Akhirnya selesai~ Dua hari, saya habis-habisan buat last chapter-nya. Gomen, karena telat. Ini juga karena UTS yang baru selesai hari Selasa lalu ^^

Dan ini balesan review buat yg nda login:

Chini VAN: eumm... lanjutannya di bawah tuh, Chini-chan :D Yonde kurete arigatoo[1]... ^^

Me: Sankyuu, nee~ Udah update! Gomen ga pake "kilat" *smirk/ Sasu-kun emang t.o.p ^^d fufufu...

Musim Semi: "Haru" itu pengertiannya sama dengan nickname-mu, nee~ #lol Udah update nih, Haru-chan... gomen kalu kurang cepat... Haru-chan... sankyuu! *hugs :D

Agnes BigBang: Yeiiy! Akhirnya ada yang ngikiutin anime itu juga~ *toss ke Agnes/ Sankyuu, Agnes-chan ^^

Ila heee: Thanks, Nyonya megane 1... :D (Aamin) Wah... wah... ano ne, jitsu wa, eeto, ata atashi... ano[2]. Ah, sila scroll ke bawah! #rofl

amy chan: Gomen, ne! *bow/ bunyi pintu orang ningrat gimana ya? #thinking... O, Sankyuu nee-san! :D


Me and My OTAKU Girl!

Disclaimer

Naruto ©Masashi Kishimoto

Me and My OTAKU Girl! ©Dijah-hime

SasukeSakura

AU

Kepalaku!
Sakit.

Aargh!

Kuusap pelan keningku yang baru saja—dengan seenaknya—kuhantamkan ke meja. Agak takut kuangkat kepalaku memerhatikan seisi kelas yang masih memusatkan perhatian mereka pada gadis di sebelahku ini.

Aku merutuki nasibku. Ah, kenapa juga Sakura tak bisa menahan dirinya. Dia hanya akan membuatku malu, dia tahu pasti itu. Seharusnya tadi aku juga bisa menahannya. Ya ampun, entah apa yang akan terjadi sekarang. Bagaimana kalau semua orang mengetahuinya, kalau pacarku adalah seorang... otaku!

Kulirik sekilas wajah Sakura yang masih agak menahan kesal, tapi rautnya mulai berubah saat dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kelas.

Deg...

Oh, apa dia tidak bisa menyadarinya lebih cepat?

Sakura memiringkan wajahnya ke arahku. Tampak jelas dia takut melihat mataku yang sekarang menatapnya tajam. Sakura memalingkan wajahnya kembali ke arah depan. Tepat ke sekumpulan anak laki-laki yang masih memandangnya "aneh". Dia kelihatan berpikir keras,

"Hei, semalam adikku baru saja curhat denganku tentang anime itu. Dan aku agak terharu mendengar alur ceritanya." Sakura terkekeh pelan ke arah mereka.

Aku kembali duduk tegak dan langsung melayangkan pandanganku ke arah kumpulan anak laki-laki tadi. Sebagian dari mereka hanya membulatkan mulut, selebihnya malah terkesan tak begitu peduli. Sebagian murid di kelas juga sudah kembali sibuk ke pekerjaan semula mereka.

Ya ampun, itu tadi nyaris sekali... Sakura punya adik? Oh, ayolah... sejak kapan putri tunggal keluarga Haruno ini memiliki seorang adik? Paling tidak, mereka belum mengetahuinya. Itu yang terpenting! Kami-sama... arigatō.

Sakura mengangkat kursinya yang tadi jatuh dan mendudukinya. Ekor mataku sempat menangkap kalau dia terus saja melirik ke arahku, aku sengaja mengalihkan wajah keluar jendela. Entah kenapa aku agak kesal saat dia mulai menunjukkan sifat ke-otaku-annya itu.

"Oyaoya![3] Aku sempat berpikir tadi kalau Sakura-chan seorang otaku... Kau mengagetkan kami saja, Sakura-chan," seru Naruto dari arah belakang membuatku menoleh ke arahnya.

"Jangan asal bicara, dasar!" aku melirik kesal ke arahnya. Sementara Sakura hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Naruto.

~Me and My OTAKU Girl!~

"Gomenasai...," Sakura memulai percakapan setelah sepuluh menit kami menghabiskan makan siang dalam diam di kelas yang sejak tadi sudah kosong dan hanya meninggalkan kami berdua di sini.

"Hn." Jujur aku bingung mau memberi tanggapan apa...

"Kau marah, ya?" Sakura memiringkan wajahnya ke arahku.

Apa masih perlu ditanyakan?

Sakura menggenggam tanganku erat. Kupalingkan wajahku menatapnya,

"Aku sangat terkejut tadi. Dan alasanmu itu, ya ampun. Bahkan Kau tidak punya seorang adik."

Sakura tersenyum ke arahku, dia tidak mengucapkan apapun lagi hanya semakin mengeratkan genggaman tangan kami dan semakin dalam menatapku.

Hatiku terasa aneh, wajahnya itu... sudah berulang kali aku berusaha mengingatnya tapi aku masih belum bisa mengingat sesuatu yang hilang dari wajahnya. Dan saat ini, aku merasa amat sangat bersalah padanya. Apa aku salah jika menyembunyikan kenyataan bahwa pacarku seorang otaku? Sebagian dari diriku merasa takut kalau kebanyakan orang malah tak menerima keadaannya, karena kau tahu... menjadi otaku rasanya, memalukan—menurutku.

