Boruto menghela nafas panjang setelah setengah gelas ocha nya Ia teguk habis. Jam di dinding ruang keluarga sudah menunjukkan pukul 6 sore, namun mereka bertiga masih belum beranjak dari sana sejak satu jam yang lalu.
Festival memang belum dimulai, namun bukankah mereka harus mencari dulu tempat dimana mereka akan menyaksikan kembang api ?
Kemana dia? Batin Boruto kesal.
Disampingnya Himawari tampak menguap berkali-kali menahan kantuknya karena telah lelah menunggu, sementara Hinata tengah asik merajut syal di sofa sebelahnya.
"Aku akan keluar mencari angin." Boruto beranjak dari duduknya lalu berjalan kearah pintu keluar. Hinata yang melihat hanya mengangguk kecil.
Baru saja Ia membuka pintu rumah untuk keluar, sebuah bayangan laki-laki berbadan tinggi besar berdiri tegap didepannya. Boruto kaget, sangat. Hingga Ia melangkah mundur untuk beberapa saat.
Tunggu ! Bayangan itu bukan hantu ! Dia ayahnya !
.
.
That Feels
Chapter 3
Naruto © Masashi Kishimoto
Typo(s) everywhere, Uzumaki's family
Family/Drama/Hurt/Romance
Rated T
Naruto x Hinata
Boruto x Himawari
.
.
Entah sudah berapa lama Ia berdiri didepan pintu rumahnya sendiri. Berbagai pikiran menghantam otaknya, hingga membuat kepalanya sedikit berdenyut.
Akhirnya Naruto memutuskan untuk masuk, namun belum sampai tangannya meraih kenop pintu tiba-tiba pintu itu telah terbuka dan seorang anak lelaki keluar.
Tampaknya sang anak cukup kaget karena kehadirannya, terlihat dari langkahnya yang mundur dan wajahnya yang menyiratkan ketakutan seperti melihat hantu.
"Boruto," Naruto menatap si anak sulung dari ujung kaki sampai ujung kepala, lalu Ia tersenyum.
"Putra Tou-chan sangat tampan dengan yukatanya." Puji Naruto tulus.
"Apa yang kau lakukan ? Kenapa kau tak masuk ? Kami sudah menunggumu sejak tadi, Tou-chan !" Berbagai teriakan terlontar cepat dari Boruto. Suaranya terdengar seperti tengah kesal.
Sementara didalam rumah, Hinata yang mendengar Boruto seperti berteriak melangkah menuju pintu. Lalu sempat terkejut karena melihat Naruto sudah pulang.
"Naruto-kun ? Kau sudah pulang ? Sejak kapan ?" Tanya Hinata khawatir. Ia melihat raut wajah suaminya yang tampak kusut. Ah pasti dia sangat lelah. Pikir Hinata.
Namun untuk sejenak Naruto menahan nafas, wajahnya memanas. Demi Kami-sama ! Didepannya ada malaikat turun dari surga ! Ah bukan, itu istrinya.
Hinata yang mengenakan yukata tampak sangat cantik,manis, dan menawan, lalu apa lagi ? Naruto sudah kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikannya. Belum lagi, polesan make-up tipis yang melekat di wajah putihnya menambah nilai plus bagi istri dari seorang hokage. Surai indigo sebahunya yang tebal dan lembut sedikit menari indah dihembus angin malam.
Namun tak lama setelah itu, dunia kembali menarik Naruto dari kesadaran yang seharusnya Ia sadari.
"Masuklah dulu Naruto-kun. Kau mandi dulu ya, akan aku siapkan air hangat untukmu." Lanjut sang istri.
"Boruto, bisa kau membuatkan ocha hangat untuk Tou-chan mu ?" Tambah Hinata menatap putranya. Boruto mengangguk patuh lalu berjalan kearah dapur.
Baru saja Hinata berbalik melangkah menuju kamar mandi untuk menyiapkan air hangat, pergelangannya ditahan sang suami. Otomatis langkahnya terhenti.
"Hinata, ada yang ingin kubicarakan." Ujar Naruto pelan. Jemari besarnya masih menggenggam lengan mungil sang istri.
Hinata tak menjawab. Safirnya menatap dalam ke safir biru seindah langit dihadapannya. Banyak ekspresi yang tergambar didalam bola biru itu, membuatnya tak terbaca oleh safir lavender Hinata.
.
.
"Begitu, ya." Tutur Hinata pelan, wajah ayunya tertunduk.
Mereka berdua kini tengah berada didalam kamar, duduk berhadapan di tepi tempat tidur. Suasana hening tercipta. Tak ada yang memulai lagi percakapan, baik Naruto maupun Hinata. Keduanya sibuk dengan fikiran masing-masing.
