.
.
.
FALLEN
.
CHAPTER 1.1 : BEGIN
.
KJI + OSH
.
T+
.
.
Writter by Stepstephiie ©2017
.
.
PRESENT
.
.
"Because….You make me Begin"
.
.
Sehun telah sampai ditempat dimana dia dilahirkan lebih tepatnya dia telah menginjakkan kakinya di korea. Tempat semua masa lalunya yang kelam.
Penerbangan yang memakan waktu hampir dua puluh enam jam membuat Sehun merasa kepalanya sangat pusing, perutnya terasa seperti sedang diputar-putar, kakinya pun terasa sangat lemas.
Ini kali kedua dirinya menaiki pesawat terbang, kali pertama dia menaiki pesawat adalah saat dia berumur Sembilan tahun saat Ahjussi-nya mengirimnya kesana ke norwegia.
"Ahjussi kemana kita akan pergi?" Sehun menggenggam erat ujung jas Jongin merasa Takut jika Jongin meninggalkannya seorang diri disini.
"Mansion-ku." Sehun menatap Jongin dengan sebal. Sejak di dalam pesawat tadi Jongin tidak pernah mengajak Sehun berbicara sedikitpun. Pria yang memiliki rahang yang kuat serta wajah yang tegas hanya sibuk membolak-balik kertas yang berada di hadapannya.
Sehun berniat ingin melemparkan pertanyaan kembali kepada Jongin sebelum sebuah mobil Limousineberhenti tepat di depan mereka.
"Masuklah." Jongin menarik tangan Sehun dan membiarkan Sehun memasuki mobilnya terlebih dahulu.
"Ahjussi apakah Yunho hyung danJaejoong hyung tidak ikut bersama kita?" Sehun kembali bertanya kepada Jongin yang sudah kembali terfokus pada ipad yang berada dalam genggamannya.
"Mereka akan menyusul." Jongin menjawab pertanyaan Sehun tanpa harus mengalihkan pandangannya dari ipad di tangannya.
Sehun menjauhkan tubuhnya dari Jongin seolah menyadari bahwa Jongin tidak ingin diganggu olehnya. Sehun mengalihkan pandangannya ke luar jendela saat menyadari mobil yang ditumbangi mereka sudah berjalan mengantarkan mereka ke tempat tujuan.
Pandangan Sehun berubah sedih, matanya terasa berkabut akan airmata yang siap meluncur membasahi kedua belah pipinya. Kenangan menyesakkan itu datang kembali. Memutar seperti roll film dalam pikirannya.
Orang tuanya dibunuh tepat didepan matanya.
Sehun menekan dadanya menghilangkan rasa sakit yang secara tiba-tiba menyerangnya. Napas Sehun terasa tersendat dan suaranya seolah tertahan di tenggorokkannya.
Sehun membutuhan sesuatu untuk menghilang rasa sakit ini.
Sehun membutuhkan sebuah pelukan yang mampu menenangkan dirinya.
Sehun membutuhkan dekapan itu dari Jongin.
Tubuh Sehun terasa kaku saat Jongin menarik tubuhnya secara tiba-tiba ke dalam dekapannya. Membelai surai arangnya dengan lembut.
Sehun merindukan ini.
Sehun merindukan dekapan Jongin.
Dekapan yang Sehun rasakan delapan tahun lalu.
"Tidurlah, kau terlihat sangat lelah hari ini." Suara lembut yang diberikan Jongin membuat Sehun merasa jauh lebih tenang dari sebelumnya. ucapan yang di keluarkan Jongin seperti sebuah mantra, apapun yang diucapkan Jongin seperti sebuah perintah yang tersistem di dalam pikirannya dan Sehun tidak akan pernah bisa menolak itu sekecil apapun.
Sehun mengerjapkan matanya saat tidak lagi merasakan pergerakkan dari kendaraan yang ditumpanginya.
"Ahjussi, apakah kita sudah sampai?" Suara Sehun terdengar serak, matanya sedikit tertutup menandakan nyawanya belum terkumpul sepenuhnya.
"Ya. Cepat turun." Jongin melangkahkan kakinya keluar dari dalam mobilnya meninggalkan Sehun yang sedang merenggut seorang diri disana.
"Dasar Ahjussi bipolar!" Sehun mendumal tapi tetap keluar dari mobil tersebut dan berlari kecil untuk menyamai langkah Jongin di depannya.
"Ahjussi, apakah kita akan tinggal disini?" Mata Sehun berbinar memandang takjub akan tempat tinggal yang akan segera dia tempati.
