Me, You and the Child

Rated: T

Pairing: Uchiha Sasuke X Namikaze Naruto,

Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto,

Genre: Romance,Hurt/Comfort, Family maybe…

Warning: Shounen Ai, BL, Yaoi, Slash, Non-Canon, AU, OOC sangat, Badfic, Many Typo (s) maybe, Two-shot, dll….

Summary:

Hati ini tak bisa lagi kuperuntukkan untukmu. Itu karena kau menganggap perasaanku ini tak ada. Salahkah aku jika aku melakukan hal itu. Tidak. Semua ini karena dirimu….

Part 1

Langit hari ini masih di selubungi oleh awan yang berwarna kelabu. Suasanapun terlihat muram, hanya sedikit cahaya yang terlihat. Angin semilir berhembus, membawa wangi air hujan yang turun sedikit demi sedikit dari langit.

Perlahan dengan langkah yang sangat pelan, kuayunkan kakiku menuju kearah balkon kamarku. Dengan sangat pelan kusingkap tirai yang menutupi jendela yang cukup besar terbentang didepanku. Akupun dapat melihat bagaimana titik-titik air hujan menempel di jendela, membuat pandangan yang melihatnya menjadi tak begitu jelas. Kudekatkan wajahku pada kaca jendela didepannku, tangan kananku menempel pada sisi kaca sebelah kananku. Tercetak hembusan nafasku dikaca itu.

"Hu—jan.." ujarku pelan.

Tetesan air mataku jatuh perlahan melewati dagu. Hujan yang turunpun kini semakin deras, semakin mengaburkan pandanganku dari kaca jendela ini. Kutempelkan kepalaku pada kaca ini, kupejamkan mataku meresapi hal yang akan aku lakukan selanjutnya untuk hidupku.

Di tempat lain

"Maafkan aku.." ujar seorang pemuda berambut raven pelan.

"Sudahlah, tenangkan dulu dirimu otouchan," ujar seorang pemuda yang memiliki perawakan yang hampir mirip dengan sang pemuda berambut raven hanya saja rambutnya sediit lebih panjang.

"Bicara memang gampang, karena bukan kau yang merasakannya Aniki," ujar pemuda berambut raven pada sang kakak. Ditatapnya kakaknya yang tengah asyik menyesap tehnya sambil memandang dirinya.

"Memang tapi tetap saja, pikiranmu sedang kacau maka dari itu lebih baik kau tenangkan dulu dirimu setidaknya nanti kau dapat berpikir dengan baik apa yang harus kau lakukan selanjutnya," jawabnya kemudian.

"Sudahlah, aku pergi dulu," ujar sang raven pada kakaknya, kemudian berdiri dari sofa berwarna coklat yang ia tempati.

"Cacuke Niichan!" seru seorang bocah pada pemuda itu sambil mendekap sebuah buku yang lumayan besar, berlari kecil menghampiri sang pemuda berambut raven itu.

"Hn," jawabnya singkat memandang bocah yang kini sudah berdiri di dekatnya.

"Ne~, Niichan bacain buku ini dong?" pinta sang bocah sambil menunjukkan buku yang dimaksud pada dirinya dengan pandangan yang menunjukkan pengharapan.

"Tidak bisa, bocah,"ujar sang pemuda berambut raven atau yang dipanggil Sasuke oleh bocah tadi.

"Kenapa? Niichan mau kemana?"Tanya bocah itu lagi dengan nada sedikit sedih.

"Niichan harus menemui seseorang, mintalah pada Tousanmu bocah," ujar Sasuke kemudian melangkah melewati bocah itu.

"Niichan marah cama chichui?" ujar bocah itu pelan namun masih bisa terdengar oleh Sasuke maupun kakaknya. Dan seketika itu juga Sasuke menghentikan langkahnya menuju pintu keluar.

"Niicha tak marah pada siapapun bocah, hanya saja Niichan harus menyelesaikan beberapa hal saat ini," ujarnya menjelasakan yang sepertinya cukup dimengerti oleh bocah itu, buktinya saja bocah itu langsung menghampiri sosok yang masih duduk dengan kedua tangan yang memegang cangkir tehnya.

