Previous Chapter.

"Hh.. Nyamannya." Gumamku puas akan posisiku sekarang. Tapi, sepertinya.. sekarang tidak seperti itu pemandangan mataku dirusak. Aakh! Ada juga orang kencan disini!? Aku cemburu? Tentu saja tidak tapi, aku kan' sudah nyaman disini dan mereka seenaknya merusak pemandangan. Huh, yasudahlah. Setidaknya tidak mengambil tempatku juga. Eh? Jadi kelihatan kalau aku seperti orang iri tidak punya pasangan lama-lama disini. Ya ampun aku menyerah, pindah sajalah. Sebelumnya, bereskan sampah dulu.

"Haruno?"

Tunggu, jangan-jangan yang memanggilku.. Astaga. "He? U-uchiha?"

Dan entah kenapa rasanya aku seperti punya alasan kuat untuk tetap duduk di taman ini. Karena aku jadi terlihat seperti tengah menunggu.. pasanganku? Da-dan dia adalah.. Sa-suke? Kami-sama.. apa ka-kami akan be-berkencan? Ya ampun! Apa yang harus kulakukan!?

Naruto © Masashi Kishimoto

My © Videra r'mais Utahella

Warning : Bad typos, AU, Gaje, Ngebosenin, LADET (baca: Lama Update), OOC, dkk.

Rated : T

A Sasusaku Fic

.

.

.

.

Hope you like It ^-^

And Happy Reading!

.

Sakura.

'Apa yang harus aku lakukan?! Apaa!?' jeritku dalam hati. Sebentar.. Hah, tentu saja menyapanya, Sakura. Sejak akapan kau jadi bodoh seperti Naruto!? Berbagai macam pertanyaan pun melintas dibenakku, tentu saja banyak yang ingin kutanyakan karena ini menurutku bukan hal yaang.. biasa. Yaa, walaupun, aku sudah sering seperti ini. bertemu orang lain tanpa sengaja. Ribuan kali mungkin? Tapi, untuk yang ini.. Cukup! Akh, kenapa kau meracau terus,Sakura!? Buang sampahmu! Ya ampun, sampai harus dikomando seperti ini, bodoh sekali. Dan aku pun dengan segera berdiri dengan kantong sampah di tanganku sebelum melakukan hal-hal bodoh lainnya. Ah, sebaiknya aku bicara, "Ehm.. bagaimana kau kesini?" Kemudian berpikir sejenak dan melanjutkan, "Ada janji?"

"Tidak." Oh, kami-sama kenapa jawabannya sangat singkat?

"Hmm.." sahutku sekenanya sambil memasukkan sampahku ke tong sampah terdekat. "Lalu? Kenapa?" entah kenapa mulutku ini kurang bisa diajak kompromi. Bukan urusanku kan' dia kesini, Bodoh.

Ah, sudah kuduga dia tidak akan menjawabnya. Tidak mungkin dia mau- "Hanya berjalan-jalan."

Ha? Dia menjawabnya? Astaga, kenapa aku harus terkaget!? Itu kan' sudah biasa jika ada orang bertanya lalu dijawab, tapi untuk seorang Sasuke.. Lupakan! "Oh, begitu rupanya. Emm.. Rumahmu dekat sini?"

"Tidak. Dekat dari kantor Tou-san." Jawabnya datar. Dasar Uchiha Sasuke, apa semua Uchiha seperti ini? Yasudahlah, toh berbicara tidak ada salahnya.

~Videra ~

Sasuke Uchiha tidak mengerti mengapa Ia bisa berbicara sejujur itu. Ia tidak pernah berbicara hal yang akan bersangkutan dengan perusahaan milik keluarganya itu tapi, sekarang..

"Tou-sanmu pasti direktur perusahaan atau.. sepertinya pemilik." Sergah Sakura setengah berpikir. "Tidak mungkin anak seorang direktur bisa keluar-masuk kantor seenaknya. Kurasa.."

Nah, sudah cukup buktinya bahwa gadis pinky ini sainganmu, Sasuke Uchiha? Tebakannya tepat, pasti intelegensinya bagus. Matanya juga menunjukkan kalau dirinya seperti itu, err.. dahinya juga. Sepertinya Uchiha bungsu ini senang sekali memata-matai saingannya di kelas karena yaah, tahu sendiri ego seorang Uchiha itu sangat amat.. yaa, begitulah. Sudahlah, semua orang pasti tahu watak orang-orang semacam Uchiha Sasuke.

