A/N : Hwaa.. gomenn Upan lama apdet nya -3- itu semua karena menumpuk nya hal yang memenuhi pikiran Upan mulaidari UKK, persiapan naik kelas, demo eskul, serta Upan lagi hobi gambar sekarang T^T jadilah fict ini terbangkalai tak tentu arah, di tambah lagi mood nulis Upan yang sedang teralihakan pada dunia menggambar -.- sekali lagi gomen ne, minna. Yasudahlah dari pada banyak cingcong langsung saja cekidot.
Warning : Warning : I will pour my wild imagination on my story.
EYD parah, AU, Sho-ai, Yaoi, BL, SasuNaru, Typo(s), Non-Canon.
Rated : T
Genre : Humor / Romance / Friendship / General
: Disclaimer :
NARUTO by Masashi Kishimoto
Okay! Yes I'm jealeous! by Upan no Kitsune
Arigatoo (-/\-)
Warning : This is the remake (adaptation) of novel HEY! YOU! I read the works of Pelangi Tri Saki –senpai which I edited in such a maner and her character I replace it with anime character NARUTO belongs to Masashi kishimoto-sensei. Hope you enjoy what I have proposed in this ficton. Arigatoo (-/\-)
Semilir angun masuk melalui jendela kamar yang terbuka, menepa helaian rambut Sasuke yang sedang duduk di kursi meja belajarnya yang menghadap ke jendela. Matanya terpejam, menikmati terpaan angin yang sejuk. Ingatan Sasuke meluncur ke kejadian siang tadi di halaman belakang sekolah. Beberapa detik kemudian ia membuka mata. Tiba-tiba saja kepala nya terasa sakit. 'Usuratonkachi' umpatnya dalam hati.
FLASHBACK
Sasuke sengaja ingin menggoda Naruto. Meski ia jengkel bukan main pada semua tingkah laku Naru, tapi wajah pemuda pirang itu yang bersemu merah selalu memberikan kesenangan tersendiri bagi Sasuke. Keduanya terdiam cukup lama hingga saat Sasuke semakin mendekatkan wajahnya, pemuda itu tiba-tiba mendong nyadan langsung turun begitu saja.
'Lho, bukan nya dia suka dekat-dekat dengan ku?' tanya Sasuke heran, dalam hati
"Tidak boleh , Teme. Kita ini sedang di sekolah, bukan area tepat buat ciu..."ujar Naru sambil menutup mulutnya. Sasuke ternganga mendengan ucapan sang pemuda pirang itu. Memangnya Sasuke ingin berbuat apa?
"Kalau kau ingin segitunya mencium ku, aku belum bisa. Aku belum siap" lanjut Naruto, membuat Sasuke semakin syok.
Pemuda itu pun beranjak meninggalkan Sasuke.
Satu detik..
Dua detik..
Tiga detik..
Empat detik..
Lima de-
"APA?! BARUSAN SI DOBE ITU BILANG APA?! DASAR SINTING!"
FLASHBACK END
"Sakit jiwa!" gumam Sasuke sembari memijat pelipis nya yang berdenyut-denyut"
"Siapa yang sakit jiwa, un?"
Sasuke menoleh terkejut, sejurus kemudian menghembuskan nafas lega begitu tahu bukan Naruto yang masuk kamarnya. Sebagai ganti nya Deidara sudah asik berbaring di tempat tidur Sasuke.
"Ketuk pintu dulu kali!" ucap Sasuke sewot sembal memutar kursi menghadap Deidara.
Deidara nyengir. "Siapa yang sakit jiwa, un?" tanya nya lagi.
Sasuke bedecak dan bersedekap lalu bersandar pada punggung kursi. "Siapa lagi kalau bukan si Dobe itu." jawab Sasuke malas.
Deidara langsung duduk bersandar pada kepala tempat tidur. Kaki nya mendeap guling, mata nya menatap Sasuke penuh minat.
"Naruto, un?"
"Memang ada lagi? Satu saja sudah hampir membuat kepala ku meledak."
Deidara terkekeh, membuat Sasuke melotot pada teman sekelas nya tersebut. "Ada apa lagi dengan dia, un?"
