FLOW SNOW
Chapter 3
-Salju yang Mengalir-
Jika keinginanku terkabul, aku ingin menjadi seperti salju yang menyelimutimu.
Hari ini tak sedingin kemarin. Awan tipis sedikit menghalangi cahaya matahari yang sedang bersinar cerah. Salju sedikit menumpuk di sudut-sudut kota yang terabaikan. Orang-orang berbaju tebal berlalu-lalang di pinggir jalan. Mobil-mobil berderet mengantri di jalanan, saling membunyikan klakson dan berharap mobil di depannya segera bergerak maju. Bodoh memang.
.
A Bleach fanfiction
Flow Snow by Yacchan-chi
Bleach by Tite Kubo
.
.
Tatsuki berdiri diam di antara kerumunan orang-orang yang sibuk itu. Ia harus berhati-hati. Kalau tidak, petugas akan menangkapnya dan mengiranya bolos sekolah. Diamatinya seorang wanita dengan make up tebal yang melapisi wajahnya. Ia berjalan tergopoh sembari berbicara dengan seseorang di ponselnya yang sepertinya canggih. Handbag Louis Vuitton yang ditentengnya menandakan kalau dia adalah kaum borjuis.
"Di dalamnya pasti ada dompet dengan uang yang banyak," ucap Tatsuki pelan.
Tatsuki kemudian mengikuti wanita itu. Matanya yang jeli menemukan sebuah kesempatan emas: wanita itu lupa menutup tasnya. "Bingo."
Wanita itu terus berjalan hingga pada akhirnya berhenti pada sebuah kedai es krim. "Tolong satu es krim rasa cappuccino, ya," ucap wanita itu pada pelayan kedai.
"Aku beli es krim rasa coklat dan stroberi," Tatsuki menyeruak di samping wanita itu.
"Wah, wah, pagi-pagi dingin seperti ini sudah beli es. Baiklah, tunggu sebentar, ya," balas pelayan itu dengan senyum yang ramah.
Setelah si pelayan menyibukkan dirinya di dapur kedai es krim dan si wanita kembali asyik dengan handphonenya, Tatsuki pun melancarkan aksinya. Dengan penuh hati-hati tangan kecilnya menyusup ke dalam tas wanita itu, mencari-cari di mana dompet yang ia inginkan itu berada. Tak lama tangannya menyentuh sebuah benda yang sepertinya terbuat dari kulit. Pasti ini dompetnya! Pikir Tatsuki. Ia pun menarik benda itu keluar. Dan benar, ia berhasil mendapatkan dompet merek Channel milik wanita itu. Segera dimasukkannya dompet itu ke dalam piyamanya.
"Ah, maaf, Nona, aku lupa membawa uang. Tidak jadi tidak apa-apa kan?" Tatsuki kembali berakting. Suaranya sengaja dibuat melas begitu agar si pelayan merasa iba padanya.
"Tidak bawa uang? Yah, apa boleh buat, aku juga belum menyiapkan es krimmu, kok."
"Terima kasih, Nona."
"Ya, hati-hati dijalan," pelayan kedai itu melambaikan tangannya pada Tatsuki yang mulai menjauh dari kedai es krim itu.
Saat hendak kembali pulang, ralat, Tatsuki tidak punya rumah, jadi, saat hendak kembali ke taman bermain, matanya terpaku pada seorang kakek tua penjual makanan-entah-apa-itu, yang sepertinya enak. Kakek itu membolak-balik makanan-entah-apa-apa-itu agar bulat seperti bola dan mengeluarkan bau harum yang luar biasa nikmat, membuat orang-orang yang lewat di depannya meneteskan air liur, mungkin.
"Apa ini?" Tanya Tatsuki sembari menunjuk bola-bola makanan-entah-apa-itu yang tersusun rapi di atas lembaran-lembaran plastik berbentuk perahu yang masing-masing berisi lima buah.
Meskipun biasanya banyak orang tahu kalau makanan yang ia jual adalah takoyaki, tapi kakek itu tidak segan untuk menjelaskannya pada Tatsuki dengan senyumnya yang hangat. "Ini takoyaki, Nona, dengan potongan gurita segar yang aku cari sendiri di laut."
"Gurita?"
"Tentu saja."
