Notes : Oke, stawberryfreak presents you chapter three~ dan seperti biasa, kalimat Masamune yang dicetak tebal itu berarti dia bicara dalam bahasa Inggris XD kemudian maaf jika ada orang yang merasa idenya sama dengan fiksi lain karena fiksi ini saya buat berdasarkan imajinasi liar yang undang-undang hak cipta secara harafiah dan sanubari lahir batin itu milik otak saya (?)

Enjoy, then~

. . . . .

Dokuganryū and Hime

Part III : Relation

Setelah surat pemberitahuan atas kedatangan ibunya Masamune—Yoshihime—kemarin malam, semua orang; baik prajurit, mata kanan Masamune dan baik Masamune sendiri, merasakan hawa buruk yang mulai mencekam di udara.

Megohime yang baru saja bertemu sekali-dua kali dengan Yoshihime pun kurang mengerti apa yang telah Yoshihime sendiri perbuat sampai mereka merasa 'down' seperti itu. Koujuuro pernah memberi tahunya bahwa ibu Masamune sangat membenci anaknya yang pertama itu dikarenakan cacat pada mata kanannya dan lebih memilih untuk merawat adiknya kemudian mendidiknya dengan sempurna. Megohime sendiri kurang percaya—mana ada ibu kandung yang membenci anaknya sendiri?

Kedua kaki milik Megohime akhirnya sampai di depan fusuma ruangan utama, dimana iris mata Megohime merefleksikan tubuh tegap Masamune yang telah dibaluti yukata terbaiknya yang rapi, rambutnya disisir dan diikat—mengingat rambutnya panjang sampai seleher. Tetapi ada yang salah dengan raut wajah Masamune.

Tidak peduli mau ke berapa kalinya daimyo dari Oushuu itu melangkahkan kakinya bolak-balik, kegusaran di hatinya tidak bisa hilang. Meski udara musim semi begitu menyegarkan, dia tetap tidak bisa menghirupnya dengan dalam dan tenang. Hari ini adalah hari kedatangan ibunya yang dari dulu sangat tidak ia sukai.

Megohime hanya bisa duduk bersimpuh sambil memperhatikan suaminya terus mondar-mandir tak tenang. Otaknya sibuk dengan pikiran "apa yang harus aku lakukan agar Masamune-sama bisa kembali seperti biasanya?".

Begitu Masamune duduk menyilangkan kakinya sambil melipat tangannya didepan dada, Megohime bisa melihat mata kirinya yang tertutup erat; layaknya orang yang sedang berpikir keras.

Perlahan, Megohime berdiri kemudian Masamune membuka matanya saat menyadari bahwa istri tercintanya sudah berada di depan tepat ia duduk.

"Masamune-sama! Coba lihat aku, apa aku sudah cantik seperti putri? Apa aku sudah terlihat dewasa?~" dengan nada suaranya yang ceria, Megohime berusaha menghibur Masamune. Putri dari Mutsu itu memutar badannya; memperlihatkan kimono bermotif rangkaian bunga sakura-nya yang begitu menawan.

Mendengar kalimat istrinya, Masamune hanya bisa tertawa lepas. "Kau masih terlihat kekanak-kanakan, you see?"

"Mou~ kenapa Masamune-sama begitu jahat pada Mego?" sang istri menggembungkan pipinya dan seketika membuat Masamune gemas ingin 'mengacak-acak' pipi Megohime. Tapi jika boleh jujur, Masamune memang menganggap Megohime layaknya dewi yang diutus ke dunia untuk menjadi pendamping hidupnya.

Tangan Masamune terangkat dan menyuruh Megohime untuk mendekatinya. Sedetik kemudian, ciuman kecil mendarat di pipi Megohime—membuat yang dicium merasakan wajahnya memanas karena malu.

"Terimakasih, Meg. Kurasa aku sudah bisa lebih tenang." Masamune tersenyum seperti biasa meski Megohime masih bisa merasakan sedikit beban masih ada di pundak Masamune, tetapi dia bersyukur telah mengangkat beban itu walau hanya setengah.