"Hn, begitulah." Sahut Sasuke datar.

"Oh.." gumam Sakura sambil mengangguk. "Lalu, kenapa kau keluar kesini?"

'Cerewet', batin Sasuke. Matanya hanya memutar bosan sebagai jawaban.

"Aku tidak tau ini benar atau salah tapi, kalau yang kulihat selama ini.. Kau dipaksa jadi pewaris perusahaan?"

"Ck! Bisakah kau diam? Cerewet!"

Seketika Sakura bungkam mendengar Sasuke yang suaranya meninggi. "Ma-maaf.." kepalanya pun tidak berani lagi mendongak menatap Sasuke. Dan suasana diantara mereka pun menjadi hening beberapa saat.

"Tapi, tidak sepenuhnya kau benar.." Ungkap Sasuke yang membuat Sakura mendongak seketika. Mata emerald gadis itu hanya menatapnya dalam diam seolah meminta kelanjutan dari kalimatnya. "Kakek yang akan memilih siapa yang akan menggantikan posisi ayah sekarang. Dan aku jadi merasa hidupku jadi dikekang dengan aturan keluarga yang ada. Mereka hanya memikirkan bisnis."

Mata Sakura membulat saat mendengar Sasuke berbicara panjang lebar sebelum akhirnya Ia menyahut "Ma-maaf.. Aku tidak bermaksud-"

"Kau bicara seolah aku manusia paling mengenaskan." Potong Sasuke cepat.

Sakura tertegun, "He? Enng.. Maaf." Ucapnya sambil menunduk, bingung harus berkata apa.

Sasuke mendengus, "Sudahlah. Lupakan."

"Ne, Sasuke.." Sasuke menoleh saat gadis di sampingnya memanggil namanya, bukan marganya seperti sebelumnya. "Sebaiknya kau lebih terbuka." Lanjut Sakura. Kemudian, Ia berdiri dan melirik jam tangannya. "Hm.. Aku harus pulang. Sampa-"

"Apa maksudmu?" desak Sasuke sambil menatap Sakura intens.

"A-aah.. E-enng.. Itu.. Bukan apa-apa! Jaa!" Dan Sakura sebisa mungkin langsung mengambil langkah lebar dari Sasuke. Tanpa tahu bahwa sang pemuda raven terus menatapnya.

'Sebaiknya kau lebih terbuka' Sasuke hanya berdecak kesal saat kalimat yang dikatakan gadis pinky itu kembali terngiang di kepalanya. Kenapa perhatiannya jadi terarah pada gadis macam itu? Sudahlah, sebaiknya Ia kembali ke kantor Tou-sannya sebelum Uchiha Corp mencarinya dengan mengandalkan CIA. Ha ha..

~ Videra ~

Sakura.

Aku masih terheran soal kemarin, hey bagaimana bisa semua itu!? Bisa-bisanya diriku ini tidak mau diatur! Aku jadi dibilang cerewet.. Apa memang aku ini sangat cerewet? Haah, bodoh! Bodoh! Bodooh! Tapi, yaa sudahlah.. semuanya sudah terlanjur dan sebaiknya aku seperti kemarin saja. Toh, menjadi stalker dengan cara seperti itu tidak ada salahnya kan'? hmm, dan.. menyenangkan sekali bisa bicara dengannya. Aduh, kau kenapa, Sakura?! Dan untuk kesekian kalinya aku menggelengkan kepalaku lagi. Sebaiknya aku berangkat sekarang saja, ada tugas piket. Aku pun dengan segera menyambar tasku dan menuju meja makan untuk segera sarapan dan berangkat sekolah.

Ternyata suasana sekolah tanpa penghuni dipukul 6 pagi kurang 15 menit itu sangat damai. Aku sampai bisa bersenandung sepuas hati sesuai lagu yang melantun di headsetku. Ha ha.. walaupun, aku hanya melakukannya saat tempat yang kulewati sepi. Mungkin efek masih kebawa suasana liburan musim panas jadi, belum banyak yang berangkat. "Sepi sekali.. Cause' I love you~ Just the way you're~.. Sepertinya aku kepagi-Astaga!"