Ah, aku tahu suatu saat nanti semua orang akan mengetahui bahwa Sakura seorang otaku. Tapi yang akan kupastikan adalah "suatu saat" itu bukan saat ini!

~Me and My OTAKU Girl!~

Aku membereskan semua peralatan belajarku tepat saat bel terakhir berbunyi. Kulihat Sakura juga sudah selesai memasukkan semua buku ke dalam tas merah maroon-nya. Saat kami keluar kelas dan mulai melintasi koridor di lantai tiga, aku sempat menangkap raut wajah Sakura yang masih membuat hatiku tidak... nyaman. Mungkin aku harus mengajaknya jalan hari ini, aku benar-benar merasa bersalah sekarang. Aargh! Sakura, maaf ya...

"Sasuke, di bawah ada acara apa? Ramai sekali, lho."

Langkahku kontan berhenti dan mulai mendekati Sakura yang sejak tadi sudah menempelkan kedua tangannya di kaca jendela dan melihat antusias tepat ke bawah aula sekolah yang sekarang memang terlihat sangat ramai, berbagai stan yang sudah berjejer rapi mengelilingi aula menarik minat banyak orang untuk mengunjunginya.

"Itu festival tahunan yang selalu diadakan di Kohoku High School setiap minggu kedua tahun ajaran baru." Aku menerangkan sambil menggaruk bagian belakang kepalaku malas. Aku benci tempat ramai.

Sakura membulatkan mulutnya,masih tekagum-kagum tampaknya,

"Berapa lama festivalnya berlangsung, Sasuke?" tanyanya.

"Tiga hari... dan ini hari terakhir," ucapku agak senang dengan kata "terakhir" yang kusebut.

Tiba-tiba saja Sakura sudah menarik tanganku dan membawa kami berlari menuruni tangga. Aku hanya bisa menurut diam setelah mendengar ucapannya,

"Aku ingin ke sana! Pasti menyenangkan... ya kan, Sasuke-kun?"

Dan aku pacarnya hanya bisa tersenyum miris pada gadisku. Ah, aku tidak sanggup berkata tidak.

Saat sampai di aula, Sakura langsung menarikku ke salah satu stan yang terlihat seperti café, Sakura melepas genggamannya dan langsung menilik ke dalam. Aku lebih memilih menunggu di luar, kelihatannya terlalu padat di dalam sana. Saat keluar dari stan itu, kulihat Sakura sedang tertawa bersama dua gadis di sebelahnya. Kalau tidak salah itu Yamanaka dan Hyuuga.

"Sasuke-kun, aku mau berkeliling stan dengan Ino dan Hinata, ya?" ucapnya seperti meminta izinku. Tentu saja karena saat menjemputnya tadi pagi aku sudah berjanji pada ibunya untuk mengantarkan Sakura pulang.

Aku berpikir sebentar dan kemudian mengangguk,

"Ya. Tapi jangan terlalu lama, oke?" Kuelus pelan pucuk kepalanya sambil menyeringai kecil.

"Oke!" Sakura mengangguk mantap dan langsung bergabung kembali bersama dua teman barunya itu.

Aku sebaiknya tidur di ruang kesehatan saja. Sepertinya ini akan jadi hari yang panjang.

~Me and My OTAKU Girl!~

"Aku juga pertamanya tidak percaya..."

"... gadis itu seorang otaku..."

"Pacar Uchiha-san ternyata otaku,"

"...tidak kusangka!"

Entah aku mimpi atau tidak tapi penggalan-penggalan suara itu mulai mengusik tidurku. Apa itu, otaku, gadis, pacar Uchiha?

Sakura

.

DEG

.

Mataku yang tadinya masih menyipit langsung terbuka lebar. Aku langsung bangkit dari posisi tidurku, aku semakin menajamkan pendengaranku dari balik tirai pembatas yang menutupi ruangan pojok tempat aku tidur di ruang kesehatan ini,

"Aku sama sekali tidak rela pacar Sasuke-kun gadis aneh seperti dia!"

"Aku masih jauh lebih baik daripada dia,"

"Hahahaha..."

Cukup!

SRAKK

Sengaja kutarik kasar tirai pembatas itu, berhasil mengagetkan dua perempuan yang sejak tadi sibuk menjelek-jelekkan Sakura-ku.

"Sa-sasuke-kun..."

Kedua perempuan itu langsung menundukkan wajah mereka karena takut melihat mukaku yang memang sangat menunjukkan rasa kesalku pada mereka. Dengan cepat mereka langsung menghambur keluar dari ruang kesehatan, takut melihatku mengamuk sepertinya.

Ada apa sebenarnya ini?

Ketahuan?

Kenapa mereka tahu kalau Sakura seorang otaku?

Aargh, sial!

Aku meremas rambut raven-ku frustasi,

"Apa yang sebenarnya dilakukan gadis itu? Dia pasti kelepasan lagi!"

Aku berlari keluar dari ruang kesehatan dan langsung menuju aula. Sudah tak seramai tadi siang, sangat membantuku karena aku tidak perlu berdesakan untuk memasuki satu per satu stan-stan tersebut. Sudah sepuluh menit aku berkeliling aula dan kupastikan sudah semua stan kumasuki. Tapi tetap saja sosok yang kucari belum kutemukan.

Di saat seperti ini sebenarnya di mana dia?

Tiba-tiba aku menangkap siluet Yamanaka yang melintas di hadapanku,

"Yamanaka!"

Gadis itu berbalik, agak kaget melihatku yang sudah berdiri di hadapannya.

"Sa-sasuke—"

"Di mana Sakura?"