"Ya."
"Ahjussi, kau memang yang terbaik." Sehun memberikan kedua ibu jarinya ke arah Jongin yang hanya memandang datar dirinya.
"Selamat datang Tuan besar dan Tuan muda!" Sehun dengan segera merapatkan tubuhnya ke arah Jongin saat merasa Takut akan orang-orang yang berlarian menghampiri mereka dan menundukkan tubuh mereka ke arah Jongin.
"Siapkan kamar untuk Sehun."
"Sudah kami siapkan Tuan." Jongin tidak menjawab ucapan orang itu dan mengalihkan pandangannya menatap Sehun yang tengah menatapnya.
"Pergilah ke kamarmu, mereka akan menunjukkannya."
"Ahjussi, kita tidak tidur bersama?" Sehun memandang polos ke arah Jongin yang hanya menatap dingin ke arahnya.
"Tidak, Kita tidak tidur bersama jadi cepatlah pergi ke kamarmu. Aku juga sudah mendaftarkanmu di sebuah sekolah disini kau bisa langsung masuk mulai besok. Aku harus pergi." Ucap Jongin segera beranjak meninggalkan Sehun yang hanya terdiam mendengar ucapan Jongin.
"Ahjussi, jangan tinggalkan aku sendiri. Jebal!" Lirih Sehun pelan sembari menatap mobil Jongin yang bergerak pergi meninggalkan mansion itu.
Sehun telah memulai sekolahnya sejak seminggu yang lalu. Sekolah itu tidak begitu buruk yang sebenarnya adalah sekolah itu jauh dari kata buruk. Sehun juga mampu beradaptasi dengan cepat dalam seminggu dia sudah memiliki tiga orang teman yang selalu menemaninya dan itu membuat Sehun bahagia.
Walaupun kenyataanya Sehun tidak sebahagia yang dipikirkan oleh orang lain. Karena orang yang selalu Sehun butuhkan saat ini tidak ada disampingnya.
Ahjussi-Nya menghilang.
Menghilang meninggalkannya sendirian di dalam mansion besar itu.
Terakhir Sehun bertemu dengannya adalah saat Jongin mengantarnya ke mansion itu dan meninggalkannya begitu saja dan itu sudah terhitung selama seminggu.
Sehun merindukannya.
Benar-benar merindukan Jongin.
Akal sehatnya selalu menjerit kesakitan saat tidak melihat Jongin di dalam mansion itu. Setiap hari, setiap malam Sehun selalu menunggunya, berharap Jongin berdiri di hadapannya dan mendekapnya.
Sehun menginginkan itu.
Sehun segera bangkit dari ranjangnya dan berlari menghampiri supir dan hatinya tidak bisa menahan itu lagi, mereka tidak bisa menunggu dan mengharapkan sosok Jongin berdiri didepannya lagi. Karena jika Jongin tidak bisa menemuinya maka dia yang harus menemui orang itu.
"Ku mohon antarkan aku ke tempat Ahjussi bekerja."
Jeritan kesakitan terdengar nyaring saat Jongin menekan kakinya yang sedang menginjak kepala seseorang itu dengan kencang.
Matanya yang gelap memandang tajam sosok yang tergeletak tidak berdaya di kakinya.
"Ku mohon Tuan Maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi, Tolong lepaskan aku." Jongin mendecih merasa muak mendengar ucapan orang itu. Memohon kepadanya setelah berkhianat?
Mustahil jika Jongin akan melepaskannya begitu saja.
"Sejak kapan aku dapat mengabulkan permohonan seseorang dengan mudahnya?" Sudut bibir Jongin tertarik menampilan seringai Jahat yang selalu melekat dalam dirinya.
"Ku mohon Tuan, berikan aku satu kesempatan kembali, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama." Orang itu menangis menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya dan terus memohon ampun kepada Jongin, berharap Jongin memaafkannya untuk kali ini. Tapi itu tidak mungkin karena pada dasarnya hati Jongin telah mati sejak lama.
"Aku tidak perduli dan tidak akan pernah perduli dengan semua perkataan yang kau ucapkan." Suara tarikan pelatuk yang terdengar dari senapan yang berada di genggaman Jongin menandakan sosok berkhianat itu telah menempuh ajalnya.
"Tuan maaf mengganggu kegiatanmu. Aku hanya ingin menyampaikan seseuatu bahwa Tuan muda sedang berada disini."
"Apa? Sehun berada disini?" suara Jongin terdengar sedikit terkejut saat mendengar apa yang dikatakan anak buahnya.