Sungguh, Hinata hanya mampu terdiam mendengarkan penjelasan Naruto.
Bukankah sudah terbiasa seperti ini ? Selama setengah tahun terakhir, hal ini sudah sering terjadi kan ?
Hei, harusnya ini mudah. Seperti yang dibicarakan Boruto, ini hanyalah festival kembang api. Ia hanya perlu mengatakan tak apa-apa pada suaminya lalu semua baik-baik saja, seperti yang selama ini sudah terjadi.
Tapi Hinata tak ingin menapik apa yang tengah dirasakannya. Jujur, saat ini ada sisi kecil dalam dirinya yang serasa diremas dengan kuat dan membuatnya sesak. Ya, hanya satu sisi kecil.
"Hinata," Suaminya memanggil pelan. Tangannya menarik dagu Hinata agar tak terus-terusan menundukkan wajahnya yang terlihat lebih cantik malam ini.
"Aku... aku minta maaf, sungguh." Ucap Naruto lagi. Suaranya terdengar sedikit gemetar. Bagaimana tidak, barusan Ia sudah membuat istrinya bersedih.
Hinata yang mendengar hanya menggeleng pelan. Wanita itu menangkap nada rasa bersalah didalamnya. Jemari kecilnya meraih jemari Naruto yang bertengger di dagunya, lalu menggenggamnya hangat.
"Ini bukan salah Naruto-kun. Aku.. aku tahu pertemuan itu mendadak, t-tapi-" Suara yang Ia coba keluarkan dengan senormal mungkin tiba-tiba saja meredam tanpa perintah, seiring dengan matanya yang kini terasa panas.
Bagus, sekarang Ia terlihat lemah dimata suaminya.
Di memorinya terputar rekaman dimana kedua anak mereka yang sangat antusias ketika memakai yukata dan berkata bahwa mereka akan bersenang-senang malam ini.
Lalu fikirannya kembali terfokus pada apa yang tengah terjadi. Suaminya baru saja memberitahu bahwa Ia ada pertemuan mendadak di desa yang jauh disana.
Dalam sekejap, dunianya serasa dijungkir balik oleh satu hal yang sangat sepele.
Melihat bulir-bulir bening yang keluar dari sudut mata Hinata membuat pria itu tersentak.
"Hinata!" Naruto langsung merengkuh Hinata dalam pelukannya dalam.
Kami-sama, apa yang baru saja Ia lakukan? Hinata menangis, dan itu karenanya. Sungguh, Naruto kira Hinata tak akan sampai hati untuk menangisi hal yang telah biasa Ia lakukan.
Seketika nafasnya tercekat. Tersadar akan fikirannya sendiri.
Apa yang barusan Ia ucapkan ? Sesuatu yang biasa Ia lakukan ?
Apa Hinata menangis juga sebelumnya ? Tidak, baru kali ini, mungkin. Mungkin saja yang sebelum-sebelumnya tidak terlihat didepan Naruto. Atau bisa saja istrinya itu menangis kala Naruto sedang tak berada dirumah.
Naruto semakin rengkuh memeluk istrinya yang terlihat rapuh. Dan Hinata hanya terisak di dada bidang suaminya. Berkali-kali Naruto menggumam kata maaf di telinga Hinata.
Menangis seperti ini sama sekali bukan rencananya. Sama sekali tak Ia kira, namun dalam sekejap semuanya diputar balikkan. Meneriakkan kembali bahwa pria yang sudah menikahinya sejak 10 tahun lalu adalah seorang hokage.
Apa Ia terlihat egois sekarang ? Apa Ia terlihat egois ketika menginginkan Naruto tetap berada disini ? Bersama dirinya dan juga anak-anaknya, apa dirinya boleh berharap seperti itu ?
Ia sangat mencintai pria yang kini tengah memeluknya dalam. Sangat mencintainya hingga tak ada kata-kata yang dapat Ia deskripsikan saat ditanya seberapa besar cintanya pada Naruto.
Mungkin saja jika bisa diukur, cinta nya itu sebesar dan sedalam dirinya yang siap mati untuk melindungi suaminya. Dan Hinata tak pernah main-main dengan itu.
"Kau tak perlu mengkhawatirkanku, Naruto-kun." Ucap Hinata pelan setelah keheningan yang sempat tercipta. Masih dalam pelukan Naruto, isakannya tertak terdengar lagi.
"Tapi anak-anak-" Lanjut Hinata menggantung, tak sanggup meneruskan.
