Title : Rules to Love You (Chapter 3/END)
Author : Byunkachu
Genere : Angst, Hurt/Comfort
Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol and other
Disclaimer : Pure my imagination, all the cast belongs to God.
Because I need some rules to love you
byunkachu©RulestoLoveYou'copyright2016
Baekhyun selalu berpikir apa yang salah dari nya karena mencintai seorang Chanyeol dan terkadang hal itu tidak bisa dia abaikan. Sebenarnya apa yang salah? Dia berpikir keras.
Setelah Baekhyun pergi, setiap kesempatan yang ada, pikirannya dipenuhi oleh pemuda itu. Ingin melupakannya namun ingin juga bertahan pada nya.
Baekhyun mencoba untuk membenci Chanyeol. Mencari suatu alasan mengapa dia harus terus menderita karena pemuda itu, kemudian hatinya memberontak. Ketika Baekhyun menemukan dirinya tak bisa melupakan apapun, hari demi hari berlalu begitu saja.
Jika Baekhyun mempunyai cara untuk menghapus seluruh memorinya, apa yang akan dia lakukan? Ketika Baekhyun membuka matanya esok hari tanpa semua kenangan yang ada, apakah dia bisa hidup dengan tenang? Baekhyun tidak tau jawabannya, dan dia tidak ingin berandai layaknya demikian.
Seseorang yang ia panggil Chanyeol, kebahagiaan yang ia panggil Chanyeol dan kepedihan yang ia panggil Chanyeol. Jika itu semua hilang, maka Baekhyun kira dia juga akan menghilang.
Mungkin kesalahan Baekhyun adalah ketika dia tidak membuat Chanyeol mencintainya lebih lagi, mungkin kesalahan Baekhyun adalah ketika dia menginginkan Chanyeol lebih dari Chanyeol menginginkannya, mungkin kesalahan Baekhyun adalah ketika dia tidak membuat Chanyeol mencintai dirinya sebesar yang gadis itu harapkan.
Baekhyun tau dia seharusnya tidak menangis, tapi mengapa dia terus menangis? Hatinya terus membisik memanggil nama itu, tapi tidak ada jawaban.
Mungkin kesalahan Baekhyun adalah karena dia menunggu Chanyeol sendirian, mungkin kesalahan Baekhyun adalah karena dia menyesali keadaan ini sendirian, mungkin kesalahan Baekhyun adalah karena dia bisa memberikan cinta namun tak tau bagaimana menghentikannya.
Baekhyun tau bahwa dia tidak bisa memiliki Chanyeol, tapi sayangnya perasaan itu semakin bertumbuh. Bahkan ketika dia memarahi dirinya sendiri, itu tidak membantu sama sekali. Dia berusaha untuk menutup hatinya, tapi yang bisa ia lakukan adalah memikirkan pemuda itu lagi dan lagi. Karena dari awal hingga akhir, itu adalah Chanyeol.
.
.
.
.
"Baek, ada suatu pertanyaan yang mengganjal di kepalaku"
"Dan apa itu?"
"Apakah disana Chanyeol merasakan sakit seperti yang kau rasakan sekarang ini?" Baekhyun mematung mendengar pertanyaan Kyungsoo, sepupunya yang tengah berkunjung ke rumahnya.
"Jujur saja, kau selalu tampak seperti mayat hidup dan aku bertanya-tanya, apakah kau pantas seperti ini jika Chanyeol disana merasakan bahagia? Maksud ku, Baek, kau tidak perlu menyiksa dirimu sendiri, bahkan orang yang menjadi alasan mu tersiksa mungkin tidak merasakan apapun. Dan kau menjebak dirimu karenanya? Aku menyayangkan hal itu" lanjut Kyungsoo lagi-lagi membuat Baekhyun tertohok.
Benar. Kenapa itu tidak pernah terpikirkan olehnya? Apa Chanyeol merasakan sakit yang sama dengan apa yang ia rasakan? Atau setidaknya, apakah Chanyeol merasakan tiga per empat dari rasa sakit yang menjangkiti dirinya? Mungkin setengahnya? Atau seperempatnya? Baekhyun merasa egois memikirkan hal itu.