Sasuke ternyata sudah di kelas dan sekarang sedang diam-diam mentertawaiku, "Apa kau melihat hantu?" ujarnya.

"U-uchiha! Kau mengkagetkanku!" protesku. Hah, mukaku panas sekali. Dia mendengar suara falsku dan dia mendegarku berceloteh sendiri tadi! Aakh..

"Sebaiknya kau tidak bertingkah seperti itu di depan umum, Haruno." Ucapnya dengan tatapan yang sangat menyindirku. Sedangkan, aku hanya mendengus tidak peduli sambil melempar tasku ke meja. Dan aku merasakan nafasku hangat, kami-sama.. ah, sudahlah. Aku harus piket.

"Haruno.."

Aku berhenti menghapus papan tulis dan menoleh ke arah Sasuke, "Apa?"

"Maksudmu kemarin apa?"

"Hm? Emm, yang mana?" sahutku balik bertanya tanpa mengalihkan pandanganku karahnya yang sangat keren itu dengan pantulan sinar pagi. Aku tidak mau dia tahu semerah apa mukaku sekarang, sambil berusaha senormal mungkin menggerakkan tanganku untuk menghapus papan tulis.

"Jangan pura-pura, Haruno." Ujarnya dengan nada sarkastik. Sudah menjadi ciri khasnya bicara dengan nada tidak menyenangkan tapi, disitulah titik keren dari Uchiha Sasuke-menurut banyak fans girlnya-dan menurutku dia lebih keren saat berada di mimpiku. hehe..

Aku berhenti menghapus papan tulis dan berusaha untuk tidak gugup saat menatapnya dengan menyiapkan mental, "Emm, yaah.. kupikir begitu."

Onyx itu hanya menatapku datar seraya menuntut penjalasan lebih. Ya, kurasa aku dapat mengerti.

"Tidak baik jika kau selalu bersikap dingin, apalagi dengan keluargamu. Jadi.. maklum saja kalau mereka tidak tau apa yang kau inginkan sebagai anak." Tukasku setengah tidak yakin dengan omonganku sendiri.

"Bersikap dingin dengan keluargaku..?"

"Hnng.. Mungkin?" sahutku sambil mengangkat bahu juga cengiran kuda.

'bodoh' itulah yang kubaca dari tatapan Onyxnya. Kemudian, Ia melempar pandangan keluar jendela. Aku pun melanjutkan acara piketku. "Aku tidak tahu."

Seketika aku membalikkan badan, "Ha? Tidak tau apa? Kau mengatakan sesuatu?"

"Ya, aku tidak tahu apakah aku terlalu dingin dengan keluargaku." Jelasnya sambil menyederkan punggungnya di kursi. "Lupakan. Aku terlalu banyak bicara." Lanjutnya gusar sambil mengacak rambutnya sendiri. "Haruno?" Ia menatapku heran. Ya, aku sedari tadi memang hanya memandanginya dan berpikir apa yang aku akan katakan pantas atau tidak tapi..

"Kau bisa bicara padaku kapanpun kau mau. Aku.. Aku akan mendengarkanmu.. Sasuke."

~Videra ~

Dan seperti biasanya, ketika kelas tidak ada guru atau pengawas di jam pelajaran pasti menjadi tradisi untuk meramaikan kelas. Tidak peduli dengan tugas yang ditinggalkan di papan tulis oleh sang guru yang memiliki kepentingan sendiri. Hal inilah yang terjadi di 8.F. Apalagi, posisi kelas mereka yang sangat strategis dengan jauh dari meja resepsionis sekolah karena berada di gedung kedua, dekat dengan kantin, plus dipisahkan tangga untuk ke lantai dua yang isinya ruang praktek dengan kelas sebelah. Lengkap bukan? Jadi, wajar saja kalau sekarang kelas ini terkenal dengan berisiknya. Kadang, sampai ditegur guru piket sekolah juga kalau sudah sangat keterlauan. Dan contohnya seperti ini..

"Aakh! Kau curang Kiba! Ulang!" protes Naruto tidak terima dengan kekalahannya bermain PSP melawan Kiba.

"Sudahlah, Naruto." Ujar Lee menenangkan satu-satunya pemuda rubah di kelas 8.F tersebut. Sedangkan, Naruto sama sekali tidak menggubris omongan Lee si alis tebal di kelas 8.F.