Gadis itu membulatkan matanya, jelas sekali dia terkejut. Membuatku semakin yakin pasti ada sesuatu yang terjadi dengan Sakura tadi.

"Ah! Lapangan baseball. Dia sedang bersama—"

Aku tak mendengar lagi ucapannya karena sekarang aku sudah berlari ke area belakang sekolah tepatnya ke lapangan baseball seperti yang dikatakan oleh Yamanaka tadi. Aku langsung berhenti begitu melihat sosok merah muda itu sedang duduk bersila di pinggir lapangan bersama seorang laki-laki di hadapannya. Aku tidak salah lihat, dia Sasori-senpai—wakil ketua OSIS—kenapa dia bersama Sakura?

Saat aku semakin dekat dengan mereka kulihat mereka sedang bermain kartu (?) yang di atasnya ditaruh beberapa batu berkilau kecil. Sebenarnya mereka sedang apa, hei?

Sakura memandangku dengan pandangan antara takut dan terkejut begitu melihat wajahku yang sejak tadi sudah kesal. Gadis ini, argh!

"Sasu—"

"Kita perlu bicara," ucapku tegas dan menjulurkan tangan kananku ke arahnya.

Dia tampak takut saat menyambut uluran tanganku, Sakura memandang Sasori-senpai sekilas yang hanya dibalas anggukan kecil olehnya. Sakura terus saja menundukkan kepalanya saat aku menuntunnya mengitari pinggir lapangan dan masuk ke ruangan tim baseball yang memang kosong sekarang. Langsung kubanting kasar pintunya begitu kami sudah di dalam. Sakura masih saja menatapku takut.

"Kau berhutang penjelasan padaku, Sakura!"

Aku benar-benar ingin memukul diriku sendiri sekarang! Kami-sama, maafkan aku karena sudah membentaknya. Aku benar-benar kalut sekarang.

Kepala merah mudanya tersentak kecil mendengar teriakanku. Perlahan ditatapnya wajahku, tepat di mata.

"Aku... benar-benar minta maaf, Sasuke-kun." Sakura menggigit bibir bawahnya dan segera memalingkan wajahnya ke kanan.

Sial! Kenapa jadi seperti ini...

"Sudah terlambat. Sekarang jelaskan padaku," aku mulai mengatur napas berusaha mati-matian untuk tidak membentaknya lagi.

"Sebenarnya tadi aku terlibat adu mulut dengan sekelompok siswa dari sekolah lain yang mengunjungi stan..."

Sakura menghentikan ucapannya, wajahnya menunduk lagi.

"Lalu?" pancingku.

"Aku...," Sakura menggantungkan kalimatnya lagi dan kali ini membuat kesabaranku habis.

"Aku apa?" Dua kali sudah aku membentaknya sekarang. Aargh!

Kulihatnya bahunya agak bergetar,

"Aku bertengkar dengan mereka!"

Aku agak terkejut mendengar volume suaranya yang tiba-tiba meninggi—yang sama sekali tidak ingin kukatakan kalau Sakura sedang berteriak padaku sekarang.

Sakura memandang wajahku dengan pandangan menyesalnya. Sepertinya dia sama sekali tidak percaya kalau dia sudah balas meneriakiku tadi.

"Sasu—"

"Kenapa kau tidak bisa menahan diri?" Sudah tiga kali!

Sakura menatapku tak percaya,

"Mereka menghina stan otaku, Sasuke. Juga menjelekkan para mangaka. Aku sama sekali tidak terima jika orang yang tidak tahu-menahu malah sibuk menjelek-jelekkannya."

Aku masih tidak megerti—lebih tepatnya tidak perduli dengan semua alasan yang menurutku sama saja intinya yaitu Sakura-lah yang tidak mampu menahan dirinya.

"Kau kan bisa pura-pura tidak tahu, dan membiarkan persoalan itu diselesaikan oleh panitia." Aku berusaha tenang, setidaknya aku berhasil untuk memelankan suaraku.

"Aku tidak bisa..." gumamnya sambil menggelengkan kepalanya kuat.

"Karena kau ikut campur, masalahnya jadi begini." Sambungku lagi.

"Masalah?" Sakura menatapku tajam sekarang, aku agak risih dibuatnya.

"Kau lihat? Sekarang semua orang jadi tahu—"

"Aku baru sadar kalau aku memang pembawa masalah di sini." Sakura tersenyum miris ke arahku. Apa-apaan ini? Sekarang dia menyalahkanku?

"Kau sudah berjanji padaku, ingat? Untuk mengurangi sifat ke-otaku-anmu saat di sekolah."

Bisa kulihat Sakura mengeratkan kedua kepalan tangannya, dia menatapku tajam.

"Kenapa diam? Kau mendadak lupa?"

Sakura menutup matanya, menarik nafas panjang dan mengeluarkannya. Saat terbuka kedua emerald-nya sudah kembali normal berbinar cerah menatapku. Perasaanku agak takut sekarang.

"Kau benar Sasuke. Aku memang hanya membawa masalah saja. Maaf merepotkanmu," Sakura menatapku lembut sebelum melanjutkan kalimatnya,

"Kurasa aku memang tidak cocok dengan Sasuke-kun. Kita hentikan saja... hubungan kita."

.

DEG

.

Aku tidak percaya dengan pendengaranku. Aku berharap aku salah dengar sekarang. Sakura... gadis merah mudaku, dia...

"Kau memutuskanku?" ucapanku begitu lirih terdengar. Aku sendiri tidak percaya kalau suara aneh itu bersumber dari mulutku.