Chanyeol selalu memenuhi benaknya. Ketika Baekhyun membuka mata untuk pertama kali, ketika Baekhyun membereskan tempat tidurnya, ketika Baekhyun bernyanyi di kamar mandi, ketika Baekhyun sarapan, ketika Baekhyun berjalan, ketika Baekhyun menonton acara kesukaannya, dan tidak ada jeda dimana Chanyeol bisa meninggalkan pikirannya.
Dia jadi berpikir, apakah Chanyeol merasa sakit sepertinya?
Dia pun berpikir, apakah Chanyeol menangis sepertinya?
Kemudian dia berpikir, apakah Chanyeol selalu memikirkan kenangan mereka layaknya yang ia lakukan?
Dan dia tau, seharusnya, dia tidak perlu memikirkan itu.
"Kyung, aku terluka karena pilihan ku sendiri, bukan karenanya. Jadi, untuk apa aku harus mengharapkan bahwa Chanyeol merasakan hal yang sama? Munafik bila ku bilang bahwa aku merasa tidak senang jika dia menderita karena perpisahan kami, tapi bukan itu yang aku inginkan." jawab Baekhyun
"Kau jelas-jelas terluka karena terus memikirkan nya, Baek, dan kau bilang dia tidak ikut andil dalam penderitaan mu?" tanya Kyungsoo sedikit emosi.
"Tapi aku yang mengendalikan pikiran ku, Kyung, dan aku yang membiarkan pikiran ku dipenuhi olehnya. Jadi katakan, siapa yang salah disini?"
Dia tidak akan pernah menyalahkan Chanyeol, kemarin, sekarang ataupun nanti, karena pemuda kesukaannya itu memang tidak bersalah dalam hal ini.
"Kau tidak bisa dipercaya, kau selalu menyalahkan dirimu sendiri, dan Chanyeol selalu benar. Kau dan sifat dewasa mu itu."
"Kyungsoo, kita semua memiliki kesempatan. Selama hampir 16 tahun aku menjadi sahabatnya, selama hampir 16 tahun aku selalu berada disisnya, setiap detiknya aku mempunyai kesempatan untuk mengubah keadaan yang ada. Aku memiliki kesempatan untuk menolak menjadi sahabatnya, aku memiliki kesempatan untuk mengubah perasaan ku padanya dari awal mula, aku memiliki kesempatan untuk mengakui cinta ku padanya, aku memiliki kesempatan untuk tidak membantunya mendapatkan orang yang dia sukai dan menjauhkannya agar dia hanya bisa dekat dengan ku, dan bahkan, aku memiliki kesempatan untuk membuatnya jatuh cinta pada ku. Tapi aku tidak melakukannya. Dan itu semua adalah pilihan ku terlepas dari apapun latar belakang yang mendasari ku berpikir demikian. Aku yang memilih untuk tersakiti dan Chanyeol tidak pernah ambil bagian dalam hal itu." Kyungsoo terdiam mendengarnya, dan gadis itu pikir, perkataan Baekhyun benar. Benar bahwa kita semua memiliki kesempatan, benar bahwa apa yang kita rasakan sebenarnya adalah pilihan dari diri kita sendiri. Bagaimana kita akan menjalani semuanya, itu adalah pilihan kita, karena hidup kita adalah milik kita sendiri.
"Menyesali bahwa kesempatan itu terlewat adalah hal yang wajar, tapi aku yakin bahwa tiap pilihan yang ku pilih kemarin adalah pilihan yang terbaik, karena bila tidak, aku tidak akan memilih hal itu. Yang harus ku lakukan sekarang hanyalah terus melangkah maju, sesuai dengan definisi hidup yang aku inginkan" lanjut Baekhyun tenang, Kyungsoo tampak masih terkesiap mendengar itu semua. Baekhyun menyunggingkan bibirnya membentuk bulan sabit.
"Aku mengerti. Lantas Baek, kalau dia sudah bahagia, kenapa kau tidak mencari kebahagiaan mu sendiri, hmm?"
"Melihatnya bahagia adalah kebahagiaan ku, apa lagi yang perlu ku cari?" Kyungsoo memutar matanya malas, itu tampak seperti gombalan yang murah, walaupun mungkin adalah suatu kebenaran. Sang gadis memecah suasana berat di kamar itu dengan melempar bantal pada Baekhyun, menggelak tawa dari lawan bicaranya itu.
