Hai semuanya..
Maaf ya lanjutannya agak telat…
Saya sakit soalnya *alesan*
Kali ini saya menulis fic terakhir ShinXWaka...
Buat yang udah ngereview, Terimakasih banyak ya!
Terutama senpai-senpai yang dengan senang hati memebrikan nasehat, makasih *nyembah-nyembah*
Saya balas dulu ya reviewnya
undine-yaha : hai jugan undine-san! Soal humor saya memang payah buatnya, tapi kalo dibilang sama undine-san humornya sudah dapet saya berterimakasih sekali….
Fitria-AlyssCrimsonCamelia : Riku kenapa senpai? Saya apdet cepat kalo lagi niat aja hehhe, komen yang lainnya terimakasih banyak ya senpai!
Chizuru Honsho : maaf ya Honsho-san, nanti di fic selanjutnya saya bikin yang bener-bener ShinxWaka deh. Wah, saya memang kurang informasi, makasih ya ralatnya. Terimakasih banyak!
Raiha Laf Qyaza : Haha! Saya kan suka bikin kejutan! *plak* terimakasih banyak ya reviewnya!
Kita mulai saja ya!
LineBacker Has a…
Chapter 2
At last everything has gone…
Disclaimer : Inagaki Riichiro and Murata Yuusuke
"Shin!", Riku memanggil.
Angin yang berhembus semakin kencang, Riku memegang kedua pipi Shin dan mencium bibir Shin. Seluruh anggota tim Ojo tersentak, terutama Wakana. Wajahnya yang merah padam semakin panas melihat Shin dan Riku berciuman. Setelah beberapa detik Riku melepaskan ciumannya dan pergi dengan kepala yang terus tertunduk. Shin memegang bibirnya lalu menghapus ciuman Riku dengan kausnya.
-Keesokan harinya, di ruang klub amefuto-
"Bagaimana cewek berotot? Apakah kau sudah menemui Shin?", Hiruma langsung menyodorkan pertanyaan yang membuat hati Riku tersayat-sayat.
"Sudah, aku sudah menemuinya…Hiruma-san, aku ada satu permintaan. Minggu depan kalian bertanding melawan Ojo bukan? Aku ingin ikut bertanding!"
Hiruma kaget, ia lalu menutup matanya sambil berkata, "Hmph! Darimana kau tahu soal pertandingan itu cewek berotot?"
Telunjuk Riku mengarah ke Sena yang sedang gemetaran.
"Hmm, baiklah! Manager sialan! Siapkan seragam untuk cewek berotot ini!", perintah Hiruma.
"Tapi Hiruma-kun, apakah kau yakin? Dia ini wanita lho!", Mamori berusaha memperigatkan Hiruma yang seenaknya memasukkan seorang wanita untuk bermain amefuto.
"Tidak apa-apa Mamori-san, aku pasti bisa membantu tim kalian menang melawan Ojo."
"Baiklah Riku, aku akan memberikanmu seragam besok.", Mamori sudah tidak bisa menghalangi Riku untuk ikut bermain.
(***)
Di tempat latihan Ojo Wakana menghampiri Shin dan membawakan minum untuknya, "Ini, air untukmu."
"Terimakasih.", Shin menjawab sekedarnya.
Melihat wajah Shin Wakana jadi teringat kejadian semalam yang membuat wajahnya menjadi merah padam. Wakana sebenarnya ingin berbicara dengan Shin tentang kejadian semalam, tapi ia sangat takut mengingat badannya yang sangat mungil. Tapi, karena rasa ingin tahunya yang sangat besar iapun memberanikan diri untuk bertanya, "Um...apakah yang kemarin itu pacarmu?"
Shin menghancurkan botol berisi air yang diberikan oleh Wakana dan berkata, "Bukan, dia bukan siapa-siapa."
"Oh, begitu ya? Kalau begitu silakan lanjutkan latihanmu...", Wakana langsung pergi meninggalkan Shin yang kembali latihan dengan wajah yang merah padam karena dia kembali membayangan kejadian semalam.
(***)
-DevilBats sedang latihan-
"Hei cewek berotot! Ayo terus lari! Dimana kecepatanmu! Ayo terus!"
TAR TAR TAR!
"Hiruma-kun! Jangan terlalu memaksa Riku!", Mamori mulai memarahi Hiruma.
"Sudahlah manager sialan! Dia yang mau ikut pertandingan melawan Ojo. Kekeke."
