar disana. Bisakah untuk Akhir pekan ini Dad?

'Maaf sayang! Minggu ini Daddy ada perjalanan ke Jepang. Pergilah dengan Mommy atau Paman Lee. Atau juga Bibi Jang, oke?'

Lalu guratan kecewa Jackson yang sudah tak terhitung menyadarkan Chanyeol akan dirinya yang menjadi orang tua paling bodoh sedunia. Chanyeol mengusak rambutnya keras sampai terdengar langkah kaki menuruni tangga.

"Mau aku buatkan kopi?"

"Kenapa tidak tidur?"

"Ibu waras mana yang bisa tidur jika anaknya sedang diculik." Tanpa menunggu sautan Chanyeol, Baekhyun menuju dapur.

Baekhyun membawa dua mug kopi panas dan meletakkan satu di meja untuk Chanyeol.

"Apa ada kabar baru tentang Jackson?"

Chanyeol hanya menggeleng dan mulai menyesap kopi? "Berapa gula yang kau masukkan Baekhyun? Ini manis sekali.

"Dua sendok. Mungkin." sudut bibir tipis Baekhyun terangkat. Payah! Dia bahkan tinggal seatap selama enam tahun dan ia tak tahu takaran gula pada kopi Chanyeol. Namun Baekhyun tak ambil pusing. Nyatanya dalam pertengkaran terakhir mereka kalimat cerai sudah terlontar. Lantas itu sedikit mengejutkannya. "Jackson…." Gumamnya.

Ya itu terjadi dua hari yang lalu kala Baekhyun ada waktu lenggang menjemput Jackson lantas putranya merengek ingin se cup besar eskrim stroberi dan meminta untuk mengajak Daddynya juga.

Baekhyun menyetujui dan lihat hasilnya kala pintu CEO perusahaan besar itu ia buka. Sekertarisnya yang berpakaian minim berdiri di belakang Chanyeol sedang memijat kepala Chanyeol yang bersandar di kursi hitamnya. Sekertaris itu menunduk dan Chanyeol menengadah terpejam menikmati. Sempurna.

Bisa saja mereka sudah berciuman panas. Lantas itu menjadi sumbu ledakan amarah Baekhyun yang memang jarang sekali datang ke kantor milik suaminya. Hingga kata cerai terlontar dimalam harinya lalu ia memilih tidur bersama Jackson. Dan Baekhyun tak kuasa menahan tangis kala Jackson pura-pura tidur sedang Jackson sesekali menarik ingusnya yang keluar kembali masuk dalam hidung merahnya.

"Aku akan mencari Jackson." Baekhyun berdiri tanpa peduli akan larangan Chanyeol. Cukup, Baekhyun tidak ingin menjadi orang tua lebih buruk dengan hanya duduk diam dirumah saja.

"Biar aku yang mengemudi." Chanyeol yang mengikuti Baekhyun dibelakang terhenti kala Baekhyun berbalik memberi anggukan kecil. Lantas yang lebih kecil menubruk dada lelaki tingginya. Memeluk erat. Air matanya kembali berurai. "Chanyeol, bukankah kita terlalu banyak menyakiti Jackson?"

Anggukan diatas kepalanya membuat tangis Baekhyun semakin keras. Pun sama mata besar Chanyeol ikut memanas. Mereka memang orang tua yang buruk. Inginnya membahagiakan anak dengan gelimang materi. Lihat hasilnya. Jackson tidak butuh segudang uang ayah ibunya.

Chanyeol berlari masuk ke dalam mengambil mantel tebal untuk Baekhyun. Sisa hujan semalam menyisakan dingin yang menyusup pori berlebih. Sedikit peduli Ia tak mau Baekhyun sakit. Ya Ia tahu bahwa istrinya begitu rentan akan dingin.

Mobil keluaran eropa hitam mengkilat itu membelah jalanan sepi dini hari menyusuri kota. Berjalan pelan, mata keduanya melihat keluar jendela. Berharap sesosok bocah kecil kesayangannya terlihat dengan melambaikan tangan. Dan Baekhyun berjanji ia akan mengabulkan semua permintaan Jackson. Bahkan jika harus merelakan pekerjaannya. Perusahaan ayahnya itu sudah tidak berharga lagi baginya.

Day 1

Hampir 24 jam dan penculik itu belum juga menghubungi. Baekhyun rela memberikan seluruh kekayaannya asal Jackson kembali dalam keadaan selamat.

Jarum pada jam tangan rolex Chanyeol menunjuk angka sembilan. Tak ada terik matahari. Mendung menyelimuti kota Seoul. Lelah berkemudi sejak sebelum fajar, Chanyeol menepikan mobilnya di depan minimarket.

