Copyright © 2015 by Happyeolyoo
All rights reserved
.
.
Bad Oppa
Genre : Romance, Drama
Rate : T
Pairing : HunHan as Maincast.
Chapter : 3/7
Warning : Genderswitch. Miss typo(s).
Disclaimers : The cast is belonged to God, their parents, and their company. All text here is mine. Dilarang memproduksi atau memperbanyak seluruh maupun sebagian dari cerita ini dalam bentuk atau cara apapun tanpa izin dari penulis.
Summary : Kisah percintaan yang dimiliki Luhan terkesan sempurna. Dia dicintai sepenuh hati oleh Oh Sehun, kekasih yang enam tahun lebih tua darinya; begitu pula sebaiknya. Hubungan mereka berjalan mulus, nyaris tanpa cacat sehingga Luhan merasa terbuai. Namun berkat sebuah pesan chatting yang ditemukannya di ponsel Sehun, untuk yang pertama kali dalam dua tahun terakhir, kecurigaan muncul dan mengacaukan kepercayaan Luhan.
BGM : In My Dream by Super Junior
Luhan nyaris menangis di hadapan Zitao saat dirinya menemukan Oh Sehun dan seorang wanita cantik tengah melewatkan makan siang berdua di sebuah restoran. Siang itu, Zitao menarik Luhan ke mall untuk membeli beberapa potong gaun edisi musim panas dan Luhan menyetujuinya begitu saja. Namun saat dia tengah asyik memilih baju, dia malah mendapati siluet Oh Sehun yang digandeng mesra oleh seorang cewek tinggi; berjalan menuju sebuah restoran dan akhirnya makan bersama di sana.
Seharusnya, Luhan tidak merasa sakit hati jika dia tahu bahwa wanita itu hanyalah teman kerja Sehun. Namun ketika mendapati lengan kurus wanita itu melingkar pada lekukan siku Sehun, pertahanan Luhan runtuh. Tanpa menghiraukan Zitao yang sedang mencoba beberapa pakaian di ruang pas, dia berjalan keluar dari butik dan menghampiri restoran itu.
Menghampiri meja tempat di mana Oh Sehun tengah melewatkan jam makan siangnya dengan wanita genit itu.
Yang menyadari kehadiran Luhan untuk yang pertama kali di restoran itu adalah wanita yang duduk tepat di seberang Sehun. Wanita cantik itu sudah menatap Luhan dengan sorot tajam bahkan saat Luhan baru masuk ke dalam restoran ini. Luhan membalas dengan tatapan yang lebih tajam, hingga akhirnya Sehun menoleh dan ikut menatap wajah Luhan dengan binar penuh keterkejutan.
Pemuda itu langsung bangkit dari duduknya saat Luhan sudah berdiri tepat di sampingnya, menyadari betul jika Luhan pasti tengah berpikir yang aneh-aneh mengenai sosok wanita yang diajaknya makan siang.
"Dia siapa, Oppa?" Luhan mendongak, menuntut jawaban yang sebenar-benarnya dari kekasihnya yang melukis raut gelisah. "Bukankah tadi pagi kau bilang jika kau tidak akan punya waktu untuk makan siang karena terlalu sibuk dengan jadwal rapat?"
Sehun menghirup napas, menjatuhkan dua pundaknya agar gesturnya kelihatan lebih rileks. "Dia teman kerja setimku, Luhan. Namanya Krystal."
"Oh," Ingatan Luhan langsung dihantam oleh kalimat-kalimat yang pernah dibacanya di ponsel Sehun; pesan percakapan yang terjadi antara Krystal dan Sehun. Yang melibatkan hal-hal tabu.
"Krystal, perkenalkan. Dia Luhan, kekasihku," Sehun memperkenalkan Luhan dengan nada penuh percaya diri. Wanita itu langsung bangkit, membuang raut sombongnya sebentar dengan melukis senyuman saat tangannya menjabat tangan mungil Luhan. "Luhan, dia Krystal Jung."
"Oppa berbohong?" Luhan segera melontarkan kalimat pertanyaannya saat acara perkenalan itu selesai. Sontak saja Krystal serta Sehun sama-sama mengerutkan dahi. "Kenapa malah makan siang dengan dia kalau oppa benar-benar sibuk?"