"Tidak, Aku tidak mau! Kau saja yang payah, Naruto. Terimalah kekalahanmu!" sahut Kiba ketus. "Jadi, kau wajib menraktirku hari ini! Hahaha.."

"Ck, Kusoo! Awas kau, Kibaa!" umpat Naruto keras.

"Hei! Kalian bisa diam tidak, hah?! Dasar berisik!" omel Sakura tidak kalah keras. Maklum, Ia sedang melakasanakan acara 'sabar mengajar fisika bersama Yamanaka Ino'. Sontak Naruto langsung bungkam dan menampilkan cengiran kudanya sambil meminta maaf. Maklum, tidak ada anak laki-laki 8.F yang berani dengan gadis pinky ini saking err.. galaknya.

"Ayo, Forehead, jelaskan lagi. Aku belum mengerti. Huhuhu.." ujar Ino mendramatisir. Sedangkan, Sakura hanya sweatdrop menghadapi sang sahabat karib yang sulit menerima pelajaran yang paling gadis blonde itu benci. Padahal, sebentar lagi ulangan semester.

"Haah, Pig. Kurasa percuma, aku juga susah menjelaskannya padamu. Coba kau salin dulu jawaban milikku sambil kau pahami, siapa tahu kau langsung mengerti." Kata Sakura memberi saran. Ino pun hanya dapat mengangguk lemah lalu menjalankan saran sahabat pinkynya.

"Kakashi-sensei!" pekik seorang murid sambil berlari menuju mejanya secepat mungkin. Sontak yang lain pun juga melakukan hal yang sama. Bagaikan mendengar kalau tsunami akan menerjang KJHS detik itu juga, mereka pun menghindarinya dengan duduk rapi di bangku masing-masing.

"Baiklah, apa tugasnya sudah selesai?" tanya Kakashi dengan tatapan mengimitasi para muridnya yang sudah pucat pasi. "Buka buku paket hal.120.. Latihan 1.0" titah Kakashi yang langsung dilaksanakan oleh penghuni 8.F. "Nama yang kupanggil maju ke depan kelas mengerjakan soal." Lanjutnya yang disambut tenggakkan ludah dari masing-masing murid kecuali Uchiha Sasuke yang selalu memasang tampang datar.

"Inuzuka Kiba, kerjakan nomer 1. Miiko Shion, nomer 2. Yamanaka Ino nomer 3. Uzumaki Naruto nomer 4. Uchiha Sasuke nomer 5." Ujar Kakashi menyebutkan nama murid yang harus mengerjakan soal. "Mulai dari nomer 1-3 dahulu yang isinya singkat."

'Ino' batin Sakura menatap Ino yang hanya terdiam menatap buku paket yang dibawanya. Sakura pun berniat membantunya dengan mengerjakan soal nomer 3 kemudian menyamakannya dengan jawaban yang sudah ditulis Ino. Setelah tau letak kesalahan sahabatnya tersebut, Ia pun memberi kode kepada Ino untuk menoleh kepadanya dengan menjatuhkan pensilnya.

Kletak. (?)

Dan sesuai tujuan, Ino pun menoleh sesaat sebagai tanda kalau Ia memperhatikannya. Sakura pun mencoba memberitahu dimana letak salahnya dan menulis jawabannya diudara dengan susah payah karena Ino meninggikan alisnya tanda tak mengerti. "Hh.." gusar Sakura sambil menyenderkan punggungnya di bangku berpikir cara lain.

"Haruno.."

Sakura menoleh ke sumber suara yang membisikkan namanya di belakang, tepatnya Uchiha Sasuke yang memanggilnya. "Ya?"

"Hentikan."

"Apanya?" tanya Sakura tidak mengerti.

"Jangan memberi jawaban."

"Apa?"

"Aku ingin tahu seberapa kemampuannya."

"Hah?"

"Yamanaka Ino."

"Ap-"

"Apa yang kau lihat, Yamanaka Ino?" tegur Kakashi mengagetkan Ino juga Sakura yang omongannya terputus oleh Kakashi.

"Aah.. tidak, sensei." Jawab Ino gugup. Kemudian, gadis blonde itu pun tidak berani lagi melirik Sakura mendengar suara Kakashi saat menegur itu menyeramkan di telinganya.