Hanya Megohime lah yang berani untuk terkadang berperilaku bebas yang membuatnya terlihat seperti kekanak-kanakan dan membuat hati setiap orang ikut ceria. Hanya dia lah yang berhak membuat Masamune merasakan kehangatan cinta seorang perempuan yang sudah lama tidak ia rasakan semenjak dirinya di telantarkan ibunya.

Dan hanya dia lah yang diperbolehkan menyentuh dirinya seperti saat ini. Kedua tangan yang lebih kecil dari tangan Masamune itu sedang menangkup wajah Masamune dan ditempelkan dahinya ke dahi Masamune.

"Tenang ya? Semuanya akan baik-baik saja." ucap Megohime setelahnya.

Kini Masamune menutup matanya dan mengangguk pelan, berharap juga semuanya akan baik-baik saja seperti yang dikatakan istrinya.

.

.

.

"Hitto! Ah, Katakura-sama!" teriak seorang anak buahnya dari luar ruangan. Koujuuro yang baru saja akan berjaga di luar ruangan sepasangan suami-istri Oushuu bertanya ada apa. "Kereta milik Yoshihime-dono sudah datang, Kojiro-dono juga ikut berada satu kereta dengan Yoshihime-dono!" jawab anak buah Masamune kemudian ditanggapi anggukan mengerti dari Katakura Koujuuro.

"Kau boleh pergi, biar saya yang sampaikan. Terimakasih atas informasinya."

Dan dengan itu anak buahnya membungkuk hormat setelahnya ikut membaur dengan kawanannya.

"Masamune-sama, saya datang untuk melapor."

Tangan gagah Koujuuro menggeser pelan fusuma yang menghadap langsung dengan ruangan milik Masamune dan istrinya. Segera Koujuuro melihat Megohime sedang memeluk Masamune dan dengan canggung, Koujuuro membungkuk hormat, "maaf atas ketidaksopanan saya karena mengganggu aktifitas anda berdua, Masamune-sama, Mego-sama."

Masamune pun berdeham dan merapikan yukatanya, Megohime kembali duduk bersimpuh sambil berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah. "What is it, Koujuuro? Apa nenek sihir itu sudah datang?"

"Maafkan saya, tapi memang Yoshihime-sama dan Kojiro-sama sedang menuju kemari untuk bertemu dengan anda dan Mego-sama."

"Alright, sankyu na Koujuuro. Kalau kau mau, bergabunglah dengan kami nanti." Masamune tersenyum menantang seperti biasa—lebih tepatnya menyeringai. "Terimakasih atas tawarannya, Masamune-sama, tetapi saya tidak sopan bila ikut dalam perbincangan anda dengan ibu anda." setelah itu Koujuuro mengangguk kemudian kembali membungkuk hormat dan menutup kembali fusuma.

Megohime melirik ke arah Masamune seraya bertanya, "kamu yakin akan baik-baik saja kan, Masamune-sama?"

Yang ditanya balas melirik dan menjawab. "Of course. Everything is gonna be alright, okay?" ucap Masamune dengan kemampuan bahasa Inggrisnya seperti biasa.

. . . . .

"Selamat datang kembali, Yoshihime-sama, Kojiro-sama." sang pemuda yang disebut mata kanan Masamune itu membungkuk hormat dan menggeser fusuma agar mereka berdua bisa melanjutkan langkahnya untuk bertemu dengan Masamune dan istrinya. Setelah mereka berdua masuk, baru Koujuuro kembali menutup fusuma itu dan dan duduk di depannya—berjaga-jaga jika saja ada hal yang tak terduga datang atau tuannya memerlukan sesuatu.

Megohime dapat melihat ibu mertuanya yang sangat cantik jelita dan masih tampak muda. Disebelahnya ada seorang anak laki-laki yang tingginya hampir sama dengan Masamune, yang ia percaya kalau itu adalah adik iparnya.