"Jangan salah paham, Lu. Kami makan siang bersama karena ada urusan kantor," kata Sehun. "Tenangkan dirimu dulu."
Luhan menyentak tangannya yang semula digenggam erat oleh Sehun, mundur beberapa langkah tanpa mau melirik wanita yang duduk tenang di hadapannya. Sebenarnya dia tidak ingin menangis atau meluapkan segala kekesalannya. Tapi pelupuk matanya malah dipenuhi air mata.
"Hei, kau tidak perlu cemburu pada Krystal. Kami—Luhan!"
Luhan sudah berbalik pergi dari sini sebelum Sehun berhasil menyelesaikan kalimatnya, membuat Sehun dan Krystal sama-sama terkejut. Luhan bisa mendengar apa saja yang dikatakan Sehun pada Krystal sebelum pemuda itu memutuskan untuk mengejarnya. Mengenai Oh Sehun yang pamit untuk menenangkan Luhan atau apalah.
Sebenarnya, Luhan ingin kabur ke suatu tempat di mana tidak ada seorang pun yang bisa melihatnya menangis memalukan seperti saat ini. Namun karena dirinya tengah berada di tengah mall, dan ponselnya terus berdering ribut karena Zitao terus menelepon, akhirnya Luhan memperlambat langkah kakinya. Oh Sehun tiba-tiba muncul tepat di hadapannya, begitu cepat dan berhasil mengejutkannya.
"Lu, aku tidak mau kau berpikir yang aneh-aneh tentang Krystal," kata Sehun, setitik air mata meluncur dari pelupuk mata Luhan saat nama Krystal meluncur dengan begitu mudah dari bibir Sehun. "Jangan bersedih karena hal yang tidak penting. Kau menyakitiku."
Aku tahu kalau kau punya affair dengannya, "Tapi aku tidak mau kehilangan oppa," sebagian kalimat itu terucap dalam hati, dan sebagiannya lagi terucap lewat mulut. Luhan tidak menangis keras, dia hanya terus meneteskan air mata karena dadanya serasa diremas kuat-kuat oleh tangan-tangan absurd yang jahat. "Tentang Krystal, tidak bisakah kau jujur padaku?"
"Apa maksudmu?"
"Aku tahu kalau dia bukan hanya teman kerja," Luhan mendongak dan menatap wajah pias Sehun dengan matanya yang basah. "Siapa Krystal bagimu, oppa?"
Sehun membeku akibat keterkejutan yang menyengat seluruh tubuhnya. Selain karena pertanyaan frontal dari Luhan, dia juga dikejutkan dengan apa yang sudah diketahui Luhan mengenai Krystal. Kira-kira, seberapa jauh Luhan mengetahui semuanya?
Dewa batin Sehun terus merongrong dan memaksa agar dia melontarkan kejujuran agar tidak menyakiti gadis mungil yang sudah dengan tulus mencintainya selama dua tahun belakangan. Lidahnya yang selentur lintah tidak kunjung bergerak mengatakan kebohongan. Keadaan yang seperti ini membuatnya sulit sekali berbohong.
Sialan. Sehun harus berulang kali menghirup napas panjang sebelum berucap.
"Dia mantan kekasihku," Sehun menggigit bibir saat dirinya mendapati mulutnya telah begitu lancang mengucapkan hal tersebut. Ungkapan sederhana itu mampu membuat Luhan bergeming, mengedip dua kali tanpa mengatupkan belah bibirnya yang seranum ceri. "Maaf."
Aku juga tahu kalau selama ini aku bukanlah satu-satunya wanita yang kau cintai, Luhan menyimpan kalimat itu dalam hati saat kesedihan serasa mencekik lehernya. Desakan kesedihan mulai membuatnya merasa sesak, air mata terus meluncur dari pelupuk mata. Luhan maju selangkah, memeluk Sehun erat-erat agar semua orang tidak melihat wajahnya yang dipenuhi jejak air mata.
Aku tahu semuanya, oppa. Bawah sadar Luhan berujar dengan nada begitu pilu.
"Aku tidak mau melepasmu," Luhan menggeleng, mengatakannya di tengah isak tangis. Dia menghapus air mata di pipi dengan gerakan ringkas lalu mendongak, tangannya yang dingin menangkup pipi Sehun erat-erat. "Dengarkan aku, oppa. Aku tidak mau kehilanganmu."