Naruto memejamkan safirnya rapat. Otaknya seketika memutar rekaman flashback bagaimana percakapan-percakapan yang dilontarkan kedua buah hatinya yang tengah menunggu sang ayah pulang kerumah.
Dan tak lupa ingatannya tentang Boruto dan Himawari yang repot-repot sibuk mencoba yukata di satu hari sebelum festival. Semua mereka lakukan karena merasa hari ini akan sangat menyenangkan, tadinya. Dan semua yang menyenangkan itu pada awalnya adalah janji yang Naruto buat.
Lalu sekarang, apa yang sudah Ia lakukan ?
"Aku memang Ayah yang buruk." Lirihnya pelan.
Yang tadi dia bilang benar kan ? Naruto adalah satu-satunya yang menjadi penghancur kebahagiaan mereka.
.
.
"Nii-chan, kenapa Kaa-chan dan Tou-chan lama sekali ? Ini sudah setengah tujuh. Festivalnya pasti akan segera mulai." Himawari menatap khawatir kakak sulungnya.
"Kau duduk saja disini, jangan kemana-kemana. Mengerti ?" Ujar Boruto pelan. Himawari mengangguk menurut. Lalu mengamati Boruto yang melangkah menjauh dari ruang keluarga.
.
.
"Hinata, maafkan aku. Ini benar-benar sangat mendadak, sungguh maafkan aku."
"Jam 7 malam ini ada pertemuan antar Hokage di Sunagakure. Aku sudah meminta agar bisa pergi kesana setelah kita semua pulang dari festival. Tapi sepertinya tidak bisa."
"Maafkan aku."
"Tapi aku bisa mengirim bunshinku kesana, lalu aku yang asli akan berada disini untuk kalian, bagaimana ?"
"Tidak Naruto-kun. Akan sangat menyakitkan jika dirimu yang asli disini namun fikiranmu jauh didalam rapat itu." Lirih Hinata pelan. Naruto tersentak mendengar penuturan Hinata. Safir biru itu memancarkan rasa bersalah yang amat dalam. Wajahnya berubah sendu.
"Aku akan pergi selama 3 hari."
"Begitu, ya. "
"Aku... aku minta maaf, sungguh."
"Ini bukan salah Naruto-kun. Aku.. aku tahu pertemuan itu mendadak, t-tapi-"
"Hinata!"
"Kau tak perlu mengkhawatirkanku, Naruto-kun. Tapi anak-anak-"
"Aku memang Ayah yang buruk."
.
.
BRAK !
"Kau memang yang terburuk !" Boruto kini sudah berada didalam kamar kedua orangtuanya.
Si putra sulung seketika menendang pintu didepannya dan menimbulkan suara berdebam. Ia benar-benar sudah tak mampu menahan amarahnya kala mendengar kalimat-kalimat memuakkan dari sang ayah.
"Kau payah !" Teriaknya lagi, jemarinya menunjuk Naruto tajam.
Naruto dan Hinata terlonjak kaget melihat Boruto yang sudah ada ditengah-tengah mereka. Terlebih lagi Ia tengah mengacungkan telunjuknya kearah sang ayah. Keduanya langsung berdiri menghampiri sang anak.
"Boruto-kun," Ujar Hinata khawatir.
"Kau ?! Apa yang kau fikirkan tentang kami, ha ?!" Boruto tak mengindahkan panggilan sang Ibu. Ia benar-benar tak bisa meredam segala emosi yang berkecamuk ketika melihat wajah sang ayah.
Naruto tak bergeming, tak juga bersuara kala anak sulungnya memasang wajah memerah menahan marah dan kecewa pada dirinya.
Ia sudah siap akan ini, semuanya. Ia siap mendengar apapun yang akan diteriakkan anak pertamanya.
"Kenapa ? Kenapa kau selalu seperti ini pada kami ? Sungguh, aku sudah sangat bosan ketika kau membuat seolah-seolah semuanya akan bahagia namun kau sendiri yang membuat kami kecewa."
Kali ini intonasinya sedikit turun dari sebelumnya, menyiratkan kesedihan dan kekecewaan yang amat mendalam. Telunjuknya sudah tak lagi Ia acungkan kepada Naruto.
"Maafkan Tou-chan. Ini semua sangat mendadak, Boruto." Naruto akhirnya bersuara, menampakkan raut rasa bersalahnya.
"Sangat mendadak katamu ?" Ucap Boruto sinis, menekankan kata mendadak di kalimatnya. Tangannya terkepal kuat hingga membuatnya memerah.
