"Halo Luhan,"
"Oh halo Yixing. Ada apa? Kita baru bertemu satu minggu yang lalu, kau sudah merindukanku? Hehehehe."
Kekehan menyebalkan Luhan diseberang sana membuat Yixing mendengus.
"Tidak juga sih. Ngomong-ngomong aku baru melihat ramalan cuaca, katanya di Beijing hujan lebat, benarkah?"
"Iya disini hujan lebat dan banyak petir. Cuacanya benar benar buruk. Kenapa?"
"Ah tidak, Junmyeon pulang hari ini, baru saja take off. Aku hanya sedikit khawatir."
"Ya sudah, kalau begitu cepat tutup telepon ini dan segeralah berdoa yang banyak agar suamimu yang tampan itu tidak mati disambar petir."
"Kau menyumpahiku ya?!"
Haaah berbincang dengan Luhan ternyata bisa mengupgrade emosi Yixing ke level yang lebih tinggi!
Jadi begini, minggu lalu keluarga Kim ke Cina untuk menghabiskan liburan sekalian berkunjung ke rumah orang tua Yixing. Yixing, Jongdae dan Jongin sudah pulang ke Korea 3 hari yang lalu tapi Junmyeon tetap tinggal, katanya ada urusan kantor disana. Hari ini Junmyeon pulang tapi cuaca sepertinya tidak mendukung. Yixing jadi takut kalau suaminya itu benar tersambar petir saat di awan sana. Duh, ini gara gara Luhan!
"Jongdae Jongin!" teriak Yixing dari lantai dasar sedangkan kedua anaknya ada di kamar masing masing di lantai dua.
"Yaaa?" balas Jongdae dan Jongin kompak dan tak kalah nyaring.
"Ibu tak peduli apapun kegiatan kalian tapi hentikan itu sekarang juga. Sekedar informasi cuaca di Beijing sedang buruk jadi sekarang berdoalah kepada Tuhan agar ayah kalian, ya, ayah kalian si Kim Junmyeon yang tampan itu tidak mati disambar petir!"
Jongin meringis. Untung saja rumahnya besar dan agak jauh dari rumah rumah lainnya karena teriakan ibunya sangat berpotensi mengganggu tetangga, dan itu dilakukan Yixing hampir setiap hari! Jongin berfikir tidak bisa kah ibunya mengetuk pelan pintu kamarnya lalu berkata,
"Jongin sayang, letakkan pr mu. Cuaca Beijing sedang buruk dan ayahmu ada di pesawat, sekarang berdoalah untuk keselamatan ayahmu, okay?"
lalu bergantian masuk ke kamar kakaknya dan mengatakan hal yang sama. Demi tuhan anak Yixing hanya 2, apakah mendatangi kamar 2 anak terlalu melelahkan? Hah terserah saja lah..
Jongin bangkit dari tidurnya, merapikan semua buku lalu duduk baik seraya berdoa. Sedangkan Jongdae?
"aku tidak bisa membuang waktuku meski hanya sedetik, oooh ujian di depan mata! Aku berjanji setelah ini aku akan banyak berdoa! Maafkan aku kali ini ayah, dan sepertinya dia Jongin saja sudah cukup, maaf ya?" gumam Jongdae sambil tangannya bergerak cekatan menulis rumus rumus fisika.
...
"Menjemput Junmyeon tidak ya? Uuuh-"
Yixing berjalan mondar mandir di ruang tamu sambil sesekali mengamati jam di tangannya. Sebentar lagi pesawat Junmyeon di jadwalkan mendarat dan selama ini belum ada berita pesawat rute Beijing-Seoul kecelakaan karena tersambar petir. Huh, syukurlah.
Yixing sudah rapi dengan pakaian santainya, dia naik ke lantai atas dan membuka pintu kamar Jongin,
"Ibu pergi menjemput ayah, nanti saat makan malam kami pulang. Kau ingin menitip sesuatu?"
"Ah? Tidak-"
"Baiklah, ibu pergi."
