Bab 3
Chasing you
Disclaimer: Karakter sojiro seta milik nobuhiro , nenek udon, hana dan yuki adalah milikku :D
"Sojiro! Sojiro!"terdengar suara bentakan dari kejauhan. Suara bentakan yang familiar. Saudara saudaraku? Aku menghampiri asal suara itu. Aku rindu sekali dengan suara mereka. Oke... mereka adalah orang – orang yang pernah jahat padaku tapi entah kenapa aku kangen dengan mereka.
"Sojirooo!"jerit mereka. Begitu Sojiro menemukan mereka, mereka melotot pada Sojiro. Sojiro terkesiap sebab di tangan masing-masing dari mereka tergenggam pedang. "Kurang ajar kau Sojiro!" jerit mereka mengayunkan pedang. Sojiro ketakutan, gemetaran. Beginikah akhir dari sojiro tenken?
Tiba-tiba suara tuan shishio terkenang di benakku. "Yang kuat hidup yang lemah mati!"serunya. Bersamaan dengan itu suara himura-san terdengar pula. "Justru karena kita kuat, kita harus melindungi yang lemah!"
"Aaaaaaaa..."jerit Sojiro saat kedua pedang saudaraku itu mengayun kearahnya. Bzzzzzzt!
Sojiro membuka matanya...
Seberkas cahaya masuk dari dinding-dinding jerami kediaman nenek udon. Sojiro terkesiap. Sudah jam tujuh pagi? "tidurmu nyenyak sojiro?"tanya nenek udon sambil tersenyum padanya. Ia sudah memakai kimononya dengan sanggul yang rapi. aduh, malu masa kalah bangun sama nenek-nenek.
"hahaha... iya nek!"tawa Sojiro langsung bangkit dari tidur.
Sojiro mandi dan sarapan. Begitu melihat lantai di rumah nenek udon kotor, ia langsung membersihkannya. Setelah melihat tidak ada yang bisa dilakukan lagi terkait bersih-bersih Sojiro bertanya pada nenek. "Nenek apa ada hal lain yang bisa sojiro bantu?"tanya Sojiro.
"Bisakah kamu mengawasi kedai teh?"tanya nenek udon. Sojiro tertawa. Itu sih mudah.
"memang nenek mau kemana?"tanya Sojiro.
"nenek belum mandi sedari pagi,"kata nenek udon. Euuh! "siap!"senyum Sojiro.
Nenek udon pun bersiap mandi. Sojiro sementara itu segera ke halaman rumah nenek udon dimana terletak kedainya. Seperti biasa, kedai teh nenek udon tidak ada pelanggannya.
"ayo.. ayoo... silakan ke kedai teh Okin!"seru orang di warung kedai teh sebelah. Mereka berdiri di depan jalan sambil membawa menu makanan. Beberapa pria yang sedang melintas langsung ke kedai teh itu. Siyaaal... kalau begini caranya bagaimana warung nenek udon laku?
Sojiro bangkit dari duduknya. "Baiklah Sojiro, ayo kita lakukan agressive marketing!"serunya pada dirinya sendiri. Sojiro pun segera turun ke jalan, menebar senyum mautnya dan berkata, "ayo ke kedai nenek udon aja! Muraah! Lebih murah!"senyum Sojiro. Beberapa remaja cewek memandangi Sojiro.
"uwaaaaa... cakepnya cowok itu!"
"seperti artis kabuki ya!"
"siapa dia?" tanya cewe-cewek itu.
Sojiro tersenyum kearah mereka. "hai. Kenalkan namaku sojiro,"kata Sojiro ke arah mereka. Kyaaaa... salah satu dari cewek itu mimisan! "maaf... maaf,"kata cewek itu memerah.