"Lalu dengan seenaknya kau memutuskan untuk pergi ke pertemuan itu, pergi selama 3 hari dan membatalkan janji yang telah kau buat pada kami lebih dulu?!" Boruto kembali berteriak, kali ini lebih keras.
"Pemimpin desa ? Apa benar itu pekerjaanmu saat kau tak becus menjadi pemimpin dirumah ini ?"
"Kepentingan desa yang selalu kau koarkan itu, tak sadarkah kau meletakkan urutan keberapa kepentingan di keluarga ini ? Kau selalu saja mengoceh tentang desa, tentang pekerjaanmu, tentang pemimpin, tentang hokage, tapi pada keluargamu sendiri kau tak peduli !"
"Kau membiarkan kami menunggumu untuk bergabung di meja makan saat sarapan dan makan malam, kau mengirim bunshin-bunshinmu untuk menghibur kami disini sementara dirimu yang asli berada dikantormu, kau tak pernah lagi bermain bersamaku dan Himawari, kau selalu membuatku menahan diri saat teman-temanku bercerita apa saja yang mereka lakukan bersama ayahnya!"
"Kau selalu pergi saat kami belum terbangun lalu pulang saat kami sudah terlelap, kau tak benar-benar pernah menghabiskan waktumu dirumah ini !"
"Kau membiarkan kami terjebak dalam kebahagiaan yang tak pernah kau janjikan dan terlebih lagi kau membuat Kaa-chan ku menangis ! Tidakkah kau sadar itu, hokage sialan ?!"
PLAK!
Boruto seketika terdiam. Tangannya terulur memegang pipi kanannya yang terasa sangat perih. Matanya membulat lebar mengetahui siapa yang baru saja menamparnya.
"K-Ka-Kaa-chan ?" Tatapnya tak percaya.
"Kaa-chan menampar... ku ?" Ujarnya pelan, menatap safir perak sang Ibu yang terlihat sangat berbeda dari sebelum-sebelumnya.
"Tak sadarkah yang barusan kau katakan itu adalah ayahmu , Boruto ?!" Hinata sedikit berteriak, suaranya gemetar menahan tangis. Sungguh, hatinya terasa hancur saat anak sulungnya membentak ayah kandungnya sendiri dengan kalimat-kalimat yang teramat kasar.
Tangannya yang tak lagi memegang pipinya yang habis ditampar sang Ibu, kini kembali mengepal kuat seperti siap melempar tinju pada siapapun.
"Kaa-chan membelanya ? Sekarang apa lagi ?! Kaa-chan ku menampar anaknya sendiri, lalu kau ? Kenapa kau diam saja, ha ?! Kenapa kau tak memarahiku juga ?! Semuanya marahlah padaku !" Tatapnya nyalang dan putus asa pada sang ayah.
"N-Nii-chan.." sebuah suara pelan menginterupsi suasana tegang didalam kamar. Semuanya menoleh pada sumber suara. Mereka melihat safir birunya yang tergenang airmata dan belum sempat mereka ingin mengejarnya, Himawari telah berlari beranjak dari ambang pintu.
"Aku membenci ini, sangat. Terserah kalian ingin menghukumku bagaimana. Yang jelas aku tak peduli lagi dan jangan pernah pedulikan aku."
"Boruto !"
Boruto berlari masuk kekamarnya. Meninggalkan kedua orangtuanya yang masih terpaku dengan kejadian barusan, dan-
BRAK !
-suara pintu yang dibanting keras dari kamar si anak sulung tersebut tiba-tiba membuyarkan Hinata. Ia tersentak kala jemari kanannya terasa gemetar, masih meninggalkan bekas yang sangat kentara.
Tadi, apa yang telah Ia lakukan ?
"N-Naruto-kun." Suaranya bergetar menahan tangis, matanya tak terlepas dari telapak tangan yang terasa kotor tersebut.
"A-aku.. aku menampar Boruto ! Aku menamparnya, aku menampar anakku sendiri ! Naruto-kun, bagaimana ini ? A-aku.. aku.." Hinata mengguncang-guncang tubuh suaminya, tatapannya yang kosong mencoba mencari kepalsuan dari semua yang telah terjadi, namun rasa panas yang menjalar di telapak kanannya membuktikan bahwa apa yang telah Ia lakukan adalah nyata.
Tiba-tiba tubuhnya linglung dan merasa badannya sangat lemas. Dengan sigap Naruto menangkap tubuh Hinata sebelum sempat Ia jatuh kelantai.
Naruto membawa istrinya duduk di tepi kasur, mengenggam erat jemari Hinata mencoba menyalurkan ketenangan pada sang istri. Walaupun pada nyatanya, sudut matanya terasa panas kala melihat kondisi wanita didepannya yang sangat terguncang.