"Benar Tuan. Dia terus berkata ingin bertemu dengan Tuan dan tidak akan pergi sebelum Tuan menemuinya." Jongin mendesah kesal, dia benci harus berurusan dengan anak remaja keras kepala seperti Sehun.
"Bereskan ini semua." Jongin melemparkan senapannya dan segera melangkahkan kakinya keluar dari ruang eksekusi kematian yang berada di bawah tanah kantornya.
Jongin dapat melihat Sehun yang sedang duduk dengan cemas di salah satu sofa ruang tunggu di lobinya saat dirinya baru saja keluar dari dalam lift.
"Apa yang kau lakukan disini?" Sehun segera meneggakkan tubuhnya saat mendengar suara yang sangat dia kenali.
"Ahjussi kau menemuiku?" Mata Sehun berbinar penuh rasa gembira, bibir melengkung membuat kurva yang begitu indah saat menatap sosok Jongin yang berdiri dihadapannya.
"Kenapa kau berada disini? Siapa yang menyuruhmu untuk kemari?" Sorot mata Sehun berubah padam, bibirnya mengatup menghilangkan senyumannya tadi saat mendengar ucapan Jongin yang seolah tidak menyukai keberadaannya disini.
"Aku merindukanmu Ahjussi." Bola mata Sehun bergetar merasa sesuatu mendesak keluar dari dalam kelopak matanya.
"Hentikan omong kosong mu, Sehun. Kau membuang-buang waktuku."
Ini menyakitkan.
Perkataan Jongin menyakiti perasaannya.
Bukan ucapan seperti itu yang Sehun inginkan, bukan ucapan seperti itu yang Sehun tunggu, bukan ucapan seperti itu yang Sehun ingin dengar dari Jongin.
"kenapa Ahjussi membawaku jika Ahjussi selalu meninggalkan ku, Kenapa? Jika kau tidak menginginkanku tolong kembalikan aku kepada Jaejoong hyung saja. Aku benci sendirian dan kau selalu membuatku merasa kesepian." Sehun menundukkan kepalanya tidak membiarkan Jongin melihat airmatanya yang mengalir deras.
Jongin menarik napasnya dan menghembuskannya dengan keras saat melihat bahu Sehun yang bergetar kuat. Anak itu menangis lagi karenanya.
Jongin melangkahkan kakinya mendekat ke arah Sehun dan mendekap tubuh anak itu.
"Berhentilah menangis, aku tidak akan meninggalkan kau sendirian lagi." Jongin membelai rambut Sehun saat tangisan Sehun semakin mengeras. Anak itu melepaskan semua bebannya dalam dekapan Jongin, yang selalu di impikannya.
Sehun mengerjapkan matanya tidak menyukai saat cahaya sinar matahari memasuki kamarnya dan mengganggu tidurnya yang damai. Tapi itu tidak berlangsung lama sebelum anak itu menyadari sesuatu yang mampu membuatnya tersenyum dengan cerah menampilan deretan giginya yang rapi.
Ahjussi-Nya sedang disini, dikamarnya, dan tidur bersamanya.
Pipi Sehun bersemu saat melirik Jongin yang masih tertidur dengan damai. Sosok itu sangat tampan dengan rahang tegas yang dia miliki, bulu mata yang terlihat lentik dan tatapan tajam yang mematikan saat kelopak mata itu terbuka. Sehun mengagumi semuanya, semua yang berada dalam diri Jongin begitu indah baginya.
"Ahjussi, bangunlah kau sudah berjanji akan menemaniku hari ini." Sehun mengguncang bahu Jongin dengan lembut membuat Jongin mengerjapkan matanya merasa terganggu.
Jongin bukanlah seseorang yang sulit dibangunkan, hidupnya melarangnya untuk tidur dengan nyaman, dia harus selalu waspada akan semua hal yang bisa saja terjadi pada dirinya saat dia tertidur.
"Kemana kau ingin pergi?"
"Gereja. Temanin aku ke gereja, Ahjussi."
Jongin memandang datar ke arah Sehun yang sedang menarik lengannya. Anak itu terlihat bahagia dengan senyum yang selalu melekat dengan dirinya sedari tadi.
"Apa yang ingin kau lakukan disini?" Sehun menghentikan langkahnya dan menatap Jongin dengan ekspresi terkejut.
"Ahjussi bagaimana mungkin kau bisa bertanya seperti itu, jika kau datang ke gereja sudah pasti kau ingin berdoa kepada Tuhan."
"Kau percaya dengannya?"