"Aku tahu itu, sayang," Sehun menggenggam jemari Luhan yang menangkup pipinya. "Kau tidak akan kehilanganku."
"Tidak bisakah kau berhenti menemuinya?"
"Apa?"
"Jangan bertemu dengan dia, oppa. Please," Luhan memohon dengan segenap kewaspadaan. "Aku tidak suka jika oppa menemuinya."
Sehun merasakan remasan tangan Luhan semakin mengerat, terkesan begitu protektif dan penuh antisipasi. Dia tahu mengenai apa yang tengah dirasakan Luhan. Suatu perasaan yang menimbulkan perasaan takut ditinggalkan. Emosi yang seperti itu sanggup mengusir binar ceria di sorot mata Luhan, menggantikannya dengan sinar redup yang menyedihkan. Sehun terlalu lemah untuk mengabaikan binar yang seperti itu.
Sehun tidak bisa lari jika dia sudah direcoki pandangan itu dari Luhan.
"Ya, aku tidak akan menemui Krystal lagi. Aku tidak akan berinteraksi dengannya jika tidak ada hubungannya dengan pekerjaan," Sehun mengucapkan apa yang sekiranya ingin didengar oleh Luhan. "Aku tidak akan menemui Krystal demimu."
OoO
"Selamat ulang tahun!"
Ucapan itu terlontar dengan nada keras saat Luhan baru membuka pintu apartemen Sehun. Sang pemilik apartemen tengah membawa sebuah kue tar besar yang dipenuhi lilin cantik serta tulisan acak-acakan yang sulit terbaca. Wipped krim yang coba dibentuk sendiri oleh Sehun, terbaca 'Selamat ulang tahun, Xiaolu.'.
Di langit-langit apartemen tersebar puluhan balon gas yang ujungnya membentur plafon; hitam, putih, merah muda, serta merah dengan sulur-sulur bergelombang yang cantik. Pita melengkung juga ditembel di sudut-sudut ruangan, banyak sekali bunga tulip yang tangkainya direngkuh oleh pinggiran vas, diletakkan di nakas-nakas berpelitur milik Sehun hingga kecantikan kelopaknya mampu menyegarkan pandangan.
Ada semacam balon berwarna merah muda cerah yang mencolok, berbentuk huruf-huruf mandarin yang membentuk kata 'Untuk sayangku, Luhan. Selamat ulang tahun!' ditempelkan pada dinding. Pinggirannya dipenuhi oleh balon-balon udara yang warnanya lebih gelap dari balon huruf itu, merambat begitu cantik dan rapat pada tiap sisi-sisinya.
Kejutan yang indah sekali. Luhan tidak menyangka kalau ulang tahunnya di tahun ini akan dirayakan sedemikian romantis oleh kekasihnya. Padahal sebelum kemari, Luhan sempat berpikir jika Sehun telah melupakan hari ulang tahunnya. Pemuda itu menelepon dan memintanya kemari untuk memasakkannya sesuatu karena Sehun beralasan sedang sakit. Namun bukannya mendapati wajah pucat Sehun, dia malah disodori kue tar ulang tahun.
"Astaga, kau ..," Luhan kehilangan kata-kata ketika dia selesai memerhatikan perubahan seperti apa yang terjadi dalam ruangan ini. Sendi-sendi kakinya yang bergetar mencoba menuntun kakinya untuk melangkah. Sedikit demi sedikit hingga dia berada tepat di hadapan Sehun. "Oppa, gomawo."
"Kau harus meniup lilinnya terlebih dahulu dan menyimpan keinginanmu. Cepat lakukan sebelum lilinnya mengotori kuenya," kata Sehun sehingga Luhan cepat-cepat melontarkan doanya dalam benak dan meniup api lilin itu. "Selamat ulang tahun, ya," Sehun meletakkan kuenya di meja dan beralih mengecup bibir Luhan.
Ada banyak sekali air mata yang mengucur deras lewat pucuk mata Luhan ketika bibir Sehun mengecup bibirnya. Celah dadanya disentuh oleh perasaan paling membahagiakan yang tidak pernah dirasakannya saat bersama Sehun. Secara naluriah Luhan melingkarkan dua lengannya pada tengkuk Sehun, mengetatkan ciuman mereka sehingga Sehun tidak menyadari ada tumpahan air mata darinya.