Yoshihime duduk bersimpuh dengan anggun di hadapan mereka berdua diikuti dengan Kojiro di sebelah ibunya. Megohime memandangi adik Masamune yang terlihat seperti boneka hidup, matanya seperti memandang laut hitam kelam.

Sadar dengan situasi yang canggung, Megohime mencoba menghangatkan suasana. "Yoshihime-sama dan Kojiro-sama pasti lelah setelah menempuh perjalanan panjang kemari, silahkan diminum dulu." katanya sang putri dari Mutsu sambil menuangkan teh hangat ke gelas dan disodorkan di hadapan mereka berdua, setelahnya ia tuangkan lagi di kedua gelas untuk suaminya dan dirinya sendiri.

Yoshihime mengambil gelasnya, "apa kau yakin teh ini tidak diracuni, Megohime-kun?" kemudian ibu dari Masamune itu tersenyum sambil mengusap bibir gelas dengan jari telunjuknya. Megohime tentu saja terkejut dengan pertanyaan Yoshihime jadi dia menjawab dengan canggung.

"Tentu saja tidak, ibu. Kita semua meminum dari teko yang sama." jawab Megohime dengan senyuman manis. Kini giliran Masamune yang angkat suara, agar suasana menjadi lebih baik.

"Bagaimana dengan pekerjaanmu, Kojiro?"

"Terlaksana dengan baik, aniki..."

"Kau sudah hampir lebih tinggi sekarang dariku ya? Berani sekali kau?" Masamune berbicara dengan nada iseng seperti biasa, dibalas dengan senyuman tak bersalah dari adiknya itu. Megohime tersenyum manis dan mencoba menambahkan, "Kojiro-dono sudah memiliki perempuan yang diminati, belum? Aku akan ada jika Kojiro-dono ingin meminta pendapat."

Dan dengan itu kedua pipi Kojiro terasa memanas, dialihkan pandangannya dari Megohime dan kakaknya. "T-tidak, belum ada dan aku kurang minat untuk berhubungan..."

Sang istri dari One-eyed Dragon itu tertawa kecil setelah mendapat respon dari Kojiro.

"Ternyata memang masih ada sisi manisnya dibalik tegasnya topeng milik Kojiro-dono..." ucap Megohime dalam hati dan berharap Kojiro tidak kembali memasang wajah kaku. Megohime juga berharap pertemuan keluarga ini akan lancar.

Tapi sayangnya, harapan Megohime tidak terkabul. Setelah candaan itu hilang, keheninga berangsur-angsur datang memenuhi ruangan itu, bahkan Megohime sendiri bingung ingin membicarakan topik apa yang mampu mencairkan suasana tegang ini.

Mendadak saja, Masamune berdiri.

"Kalau begitu, aku dan Kojiro akan beradu kendo di luar. Kalian boleh berbincang-bincang tanpa kami; para lelaki."

Mendengar namanya dipanggil, adik Masamune juga berdiri dan mengikuti langkah kakaknya keluar ruangan dengan Koujuuro yang tadinya menunggu diluar juga ikut serta mengikuti mereka berdua untuk mengambil dua pedang kayu.

Hening kembali.

Mata Megohime memandang ke arah lain, takut bertatapan langsung dengan Yoshihime. Tangannya ditautkan satu-sama lain dengan gugup.

"Megohime-kun, bagaimana tanggapanmu dengan wilayah Oushuu yang dipimpin oleh Masamune, bontenmaru-ku yang tercinta itu?"

Kembali mata Megohime menatap sepasang mata beriris coklat gelap yang hampir sama dengan milik Masamune, diberanikan dirinya untuk menjawab dengan tenang.

"Oushuu cukup tentram, ibu. Meskipun Masamune-sama masih terlihat seperti anak-anak, tapi seiring berjalannya waktu, saya yakin Masamune-sama akan menjadi pemimpin yang hebat."

"Bukankah lebih cocok apabila Kojiro yang menjadi pemimpin?"

"M-maaf?"

Megohime menelan ludahnya sendiri, takut jika dia salah berbicara dan dia menyadari sesuatu yang memang aneh pada Yoshihime.