"Maaf Niichan," ujarnya pada Sasuke setelah berada dalam pangkuan sang ayah.

"Hn,"ujar Sasuke kemudian berjalan menuju pintu keluar.

Di apartement Naruto

Pandanganku masih terarah pada langit diluar sana yang kini telah berubah warna menjadi orange kemerahan, masih tercetak dengan jelas di jendela didepanku bekas rintik-rintik hujan yang masih menempel disana. Pakaian yang kukenakan kini sedikit merosot dibagian bahu sebelah kiriku. Rambut pirangku yang biasanya tertata kini sebagian menempel diwajah dan juga tengkukku, beberapa helai ada yang menutupi wajahku. Kugenggam ponsel bertipe flip berwarna orange yang sejak beberapa saat atau lebih tepatnya beberapa hari yang lalu terus bergetar dan bercahaya, tak kuangkat hanya kugenggam tanpa mengeratkan pegangan jari-jari kecilku pada ponsel itu. Kutempelkan dahiku dikaca jendela kamarku, menatap kosong kebawah dimana beberapa barang tergeletak disana dan terdapat beberapa serpihan-serpihan kecil didekat kakiku. Tak hayal menyebabkan kakiku tergores, anehnya aku tak merasa sakit sedikitpun.

TES..

TES..TES..

TES..TES..TES..

Lagi-lagi, aku menangis. Entah berapa banyak lagi air mata yang harus kukeluarkan, hanya untuk menangisi hal yang sudah terjadi. Ya. Aku menyesal, saat ini aku merasa bahwa diriku memang benar-benar sangat bodoh, melebihi binatang yang paling bodoh didunia ini. Seandainya saja saat itu aku tak terlalu emosi dan bisa menahn sedikit emosiku, maka aku yakin hal ini tak akan terjadi. Tapi apa gunanya disesali sekarang? Semuanya sudah tak akan sama lagi. Semuanya sudah berakhir, dan tak akan ada lagi kesempatan untukku. Saat ini menangislah satu-satunya hal yang bisa kulakukan. Jiwaku serasa keluar dari tubuhku saat ini. Tubuh tanpa jiwa, mungkin itulah yang cocok menggambarkan keadaanku saat ini.

Dengan perlahan kulangkahkan kakiku menuju almari yang cukup besar dipojok kamarku. Kubuka perlahan pintu itu, kosong. Semua isi didalamnya telah berserakkan di bawah kakiku. Kumasukkan perlahan tubuhku kedalamnya, kututup pintu almari itu perlahan setelah semua bagian tubuhku kumasukkan, perlahan pula cahaya langit sore yang masuk kedalam ruangan kamarku menghilang. Dan kini aku hanya ditemani suasanya yang gelap dalam almari ini, kutekuk lututku hingga lututku menyentuh dahiku, kukunci pintu almari itu dari dalam, berharap tak ada seorangpun yang bisa menemukanku. Aku ingin menutup diriku saat ini. Dan hanya inilah yang dapat kupikirkan saat ini. Dari sini pun dapat kudengar suara ponselku yang terus berdering, yang tadi kujatuhkan sebelum aku masuk kedalam sini. Gelap dan juga sedikit sesak dan pengap, tapi untuk saat ini kurasa aku merasa nyaman berada didalam sini. Mungkin ini akan menjadi tempat ternyamanku berada disini. Perlahan mungkin karena kelelahan akupun tertidur masih dengan memeluk kedua lututku. Tenggelam dalam gelapnya pikiran dunia bawah sadarku saat ini..

Di dekat apartement Naruto

TUT..TUTT..TUTT.. Nomor tele— TUUUTTT…

"Mengapa kau tak mengangkat ponselmu Dobe?" ujar seorang pria berambut raven dalam sebuah mobil yang kini melaju pelan sambil memaki-maki ponselnya.

"Tck, Kuso!" serunya marah, dilemparnya ponsel itu kearah kursi penumpang disampingnya, sambil sesekali memukul setir mobilnya.

"Kemana kau?!" serunya kesal karena yang diharapkan sejak beberapa hari yang lalu tak kunung juga mengangkat sambungan teleponnya.