"Sepertinya ini enak. Aku mau beli dua untuk kubawa pulang."
Kakek tua itu kemudian memasukkan dua lembaran plastik berbentuk perahu yang berisi takoyaki buatannya. "Untuk Nona manis pembeli pertama, aku berikan gratis."
"Kenapa?"
"Karena sepertinya kau anak yang baik."
Maaf, Kakek, tapi sebenarnya aku bukan anak yang baik, aku anak yang jahat, sangat jahat, kata Tatsuki dalam hati. "Terima kasih."
"Sebaiknya kau cepat pulang, kalau tidak kau bisa tertangkap oleh petugas yang biasa berpatroli di sekitar sini," ujar kakek itu sambil terus tersenyum. Tatsuki mengangguk dan kemudian melenggang pergi.
"Hei, Hime! Mau pulang bareng? Hari ini ayahmu sibuk, 'kan?" seru Ichigo ketika seluruh murid-murid Horikoshi Gakuen berhamburan keluar sekolah. Ya, sore-sore begini, udara mulai dingin sehingga mereka ingin cepat-cepat pulang ke rumah mereka yang hangat.
"Emm… ano… maaf, Ichigo, tapi aku ada urusan sebentar.." jawab Orihime cemas. Kepalanya sibuk melongok ke dalam taman bermain yang sepertinya sepi pengunjung.
"Tapi 'kan… Apa kau tidak apa-apa pulang sendirian?"
"Tak usah cemas, aku tidak akan lama, kok. Ichigo pulang saja dulu."
Ichigo mengernyitkan dahinya. Yah, sebenarnya dia cemas sih. Karena Ichigo suka pada Orihime. Selain itu, rumah Ichigo juga searah dengan rumah Orihime. "Kalau ada apa-apa, telpon aku saja, ya."
Orihime mengangguk sambil tersenyum. Setelah Ichigo tak tampak di matanya, segera ia melangkah memasuki taman bermain yang ada di depan sekolahnya itu.
Benar. Di sana tak ada siapa-siapa. Bahkan di atas pohon maple pun tak dijumpainya gadis kemarin sore, Tatsuki Arisawa. Orihime duduk di atas ayunan menunggu Tatsuki. Hatinya berkata kalau gadis itu akan kemari tak lama lagi.
"Kau… benar-benar ke sini lagi rupanya…"
Orihime menoleh ke arah suara. Tatsuki di sana. Masih dengan piyama putihnya yang agak kebesaran, dia menenteng sebuah paperbag berisikan banyak makanan. Sudah berhari-hari perutnya kosong sejak ia kabur dari rumah yang ia anggap seperti penjara itu. Dan hari ini, untuk pertama kalinya, ia makan dengan uang hasil ia mencuri.
"Arisawa-san! Coba tebak apa yang aku bawa!" Orihime membuka tas punggungnya dan menunjukkannya kepada Tatsuki.
"Pakaian?" ucap Tatsuki heran.
"Untukmu, agar tak kedinginan."
"Semuanya… untukku?"
Tanpa menjawab Orihime mengambil sebuah syal dan melingkarkannya ke leher Tatsuki. "Bagaimana?"
Tatsuki memandang syal yang kini telah melingkar di lehernya. Walau hanya sebuah syal, tapi entah mengapa seketika perasaan hangat menyelimuti seluruh tubuhnya. Dikeluarkannya sekotak yakisoba yang baru saja ia beli. "Aku sudah makan ini tadi… jadi aku sedikit kenyang. Kita makan berdua saja, ya."
"Eh? Ba-baiklah. Tapi, sebaiknya kita duduk saja, Arisawa-san," kata Orihime sembari menggamit tangan Tatsuki. Mereka duduk di bawah naungan pohon maple dan memakan yakisoba itu bersama.
"Aku tidak tahu kalau rasanya seenak ini, jadi aku beli lagi satu," kata Tatsuki sambil melahap seutas yakisoba terakhir miliknya.
"Yakisoba memang enak. Kau belum pernah makan ini sebelumnya?" jawab Orihime.
"Belum. Aku tidak pernah keluar rumah."
"Oh… Ah! Kemarin, kau belum sempat memberitahu tempat tinggalmu, kan?"