Hinata menutup mulutnya tak percaya, airmatanya mengalir deras keluar dari pelupuk mata. Hatinya berdenyut mengingat dan merekam perbuatan yang Ia lakukan pada anak kandungnya sendiri.
"B-bagaimana ini Naruto-kun ?! Boruto pasti membenciku. Ya, Ia pasti akan membenciku. Naruto-kun aku tak ingin dibenci oleh anakku sendiri !"
"Tenanglah Hinata !" Naruto memegang bahu istrinya lalu mengguncangnya pelan.
Sungguh, istrinya sekarang terlihat seperti orang yang kehilangan waras. Wajahnya yang sangat syok, mata seindah rembulan tersirat kesakitan yang luar biasa, dan deru nafasnya yang memburu benar-benar membuat Naruto hanya mampu menahan kekecewaan yang luar biasa pada dirinya yang lagi-lagi membuat istrinya terlihat menyedihkan.
"Tidak apa-apa Hinata. Semuanya akan baik-baik saja, percayalah." Airmata sang nyonya hokage yang keluar kian tak terkendali kala sang suami memeluknya erat. Naruto mengusap pundak Hinata pelan, mencoba menenangkan.
"Boruto tak akan membencimu. Dia sangat menyayangimu, Hinata." Bisik Naruto pelan ditelinga sang istri.
"Yang patut Ia benci adalah aku, ayahnya."
.
.
To be Continued
.
.
a/n :
Terima kasih sudah corat-coret di kolom review, I cherish it :)
Ya, saya keberatan (nambah chapter) saya sudah memutuskan chapter depan yang bakal jadi ending, maaf ya :) FF tentang keluarga NH memang selalu buat aku nangis mudah-mudahan ini salah satunya hehe Kereeeennn next please author-san Arigatou, chapter 3 sudah bisa dibaca yaa Keren ceritanya jarang ada fic canon kayak gini, tolong dilanjutkan thor Arigatou, hidup NH ! sudah lanjut Pasti Naruto bakal ngingkari janjinya, kasian banget Hima-chan apalagi Hinata udah dandan cantik-cantik. Nyesek banget. Tolong updatenya jangan lama-lama tebakanmu sudah terjawab di chapter 3 ini, iyaa ini updatenya udah kilat banget kok Sugoi next arigatou, chapter 3 sudah bisa dibaca Kasian Naruto nya, aku harap chapter depan bisa lebih panjang thor Maaf sudah membuatnya telihat menyedihkan, words nya sudah 2k+ kok hehe Terharu bacanya tolong dilanjutkan author-chan arigatou, ini sudah lanjut yaa Cakep banget fic ini, kudu lanjut ya Reina-san. Aku juga bakalan pusing kalo ada diposisi Naruto. Spirit, tks Arigatou, jadi hokage emang banyak cobaan haha, sudah lanjutt Gue ngerti perasaan lo Nar, next tolong chap depan pasti bakalan nguras perasaan semoga perasaanmu terkuras sesudah baca chapter 3 :) Makin penasaran aja, kasihan keluarga kalo Naruto mengingkari janjinya. Lanjuttt yaaa Arigatou sudah penasaran walau alurnya sudah bisa ditebak hehe ini sudah lanjut yaa Update kilat, gak kebayang Boruto nanti kayak apa kalo tau Otou-chan nya gak datang bayanganmu sudah bisa dibaca di chapter 3 :) yap udah kilat kok updatenya Sayang banget kalo elo gak dateng dateng Nar, mending istri loe buat gue aja haha update kilat thor dan Naruto nya buat saya #dibogemmasalsamaNHL yaaa updatenya sudah kilat Waahh nyesek :( gak yakin bisa baca chap selanjutnya, apalagi habis nonton trailer Boruto the Movie T.T dibaca sampe ending ya, kalo gak bisa, dibisa-bisain #maksa saya bikin fic ini setelah nonton trailer Boruto the Movie juga kok :)
Saya sungguh minta maaf ada scene Hinata yang menampar Boruto :( hanya adegan itu yang terfikirkan ketika Boruto mengamuk, maaf ya hehe
Maafkan saya juga karena gagal menjadikan chapter 3 sebagai ending. Tapi tenang, saya nambuhnya cuma satu chapter saja kok.
Bagaimana ? Apa yang kalian rasakan sesudah baca chapter 3 ?
Typonya masih berceceran kah ?
Apapun itu, saya tunggu di kolom review ya !
Sankyu, Jaa ne.
See you at the last !
Kousaka Reina
August, 01 2015