"Kojiro lebih cepat matang dibandingkan dengan Masamune, bukan? Aku ingin meminta tolong padamu untuk membuat Masamune menyerahkan Oushuu kepada Kojiro. Yakinlah, wilayah ini akan lebih maju dan tentram daripada yang sekarang."

Kini Megohime merasa dirinya sedang dipancing untuk emosi, tetapi bila mengingat dia sedang berhadapan dengan orang yang lebih tua sekaligus wanita di depannya ini adalah ibu kandung dari suaminya, perempuan yang masih gadis itu berusaha mati-matian menahan emosinya.

"Ibu, maafkan saya bila lancang. Apakah sedemikian rupanya ibu sangat membenci Masamune-sama? Saya tidak mengerti apa salah yang dimiliki Masamune-sama hingga ibu benar-benar ingin membuat dirinya hancur dan rendah..."

Sedetik kemudian terdengar tawa dari bibir Yoshihime.

"Megohime-kun, kamu ternyata sungguh polos. Apa bontenmaru-ku menggunakan tipu daya muslihat terhadapmu? Dia telah membuat suami yang paling kusayangi itu meninggal. Sekarang dia dengan seenaknya mengambil dan menguasai wilayah kerajaan yang tadinya milik suamiku."

"Tapi, Ayahnya sendiri yang memberikan kekuasaan itu menjadi milik Masamune-sama. Saya sendiri mengikuti perbincangan mereka berdua disaat menjamu mereka dengan sake dan saya sangat nyaman dalam perbincangan mereka. Tidak ada yang namanya kecurangan atau apapun, ibu."

Dengan itu, Yoshihime merasa terkalahkan dengan ketulusan dari Megohime. Wanita itu berdiri dan berniat meninggalkan Megohime sendirian dalam ruangan itu. Sebelum dirinya menutup kembali fusuma ruangan utama, bibirnya membuka untuk berkata, "seorang wanita harus memiliki kepicikan dan kelicikan tersendiri, Megohime-kun. Mereka; para pria menganggap kaum kita adalah hal yang mudah ditaklukkan dalam era ini." Kemudian Yoshihime benar-benar meninggalkan sang istri dari Dokuganryu itu sendirian.

"Ibu salah... tidak semua pria memiliki pikiran menyedihkan seperti itu." gumamnya pelan.

. . . . .

Tidak disangka hari sudah beranjak sore.

Kojiro dan Masamune sedang duduk beristirahat seusai membuktikan siapa yang paling hebat dalam menggunakan pedang. Mereka hanya duduk bersantai di perkarangan salah satu washitsu dan masing-masing memegang cangkir sake yang sudah terisi dengan sake manis.

"Seperti biasa, aniki selalu hebat."

Ya, tentu saja Masamune yang memenangkan pertarungan kendo antar-saudara tadi.

Masamune tertawa seperti biasa dan menatap wajah adiknya dengan mata kirinya, meski sudah lama tidak melihatnya, Masamune tidak terbiasa reuni keluarga apa lagi jika sudah ada ibunya yang bermulut kejam itu.

"Aniki, kalau suatu hari aku meninggal. Siapa yang akan merawat ibu? Aku juga tidak ingin meninggalkan aniki karena kita sudah dewasa dan akhirnya bisa bertemu kapan saja yang aku mau seperti sekarang. Ah, tapi mungkin aku akan meminta ijin ibu dulu jika harus berpergian..."

"Oi, oi! Kenapa berbicara seperti itu, hah? Kau tak boleh mati duluan. Masalah si nenek sihir, aku sudah tidak mau tahu lagi. Aku tidak mengerti apa yang sudah berubah dari dirinya, ku lihat sikapnya masih sama saja seperti dulu. Kau pasti dididik sangat keras dengan nenek sihir itu kan?"

Kojiro tertawa lepas mendengar Masamune menyebut ibunya dengan nenek sihir. Walaupun ibunya cantik jelita dan beda jauh derajatnya dengan nenek-nenek.

