Kuroko Tetsuya is Dating Who?!

Disclaimer : 黒子のバスケ© Fujimaki Tadatoshi.

Warning : Shounen-ai, OOC parah, abal, dll.

Pair : …?/Kuroko, GoM/Kuro.

Genre : Humor, Friendship, Romance.

Rated : T

.

.

.


Chapter 3 : Guess who's going on a date today?


Semua orang disana―kecuali Himuro―terdiam dan shock di tempat. Apa orang yang ada di foto ini benar-benar pacar sang mantan Phantom Sixth Man itu? Jadi, dia orang yang bisa merebut Kuroko dari mereka? Mereka yakin tidak salah lihat, 'kan?

Oke. Walaupun mereka masih enggan untuk mempercayainya, tetapi tidak dapat dipungkiri suatu fakta bahwa Kuroko bukanlah tipe orang yang suka berbohong. Jelas ini adalah bukti konkrit.

"Yang benar saja! Dia menolakku hanya untuk orang seperti ini?" tanya Hanamiya, makin brokoro jadinya.

"Ngomong-ngomong…" Akashi memandangi foto itu untuk melihat lebih jelas lagi, kemudian bertanya, "―orang ini siapa?"

Hening. Tidak ada yang bersuara sama sekali. Para pemain basket itu rupanya sedang memasang tampang seperti (=_=;) karena ucapan Akashi tadi. Yang benar saja Bakashi? Masa anda tidak tahu orang itu, padahal pernah bertanding waktu Winter Cup?

"Padahal kau pernah berhadapannya dengannya," ujar Kagami―yang sama herannya dengan yang lain. "Dia salah satu temanku di tim basket Seirin, Furihata."

"Furihata, ya? Hmm, jadi selama ini teman satu timmu berkencan dengan Tetsuya, tapi kau tidak tahu?" tanya Akashi dengan pandangan yang sangat tajam ditujukan khusus untuk Kagami. Yang dipandangi seperti itu oleh Akashi tentu saja bakal ngeri.

"Sumpah, aku tidak sadar!"

"Itu sih, karena kau yang terlalu bodoh saja," sindir Aomine.

"Hah?! Lihat siapa yang bicara!"

"Bakagami!"

"Ahomine!"

"Bisakah kalian diam?" Midorima yang sedari tadi melihat tingkah kekanak-kanakan mereka berdua, cuma bisa menghela nafas. Dengan cepat, Kagami dan Aomine langsung diam, tapi masih melempar pandangan sinis satu sama lain.

Pemain bernomor punggung 10 dari Seirin itu sendiri tidak bisa menyangkal kebodohannya. Bagaimana mungkin dirinya sampai tidak menyadarinya? Kuroko belakangan ini jadi sibuk dan tidak makan siang bersamanya, adalah alasan untuk bertemu dengan Furihata. Yang jadi masalah, sekarang dia diliputi rasa penasaran akan cerita awal bagaimana Furihata dan Kuroko bisa berpacaran.

"Tatsuya, dimana Kuroko akan kencan dan jam berapa tepatnya?" tanya Kagami, setelah mengalihkan pandangannya pada teman masa kecilnya itu.

"Sepertinya sekitar jam 9 dan mereka akan pergi ke Tokyo Dome City," jawabnya. Para laki-laki berambut pelangi plus Kagami, Momoi, dan Hanamiya cuma bisa memandang Himuro dengan pandangan sedikit kagum. Diam-diam, Himuro Tatsuya itu well-informed juga. Mungkin itu merupakan point tambah tersendiri baginya di samping wajahnya yang sudah dari lahir ikemen.

"Baiklah, sepertinya operasi akan dimulai besok pagi-pagi sekali. Kita akan berkumpul terlebih dahulu di sini sebelum jam 9―rincian mengenai rencananya akan kukirim lewat email nanti malam," jelas Akashi dengan nada yang tenang. Padahal sang point guard dari Rakuzan itu mamasang wajah yang sama tenangnya, tapi ada sesuatu yang aneh. Aura di sekitarnya benar-benar sangat menakutkan. Kalau bisa, mereka mau jauh-jauh dari Akashi saat itu juga.

Momoi―yang sudah terlanjur penasaran dengan rencana yang disebutkan Akashi tadi mencoba bertanya dengan hati-hati, "Akashi-kun, kira-kira rencana untuk besok akan seperti apa?"

"Tentu saja rencana biasa, Satsuki. Hanya sekedar ini, dan itu…" jawab Akashi―tersenyum manis.

