Hari Senin tanggal 12 Agustus, aku kembali bersekolah, rasanya aku sudah tidak sabar untuk sampai di sekolah. Sebelum berangkat ke sekolah, aku pergi ke rumah tetanggaku yaitu Roxas, aku ingin mengajaknya berangkat sekolah bareng. Aku memencet bel pintu rumah Roxas, seorang wanita setengah baya keluar dan menyapaku dengan ramah.

"Hai, kamu Namine ya?" Tanyanya dengan senyum yang ramah

"Iya, aku Namine, Roxasnya ada?"

"Justru sebaliknya, tante mau bertanya padamu, karena Roxas belum pulang ke rumah"

"Eh, belum pulang?" Tanyaku heran

"Iya, belum pulang, saat tante didepan rumah, tante melihatmu diantar pulang oleh seorang pemuda bertopeng, sebenarnya tante mau bertanya padamu Roxasnya kemana. Tetapi, kamu sudah keburu masuk rumah, apa Roxas mengatakan sesuatu?"

"Kemarin, Roxas berkata padaku jika dia ada urusan, tetapi aku tidak tau dia kemana karena Roxas sudah keburu pergi"

"Begitu ya, ya sudah jika ada info tentang Roxas, tolong beritau tante ya?"

"Iya tante"

Selama perjalanan menuju sekolah, aku merasa sangat lemas. Setelah kencan kemarin, Roxas malah hilang entah kemana, aku menyesal tidak bertanya dia pergi kemana. Karena tidak memperhatikan jalan, aku menabrak seseorang, saat dia berdiri, dia mengulurkan tangannya. Saat menerima uluran tangannya, aku merasakan perasaan yang aneh, tetapi begitu nyaman, aku merasa seperti sudah pernah bertemu dengannya. Saat menatap wajahnya, tiba-tiba saja aku tersenyum, karena saat itu aku berpikir jika aku menabrak Roxas.

"Kamu Roxaskan?" Tanyaku padanya

"Roxas? Bukan, aku Ventus"

"Oh, Ventus ya, maaf tadi aku sudah menabrakmu"

"Tidak apa-apa, kamu cantik saat tersenyum tadi"

Tiba-tiba saja mukanya memerah, sedangkan aku hanya memalingkan wajahku darinya. Wajahnya, senyumnya, sangat mirip dengan Roxas. Hanya saja, tatapan matanya berbeda, tatapan matanya hangat, sedangkan tatapan mata Roxas sangat dingin. Aku melihat jam tanganku, ya ampun! Sudah jam 6.50, aku hampir terlambat.

"Maaf, aku hampir terlambat, aku pergi dulu"

"Aku juga hampir terlambat, sepuluh menit lagi terlambat maka aku akan dihukum"

Aku langsung berlari menuju sekolah, aku sudah tidak mempedulikan sekitarku. Akhirnya aku sampai juga di sekolah, untunglah aku tidak terlambat. Sebelum masuk, aku mengatur nafasku terlebih dahulu, rasanya lelah sekali. Lalu, aku pun masuk dengan perasaan lega, aku melirik kiri dan kanan, berharap melihat Roxas. Tetapi, aku tidak melihat Roxas, melainkan Ventus.

"Eh, bukankah tadi kita bertemu dijalan?" Tanyaku pada Ventus

"Iya, kamu juga sekolah disini?"

"Ya, begitulah"

"Kamu di kelas apa?"

"Di kelas 9B, kamu sendiri?"

"Di kelas 9C, kelas kita bersebelahaan ya"

"Iya...Tetapi, lucunya kita tidak saling mengenal"

"Jika dipikir-pikir aneh"

Akhirnya kamu beruduapun sampai di kelas masing-masing, saat aku duduk di kursiku, aku melirik ke belakang, ternyata Roxas tidak masuk hari ini. Pelajaran pun dimulai, aku merasa tidak konsentrasi, sehingga saat guru menjelaskan aku melamun. Bel istirahatpun berbunyi, aku membawa kotak bekalku dan makan di taman sekolah. Biasanya setelah memakan bekal, aku akan menggambar. Tetapi, rasanya aku tidak punya mood untuk menggambar.

Akupun memutuskan untuk membaca novel di perpustakaan, tetapi aku tetap membawa buku gambarku, saat sedang asyik-asyik membaca, seseorang duduk disebelahku. Aku melirik ke kanan, dan aku melihat Ventus.

"Ventus? Sedang apa kamu disini?" Tanyaku dengan suara yang pelan

"Tidak, aku hanya sedang mencari buku, kamu sedang membaca apa?"

"Novel" Jawabku singkat

"Oh, novel, ternyata kamu suka membaca novel ya"

Rasanya aku tidak kuat melihat wajahnya, setiap melihat wajahnya aku jadi teringat Roxas. Aku berdiri dan meninggalkan Ventus. Sedangkan Ventus hanya terdiam, tak lama kemudian bel masukpun berbunyi. Aku sudah sampai di kelas dan siap mengikuti pelajaran. Saat sudah mau pulang, aku merasa seperti kehilangan sesuatu. Yang benar saja, aku meninggalkan buku gambarku di perpustakaan.

