Hai, ketemu lagi ya OwO

Chapter 3 selesai

.

.

.

Selamat membaca XD

.

.

.

Semoga Sukaaaa

.

.

.


"Kau ini siapa?"

"Ngh…"

"Dia Rin, dia selalu datang untuk bermain dengan Mikuo" Ucap ayahnya.

"Oh begitu…" Miku tersenyum pada Rin. Rin balik tersenyum pada Miku.

Mereka semua pun masuk kedalam rumah. Rin langsung menghampiri Mikuo di kamarnya dan bermain bersama, sedangkan Miku menghampiri ayahnya di dapur.

"Ayah bertemu dia dimana?" Tanya Rin.

"Beberapa hari yang lalu dia menghampiri ayah untuk membeli sayuran, tapi sayuran yang ingin dia beli ada di rumah jadi saat itu ayah mengajaknya ke rumah dan akhirnya dia bertemu dengan Mikuo lalu jadi sering berkunjung untuk bermain" Jawab ayahnya sambil tersenyum. Miku ikut tersenyum.

Kalau di lihat-lihat vampire perempuan bernama Rin itu terlihat seumuran dengan Mikuo. Walapun begitu tentu saja Rin pasti sudah hidup lebih lama dari Mikuo.

Miku berjalan menuju kamar Mikuo dan melihat mereka berdua yang sedang bermain bersama.

"Kalian sedang main apa?" Tanya Miku yang duduk di samping Rin.

"Dokter-dokteran" Jawab Mikuo sambil tersenyum lebar pada kakak kesayangannya. Rin ikut tersenyum pada Miku. Miku memandangi wajah Rin.

"Dia mirip dengan seseorang, tapi siapa ya…" Batin Miku.

"Hari ini panas sekali ya" Ucap Mikuo.

"Mikuo mau es krim?" Tanya Rin.

"Hm, Mau" Jawab Mikuo. Kemudian Rin keluar kamar Mikuo dan Miku mengikutinya.

"Boleh aku meminjam gelas?"

"Ng? tentu" Miku mengambilkan gelas dan memberikannya pada Rin. Kemudian Rin meletakkan gelas itu di atas meja dan menepuk gelas itu dengan tangannya dua kali dan tadaaaa es krim vanilla pun ada dengan sendirinya.

Ketika Rin mau kembali ke kamar Mikuo, Miku menarik tangannya.

"Apa Mikuo tau siapa kau yang sebenarnya?" Tanya Miku dengan lembut. Rin menggelengkan kepalanya. "Kau tidak akan melakukan sesuatu yang buruk padanya kan?" Tanya Miku lagi. Rin tersenyum dan menganggukan kepalanya. Miku pun melepaskan tangannya.

Saat matahari mulai terbenam, Rin tetap berada di samping tempat tidur Mikuo. Meskipun Mikuo sudah tertidur, Rin tetap tidak beranjak pergi dari tempatnya. Miku pun kembali menghampirinya.

"Ayo kita mengobrol sebentar" Ajak Miku. Rin menganggukan kepalanya dan mengikuti Miku ke teras belakang rumah.

"Arigato" Ucap Rin saat di beri sepotong semangka oleh Miku.

"Kau tinggal dimana?" Tanya Miku.

"Di rumah" Jawabnya dengan polos.

"Err…maksudku rumahmu dimana?"

"Rumah yang aku tinggali sekarang atau rumah tempat aku di besarkan?" Rin malah balik bertanya.

"Kedua-duanya saja"

"Aku di besarkan di Sasarai dan sekarang aku tinggal di…di…ng…aku lupa nama tempatnya" Ucap Rin dengan ekspresi polosnya.

"Umurmu berapa?" Tanya Miku sambil mengelus kepala Rin.

"Baru 192 tahun" Jawabnya dengan manis.

"Baru? Bagi manusia itukan sudah tua sekali" Cetus Miku dalam hatinya.

Miku merasa jika Rin bukanlah vampire yang jahat. Meskipun umurnya sudah 192 tahun, tapi dia masih terlihat seperti seorang anak kecil berumur 10 tahun. Selain itu cara makannya juga masih berantakan, makanya setelah dia selesai memakan semangkanya Miku langsung membersihkan wajahnya dengan tissue basah.

"Kalau begitu aku mau pulang dulu" Katanya sambil memberi hormat ala putri-putri bangsawan. Miku hanya tersenyum dan Rin langsung menghilang.


Keesokan harinya Miku pergi ke sekolah seperti biasanya. Di cela seperti hari-hari biasanya.