Sakura memalingkan wajahnya, sekilas kulihat emerald-nya sudah berair. Dia berusaha mati-matian untuk tidak menangis aku tahu betul itu.

"Kurasa itu yang terbaik," ucapnya sama lirihnya sepertiku.

Hening...

Kami terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing masih belum percaya kalau semuanya akan berakhir secepat ini. Baru semalam kau kembali, baru semalam kita merajut semuanya dari awal lagi, kan? Aku menghancurkan hubungan kita untuk yang kedua kalinya. Aku tidak mau seperti ini!

Aku tidak mau kau menghilang lagi, Sakura...

Karena terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri aku sampai tidak menyadari Sakura yang sudah berjalan melintasiku. Aku langsung membalikkan tubuhku, memandangi punggungnya yang semakin lama semakin menjauhiku. Lalu pandanganku beralih ke rambut merah mudanya yang sejak tadi tidak kusadari kalau dia menggelungnya rapi ke atas, menjepitkan sebuah kanzashi untuk menahan gelungan rambut sebahunya.

Kanzashi itu!

Pikiranku tiba-tiba kembali melayang ke empat tahun yang lalu. Tepat saat kami kelas satu SMP, Festival Tanabata! Tenyata dia masih...

"Kau juga pernah berjanji padaku, kau ingat?"

Gumaman lirih Sakura mengembalikan kesadaranku, tangan putih rampingnya masih saja tertahan di kenop pintu. Tubuhnya bergeming di depan sana.

Janji katanya?

.

.

.

"Sasuke-kun~"

"Ya, Hime-chan. Ada apa?"

"Hmm, ano... kau menyukaiku apa adanya `kan?"

"Iya, Tuan Putri-ku."

.

.

.

"Kau tidak pernah menerimaku apa—"

Sebelum dia mampu menyelesaikan kalimatnya, aku langsung menghambur ke arahnya. Memeluknya dari belakang. Kurasakan tubuhnya agak menegang begitu merasakan tangan kiriku yang melingkar di badannya dan tangan kananku yang menahan kedua bahunya. Wajahku langsung kutempelkan ke sisi belakang bagian kiri kepalanya,

"Gomenasai, Sakura-chan..."

Aku benar-benar bodoh! Gadis yang sejak dulu sudah tulus menyukaiku, gadis yang mungkin terlalu sering kulukai perasaannya karena sifat bodohku. Gadis merah muda-ku yang sampai kapan pun tidak ingin kulepaskan. Maafkan aku, ya?

"Sasuke-kun... aku—"

"Menyukaimu."

BLUSH

Wajahku memanas sekarang, rasanya senang sekali merasakan tubuh gadis yang kau sukai menegang akibat pernyataan cintamu.

"Aku juga."

Perlahan tangannya melonggarkan dekapanku, dia membalikkan tubuhnya menghadapku.

"Tapi semua orang kini sudah tahu kalau aku—"

"Aku tidak peduli lagi! Yang penting bagiku sekarang adalah perasaanmu, gadis nakal. Berhenti menangis." Kedua tanganku terulur menghapus air mata yang masih menggenang di emerald-nya.

"Aku tidak menangis kok," ucapnya sambil menjulurkan lidahnya ke arahku.

"Dan terima kasih..." ucapku sambil menatap lekat kedua manik miliknya.

"Untuk apa, Sasuke-kun?" tanyanya bingung balas menatapku.

"Karena sudah mau menjadi milikku," ucapku lirih sambil menyentuh ujung kanzashi bermodel bunga sakura yang terjepit rapi di rambutnya.

Seringai tipis menghiasi wajahku begitu melihat wajah Sakura yang memerah sempurna sekarang. Wajah ini... ini wajah yang kurindukan itu!

Aku ingat empat tahun yang lalu saat Festival Tanabata di sekolah kami, aku menghadiahinya sebuah kanzashi dengan hiasan bunga sakura di bagian ujung atasnya.

"Saat kau memakainya berarti kau milikku, ingat?"
"Sasuke-kun... iya. Arigat
ō~"

~Me and My OTAKU Girl!~

"Nah, ayo sekarang ikut aku ke stan otaku!" Sakura menarik tanganku, aku mengikutinya. Membiarkan gadis merah muda ini menuntunku berjalan melewati lapangan baseball kembali menuju aula. Ah, Sasori-senpai sudah tak ada di pinggir lapangan.

"Sakura."

"Ya. Ada apa, Sasuke-kun?"

"Tadi sedang apa dengan Sasori-senpai?" tanyaku penasaran.

"Oh itu, battle spirit. Padahal tadi sedang seru—"

Agak lama kucerna kalimat Sakura tadi sampai aku menyadari satu hal,

"Jangan bilang kalau Sasori-senpai juga seorang..."

"Karena dia juga stan otaku dapat ditampilkan, kan?" ucapnya tanpa menjawab pertanyaanku. Hn, tapi pertanyaannya itu sudah berhasil mengagetkanku. Seorang seperti Sasori-senpai ternyata otaku! Aku tidak habis pikir.

"Hei, Sakura! Sudah kembali rupanya."

Seorang laki-laki yang ada di depan stan menyapa Sakura sambil menaikkan tangannya ke atas. Tato segitiga merah itu, dia kan Kiba!

"Hei! Tentu saja aku kembali, Kiba." Sakura tersenyum ramah ke arahnya.

"Yo, Sasuke!" Kiba mendekatiku.

"Hei, Kiba... sebuah kejutan," bisikku ke arahnya sambil memamerkan seringai tipisku.

