Terima kasih atas review di chapter sebelumnya :
Oh. ILoveCupcakes—Yes. Sy jg cinta(?) dgn setting canon. Apalg, masih bgitu banyak hal yang bisa digali n dijadikan cerita dari canon Bleach. Sy pnya impian buat fic dari setiap tokoh Bleach yg bukan tokoh utama alias tdk dapat porsi banyak di manga/anime. Bosan aja liat tokoh itu terus di manga, eh jd tokoh utama jg di fic#plak Tapi dgn buat fic setting AU, jujur sy lebih banyak belajar drpd buat canon. Terutama karakter tokoh. Karena kelemahan fic setting canon itu adalah karakternya yg nyaris itu-itu saja. Tapi dgn setting AU, author bisa lebih mengembangkan karakter yg sering tidak bisa dilakukan di canon. Hehe, sy banyak omong, ya./ Tidak. Tidak. Tidak. Kakak bener kok. Setelah baca lg, ada beberapa kalimat yg jomplang n rancu. Nanti sy edit./ nah, jawaban pertanyaannya akan muncul di ch depan./ makasih udah review ya, Kak Cupcakes.
Terima kasih pula ma yg udah login (sudah sy balas di PM-nya masing-masing): Hayi Uchiha | Akari Hikari | Kujo Kasuza Phantomhive | ichirukilover30 | Syl The tWins | Shin Key Can | Reiji Mitsurugi
.
.
.
Bleach © Tite Kubo
.
Genre:
Hurt/Comfort; Friendship
Romance (tenang, ada kok. Pair-nya kan HitsuRuki. Tapi mungkin di awal2 masih belum keliatan, hehehe)
Warning:
OOC (stadium akhir); AU (tidak ada yg namanya Shinigami2an atau Hollow apalagi espada); siapkan obat sakit kepala sebelum dibaca; istilah medis yg seenaknya dipake author yg jelas2 tidak tahu apa pun ttg dunia medis
.
Terinspirasi dari:
Grey's Anatomy © Touchstone Television
Surgeon Bong Dal Hee © SBS TV
Team Medical Dragon © TV Asahi Entertainment
.
.
.
.
.
Kau akan begitu bangga dengan "hidup" ketika bisa membuat senyum mengembang di wajah orang-orang yang menyayangimu.
Ibunya pernah bilang seperti itu.
Awalnya, Toushiro tidak mengerti. Maklum, umurnya baru lima belas tahun ketika itu, ketika kesenangan hidup sebagai laki-laki remaja lebih mendominasi hari-harinya.
Namun akhirnya, ia paham juga.
Kala orang yang disayanginya terenggut nian kejam darinya. Tidak ada peringatan. Tidak ada alarm. Hari itu tanggal 20 Juni, orang tersebut menghilang begitu saja. Tidak ada kata perpisahan.
Ia mendadak jadi kelimpungan tiada tara. Kepada siapa ia akan berbagi kegembiraan setelah klub sepakbolanya menjadi kampiun di kejuaraan? Kepada siapa ia berkeluh-kesah ketika putus asa akan impian masa kecilnya datang menyerang? Siapa yang akan memberinya dukungan untuk tidak pernah menyerah mengejar mimpi selama diri masih berpijak di bumi?
Kala itu ... kebanggaan untuk segera menapaki "hidup" sebagai laki-laki yang bisa diandalkan; kebanggaan untuk segera merengkuh impian sejak kecil ke dalam genggaman lima jarinya; kebanggaan untuk segera menjadi pesebakbola hebat se-Jepang—melayang sudah.
Orang itu membawanya pergi.
.
.
.
LIFE: Wish and Hope
.
# 3 #
Siapa Kau?
.
.
.
