.
Rasanya seperti menjadi istrinya Pak Guru Erwin! Sebagai-ketua-kelas, apapun urusanku adalah urusan Pak Guru Erwin juga. Setiap hari harus ada laporan yang masuk untuk dikonsultasikan dengan Pak Guru Erwin. Negatifnya, aku tidak se-bebas dulu, namun sisi positifnya aku selalu ada di dekat Pak Guru Erwin. Petra yang ada di surga, mungkin beginilah harusnya aku dekat dengan orang yang-kau-tahu, aku selalu cintai ini. Tapi, aku masih tidak mengetahui apa alasannya ia menolakku dulu? Toh, sejauh ini aku dan Pak Guru Erwin baik-baik saja. Mungkin kalau dulu ia menerima cintaku, kami bisa dekat begini jauh lebih lama.
.
.
.
"Jadi begitulah perjuangan kelas Scouting 3 dalam menghadapi pertandingan olahraga nanti pak, hanya saja Reiner dan Berthold masih sedikit bingung dengan formasi tim basket kelas kita," jelasku. Kami kini di perpustakaan, dan ini sudah minggu ke-6 aku sebagai siswi kelas 3 SMA. Sebetulnya sih, aku sekalian ingin mengutarakan pada Pak Guru Erwin kalau Berthold sangat susah diajak bergabung dalam tim. Padahal, 'soulmate'-nya Reiner, aku tugasi untuk mengawas tim olahraga kelas! Huh... susahnya jadi ketua kelas!
.
.
"Sebaiknya kalian latihan lebih giat lagi, kalian pasti bisa!" Pak Guru Erwin menyemangati. Aku kembali tertunduk lesu. Kami berdua ternyata bisa sedekat ini, kami mungkin saja bisa berpacaran, kenapa bapak menolakku waktu itu sih!
.
.
"Ehm... ngomong-ngomong, bolehkah saya bertanya satu hal?"
.
.
"Tentu, aku akan menjawabnya!" Pak Guru Erwin menjawab pertanyaanku dengan tangan yang masih bekerja, menilai hasil ulangan 'dadakan' kami hari ini.
.
.
"Waktu, itu... kenapa anda menolakku?" tanyaku penasaran.
.
.
.
Pak Guru Erwin meletakkan penanya, lalu menatapku dan tersenyum, sekali lagi senyumannya membuat lututku lemas.
"Aku ingin bertanya padamu kalau begitu," jawabnya sambil terus memandangi diriku, "Apa alasanmu mencintaiku?" tanyanya,
.
.
"Tentu saja karena kau tampan, dan baik, itu alasanku mengapa aku sangat mencintaimu," jawabku tanpa pikir panjang,
.
.
"Kalau begitu kau masih belum mengetahui diriku," jawabnya, meski begitu ia tetap melemparkan senyumannya padaku, "Maaf Levi, kau harus berubah," lanjutnya.
.
.
Ah... setahun yang lalu juga ia berkata seperti itu padaku. Aku memang sedikit lebih tomboy dari remaja putri kebanyakan. Orang seperti Pak Guru Erwin pastinya akan jatuh cinta pada gadis yang lebih feminim.
.
"Begitu ya? Maafkan aku telah berkata yang tidak-tidak," aku menyesal,
.
.
"Tidak apa, hmm..." ujar Pak Guru Erwin sambil kembali memegang penanya dan menarik nafas panjang, "Mungkin dengan begini, kau bisa mengetahuiku lebih dekat Levi," lanjutnya kemudian.
.
.
Aku tertegun mendengar hal itu, Petra... beritahu aku apa maksud Pak Guru Erwin tadi? Apakah aku diberikan kesempatan kedua, atau hanya perasaanku saja?
.
.
.
"Oh ya... kau benar-benar harus berubah Levi!" ujar Pak Guru Erwin sambil memperlihatkan kertas ujianku. Oh... aku malu sekali! Ada angka 30 dengan tinta merah di sana!
.
.
.
.
Hanji teman sebangku-ku tertawa terbahak-bahak. Ia sampai berkali-kali mengelap kacamatanya yang sudah ternoda dengan airmatanya. Kadang, tangannya jahil menunjuk-nunjuk hasil ulangan yang sengaja ditempel Pak Guru Erwin di depan kelas.
.
.
"Levi... kau itu ketua kelas, kenapa kamu dapat nilai seburuk itu?" ujarnya sambil terpingkal-pingkal, itu membuatku malu!