"Masuklah, masih banyak kejutan di dalam sana." Kiba menggerakkan kepalanya ke area dalam stan. Sakura langsung menarik tanganku dan melambai sekilas ke arah Kiba sebelum kami benar-benar memasuki stan.

"Selamat Sore, semua~"

"Sakura, lama sekali kau pergi. Eh," seorang laki-laki beralis tebal yang menghampiri Sakura agak terkejut melihatku di sebelahnya. Sepertinya aku pernah melihat orang ini. Tapi di mana?

"Lee, perkenalkan dia Sasuke. Sasuke-kun, dia Lee Maito dari Aoi High School. Dia itu maniak tokusatsu, lho..." ucap Sakura lalu tertawa kecil dan melangkah meninggalkanku, dia bergabung dengan sekelompok orang di pojok stan. Entah melakukan apa aku tidak begitu bisa melihatnya karena si alis te—maksudku Lee, sekarang berdiri di hadapanku. Menghalangi pandangan orang saja.

Aku mulai risih karena sejak tadi dia menatapku dengan pandangan yang...

"Si Ultraman Nexus!" ucapku agak keras sambil mengacungkan telunjuk kananku tepat di depan wajahnya.

"Ah, Nexus?" raut mukanya menyiratkan tanda tanya besar ke arahku.

"Iya. Kau yang waktu itu memakai kostum Ultraman Nexus, kan?"

Tidak salah lagi! Orang ini yang waktu itu memaksaku untuk menjadi Shinigami. Mengingatnya menbuatku ingat rasa kesalku waktu itu. Hanya ada satu yang janggal, orang di depanku ini terlihat lebih... muda (?)

"Oh, mungkin maksudmu adalah ayahku!"

"Ayah... mu?"

Dia menganggukkan kepalanya,

"Sayang sekali ayahku sedang kerja, jadi dia tidak bisa datang ke sini. Kau suka kostum ayahku, ya? Ayah memang banyak penggemarnya sih. Hahahaha..."

Perlahan tapi pasti aku mulai melangkah menjauhi Lee yang masih tertawa lebar, aku agak ngeri dibuatnya.

"Sasuke."

"Sasori-senpai? Hey!" aku sudah kembali ke keadaan normal saat menyapa seniorku yang satu ini. Oh, aku masih tidak percaya wakil ketua OSIS kami ini seorang otaku. Hampir meledak tawaku, tapi dengan cepat aku kembali memasang wajah stoic andalanku.

"Mau minum?" Sasori menyodorkan gelas kertas berisi teh ke arahku.

"Terima kasih," aku menerimanya dan meneguknya sedikit. Mataku mulai menjelajahi isi stan ini. Hmm... manga, figurine, tumpukan doujin, poster-poster anime, ya standar untuk stan otaku lah. Mataku berhenti tepat melihat seseorang yang duduk di pojok stan sambil membaca manga. Tidak mungkin, dia... aku pasti salah lihat!

"Itu, Kimimaro."

"Tidak mungkin kalau Kimimaro-senpai juga seorang..."

"Kalau tidak karena dia, stan ini juga tidak bakal dibuka." Setelah mengucapkan kalimat itu Sasori segera melangkah menjauhiku.

Bahkan si ketua OSIS juga...

Terlalu banyak kejutan hari ini.

"Sasuke-kun~ Aku mau bantu mereka untuk beres-beres dulu, ya?" Sakura tiba-tiba saja sudah berdiri di sebelahku, mengeluarkan jurus muka memohonnya yang benar-benar tak bisa kutolak. Kucubit dua pipinya yang menggembung kesal karena menunggu jawaban dariku.

"Baiklah, aku mau ambil tas di ruang kesehatan dulu."

Sakura tersenyum senang dan tiba-tiba memeluk lenganku sebentar lalu kembali bergabung dengan teman-temannya. Aku senang Sakura cepat akrab dengan mereka, ditambah lagi ternyata banyak orang-orang yang sudah kukenal menjadi bagian dari stan otaku ini.

~Me and My OTAKU Girl!~

Sekarang rasanya hatiku benar-benar terasa lega, seperti terlepas dari himpitan berton-ton. Dan ditambah kembalinya wajah kemerahan itu. Ah, Sakura... daisuki!

Tap tap tap

Tepat setelah aku menutup pintu ruang kesehatan, terdengar langkah-langkah cepat menuju ke arahku. Aku memiringkan wajah ke sumber suara yang terus saja menggema di sepanjang koridor. Dua gadis melangkah cepat ke arahku. Yang paling depan itu, si rambut merah. Karin kalau tidak salah... aku ingat dia salah satu fangirls-ku yang sangat "berlebihan". Hn, aku sebenarnya malas berurusan dengannya. Pasti dia mau membahas tentang Sakura sekarang, tapi kali ini dengan hati mantap aku akan membela tuan putriku itu. Menjadi otaku tidak seburuk yang kukira kok. Mataku teralih ke gadis berambut pink tua di sebelahnya, Tayuya. Kalau dia sih tak masalah, karena gadis itu sudah—

"Sasuke. Kau tahu, pacarmu itu sudah mempermalukanmu! Dia itu seorang otaku! Aku tidak habis pikir bagaimana bisa kau memilih dia jadi pacarmu, eh?"

Lihat? Belum apa-apa dia sudah mencecarku dengan omelan panjangnya.

"Asal kau tahu, Sakura sudah menjadi pacarku sejak empat tahun yang lalu."