"—Kojiro!" suara wanita terdengar dari jarak yang terlihat mendekat. Otomatis, pemuda yang namanya dipanggil menoleh ke sumber suara dan berdiri. "Kita pergi, ibu sudah bosan disini." ucap Yoshihime sambil mengarahkan pandangan sinisnya ke arah Masamune.

Kojiro pun meletakkan cangkir sake-nya dan membungkuk hormat kepada Masamune, "Terimakasih atas jamuan dan pertarungan seru tadi, aniki. Sampai bertemu lain kali." Kojiro pun langsung berlari cepat menghampiri Yoshihime dan mereka berdua pun menghilang dari pandangannya.

Masamune menghela nafas dan dia baru teringat tadi istrinya ia tinggalkan agar ia bisa berbincang-bincang dengan Yoshihime dan berharap dengan itu Megohime tahu akan sifat asli ibunya.

Dia pun tegakkan kakinya dan langsung berjalan menuju ruangan utama dimana istrinya berada.

.

.

.

"Mego?" suara Masamune menggema di ruangan tetapi tidak ada yang menjawab. Telenan berisi teko dan empat gelas ocha sudah tidak ada disana yang berarti ruangan itu telah dibereskan, kemudian kakinya beranjak lagi ke kamar mereka.

Dengan berjalan selama tiga menit lamanya, Masamune sudah berada di depan ruangan mereka dan lengan berototnya terulur untuk menggeser fusuma. Di depannya sudah ada Megohime yang duduk bersimpuh menghadap meja belajarnya.

"Sedang apa, Meg?" ucap sang Dokuganryu dengan basa-basi. Putri dari Mutsu itu menoleh ke arah belakang dan tersenyum manis. Dihampiri suaminya itu dengan lompatan kecil dan memeluknya.

"Hanya mencoba beberapa coretan kaligrafi."

"Bagaimana dengan yang tadi? Everything's alright?"

Megohime mengangguk pelan kemudian menjawab, "sekarang aku mengerti mengapa kamu memanggil ibu dengan nenek sihir."

"Hahahaha! Benarkan? Sekarang kau mulai sepaham denganku."

"Aku akan selalu mencoba sepaham denganmu, Masamune-sama. Sekarang mandilah, setelah itu kita akan ke ruang makan, jika tidak tepat waktu untuk makan malam nanti kamu akan sakit."

"Gosok punggungku saat mandi."

"T-tapi!"

"Tidak ada tapi-tapi, my rule is absolut and obvious. Kau harus mematuhinya."

"Kalau tidak?" ujar Megohime dengan senyuman jahil—mencoba menggoda suaminya.

Kemudian dirasakannya tangan kiri Masamune menggenggam pergelangan kaki kanannya, setelah itu jari jemari di tangan kanan Masamune pun di gerakkan dengan cepat di telapak kakinya seraya membuat Megohime merasa geli karena tergelitik.

"I-iya! Uwah—hahahaha! A-ampun!"

"Mau tidak mematuhi perintahku lagi, hmm?"

"Tidak, tidak! Aku akan ikuti seluruh kemauanmu, M-masamune-sama hentikan! G-geli!"

Mendengar akuan pasrah istrinya, Masamune menghentikan gelitikannya dan menyeringai. "Kalau begitu, sekarang masuk ke kamar mandi dan bantu aku melepas baju kendo ini!"

. . . . .

Malam telah tiba. Setelah mereka mandi bersama-sama dan menyantap makan malam mereka, kini sepasang suami-istri itu saling bermanja satu sama lain.

Dengan posisi dimana Megohime duduk bersandar di perbatasan fusuma kamar mereka dan Masamune yang tiduran di pangkuan istrinya. Tangan mungil Megohime mengelus rambut Masamune yang panjang dan halus itu.

"Masamune-sama memang seperti naga ya? Sangat hebat dan keren. Teriakanmu seperti auman naga yang sedang bertarung dengan naga lainnya di udara." Megohime tersenyum memandangi suaminya yang berada dalam posisi nyaman.