"Ohayou.." Sapa Gakupo saat Miku memasuki kelas.

"Ah..Ohayou tu—Gakupo-san" Balas Miku yang langsung menundukan kepalanya.

Saat Miku duduk di kursinya, 3 orang anak perempuan datang menghampirinya. Mereka bertanya-tanya mengenai kebenaran apakah Miku benar-benar bekerja di kediaman Kaito. Dan ketika Miku membenarkan itu semua beberapa dari mereka menggebrak mejanya lalu membentaknya. Gakupo yang sedang keluar kelas pun tidak bisa menolongnya.

"Dasar orang mis—"

Tiba-tiba seseorang menghentikan tangan salah seorang anak perempuan yang hendak menampar Miku.

"Ted-san" Ucap ketiga anak perempuan itu. "Aku ada perlu dengan anak ini jadi tolong tinggalkan kami berdua saja" Lanjut Ted. Mereka pun menurut dan pergi meninggalkan kelas.

"Kau mau apa?" Tanya Miku.

"Pergilah ke rumah, Len sedang sakit. Semua pelayan sibuk dengan tugasnya masing-masing" Jawab Ted.

"Tapi aku harus sek—"

"Miku! Tossu!" Ted mengangkat tangannya. Miku mengikutinya. Dan ketika tangan mereka saling bertemu, Miku pun langsung menghilang dari sekolah dan Ted hanya tersenyum dan kembali ke kelasnya.


Miku pun terkejut karena dirinya mendadak berada di tangga menuju lantai 4.

"Tidakkah kau lihat kedalam hatiku? "

Miku kembali mendengar nyanyian Len.

"Bukankah itu terisi dengan segala keinginanmu?"

Miku melangkahkan kakinya secara perlahan dan melihat pintu yang tidak tertutup dengan rapat. Dia melihat Len yang sedang berbaring di lantai sambil menggunting sesuatu.

"Tuan muda…" Panggil Miku. Len melirik ke arah pintu dan pintu itu pun terbuka lebar seakan menyuruh Miku untuk masuk.

Blam… Pintu itu pun kembali tertutup dengan kerasnya.

"Tuan Ted bilang kau sakit, jadi ak—"

"Jangan pedulikan aku"

"Tapi…"

"Kau berani menentang perintahku?" Len langsung bangun dan menatap dingin Miku. Miku hanya terdiam dan menundukan kepalanya. "Bereskan ini" Len melempar potongan kertas bersama guntingnya.

Saat Miku membereskannya, Miku melihat foto dua orang yang di duga adalah kedua orang tua Len.

"Tuan mu—"

Brugh… tiba-tiba Len terjatuh. Miku yang panik pun langsung meninggalkan pekerjaannya dan menghampiri Len.

"Tuan muda!" Panggil Miku.

". . ." Len hanya diam tanpa berkedip sedikitpun.

"Tuan?" Miku menyentuh pundak Len.

"Kemarin aku melihat iblis dan sekarang aku melihat malaikat, kemarin aku melihat rusa dan sekarang aku melihatmu"

"M-maaf, aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan" Kata Miku.

"Semuanya takut padaku, semuanya membenciku, akhirnya aku di kurung dan tak bisa keluar…"

"Eh?"

"Seperti burung dalam sangkar…tidak tau kapan bisa keluar"

Len Kagamine, seorang Vampire yang sempurna berusia 302 tahun di takuti semuanya karena sifatnya yang di bilang aneh. Dia bisa begitu sangat baik dan juga bisa begitu sangat jahat. Seperti memiliki dua kepribadian.

"Aku membunuh ayahku, lalu membunuh ibuku, lalu ku lindungi adikku"

Len di hukum atas perbuatannya di masa lalu. Len tidak bisa keluar dari rumah itu sesuka hatinya. Puluhan tahun yang lalu Len membunuh ibunya karena ibunya yang sering kali menyiksa adik perempuannya. Setelah itu dia membunuh ayahnya karena ayahnya hendak mengambil jantung adiknya agar bisa menghidupkan ibunya kembali. Setelah itu kakeknya merantai leher Len agar dia tidak bisa keluar dari rumah itu untuk selamanya.

"Tuan…" Panggil Miku. Len berdiri dan menyentuh rantai yang ada di lehernya.

"Kau punya adik?" Tanya Len.

"Iya…"

"Jika ibumu menyiksa adikmu, apa yang akan kau lakukan?"

"Aku akan menjauhkan adikku dari ibuku"

"Kau tidak akan membunuh ibumu?"