"Kenapa berhenti?" Suaranya serak akibat tangisnya. Rambut hitam sebahunya begitu kusut. Mata sipitnya bengkak dengan kantung mata yang tebal. Cukup mengerikan bagi seorang wanita yang selalu menjaga eksistensi penampilannya.

"Kau harus mengisi perutmu Baek?"

"Aku tidak lapar."

"Yang kuingat kau hanya sarapan kemarin pagi denganku tanpa bicara sepatah katapun."

"Aku tidak lapar Chanyeol."

"Ya begitulah dirimu Baekhyun. Keras kepala!" Chanyeol keluar sedikit membanting pintu mobil. Ia tetap masuk ke dalam mini market mengambil cepat roti dan susu kotak, air meneral dan satu cup kopi panas untuk dirinya sendiri.

"Makanlah! Jika kau sakit dan besok Jackson kembali dan melihat ibunya mati kelaparan. Itu justru menyakiti putraku." Chanyeol memberikan di pangkuan Baekhyun. Ia menutup kembali pintu mobil. Memilih duduk di kap mobil seraya menyesap kopinya. Tangan kanannya memainkan ponsel dan menghubungi teman sekaligus asisten bodohnnya.

"Bajingan! Kenapa kau lama sekali menjawabnya."

"Kau bilang tenang. Penculik itu belum menghubungiku. Dan sekarang kau dimana? Apa kau sudah menemukan jejak Jackson!"

"Apa??? Belum!!! Dan kau akan berangkat ke kantor. Kau di pecat detik ini juga. Dasar Kamjong tidak berguna." Chanyeol melempar cup kopinya ke tanah, kesal. Ya begitulah baik Chanyeol maupun Baekhyun sama sama memiliki pengendalian emosi yang buruk.

"Ibu dan Ayah kita ada dirumah. Mereka menunggu. Ayo kita pulang." Baekhyun memberi tahu dari dalam mobil.

Chanyeol kembali masuk, sudut bibirnya terangkat melihat sisa roti yang masih separuh lebih. Lantas ibu jari tangannya menempel pada bibir tipis pucat sedikit ragu membersihkan sisa cokelat isi roti. "Jackson bahkan lebih baik saat makan."

Dengusan terdengar dan bibir tipis itu tersenyum tipis.

'Inilah kosekuensi yang pantas kalian terima. Ambisi kalian terlalu berlebih hingga cucuku harus menderita. Lantas segudang uang yang kalian dapat apa bisa mengembalikan Jackson sekarang juga. Sekarang Jackson di culik kalian bingung mencari seperti orang kesetanan. Kemarin kemana saja saat ketika Jackson butuh waktu lebih banyak bersama kalian.'

Itu sepenggal kalimat dari Tuan Byun dan Tuan Park. Menyakitkan didengar dan nyeri di ulu hati.

Baekhyun hanya menurut kala ibunya meminta istrihat sebentar. Ia mencoba memejamkan mata di kasur empuknya tapi sedetik kemudian terbuka. Bagaimana jika Jackson diperlakukan buruk dan tidur beralas koran. Ya Tuhan rasanya oksigen yang jumlahnya tak terhitung sulit sekali Baekhyun hirup meski cuma sedikit. Begitu sesak.

Sepasang lengan panjang menariknya dalam pelukan erat dan itu sedikit melegakannya.

"Tidurlah meski sebentar lalu kita akan mencari Jackson lagi. Jackson pasti baik baik saja."

Mata sipit itu terlelap. Bukan karena mengantuk tapi lelah menangis sebabnya. Kecupan ringan Chanyeol daratkan di dahi. Entah kapan terakhir kalinya Chanyeol memeluk si lemah penuh kasing sayang. Jika nyatanya selama ini kata cinta tak pernah terucap. Omong kosong pikirnya.

Baekhyun terbangun lebih dulu, dengan pelan menurunkan lengan Chanyeol pada pinggangnya lalu tungkainya menapak pada kamar putranya. Jari lentik itu membuka gagang pintu, aroma Jackson menguar, manis vanilla yang selalu Baekhyun sukai untuk mengecupi pipi bulatnya.

Kamarnya selalu rapi, Jackson anak yang disiplin, bocah lima tahun itu bisa menata sprei dan selimut setelah bangun tidur. Pun sama meja belajarnya ada beberapa buku cerita, buku menggambar, buku berhitung, tiga robot iron man berbagai ukuran dan sebuah bingkai foto dihari pertamanya sekolah dengan Chanyeol dan Baekhyun memeluknya. Baekhyun ingat, itu pelukan di pagi hari untuk memberi semangat di hari pertama sekolah namun ia tak mengantar alih alih meminta paman Lee menjadi wali di hari pertamanya. Oh Jackson bukan anak yang penakut, jadi dia tidak akan merengek pada ayah ibunya untuk menemani.