Ya, walau kami berpisah selama tiga tahun...

"Tidak mungkin!"

Aku senang melihat wajahnya yang terkejut itu.

"Dan aku sama sekali tidak malu memiliki pacar seorang otaku!" Seringai tipis tercipta sempurna di wajahku.

Karin menghentakkan kaki kanannya keras ke lantai, dengan cepat dibalikkannya tubuhnya dan melesat pergi ke arah yang sama saat dia datang tadi. Tapi aku masih bisa menangkap jelas wajahnya yang kesal setengah mati itu. Aku puas! Haha...

Aku hampir lupa, Tayuya masih di sini. Gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada. Tatapannya yang tadi datar berubah tajam menatapku. Ya, tentu saja. Karena aku sudah membuat sahabatnya kesal tadi. Dia melangkah mendekatiku, aku mulai waspada kalau-kalau gadis ini akan menghajarku.

"Kau tahu, menurutku otaku itu lumayan... keren," ucap Tayuya setengah berbisik, dia mengedipkan mata kanannya ke arahku.

Astaga, gadis ini membuatku terkejut dengan perubahan emosinya yang drastis. Dasar!

"Aku tahu, itu karena pacarmu juga seorang otaku, kan?" aku balas berbisik padanya dan mengedipkan sebelah mataku juga.

Matanya membulat sempurna, wajahnya memerah. Dia mendecih kesal ke arahku,

"Dasar, kau."

Tayuya membalikkan tubuhnya, melangkah pelan mengikuti ke arah Karin menghilang sejak tadi. Sebelum terlalu jauh dariku dia mengangkat sebelah tangan kanannya sambil menggumam pelan,

"Jaa." Sepertinya itu yang diucapkannya. Aku hanya menanggapi sekilas sambil tersenyum tipis.

Aku bergerak menuju jendela di koridor, melirik ke bawah tepat ke kumpulan stan yang sedang sibuk berbenah. Sekarang aku sibuk mencari sosok merah muda kesayanganku... tidak ketemu! Bahkan aku sudah menyipitkan mata dan menundukkan wajah serendah yang kubisa agar dapat melihat lebih jelas.

Tap tap tap

Aku tidak begitu peduli dengan suara langkah-langkah cepat yang sekarang memantul di sepanjang koridor karena aku masih sibuk mencari Saku—

Sebuah tangan mungil hangat menggenggam tangan kiriku, langsung kueratkan genggaman tangan itu. Aku sama sekali tidak terkejut saat menghadapkan wajahku ke samping dan menemukan gadis merah mudaku sedang tersenyum manis ke arahku—ya, seperti sekarang ini.

"Waktunya pulang, Sasuke-ouji." Walau dia tak menatapku tapi aku bisa dengan jelas menangkap perubahan raut mukanya yang sekarang semerah tomat. Manis...

"Tentu, Sakura-hime. Apapun perintahmu."

~Me and My OTAKU Girl!~


Special Trip to IkebukuroHeaven for OTAKU

Tanganku terangkat ke atas begitu melihat Sakura sedang berjalan ke arahku, dia balas melambai ke arahku dan mempercepat langkahnya. Wajahku agak memanas melihatnya, kanari! [4]

Sakura memakai terusan putih berlengan pendek dengan belt pink tua besar di bagian perutnya. Jins hitam panjang yang membalut kedua kaki jenjangnya plus sneaker putih menambah kesan unik gaya pakaiannya. Tapi tetap saja gadis otaku-ku itu terlihat modis. Dan aku langsung tersenyum senang begitu melihat kanzashi pemberianku tersemat manis di rambut merah mudanya yang digelung rapi ke atas. Aku sendiri memakai kemeja hitam lengan pendek dengan motif sayap putih di bagian bahu kanan belakangku dan celana jins hitam panjang.

Aku keren dan gadisku cantik, kami memang pasangan terhebat sepanjang masa!

"Kau kan sudah janji mau menemaniku ke Ikebukuro~" Sakura berteriak memelas ke arahku. Tangannya semakin kuat menggamit lenganku. Aku paling suka saat dia bersikap manja seperti ini!

"Ya, tapi aku tidak mau kita naik kereta lagi," ucapku yang berhasil membuat bibir Sakura manyun ke arahku. Kau tambah manis saja, Sakura-hime!

"Harus berapa kali kukatakan kita harus hem—" dengan cepat kupotong ucapannya itu.

"Aku yang bayar, gadis pelit!" tanganku bergerak menjitak pelan kepala Sakura.

Dia terkekeh pelan sambil memukul lenganku.

.

.

.

Sesampainya di Ikebukuro, aku langsung mengajak Sakura ke Sunshine City—simbol distrik ini—yang terdiri dari enam puluh lantai. Di dalamnya kau bisa menemukan Akuarium besar, Planetarium, Dek Observasi, Taman Hiburan, Museum, dan Teater. Satu hal lagi, tempat ini merupakan surga belanja!

Tapi karena Sakura ingin cepat ke Animate jadi aku mengusulkan langsung ke lantai 60, tempat yang kujanjikan membuatnya terpesona. Saat lift yang kami masuki mulai naik, lampu di dalamnya perlahan padam dan memperlihatkan tampilan rasi-rasi bintang glow in the dark di sekeliling dinding lift. Atap lift yang tergambar seperti luar angkasa menambah kesan seakan kau menginjak langit sekarang.

"Wow!" Aku tersenyum tipis melihat raut kekaguman di wajah gadis di sebelahku ini. Sakura menutup mulutnya yang masih saja membentuk huruf "O".