"Aku tidak bisa melakukannya karena dia adalah ibuku"

"Ha..hahahahaha"

Len tertawa lepas sambil berjalan menuju kasurnya.

"Malam ini jangan datang ke kamarku" Ucap Len. Miku hanya diam. "Jangan ke kamar Gakupo, Ted, dan Nero"

"Kenapa?" Tanya Miku.

"Saat bulan purnama vampire akan lebih buas dari biasanya" Jawab Len sambil berbaring di kasurnya. "Sebelum kau keluar dari kamarku jangan lupa bereskan sampah yang ada disana" Lanjut Len. Miku menganggukan kepalanya dan segera membereskan potongan kertas yang berserakan di lantai.

"Aku permisi" Miku membungkukan badannya dan keluar dari kamar Len. Saat Miku keluar, pintu kamar Len pun langsung tertutup dan Miku mulai mendengar nyanyian Len lagi.

"Kagome kagome, Seperti burung di dalam sangkar. Kapan aku bisa keluar dari sini?"

Len seakan-akan menyanyikan lagu yang mewakili perasaannya. Len sangat ingin bebas dan bisa keluar dari sana seperti saudaranya yang lain, tapi karena hukuman yang di berikan kakeknya membuat semua impiannya sirna begitu saja. Miku merasa kasihan pada Len, meskipun kesan pertama pertemuan mereka bisa di bilang tidak baik.

"Kagome kagome, di penjara aku bertanya-tanya ketika kau meninggalkanku disini…

Ini adalah satu-satunya keinginan yang aku miliki…"

Miku menghentikan langkah kakinya dan menengok ke arah kamar Len.

"Len-san…" Miku mendadak khawatir.

"Yaitu membuat janji yang hanya sekali…"

Tiba-tiba Miku mendengar langkah kaki seseorang yang mendekatinya.

"Kau membolos sekolah hanya karena ingin bertemu Len?" Tanya orang itu pada Miku yang memang masih menggunakan seragam sekolah.

"Nero-san…"

"Sebegitu sukanya kah kau pada sepupuku?" Tanya Nero lagi. "Manusia dan Vampire seharusnya tidak boleh bersatu" Nero mengangkat dagu Miku. Miku hanya diam karena tidak tau harus bicara apa.

"A-ano…Nero-san tidak pergi ke sekolah?" Tanya Miku. Nero tertawa.

"Tadinya aku ke sekolah hanya ingin melihat manusia, tapi sekarang di rumah ini juga ada manusia. Jadi aku tidak perlu repot-repot kesana" Jawabnya sambil mendekatkan wajahnya pada Miku.

Dugh… Miku mendorong Nero.

"M-maaf…" Kata Miku sambil menundukan wajahnya. Nero malah tertawa dan menghilang.

Miku pun berjalan menuju tangga dan disana dia menemukan kelopak bunga mawar berserakan dimana-mana menuju tempat yang belum pernah dia lewati. Karena penasaran Miku pun mengikuti kelopak-kelopak bunga itu. Saat Miku sampai di depan sebuah pintu raksasa berwarna putih, kelopak mawar yang berserakan itu pun menghilang secara misterius. Miku yang masih sangat penasaran pun mencoba membuka pintu itu tapi pintunya tidak mau terbuka. Miku pun mengurungkan keinginannya dan kembali berjalan menuju tangga. Tapi saat Miku berjalan…

"Jangan sekali-sekali mencoba membukanya lagi" Ucap Len yang tiba-tiba ada di belakang Miku.

Kruuuk…kruuuk… bunyi suara perut Len.

"T-tuan muda? Kau lapar?" Tanya Miku. Len mengalihkan pandangannya dari Miku.

"Kalau kau tau kenapa tidak siapkan makanan untukku" Jawab Len yang berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya. Miku hanya tersenyum.

Miku dan Len pun berjalan ke dapur bersama-sama. Disana Miku tidak melihat pelayan yang lainnya, yang ada di pikirannya mungkin mereka akan datang nanti siang.

"Hey…kau bisa buatkan sesuatu yang berbentuk berbentuk panjang seperti cacing? Lalu di beri air dan di taruh di mangkuk?" Tanya Len. Miku tidak mengerti dengan apa yang di katakan Len jadi Len mengajak Miku untuk menonton tv sampai ada iklan makanan yang Len maksud. "Itu makanan yang aku maksud!" Len menunjuk-nunjuk iklan ramen yang ada di tv. Miku tersenyum saat melihat ekspresi Len yang seperti anak kecil. "Kau bisa buatkan itu?" Tanya Len lagi.