CKIITT…

Mobil yang ia kendarai akhirnya berhenti disebuah apartement sederhana yang terletak tak jauh daripusat kota Konoha. Iapun keluar dari mobil sportnya yang berwarna merah, dilangkahkan kakinya menuju ke sebuah kamar yang bertuliskan nama seseorang yang ia cari.

TING TONG

TING TONG TING TONG

Ditekannya berkali-kali bel pintu didepannya setelah tak ada jawaban ataupun reaksi dari sang tuan rumah.

"A—anou, apakah anda sedang mencari Namikaze-san?" ujar seorang nenek tiba-tiba padanya, yang cukup membuatnya kaget namun tak ia perlihatkan tentunya.

"Hn," ujarnya pada nenek itu.

"Saya rasa yang anda cari sudah tidak tinggal disini lagi, tuan," ujar sang nenek halus padanya.

"Kemana?" ujarnya pelan, merasa cukup terkejut dengan pernyataan sang nenek didepannya.

"Maksud saya, kemana Naruto pergi?" ujarnya datar masih terlihat memasang tampang stoic andalannya, padahal dalam hati sudah merasa bingung, cemas, dan khawatir.

"Saya kurang tahu tuan, kemana bocah pirang itu pergi, coba saja tanyakan pada pengurus apartement ini," balas sang nenek.

"Baiklah, terima kasih," ujarnya kemudian pergi meninggalkan nenek itu sendiri.

'Kemana kau pergi Dobe? Mungkinkah kau kembali kesana?' batinnya setelah sampai dimana tadi ia memarkirkan mobilnya.

Tanpa ia ketahui bahwa yang tengah ia cari masih berada ditempat tadi, bersembunyi dalam sebuah tempat dimana tak ada cahaya sama sekali.

Keesokan hari

Di kediaman Namikaze

Terlihat dua orang pemuda tengah berdebat dalam sebuah ruang tamu kecil dikediaman keluarga Namikaze.

"Sudah kubilang padamu pak tua, aku tak suka pada pemuda itu!" seru seorang pemuda berambut jingga pada pria separuh baya didepannya.

"Itu pilihan adikmu Kyuubi, jadi Tousan tak bisa lagi menentangnya," ujar sang pria paruh baya bernama Namikaze Minato sang kepala keluarga.

"Tetap saja aku tak suka! Lihat karna pemuda itu bocah ingusan itu jadi jarang menghubungi rumah," ujarnya membantah kata-kata sang ayah.

"Bilang saja kau rindu adikmu itu Kyuu, kenapa tidak kau datangi saja apartementnya," ungkap sang ayah lagi dengan tenang menghadapi anak pertamanya yang memang agak—malah sangat—temperamental.

"GAHH! Bisa besar kepala bocah itu jika aku yang menjenguknya," ujar Kyuubi sambil melipat kedua tangannya didada dan menaikkan satu kakinya.

"Benar apa yang dikatakan Tousanmu Kyuu, sebaiknya kau jenguk saja Naru-chan, Kaasan yakin ia pasti senang mendapat kejutan dari dirimu," ujar seorang wanita berambut merah yang tiba-tiba muncul dengan semangkuk soup ditangannya, wanita yang tak alin adalah istri dari Namikaze Minato yaitu Uzumaki Kushina.

"Diam kau nenek cerewet, jangan tiba-tiba ikut campur pembicaraan kami," ujarnya sewot ketika melihat Kushina.

"Kurang ajar! Dasar anak tak tahu sopan santun, seenaknya memanggilku dengan sebutan 'nenek cerewet' aku ini Kaasanmu tahu!" serunya memarahi tingkah laku putra pertamanya yang sedikit rada-rada. Jangan heran ini sudah jadi kebiasaan dalam keluarga yang terbilang cukup unik ini.

"GAAHH! Sampai matipun aku tak akan memanggilmu dengan sebutan itu, wanita tua!" serunya kemudian melarikan diri dari TKP , dimana wanita yang tadi ia ajak berdebat mengeluarkan aura yang cukup pekat dan juga bersiap melempar benda-benda yang berada didekatnya.