Jejak air mata di pipi yang kering kembali basah. Berucap maaf pun sia-sia. Baekhyun mencium foto itu, meletakkan kembali, berniat mengambil ponselnya di kamarnya dan mencari Jackson. Chanyeol terbangun kala Baekhyun membuka pintu.

"Kau sudah bangun?" chanyeol menekan pelipisnya, terasa berat dan pusing. "Maaf aku ketiduran."

"Hmm tidurlah lagi. Aku hanya ingin mengambil ponsel akan mencari Jackson."

"Tunggu! Setidaknya bersihkan dirimu. Wajahmu terlihat buruk. Aku akan meminta bibi Jang menyiapkan makanan untuk kita. Baru kita pergi mencari Jackson."

Baekhyun setuju, masuk dalam kamar mandi dan Chanyeol turun ke bawah.

Entah sudah berapa lama keduanya berkendara taunya langit sudah gelap. Dari semua panggilan yang dilakukan tak menunjukkan keberadaan Jackson. Chanyeol menghentikan mobilnya tepat di depan kafe kecil pinggiran kota Seoul. Mereka sudah jauh dari rumah.

Tidak ada pembicaraan yang berarti di antara mereka, kediaman lebih banyak mengisi. Chanyeol membuka pintu mobil. "Turunlah, Angin cukup kencang lebih baik kita istirahat didalam kafe."

"Hmm" sautan itu disambut Chanyeol menggenggam tangan yang lebih mungil, sedikit memberi kekuatan. Gelengan Baekhyun sebagai tanda ia tidak tertarik untuk memesan lalu Chanyeol yang memutuskan dua cup latte dan sepiring kecil cheesecake. Itu kesukaan Jackson. Barangkali Baekhyun tertarik memakan meski hanya sedikit.

Gerimis menyambut detik jam yang terus berputar. Chanyeol kembali fokus pada ponselnya. Pun sama dengan Baekhyun, ia membuka galeri fotonya satu persatu foto Jackson sedikit membuat maniknya kembali menggenang. Sayang, hanya sedikit yang ia simpan dengan bidikan kamera ponselnya. Ya Baekhyun terlalu egois dengan pekerjeaannya.

"Baek, sepertinya hujan akan bertambah lebat?"

Baru selesai kalimat terucap jutaan kubik air langit itu semakin turun deras. Pohon-pohon kecil di depan kafe melengkung karena terpaan angin kencang. Televisi di sudut atas kafe itu tersiar bahwa cuaca buruk sedang terjadi dan menghimbau untuk semua orang tidak melakukan aktivitas di luar.

"Sepertinya tidak ada pilihan lain kecuali tetap disini." Chanyeol melihat jam di ponselnya. Memang sudah malam dan kemungkinan kafe akan segera tutup. "Baek, cepat habiskan cheesekacenya. Aku akan bertanya penginapan terdekat sini."

"Apa kita akan menginap?"

Anggukan Chanyeol sebagai jawaban. Terlalu bahaya untuk berkendara pulang sedang hujan badai terlihat jelas membahayakan. Beruntung Penginapan kecil tepat di seberang jalan. Tidak ada payung untuk mereka gunakanan lantas Chanyeol melepas jaket denimnya.

"Kau bisa lari kan?"

"Kajja!!"

Keduanya menerobos hujan lebat dengan jaket Chanyeol sebagai penutup kepala. Sia-sia mereka tetap basah kuyup meski berlari hanya lima puluh meter. Derasnya hujan dan tiupan angin kencang tak main-main rupanya.

"Kau basah Yeol."

"Baekhyun!!!" Chanyeol memekik. Baekhyun melihat badannya dan terkejut. Sial! Kemeja putih. Lalu tangannya menyilang di dada menutupi bra hitam menonjol yang tercetak jelas.

Si pria berdecak menutupi tubuh istrinya dengan jaket basahnya. "Aku tau ini dingin. Kau bisa melepasnya setelah mendapat kamar."

Oh rasanya sudah cukup lama Baekhyun tak mendapat perhatian Chanyeol.

Tidak ada pakain kering. Hanya handuk bersih yang tersedia. Mau bagaimana lagi. Mereka melepas semua yang basah dan bersandar nyaman di kasur hanya dengan bathrobe. Tidak ada sofa, itu penginapan kecil hanya ada kasur yang cukup besar, televisi menempel di dinding dan kamar mandi. Lalu Chanyeol menarik kepala Baekhyun menempel di dadanya.

Bukan maksud apa-apa, Baekhyun memang terlihat menggigil kedinginan. Hanya saja itu terlihat sedikit kaku jika nyatanya mereka sebelumnya sering terlibat adu mulut. Chanyeol menarik selimut sampai dada Baekhyun. Sungguh libido Chanyeol bisa saja terpancing hanya dengan melihat handuk di bagian dada Baekhyun tersingkap. Bukan hanya karna waktu yang tidak memungkinkan sedang Jackson belum ketemu, juga hal lain. Kapan terakhir kalinya mereka bersetubuh? Entah itu kapan. Keduanya tak ingat. Meski tidak harmonis, bukan berarti keduanya bisa bersenang-senang memuaskan hasrat dengan orang lain di luar. Tidak, keduanya adalah orang yang berkomitmen.