"Ramen? Aku bisa tapi itu membutuhkan waktu yang cukup lama.." Jawab Miku.

"Tapi aku ingin makan itu" Len memelas pada Miku.

"Kalau begitu kita makan di luar saja" Kata Miku sambil sedikit tersenyum. Len terdiam dan mengalihkan pandangannya dari Miku.

"Kau mau menghinaku?"

"Eh?"

"Aku tidak bisa keluar dari sini…" Len berbaring di sofa sambil menutup wajahnya dengan bantal.

"Tapi saat pertemuan waktu itu kau datang bersama Ted-san dan Kaito-san kan?"

"Itu memang benar, tapi aku keluar dengan pertolongan dari Ted" Len menggigitin bantal yang dia pegang.

"Kalau begitu kita minta bantuannya lagi saja" Ucap Miku.

"Tidak mau.."

"Eh? Kenapa?"

"Kekuatan Ted hanya bisa membuatku bisa keluar selama 2 jam. Dan aku tidak mau seperti itu, aku ingin seperti yang lainnya" Len bangun dan berbaring di atas pangkuan Miku. "Kalau aku memaksa keluar, aku bisa mati" Len menutup matanya dan tertidur.

Miku melihat dengan jelas wajah Len yang biasanya terlihat menakutkan baginya. Tapi sekarang berbeda, Miku melihat wajah Len yang begitu terlihat sedih. Miku mencoba menyingkirkan rambut yang menghalangi mata kanan Len. Tapi saat Miku menyingkirkannya tiba-tiba Len menggenggam tangan Miku.

"Apa kau takut padaku?" Tanya Len yang masih menutup matanya.

"Awalnya begitu tapi aku yakin kau bukanlah orang jahat" Jawabnya.

"Apa kau jatuh cinta padaku?" Len membuka matanya dan menatap mata Miku.

"Eh…" Miku terkejut. Len menyentuh pipi Miku dengan tangannya yang dingin.

"Kenapa manusia begitu hangat.." Ucapnya.

"Kenapa vampire begitu dingin" Balas Miku. Len tersenyum.

Itu adalah pertama kalinya Miku melihat senyum hangat dari Len.

"Maukah kau membelikan makanan bernama Ramen untukku?" Tanya Len. Miku menganggukan kepalanya. Len bangun dan megelus kepala Miku. "Aku akan menunggu di meja makan" Katanya yang langsung berjalan menuju ruang makan. Miku pun langsung bergegas ke tempat penjual ramen.

Saat Miku membuka pintu dan hendak berjalan menuju gerbang, dia melihat seorang anak kecil yang tidak lain adalah vampire perempuan yang selalu datang ke rumahnya.

"Rin?" Panggil Miku. Rin yang berjalan sambil menunduk pun langsung mengangkat wajahnya dan berlari menuju Miku.

"Are? Kenapa kakak ada di rumahku?" Tanya Rin.

"Rumahmu?"

"Hm.." Rin mengangguk sambil tersenyum lebar.

"A-aku bekerja sebagai pelayan disini" Ucap Miku. Rin terkejut.

"Begitu ya, aku tidak mengetahuinya hehe"

"Sekarang kau mengetahuinya kan?" Miku tersenyum pada Rin.

"Sekarang kakak mau kemana?" Tanya Rin.

"Aku mau membeli ramen untuk Len-san" Jawab Miku.

"Untuk kakakku? Aku boleh ikut?" Rin menarik rok Miku.

"Kakak?" Miku terkejut.

"Miku-nee?" Panggil Rin.

"Hm. Tentu kau boleh ikut" Kata Miku. Rin langsung memegang jari telunjuk Miku.

Mereka berdua pun pergi bersama ke tempat penjual ramen.


Saat di perjalanan, Rin terlihat begitu gembira. Dia terus bertanya sesuatu pada Miku dan Miku menjawabnya dengan senang hati.

"Nah kita sampai" Kata Miku. Rin langsung menghampiri penjual ramen pinggir jalan tersebut.

"Paman yang baik hati, kami pesan untuk di makan di rumah" Ucap Rin. Penjual ramen pun tertawa karena ucapan Rin yang terdengar lucu.

"Kami beli 3 porsi" Kata Miku.

"Baunya enak…" Rin terus berdiri di samping penjual ramen. Pada saat penjual ramen itu memotong sayur, tidak sengaja jari telunjuknya teriris dan mengeluarkan darah. Rin yang melihatnya tiba-tiba berlari ke belakang Miku dan memeluknya dengan erat.