"Tidak apa-apa. Silakan datang ke kedai teh Udon!"seru Sojiro tertawa ceria. Dan kerumunan cewek pun bertambah banyak. Mereka pun pergi ke kedai Udon. Karena banyak remaja puteri, banyak pula remaja putera yang akhirnya singah ke kedai teh udon. Sojiro yang menyajikan teh. berkat pengetahuan Sojiro mengenai cara penyajian teh yang baik karena bertahun-tahun diajari kak Yumi, pacarnya tuan Shishio, teh racikan sojiro terasa sedap.
"Hmmm... enak sekali!"seru pemuda salah satu pengunjung teh sojiro. Sojiro tertawa.
"terimakasih! Saya pernah belajar dari ahlinya. Kebetulan kakak saya seorang geisha!"senyum Sojiro.
"oh ya? Bagaimana caranya?"tanya pemuda itu.
Sojiro mengedipkan mata. "rahasia doong!"Serunya sambil tertawa. Pengunjung perempuan tertawa semua.
Begitu nenek Udon keluar dari kamar mandi, ia takjub melihat kedai tehnya laku. Seluruh kursi terisi bahkan ada yang mengantri.
"ayoo Silakan datang ke kedai Udon!"seru Sojiro.
Sojiro melihat nenek udon yang terdiam dan terpaku. "nenek! Bagaimana kedai teh nenek?"senyum Sojiro. Nenek Udon ingin sekali mengucapkan terimakasih. Setelah bertahun tahun ditinggal pelanggan, kedai ini hidup kembali namun kata-kata pujian tidak jadi keluar. "Nenek yang cuci piringnya ya!"senyum nenek udon. Sojiro tertawa. "baiklah!"
Malam pun tiba, kedai udon pun ditutup kembali. "terimakasih, datang lagi esok hari ya!"senyum sojiro.
"iya!"
"pasti!"
sojiro menghitung uang. "alhamdullah nek, laba bersih satu juta! Kalau begini terus kita bisa mereparasi rumah nih! Kedai juga harus di reparasi nek, bangkunya banyak yang goyang, kalau mebabhayakan pelanggan kan kedai jadi kurang laris! Oh iya, nenek juga butuh asuransi kesehatan ya! Hmmm...,"kata Sojiro. Nenek udon tertawa.
"simpan saja dulu uangnya, kita harus hidup hemat!"seru nenek udon.
"Oke!"senyum Sojiro.
"Ah... nenek lupa! Kita harus belanja untuk bahan bahan teh besok. Kita menghabiskan banyak stok hari ini!"seru nenek Udon.
Sojiro membelalak. "waah iya! Sudah malam pula." "tidak apa apa biar besok pagi nenek udon yang belanja."
"jangan gitu nek! Kalau besok pagi bahan tidak siap tepat waktu kan kasihan pelanggan yang menunggu kita. Biar sojiro aja yang belanja malam ini!"seru Sojiro.
Ia mengambil uangnya. "hati-hati sojiro!"seru nenek Udon. Sojiro hanya membalas sambil mengangguk dan tersenyum.
Tokkaido adalah kota kecil yang sedang berkembang. Meskipun sudah jam delapan malam, kota masih saja hidup. Lampu lampu minyak bertebaran. Industri hiburan dan sembako masih tetap buka. Sojiro tengah mencari toko yang menjual daun teh lebih murah ketika seorang anak kecil menabraknya. "aww... hati hati dong!"seru anak kecil itu padahal dia sendiri yang menabrak.
Sojiro tersenyum. "ya!"
"minggir, Nona Misaki mau lewat!"seru anak kecil itu. Sojiro membalik badannya. Ternyata anak kecil itu tengah menggiring seorang wanita cantik berdandan menor bak geisha. Sojiro membelalak saat melihat wanita cantik itu, meskipun di penuhi pupur putih, sojiro tahu dia geisha yang sojiro lihat di lembah Tokkaido dulu.
"aaaaaaa...,"kata Sojiro terbelalak. "permisi tuan,"senyum wanita cantik itu. Ia terus berjalan dengan anggun. Begitu lurus.
"apa anda sedang terburu-buru?"tanya Sojiro. Wanita itu hanya mengangguk. Namun tidak sekalipun menoleh ke Sojiro.