Tiga-empat butir keringat menetes, membasahi punggung tangan yang nyaris tanpa jeda memompa jantung pasien, Rukia Kuchiki. Menekan dada puluhan kali, tak sedetik pun Toushiro hilang asa bahwa degup jantung perempuan itu kembali normal. Walau getir akan kenyataan harus ia rasakan bahwa tidak ada yang bergerak untuk membantunya.
Ia seorang diri.
"Tolong hidup. Tolong hidup. Tolong hidup," tutur Toushiro bak mengucapkan mantera. Tak ada lelah. Tak ada yang namanya putus asa. Tak ada kata mundur.
"Hitsugaya-sensei—"
"DNR atau tidak, dia harus hidup!" bentaknya galak kala Yoruichi mencoba menyela.
Angkat tangan, Yoruichi mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Melihat Toushiro begini, ia yakin tak ada upaya satu pun yang sanggup membendungnya. Ia tidak tahu hubungan yang mengikat pemuda ini dengan Rukia Kuchiki. Namun terserah apa itu, jelas bukan hubungan biasa hingga mampu menyeret dokter yang loyal pada aturan, melanggarnya tanpa tedeng aling-aling.
Wanita berkulit gelap itu pun menghentikan Ggio ketika si pemuda berkepang ingin turun tangan. Memegang pundaknya dan menggeleng kalau percuma saja.
"Siapkan defibrilasi1)!"
Seruan perintah mendadak menguar di tengah-tengah penghuni kamar 1420. Senna menyeruak masuk, memutuskan untuk berhenti berpangku tangan. Ia yang ikut jadi "penonton" di ambang pintu akhirnya tidak tega melihat Toushiro berjuang sendirian.
Sayang, tidak ada yang beranjak dari tempatnya. Tidak ada dari mereka yang mau kena sanksi karena hal ini.
Maka dengan tangan sendiri, perempuan berkuncir itu meraih paddle2) defibrilator, melumurinya dengan jeli setelah merenggut dari seorang perawat, lalu mengulurkan pada Toushiro.
"Gunakan daya 200!"
Senna menekan tombol berangka 200, dan menyahut, "Daya 200 siap!"
"Mundur!" Meletakkan sepasang lempeng logam pada kedua sisi dada Rukia, ia menekan tombol, dan—"Shock!"
Tubuh yang hanya seberat 38 kilo itu mengejang hebat setinggi seperempat meter. Pandangan manik hijau Toushiro berpaling pada monitor yang tidak berubah banyak. Untuk sekali lagi, kedua paddle digunakan dengan harapan yang jauh lebih besar. Namun sayang, pil pahit kembali ditelan ketika garis di monitor tetap tidak berubah.
"Kumohon. Kumohon."
Kini Toushiro kembali ke upaya sebelumnya, menekan dada dengan pautan sepuluh jari.
"Hitsugaya-sensei, ini sudah hampir dua puluh menit."
"Diam!" hardik Toushiro, membuat Ggio berpikir seribu kali untuk kembali mengusiknya. "Kau tidak punya hak untuk memutuskan!"
Berkacak pinggang lesu, laki-laki berbola mata emas itu menghela napas berat. Seumur-umur mengenal Toushiro, ia tak pernah mendapatinya berkelakuan seperti ini. Perhatian ia alihkan pada Rukia Kuchiki yang tetap berkondisi sama. Lalu menghela napas lagi, lebih pendek.
"A-ada...!"
Seorang perawat memekik kaget mengiringi hilangnya suara monitor pertanda darurat. Perlahan namun pasti, garis menjelma jadi gelombang sempurna bersama angka-angka yang bertambah stabil. Dengan cekatan, Senna membawa stetoskop meraba dada Rukia dan menggangguk gembira di detik berikutnya.
Seolah beban seberat satu ton baru terangkat, punggung dan pundak terkulai lega. Tidak ada apa pun, selain tarikan napas syukur yang terdengar dari mulut Toushiro. Ia menatap lekat Rukia sambil melantunkan sumpah untuk tidak akan membiarkan gadis itu berkondisi seperti ini lagi.