Ah, senyuman manis itu… benar-benar aneh! Bukannya menimbulkan kesan menyenangkan, malah membuat bulu kuduk mereka berdiri. Tidak salah lagi, pasti ini pertanda akan terjadi hal yang tidak baik. Tetapi, untuk kasus kali ini, setidaknya mereka semua bisa bersyukur karena bukan mereka yang jadi korbannya.

[ Sabtu, Pukul 09:00, Tokyo. ]

Seperti yang sudah diperintahkan oleh Akashi, para Kiseki no Sedai plus Kagami dan Momoi telah berkumpul di depan rumah sang pemain bayangan itu sebelum pukul 9 pagi. Tempatnya tentu saja semak-semak tempat mereka bersembunyi kemarin.

Jam pun akhirnya telah menunjukan pukul 9 tepat dan oh―tebak apa yang mereka lihat! Di depan rumah itu sudah ada sosok Kuroko dan orang yang bersamanya―ugh, itu benar-benar Furihata. Furihata tampaknya sedang membicarakan sesuatu, lalu Kuroko hanya bisa tersenyum kecil dan mengangguk.

"Apa rencana ini benar-benar harus kita lakukan, Akashi?" tanya Midorima dengan suara yang sangat pelan. "Maksudku, mengikuti mereka kencan untuk menilai pantas atau tidaknya kita menghancurkan pacar Kuroko."

"Apa yang kau katakan, Midorimacchi?! Ini strategi yang bagus demi menghancurkan kesan bagus Kurokocchi pada pacarnya-ssu." Kise menjawab dengan serius.

"Benar kata Kise-chin~" ujar Murasakibara dengan lazy tone-nya, tapi siapa yang tidak sadar akan aura kemarahannya?

"Pacarnya Tetsu-kun, aku ingin tahu seberapa baiknya dia dalam membuat Tetsu-kun senang," tutur Momoi sambil menggigit jarinya―kesal.

Akashi hanya terdiam dan masih fokus dalam memperhatikan gerak-gerik pasangan itu. Wajahnya jadi terkesan dingin. Mungkin ini wajah Akashi saat patah hati? Hanya dia dan Tuhan yang tahu. Sementara Kagami dan Aomine malah mengkritik semua yang mereka tahu soal Furihata. Yap, katakanlah mereka orang-orang sirik. Biasalah, orang sirik tanda tidak mampu.

Habis mau bagaimana lagi, nasib orang yang sangat mereka cintai sedang dipertaruhkan di sini. Bisa saja 'kan, Furihata malah berbuat hal-hal yang aneh pada Kuroko? Dan kalau itu terjadi, pasukan pelangi tidak akan segan-segan langsung membunuh cihuahua itu di tempat.

"Mereka sudah mulai bergerak!" desis Aomine.

Dengan cekatan, mereka semua langsung mengikuti pasangan itu. Furihata dan Kuroko menaiki sebuah bus dan dudk di depan, sedangkan para stalker itu langsung menyerbu masuk bus dan duduk di deret paling belakang sambil membaca koran untuk menutupi penyamaran. Tetapi, tentunya hal itu tidak lepas dari pandangan Furihata. Dia jelas-jelas tadi melihat kalau ada kepala berwarna-warni sempat menyembul dari balik koran itu, walaupun hanya sekilas.

Sweatdrop. Itulah yang pertama dilakukannya. Rambut sewarna pelangi, sudah jelas kalau itu Kiseki no Sedai. Penyamaran yang cukup payah, menurutnya.

'Kiseki no Sedai? Mau apa mereka kemari?' batin laki-laki berambut light brown itu―bingung. Dan saat dia melirik Kuroko yang sedang asyik membaca novel di sebelahnya, saat itulah akhirnya dia mengerti apa yang ingin mereka lakukan.

"―sial sekali hari ini," bisik Furihata, lebih kepada dirinya sendiri.

Kuroko yang seperti mendengar pacarnya mengatakan sesuatu, bertanya, "Ada apa, Furihata-kun?"

Furihata terlonjak kaget. Bisa gawat kalau Kuroko mengetahui tentang hal ini. Dengan tawa hambar, dia langsung menjawab, "Ahahaha, bukan apa-apa, Kuroko."

Moment paling awkward adalah saat Kagami mengintip sedikit dari balik koran, tapi langsung bersembunyi lagi. Furihata tambah sweatdrop dibuatnya. 'Yang benar saja, sampai Kagami juga?' pikirnya. Dia juga bergidik merasakan aura tidak enak dari orang-orang yang sedang membaca koran di deretan kursi paling belakang. Diam-diam Furihata meringis dalam hati, tidak tahu akan seperti apa nasibnya hari ini.