"Kuu—raangg ajarrr kau anak sialan!" dan seperti biasa perdebatan diakhiri dengan teriakan dari Kushina yang menggelegar.

Di dalam kamar Kyuubi

"Kurasa menjenguk bocah ingusan itu bukan hal yang buruk," pikirnya saat ini.

Tanpa ba bi bu lagi ia menghampiri meja untuk mengambil jaketnya dan tentunya tas beserta kunci motornya. Kemudian ia bergegas turun dari kamarnya menuju kearah garasi, bergegas menuju ke apartement sang adik.

"Aku berangkat," ujarnya sebelum meninggalkan rumah keluarga Namikaze.

"Hati-hati Kyuu," ujar orang tuanya pada sang anak.

'Aneh, tapi perasaanku sedikit tak nyaman, ada apa ya?' batin Kyuubi sambil mengendarai motornya dengan kecepatan yang cukup tinggi.

'Ah, sudahlah. Awas bocah ingusan itu, hari ini ia sampai membuatku keluar rumah hanya untuk mengunjunginya, Che!' ujarnya dalam hati.

'Awas kau tak menyambutku Naruto.'

Setibanya di apartement Naruto

"HOE! Bocah keluar kau!" teriak pemuda berambut jingga didepan sebuah pintu apartement yang bertuliskan nama Namikaze Naruto. Terlihat kedua alisnya saling bertekuk, beberapa bulir keringat turun dari pelipisnya, ya, pemuda berambut jingga agak kemerahan ini sejak 10 menit yang lalu telah berdiri didepan pintu yang kini menjadi tempat pelampiasan rasa kesalnya terhadap sang penghuni didalamnya yang sejak tadi tak jua membukakan dirinya pintu.

"Kuso! Rupanya kau berani main-main denganku bocah?! Awas kau!" serunya dengan suara menggelegar, untungnya tak ada tetangga yang keluar dan melempar sang tersangka kasus teriakan petir itu dengan sesuatu—apapun itu.

Pemuda ini sudah sangat tidak sabar dengan pintu yang tak menampakkan tanda-tanda akan dibuka ini. Dan oleh sebab itu iapun mengeluarkan jurusnya kemudian menendang pintu itu dengan sangat kuat hingga terbuka dan beberapa engsel pintu itupun terlepas dari tempatnya.

"Awas kau bocah! Berani-beraninya membuatku mengeluarkan keringat dan ju—" ucapanya terpotong begitu melihat kondisi kamar yang ia masuki saat ini. Hancur, barang-barang berserakan dimana-mana, pakaian, buku-buku, alat tulis dan lain-lain, tak hanya itu banyak pecahan-pecahan kaca dan juga vas bunga berserakan dilantai, dibeberapa bagian terdapat bercak darah yang telah mongering. Seketika itu juga tas yang ia sampirkan ia jatuhkan ke lantai, kedua matanya membulat, alisnya berkerut, mulutnya menganga, seakan melihat hal yang tak pernah ia bayangkan. Itu tak lama, setelah beberapa saat tercengang dengan pemandangan didepannya, kesadarannya pulih kembali. Dengan perlahan untuk menghindari pecahan kaca dan keramik yang masih berseerakkan iapun masuk semakin dalam ke kamar itu.

"Ho—oe! Bocah!" serunya memanggil seseorang dalam kamar itu.

"…" hening tak ada jawaban sama sekali.

"Hoe! Jangan bercanda bocah. Ini aku kakakmu. Sekarang keluarlah, bocah," serunya masih memanggil orang yang tengah ia cari. Setelah menelusuri kamar itu, ia tak menemukan jejak dari orang yang tengah ia cari, hanya ada bercak darah mongering yang terlihat jelas disekitar jendela. Kening pemuda inipun semakin berkerut, dirasakan ada perasaan tak nyaman yang menghampirinya.

"Bocah keluar kau sekarang, jangan bercanda denganku, kau tahukan kalau kau membuatku marah kau akan celaka?!" serunya lagi, namun tetap tak ada jawaban sama sekali.