Kepala putih menoleh ke belakang ketika Yoruichi memegang pundak dan mengangguk yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Malam itu pukul 20.15, satu nyawa yang harusnya dibiarkan hilang begitu saja telah kembali setelah sikap keras kepala seorang dokter magang melangkahi hukum medis. Biarpun demikian, tidak cukup untuk memblokir senyum lebar dan decakan senang yang memenuhi nyaris semua wajah di kamar 1420.
Paling tidak untuk hari ini, mereka tidak perlu lagi berhadapan dengan kematian seorang pasien.
.
.
.
.
.
Insiden DNR yang tidak disepakati oleh dokter di kamar 1420 merebak cepat bak bau kentut Renji hanya dalam waktu setengah jam. Ikkaku yang dikenal pula sebagai si Telinga Besar membawa langkah panjang dan gesitnya menuju ruang loker setelah mendengar berita tersebut. Menghakimi pelaku utama yang telah mencoreng namanya.
"Bisa jelaskan, apa maksudnya ini, Hitsugaya-sensei?" Tidak suka dengan Toushiro bukan arti Ikkaku akan girang dengan kelakukan semena-mena pemuda itu. Ia tahu betul bahwa Toushiro cinta dengan profesinya, dan tentu laki-laki ini tidak—"Ingin keluar dari rumah sakit?"
"Tidak."
"Lalu apa alasannya? Dia keluargamu?"
"Bukan."
"Pacarmu?"
"Bukan."
Lalu apa sebabnya? Bukan keluarga, bukan pacar. Kemudian siapa perempuan itu? Pertanyaan itu berputar-putar di kepala plontos Ikkaku. Sebelum sadar kalau magang yang tidak terlibat berdiri di ruangan yang sama.
"Dan kalian bertiga, apa yang kalian lakukan di sini?" singgungnya pada Ggio, Renji, dan Senna. "Keluar sana!"
Bak itik yang diusir keluar kandang, mereka pun berbaris rapi menuju pintu. Tapi, satu dari mereka bergeming di tempat.
"A-aku terlibat, Madarame-sensei," beber Senna, sebelum Ikkaku bertanya lebih dulu. "Maksudku ... aku membantu Hitsugaya-sensei."
"Tidak," Toushiro menyalip cepat. "Dia tidak salah. Aku yang memaksanya."
"Hitsu—"
Kata-kata Senna tersendat ketika Toushiro menatapnya lurus sambil menggeleng bahwa ia yang harus menanggung semua ini seorang diri. Enggan-engganan, perempuan berambut ungu itu melangkah keluar, menutup pintu setelah memandang Toushiro sebentar.
Ikkaku menurunkan tangan dari pinggang, mencairkan suasana yang sedingin lemari es setelah Senna pergi. Berjalan melewati Toushiro, memegang pinggiran wastafel dengan kedua tangan. Dipandangnya cermin hasil pantulan punggung pemuda yang sok kalem di belakangnya.
"Jangan harap aku berbaik hati padamu, Hitsugaya."
Berbeda dengan tempo hari ketika Toushiro terkena masalah (terlambat datang), Ikkaku senang bukan main dengan menyebutnya "Dokter Jenius". Saat ini, tidak begitu. Karena suka atau tidak suka, Ikkaku mengakui kalau Toushiro punya talenta besar sebagai dokter hebat. Dan tentu, ia tidak ingin kehilangan bakat seperti itu dengan mengusirnya keluar dari rumah sakit.
"Aku tahu." Toushiro setengah menoleh. Sadar benar kalau konsekuensi dari tindakannya bukan hal main-main.
Ikkaku berbalik, memandang punggung Toushiro yang masih saja belagak tenang. Menghela napas, ia membawa kaki jangkungnya menuju pintu keluar. Ia harus segera ke meja administrasi untuk mempersiapkan Surat Peringatan Pertama.
Apa boleh buat.
.