"Kau lihat kan'?" ujar Sasuke sambil menyenderkan punggungnya dengan dua tangannya di depan dada.

Sakura.

'Kau bisa bicara padaku kapanpun kau mau. Aku.. Aku akan mendengarkanmu.. Sasuke.'

Ya, lalu Ia mulai banyak bicara denganku. Kebanyakan tentang hubungannya dengan keluarganya yang memiliki bisnis besar itu. Ia akan menyuruhku berangkat pagi jika ingin bercerita, tentu saja aku selalu mengiyakan. Aku selalu ingin melihatnya, bicara dengannya, mendegar suaranya, dan mengetahui setiap keluhnya. Aku ingin selalu disampingnya dan menjadi orang yang berarti baginya. Karena aku tahu sulitnya menjadi orang yang memiliki rasa gengsi yang tinggi. Tapi, Sasuke tentu saja tidak seperti itu.. sepertinya. Ia hanya tidak tahu harus bercerita bagaimana dan bersikap bagaimana. Jadi, berhubung Ia sudah terlanjur bicara banyak padaku, aku harus bisa menjaga rahasia. Katanya begitu. Dan setiap bercerita, Ia selalu meminta pendapatku. Saat itu aku jadi merasa kalau Ia.. yaa, entah aku yang geer atau bagaimana tapi, terdengar kalau Ia membutuhkanku. Tentu saja untuk cerita tadi! Jangan berfikir macam-macam, walaupun sering bercerita begitu, aku tidak tau nomer telfonnya atau e-mailnya. Poor, Sakura. Tapi, biarlah.. asal Ia bisa selalu seperti itu kepadaku.

Aku mengerti. Uchiha Sasuke adalah orang yang sangat lemah dalam emosi. Dari caranya bercerita sangat terlihat. Apalagi, sekarang Ia menjadi wakil ketua Osis dengan Shikamaru Nara sebagai ketuanya yang super pintar dan pemalas itu. Pasti Ia sangat lelah fisik dan pikiran. Dan untungnya Ia bukan orang yang cepat bertindak dalam meluapkan emosi. Jadi, aku memakluminya dan aku ingin membuatnya kuat semampuku. Ternyata, tuhan itu sangat adil ya?

Sudah setengah semester berjalan, tetapi tidak ada kemajuan sama sekali bagiku. Aku tetap tidak tau e-mailnya atau nomer telponnya juga..

Dia semakin ME-NYE-BAL-KAN! Hah! Aku tidak percaya. Pandanganku kepadanya berubah seratus delapan puluh derajat! Aku jadi tidak habis pikir, kenapa aku begitu menyukainya waktu itu. Ya ampun, apa benar ' ' yang kumimpikan itu dia!? Tak kusangka. Heran aku jadi emosi begini? Oke, maaf aku terlalu aneh. Perasaan wanita memang mudah berubah-ubah bukan? Tapi, itu wajar saja. Begini, setelah itu aku mulai terbiasa dengannya dan aku selalu sabar menghadapinya. Karena itu, aku mau-maunya berangkat pagi-pagi hanya untuk MENYAMAKAN PRKU DENGAN MILIKNYA dan itu masih terjadi! Kupikir ini akan menguntungkanku, tenyata aku salah besar. Saat memintaku berangkat pagi-pagi dan menyamakan jawaban, pasti miliknya itu yang salah. Alhasil, jerih payahku semalaman disalinnya dengan mudah. Aaakh! Aku tidak mengertiii! Sebagian diriku terlalu mudah terpengaruh olehnya, tapi sebagian lagi aku tidak terima. Khususnya bagian ini, aku kan' juga masih saingannya! Bodohnya aku yang mau-maunya di manfaatkan. Hah, semoga saja Osis semakin sibuk. Sungguh menyebalkan.

"Huh, dasar menyebalkan!" umpatku dengan berbisik sambil membalikkan badan ke arah semula. Dasar minim perasaan! Pasti akan kubongkar kedoknya nanti, lihat saja Uchiha Sasuke! Aku pasti akan mengalahkanmu! Ya ampun, aku sangat ingin membantu Ino. 'Ganbatte, Pig!' ingin sekali aku juga berteriak seperti itu.