"Kau lelah?"

"Sedikit."

"Tidurlah."

"Jack--"

"Percayalah putra kita akan baik-baik saja."

Wanita itu mendongak iris hazelnya menatap sama manik hitam bulat berjarak 10 centi itu, hembus nafas keduanya bertukar. "Chan, jika Jackson kembali nanti. Bisakah kita hentikan tingkah buruk kita?"

"Kita akan menjadi sangat jahat jika itu terjadi."

Usakan lembut di kepala Baekhyun terima. Lantas bibir tipisnya mengikis jarak tak berarti itu pada belah tebal lelakinya. Hanya sekilas lalu ia mengeratkan pelukannya dan tertidur dengan detak jantung cukup cepat prianya sebagai alunan musik pengantar tidur.

Ponsel hitam itu berdering cukup nyaring, bukan Alarm. Baekhyun sigap terbangun, manik sipitnya mengernyit silau akan sinar mentari lewat celah jendela.

Sebuah panggilan privat number.

Pikirnya tak karuan. Mungkin tentang bocahnya.

"Jackson!!!!" pekikannya membangunkan lelakinya. "Jackson katakan dimana kamu sekarang Nak? Jackson baik-baik saja kan? Apa mereka melukai Jackson? Jackson bicara--"

"Sungguh? Katakan dimana Jackson berana. Mommy akan menjemputmu sekarang. Jack--"

"Benar Jackson? Biar aku yang bicara." Chanyeol menyela dan mengambil alih ponsel.

"Jackson kau kah itu?"

"Bajingan!! Dimana kau sembunyikan Jackson."

"Akan kupatahkan tangan busukmu jika kau sedikit saja menyentuhnya brengsek!!!" Chanyeol menggeram mendengar kekehan di seberang telepon. Itu membuat wajah Baekhyun memucat.

"Cepat berapa yang kau inginkan dan kembalikan Jackson tanpa luka sedikitpun."

"10 milyar won. Oke! Katakan dimana aku harus memberikannya?" sungguh Chanyeol tidak peduli lagi dengan nominal yang diminta.

"APA? Tunggu--" Panggilan terputus. Chanyeol mengecek. Nomor tidak diketahui. Melihat GPS "Damn! Mereka menonaktifkan GPSnya.

"Bagaimana Chanyeol? Apakah kita bisa bertemu Jackson sekarang?"

Gelengan kepala Chanyeol taunya membuat sesak dada Baekhyun lalu bulir bening itu jatuh tak terkendali.

"Kau yakin Jackson baik?"

"Jackson bilang baik. Tapi aku tak yakin. Yeol ayo kita pulang. Kita harus bicara pada semuanya."

Tanpa banyak kata keduanya melepas handuk dan berganti baju semalam yang sudah dikeringkan pihak penginapan.

Mobil sedan mahal Chanyeol melaju cepat. Tak peduli dengan perut yang harus di isi dipagi hari. Hanya Jackson yang menjadi prioritasnya. Meski tau bahwa Jackson tidak apa-apa bukan berarti rasa cemas itu hilang. Namun mendengar suara putranya itu, sedikit melegakan.

Butuh satu jam tiga puluh menit untuk Chanyeol sampai di komplek perumahan besarnya. Lantas ia menghubungi orang-orang kepercayaannya, bukan polisi. Penculik Jackson berpesan tidak melibatkan polisi. Chanyeol menurut demi keselamagan anak laki-lakinya.

Baekhyun lebih dulu memasuki rumah. Mata sipitnya melebar. Lihat siapa yang menyambutnya di depan pintu. Wanita seksi dengan rok hitam pendek ketatnya.

"Apa yang kau lakukan dirumahku!!!"

Chanyeol yang mendengar suara tinggi Baekhyun, menyusul.

"Maaf Nyonya." wanita itu membungkuk memberi hormat. "Saya datang untuk menyerahkan beberapa berkas yang harus mendapatkan stempel Tuan Park."

Baekhyun mendengus tak suka lalu berlalu pergi tanpa mempersilahkan masuk tamunya. Ia menapak tangga dengan hentakan keras, bibirnya mengerucut tak suka. Membuka pintu kamarnya

BLAAMM

Dan menutupnya dengan keras.