"Kau pasti sudah gila!" pekik Kyungsoo.
"Ya, aku memang sudah gila"
"And...Baek..., you must be love Chanyeol so so so much..." bisik Kyungsoo yang dapat merasakan kepahitan dari air muka Baekhyun.
"Oh, you have no idea" jawab Baekhyun tersenyum sendu mengiringi bunga yang tampak bermekaran dari jendela kamar mereka, tanda musim semi.
.
.
.
.
Hari itu hari kedua musim semi, Baekhyun meninggalkan jaket yang biasa menemaninya untuk bepergian. Dia mengambil tas selempangnya dan bersiap untuk ke cafe, tempat dimana dia akan menghabiskan hari minggunya, dari sore hingga malam nanti. Gadis itu memandangi pemandangan di sekitarnya, para warga tampak sedang membersihkan sisa salju yang masih berserakan di pekarangan rumah mereka. Awal yang sangat dinantikan banyak orang.
Baekhyun membuka pintu cafe tersebut dan mendapati dua sosok yang sudah dikenalnya tengah berpelukan, lalu membuat kontak diantara mereka dengan sebuah ciuman hangat. Dia tersenyum melihat itu.
"Seingat ku ini masih tempat umum, dan masih banyak orang disini kalau boleh mengingatkan" kata Baekhyun membuat kedua orang itu tersadar dan tersipu malu.
"Hei, Baek. Apa kabar? Kau tampak..."
"Tidak terlalu baik?" potong Baekhyun.
"Yup, kau memang yang terbaik dalam membaca pikiran"
"Itu karena kau dan Kyungsoo selalu mengatakan hal yang sama. Duduklah Jongin, dan kau juga Kyung, aku akan mengambilkan kalian sesuatu dari dapur. Bagaimana dengan capuccino?" Jongin mengangguk, Kyungsoo tersenyum mengucapkan terimakasih secara tak langsung pada Baekhyun.
Gadis itu dengan cepat menaruh ketiga gelas yang berisi capuccino di atas meja yang mereka tempati dan mulai menyesapnya. Mereka sempat berbincang-bincang bertiga hingga Kyungsoo harus kembali bekerja. Ini masih shift gadis itu, dan begitu Kyungsoo selesai dengan bagiannya, maka Baekhyun akan menggantikannya. Karena hal tersebut, meja itu hanya terisi Baekhyun dan Jongin sekarang.
Baekhyun tampak ingin menanyakan sesuatu pada Jongin, tapi dia menahannya. Dia hanya tidak yakin jawaban apa sebenarnya yang ingin di dengarnya.
"Tanyakan Baek, tanyakan mengenai hal itu dan aku akan mencoba menjawabnya" titah Jongin, dia memang terlalu peka untuk ukuran seorang pemuda. Apa itu karena dia sudah memiliki pasangan?
"Eum..kau tau..soal Chanyeol...hmm...bagaimana keadaannya?" ragu Baekhyun, Jongin menyesap capuccinonya lagi dan menatap Baekhyun lekat.
"Bagaimana menurut mu?"
"Dia baik-baik saja?"
"Kau sahabat baik nya, Baek. Seharusnya kau yang paling tau bagaimana kira-kira keadaan Chanyeol setelah kau meninggalkannya." sindir Jongin, membuat Baekhyun menunduk.
"Aku tidak tau" cicit Baekhyun.
"Kalau kau, bagaimana keadaan mu Baek? Apa kau baik-baik saja?" tanya Jongin lagi.
"Ku rasa?" jawab Baekhyun bingung.
"Kalau kau ragu, aku juga ragu menjawab pertanyaan mu. Kenapa kau tidak menanyakan langsung padanya, Baek? Kau belum menghubunginya?" Baekhyun menggeleng, Jongin mendesah pelan. Kelakuan teman sekelasnya ini memang membuatnya frustasi.
"Hubungi dia kalau kau begitu mengkhawatirkannya, jangan lewatkan kesempatan apapun lagi, Baek. Siapa tau kalian memang diciptakan untuk terus bersama, entah dalam status hubungan persahabatan ataupun percintaan. Atau mungkin keduanya?"