"Huh! Ya sudahlah! Terserah kau saja!"
-Di hari pertandingan-
"Saatnya defense! Hei cewek berotot! Kini giliranmu! YA-HA!"
Seorang pemain dengan nomor punggung 97 memakai helmnya lalu menuju ke lapangan.
"Siapa itu yang bernomor punggung 97?", Otawara bertanya sambil mengorek-ngorek hidungnya. Sungguh menjijikan.
Komentator : "Rupanya Deimon memiliki pemain baru bernomor punggung 97! Siapakah pemain baru itu? Apakah kemampuannya?"
Riku berjalan menuju lapangan.
Ojo Offense, Riku bersiap-siap menjatuhkan Takami, tapi ia dihalang-halangi oleh Shin. Riku terus berlari tanpa gentar dan menjatuhkan Shin dengan sekuat tenaganya, lalu diteruskan dengan menjatuhkan Takami. Walaupun bola berhasil dilemparkan, tetapi hasil lemparannya buruk.
Shin bangun dan membetulkan sarung tangannya, lalu ia mendengar seseorang memanggilnya dengan lembut. Ia mendapati pemain bernomor punggung 97 sedang berdiri di belakangnya, "Shin….". Shin merasa tidak percaya mendengar suara itu, ia pun pergi meninggalkan Riku. Air mata Riku mulai mengalir.
(***)
"YA-HA! Kita menang! Ini juga berkatmu cewek berotot!"
"Heheh, terimakasih. Aku senang sekali bisa ikut bermain.", Riku berbicara dengan senyum yang dipaksa. Sebenarnya dia sedikit sedih dengan reaksi Shin yang langsung meninggalkannya begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun dari mulutnya di lapangan tadi.
"Riku, kau tidak apa-apa? Kau terlihat sedih.", Mamori bertanya dengan nada yang khawatir. "Iya nih, Kak Riku kenapa?", Suzuna juga ikut-ikutan bertanya. "Mamori-san, dan Suzuna ayo ikut aku.", Riku mengajak Mamori dan Suzuna untuk berbicara di sebuah restoran siap saji. Mamori dan Suzuna meminjam sepeda yang disediakan di sekolah.
(***)
"APPAAAAA? Jadi begitu?", Mamori dan Suzuna berteriak dengan kompak. Riku menceritakan semua kejadiannya dengan Shin dan juga Wakana yang disukai oleh Shin sejak lama.
"Riku, aku mengerti perasaanmu. Tapi, menurutku lebih baik kamu jangan mengganggu mereka. Toh kan masih banyak pria lain.", Mamori mencoba menasehati. "Tidak akan! Dia adalah satu-satunya pria yang sangat berbeda! Aku tidak mau berhenti menyukainya!", Riku tetap berkeras hati untuk menyukai Shin. "Tapi Kak Riku...", Suzuna juga mencoba berbicara dengan Riku , tetapi Riku langsung pergi meninggalkan restoran itu, menyambar sepedanya dan pergi ke sekolah Ojo.
(***)
Riku sampai disana. Iapun pergi ke tempat yang sama ketika Shin sedang latihan berasama anggota klub Amefuto yang lainnya. "Permisi, aku ingin bertemu Shin", Riku memberanikan dirinya. Shin lalu memakai kausnya lalu pergi keluar, tapi kali ini dia membawa Wakana juga bersamanya.
"Mau apa kemari?", Shin memulainya dengan bertanya.
Riku ingin mengatakan sesuatu kepada Shin, tapi ia jadi tidak enak ketika melihat Wakana bersamanya, "Um... Shin...aku...aku...aku..."
Shin sudah tidak sabar menunggu kata-kata yang keluar secara lengkap dari mulut Riku, iapun langsung memengang tangan Wakana lalu Shin menciumnya.
"S-shin...", Riku terbelalak tidak percaya.
Diapun pergi sambil menangis.
(***)
Setelah Riku pergi Shin melepaskan ciumannya lalu, "Shin...? apa yang..."
"Aku menyukaimu...dari dulu...ehm...", Shin berkata demikian dengan wajah yang memerah. Setelah berkata demikian Shin kembali ke ruang latihannya.
(***)
"Aku sudah tidak tahan lagi...", ucap Riku.
(***)
"Hai Riku! Selamat pagi!", sapa Mamori.
"Selamat pagi Mamori-san!"
"Kau kenapa lagi Riku? Kok makin terlihat cemas?...Shin kah?"