"Ada apa? Kau takut darah ya?" Tanya penjual ramen sambil menutup lukanya dengan tissue.

"Suki.." Ucap Rin.

"Hng?" Penjual itu kebingungan.

"Suki…Ramen daisuki" Kata Rin. Penjual itu pun tertawa dan memberikan pesanannya pada Miku.

Setelah selesai membeli ramen, mereka pun kembali berjalan pulang ke rumah.

"Syukurlah aku bisa menahan diri" Kata Rin sambil menyentuh dadanya.

Begitulah Vampire. Melihat darah sedikit saja insting mereka langsung bergerak dengan cepat.

"Rin bisa membuat ramen seperti saat membuat es krim untuk Mikuo kan?" Tanya Miku. Rin menganggukan kepalanya.

"Tapi rasanya tidak akan seenak aslinya" Jawab Rin. "Kalau berjalan terus nanti ramennya dingin" Rin langsung menggenggam tangan Miku. "Tanganmu hangat…rasanya nyaman…" Rin tersenyum dan mereka pun seketika menghilang.


Saat mereka muncul di depan pintu, mereka melihat Ted sedang duduk di bawah pohon. Rin memanggilnya dan melambaikan tangannya, Ted tersenyum dan balik melambaikan tangannya. Setelah itu mereka berdua masuk dan pergi ke ruang makan. Tempat Len menunggu.

"Onii-chan…" Panggil Rin sambil mengagetkan Len yang sedang tertidur.

"Ah! Rinny kau pulang" Kata Len yang langsung mengelus kepala adiknya itu.

Miku pun langsung menghidangkan ramen yang masih hangat pada Len dan juga Rin. Miku menahan tawanya saat melihat Len yang kesusahan memakan ramen itu dengan sumpit. Sedangkan Rin lebih memilih memakannya dengan garpu.

"Kenapa sulit sekali ya" Cetus Len yang kesal. "Miku coba bantu aku…" Katanya. Miku pun berjalan menghampirinya dan duduk di kursi sampingnya. "Ajari aku menggunakannya" Len menyerahkan sumpitnya pada Miku.

"Coba kau pegang seperti ini" Miku memperlihatkan cara memegang sumpit yang benar pada Len. " Lalu seperti ini" Miku mengambil mie nya dan menyuapinya pada Len. Dengan malu-malu Len pun membuka mulutnya dan memakannya.

"E-enak.." Katanya dengan pipi yang kemerahan. Rin yang melihatnya hanya tersenyum dan melanjutkan makannya.

Setelah selesai makan, Rin pergi ke kamarnya sedangkan Len diam di dapur dan memperhatikan Miku yang sedang mencuci piring. Miku terus bertanya-tanya dalam hatinya kenapa pelayan yang lainnya tidak terlihat sejak tadi. Saat Miku selesai mencuci piring, dia langsung membersihkan tangannya. Tiba-tiba Len memeluknya dari belakang.

"Kenapa kau begitu terang" Bisiknya. Miku hanya diam dan merasakan betapa dinginnya Len.

"T-Tuan muda…" Panggil Rin.

Brugh… tiba-tiba Len jatuh ke lantai dan tidak sadarkan diri. Miku yang panik langsung memanggil Ted yang masih duduk di bawah pohon. Dengan segera Ted membawa Len ke kamarnya.

"Bisa kau temani dia? Aku akan menghubungi Gakupo dan Kaito" Ucap ted. Miku menganggukan kepalanya.

Miku kira Len akan segera bangun seperti yang biasa dia lakukan. Tapi sekarang berbeda, Len terus menutup matanya. Wajahnya mulai pucat.

"Apa dia keracunan ramen?" Batin Miku. Tidak lama kemudian Miku mendengar suara rantai. Miku terkejut karena rantai yang melingkari leher Len kembali terlihat.

Tidak lama kemudian Gakupo dan Kaito datang ke kamar Len.

"Apa yang harus kita lakukan…" Gakupo kebingungan.

"Rantai ini setiap harinya terus mengikat leher Len dengan kuat" Kaito menyentuh rantai itu.

"BEBASKAN ONII-CHAN KU!" Rin mencoba memotong rantai yang ada di lantai dengan kapak, tapi tidak berhasil.

Wajah Len kian lama kian memucat. Dia seperti mulai kesulitan untuk bernapas.