Baekhyun baru saja akan mengatakan sesuatu ketika Jongin menaruh sebuah amplop di atas meja mereka. Amplop itu sudah lusuh, tampak berasal dari beberapa tahun yang lalu. Ah, lima tahun yang lalu, dan dia sangat mengenali nya.
"Darimana kau mendapatkan ini?"
"Aku menemukannya di buku catatan mu yang waktu itu aku pinjam, aku sempat lupa memberikannya pada mu dan saat aku membongkar kamar, aku melihat itu. Aku belum membukanya, tenang saja"
Baekhyun membuka amplop itu dan mengeluarkan kupon berwarna biru muda bertuliskan tulisannya saat masih berumur 11 tahun. Itu adalah hadiahnya untuk ulangtahun Chanyeol.
Chanyeol menyukai hamburger, Chanyeol menyukai alat lukis, Chanyeol menyukai bubble tea, Chanyeol menyukai es krim coklat, Chanyeol menyukai jaket hitam supreme, Chanyeol menyukai sepatu roda, Chanyeol menyukai syal rajutan warna langit, Chanyeol menyukai menonton film horor, Chanyeol menyukai permainan truth or dare, Chanyeol menyukai bernyanyi di tempat karaoke.
"Kenapa hanya ada 10? Kau yakin belum membukanya?" tanya Baekhyun sembari menghitung ulang kupon tersebut. Jongin mengangkat bahunya, tidak tau.
"Memangnya itu apa, Baek?"
"Ini hadiah ulangtahun ku untuk Chanyeol saat umurnya 11 tahun, semua hal yang dia sukai, yang tertulis disana, akan ku wujudkan. Aku menulis sendiri 10 hal yang disukainya, dan aku memberikan kebebasan Chanyeol untuk menulis sesuatu di kupon terakhir, kupon ke 11-nya. Seingat ku, dia sudah memberikan kupon terakhir itu pada ku. Apa belum?" Kepala Baekhyun tampak mengadah ke atas, mengingat-ingat kenangan itu, tapi sungguh dia tidak ingat apapun.
"Baek, shift ku sudah selesai, kau harus segera bergegas. Aku akan pergi ke luar bersama Jongin setelah ini" Kyungsoo muncul dan sudah bersiap untuk pergi. Baekhyun mengangguk mengerti dan tersenyum pada mereka berdua.
"Hati-hati, nikmati kencan kalian" ujar Baekhyun.
"Sampai bertemu lagi, Baek" kata Jongin sebagai tanda perpisahan. Mereka berpelukan sebentar. Baekhyun melambaikan tangan nya, lalu berjalan ke arah dapur.
"Baekhyun!" panggil Jongin lagi membuat Baekhyun berhenti di tempatnya
"Kalau ku bilang Chanyeol baik-baik saja, apakah kau mempercayainya?" tanya Jongin yang secara tidak sadar langsung dibalas gelengan oleh Baekhyun. Jongin tersenyum. Mereka memang seharusnya bersama.
Jongin pun melambaikan tangan lagi, dan kedua insan itu melenggang pergi. Baekhyun mengernyit heran. Berbagai pertanyaan menghinggapi benaknya terkait pertanyaan Jongin yang terakhir dan mengapa pemuda itu tidak menanggapinya. Dia masih tidak mengerti.
Andai saja Baekhyun bertanya pada hati nya yang paling dalam. Andai saja dia melakukan nya, mungkin, dia akan mengetahui jawabannya, karena semuanya berasal dari sana.
.
.
.
.
Salah satu tempat favorit Baekhyun di dunia ini adalah lengan pemuda itu. Terdapat suatu kehangatan dimana hanya Chanyeol yang dapat memberikannya dan dia menemukan bahwa dia sangat menyukai itu dari segala penghiburan dan pertunjukan kasih sayang yang ada. Baekhyun selalu meringkuk untuk memeluk Chanyeol, matanya sudah setengah menutup karena kapanpun dia melakukan hal itu, dia akan merasa sangat mengantuk. Dan itu sangat berguna karena Baekhyun sering terkena insomnia.