"Kau juga seperti dewi yang cantik. Hahahaha, seperti cerita mitos saja. Sang putri dan naga."

Kembali tangan Megohime teralihkan ke penutup mata kanan Masamune. Dirinya melepas perlahan penutup mata itu dan memperlihatkan kelopak matanya yang tertutup.

Rahang Masamune mengeras setelah sadar penutup matanya terlepas dari tempat dimana seharusnya logam hitam itu terikat. Megohime sendiri menyadari Masamune gugup saat penutup matanya itu dilepas.

"Bodoh, aku takkan membencimu atau menganggapku rendah hanya karena ini, Masamune-sama... tidak perlu takut." Kemudian tubuh Megohime membungkuk untuk menempatkan bibirnya di atas kelopak mata kanan milik Masamune. Kalimat tadi yang keluar dari bibir Megohime membuat Masamune kembali rileks, Megohime tahu betul apa yang Masamune pikirkan.

Kemudian Masamune mencubit pipi Megohime, "kau tadi bilang apa? I'm silly, huh?"

Megohime kemudian tertawa kecil sambil mengusap pipinya yang memerah karena dicubit cukup kuat oleh Masamune. "Sebagai hukumannya, cium aku dan terus usap kepalaku!"

"Iya, iya. Aku akan membuat Masamune-sama senyamaaan mungkin sampai bisa tertidur lelap."

"Heh, coba saja buat aku tertidur! Aku takkan tidur dan malah kamu duluan yang terlelap, aku berani taruhan."

Setelah itu, Megohime mengusap kepala Masamune sampai hampir tengah malam dan keduanya tidur bersamaan dalam posisi seperti itu.

. . . . . . . . . . .

終わ3

. . . . . . . . . . .

Staw-chan : Yes-shu~ Chappie ketiga! Fast update, eh? Engga nyangka udah ngetik hampir 2.500+ words. Sejak melihat review dari kawan-kawan sekalian, aku jadi semangat mau lanjutin. Ditambah aku menemukan foto Masamune favoritku dan aku bahagia sepanjang masa sehabis lihat fotonya (kemudian author di gamvar). Saat mengetik chapter ketiga ini, ada bagian Masamune mengatakan "Everything's gonna be alright" seharusnya aku tulis "Everything's gonna be daijoubu" (?) /author digamvar sekali lagi.

Besok Senin, staw-chan sudah mulai masuk sekolah dan mulai harus mencari waktu luang untuk menyelesaikan chapter-chapter berikutnya untuk fiksi ini~ dan semoga masih ada yang setia untuk menunggu dan membaca cerita MasaxMego pertamaku ini XD

Berikut balasan dari review untuk chapter sebelumnya! Maaf jika ada nama yang tidak tersebutkan di bawah ini~ selalu stay tune ya!

Reikahime : aku sudah mencoba untuk tidak membuat karakter Yoshihime sesadis mungkin. Jadi silahkan dibaca saja dan beri pendapat~ dan tunggu.. kenapa nunjuk mata? QAQ

Renka23 : Mending makan dulu daripada disembur makanannya sambil cengar-cengir *ditabok kemudian* Kalau mereka berdua yang bertarung, pasti menang Yukimura (kok malah nyasek?) tapi aku sudah update kok! Jadi simpan pisonya ya? QvQ mending buat sembelih wortel atau apa gitu (?)

MahardikaRBL : Yup! Ini sudah kubuat agak panjang, mungkin ini chapter terpanjang yang pernah kubuat di fiksi ini XD Baru tadi Minggu pagi sih aku nonton Judge End episode 5 dan aku mulai kasihan dengan babang Masmun yang biasanya bertarung dengan seringai disertai logat inggrisnya itu sekarang Cuma terfokus bilang "Ishida Mitsunari" "Ishida Mitsunari", uhuk :'3

Holistheashuraootsutsuki : Ditunggu saja chapter dimana sepasang suami-istri ini akan memiliki anak~

Sankyu for read this chapter and please don't be meannie silent-reader next time~