.
.
Setelah peristiwa perpustakaan itu, Pak Guru Erwin langsung memerintahkanku untuk mengambil cuti dari kegiatan beladiri. Kini setiap sore aku mengikuti kelas tambahan Bahasa Inggris. Aku benar-benar di suruh belajar jadinya! Bahkan Pak Guru Erwin memerintahkan semua anggota klub beladiri untuk mengusirku kalau aku datang untuk latihan. Aku sendiri tidak tahu kenapa nilaiku se-hancur-itu? Yang aku tahu, aku benar-benar tidak belajar waktu itu. Uh... aku tidak suka seperti ini... maksudku dipermalukan seperti ini! mana syarat untuk terbebas dari kelas tambahan itu sangat tinggi! Aku harus mendapatkan minimal 90! Bagaimana bisa aku mendapat nilai se-sempurna-itu?
.
.
"Sialnya hanya aku yang ada di kelas tambahan itu," aku mengeluh, mendadak suara Hanji yang tertawa keras tadi menghilang,
.
.
"Eh...? kelas Garrison? Kelas PM? Tidak ada yang ikut?" tanyanya penasaran, aku kembali tertunduk malu,
.
.
"Mungkin mereka jauh lebih pintar dariku," ujarku malu, aku sampai menutup mataku!
.
.
.
'Mungkin Pak Guru Erwin benar-benar ingin dekat denganmu!'
.
.
.
tiba-tiba suara itu masuk ke dalam telingaku. Aku langsung membuka mataku cepat-cepat, ahh... Diary-ku... mataku langsung tertuju pada fotomu Petra! Itu pasti kau, kau memang sahabat terbaikku Petra, selalu menghiburku bahkan setelah kau tiada!
.
.
"Levi... kau tidak apa-apa?" tanya Hanji sambil mengibas-ngibaskan tangannya tepat di wajahku. Seketika aku menggeleng kemudian menjawab,
.
.
"Ah... bukan apa-apa! Memangnya kenapa?" tanyaku.
.
.
"Kau tahu, sejak Petra meninggal, kau selalu terlihat murung, tidak jarang kamu langsung melamun, itu sebabnya Pak Guru Erwin selalu menegurmu," sejenak kami saling melempar diam. Aku tidak berani menyanggahnya karena ia memang benar kali ini!
.
.
"Berubah bukan berarti kamu melupakan Petra! Kau tahu, walaupun aku dan Petra hanya bersahabat selama 2 tahun, tapi aku tidak pernah melupakannya. Kalian sahabat terbaikku kau tahu itu kan'?" Hanji bertanya sambil menyikut diriku, aku membalas sikutannya dengan menyikutnya kembali. Kami berdua memang terlihat seperti laki-laki kalau sudah ngobrol santai begini.
.
.
"Lagipula Petra pasti sedih melihatmu terus seperti ini," sambungnya sambil menghela nafas, seolah dia tidak begitu setuju dengan sikapku ini.
.
.
.
.
~Teng...tong...~
.
.
.
.
Suara Bel membebaskan sejenak pikiranku tentang sikapku yang memang aneh sejak Petra meninggal. Aku mendadak teringat satu nama, ya... dialah saksi hidup peristiwa 'penembakkan' itu. Tepatnya dialah korbannya, hanya ada dua orang yang mengetahui peristiwa 'penembakkan' itu, Petra dan Pak Guru Erwin sendiri. Kemarin, setelah kelas tambahan usai, Pak Guru Erwin menitipkan catatan untuk kelasku. Nampaknya hari ini dia absen, dia tidak pula memberitahukan ku kenapa dia tidak masuk hari ini. Dia hanya berjanji akan kembali pada jam pelajaran ke 8, tepatnya setelah istirahat makan siang nanti.
.
.
"Semuanya, tolong perhatiannya!" ujarku dengan suara lantang, aku bergegas berjalan menuju depan kelas. Sambil berdiri tegak, dan memegang kertas bertuliskan catatan, aku menatap seisi kelas yang mulai tenang. Setelah aku merasa tenang, aku mulai melanjutkan kalimatku,
.
.
"Untuk satu jam kedepan, kita akan belajar sendiri, dan tugas hari ini adalah mencari novel Bahasa Inggris di perpustakaan dan menerjemahkan isinya..." ujarku, seiring dengan berakhirnya kalimat itu, ada satu pertanyaan dalam hatiku yang terus berkembang. Kemana perginya Pak Guru Erwin?