Akhirnya, bus itu pun berhenti, dan ternyata benar tujuan kencan Furihata dan Kuroko hari adalah Tokyo Dome City! Tempat yang cukup fantastis, bila diingat kalau ini adalah kencan pertama mereka. Momoi menduga pasti Furihata berusaha mati-matian demi hari ini.

Setelah membeli tiket, mereka berdua pun langsung memasuki area taman bermain yang sangat luas itu―ditambah dengan para stalker yang masih setia mengikuti di belakang.

"Kau mau naik wahana apa, Kuroko?" tanya Furihata sambil membawa brosur yang didalamnya berisi letak berbagai wahana dan susunan acara.

Kuroko mendekatkan tubuhnya pada pemuda bernomor punggung 12 itu untuk melihat brosur yang sedang dipegangnya. Kemudian, dia menatap Furihata dan berkata dengan nada monotonnya yang biasa, "Roller coaster."

"!"

Tentu saja hal ini membuat wajah Furihata memerah. Siapa juga yang tidak memerah kalau pacarmu mendekatimu tiba-tiba seperti itu? Dan wajah Kuroko itu… uh, terlalu imut! Salah langkah Furihata, para stalker yang seperti mendengar suara hatinya, langsung menatap Furihata dengan tajam. Bahkan gunting milik Akashi sempat terlihat dari balik tiang tempat mereka bersembunyi sebagai tanda peringatan.

"Ba―baiklah, ayo kita naik yang itu!" gagap Furihata. Rupanya dia masih grogi karena terkena serangan uke(?) milik Kuroko dan juga takut akan ancaman yang akan menganggu kencan indahnya.

Tentunya hal ini tidak boleh dilewatkan. Kiseki no Sedai dengan segala kecepatannya langsung duduk di bagian tengah roller coaster, memberi jarak bagi mereka untuk mengobservasi. Furihata dan Kuroko duduk di tempat kedua dari depan, dan tampaknya mereka sangat menikmati saat bermain roller coaster itu. Bagaimana nasib para GoM plus Momoi dan Kagami? Tanpa diduga, mereka―kecuali Akashi―langsung muntah setelah menaiki wahana biadab itu.

"Ukh, perutku masih terasa mual-ssu," rengek Kise.

Diantara mereka semua, Murasakibaralah yang muntahnya paling heboh. Lagipula, salahnya sendiri makan snack yang terlalu banyak sebelum naik roller coaster. Sementara itu, Midorima langsung mengeluarkan kantung muntahnya untuk muntah di sana. Kebetulan kantung itu adalah lucky item bagi yang berzodiak Cancer hari ini menurut Oha-Asa.

"Sudah selesai?" tanya Akashi dengan dingin. "Baru menaiki roller coaster saja sudah ambruk, apa kalian pantas menyebut diri kalian Generation of Miracles?" Oke, Akashi kedua hal itu tidak ada hubungannya sama sekali.

"!"

"Benar juga-ssu!"

"Kita akan kalah cuma karena roller coaster!" jawab Kagami yang entah kenapa juga ikut mengebu-gebu.

"Ayo, kita berjuang untuk mengikuti mereka lagi!" sahut Aomine.

"Ou!"

Akashi tersenyum melihat semangat para pemain basket itu. Memang hal yang paling dibutuhkan saat sedang mengikuti orang adalah semangat. Dan mulailah perjuangan para Generation of Miracles―sebenarnya, lebih tepat kalau mereka disebut Generation of Idiots―dalam rencana mereka!

Tidak hanya mengikuti, setiap ada kesempatan Akashi dkk juga ikut andil dalam merusak suasana kencan yang harusnya terkesan romantis.

Seperti dengan sengaja menaruh makanan berbahaya di makanan Furihata saat mereka sedang makan siang. Membuat lantai restoran licin, karena itu Furihata jadi terpeleset dan terjatuh dengan gaya memalukan di depan sang pemain bayangan Seirin.

Mendorong Furihata sejauh mungkin dari Kuroko agar tidak sampai bersentuhan. Menembakinya dengan bungkus snack bekas milik Murasakibara dan gunting kepunyaan Akashi-sama. Tak hanya itu, yang paling ekstrim adalah GoM juga mengganti hadiah novel bergenre mystery yang khusus dibelinya untuk Kuroko, dengan novel dewasa R-18.

"…" Kuroko tidak berkata apa-apa saat membuka bungkusan novel yang bercover BDSM itu, dan langsung menghadiahkan tatapan ganjil kepada Furihata.