Tatsuki terdiam. Matanya menerawang jauh, mengingat-ingat kembali saat-saat dimana dia dulu 'dikurung' di sebuah rumah, dikucilkan, disembunyikan dari orang-orang, karena dia adalah anak haram. Ibunya menganggapnya aib yang tidak pantas diketahui orang-orang karena Tatsuki lahir tanpa ayah. Ya, ibu Tatsuki adalah pelacur, dan ia melakukan kesalahan yang sangat fatal, ia hamil di luar nikah.
Tatsuki dititipkan pada seorang lelaki yang notabene adalah seorang mafia kejam kenalan ibunya. Di rumah tempat Tatsuki tinggal, banyak sekali orang-orang berpenampilan mengerikan kenalan mafia itu, yang pasti juga sama-sama mafia. Mereka biasa mabuk, berjudi, dan berkencan dengan banyak wanita di rumah itu, sebuah tempat yang menurut Tatsuki penuh kemaksiatan dan dosa.
Ibunya pun tak pernah menjenguknya. Jika beruntung Tatsuki mungkin akan menerima sepucuk surat dari ibunya yang isinya selalu menanyakan kabarnya. Tapi Tatsuki hanya menganggapnya sebagai angin lalu. Semua surat yang dikirimkan tak pernah ia balas.
Di tempat itu Tatsuki hidup menderita. Ia diperlakukan sebagai pembantu, lebih tepatnya babu, karena di sana ia persis seperti orang yang sangat hina. Makanan yang diberikan pun jauh dari kata layak. Jika lengah sedikit, maka anjing Siberian Husky yang biasa mengawasinya dapat menerkamnya sewaktu-waktu, bahkan membunuhnya.
Hingga pada suatu hari Tatsuki mendapat sebuah kekuatan. Keberanian yang luar biasa. Ia dapat kabur dari dunia kemaksiatan yang telah belasan tahun menemaninya, bahkan melukai sang mafia busuk itu.
"Arisawa-san?" Orihime mengibaskan tangannya di depan wajah Tatsuki, sehingga membuatnya tersadar dari lamunannya.
"Ah… maaf," kata Tatsuki datar.
"Jadi… kau tinggal di mana?"
"Aku tidak punya rumah…"
"Kau pasti bercanda~" kata Orihime yang tak menanggapi serius ucapan Tatsuki barusan.
"Aku tidak bercanda, sungguh. Sudah lima hari aku tinggal di taman ini, di atas pohon maple ini."
"Tapi… kenapa?" kali ini Orihime percaya.
"Aku benci tempat tinggalku yang dulu."
"Jadi, kau kabur dari rumah? Tapi Arisawa-san, orangtuamu pasti mencarimu."
"Orangtua? Orangtua katamu? Bicara apa kau ini? Aku ini anak haram! Aku tidak tahu siapa ayahku, aku benci ibuku! Aku benci mereka! Apa kau tidak tahu, selama ini, belasan tahun aku tinggal bersama orang-orang jahat. Mereka menganggapku aib! Mereka mengurungku, Orihime! Aku tidak tahan…. Aku… tidak kuat hidup seperti ini…." Suara Tatsuki yang keras dan cenderung seperti berteriak itu lama-lama melemah. Baru kali ini ia menangis sejadi-jadinya. Semua masalah di hidupnya kini telah tumpah pada seorang gadis yang baru ia kenal sehari yang lalu.
"Arisawa-san…" kini ganti mata Orihime yang menerawang jauh. "Aku mengerti perasaanmu."
"Tidak. Tidak ada yang mengerti perasaanku, Orihime! Tidak ada!"
"Tidak ada selain aku," kata Orihime tersenyum. "Dulu… aku juga sama sepertimu, Arisawa-san…"
"Hah?" Tatsuki terkejut.
"Ya… tapi kemudian semuanya berubah, sejak aku menemukan 'salju yang mengalir'…"
Flashback
Ayah Orihime yang waktu itu merasa anaknya sudah cukup mengerti untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi, menunjukkan sebuah arsip berisi dokumen-dokumen, lebih tepatnya dokumen surat adopsi.
"I-ini… berarti aku bukan…" suara Orihime yang kala itu masih berumur 9 tahun bergetar, namun, ia tak dapat mengeluarkan air matanya. Berat baginya untuk menerima semua kenyataan ini, untuk mengerti bahwa sesungguhnya dia hanyalah anak angkat. Seperti ada sesuatu yang mengganjal dalam benaknya. Sangat mengganjal.