"Kau menangis?" Sehun yang menyadari ada titik-titik basah yang menyentuh dagunya, memutuskan untuk menarik diri. Jemari-jemarinya yang panjang menangkup pipi gembul Luhan, mengusap jejak air mata itu dengan perasaan tidak rela. "Ini hari ulang tahunmu dan kau sama sekali tidak boleh menangis, mengerti?"
Luhan mengangguk, mencoba melukis senyuman tetapi tangisannya malah terdengar semakin keras.
"Kau membuatku gila," kata Sehun lalu merengkuh tubuh Luhan dalam pelukannya yang paling hangat dan nyaman. "Cuman kau yang bisa membuatku gila, Lu."
Luhan mendapatkan banyak sekali tepukan lembut dari telapak tangan Sehun, sekaligus mendapat bonus kecupan dari bibir sensual kekasihnya. Sehun sempat menggiring Luhan ke ranjang tetapi gadis itu menolak untuk melakukannya. Mereka tidak akan melakukan seks untuk malam ini, Luhan ingin melewatkan malam ini dengan keadamaian—serta pelukan Sehun yang penuh ketentraman.
Sehun menertawakan Luhan ketika gadis itu membuka sebuah kotak besar yang menjadi hadiahnya. Sesuatu yang berbulu cokelat segera melompat dan terengah memandangi Luhan, matanya yang bulat mengerjap begitu lega ketika kertas kado itu sudah dilepas dari jeruji kandangnya. Luhan memekik begitu bahagia lalu menjulurkan tangan, meraih anak anjing bolonka tersebut dan mendekapnya erat-erat di dada. Senyuman terlukis begitu saja pada belah bibirnya.
"Yaampun, ini hadiah paling luar biasa!" sahut Luhan sambil mengecupi hidung anak anjingnya. "Terimakasih, oppa! Bagaimana kau tahu kalau sedari dulu aku ingin sekali punya anak anjing?"
"Dasar, seperti anak kecil," kata Sehun sambil menahan tawa. "Tentu saja aku tahu. Kau menulisnya di buku harian."
"Kau membaca buku harianku?"
"Hanya mengintipnya sedikit," Sehun lantas tertawa.
Luhan ikut tertawa lepas sementara tangannya mulai menepuk-nepuk pantat anak anjingnya. Kebahagiaan datang bergulung-gulung dari berbagai arah, memenuhi sisi dadanya yang sempit dan sensitif hingga menimbulkan bercak merah pada pipinya. Sekali lagi, Luhan mendekati Sehun, menjatuhkan diri dalam pelupakan kekasihnya. "Terimakasih."
Sehun mengangguk lembut, memilih untuk membelai pundak Luhan yang terlapisi kain ciffon dari kemejanya. "Untuk apa?"
"Untuk semuanya; kejutan ulang tahun, hadiah yang luar biasa," Luhan menghela napas lalu mendongak, menatap lekat-lekat pada manik mata Sehun. Selama beberapa saat, dia merutuki apa yang telah terjadi selama beberapa minggu terakhir. Ingatan mengenai pengkhianatan Sehun kembali terbayang; namun semua perasaan itu segera ditepis dengan semua kebahagiaan yang dirasakannya malam ini. Kedua sudut bibir Luhan berkedut melukis senyuman lalu melanjutkan kalimatnya. "Dan menjadi kekasihku, oppa."
TBC
Chapter ini punya sedikit sekali part hurt-nyaaaa .. Sehun yang sayang Luhan ada di sini. Tapi, well, hmmm ... Persiapkan mental buat chapter-chapter selanjutnya, yaa. Aku memutuskan untuk ngetik satu chapter lagi soalnya banyak banget yang request kalo Sehun harus dikasih pembalasan yang setimpal /setimpal itu yang kayak apa sih wkwk/ pokoknya ditunggu aja, yaw ..
Btw, thankkiss banget buat yang udah mau baca dan review di chap kemariiin. Yaampun sumpah seneng banget baca komen kalian. Apalagi komen yang super panjang, yang banyak typo-nya. Sumpah asyik banget. baca review kalian pas aku lagi di kampus, dan senyum geje gitu. Sampe dikasih peringatan hati-hati jadi gila sama temenku -_- wkwk thankkiss, semuanyaaaaaa /kecup basah/
Ditunggu next chap, yaa. Bakal fast update as always kok.
Xoxo.