Lantas ia membasahi badannya dengan shower seraya melepasi bajunya. Meski malu mendera ketika Chanyeol tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu kamar mandi dan melihat tubuh telanjangnya. Baekhyun tetap melanjutkan mandinya. Kecupan Baekhyun rasakan di bahu mulusnya. Baekhyun hanya menoleh dan mendapati Chanyeol yang menanggalkan pakainnya. Tidak terjadi apa-apa. Chanyeol hanya mencuri ciuman beberapa di tengah aktivitas mandi bersama itu.

"Irene hanya sekretarisku. Tidak lebih. Aku sudah menjelaskan dulu berulang kali. Kau salah paham dulu. Dia hanya memijat kepalaku yang hampir meledak karena proyek yang tidak bisa kudapatkan, belum lagi karena pertengkaranku denganmu." jelas Chanyeol seraya mengusak rambut basah Baekhyun dengan handuk. "Cepat pakai baju. Aku tunggu dibawah."

Chanyeol yang sudah rapi tersenyum hangat sebelum meninggalkan Baekhyun turun ke bawah lebih dulu dan itu mencipta rona samar di pipi mulus Baekhyun.

"Kenapa harus kau? Memang dimana Jongin?" kata Chanyeol sembari melihat berkas-berkasnya.

"Tuan Kim tidak datang dari kemarin Tuan."

"APA?" Chanyeol segera menghubungi Jongin. "Jongin benar-benar--"

Sebuah pemberitahuan tidak dapat dihubungi terdengar.

"-- Kamjong Sialan! Aku benar-benar akan memecatnya.

~Jeju~

Sosok berkulit sedikit gelap tengah mengorek telinganya yang tiba-tiba berdengung. Sedang tak jauh darinya lelaki berkulit pucat menatap datar bocah yang tengah tertawa melihat film kartun seraya menjilati eskrimnya lahap.

"Apa tidak masalah dengan 10 Milyar Won?" Yang hitam bertanya.

"Aku bahkan menyesal hanya minta 10 Milyar Won?"

"Kau gila Sehun!!!" Yang diteriaki tak berekspresi. "Aku tidak tuli jangan berteriak idiot!

Chanyeol menatap koper hitam besar di ruang meja kerjanya. Sesuai permintaan 10 milyar won bukan dalam bentuk cek melainkan berupa uang pecahan dolar dan juga emas batangan telah tertata rapi didalamnya.

Cukup menatap lama bukan berarti Chanyeol keberatan memberikan pada si penculik. Sama sekali tidak! Dia hanya membayangkan senyum Jackson yang memeluknya jika mereka bertemu lagi.

Chanyeol menyimpan kembali koper itu dalam lemari. Membawa tungkainya menghadap Baekhyun yang memanggil berkali-kali.

" Apa orang-orangmu berhasil melacak dimana penelpon tadi?"

Gelengan kepala lagi.

"Kenapa mereka bodoh sekali." Baekhyun menggerutu berlalu !eninggalkan Chanyeol.

"Kau mau kemana Baek?"

"Mencari putraku. Memang apalagi?"

Ya Baekhyun harus mencarinya. Meski tidak tau dimana? Ia tidak boleh hanya duduk diam dirumah.

"Tunggu aku." Chanyeol berlari ke kamar mengambil mantel. Bukan untuknya. Untuk Baekhyun. Perempuannya terlihat semakin pucat. Namun Baekhyun sama sekali tidak mengeluh.

Taman bermain menjadi tempat keduanya menapakkan kaki. Ini konyol. Kemungkinan Jackson di sekap didalam rumah. Penculik bodoh mana yang membiarkan tawanannya menaiki wahana di taman bermain.

Ya bisa jadi. Meski kemungkinan presentasenya 1%. Tidak ada salahnya mereka mencoba apalagi tawanannya seorang bocah lima tahun.

Lelah berkeliling keduanya berteduh di kursi bawah pohon. Manik Baekhyun memanas kala melihat banyak anak seusia Jackson berlari kesana kemari dengan gula kapas atau naik wahana komidi putar seraya tertawa riang dengan orang tua yang mendampinya. Lalu pipi pucatnya kembali basah.

"Jackson terus menagih janjinya membeli permen kapas dan pergi ke taman bermain. Lalu tololnya aku hanya bilang maaf dan nanti--"

"Sstt! Aku tau. Pun sama denganku. Kita memang orang tua terburuk. Kau sudah banyak menangis Baekhyun. Aku yakin setelah ini kau bisa lebih bijak." tangan besar itu menghapus air mata Baekhyun.

Apalagi jika bukan pelukan yang diberikan ketika yang lebih lemah menangis. Dan Chanyeol tersadar suhu tubuh Baekhyun berbeda. Dilihatnya bibir tipis itu pucat dan kering mengelupas.

"Baek kita pulang ya."

Lantas Chanyeol berjongkok "Naiklah."

Baekhyun naik ke punggung lebar itu. Ia menurut merasa tubuhnya semakin lemah. Kekehan terdengar, deru nafas hangat menerpa tengkuk prianya

"Selama enam tahun. Ini pertama kalinya kau menggendongku Chanyeol."