Ketakutan mulai menghampirinya, merasa hal ini sudah sangat janggal, iapun mengambil ponsel yang berada di sakunya, menekan beberapa tombol yang menghubungkannya dengan seseorang.

TUT..TUTT…

Drrrttt…Drrtt…

Terdengar suara getar ponsel tak jauh dari tempat ia berdiri. Dicarinya arah suara itu yang semakin terdengar jelas didaerah sekitar jendela. Setelah dicari-cari beberapa saat ia menemukan ponsel flip berwarna orange itu, disanapun terdapat sedikit bercak darah yang tertinggal. Dibukanya ponsel itu, dilihatnya daftar panggilan keluar yang tertera pada ponsel itu, jumlah yang melebihi 100 panggilan dari nomor yang sama namun tak ada nama yang tertera sama sekali. Dilihatnya lagi tempat ia menemukan benda itu, dengan hati-hati dilihatnya ada sebuah jejak dari darah yang menuju kearah sebuah almari berwarna dark brown di pojok ruangan itu. Ketakutan yang sangat kini dirasakan oleh pemuda ini, entah sudah berapa kali ia menelan ludah sejak menemukan keanehan di apartement sang adik. Dengan perlahan ia melangkah menuju kearahalmari itu, tangan putihnya menggapai pintu almari itu, ia menarik pintu itu agar terbuka namun pintu itu tak terbuka sama sekali.

"Terkunci," ujarnya pelan setelah beberapa kali berusaha menarik gagang pintu almari itu. Ia berusaha berpikir, apa yang sebaiknya ia gunakan untuk membuka almari itu.

"Tak ada satu bendapun yang bisa kugunakan, Tsk," ujarnya bertanya pada diri sendiri.

Tak ada pilihan, iapun mengambil ancang-ancang untuk menendang pintu itu seperti cara ia membuka pintu apartement itu tadi.

BRAKK..

Dan seketika itu juga pintu itu terbuka, hal yang membuat ia tiba-tiba terdiam dengan wajah pucat pasi adalah didalam almari itu terdapat seorang pemuda yang entah tidur atau sudah tak bernafas lagi dengan posisi memeluk kedua lututnya, darah dari kakinya sebagian mengering dan sebagian masih terlihat segar, pakaian yang pemuda itu kenakan sudah lusuh dan melorot disana-sini dan beberapa bagian terdapat bercak darah, rambut pirangnya yang dulu cerah kini terlihat sangat kusam, kulit tan nya kini berubah pucat sepucat mayat.

"NARUTOO!" teriaknya, rasa takutnya semakin memuncak, ia panic, apa yang sebenarnya telah terjadi pada adiknya ini.

Seketika itu juga ia menghampiri tubuh sang adik yang sudah terlihat tak karuan, ia merasakan dingin menyergap kedua tangannya ketika mengangkat tubuh sang adik dari almari itu memindahkannya ke ranjang, pikiran negative kini terlintas begitu banyak dikepalanya. Dilihatnya wajah sang adik yang damai tak terusik sama sekali. Berulang kali ia mengguncang-guncang tubuh sang adik namun tak ada respon. Untuhlah sebagian akal sehatnya masih, dengan segera ia membopong tubuh sang adik yang sudah terkulai sangat lemah tak berdaya keluar dari ruangan itu menuju kearah rumah sakit terdekat. Untunglah ia juga dengan segera menghubungi taksi, dan jua menghubungi neneknya yang bertugas menjadi dokter di rumah sakit yang cukup terkenla dan berkualitas bagus di kota itu. Selama perjalanan ia terus berusaha membuat adikknya bangun, paling tidak ada sedikit respon yang ia berikan. Tanpa ia sadari juga air matanya perlahan mengalir, bercampur dengan keringat yang keluar karena berlari-lari tadi.

"Naruto! Sadarlah, bocah. Niisan mohon, sadarlah. Jangan seperti ini, kau membuatku takut," racaunya panic melihat kondisi sang adik, tubuhnya semakin dingin.