.
.
.
.
Kita bertugas menolong pasien dengan sekuat tenaga. Bukan berdiam diri melihat mereka meregang nyawa begitu saja.
Penyampaian pertama chief departemen bedah, Kensei Muguruma, yang menduduki kursi jabatan delapan tahun yang lalu. Karenanya, dokter tidak diizinkan merekomendasikan DNR langsung pada pasien, kecuali pasien sendiri memilih rekomendasi tersebut seolah punya pengetahuan medis layaknya seorang dokter.
Yoruichi jelas tahu itu. Makanya ia tidak bilang apa pun pada Rukia Kuchiki, pasien yang tidak punya niat hidup. Bila ia melakukannya, itu sama saja memberi hadiah kematian dengan hati riang-gembira.
Lalu siapa yang merekomendasikannya?
Melaporkan insiden DNR pada sang chief, ia mendapat izin untuk menyelidiki. Dan wewenang itu dialihkan pada sang residen, Ikkaku. Si kepala mirip dango mengambil langkah cepat. Ia bertanya pada pihak mental hospital yang setiap minggu datang untuk memantau kondisi Rukia. Bagaimanapun, gadis itu juga pasien mereka. Katanya, mereka tidak pernah mengobrol dengan perempuan itu. Hanya mengawasinya dari jauh.
Satu kesaksian itu pun cukup untuk Ikkaku menarik kesimpulan alias menemukan pelakunya.
Tidak lain tidak bukan….
Sementara itu—
Toushiro tidak tinggal diam. Ia tidak jeri hanya karena sudah mengantongi satu SP alias Surat Peringatan3). Semua magang tahu, memiliki tiga SP berarti drop-out dari sini. Tapi, itu tidak cukup membuat Toushiro ketar-ketir ketakutan.
"Bagian administrasi adalah yang bertanggung jawab dengan tetek-bengek pasien," kata Renji, bersandar di kusen pintu. "Waktu masuk, keluar, biaya, dan ... juga DNR."
"Hanya perlu bertanya pada mereka siapa dokter yang datang di tanggal 20," tanggal ketika DNR diajukan atau tiga hari yang lalu, "kita tahu siapa dalangnya."
"Kau yakin dalangnya seorang dokter?"
"Mau dokter atau bukan, yang pastinya dia bekerja di sini," kenyataan bahwa Rukia Kuchiki sudah tidak punya keluarga atau yatim piatu membuat Toushiro yakin hal itu.
Renji mau bilang kalau bisa saja Rukia cari tahu sendiri dengan buka internet. Tapi, kalau dipikir lagi itu terdengar konyol. Bagaimana cara gadis itu berhubungan dengan dunia maya. Orang, tidak pernah pegang alat komunikasi. Apalagi prosedur DNR adalah hal sensitif dan tidak banyak masyarakat yang tahu. Bahkan, dengan buka internet sekali pun.
Selain itu, Renji sedikit enggan ikut campur. Bukan karena ia pengecut atau tidak setia kawan. Hanya saja, ia cemas. Toushiro sudah kena satu SP. Jika Ikkaku memergokinya melakukan hal yang tidak semestinya, bisa-bisa.…
Ia mengacak rambut merah nanasnya. Gusar. Siapa sebenarnya Rukia Kuchiki itu?
Tapi, Renji cuma berdiri tak bergerak ketika Toushiro keluar dari kamar jaga dan penuh antusias mencari kambing hitam kasus ini.
Ia tidak menghentikan.
.
.
.
.
.
Ikkaku sudah sedari tadi ada di tikungan koridor. Tidak melakukan apa-apa. Hanya berdiri. Memerhatikan laki-laki yang sedang sibuk menulis sesuatu di chart di bufet penyimpanan laporan pasien.
Ketika ia pikir sudah waktunya untuk bergerak, laki-laki itu dihampiri seorang perawat bernama Sentarou Kotsubaki. Mengobrol sebentar, belasan detik saja, laki-laki itu beranjak dan meninggalkannya chart-nya di sana.