Sudut bibir Chanyeol terangkat.

"Aku baru tahu rasanya senyaman ini."

"Aku akan mengendongmu sering kalau begitu."

Siapa sangka jantung keduanya bertalu. Kapan terakhir kalinya terasa begitu? Sangat lama mungkin saat mereka mengucap janji di altar atau mungkin saat malam pertama. Yeah mungkin.

Malam ini Chanyeol melajukan mobilnya cepat setelah sebelumnya Chanyeol seperti orang bodoh menunggu panggilan dari si penculik. Baekhyun dirumah, ia demam dan tertidur setelah Chanyeol memaksanya meminum obat.

Mobilnya berhenti di depan tempat pengisian bahan bakar, sesuai peritah penculik. Orang kepercayaannya tidak mengikuti. Penculik sialan sudah mewanti-wanti, apalagi mereka memberikan nomor mobil orang-orang Chanyeol. Jadi Chanyeol benar-benar sendiri. Oh Chanyeol siap mempertaruhkan nyawa demi Jackson. Selama sepuluh menit Chanyeol menunggu panggilan telepon, ponselnya akhirnya berdering.

"Aku akan meletakkan koper ini samping pot bunga hijau sesuai perintahmu. Tapi sebelumnya perlihatkan Jackson padaku"

"APA? Keparat!! Jangan main-main. Aku bisa membunuhmu sekarang juga!"

Chanyeol memukul stir mobilnya, menarik nafas panjang. Penculik itu benar mempermainkannya dan bertindak seperti orang bodoh. Meletakkan koper di samping pot bunga hijau dekat dengan toilet . Matanya melirik awas setiap mobil yang datang dan keluar pom. Tidak ada yang mencurigakan.

Chanyeol kembali ke mobilnya dan pergi meninggalkan tempat itu. Penculik itu bilang Jackson akan diserahkan besok dengan alasan konyol Jackson sedang tertidur pulas dan mereka tidak tega membangunkannya. Jika Chanyeol memaksa maka mereka akan membuang tubuh tertidur Jackson di Sungai Han. Omong kosong apa lagi yang mereka buat.

Belum teratur detak Jantung Chanyeol. Ponselnya kembali berdering dari telepon rumahnya. Bibi Jang memberi tahu Baekhyun terus mengigau nama Jackson dan panas tubuhnya semakin tinggi lalu tak sadarkan diri. Oh rasanya detak jantung Chanyeol bak bom waktu yang siap meledak.

Chanyeol seperti dejavu. Berdiri di depan ruang UGD dengan rasa cemas berlebih. Sama seperti lima tahun yang lalu kala Baekhyun tengah berjuang melahirkan putranya. Tiga puluh menit berselang ibunya datang disusul Nyonya Byun berlari dibelakangnya. Bertepatan itu, Seorang dokter pria muda membuka pintu.

"Nyonya Park Baekhyun baik-baik saja. Setelah di pasang infus dan tubuhnya bisa berkeringat seiring itu panas tubuhnya akan tutun. Hanya dengan beristirahat cukup, makan yang teratur dan jangan banyak beban pikiran Nyonya Park Baekhyun bisa pulih cepat."

Chanyeol bisa bernafas lega sekarang.

Chanyeol selesai membersihkan diri di kamar mandi ruang inap Baekhyun. Berganti baju yang dikirim Paman Lee. Ia terlihat lebih segar meski kantung mata masih terlihat jelas. Bibir tebalnya mencetak senyum simpul, melihat perempuannya kembali tertidur pulas setelah minum obat, sebelumnya Baekhyun terus merancau pertanyaan tentang Jackson. Meski tidak yakin, Namun Chanyeol berharap penuh dan memberitau bahwa Jackson akan kembali hari ini sesuai janji si penculik. Lalu Baekhyun kembali tenang.

Nyonya Byun yang sempat pulang, datang kembali dengan buah-buahan segar dan tas kuning berisi kotak makanan, kimbab kesukaan putrinya.

"Memangnya kau mau kemana Nak?"

Sebuah pertanyaan ketika Chanyeol pamit akan keluar sebentar.

"Baekhyun menginginkan roti melon Bu. Dia hanya menyentuh sedikit makanan rumah sakit."

"Baiklah, hati-hati Nak. Bisahkah kau kembali cepat Ibu tidak bisa lama disini."

"Baik Bu."

Sepertinya roti melon saja tidak cukup. Chanyeol menambahkan semua roti isi berbagai rasa. Diseberang sana atensinya jatuh pada deretan bunga warna warni tertata cantik di raknya.

Bibir lelaki itu tersungging kala tiupan angin membawa aroma harumnya bunga menggelitik indra penciumannya.