~ Videra ~

Sudah menjadi kebiasaan bagi Gadis pinky dan Gadis blonde ini menghabiskan waktu liburan bersama. Dan untuk yang kedua kalinya mereka memilih untuk menginap di salah satu rumah dari mereka untuk menginap dan main seharian sampai minggu sore. Yang kali ini berlokasi di rumah Sakura sang Gadis pinky. Dua sahabat karib itu sekarang tengah menonton film sebelum tidur ditemani snack yang mereka beli di supermarket.

"Yaah, Kripiknya habis. Anmitsunya juga, Aakh!" keluh Sakura sambil menatap sampah yang berserakan di depan tempat Ia dan Ino menonton film.

"Ya ampun, kan' kau yang menghabiskannya, Forehead! Apa kau tidak takut gemuk?"

"Benarkah? Tidak, Aku kan' masih beraktifitas." Jawab Sakura singkat dengan suara yang masih kesal dengan snack dan makanan kesukaannya yang sudah habis.

"Sakura.."

"Hm? Apa?"

"Kau serius tidak ada apa-apa dengannya, forehead?" selidik Ino

"Sungguh! Memangnya kenapa? Kau tidak percaya padaku? Kau sudah berulang kali menanyakannya." Sahut Sakura heran.

Ino yang tidak percaya alhasil hanya menatap Sakura dengan penuh curiga. Sedangkan, Sakura jelas saja tidak merasa nyaman ditatap dengan cara seperti itu. Ia pun akhirnya memilih untuk fokus pada film K-Drama yang mereka tonton. Kali ini mereka memilih untuk menonton film dengan genre action-romance yang tentu saja aktor favorit mereka sebagai bintangnya. Pada film menceritakan tentang seorang pria yang sedang membalaskan dendam ayahnya dan kemudian saat membalaskan dendam Pria itu terlibat hubungan dengan seorang wanita yang kemudian jatuh cinta. Baru menonton sampai konflik cerita, tiba-tiba Ino menekan tombol 'pause'.

"Inooo!" protes Sakura tidak terima adegan yang paling Ia sukai dipotong, yaitu saat sang pria sedang berusaha menyelamatkan sang pujaan hati.

"Aku sudah bosan tau." sahut Ino cuek.

"Aku belum, Ino! Itu tadi sangat amat romantis kau tau?!" ucap Sakura berusaha merebut remote di tangan Ino. Sedangkan, Ino dengan lihai menghindari remote di tangannya tersentuh oleh Sakura. "Kembalikan, Hey!"

"Tidak! Sebelum kau bercerita padaku." Tolak Ino dengan memberikan syarat. Sang gadis Pinky pun diam. Dan sebelum dialihkan Ino pun berinisaitif untuk membuka suara lagi secepat mungkin, "Ini soal yang tadi. Aku tidak percaya kau tidak ada apa-apa dengan Sasuke. Dan kalau kau tidak bercerita, maka katakan sayonara pada film ini." ancam Ino dengan jari yang sudah berada pada tombol 'Open' di remote DVD.

Sakura menghela nafas, "Ba-baiklah.." ucapnya menyerah.

~ Videra ~

Sakura.

Hah, aku tau percuma berkata bohong sedangkan wajahku tidak bisa selihai mulutku saat mengatakan bahwa aku tidak ada apa-apa dengan Sasuke. Apalagi, dengan orang terdekat yang mengerti diri sendiri. Dan saat menceritakannya pasti Ino akan tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Aduuh, bagaimana ini?

"Ayo, Sakura. Katakan saja, aku janji akan merahasiakannya. Atau jika kau tidak mau.."

"Tapi, kau juga harus janji!" potongku cepat saat Ia sudah mengangkat remote DVD. Ia pun menoleh dan menunggu penjelasan berkutnya dari kalimatku. "Jangan tertawa, Oke?"

Ino mengangguk. "Oke!"

Dan aku pun mulai mendongeng, dari aku bermimpi sampai keadaan atau lebih tepatnya bagaimana perasaanku sekarang. Ino hanya tersenyum saat Ia mendengar bagian ceritaku yang menggambarkan diriku yang menyukai seorang Uchiha Sasuke. Bagiku ini adalah saat yang sangat menguras, baik waktu yang kuhabiskan untuk bercerita, pikiran yang kugunakan untuk mencari cara bagaiman agar Ino tidak tertawa, dan perasaanku saat menceritakan hal ini yaitu, kesal.