"aku adalah pria yang melihat nona menari di lembah, aku... mengagumi nona! Aku bekerja di kedai teh Udon. Tidak jauh dari sini. Saya harap nona sudi mampir,"kata Sojiro. Ia bicara sambil berjalan mengikuti langkah Misaki.
"kedai jelek itu? Mana mau nona misaki, geisha tercantik di Tokkaido kesana,"tawa anak kecil itu. Namun Sojiro tersenyum. Pleasee..., pikir sojiro saat itu.
Klek! Tiba tiba saja sendal geisha misaki copot.
"Misaki tunggu!"seru Sojiro namun Misaki tidak peduli. Ia terus berjalan tanpa sendal. Kaos kakinya belepotan lumpur. "Misaki sendalmu copot!"seru Sojiro.
Anak kecil itu kali ini mendukung sojiro. "kakak, sebaiknya kita berhenti sebentar!"seru anak kecil itu.
"iya benar Misaki! Sebaiknya kamu berhenti!"ujar seorang bapak bapak yang melewati misaki, Yuki dan Sojiro. Sojiro menengadah ternyata banyak orang sedang menonton mereka bertiga.
"Tayu misaki memang cantik dan rajin ya!"
"benar – benar kecantikan tradisional!"
"tetapi kalau dibiarkan begitu saja kakinya bisa terluka!" desis mereka memuji sekaligus khawatir.
"Tidak bisa, Yuki. Aku adalah seorang geisha. Aku harus tetap berjalan karena pelangganku sedang menungguku!"seru Misaki. "Tapi kakimu!"seru Sojiro. Misaki kali ini menatap Sojiro. "aku seorang geisha!"serunya tegas sambil tetap berjalan.
Tatapan matanya membuat Sojiro terkesiap. Alangkah cantik, teguh dan lurus pemikirannya. "aku mengerti!"seru Sojiro. Dengan kecepatan cahaya ia berlari ke toko sendal terdekat, membeli sendal dan kembali lagi pada misaki. Begitu cepat sampai-sampai tidak sampai sepuluh detik. Sojiro sudah ada lagi disampingnya lagi.
"pakailah ini!"serunya dengan sendal jepit baru.
Misaki terperangah. "sejak kapan kamu? Tadi...,"kata Misaki. Sojiro membungkuk dihadapan Misaki dan memakaikannya sendal. Sementara misaki bertumpu pada punggung sojiro. Aroma parfum misaki begitu harum dan lembut. Wangi mawar.
"Terimakasih!"seru Misaki. Tapi ia tidak tersenyum. "Sama-sama,"kata Sojiro. "Namaku Tayu Omisaki dari Rumah hiburan Okawara, sekali lagi terimakasih,"kata Misaki. Sojiro baru saja mau bicara ketika misaki berjalan lagi.
"Ya ampun...,"kata Sojiro. Dia terdiam. Di jalanan, di posisi yang sama.
Tiba-tiba seorang wanita mencoleknya. Sojiro menoleh. Ternyata seorang geisha lain. Bukan misaki tapi wanita lain yang berwajah manis, tidak cantik. "Jangan tersinggung,"senyum wanita itu. "Misaki itu orangnya memang seperti itu. Dia tidak pernah tersenyum. Tapi kalau menari cantik sekali!"seru wanita itu. Sojiro tersenyum.
"Tidak... aku tidak tersenggung. Dia hanya begitu cantik, begitu lembut dan harum,"senyum Sojiro. Geisha manis itu mengernyit.
Ia melambaikan tangannya pada garis pandang Sojiro. Tapi sojiro tidak sekalipun berkedip dari punggung misaki yang sudah jauh di depannya. "oh boy... you really in love with her, do you!" tawa geisha itu. Sojiro tersenyum padanya.
"Ayo kita minum bareng, namaku Ohana!"tawa geisha itu. Sojiro tersenyum. "sojiro seta."
BERSAMBUNG