"Miku" Panggil Gakupo. "Aku, Kaito, Ted, dan Rin akan pergi ke Sasarai untuk menemui kakek. Tolong jaga Len selama kami pergi" Lanjut Gakupo. Miku menganggukan kepalanya. Mereka berempat pun menghilang. Miku terus berada di samping Len.

"Ugh.." Len seperti menahan sakit.

"Len-san…" Miku khawatir. Tiba-tiba Nero datang menghampiri mereka.

"Malam sudah hampir tiba, segera tinggalkan Len atau kau akan dalam bahaya" Ucapnya yang kemudian menghilang. Miku langsung melihat keluar jendela.

Tepat jam 7 malam Miku meninggalkan Len seorang diri di dalam kamarnya. Miku pun berjalan menuju dapur untuk mengambil minum, tapi disana dia melihat Nero yang sedang diam di tengah tangga.

"Nero-san" Panggil Miku. Nero membalikan badannya dan kemudian menghilang meninggalkan Miku. Miku pun tidak terlalu memikirkannya, tapi saat dia mulai menuruni anak tangga yang pertama, dia mendengar teriakan Len yang seperti kesakitan. Miku pun cemas dan segera berlari kembali ke kamarnya. Dan saat dia membuka pintunya, dia melihat Len yang sedang memberontak mencoba membuka rantai yang melilit lehernya dengan tangannya.

Saat bulan purnama, kekuatan para vampire biasanya menjadi lebih besar dari biasanya. Kuku-kuku Len yang tadinya pendek dan rapih pun seketika memanjang. Gigi taringnya pun jadi lebih terlihat. Malam itu Len menjadi lebih menakutkan dari biasanya. Miku hanya bisa diam. Tubuhnya gemetaran dan kakinya sulit untuk di gerakkan. Len membalikan badannya dan menemukan Miku di depan kamarnya. Tiba-tiba tubuh Miku seperti di tarik masuk. Miku langsung jatuh di hadapan Len.

"L-Len-san…" Miku menatap Len yang benar-benar menakutkan. Len yang kehilangan control akan dirinya pun langsung mencekik Miku. "L-Le…n-s..an" Panggil Miku. Len hanya diam dan malah mencekiknya lebih kuat lagi. Miku pun mulai mengeluarkan air matanya.

"Mi…ku…" Len melepaskan cekikannya dan segera menjaga jarak dengan Miku. Len memegang kepalanya dan terlihat seperti kesakitan. "Aku…aku tidak boleh membuat seorang wanita menangis…aku sudah berjanji padamu…ibu…" Ucap Len. "Aku akan menjadi laki-laki yang tangguh sepertimu...ayah" Len terlihat kesakitan sampai mengeluarkan air matanya.

"Len-san…" Panggil Miku.

"Miku pergilah! Atau aku bisa melukaimu lebih dari ini!" Ucap Len.

Tiba-tiba pandangan Miku menjadi gelap dan dia tidak bisa melihat apapun. Tapi itu tidak berlangsung lama, dia kembali bisa melihat. Tapi apa yang dia lihat sekarang adalah sesuatu hal yang aneh.

"Kau seharusnya malu! Seorang vampire tidak perlu memberikan belas kasihan pada makhluk rendahan seperti manusia!" Ucap seorang wanita berambut panjang.

"Mama! Sakit! Ampun…ampuni aku" Teriak seorang gadis kecil yang rambutnya di tarik oleh wanita itu.

"Jangan siksa Rin terus!" Teriak seorang anak laki-laki.

"Len?" Ucap Miku dalam hatinya.

"Kau berani membentak ibumu?! Adikmu ini terlalu sering bergaul dengan manusia! Sebagai seorang kakak kau seharusnya mendidik adikmu dengan benar!" Bentak wanita itu.

"Tugas mendidik seorang anak harusnya di lakukan oleh orang tuanya! Jika kau memang orang tua kami, maka kau lah yang harus mendidik kami! Bukan mereka! Orang-orang yang kau panggil sebagai guru privat! Mereka sungguh tidak berguna!" Len balik membentak ibunya.

"Kau berani berkata seperti itu ha?!" Ibunya menampar Len dengan sangat keras. "Kau pikir siapa yang sudah melahirkanmu?! Siapa yang sudah merawatmu?!"

"Memang kaulah yang melahirkanku, tapi Ibunya Nero lah yang sudah merawatku selama ini!" Len menarik Rin dari tangan ibunya.

". . ." Ibunya Len terdiam.

"Aku berharap menjadi anak dari bibi dari pada menjadi anak darimu" Ucap Len. Seketika air mata ibunya pun tumpah.