Tiba-tiba saja, Ikkaku dapat firasat buruk.
.
.
.
.
.
Ggio baru satu langkah menapaki lantai ruang loker saat Toushiro menyambutnya dengan tinju keras di wajah. Alhasil, si pemuda berkepang jatuh tersungkur ke lantai bersama memar di sudut bibir. Ia tidak sempat berdiri ketika Toushiro dengan sigap mencengkeram kerah seragamnya.
"Jadi, kau yang menghasutnya?" Sepasang bola mata hijau itu melotot garang penuh amarah. Alih-alih menjawab, Ggio justru menyeka darah di sudut bibir—dengan santai. Toushiro lantas menyentaknya kasar. "Bicara, Ggio Vega!"
"Bukan menghasut, Hitsugaya," datarnya ia bertutur, membuat kemarahan Toushiro hampir tiba di ubun-ubun, "hanya merekomendasikan."
"Br**g**k!"
Satu tonjokan kembali mendarat di muka Ggio, mengirim kepalanya bertubruk keras dengan pintu kayu. Lebam di pipi kiri melengkapi wajahnya yang babak belur. Lantas ia berdiri gesit, berniat memberi Toushiro balasan tinju andai Renji dan Sentarou merangsek masuk, melerai mereka berdua.
"Jangan berani mendekatinya!"
"Apa yang salah memangnya? Dia ingin mati, maka aku memberikan pilihan terbaik!"
"Berani lagi kau mendekatinya, aku akan membunuhmu!"
"Membunuhku? Maju kalau berani, Toushiro Hitsugaya!"
"Aku yang akan membunuh kalian berdua!"
Ikkaku muncul, bertegak pinggang penuh kuasa, mata sipit yang membeliak berang. Mendapati dua magangnya buat kekacauan, tidak akan ada mentari esok untuk mereka. Di sampingnya, ada Senna yang gemetar takut lantaran tak pernah menjumpai dua sobat karib berkelahi seperti ini. Pun tak ayal belasan perawat ikut berkerubut di depan pintu ruang loker.
"Kalian ingin melanjutkan?" Ikkaku masuk dengan langkah penuh intimidasi. "Silakan. Tapi, aku bisa pastikan kalian tidak akan menyandang gelar dokter lagi esok harinya."
Ancaman dari Ikkaku tak pernah main-main. Kinerja, keringat, biaya selama tujuh tahun untuk menjadi dokter yang sesungguhnya bisa berakhir sia-sia. Toushiro dan Ggio pun perlahan tenang. Sentarou yang memegangi Ggio mulai melepas pemuda berdarah Cina itu. Begitu pula untuk Renji.
"Yang tidak berkepentingan segera keluar. Aku punya urusan dengan dua dokter sok pintar kita."
Sentarou keluar, juga dengan magang yang lain, yang kebetulan sedang beristirahat dan mendadak jadi penonton langsung di sana. Renji mengikuti meski berat hati. Memandang Toushiro yang masih menatap Ggio dengan marah tanpa ampun, ia menutup pintu loker.
.
.
.
.
.
Aktivitas dokter magang berakhir seperti hari-hari sebelumnya. Kecuali untuk departemen bedah, yang mana dihiasi kasak-kusuk tentang insiden sore tadi. Juga berakhir buruk untuk dua dokter muda alias sang pelaku.
Satu SP lagi mesti diterima Toushiro karena tindakan brutalnya itu. Berarti ia sudah memiliki dua SP dalam kurun satu minggu. Sedangkan Ggio, nasibnya tak lebih baik. Ia memegang dua SP hanya dalam waktu satu hari. Satu, berkelahi sesama rekan; dua, tanpa seizin dokter spesialis, Yoruichi Shihouin, seenaknya merekomendasikan DNR pada pasien.