Baekhyun dan Chanyeol akan bersandar di dashboard tempat tidur pemuda itu selagi menonton film action kesukaannya. Chanyeol akan menyetel volume film itu sangat kencang, dan seharusnya Baekhyun marah. Bahkan pemuda itu tau, bahwa Baekhyun datang ke tempatnya agar bisa tidur dengan tenang. Tapi saat Baekhyun akan protes, lengan Chanyeol yang melingkar di belakang pundak gadis itu akan mengerat, dan hal itu membuat posisi mereka semakin dekat. Pada akhirnya, Baekhyun merasakan nyaman yang teramat dan dia memilih untuk menenggelamkan kepalanya lebih dalam pada dada pemuda itu.
Baekhyun sudah setengah menuju ke alam mimpinya, saat dia merasakan bahwa Chanyeol sedikit bergerak untuk membawa tubuh mereka berbaring. Sangat pelan dan hati-hati. Itu tanda bahwa filmnya sudah selesai atau dia sudah bosan akan nya.
"Baek, kau masih bangun?" tanya Chanyeol sembari merapikan anak rambut Baekhyun.
"Hmmm" jawab Baekhyun setengah sadar.
"Baek...aku tidak bisa tidur" bisik Chanyeol lagi sembari menusuk-nusuk pipi gadis itu, membuat sang gadis mau tidak mau membuka matanya. Chanyeol tersenyum senang melihatnya.
Baekhyun menghadap ke arah Chanyeol, pemuda itu menopang kepalanya dengan satu tangan, dengan posisi yang menyamping, lalu menyampirkan helai rambut Baekhyun yang menutupi pipi kanan sang gadis.
"Nyanyikan aku sebuah lagu" pinta Chanyeol.
"Park Chanyeol, aku kesini agar aku bisa tidur karena insomnia menyerang ku, dan sekarang kau malah menyuruhku untuk menyanyikan mu sebuah lagu? Apa bedanya ini dengan insomnia hah? Kau membuat ku tidak bisa tidur dengan tenang"
"Kau bisa tertidur dalam pelukan ku, dan aku bisa tertidur dengan nyanyian mu. Itu adalah sebuah keharmonisan yang sangat baik. Jadi kalau kau ingin kita cepat tidur, maka nyanyikan sebuah lagu untuk ku" jelas Chanyeol, akhirnya Baekhyun mengangguk pasrah. Sang pemuda kemudian meletakan kepalanya di bantal putih itu, menaruh lengannya di bawah kepala Baekhyun, dan menarik gadis itu untuk mendekati tubuhnya. Baekhyun membawa tubunya sedikit ke atas dan menaruh bibinya tepat di depan telinga Chanyeol lalu mulai menyanyikan lullaby nya.
Perlahan Chanyeol menutup matanya dan mengelus kepala Baekhyun dengan satu tangannya yang terjulur bebas, menandakan bahwa dia sudah akan tidur dan tugas Baekhyun sudah selesai. Dengan begitu, Baekhyun merendahkan tubuhnya dan menenggelamkan kepalanya ke dada pemuda itu lagi. Menghirup aroma maskulin favoritnya. Dia tersenyum dalam kegiatan itu.
"Selamat tidur, Baek"
"Selamat tidur, Yeol"
Mereka mempertahankan posisi itu hingga mentari menampakan sinarnya, memisahkan mereka kembali. Dan itu adalah hal yang sangat disesali keduanya, saat mereka terpisah dan tidak bisa melakukan itu untuk waktu yang lebih lama. Karena perpisahan, bukanlah sesuatu yang mereka harapkan.
.
.
.
.
"Baekhyun, handphone mu berdering terus menerus dari tadi. Ku rasa itu penting" ujar Soo In, salah satu karyawan yang bekerja di cafe bersama Baekhyun. Baekhyun mengalihkan pandangannnya dan menatap ke arah handphone nya yang berbunyi.
"Akan ku angkat nanti, aku sedang mengerjakan ini" jawab gadis itu kembali sibuk menaruh piring-piring bersih ke tempatnya.
"Baiklah, maafkan aku tidak bisa membantu mu, Baek. Aku harus segera pulang, sampai jumpa besok" Baekhyun mengangguk mengerti dan melanjutkan aktivitasnya. Setelah beberapa menit, dia pun selesai. Tinggal mesin kasir, batinnya.
Handphone mungil nya terus berdering, membuat Baekhyun mengarahkan dirinya ke tas selempangnya itu, lalu mengambilnya.