Sasuke mendengus frustasi. "Seperti kau tidak tahu dia saja. Anak itu kan bisanya paling ahli bikin ribut. Baru sehari kepala ku sudah di buat sakit gara-gara dia!"
Deidara terkekeh (lagi) "Sayang aku tak ikut OSIS jadi tak bisa melihat drama picisan gratis dari kalian, un."
Sasuke tertawa kesal. "Kau saja yang gantikan aku sana. Bagaimana?". Deidara mengangkat tangan nya, "Ya tidak seru dong kalau begitu, un. Peran utama nya kan kau dengan Naruto, un."
Sasuke tak menanggapi dan lebih memilih mengambil ponsel di saku celana nya, pura-pura tak mendengar. "Dia kayak gitu karena cinta mati dengan kau, un." lanjut Deidara. "Dan aku tak peduli." Sasuke memutar tubuh nya kembali menghadap meja belajar.
Deidara berdecak, bangkit dari tempat tidur Sasuke dan berjalan ke pintu kaca kamar yang langsung menuju balkon. Ia menggeser gorden transparan di jendela itu dan menatap tajam ke luar jendela. Persis nya memandang jauh ke balkon kamar Naruto.
"Belum aja. Nanti juga kau yang akan tergila-gila dengan nya, un." tutur Deidara yakin dengan nada yang lebih serius. Deidara berbalik menghadap Sasuke. Lelaki itu tengah memandang nya dengan kening berkerut. Deidara menyandarkan tubuh nya ke kusen jendela dengan kedua tangan di masukan ke saku celana.
"Tidak akan pernah. Kau ingat itu baik-baik." Sahut Sasuke tak kalah yakin. Ia lalu kembali menekuni buku pelajaran nya. Senyum Deidara semakin mengembang melihat Sasuke yang sangat jelas berusaha menghindari tatapan dan topik obrolan mereka.
\(-.-)/\(-.-)/\(-.-)/
BRUKK!
Tiba-tiba suara gaduh mengalihkan perhatian mereka.
Deidara menoleh keluar jendela. Sasuke bangkit dari duduk manja nya. Deidara membuka pintu kaca dan langsung berlari mencari arah keributan itu, diikuti Sasuke yang ikut menoleh kanan-kiri.
"Naruto, un?" suara Deidara seolah tersekat ketika ia melihat pemmandangan di bawah. Naruto tampak sibuk membersihkan dirinya dari daun dan ranting yang patah.
Pemuda itu mendongkak saat nama nya disebut kemudian tersenyum lebar memamerkan gigi-gigi nya. "Eh, ada Dei-nii.." katanya sambil nyengir polos tak berdosa. Sasuke melotot menatap tak percaya Naruto "Usuratonkachi. Jangan bilang kau memanjat pohon dan berniar menyusup ke kamar ku." desis Sasuke tak percaya.
Melihat teman nya dihiasi oleh emosi dan aura hitam, Deidara menepuk pundak Sasuke. Ia pun berlalu meninggalkan Sasuke. Pandangan sasuke kemudian kembali pada Naruto yang belum menjawab pertanyaan yang tadi ia lontarkan. Pemuda itu masih setia dengan cengiran lebar nya.
Belum sempat Sasuke mengatakan sesuatu, ia melihat Deidara menghampiri pemuda itu itu dan membantu nya berdiri. Kedua orang itu lalu berjalan masuk ke dalam rumah nya.
Sasuke mendengus, meninggal kan balkon dan kembali ke kamar. Setelah berjalan bolak-balik tak jelas di situ, Sasuke pun keluar kamar dan menuju ruang tamu. Tempat Naruto dan Deidara berada.
Tampak oleh nya Naruto tengah duduk di sofa sementara Deidara sedang memeriksa bagian siku, lutut, serta kening pemuda itu. Sepertinya Naruto terluka saat jatuh tadi. Sasuke menghela napas ketika menghampiri kedua nya lalu menjatuh kan diri di salah satu sofa.