"Tentu saja aku percaya dengannya, Ahjussi juga pasti akan percaya dengannya saat dia menunjukkan sebuah keajaiban untukmu."
"Dia tidak pernah melakukan itu untuk ku." Lirih Jongin terlampau pelan yang hanya mampu di dengar olehnya.
Jongin melanjutkan kembali langkahnya mengikuti Sehun yang sudah masuk ke dalam altar gereja terlebih dahulu.
Anak itu menyanggah tubuhnya di antara kedua lututnya dan mengatup kedua tangannya dengan mata terpejam, Sehun berdoa.
Jongin tidak mengikuti apa yang dilakukan Sehun, dia hanya memandang keseliling gereja dan menatap dalam tanda salip besar yang berada di atas.
"Ahjussi, kau tidak berdoa kepada tuhan?" Jongin mengalihkan pandangnya ke arah Sehun yang sudah berdiri disampingnya.
"Tidak."
"Kau tidak ingin meminta sesuatu darinya?"
"Aku tidak menginginkan satu pun kebaikkan darinya." Sehun mendesah pelan begitu mendengar ucapan Jongin.
"Ahjussi, kau tidak boleh berbicara seperti itu kepadanya, dia melihat dan mendengar apapun yang kita katakan."
"Jika aku meminta Tuhan untuk membuatmu menjadi milik ku selamanya apakah dia akan mengabulkannya?" Jongin menyeringai ke arah Sehun.
"Ahjussi kau tidak boleh berkata seperti itu disini, ini tempat suci."
"Kau berpikir aku kotor?"
"Tidak. Maksudku bukan seperti itu, ucapanmu itu terdengar seperti kau menginginkan aku menjadi pasangan hidupmu." Jongin menaikkan sudut alis kirinya begitu mendengar ucapan Sehun.
"Jika itu memang benar, apakah itu salah?"
"Ahjussi tuhan tidak pernah menyetujui hubungan sesama jenis, apapun itu alasannya." Jongin menyeringai lebar begitu mendengar ucapan Sehun membuat Sehun merasa sedikit takut melihatnya.
"Bagaimana Jika aku mencium-mu tepat di hadapan Tuhanmu?"
"Ahjussi, kau tidak bisa mela-" Sehun melebarkan kedua matanya saat Jongin memotong ucapan nya dengan sebuah ciuman yang menuntut.
Jongin mencium Sehun begitu dalam, melumat kedua belah bibir Sehun yang terbuka, menyesapnya begitu kuat, lidahnya menjelajah masuk ke dalam ruang mulut Sehun, meneliti semua yang berada disana. Menghiraukan lonceng gereja yang berbunyi.
"Aku ingin melihat hukuman apa yang akan Tuhan lakukan saat aku melanggar aturan yang dia buat tepat dihadapannya." Jongin melepaskan ciumannya dan menatap Sehun yang hanya mampu terdiam akibat perlakuannya.
"Aku sangat menantikan hal itu." Dan Jongin melangkahkan kakinya meninggalkan Sehun yang masih terpaku disana.
"Tuhan, kau mengabulkan doa ku, kau mengabulkannya." Ucap Sehun sembari menatap tanda salip di depannya.
Sehun tidak mampu melakukan apapun pikirannya hanya tertuju akan doa yang baru saja dia katakan kepada tuhan tadi.
"Tuhan, tunjukan kepadaku siapa yang kelak akan mencintaiku dan melindungiku seumur hidup ku, tunjukan dia tepat dihadapanmu. Aku meminta padamu Bapa."
"Ahjussi, aku akan bahagia bersamamu kan?"
.
.
.
To Be Continue = Next 'Lie'
LIE
"kau pikir siapa orang yang selama ini kau cintai itu? Kau harus tahu bahwa orang yang paling kau cintai dan orang yang kau panggil ahjussi itulah yang telah membunuh kedua orang tua mu"
"tidak mungkin, tidak mungkin ahjussi melakukan itu!"
"memang akulah yang telah membunuh kedua orang tuamu dan sekarang aku akan membunuh."
"ahjussi tidak akan akan melakukan itu, tidak akan."
"kenapa kau begitu yakin aku tidak dapat membunuhmu? Aku membunuh orang tuamu, adik Kim Jaejoong bahkan aku mampu membunuh kedua orang tua angkatku. jadi alasan apa untuk aku tidak membunuh mu?"
"ahjussi kau tidak akan bisa, aku yakin kau-akhh"
-END-
Tertarik untuk chapter selanjutnya?
.
.
.
Stepstephiie ©2017
2017-08-29