Dengan tergesa-gesa, aku berlari menuju perpustakaan. Saat sampai, ternyata buku gambarku sudah hilang, perasaan sedih dan kesal bercampur aduk menjadi satu, aku tidak berpikir untuk membeli buku gambar baru, karena aku yakin pasti buku gambarku tidak hilang, dan ternyata benar, saat aku pulang ke rumahku, tak lama kemudian seseorang memencet bel pintu rumahku. Karena, tidak ada siapa-siapa, aku pun turun dan membuka pintu. Ternyata yang memencet bel pintu adalah Ventus.

"Mau apa kamu kemari?"

"Aku hanya ingin mengembalikan buku gambarmu kok"

"Oh, terima kasih ya"

Rasanya aku lega, tak lama kemudian hujan turun dengan derasnya. Ventus sempat pamit mau pulang, tetapi aku menyuruhnya untuk masuk ke rumahku, aku merasa berhutang budi padanya. Selama Ventus bertamu, kami membicarakan banyak hal, mulai dari novel, sampai tv. Sesekali kami bercanda.

Menurutku dia itu orangnya lucu dan baik. Kami baru saja tadi pagi berkenalaan, tetapi sudah sangat akrab, rasanya setiap berbincang dengannya aku senang. Aku tidak kesepian lagi, sudah beberapa minggu Roxas tidak masuk, sedangkan aku semakin lama semakin akrab dengan Ventus. Meskipun aku merasa sudah tidak kesepian lagi, tetapi aku tetap saja aku masih memikirkaan Roxas.

Tak terasa sudah hari Rabu, saat sudah sampai di sekolah, aku melihat Roxas sedang duduk di kursi paling belakang. Aku meletakkan tasku dan pergi ke tempatnya.

"Roxas" Panggilku

"Namine..."

"Kamu kemana saja? Aku merindukaanmu"

"Maaf..."

Air mata membasahi pipiku, tanpa sadar aku memeluknya dengan erat. Saat sadar, aku segera melepaskan tanganku dan mengelap air mataku, tetapi Roxas lebih dahulu mengelap air mataku dengan jarinya. Mukaku kembali memerah, untungnya saat itu di kelas masih sepi, hanya ada kami berdua. Jika tidak, mungkin kami akan disoraki.

Saat jam istirahat, kami berdua duduk di taman sekolah, sambil menikmati pemandangan taman yang indah. Dari jauh aku melihat Ventus berjalan menuju ke arahku, seperti biasa Ventus menyapaku dengan senyumnya yang lembut.

"Hai" Sapanya

"Hai"

"Apa aku menggangumu?"

"Tidak kok"

Belum lama kami berbincang, tiba-tiba Roxas menarik tanganku dengan paksa. Tentu saja aku bingung, mengapa dia menarik tangan ku tiba-tiba?

"Roxas..." Teriak Ventus

"Apa?" Jawabnya dingin

"Maafkan aku ya, soal yang minggu lalu?"

"Tidak perlu minta maaf, sudah jangan ikuti aku lagi!"

"Tapi..."

"SUDAH KU BILANG DIAM!" Teriak Roxas dengan suara yang lantang

Ventus menundukkan wajahnya, sedangkan aku sudah sampai di kelasku. Saat berada didepan kelas, aku melepas tangan Roxas dengan paksa.

"Roxas, mengapa kamu begitu pada Ventus?"

"Tidak apa-apa kok"

"Roxas, jika ada masalah, bicarakan lah padaku"

"Aku tidak punya masalah kok, sudahlah ayo balik ke kelas, bel sudah mau berbunyi"

Akhirnya bel masukpun berbunyi, aku masih terpikir kejadian tadi. Mengapa Roxas begitu kasar pada Ventus? Apa Roxas punya dendam pada Ventus? Bel pulangpun berbunyi, aku tidak langsung pulang, melainkan ke kelas Ventus. Kelas 9C sudah sepi, hanya ada Ventus seorang, yang duduk terdiam. Aku duduk disebelahnya dan memulai pembicaraan.

"Ventus, kamu marah sama Roxas?"

"Tidak kok, memang aku yang salah"

"Sebenarnya, ada masalah apa? Maukah kamu ceritakaan padaku"

"Namine...Belum saatnya kamu tau, kamu akan tau nanti"

"Nanti? Tapi, kapan...?"

"Sampai saatnya tiba, Namine..."

"Iya?"

"Aku ingin memohon sesuatu padamu"

"Memohon apa?" Tanyaku heran

Mendadak wajah Ventus menjadi sedikit serius, aneh, mengapa aku sangat tegang? Jantungku berdebar-debar, padahal Ventus hanya mau memohon sesuatu padaku, mengapa aku tegang?

"Aku mohon, kamu jangan dekati Roxas"

"Tapi, kenapa,kenapa!?"

Aku menguncang-guncangkan tubuh Ventus, tetapi tetap tidak ada respon. Akhirnyapun dengan nekat aku menampar wajahnya, air mata membasahi pipiku. Tetapi, aku tidak peduli, aku berlari meninggalkan Ventus, aku marah, sangat marah . Mengapa aku tidak boleh dekat dengan Roxas? Apa dia iri dengan kedekataan kami berdua? Aku tidak tau, tetapi sekarang aku benar-benar memebncinya.

Bersambung...

A/N : 2-3 riview lanjut hehehe, saya berterima kasih karna tlh meriview cerita sy, tgg trus y cerita sy :) makasih, arigato gozaimas heheh.