"Mm...", Riku menjawab dengan nada yang malas.
"Sudahlah Riku, mau aku bantu carikan pria lain yang lebih keren dari Shin?"
"Tidak usah Mamori-san, terimakasih sudah mencoba menghiburku."
Setelah mengobrol sebentar Riku langsung pergi menuju ke kelasnya.
"Riku! Tunggu!"
-Di kelas Mamori-
"Aku sangat mengkhawatirkan Riku. Semoga dia baik-baik saja.", batin Mamori.
-Pulang sekolah-
Riku kembali menuju ke Ojo, kali ini dia memanggil Shin dan Wakana, bukan hanya Shin. Lalu, sebelum ia kembali pulang ia memberikan secarik kertas kecil yang berisi :
Shin...Wakana...aku minta maaf kepada kalian, aku tidak tahu kenapa tapi aku merasa sangat bersalah kepada kalian. Maukah kalian menuju ke atap sekolah Deimon untuk menemuiku? Aku sangat mengharapkan kedatangan kalian...
Aku tunggu nanti malam
-Riku Asakura-
-Malam hari-
Shin dan Wakana sudah tiba di atap sekolah Deimon, tiba-tiba muncul suara yan memanggil nama mereka, "Shin! Wakana! Kemari!"
Rupanya itu adalah suara Riku yang meminta mereka untuk mengobrol dengannya sebentar.
"Akhirnya kalian datang juga, aku hampir putus asa dan berniat untuk pulang ketika kalian belum datang tadi. Hahahaha."
"Langsung saja Asakura-san. Kau mau apa membawa kami kesini?", Shin mulai tidak sabaran.
"Hei! Sabar dulu! Kalian kan baru datang, kenapa tidak istirahat sejenak dan mengobrol denganku?"
"Baik Asakura-san kami akan mengobrol denganmu.", Wakana berkata dengan ramah.
(***)
-Setelah mereka selesai mengobrol-
"Hei! Setelah obrolan yang lumayan panjang ini kalian pasti haus! Aku ambilkan minum dulu ya! Tasku ada di sana! Tunggu sebentar!", Riku berusaha menawarkan Shin dan Wakana minum.
"Baik! Terimakasih banyak ya Asakura-san!", Wakana kembali menerima tawaran Riku. Sedangkan Shin hanya terdiam. Dari tadi yang mengobrol memang hanya Riku dan Wakana. Shin sudah merasakan ada yang aneh dari sikap Riku, ia takut akan terjadi sesuatu.
"Ini dia minumnya!"
Ketika Shin menoleh ke arah Riku, dia sangat kaget ketika Riku hendak menghunuskan sebuah pisau ke arah Wakana. Dengan sigap Shin langsung melindungi Wakana, dan akhirnya dialah yang terkena tusukan maut dari Riku. Shin sudah terkapar tidak berdaya.
"Tch! Aku tidak menyangka Shin, ternyata kau begitu mencintai gadis ini sehingga kau melindunginya!", Mata Riku mulai berubah.
"KYAAAAA!", Wakana berteriak ketakutan. Shin ingin menolong tapi dia sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk bangun.
CRAAAAAT
Darah mulai bermuncratan ke wajah Riku yang sedang menikmati aksinya membunuh Wakana dan Shin. Setelah selesai dia merenung sebentar, melihat kedua tangannya dan...
"A-a-a-apa yang sudah kulakukan?...ada apa dengan diriku? Kenapa aku ini?", Riku melihat perbuatan tangannya itu dengan tatapan tidak percaya. Dia berteriak dengan keras dan pergi ke bagian tepi atap sekolah Deimon, lalu...
BRUKKK!
(***)
"Ada apa ini?", Mamori bertanya-tanya kebingungan. Dia menerobos kerumunan orang dan melihat mayat seorang gadis yang terkapar dengan banyak darah di bagian tangan dan wajahnya.
"R-r-r-riku..."
Maafkan aku Mamori-san, seharusnya aku mendengarkan perkataanmu...
THE END
Akhirnya! Cerita ini selesai!
Maaf ya sudah mengubah genre cerita dengan seenaknya!
Ceritanya penuh kejutan tidak?
Maaf ya kalau agak sadis, Maaf *membungkuk*
Mungkin ceritanya agak mirip dengan cerita yang lain. Maaf-maaf.
Review dipersilahkan!
Kritik dan saran silahkan diberikan!
Sekali lagi maaf ya kalau ceritanya agak kurang bagus... /