Mereka berdua pemecah rekor. Tidak ada dokter magang yang menerima SP dua kali di waktu sesingkat itu dalam sejarah Seireitei Hospital. Bukan sesuatu yang pantas dibanggakan, sebetulnya.
Ikkaku sebagai residen pun kena getahnya. Berjam-jam lamanya, ia harus diberi ceramah dari A-Z oleh Kensei. Bahkan, ia terancam digantikan sebagai residen dokter-dokter muda itu dan dimutasi ke RS pinggiran kota—andai Yoruichi tak datang membujuk sang chief berambut perak. Ia pun akhirnya hanya dapat pemotongan gaji.
Kini di kamar jaga, Toushiro tengah tenggelam dalam kegelapan sambil tepekur memandang langit-langit kelabu. Tak pelak berjengit ketika Renji meletakkan segelas es kopi di dahinya. Ia menerima setelah bangkit dari posisi berbaring; Renji mengikuti dengan duduk di sampingnya. Mengisi kerongkongan yang kering-kerontang dengan satu tegukan, Toushiro berhenti.
"Vega tidak salah," katanya. "Aku yang salah."
Renji tidak bicara. Cuma menenggak es kopi sampai kosong-melompong. Suara jakunnya yang naik-turun jadi satu-satunya yang terdengar.
Hwaaa~rk!
Kemudian mengakhiri dengan cara tidak elit: berserdawa dengan suara menandingi pengeras rumah sakit.
Alhasil, Toushiro yang tengah serius melayangkan umpatan kasar (dalam hati) sambil menyisir ruangan untuk mencari barang yang bisa ia terbangkan ke batok kepala Renji sampai benjol. Apalagi setelah si nanas merah melempar cengengesan tanpa dosa.
"Aku juga salah," Renji bersuara sebelum Toushiro menghabisinya. Ia meletakkan gelas plastik bekas kopi di bawah ranjang. Mata sipitnya kini tertuju pada tembok abu-abu di depannya. Ia sudah serius. "Aku tidak menghentikanmu saat kau mencari tahu pelakunya. Padahal, aku tahu kau akan melakukan hal seperti tadi. Tapi, aku tidak menghentikan dan membiarkanmu melakukannya begitu saja."
Kalau lagi serius, Renji kan keren. Mirip bintang laga.
Hwaaa~rk!
Tapi kalau lagi berserdawa, ia lebih mirip bintang komedi.
"Boleh aku meminta satu hal?" pinta Toushiro setelah memindai kalau Renji tidak akan berserdawa lagi. "Awasi dia, Abarai." Mengingat bahwa tadi Ikkaku mengumumkan Renji yang akan menggantikan Ggio sebagai intern Rukia.
Alih-alih melambungkan jawaban, genderang perut yang malah muncul, pertanda Renji butuh WC. Jadi sebelum manggut-manggut mengiyakan, si nanas merah lari secepat kijang ke kamar mandi terdekat. Sementara Toushiro membuang napas panjang, menyalahkan diri telah mengajak Renji bicara serius ketika laki-laki itu sedang mengisi perut. Begini jadinya, kan?
Sementara itu—
Senna amat telaten dan hati-hati menyeka darah di sudut bibir Ggio. Juga menyapu pipi lebam biru-kehitaman dengan sapu tangan basah. Takut terasa sakit dan perih bagi pemuda ini. Sementara Ggio tidak membuka mulut sejak tadi. Hanya terdiam, memandang kosong lemari loker di depannya.
"Kenapa kalian seperti tadi?" Senna menyela sepi setelah tugasnya usai. "Kenapa, Vega-sensei?"
"Pertanyaan itu sebaiknya kau tujukan pada Hitsugaya," jawab Ggio, datar. Tanpa menoleh.
"Kalian bersahabat, kan?"