"Tolong rangkai mawar merah dengan jumlah banyak."

Semu merah itu meski samar tapi kentara. Oh rasanya ia seperti remaja tujuh belas tahun yang di landa kasmaran. Salahkan waktunya yang ia habiskan akan kegilaannya bekerja.

Tungkainya menapak pasti, tangannya malu-malu menggenggam sebuket mawar merah cantik. Oh Tuhan kenapa tiba-tiba denyutan jantungnya cepat terasa kala mendekati kamar inap Baekhyun.

Dan itu semakin kuat ketika suara tak asing memanggilnya . Tunggu! Chanyeol tak salah dengar kan. 'Dad!'

Lantas tubuhnya berbalik.

Ya Tuhan. Bocah malangku…

"Daddy!"

Tubuh kecilnya menghabur. Mendekap Ayahnya yang berlutut.

"I miss u so much Dad!" isakannya terdengar lirih. "Maafkan Jackson Dad. Maaf, Jackson menjadi anak yang nakal."

Chanyeol masih membeo. Benar kan Jackson putranya yang tengah ia peluk? "Kau tak apa kan sayang?" tanyanya seraya mengecupi bocahnya.

Jackson mengangguk yakin. "Dad, aku ingin bertemu Mommy."

"Ayo, Mommy akan sangat bahagia melihatmu."

Namun sebelumnya tatapannya beralih pada pria tinggi, adik iparnya yang menunjukkan cengiran di belakang Jackson "Byun Sehun! Sejak kapan kau kembali dari New York?"

Tak tergambarkan begitulah sekiranya rasa bahagia Baekhyun dapat memeluk kembali putranya erat. Menghujaninya dengan kecupan. Melontarkan berkali-kali maaf. Bulir beningnya menumpuk dipelupuk lantas mengalir begitu saja bak air sungai mengalir.

"Apa mereka tidak menyakitimu sayang?" itu salah satu kalimat yang Baekhyun terus ulang untuk memastikan keadaan Jackson.

"Sungguh Mom Jackson baik-baik saja. Maaf membuat Mommy khawatir."

Baekhyun memberikan gelengan kecil, ia menarik tubuh Jackson berbaring dan memeluknya erat.

"Mommy yang seharusnya minta maaf sayang. Mulai sekarang ayo kita buat cerita baru yang menyenangkan."

Dan Baekhyun benar membawa Jackson tidur dalam pelukannya.

Sementara Chanyeol…

"Jadi Sehun kenapa Jackson bisa datang bersamamu?"

Malam itu Sehun tiba di bandara incheon, setelah menempuh perjalanan cukup panjang dari New York. Tiga tahun ia habiskan menempuh pendidikan disana dan puas dengan nilai akademik yang membanggakan. Dia bisa menggeser posisi Byun Baekhyun kakak sulungnya yang begitu menyebalkan.

Bukan kerumah besarnya ia seret kopernya namun kerumah kediaman Park. Lelaki itu sungguh merindukan bayi kecilnya yang dulu selalu ia cubit gemas pipi gembulnya, Jackson. Tapi taunya kedatangannya di sambut teriakan saling bersahut pertengkaran bodoh kedua kakaknya. Dan menemukan Jackson sesenggukan di kamarnya ketakutan di balik selimut. Begitulah awal permainan dimulai.

Sehun selamat ketika Dokter menginterupsi dan berkata Baekhyun sudah diperbolehkan pulang. Hasil lab menunjukkan Baekhyun sehat.

Sudut bibir Baekhyun terangkat seraya menggenggam erat sebuket mawar merah. Ia hendak pulang. Jackson membantu Ayahnya mengemas barang yang tak banyak. Sehun masih berada disana membantu mengurus administrasi.

"Dad, bisakah Mommy pulang bersama paman Sehun terlebih dahulu dan kita pergi ke suatu tempat dulu?"

"Memangnya ada apa sayang?" Baekhyun menyela.

Chanyeol memberikan tatapan yang sama ingin tahu. Lantas Jackson berbisik "Hari ini ranggal 6 mei Dad! Jackson ingin kue ulang tahun besar untuk Mommy."

Chanyeol butuh beberapa detik untuk mengingat. Ya Tuhan ulang tahun istrinya.

"Sayang ada apa sih?"

"Urusan antar lelaki Mom!"

Oh astaga!

Keduanya terkikik mendapati Baekhyun yang cemberut mengerucutkan belah tipisnya.

Chanyeol tidak pernah sebahagia ini. Ia pikir kali ini hidupnya akan terasa lebih berwana. Kehilangan Jackson menjadi pelajaran berharga untuknya. Bukan melulu tentang menumpuk pundi-pundi uang hasil kerja kerasnya.