Wow, Jongin diam beberapa detik. Pikirannya beberapa menit yang lalu jadi kenyataan! Ya pikirannya tentang bisakah-ibu-datang-ke-kamar-anaknya-dan-bicara-baik-baik-tanpa-berteriak-karena-demi-tuhan-anak-ibu-hanya-2. Doanya langsung terkabul, Jongin terharu sekali :') Wah, kekuatan doa sungguh luar biasa dan mungkin inilah yang biasa disebut dengan rejeki anak sholeh.
Dan seperti khayalan Jongin tadi, Yixing masuk ke kamar Jongdae dan menanyakan hal yang sama.
"Bisa ibu belikan kunci jawaban untuk ujian ini?"
"Hah?"
"Hah? Ah- tidak tidak! Astaga maafkan aku bu, aku tidak bermaksud-"
"Ssstt jangan terlalu memaksakan diri, sayangku. Ibu tau kau belum makan siang. Cepat turun ke bawah lalu makan atau ibu akan marah."
"Oke oke.."
Wah Yixing mendadak jadi ibu dambaan setiap anak.
...
Yixing duduk di ruang tunggu, sesekali mencek jadwal kedatangan di layar besar yang ada di depannya. Pesawat Junmyeon sudah tiba satu jam yang lalu tapi Junmyeon belum juga muncul. Baru saja Yixing ingin mengeluh,
"Yixing?"
"Ah Junmyeon lama sekaliii..."
"Loh kau tidak bilang mau menjemputku, rindu ya?" goda Junmyeon sambil menoel noel dagu Yixing. Yixing merengut. Dia paling tidak suka digoda.
"Hanya antisipasi. Cuaca beijing kan sedang buruk, siapa tau pesawatmu terbakar karena tersambar petir jadi aku bisa cepat mencari Kim Junmyeon diantara ratusan tubuh gosong." ucapnya Yixing ketus.
"Ey, bicara apa kau ini? Tidak ada manis manisnya." Junmyeon makin gencar menusuk nusuk pipi Yixing dengan jari telunjuknya, tidak berhenti sampai tangannya dipukul Yixing lalu Junmyeon tertawa.
*cup*
"Ayo pulang, aku merindukanmu."
Junmyeon merangkul pundak Yixing sambil tertawa kecil saat mendengar Yixing memakinya pelan, seperti "Junmyeon astaga! Apa apaan?! Menciumku di tempat umum? Yang benar saja! Dasar tidak tahu malu. Kau itu sudah tua!"
Mereka duduk di mobil dan saling diam untuk beberapa saat lalu,
"Junmyeon?"
"Ya?"
"Bisakah kau membeli kunci jawaban untuk Jongdae? Anak itu sepertinya stres, dia bahkan sama sekali tidak menikmati liburannya kemarin. Hah, padahal tidak belajar juga tidak apa-apa, dia sudah pasti lulus. Setidaknya kalau punya kunci jawaban mungkin dia bisa sedikit lebih santai."
"Sebenarnya bisa saja aku membeli kunci jawaban. Tapi nanti dia marah, kau seperti tidak tahu Jongdae saja.."
"Belikan saja dulu, nanti aku yang bicara."
"Hmmm.."
Junmyeon lalu mengambil teleponnya,
"Kris, belikan kunci jawaban untuk Jongdae sekarang" *pip*
"Sudah, haaah lihat saja nanti Jongdae pasti mengamuk." ucap Junmyeon dan Yixing hanya mengangkat bahu.
"Biarkan saja mengamuk, asal tidak kabur dari rumah dan jadi gelandangan." Junmyeon hanya mengangguk pelan.
END
Aaaaahahaha apa lagi ini? Endingnya ga banget, tapi bingung mau gimana jadi ya udah . lama ga nulis sorry ya kalo ga asik . makasih buat yang mau baca sama yang review. I luph y'all :3 oh oh kayaknya di chap kemarena ada beberapa yang pengen kimjongbros di kopelin sama member exo, bisa sih tapi kasih saran mereka mesti di kopel sama siapa, okay? Makanya mampir ke box review wkwk