Untuk kali ini, Ggio bereaksi. Sorot matanya bergerak ke bawah. Sebelum—"Tidak," lalu berangsur menoleh seutuhnya. "Aku tidak pernah menganggapnya sahabatku. Tidak pernah."
Sekujur tubuh Senna menegang. Bola mata emas pemuda di depannya berkilat penuh—penuh benci dan persaingan.
.
.
.
.
.
Rukia tidak tahu apa lagi yang mesti ia kerahkan. Tenaganya nyaris terkuras habis, dan hasilnya tetap sama. Gagal.
Ia pun tidak kuat membendung setetes air mata yang sedari tadi ia tahan ketika Shihouin-sensei datang menjelaskan insiden dokter magang yang tidak merestui DNR-nya.
Menarik napas dalam, ia menutup mata sejenak sebelum memerhatikan selang infus di pergelangan. Kilatan matanya berubah dingin dan gelap. Satu tangan terulur untuk menyentaknya sebelum cahaya lampu merangsek masuk.
Ada seseorang yang membuka pintu.
Ia pun mengatupkan mata dan berpura-pura tidur.
Renji membawa kaki panjangnya memasuki kamar. Setelah menekan sakelar lampu, ia berjalan pelan-pelan mirip maling, menuju ranjang di tengah kamar. Tidak ada yang diperbuatnya, selain berdiri memerhatikan sambil menelengkan kepala kanan-kiri. Apa ada gadis seperti ini saat mereka di sekolah menengah? Tapi kalau ada, mustahil ia lupa. Soal perempuan, kan, ia yang paling ingat. Guru TK-nya saja, ia masih ingat nama, wajah, tinggi, berat badan, dan tetek-bengek lainnya.
Lalu di mana Toushiro mengenalnya kalau bukan di sekolah menengah?
Teman universitas?
"Sensei?"
Renji otomatis terperanjat. Nyaris saja chart yang dipeluknya bertemu lantai. "A-aku hanya ... datang memeriksa rutin," jawabnya, yang sudah gagap, bohong lagi. Mestinya, baru besok pagi ia menjalankan tugas barunya. "Aku adalah dokter magang baru yang mengawasimu. Aku menggantikan Vega-sensei. Namaku Renji Abarai."
"Shihouin-sensei sudah bilang." Rukia memberi senyum palsu. "Juga tentang dokter yang membuat jantungku berdetak lagi dan tidak menerima DNR-ku."
"Toushiro ... Toushiro Hitsugaya ... dokter yang menyelamatkanmu."
Rukia melafalkan nama itu tanpa suara, menancapkan kuat-kuat di memorinya. Ia tidak mau lupa biang masalah yang masih membuatnya seperti ini.
Beberapa saat berlalu, Renji beranjak dari sana dengan pesan kalau butuh sesuatu jangan lupa memanggilnya.
Setelah pintu ditutup, Rukia bergumam, "Toushiro Hitsugaya ..."
Ia ingin bertatap muka lagi dengan si Tuan Sok Pahlawan sebelum memulai aksi mencabut infus atau peralatan medis di sekitar ranjangnya.
.
.
.
.
.
Renji yang jadi intern Rukia tidak disia-siakan Toushiro. Tentang perkembangan gadis itu bisa didapatnya dengan mudah dari sobatnya. Termasuk malam ini ketika si rambut nanas bilang kalau Madarame-sensei sedang di OR, ia memanfaatkan kesempatan untuk pura-pura lewat di kamar 1420, dan mendapati Rukia Kuchiki yang tertidur.
Ia pun masuk, melangkah pelan jangan sampai perempuan itu bangun. Merapikan selimutnya sebelum duduk di kursi tanpa lengan dan sandaran yang ia ambil di pinggir kamar. Melihat-lihat chart, ia tidak sadar kalau gadis itu terbangun dan menoleh padanya.
"Kau yang bernama Hitsugaya-sensei, kan?"