"Halo" sapa Baekhyun ramah mengangkat handphone nya tanpa mengetahui siapa lawan bicaranya. Gadis itu tengah sibuk melepaskan apron yang melekat dibadannya, hingga dia dengan asal mengapit benda komunikasi itu di antara pundak dan lehernya.
"Halo..." ujar Baekhyun lagi ketika setelah beberapa detik dia tidak mendapatkan balasan apapun. Tangannya yang sekarang sedang sibuk mengelap mesin kasir itu akhirnya berhenti ketika dia mendengar suara deruan nafas dari seberang. Semua tampak bisu membeku, dan dia tidak suka itu.
Karena keheningan membuatnya mendengar denting jam yang jarang ia dengar, karena kebisuan membuatnya mendengar suara-suara kecil yang tidak penting untuk dia dengar, karena kesunyian membuatnya bisa mendengar suara detak jantung yang terus memompa kencang dan menyadari bahwa perasaan itu dengan bodohnya masih ada, Dan jika sudah begini, dia tidak bisa berpikir mengenai apapun.
"Baek,..." Baekhyun masih terdiam, nafasnya tercekat dan lidahnya kelu untuk berbicara.
"Apa..." Gadis itu menggigit bibir bawahnya, sakit menjalari hatinya.
"...kabar?" Dan air mata sukses mengaliri pipinya. Lagi dan lagi, dia menangis layaknya seorang bayi. Isakan lolos dari bibirnya, dia tidak peduli lagi, dia tidak ingin berpikir apapun. Pertahanannya runtuh, dan dia tidak menyesali itu.
Saat tiga kata itu meluncur dari mulut Chanyeol, Baekhyun merasa kembali hidup. Dia tersenyum.
"Aku...merindukanmu..."
.
.
.
.
Baekhyun tidak pernah mencari cinta, karena...cinta yang menemukannya. Cinta yang menghantarkan nya pada sosok Chanyeol. Itulah yang disebut jatuh cinta, karena Baekhyun tidak memaksa dirinya untuk jatuh. Dia hanya terjatuh.
Baekhyun tak peduli ketika Chanyeol tidak dapat memberikan nya cinta, Baekhyun tak peduli ketika Chanyeol tidak dapat menjanjikan kebersamaan, Baekhyun tak peduli ketika Chanyeol tak bisa menyerahkan hidupnya. Karena Baekhyun hanya peduli bagaimana Chanyeol menerima itu semua darinya.
Jika saja permainan hidup sederhana, Chanyeol pasti akan mencintai Baekhyun. Jika saja semuanya sederhana, maka Baekhyun akan menggengam tangan Chanyeol sebanyak yang ia mau dan Baekhyun akan berada disisinya sebanyak yang ia inginkan. Baekhyun akan terbangun dan mendapati bahwa Chanyeol disisinya, mendapatkan ciuman pagi nya dan mereka akan sarapan bersama, bersenda gurau, terpisah ketika pekerjaan harus dilakukan, pulang dengan kerinduan yang membuncah lalu membagi cinta yang tak ada habisnya. Baekhyun akan mengatakan berulang-ulang, bahwa Chanyeol adalah suatu keajaiban yang datang untuknya. Sesuatu yang ia sebut hidup, karena tanpa Chanyeol, Baekhyun rasa 'hidup' tidak akan ada dalam kamusnya.
Mencintai Chanyeol itu indah, tapi hanya karena cinta itu indah...bukan berarti cinta itu selalu bahagia.
Baekhyun menyeka air matanya, sosok didepan nya ini memburam, karena air mata gadis itu semakin mengalir deras. Pemuda itu masih sama. Rambutnya, alisnya, matanya, hidungnya, pipinya, bibirnya, telinganya, tingginya, jemari panjangnya dan mungkin hatinya. Tapi Baekhyun tidak keberatan.
"Hei, Baek" sapanya.
Chanyeol, pemuda itu tampak kikuk namun pada akhirnya dia melangkahkan kaki panjangnya mendekati Baekhyun lalu memberikan gadis itu sesuatu. Sebuah kupon berwarna biru muda, Baekhyun menyunggingkan bibirnya.
"Hei..." ujar Baekhyun bergetar.
Mencintai Chanyeol, bukankah tidak ada seorang pun yang melakukannya lebih baik dibanding Baekhyun?