Ino terkekeh, "Hmm.. Begituu." Ucapnya sambil mengangguk-angguk seolah mengerti. "Ne, kau itu lucu sekali sih? Hehe.."

Aku hanya menggembungkan pipiku sambil menoleh ke arah lain.

"Sepertinya kau terpesona akan penampilannya lalu tergila-gila." Simpul Ino yang membuatku sukses terheran. 'Apa mungkin?' pikirku.

"Hah, sudahlah. Apapun itu, aku yang jelas sekarang sangat kesal dengannya! Ia menyebalkan!" tindasku tegas.

"Lalu, apa yang akan kau lakukan, forehead?"

Aku berpikir sejenak tentang apa yang aku akan lakukan mengahadapi hal itu, dan.. "Aku tidak tau." Ungkapku jujur.

"Ya ampun, dia sedang dilema. Yasudahlah, kupikir cukup. sebaiknya kita selesaikan dulu filmya. Hehehe.. aku jadi kasian padamu. Maaf ya kalau merasa jadi di interogasi oleh polisi."

"Huh, bahkan aku merasa seperti disidang hanya karena mencuri air." Keluhku mendramatisir. Sedangkan, Ino mendengarnya hanya tertawa. Ah, sudahlah toh tidak ada salahnya aku bercerita. Lagipula, rasanya berbeda jika sudah bercerita jujur.

-TBC-

ACA :

Huaaaa.. apa ini? Gaje sekali! T_T maaf minna-san. Sumimaseen.. m(_ _)m *pundung* semoga chapter ini yang baca suka ya. Hiks.. hiks.. tugasku yang makin numpuk bikin daku jarang bisa ngetik, UAS juga. Huhu.. Dan saya yakin pasti udah gak ngefeel lagi ceritanya. T-T

Oh iya, saya ucapkan terima kasih bagi yang sudah sudi membaca fic gaje ini, mereview, mengfave, dan bahkan mengfollow. Hontou ni Arigatou Gozaimasu.. :* Dan karena author abal ini dari kemarin tidak sempat membalas review, maka saat ini author khilaf dan ingin membalas reviewnya disini. Maka izinkanlah saya untuk membalasnya disini yaa. Oke, It's for:

Hanazono yuri : Oke, Ini sudah dilanjut. Terima kasih sudah mau baca fic gaje ini ya. Semoga chapter ini kamu sukaa

Desypramitha2 : yosh, ini sudah aku lanjut. Terima kasih udah mau baca fic ini. ^-^

Nirina-ne Bellanesia : Ke-Keren? Hiks.. Terima kasiih. T-T *terharu* Ini udah aku lanjut chap.3nya semoga kamu suka yaaa :)

UchihaNarusuke : Oke, Ini chapter 3nya, semoga kamu suka yaa. Terima kasih udah baca fic gajeku

Uchiharuno susi : U-update kilat..? *gemeteran* Ba-baik, aku usahakan yaa. Semoga kamu suka chap.3nya

Fivani-chan : Terima kasih.. oke, berkat semua review inilah aku semangat. ;) semoga kamu suka chapter ini yaa

Susahlogin : uwaah, kamu sangat berkobar! X| (?) oke, aku udah lanjutin. Semoga dikau suka yaa

Franceour : Oke, ini sudah kulanjutkan semoga suka yaa

Aizt : A.. a.. E-tto.. Ba,baiklah. Saya akan berusaha untuk mengupdatenya._. terima kasih sudah mau baca fic gajeku. Ini chap.3nya semoga kamu suka yaa

Nah, berhubung saya itu belum lama lahir di dunia fic ini (?) jadi, mohon kritik dan sarannya yaa. Dan maaf kalau saya jadi terkesan tidak peduli. Ini menyangkut diriku yang masih belajar dan punya tugas menumpuk bagai gunung myoboku, mohon dimaafkan. tapi, pasti saya akan usahakan update kilat kok' sesuai permintaan Minna-san. Sekali lagi, Hontou ni Arigatou Gozaimasu, Minna-san. See you, next chapter ya. ^-^/

Sign,

Videra r'mais Utahella.