7 tahun terhitung sejak Baekhyun menghadiri pernikahan Irene. Selama itu pula ia tak pernah sekalipun kembali atau memberi kabar pada sahabatnya itu.
Selain karena kesibukannya demi mendapat gelar dokter spesialis, ia memang sengaja tak menghubungi Irene dengan harapan bisa menghapus perasaannya pada sahabatnya itu.
Kini Baekhyun telah mendapatkan gelar impiannya. Maka inilah waktu yang tepat untuk ia kembali ke tanah air.
000
"Ibu bohong kan? ibu bohong" kata itu yang terus Baekhyun rapalkan ketika kabar tak menyenang itu menyambut kedatangannya.
"Maafkan ibu nak, tapi ibu mengatakan yang sebenarnya, Irene sudah tiada, ia meninggal sesaat setelah melahirkan putri pertamanya 4 tahun yang lalu," jawab Nyonya Byun dengan tatapan sendunya.
Air mata Baekhyun sudah menganak sungai tak bisa dibendung lagi. Irene sudah tiada, maka tak akan mungkin lagi ia mendapati senyum manis sahabatnya itu. Sedih dan sesal pun membelenggu hatinya. Harusnya ia tak pernah menghindari Irene, harusnya ia tak lost contact dengan sahabatnya itu. Maka lihatlah akibatnya sekarang? ia tak akan bisa bertemu sahabatnya lagi.
"Kenapa ibu tak langsung memberitahuku? harusnya ibu memberitahuku saat itu terjadi," Baekhyun tak bermaksud menyalahkan ibunya. Ia hanya butuh pelampiasan dari kekesalannya pada dirinya sendiri.
"Maafkan ibu nak, sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Irene berpesan agar tak memberitahumu, karena ia tau kau sedang sibuk-sibuknya mengurus ini itu, ibu terlalu bingung harus bagaimana, di satu sisu ibu ingin memberitahumu, tapi di sisi lain Ibu menghargai permintaan Irene,"
"Ibu aku-"
"Ibu tau nak, tabahkan hatimu," Nyonya Byun pun segera memeluk putranya sembari merapalkan kalimat-kalimat penguat hati.
"Ah ibu baru ingat sesuatu, Irene sempat menitipkan sepucuk surat untukmu,"
Tak berapa lama Nyonya Byun kembali dari kamarnya dan memberikan sepucuk surat pada Baekhyun.
Hai..
Aku tau kabarmu baik-baik saja Baekhyun. Itu yang selalu kukarapkan dimana pun kau berada.
Selamat yaaa! akhirnya kau mendapatkan gelar impianmu. Aku yakin kau akan menjadi dokter yang hebat kedepannya.
Baekhyunku yang manis, sebelumnya aku minta maaf dan juga terima kasih, maaf karena aku telah menjadi sahabat yang buruk bagimu, sahabat yang tak bisa sepenuhnya mengerti dirimu, dan sekali lagi aku meminta maaf, karena dengan tak tau dirinya aku ingin meminta bantuanmu kini.
Bisakah kau membantu suamiku menjaga dan merawat putri mungilku?
Karna ibuku tak sebaik kamu yang mengerti semua tentangku. Jadi ketika putri mungilku bertanya seperti apa ibunya? Jawablah dengan kejujuranmu sebagaimana adanya kau mengenalku
Aku menyayangimu Baekhyun, dan aku mempercayakan putriku padamu.
-Irene-
"Gadis bodoh hik, aku juga menyayangimu," Baekhyun semakin terisak setelah membaca surat dari Irene.
000
Setelah menenangan diri 2 hari lamanya, Baekhyun pun memutuskan mengunjungi kediaman suami Irene. Ia sudah tak bisa menunggu lagi. Ia terlalu penasaran seperti apa wajah putri sahabatnya itu.
"Hai!" sapa Baekhyun ketika Chanyeol membuka pintu apartemennya.