Jadi Chanyeol tidak akan menjadi orang terbodoh untuk mengulanginya lagi. Ia akan meluangkan lebih banyak waktu untuk putranya dan melakukan pendekatan lagi terhadap istrinya. Oh sepertinya mengajaknya makan malam romantis akan terdengar menyenangkan atau bulan madu terlihat lebih asyik.

"Dad, Apa mobil paman Sehun bagus?"

Sebuah mobil Bugatti Veyron hitam mengkilat keluaran terbaru di produksi dalam jumlah terbatas, baru mendahuluinya dan melaju cepat.

"Aku yang memilihnya Dad!"

"Maksud Jackson?"

"Kemarin kami melihat-lihat. Paman Sehun ingin membeli mobil dia memintaku untuk memilih warnanya. Lalu tadi pagi kami membelinya."

Kedatangan Sehun yang tiba-tiba bersama Jackson, menyadarkan Chanyeol satu hal….

"Jadi Jackson empat hari ini bersama paman Sehun?" Chanyeol mengeratkan pegangannya pada stir mobil, menahan emosinya.

"Yeah, bersama paman Jongin juga."

CKIIIIIIT!!!

Fucking hell!!!!

Chanyeol menginjak rem mendadak. Jackson mengelus dada.

"Lantas dimana Paman Jongin sekarang?"

"London Dad, Paman Jongin dan Bibi Kyungsoo berlibur!"

Bajingan tengik!!!

10 milyar won lenyap untuk para bedebah busuk!!

Chanyeol akan melakukan apapun untuk putranya meski harus kehilangan 10 milyar wonnya. Itu bukan hal berarti hanya saja ia sedikit tak rela jika uang itu harus bedebah busuk yang menerimanya.

~London~

Jongin mengorek telinganya yang tiba-tiba berdengung.

"Sayang~ Bagaimana jika Chanyeol benar memecatmu." tanya Kyungsoo di sela menikmati makan malamnya direstoran bintang lima.

"Kau tidak perlu khawatir. Sehun sudah menjajikan posisi yang bagus di Byun Corp."

Lantas seringai senyum Kyungsoo tercetak. "Sayang~ Bagaimana jika setelah ini kita melihat tas. Terakhir aku buka majalah ada Hermes limited edition."

"Asal kau berikan malam panas yang panjang setelahnya."

Wajah mesum Jongin tersenyum puas mendapat anggukan pujaan hatinya

Satu minggu kemudian…

Baekhyun dan Jackson bergandengan tangan melenggang masuk ke kantor Chanyeol. Sebuah bekal makanan tersusun rapi dan Baekhyun mendekapnya. Itu adalah kimbab buatan Baekhyun sendiri. Baekhyun sudah tidak bekerja. Dia sibuk dirumah belajar memasak berbagai macam kudapan dengan bantuan Bibi Jang. Posisinya benar terganti oleh Sehun. Itu bukan masalah. Karena Prioritasnya adalah Jackson dan Chanyeol.

Setiap karyawan yang berpapasan menyapa dan membungkuk memberi hormat. Baekhyun hanya membalas dengan tersenyum. Langkah kakinya riang bersama Jackson terhenti karena suara gaduh dari dalam ruang. Yang Baekhyun tahu itu ruangan Jongin.

Oh jadi Jongin sudah kembali dari bersenang-senang.

Tanpa aba-aba Baekhyun membuka pintu lebar.

"ASTAGA!!!"

Telapak tangan Baekhyun menutupi mata tak berdosa Jackson.

"Jackson, pergilah ke ruang Daddy terlebih dahalu ya? Mommy ada sedikit urusan."

Jackson menurut, meninggalkan Baekhyun yang berkacak pinggang.

Kedua orang yang dipergoki berciuman panas di sofa telah membenahi bajunya.

"BYUN SEHUN APA YANG KAU LAKUKAN DISINI?"

Lantas dengan bringas Baekhyun memukuli Sehun menggunakan tas kulit hitamnya tampa ampun. Mengenai kepalanya, bahunya, tangannya, punggungnya, pahanya, perutnya, ah semuanya. "Kau sudah menipuku dan sekarang kau ingin menghancurkan perusahaan ayah dengan tidak bekerja dan beerciupan panas di kantor suamiku. Bocah tengik sialan!!!

Aw Aw Aw. Akh!! Noona hentikan!! Sakit sungguh!! AMPUUUNN!!

"Apa yang kau lakukan tetap berdiam diri bodoh disini irene-ssi? Pergi kembali bekerja!"

"Akh! Noona. Ya Tuhan hentikan sakit bodoh!"

"Dan kau berani mengataiku bodoh! Rasakan!" dan pukulan tas itu benar-benar membabi buta.

"IBUUUUUUU TOLOOOOOOOOONG!"

END

Jadi biang keroknya Sehun sama Jongin loh ya… Hahaa… Maar Typonya wara wiri.. Reviewnya ya…