"Kau tidak seharusnya membuat seorang wanita menangis Len" Ibunya menghapus air mata yang membanjiri pipinya. "Sekarang kau tinggal pilih, bunuh aku atau bunuh adikmu?"

Len sempat terdiam. Dia pun membuat Rin tidak sadarkan diri. Jleb.. Len menusuk jantung ibunya dengan tangannya sendiri.

"Beristirahatlah, aku yang akan mendidik dan menjaga Rin" Ucap Len. Ibunya pun jatuh ke lantai dan tersenyum. Tapi Len sama sekali tidak melihat senyuman ibunya tersebut.

Tiba-tiba pandangan Miku pun kembali gelap dan akhirnya kembali terang.

"Sekarang apalagi…" Ucap Miku dalam hatinya.

Sekarang Miku melihat Rin yang sedang di tarik paksa oleh ayahnya.

"Maafkan ayahmu ini, tapi ayah lebih menyayangi ibumu dibandingkan dirimu" Ucap seorang laki-laki yang ternyata adalah ayahnya Len dan Rin.

"Ayah…lepaskan aku…" Rin menangis. Ayahnya mengabaikan tangisan Rin dan mulai mengikatnya. Rin mulai menangis berteriak memanggil-manggil nama kakaknya. Ketika ayahnya hendak menusuk adiknya dengan pisau, Len datang dan menusuk ayahnya lebih dulu.

"Aku tidak bisa membiarkanmu" Ucap Len. Ayahnya pun langsung jatuh ke lantai dengan darah yang mulai membanjirinya.

"Len, kau sudah membunuh ibumu. Apa kau juga akan membunuhku?" Tanya ayahnya.

"Jika dengan membunuhmu dapat membuat adikku terlepas dari penderitaan. Maka aku pasti akan melakukannya" Jawab Len yang langsung menggendong adiknya.

"Ayah…hiks…" Rin masih menangis. Len menutup mata Rin.

"Sayonara…papa" Len membakar tubuh ayahnya dan berjalan meninggalkannya.

"Kau harus tumbuh menjadi laki-laki yang tangguh, Len…" Ucapnya sambil tersenyum untuk yang terakhir kalinya. "Kami berdua sungguh…menyayangimu…juga adikmu"

Pandangan Miku pun kembali menjadi gelap dan kembali terang. Dan sekarang dia melihat Len yang masih kesakitan.

"Len-san" Panggil Miku. Len menghiraukan panggilan Miku.

"La…ri Miku" Ucap Len yang berjalan menghampirinya. Tapi Miku tidak lari, dia hanya diam sampai akhirnya Len kembali mencekiknya. Miku tidak melawan dan malah mengelus kepala Len.

"Ayah dan Ibumu…begitu menyayangimu, juga adikmu" Ucap Miku. Len terkejut dan berusaha melepaskan tangannya dari leher Miku. "Mereka tidak marah..pad..a..mu" Lanjut Miku yang memaksakan bicara di tengah sulitnya bernapas.

". . ." Len terdiam dan berhasil mengendalikan dirinya. Air mata pun tidak bisa tertahankan lagi. Len langsung memeluk Miku. "Jangan lihat aku yang seperti ini…ku mohon…tutup matamu" Ucap Len. Miku pun menurut dan menutup matanya.

Miku mendengar tangisan Len yang sangat mendalam. Len begitu menyesal karena telah membuat nyawa kedua orang tuanya menghilang.

"Mama…Papa…maafkan aku…" Ucap Len. Miku yang mendengarnya pun ikut hanyut dalam kesedihan Len. Miku teringat kedua orang tuanya yang ada di rumah. Tidak lama kemudian rantai yang ada di leher Len pun hancur begitu saja.

Setelah tenang, Len melepaskan pelukannya dan memperbolehkan Miku untuk membuka matanya.

"Arigato" Kata Len yang langsung mencium kening Miku.

Tiba-tiba muncul dua sosok vampire yang ternyata adalah kedua orang tua Len dan Rin. Mereka berdua tersenyum pada Len dan kemudian menghilang.

"Arigato" Ucap Len lagi sambil kembali memeluk Miku.

Apa yang di lihat Miku terasa seperti mimpi. Dia melihat masa lalu Len yang terbilang mengerikan. Len begitu menyayangi Rin, sama sepertinya yang begitu menyayangi Mikuo.


Keesokan harinya saat Miku berangkat ke sekolah, dia melihat Len yang sedang berdiri tepat di gerbang sekolah.