Chanyeol tampak terkejut mendapati kedatangan Baekhyun yang tiba-tiba itu.
"Baekhyun? ah mari silahkan masuk," dengan canggung Chanyeol mempersilahkan Baekhyun masuk ke dalam apartemennya.
Mereka duduk di ruang tamu dengan suasana yang canggung. Maklum saja selama ini mereka hanya kenal sekedar nama dan belum pernah berbicara secara langsung setelah pertemuan mereka untuk pertama kalinya.
"Kapan kau kembali? apakah sudah lama?" tanya Chanyeol kemudian.
" Baru 2 hari yang lalu," jawab Baekhyun.
Chanyeol pun menganggukan kepalanya mengerti. Setelahnya keduanya tampak terdiam membuat suasana kembali canggung.
"Emmm, bagaimana kabarmu Baekhyun?" tanya Chanyeol kemudian.
"Baik seperti yang kau lihat, lalu bagaimana kabarmu sendiri Chanyeol?"
"Baik juga, seperti yang kau lihat," jawab Chanyeol seraya terkekeh pelan.
Baekhyun pun menganggukan kepalanya mengerti seraya tersenyum tipis.
Lagi-lagi suasana canggung kembali tercipta. Keduanya tak tau harus membicarakan apa lagi. Lebih tepatnya bingung mencari bahan obrolkan yang kiranya bisa menghilangkan situasi cangkung ini.
"Papa," bocah mungil terlihat berlari menghampiri seseorang yang disebut papa olehnya. Ia membawa boneka dalam dekapannya dan memakai baju piyama bermotif lucu.
Chanyeol segera mengangkat tubuh mungil putrinya dan meletakkannya di atas pangkuan.
"Putri papa sudah bangun rupanya," Chanyeol pun mencium gemas pipi gembil putrinya.
"Enmm, tadi Minji mimpi beltemu putli calju papa, dia cantik cekali, gaunnya cangat indah, Minji ingin punya gaun cepelti itu papa," ucapnya antusias.
"Nanti papa belikan, sekarang beri salam pada paman Baekhyun," pinta Chanyeol yang mana membuat Minji mengalihkan pandangannya pada Baekhyun.
Entah mengapa perasaan Baekhyun menghangat melihat interaksi Ayah dan anak itu.
"Ah, Halo paman Beciun, aku Palk Minji anak Papa Chan yang paling cantik," ucapnya dengan nada ceria.
Baekhyun pun mengembangkan senyum manisnya. Ia sungguh gemas ingin sekali mencubit bibi gembil itu.
"Halo anak manis, berapa usiamu?" tanya Baekhyun antusias.
"Empat tahun paman," jawabnya sembari menjukkan 4 jari mungilnya pada Baekhyun.
"Wah berarti sebentar lagi sekolah ya?"
"Emmm Minji cudah cekolah paman, TK O kecil, benalkan Pa?" tak merasa yakin maka Minji pun bertanya pada Papanya.
"Itu benar sayang,"
Lalu Minji tersenyum manis sekali, yang mana senyum itu mengingatkan Baekhyun pada Irene.
"Mirip sekali ya?" tatapan Baekhyun pun berubah jadi sendu.
"Kau benar, dia benar-benar mirip dengan mamanya," jawab Chanyeol dengan raut sedihnya.
"Aku turut berduka cita, maaf tak ikut serta mengantar kepergian Irene, andai ada yang memberitahuku pasti aku akan menyempatkan diri untuk pulang," tutur Baekhyun sedih.
"Tak apa Baek, yang Irene butuhkan hanyalah keiklasanmu melepas kepergiannya, aku sangat tau kau pasti terpukul karenanya,"
Baekhyun menundukan kepalanya berusaha menahan air matanya agar tak jatuh.