Alasan aku mengajaknya ke lantai 60 ini karena dari sini kau akan bisa melihat hampir seluruh wilayah distrik Ikebukuro dari atas yang pastinya kuakui sangat keren. Setelah membayar 200 yen untuk menggunakan teropongnya aku langsung menyuruh Sakura menggunakannya.

"Kyaaa! Subarashī![5]"

"Sugoī!"

Aku tersenyum puas berhasil membuat kagum gadis Otaku-ku ini.

Sebelum turun aku mengajaknya ke toko souvenir, di sana dijual barang-barang berbau Sunshine City dan Sengoku. Saat kami datang ke Sunshine City ternyata anime Hetalia sedang marak digandrungi. Sampai ada ruangan khusus yang dipenuhi oleh hal-hal yang berbau Hetalia. Seperti pernak-pernik dan script (ceritanya) Hetalia. Tapi Sakura langsung kecewa berat karena di ruangan itu dilarang memotret.

"Huh, padahal kan bisa jadi kenang-kenangan yang keren."

Aku hanya tertawa kecil melihat kelakuannya yang masih tidak jauh berbeda dengan anak kecil itu.

Setelah keluar dari Sunshine City kami beristirahat sebentar di Ikebukuro Central Park. Aku suka tempat ini karena nyaman dan tidak terlalu ramai.

Sakura yang sibuk mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman seketika terhenti begitu melihat sebuah gedung besar yang dengan antusiasme tingkat tinggi dia menunjuk gedung bergambar tokoh-tokoh anime tersebut.

"Itu Animate! Sasuke-kun, ayo kita ke sana."

Aku hanya mengikut pasrah saat Sakura menarik tanganku dan membawa kami menyebrang jalan dari ICP menuju Otome road. Di sana ada toko-toko sejenis Animate seperti Mandarake, Lashinban, ToranoAna, Shitsuji Café, dan masih banyak lagi. Animate Ikebukuro merupakan Animate terbesar terdiri dari delapan lantai. Di lantai 1 tempat penjualan barang-barang baru, lantai 2-3 tempat manga, lantai 4-5 menjual pernak-pernik anime juga manga, lantai 6-7 khusus CD soundtrack plus DVD anime, dan lantai 8 sendiri digunakan untuk event-event seperti J-Fest, Cosplay, dan lomba doujin.

Saat di lantai 4 aku berusaha mati-matian untuk menyadarkan Sakura yang tiba-tiba menjadi agak mengerikan begitu melihat kumpulan pernak-pernik dari berbagai anime yang dipajang di satu etalase. Tapi entah kenapa setiap melihat tag harga yang agak melangit sedikit saja, kesadarannya tiba-tiba pulih dan wajahnya langsung manyun seketika. Aku tertawa geli melihat kelakuan gadis kaya tapi pelit-ku ini.

Pada akhirnya setelah lebih dari setengah jam kami menjelajahi lantai 4 dan 5, Sakura membeli sebuah botol minuman Durarara—yang dia hampir menangis saat harus merelakan uang 2100 yen-nya keluar demi botol minuman itu, juga notes dan map Fumoffu!, strap HP—yang entah dari anime apa—dan sebuah mug bertuliskan "OTAKU just 've little different!".

Saat menginjakkan kaki di lantai 8 rupanya sedang tidak ada event, membuat lantai teratas Animate ini agak lenggang. Dan aku suka itu!

"Ah, Haku!"

Aku menolehkan wajah ke arah Sakura yang sekarang sedang berlari menghampiri seorang laki-laki—agak ragu aku—yang langsung balas menyapa Sakura ramah.

Selanjutnya kami dibawa Haku ke sebuah toko yang kuperhatikan menjual kostum dan perlengkapan untuk cosplay. Dan hebatnya seorang Uchiha, sesampainya di dalam aku baru sadar kalau sekarang telah terdampar di basecamp para otaku. Tch! Sebagian anak yang kutemui di stan otaku di festival sekolahku sudah ramai di sini. Si alis te—maksudku Lee dan ayahnya bahkan juga ada di sini. Aku tidak terlalu terkejut melihat paman Ultraman Nexus itu langsung menyerbu ke arahku. Ah, waktu-waktu bahagia kencanku rusak sudah!

"Tuan Shinigami! Tidak kusangka kau datang ke sini, aku tahu pasti kau akhirnya menyadari kalau kau memang cocok menjadi seorang Shinigami! Aku sungguh terharu, tuan..."

Kami-sama, kumohon beri aku hati selapang samudera untuk menghadapi sisa hari ini! Uchiha, kau harus tenang. Ingat itu,

"Ah, Maito-san. Maaf atas kejadian waktu itu, aku agak emosi—"

"Tentu! Tentu aku sudah melupakannya, kau pasti sangat kaget kan, tenang saja. Hahaha..."

Belum lagi aku selesai bicara. Ah, God! Aku hanya bisa tersenyum miris melihatnya tertawa keras.

Tiba-tiba saja aku mendengar suara tawa lain dari arah belakang, tepatnya ke sosok gadis berambut pink tua yang sekarang sibuk menutup mulut dengan kedua tangannya berusaha keras menyembunyikan tawanya. Langsung aku menghadiahinya tatapan tajamku yang sukses membuatnya langsung menyembunyikan wajahnya di balik tubuh pacarnya yang berambut keperakan. Tapi terlihat sekali kalau tawanya meledak sekarang, lihat saja tubuhnya bergetar hebat.

Tayuya! Awas kau!