Toushiro kontan tersentak. Lalu memangku chart dengan kikuk, dan berkata sama kikuknya, "Iya, bagaimana keadaan—"
"Kau seorang dokter?" tanya Rukia, serius. Meski jelas dari atas-bawah tidak akan ada yang keliru sampai menganggap pemuda ini adalah sopir bus.
Jelas saja, Toushiro tidak paham. "Tentu." Tapi, ia meladeni pertanyaan retoris itu.
"Kalau begitu, kau harus menjalankan tugasmu sebagai dokter."
Toushiro makin dibuat tidak mengerti. "Apa maksudmu?"
"Kau harus menghargai keputusan pasien," tenang, tapi tegas dan menekan.
Toushiro akhirnya tahu ke mana perbincangan ini bermuara. "Aku menghargai," imbasnya, ia meragu.
"Kau tidak menghargai," suara Rukia mulai meninggi. "Aku sudah menandatangani DNR, seharusnya kau menerima."
"Kau butuh hidup." Perlu upaya keras agar suaranya tetap sama.
"Aku tidak butuh hidup!" Namun, Rukia sudah mulai hilang kendali.
"Berhentilah bersikap egois!"
"Siapa yang egois? Kau yang egois! Apa karena kau dokter, kau seolah punya kuasa menentukan aku harus hidup atau mati! Kau terlalu bangga dengan profesimu sampai-sampai kau tidak ingin pasienmu mati! Kau ingin dikatakan sebagai penyelamat, kan? Iya, kan?"
"Jangan mengatakan mati semudah itu!" Toushiro berdiri satu sentakan, lembaran kertas dalam map berserakan, kursi yang didudukinya sudah terjengkang membentur lantai. Memajukan tubuh, memegang sepasang pundak Rukia dengan sergapan erat. "Kau tahu alasan kenapa kau selalu hidup ketika kau mencoba untuk mati? Itu karena tubuhmu, dirimu, nyawamu bukan lagi milikmu! Mereka milik orang lain!"
"A-apa yang kau katakan?" Rukia gelisah, mencoba meloloskan diri dari cengkeraman si dokter muda.
Seolah sadar dan tak ingin menyakiti; Toushiro melonggarkan, tapi tidak melepas. "Nyawamu milik orang-orang yang peduli padamu."
"Tidak ada." Bergetar; suara, bibir, dan manik ungunya. "Tidak ada yang tersisa. Mereka semua sudah di tempat lain, dan aku ingin menyusul mereka."
"Masih ada satu—"
Toushiro melembut, mengirim ketenangan dan keamanan ke penjuru tubuh si gadis Kuchiki. Rukia pun berhenti berontak seakan menunggu jawaban yang entah apa memberi setitik asa untuknya.
"—yaitu aku."
Api harapan yang padam total setelah lima tahun berlalu, tiba-tiba saja bersinar di relung hatinya. Dibawa kembali oleh dokter bernama Toushiro Hitsugaya yang muncul di hadapannya.
"Si-siapa kau?" Rukia gemetar, bukan karena takut hanya.… "Siapa kau ... Sensei?"
.
.
.
.
.
To be Continued
.
.
.
.
.
1) Defibrilasi : cara pengobatan dgn gunakan alat yg disebut defibrilator. digunakan saat denyut jantung pasien tidak teratur (menurun atau terlalu tinggi)
2) paddle : Jumlahnya sepasang. Fungsinya sebagai alat kejut. Ada kabel yang menghubungkan dengan defibrilator dan mengirimkan aliran listrik.
3) SP : Surat Peringatan. Kalau magang buat masalah n tidak memuaskan residen (penanggung jawab), biasanya diberi surat peringatan. Tiga SP berarti keluar dri RS.
A/N : Kok, sy deg-degan sendiri di scene terakhir. Rasanya pengen jerit2#plak
sy gak akan cuap2 banyak, temen2 aja yg cuap2. Sampai jumpa lg.
Ray Kousen7
28 Oktober 2013