"Lagi pula sepertinya kau sibuk sekali hingga tak punya waktu untuk sekedar memberikan kabarmu, padahal Irene selalu menantikan itu,"
Ucapan Chanyeol memukul Baekhyun telak. Ia memang sudah keterlaluan. Benar, itu bukan salah siapa-siapa ketika tak ada satu orang pun yang memberitahunya. Itu memang kesalahannya sendiri karena telah memutus akses hubungan dengan Irene.
"Maaf," Mata Baekhyun memerah saat ini. rasa sesalpun kembali menghampirinya.
"Tidak, jangan meminta maaf Baekhyun, karena Irene tak akan suka itu,"
Minji tampak memainkan tangan-tangan bonekanya. Ia terlalu polos untuk mengerti pembicaraan orang dewasa.
Setelah merasa tenang kembali, Baekhyun pun kembali berbicara.
"Irene meninggalkan sebuah surat untukku,"
"Benarkah?" Chanyeol tak tau itu, karena saat itu ia dalam keadaan yang tak baik-baik saja.
"Dia memintaku untuk membantumu merawat Minji,"
Chanyeol pun menganggukan kepalanya mengerti.
"Kalau itu yang Irene inginkan maka aku akan menyetujuinya, lagipula aku memang sedikit kuwalahan mengurusnya seorang diri, aku terlalu sibuk mengurus kebun bunga juga toko bunga yang kami bangun 5 tahun yang lalu, aku selalu mengajaknya ke toko, tapi terkadang aku membiarkannya bermain sendirian ketika toko sedang ramai," jelas Chanyeol.
"Kenapa tak menitipkannya pada tante Bae?"
"Bunda sekarang tinggal di Beijing bersama Ayah, setahun sekali mereka kembali ke tanah air saat perayaan natal dan tahun baru,"
"Aku bahkan tak mengetahui itu," lagi-lagi Baekhyun merasakan kesedihan. Ia tak bisa bertemu nyonya Byun yang merupakan ibu kedua baginya itu.
"Berhentilah bersedih Baekhyun, jadi apa kau akan mengabulkan permintaan Irene?" tanya Chanyeol kemudian.
"Tentu aku akan mengabulkannya, tadi aku sudah bertanya pada pemilik gedung apartemen ini, katanya ada satu yang kosong di atas, kurasa aku bisa menyewanya, dengan begitu kau tak perlu khawatir menitipkan Minji padaku ketika kau sibuk," tutur Baekhyun kemudian.
"Kenapa kau sampai repot-repot menyewa sebuah apartemen hanya untuk membantuku merawat Minji? kau bisa tinggal disini Baekhyun, bersama kami," ujar Chanyeol seraya tersenyum tipis.
"Ya?"
-TBC-
Tidak tidak! aku tak akan menjadikan Baekhyun pelakor hihi peace. Gimana ya, mungkin ceritanya tak akan semenarik yang kalian bayangkan, tapiii kisah Chanbaek akan dimulai dari sini.
Oh ada yang tanya judul lagu?
Emm lagu pertama kupilih karena itu yang paling romantis untuk lagu pernikahan menurutku.
Judulnya : Baeutiful in white
waktu download aku pilih suaranya Wistlife
Dan untuk lagu kedua
Judulnya : All I Ask yang dinyanyikan oleh Adele.
Dalam liriknya:
If this is my last night with you
(Jika ini malam terakhirku bersamamu)
Hold me like I'm more than just a friend
(Pegang aku seperti aku lebih dari sekedar teman)
Give me a memory I can use
(Beri aku memori yang bisa saya gunakan)
Take me by the hand while we do what lovers do
(Ambil tangan saya sementara kita melakukan apa yang kekasih lakukan)
It matters how this ends
(Itu penting bagaimana ini berakhir)
'Cause what if I never love again?
(Karena bagaimana jika aku tidak pernah mencintai lagi?)
Menurutku itu cocok sama perasaan Baekhyun saat itu. Bener nggak sih?
Oke sekian,
Terima kasih untuk readernim yang setia membaca dan meninggalkan jejak. Jangan bosan yaaaaa?
-Salam damai inchan88-
