Di perjalanan otw Pupununu..
"Hey, mendingan agak pelan dikit!" Bentak Francesco. "Kalau nanti bensinnya tiba-tiba habis gimana?"
"Iya ok deh. Baru nyadar, disini gaada pom bensin." Mater menambahkan.
"Ngomong-ngomong, kamu kok bisa ada disini juga?" Tanya Lightning.
Francesco menatap Lightning dengan ekspresi 'Are you serious?' . "Aku lagi balapan, dan kebetulan tempatnya disini, di Sungai Amazon. Tapi aku kena sabotase. SIALAN!" Francesco mulai ngambek. "Awas aja ya, siapapun yang nyelakain aku, aku do'ain kena kutukan kayak si kecoak cempreng itu! Hufft.."
"Lha kok aku ga di undang ya.."
Francesco malah nyengir. Saking lebarnya, jadi lebih mirip Chesire Cat. "Kamu sih.. Lola! Kalau agak cepetan dikit sih.. Bisa aja di undang!" Ejeknya.
If only disitu gaada Mater, pengen banget deh Lightning nampar si Francesco. Tapi mau digimanain lagi, masa si Mater mesti dia usir jauh-jauh? Akhirnya sih, kepaksa dipendem aja. Lagipula, mereka kan harus kerja sama. Ya.. Biarpun Cuma buat saat itu doang. 'Huh dasar fragile. Awas aja yaa!'
"Hey liat tuh disana!" Kata Mater tiba-tiba. "Itu pasti gunung yang kata kecoak tadi kan?" Katanya seraya mengarahkan bannya ke gunung yang saaangat-sangat tinggi.
"Gak salah, pasti itu!" Lightning ikut nimbrung.
Akhirnya, Lightning, Mater, & Francesco memutuskan untuk memanjat gunung tersebut. Meskipun sebenernya gunungnya curam bangeeet.. Hampir 90 derajatan lah! Yang beginian nih, mainstream banget buat mobil-mobil tau. Mereka juga jatuhan alias mundur terus pas nyobain manjat. Satu-satunya yang agak jago ngedaki itu Cuma Francesco.
Bener aja, saat itu juga, Lightning & Mater mundur lagi ngelawan kemiringan lahan.
"Heh kalian! Masa sih gini-gini aja K.O? Mana katanya Francesco Fragile?! Ada jugaa, KALIAN YANG CEMEN! Hahaha." Ledek Francesco.
Lightning dah gak bisa nahan emosi ternyata, pemirsa. "DIEM TENGIL! Sok iye aja kamu! Ini Cuma kebetulan tau!"
"Kata siapa? Villaku di Madesimo ada di hutan, di puncak bukit. Miringnya juga lebih-lebih dari ini! Tapi buktinya aku bisa tuh, bolak-balik naik-turun?" Tantang Francesco.
"SUDAHLAH! KALIAN INI KENAPA SIH?!" Mater akhirnya meledak. #Duarrr
Francesco memutar bola matanya. "Pfft.. Maaf deh." Katanya kepaksa.
Lightning melotot sinis. "YA."
Sementara itu, di angkasa..
*Tet..tett..*
"Mayday, mayday. Pilot 1, bagaimana ini? Muatan sepertinya telah melebihi kapasitas kapal!"
Pilot 1 celingukan bingung. "Kalau begitu kita harus jatuhkan muatan!"
"Muatan yang tidak penting dan berat.. Tapi apa?!" Kata Pilot 2.
"PERMEN KARET!"
"Ayay siap kapten!"
Pilot 2 lalu memutar tuas kapalnya, dan permen karet-permen karet bekas mulai berjatuhan. Seperti hujan permen karet.
Kita gaakan pernah tau apa yang bakalan terjadi selanjutnya kalau seandainya ada permen karet yang mendarat tepat di gunung yang curam tersebut.
Sampai..
BRUKK!
Rupanya Mater jatuh alias tigubrag.
"Dad-gum!"
Spontan, Lightning & Francesco langsung ngedeketin si Mater. Tapi untung banget tu si Mater gak jatuh ngegelinding kebawah. Dan posisi jatuhnya juga nempel ke tanah, sampe-sampe giginya nancep tuh..
"Ya ampun Mater kok bisa jatuh sih?" Kata Lightning, berusaha membantunya.
"Sini aku bantuin." Kata Francesco, tumbenan.
Lightning & Francesco akhirnya bareng-bareng ngebantuin Mater buat berdiri kayak biasa lagi. Tapi maygat.. Lengketnya bingittttz. Gatau si Mater ngegiles apaan sih..?
"Kok susah banget sih?!" Lightning mulai kesel.
"Eh Lightning, liat aja tu giginya sampai nancep ke tanah gitu!"
Bener aja, giginya Mater sampe-sampe nancep ke tanah. Omg, pasti sakit..
2 jam kemudian...
Mater berhasil bangkit.
Tapi giginya ilang sebelah. Alias masih nancep. Jadi gigi 1 deh..
"Dad-gum sialaaaann.. Dusun banget sih permen karet. Siapa juga yang makan permen karet ditengah hutan kayak gini?! Masa monyet?" Kata Mater datar.
Lightning & Francesco malah ketawa.
"Sekarang masalahnya tinggal giginya.." Gumam Mater. "Harus dicabut ntu, soalnya ntar bakal ku lemparin ke genteng kafe Flo! Soalnya itu gigi atas!"
#Plakk
"Terus.." Francesco bengong.
"... Gimana..?" Lightning ikut nyambung.
Akhirnya..
"Ayo spirittttt!" Seru Mater.
Akhirnya, mereka ambil ranting pohon yang lumayan panjang buat narik ntu gigi. Jadinya mah, maen tarik tambang. Francesco didepan, terus Lightning, Mater paling belakang. Aneh-aneh aja da Lightning & Francesco mah, tenaga kuda 750 mmph tapi masa gitu-gitu aja, narik gigi yang bisa dibilang kecil aja gabisa..
"AYOLAH PASTI BISA!" Teriak Lightning.
"RESE AMAATTT!" Francesco mulai ngamuk, mesinnya juga bunyi keras-keras.
Namanya Francesco, udah terkenal karena gadabnya itu loh. Karena uda ngamuk beneran, jadilah dia makin kuat. Kayak Bloom di Winx Club, marah berarti makin kuat. Itu ranting ditariknya keras-keras sambil mundur pake kecepatan super sampe keluar asap kabut dari tanah, dan voila! Giginya kecabut! Tapi, nasib sial..
*Swinggg!*
Giginya malah kelempar jauh tinggi. Kayak yang dilontarin katapel Angry Birds._.
"Mainstream bangeeett!" Puji Mater.
"Gila edannn! Giginya malah kelempar, oon.. Kok seneng?" Kata Lightning.
"JRITT!PASTA POTENZA NYA KEGEDEAN!" Teriak Francesco makin ngambek. "Mater, jadi gimana?" Katanya agak merasa bersalah.
Mater menatapnya dengan tampang watados, dengan gigi nongolnya Cuma atu. "Udahlah, lupakan aja. Yang penting cari jalan keluar!"
"Ok grazie."
Maaf pendek :|
Tadinya sih ini mau disatuin sama awal Ch 4 nanti, tapi kepanjangan. Yauda deh, disingkat dan hasilnya gini. :D
Review nya dong? Atau minimal Fav/Follownya deh. Ya plis ya? .-. Nulis ini capek tau, masa gaada yg nge-waro? x3