"I―ini tidak seperti yang kau pikirkan, Kuroko!" teriak Furihata berusaha menjelaskan kesalahpahaman ini. Kuroko pasti jadi menilai buruk dirinya. Dan di tempat persembunyiannya, pasukan pelangi cuma bisa tertawa nista.

Tenpat tujuan Furihata dan Kuroko selanjutnya adalah Haunted House yang kabarnya adalah yang paling seram di Tokyo. Tunggu, memangnya ada Haunted House di Tokyo Dome City? (Entahlah, author juga nggak tahu, anggap aja ada /?)

"Kuroko, kau yakin mau masuk kesini?" tanya pemuda berambut coklat itu, kurang yakin. Pasalnya, dia sedikit takut juga sih sama hantu di urban legend Jepang.

"Apa Furihata-kun takut?" ujar Kuroko yang menatap pacarnya dengan tatapan datar.

Furihata Kouki, demi melindungi harga diri sebagai seme yang gentle (?) dan berniat untuk menyenangkan kekasihnya, langsung menggelengkan kepalanya, dan berkata dengan cepat. "Tentu saja tidak! Ayo, masuk."

Setelah dipikir-pikir, Furihata tidak lagi melihat para laki-laki pelangi itu. Kemana perginya mereka? Apa mereka sudah puas menerornya? Furihata pun berniat untuk tidak lagi memikirkan perihal para stalker payah tersebut.

Ketika mereka berdua masuk, hawa tidak enak langsung menyerangnya. Sudah pasti karena ini adalah rumah hantu. Sang point guard cadangan tim Seirin itu berusaha susah payah untuk tidak kaget saat ada hantu ataupun konyaku yang berusaha menakutinya dengan jump scare.

Gyut!

Seperti ada yang memeluk tangan kanannya sangat erat dari samping, mau tidak mau Furihata langsung blushing tidak karuan. Jangan-jangan Kuroko terlalu takut sampai tidak ingin melepaskan tanganya? Aw, what a cutie~

"Hee…" Furihata yang tidak bisa menahan dirinya, berusaha menggoda Kuroko dengan kata-kata, "jangan-jangan kau takut, Kuro―"

Perkataannya terputu saat dia menolehkan kepalanya kesamping. Karena alih-alih Kuroko, yang dilihatnya malah hantu namahage dengan wajah super seram yang berlumuran darah.

"GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

"?"

Di sisi lain, Kuroko hanya bisa heran dengan suara teriakan yang familiar itu dan masih menunggu di dekat pintu keluar. Rupanya Kuroko sudah digiring dengan hati-hati oleh GoM yang menyamar dengan pakaian hantu agar cepat menuju pintu keluar. Dan mengenai hatu yang menakuti Furihata, sudah bisa dipastikan kalau di dalam hantu tersebut adalah Kise Ryota. Tentunya, sang model brsurai blonde itu ingin menjaga di dalam agar Kurokocchi-nya tidak diapa-apakan oleh sang cihuahua.

"Haah… haah… haah." Furihata terlihat terenga-engah dan kelelahan karena berlari dari Haunted House itu. Keringat pun mengucur dari pelipisnya.

"Kau baik-baik saja, Furihata-kun?"

"Iya, aku cuma sedikit kaget dengan hantu yang ada di dalam," ujarnya, sambil tersenyum. Dia sangat senang karena melihat wajah Kuroko yang tampaknya sedang mengkhawatirkannya. "Masih ada waktu sampai jam 7 malam, apa kau mau melihat parade?"

Kuroko menatap keramaian di kejauhan, tanda parade malam akan segera di mulai, lalu tersenyum kecil pada Furihata. "Tentu saja."

Akhirnya parade di Tokyo Dome City pun dimulai. Banyak orang yang mengenakan kostum maskot taman bermain sampai berkostum anime turut ikut ambil bagian dalam memeriahkan parade itu. Berbagai atraksi sirkus keliling pun ditampilkan dengan latar cahaya malam di kota Tokyo.

Saat melihat parade keliling itu, Furihata tidak bisa menghentikan dirinya untuk melirik Kuroko dengan ekor matanya. Sebenarnya, dia sangat menyesal karena tidak bisa menjadikan hari ini berkesan untuk orang yang sangat dia suka. Kalau saja para Kiseki no Sedai itu tidak datang, dia pasti―

"Terima kasih, Furihata-kun."

"!"

Pemuda berambut light brown itu terlonjak kaget karena mendengar ucapan Kuroko yang tidak diduga sebelumnya. Dia menolehkan kepalanya kesamping, dan Kuroko masih menatap acara parade di depannya.