Baekhyun tersenyum menatap Chanyeol yang juga tersenyum. Mereka bahagia.
The last rule : Never lose your hope on him eventhough just once
Karena Baekhyun tau, Chanyeol pasti akan berada di sampingnya, mungkin tidak di awal, mungkin tidak dipertengahan perjalanan, namun pasti ada di akhir nanti.
-END-
.
.
.
Well, its ended ;) Hehe, aku pikir ini happy ending yang paling menggambarkan angst di ff ini, so please bear with me if you feel empty after read the ending :) Tapi ini beneran happy ending kok kalau kalian cermati kenapa ini bisa happy ending, kekeke.
Dan adakah rule atau qoutes favorit kalian? Terutama buat yang mengalami cinta tak berbalas? Hehe. Selain buat menghibur, aku harap kalian dapet suatu ilham *?* dari FF ini. Kalau masih ga engeh juga, mohon di cermati percakapan Kyungsoo sama Baekhyun yaa di FF ini, itu pembelajaran banget sih buat kita semua menurut ku;) Oke kebanyakan cuap-cuap.
Anyway, aku berterimakasih banyak buat yang udah mau baca FF alay ini, buat yang udah follow, favourite dan terutama yang review, because damn, I feel good if you can cry or feel the pain because this terrible fanfic ;) I love angst so much, kekeke. Tiap review yang masuk udh ku bales lewat PM ya ;) Buat yang guest akan aku bales dibawah ini. Semoga bisa menghibur dan salam Chanbaek!
ooh aah umh ohh ahh yeahh : Iya, aman, tentram dan nyaman *?* Hehe. Aku bosen habis nya, jadinya pake OC aja deh, kekeke. Iya aku ga tega juga, but fanfic must go on, jadilah dia aku nelangsain, hehe. Dan sudah berakhir yeay :) Semoga bisa menghibur yaa walaupun chapter nya pendek ;) Makasih banyak udh mau baca dan review. Maaf bgt LiL nya blm dilanjut, aku lg kena WB *jd curhat* Hehehe. Semangaat!
Alice : Tapi itu kamu ngomong sesuatu, hehehe *candaan alay* dan kamu juga nulis komentar *lebih alay*. Ini open ending mengarah ke happy ending sih menurut aku, krn emang dr awal udh kepikiran nya kaya gini. Tapi semoga angst nya tetep dpt sampe scene terakhir, keke. Makasih banyak udh mau baca dan review ;) Semoga bisa menghibur yaa
Baekkie : Maafkan aku membuat mu sesak :( Huhuhu. Ini udh di next yaa, dan chapter terakhir jugaa, semoga suka. Makasih banyak udh mau baca dan review ;) Semoga bisa menghiburr
parkobyunxo : Hehehe, walaupun ini komen buat chapter 1, aku bales aja yaa ;) Iyaaa, kan udh ambil angst dr awal, biar kerasa aja feel nya, hehe. Jangaaaann, nanti bebek marah sm kita, Chanyeol dijahatin, keke. Makasih banyak udh mau baca dan review ;) Semoga bisa menghiburr
akiraaayyyee : Ya ampun, iya sama banget cerita aku sm pengalaman hidup kamu, jangan-jangan kita memiliki ikatan batin? *mulaidrama*. Soal keluarga kamu, aku juga sedih denger nya :( Sabar ya cantik, pasti berat, tapi semua ada hikmahnya kok. Ya walaupun kalian jadi ga kontakan atau apapun itu, mungkin emang jalan nya yg kamu pilih begituu. But cheer up yaaa, ga apa curhat aja, aku malah seneng denger nyaa, hehe. Yang pasti sih jadikan pengalaman berharga aja yg bisa bikin kita tambah dewasa, dicintai menjadikan kita kuat, dan mencintai menjadikan kita lebih berani menghadapi semua #asssek #diamkan. Dann makasih banyak udh mau baca dan review ;) Semoga bisa menghiburr. Boleh buat akun terus PM aku kalo mau curhat lagii, hahahaha
erika ramadhanty : Woaaahh aku dimintain pertanggung jawaban, selamatkan aku baek, huhu #alay. Ini udh di next yaaa, udh end jugaa yeay, hehe. Makasih banyak udh mau baca dan review ;) Semoga bisa menghiburr.