Saat itu dia benar-benar bingung dengan perasaannya sendiri. Sedih, marah, kesal. Tapi… kepada siapa dia harus melampiaskan semua perasaan itu? Ayahnya? Jelas salah. Karena tanpa lelaki itu maka Orihime tak bisa hidup seenak ini. Tuhan? Terkutuklah Orihime kalau sampai menyalahkan Tuhan. Karena Tuhan-lah yang telah membuatnya ada di dunia ini dan bertemu dengan ayah angkatnya yang baik hati.
"Ayah… kenapa aku tidak bisa menangis? Padahal 'kan aku tidak tahu siapa orangtuaku, kenapa aku tidak bisa menangis Ayah?" tanya Orihime kecil dengan polos.
"Karena kau adalah gadis kecil baik hati yang tidak ditakdirkan untuk menangis semudah itu," jawab ayah Orihime tersenyum.
"Begitu?" Orihime sedikit tersipu begitu ayahnya memujinya.
"Tentu. Selain itu, 'salju yang mengalir'-lah yang bisa membuatmu begini. Membuatmu menjadi seorang gadis tegar yang tidak mudah bersedih."
"Salju yang mengalir? Itu apa, Ayah?"
"Orihime, apa kau pernah melihat ada salju yang mengalir?" Orihime menggeleng.
"Semua salju itu membeku, kan? Sekarang, kalau ada seseorang yang hatinya membeku, bagaimana perasaannya?"
"Ng… orang itu pasti sedih dan… tidak bahagia," jawab Orihime.
"Kira-kira seperti itulah salju yang mengalir itu. Jadi, intinya, salju yang mengalir itu adalah kebahagiaan yang abadi, kebahagiaan yang tak akan lenyap sampai kapan pun, Orihime."
Orihime berpikir sejenak, kemudian berkata, "Aku mengerti, Ayah! Dan salju yang mengalir milikku adalah, aku bisa bertemu Ayah dan hidup bahagia seperti ini!"
Ayah Orihime tertawa mendengar ucapan anak angkatnya itu.
"Oh ya Ayah," sambung Orihime, "kapan Ayah menikah? Aku ingin punya ibu."
Ayah Orihime tertegun, kemudian tertawa lebih keras lagi. "Suatu saat kau pasti akan punya seorang ibu, Orihime."
End of Flashback
"Salju… yang mengalir?" Tatsuki masih tak percaya.
"Iya, salju yang mengalir. Aku yakin, suatu saat Arisawa-san akan menemukannya," kata Orihime mantap.
'Tes!'
Setetes darah merah menetes di atas salju yang putih sehingga warnanya terlihat menyala. Orihime memegang hidungnya yang tak lain tak bukan adalah asal dari darah itu. Orihime mengalami bleeding, yang meskipun tak berat, tapi keadannya bisa menjadi fatal jika terlambat ditangani.
"Orihime! Hidungmu..!" Tatsuki memekik panik. Sementara Orihime yang wajahnya mulai memucat tetap tenang dan menyuruh agar Tatsuki tidak sepanik itu.
"Dokter bilang, hidungku meneteskan darah karena vaso kontraksi, pembuluh darahku mengerut lalu pecah karena aku tak tahan dingin," kata Orihime.
"Kau alergi dingin? Lalu kenapa tak pakai mantel?"
"Aku lupa," Orihime tersenyum tipis sambil terus memencet hidungnya agar darah tak menetes lebih banyak lagi.
"Ini," Tatsuki melepas syal pemberian Orihime dan mengalungkannya ke leher Orihime. "Tunjukkan di mana rumahmu, aku akan mengantarmu pulang." Tatsuki pun menggandeng tangan Orihime erat. Mereka harus bergerak cepat karena salju kembali turun dan hari mulai gelap.
To be continued...
Yay! Ini ngebut banget loh! Dalam satu hari saya bisa mempublish 2 chapter dari fict abal ini sekaligus! Ini semua karena ada dorongan kuat buat ngelanjutin fict ini sampe selese XD
Oke, minna-san, tolong review-nya yah! Karena fict ini masih banyak kurang suatu apapun XDD