"Untuk apa kau berterima kasih padaku? Aku tidak melakukan apa-apa." Furihata berkata dengan ekspresi sedikit tidak nyaman. Dia merasa sudah gagal dalam menjadi pacar Kuroko, padahal Kuroko berhak mendapat yang terbaik.

"Terima kasih untuk hari ini. Aku senang sekali."

Furihata terpaku di tempatnya berdiri. Bukan kilau parade di kejauhan yang membuatnya terpaku, tapi senyuman lebar milik Kuroko Tetsuya yang lebih menyilaukan di matanya. Tanpa sadar, dia menjulurkan tangannya untuk menggenggam tangan sang mantan Phantom Sixth Man itu dengan erat.

Kuroko yang agak terkejut dengan itu, langsung menatap heran kekasihnya. Dan yang membuatnya tambah kaget adalah sosok Furihata yang sedang menunduk―rupanya berusaha menyembunyikan wajahnya yang sangat merah.

"Aku… sangat menyukaimu, Kuroko," ujarnya, dengan suara dan ekspresi yang serius, walaupun dengan sedikit blushing. Pemuda berambut baby blue itu balik mengenggam tangan Furihata, kemudian tersenyum kecil.

"Aku tahu, Furihata-kun."

Menangis.

Itulah yang dilakukan GoM plus Kagami dan Momoi saat ini. Pasalnya, mereka sudah berusaha susah payah untuk menghancurkan kencan ini malah disuguhi pemandangan pemain bayangan tercinta mereka sedang bergandengan tangan dengan orang lain. Hancur sudah kokoro mereka sampai berkeping-keping. Sekiranya mungkin ini bisa dijadikan pelajaran buat mereka, kalau hal yang diawali dengan niat tidak baik, akan berakhir dengan hal yang tidak baik juga /?

"Baiklah, kalau sudah begini, pilihan terakhir adalah dengan menghancurkan orang itu secara langsung…" ujar pemuda yang memiliki heterochromatic eyes itu, yang ternyata masih juga belum menyerah untuk mengakhiri hubungan Furihata dan Kuroko.

"Akashi, jangan-jangan kau akan mengunakan rencana 'itu'?" tanya sang Number One Shooter―Midorima Shintaro, sedikit terkejut dengan apa yang baru saja keluar dari mulut sang mantan kaptennya.

"Tentu saja, Shintarou. Kau pikir siapa aku ini?" Akashi menjawab dengan seringai aneh di wajahnya. Dalam hati, mereka semua tahu. Seringai Akashi itu… adalah pertanda akan terjadi sesuatu yang lebih mengerikan dari sebelumnya.

[ Minggu, pukul 19:00.]

[ Maji Burger, Tokyo. ]

Hari Minggu itu salju turun di kota Tokyo. Di cuaca sedingin ini, orang-orang tidak banyak yang berlalu lalang di sekitar kota. Kebayakan langsung menuju tempat tujuan mereka dengan merapatkan sweater dan jaket sebagai penghangat tubuh. Untuk sebagian besar orang, cuaca yang dingin seperti ini harusnya menjadi hari paling cocok untuk bermalas-malasan di rumah―tapi, sayangnya itu tidak berlaku untuk Furihata Kouki.

Saat ini, dia sedang duduk di salah satu meja di sudut ruangan di Majiba. Kalau kau bertanya untuk apa dia di sana, mungkin ini bisa menjawab pertanyaanmu. Kemarin malam, setelah dia pergi berkencan bersama Kuroko, dia mendapatkan sebuah surat undangan―atau ancaman―yang mengharuskannya untuk datang ke restoran fast food itu hari ini.

Dan disinilah dia, duduk dengan gelisah sementara di hadapannya ada 7 orang yang sedang menatapnya dengan tatapan dingin dan keji. Oh ayolah, kalian sudah pasti tahu mereka―yaitu biang keladi dari semua teror yang dialami oleh sang pemilik nomor 12 dari tim basket Seirin tersebut.

"Jadi, kau yang bernama Furihata Kouki?" tanya sang pemimpin geng pelangi, Akashi Seijuuro. Saat dia melihat Akashi membawa gunting kesayangannya ditangannya, saat itulah dia sadar hidupnya mungkin akan berakhir di sini―masalahnya hanyalah cepat atau lambat.

.

.

.


To be countinued


Err... maaf kalau tidak sesuai ekspektasi dan ngomong-ngomong saya berniat untuk membuat doujinshi dari fanfic ini buat di post di tumblr, apa ada yang tertarik? /plak

See you next chapter-ssu!