"Len-san"

Len tersenyum dan melambaikan tangannya pada Miku. Miku berlari dan menghampirinya.

"Kau bisa keluar?" Tanya Miku.

"Seperti yang kau lihat" Jawabnya. Miku sedikit tersenyum. "Aku siswa baru, jadi mohon bimbingannya ya" Len merangkul Miku di depan siswa yang lainnya.

"L-Len-san.." Miku mencoba menyingkirkan tangan Len dari pundaknya. Len tersenyum jahil dan malah menggenggam tangannya.

Sebelum jam pelajaran di mulai, Miku pun mengajak Len untuk berkeliling sekolah.

"Miku!" Len tiba-tiba memeluk Miku dari belakang.

Len yang begitu menyeramkan berubah menjadi Len yang begitu menggemaskan.

"Miku!"

"Miku!"

"Miku!"

Len terus menerus memanggil nama Miku dan itu membuat Miku sedikit jengkel.

Jam pelajaran pertama pun di mulai. Len masuk ke kelas dan memperkenalkan dirinya pada yang lainnya.

"Namaku Len Kagamine, umurku 302 tahun…"

"Dia ini bodoh atau bagaimana…kenapa dia menyebutkan umurnya yang sesungguhnya" Ucap Miku dalam hatinya. Siswa yang ada di kelas pun tertawa karena mengira itu hanya candaan belaka.

"Hobiku menyusahkan dan menyiksa orang lain. Salam kenal" Katanya sambil tersenyum manis. Gakupo yang ada di kelas itu pun memandang aneh pada sepupunya itu.

Len pun di persilahkan duduk dan ketika Len berjalan, Len tiba-tiba menghentikan langkahnya.

"Oh iya! Siapapun yang berani menyakiti perempuan ini akan ku hisap darahnya sampai habis" Ucap Len. Miku dan Gakupo terkejut.

"Len-kun bercanda terus" Sahut guru mata pelajaran matematika.

"Aku serius. Aku akan mencabik-cabik tubuhnya dan aku ak—"

"Cukup! Cepat duduk setan kecil!" Gakupo menarik Len ke bangku paling belakang.

"Miku! Nanti kita makan siang sama-sama ya!" Teriak Len. Miku langsung menutup wajahnya dengan buku pelajaran.

Saat jam istirahat tiba, Miku yang selalu makan di dalam kelas pun harus berbagi dengan Len karena dia hanya ingin makan bersama Miku.

"Seharusnya kau tidak mengungkapkan jati dirimu yang sesungguhnya kan" Ucap Miku.

"Kenapa? Aku tidak peduli jika mereka mengetahuinya" Balas Len.

"Itu akan menyulitkanmu" Miku membersihkan saus yang menempel di tepi bibir Len. Len terdiam dan tersenyum.

"Kau begitu peduli padaku?" Tanya Len. Miku menganggukan kepalanya.

"Karena…Len temanku" Jawabnya. Len tertawa saat melihat ekspresi malu Miku ketika mengatakan jika Len adalah temannya. "Aku mau ke toilet dulu"

"Aku ikut…" Kata Len dengan polosnya.

"Tidak boleh. Laki-laki tidak boleh masuk kedalam toilet wanita!" Miku segera berlari meninggalkan Len.

Setelah menyelesaikan urusannya di toilet, Miku bertemu dengan Nero di tangga. Miku membungkukan badannya ketika melewatinya.

"Kau bukan gadis sembarangan" Ucap Nero. Miku menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Nero. "Aku jadi tertarik padamu…" Nero tersenyum pada Miku. Miku hanya diam. Nero berjalan mendekati Miku, Miku yang mau melarikan diri pun tiba-tiba terjatuh dan tidak bisa bergerak. Miku merasakan aura menakutkan dari Nero.

"Berdirilah.." Ucap Nero. Tubuh Miku pun bergerak dengan sendirinya dan itu membuat Miku ketakutan. "Mendekatlah.." Nero merentangkan tangannya. Saat Miku mendekat padanya, Nero langsung memeluknya. "Gadis pintar…" Nero tersenyum.

"Sekarang saatnya untuk memberikan hidupmu untukku"

.

.

.

=TBC=


Oke, makasih buat yang udah baca sampai sini X'D *terharu* Chapter selanjutnya masih dalam proses, belum selesai huhu…di usahain update secepatnya kok..

Yaudah, sampai ketemu di chapter selanjutnyaaaaaa

Chapter selanjutnya, Chapter 4 : Nero.