"Sebenarnya, aku ke sini untuk menemani pacarku." Aku langsung menyikut bahu Sakura berusaha meminta bantuannya.

"Paman ini ayahnya Lee, ya? Senang berkenalan~! Aku Sakura dan pacarku ini, Sasuke."

Sakura langsung menyapa si Ultraman Nexus seramah yang dia bisa, selanjutnya mereka sudah terlibat pembicaraan seru bersama Kiba dan Lee yang tidak aku mengerti.

Aku mendudukkan tubuhku ke sofa merah di sudut ruangan, menidurkan kepalaku ke atas meja yang tepat berada di depan sofa ini, tentunya setelah memberi bantalan berupa kedua tanganku yang terlipat. Aku tersenyum tipis dari balik wajah yang kutenggelamkan di lenganku, melihat Sakura berbincang seru dan sesekali tertawa bersama teman-teman otaku-nya.

"Cukup menyenangkan juga, kan?"

Kepalaku terangkat ke atas, memandang kesal ke arah Tayuya! yang sedang menopang dagunya memandangi para otaku di seberang kami sedang berbincang seru.

"Apanya?" tanyaku malas, aku masih kesal karena dia menertawaiku tadi.

"Ya, seperti ini... Mengenal dunia berbeda yang dulunya kita pandang 'aneh'."

Aku tertegun mendengar kalimatnya yang bermakna dalam itu,

"Ya. Mereka hanya sedikit berbeda. Dan itu yang memberi kesan lebih pada mereka," gumamku lirih tapi aku yakin Tayuya masih bisa mendengarnya karena dia terlihat menganggukkan kepalanya sesaat sebelum dia berlari menghambur ke arah pacarnya—si ketua OSIS—dan menggamit lengannya manja.

Aku tersenyum tipis melihat 'sahabat pink tua-ku' tertawa lepas mendengar candaan kekasihnya. Aku senang akhirnya kau bisa bersama dengan orang yang tepat untuk melindungimu, Tayuya... Aku semakin menyusupkan wajahku lebih dalam agar senyumku tak terlihat, mataku hampir terpejam sebelum sebuah suara mengusikku,

"Hei, kudengar kau suka Kamen Rider ya, Sasuke?"

Aku mengangguk pelan ke arah Lee yang sudah duduk di sebelahku, dia menggeser laptop plus headphone putih besarnya tepat ke hadapanku.

"Kau pasti menyukainya. Ini koleksi kesayanganku, lho."

Aku terdiam lama, mataku teralih ke arah Sakura yang sekarang sepertinya sibuk membuat kostum

Bersama Haku, Tayuya, Sasori, dan Kimimaro.

Ne, menjadi seorang otaku ternyata tidak buruk juga. Dengan gerakan cepat headphone putih itu sudah melingkar manis di kepalaku.

"Walking the path of heaven, to rule everything![6]"

.

.

.

Aku masih memusatkan perhatian ke layar laptop yang sekarang sedang menampilkan pertarungan sengit Kotaro Minammi—si Kamen Rider Black—dengan Crisis. Aku mengangkat wajahku sedikit ke atas dan mendapati Sakura yang masih sibuk membantu Haku membuat kostum sedang memperhatikanku. Wajahnya... memerah, dia tersenyum lebar ke arahku, dia terlihat... bahagia.

Deg.

.

Deg.

.

Deg.

.

BLUSH

.

Ah, sudah kubilang menjadi otaku itu tidak terlalu buruk!


~Me and My OTAKU Girl!~

A/N

[1]Terima kasih telah membaca

[2]Um, sebenarnya, hei, aku... umm

[3]Ya ampun!

[4]Cantik!

[5]Luar biasa!

[6]Trademark khas Kamen Rider


Always Thanks For :

Allah SWT.

Special Thanks For:

chess sy, Chini VAN, Ritard S. Quint, NHL-chan, Eunike Yuen, Musim Semi, vialesana, Uchiha Hime Is Poetry Celemoet, Deidei Rinnepero13, d3rin, Miki Yuiki Vessalius, Haza ShiRaifu, me, Putri Luna, Chie Akane Etsuko, Nurama Nurmala, Cheriamethyst, RestuChii SoraYama, UzUchiHaru Michiyo, natsuki-riri, Lyana Uchiha, Cute-chan, HarunoZuka, Hwang Energy, Kazuma B'tomat, namicherry, Parapluei De Fleurs, agnes BigBang, Ciel Lawliet, Liska-chan Uchiha Yuka, Yori Fujisaki, puerliche, Ai-ra, Kembang cerry, Sindi 'Kucing Pink, darkflash, Dark Hazel Miki-desu, haruno mey, B-Rabbit Lacie, Ayhank UchihArlinz, Fiyui-chan, Kohan44, Lavender's violin, sukoshi yuki, and also for

amy chan, Aya Harukawa, Ila hee, Maulida Ifrah Lubis...

Kalian Penyemangatku ^_^


"Taraa~ Aku membuatnya khusus untuk Sasuke-kun, lho!"

"Benarkah? Ap—!"

"Ayo dipakai, pasti kostum ini cocok sekali."

"Apa maksudnya ini? Aku tidak berminat sama sekali memakai kostum Shinigami itu!"

"Aku tidak mau tahu. Aku sudah membuatnya khusus untuk Sasuke-kun. Cepat pakai!"

"Aku tidak ma—AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

.

.

.

.

.

"Hei, kau cocok memakai kostum Shinigami.."

"Diam!"


O yomi itadaki, arigatō gozaimashita

Story 1: Completed