"Naruto! Naruto! Bangun, kali ini tolong dengarkan perintah Niisan, Naru," racaunya lagi, masih berusaha menyadarkan sang pemuda berambut pirang yang kini berada di pangkuan pemuda berambut jingga kemerahan itu.

"Naruto, berhenti bercanda, kali ini Niisan mohon, berhenti bercanda, Naru, huhu~" ujarnya semakin pelan, tenaganya seolah-oleh menguap begitu cepat melihat keadaan sang adik yang kini terkulai dipangkuannya.

"Ada apa dengan Naruto, Kyuu?!" Tanya sang nenek berdada besar yang sekaligus menjabat sebagai dokter di rumah sakit ini. Wanita yang masih terlihat muda padahal umurnya sudah mencapai setengah abad, berlari menghampiri pemuda berambut jingga kemerahan itu dengan cepat setelah terlebih dahulu sang pemuda menghubunginya, mengatakan bahwa telah terjadi sesuatu dengan adikknya.

"Aku tak tahu, aku mendapati dia sudah seperti ini didalam alamari itu," ujarnya dengan cepat dalam satu kali tarikan nafas, pikiran dan juga mulutnya belum berkoneksi secara sempurna.

"Keadaannya kritis. Suster cepat bawa pasien ke ruang UGD, SEKARANG!" perintahnya pada beberapa perawat yang sudah siap sedia menangani kasus seperti ini.

"Tolong dia, selamatkan dia," ujar Kyuubi lemah.

"Aku pasti melakukan hal yang terbaik untuknya, tenang saja, doakanlah yang terbaik," ujarnya berusaha menenagkan Kyuubi yang saat ini terlihat sangat rapuh dimata Tsunade.

"Naruto…." Ujarnya pelan, menatap lurus kearah ruang UGD tempat dimana keselamatan sang adik dipertaruhkan.

Ponsel milik sang adik tiba-tiba berdering, tertera nomor yang tak dikenal dan juga yang sudah melebihi 100 kali menghubungi ponsel sang adik. Ditekannya tombol hijau ponsel itu, dan menyambungkannya pada seseorang diseberang sana.

"Dobe!" seru suara diseberang sana. Kyuubi tahu panggilan itu ditujukan untuk adiknya, dan suara itupun ia tahu, suara dari orang yang tidak ia sukai, dan sekarang kebenciannya pada orang itu semakin menjadi.

"Hoe, Dobe! Apa kau mendengarku?" ujar suara diseberang lagi. Kali ini Kyuubi menggenggam erat—sangat erat—ponsel flip berwarna orang itu hingga buku-buku jarinya memutih.

"Kau.." ujar Kyuubi pada orang diseberang sana.

"Kau bukan Naruto, siapa kau?" ujar suara diseberang sana.

"Aku akan membunuhmu UCHIHA SASUKE!" teriaknya marah kemudian menghancurkan ponsel flip itu dengan sekali genggam.

TUT.. TUTT—

Sambungan telepon terputus, ponsel yang tadinya masih utuh kini remuk tak berbentuk lagi.

Kemarahan pemuda itu kini memuncak, darah dalam kepalanya mendidih, geraman demi geraman ia keluarkan, kalau tak mengingat keadaan sang adik saat ini ia sudah pergi menuju ketempat si penelepon berada dan akan mencekiknya sampai mati dengan kedua tangannya saat ini.

"UCHIHA SASUKE! SUATU HARI NANTI KAU AKAN KUBUNUH!" geramnya smabil mengepalkan kedua tangannya saat ini.

Sedangkan yang dibicarakan hanya terdiam memandang layar ponselnya setelah terdengar bunyi 'TUTT, TUTT—' terngiang di benaknya akan suara tadi yang terdengar sangat menyeramkan dan berkata akan membunuh dirinya.

"Siapa dia? Dari mana ia tahu namaku?" ujarnya pelan masih menatap layar ponselnya.

Kau tak akan pernah tahu bagaimana sakitnya kau acuhkan diriku, bagaimana sakitnya kau rendahkan diriku, kau tak akan pernah tahu, karena kau selalu menganggap dirimu seorang yang sempurna….

=END=

Read and review please? (^o^)

Yomu to ribiu onegaishimasu….