"Makanya jangan suka jadi stalker nggak jelas. Nekat manjat-manjat seperti itu, kalau di sangka maling sama warga yang melihat bagaimana?" tanya Sasuke ketus.
"Bisa tidak mengomel nya nanti saja, un?" balas Deidara dingin. Naruto menunduk, malu sekaligus senang karena menangap nada khawatir di dalam kalimat Sasuke.
"Lagian tidak tahu malu sekali, menuduh orang ingin mecium? Che, padahal dia yang mendekati." gumam Sasuke tak jelas.
Saat itulah, Itachi kakak dari Sasuke pulang dan masuk ke dalam rumah.
"Tadaima."
"Okaeri aniki/tachi,un/ita-nii."
Pandangan Itachi langsung tersita pada Naruto. "Naru-chan? Kaki kau kenapa?" tanya Itachi.
"Okaeri, Itachi-kun." terdengar suara dari dapur. "Jatuh dari pohon, Ingin melihat kamar Sasuke Naru-chan bilang." Bukan Sasuke, Deidara, atau Naruto yang menjawab melainkan nyonya Uchiha yang kini berjalan menghampiri mereka sembari membawa baskom berisi air hangat.
"Pohon? Jatuh? Lihat kamar sasuke?" tanya Itachi tak mengerti, memandang ketiga remaja di depan nya dan sang kaa-san bergantian.
"Sudahlah tachi, un. Tak usah di pikirkan.. Naruto baik-baik saja kok, un" jawab Deidara santai.
"Si dobe ini sudah merambah jadi stalker, aniki. Dimana sopan santun nya mengintip kamar orang seenak jidat engkong nya? Sampai memanjat pohon segala." timpal Sasuke emosi.
Naruto tidak lagi menunduk. Dengan cemberut ia membalas tatap Sasuke. "Ini juga salah kau teme! Kau yang tidak mengizinkan ku masuk ke kamar mu lagi. Jadi aku mencari cara lain untuk masuk."
Sasuke memberi deathglare, Naruto balas men-deathglare. Namun tatapan Naruto pecah ketika rasa sakit teramat sangat menyerang lulut nya.
"A-adu-duh.. sakit ba-chan." Naruto meringis. Nyonya Uchiha yang berjongkok di hadapan Naruto ikut meringis. "Tahan ya, sayang. Ini harus di bersihkan dulu agar tidak infeksi."
Itachi duduk di samping Naruto dan mengelus punggung pemuda itu, sementara Deidara berkutat dengat kotak obat untuk menyiapkan kapas dan obat merah.
"Kamu juga ngapain sih pakai larang-larang Naruto masuk kamar mu? Toh Naruto juga laki-laki, yah walau sedikit manis, tapi tetap dia laki-laki kan? Tidak ada salah nya membiarkan ia masuk. Macam anak presiden saja kamu ini. Anak orang jadi luka begini. Kalau Kushina-chan marah sama kaa-san bagaimana?" lanjut Mikoto.
Sasuke terkesiap lalu langsung duduk tegak. "Kaa-san ini kenapa sih? Kok malah membela si dobe ini? Bukan masalah anak presiden atau apa. Tapi kamar itu kan wilayah pribadi, gak boleh sembarang orang keluar masuk. Kayak dia tidak punya kamar saja."
Pandangan semua orang di ruangan itu beralih pada Sasuke. Mikoto dan Deidara memasang ekspresi santai. Itachi tidak memberi respons. (Ciahh Sasu di kacangin :v). Sementara Naruto menunduk lagi, diam-diam dia mengakui kebenaran kalimat Sasuke.
Sasuke berdecak kesal sambil mengepal kedua tangan. Lalu tanpa ba-bi-bi-bu-be-bo ia begegas pergi meninggalkan semua orang disana. Langkah kasar Sasuke terdengar oleh mereka sampai pemuda itu masuk ke kamar setelah membanting pintu.
Tak lama kemudian Itachi berdiri dan menepuk puncak kepala Naruto sebelum membungkut sejenak, mendekatkan bibirnya ke telinga pemuda itu. "Lanjutkan. Perjuangan mu tak akan sia-sia, otouto pasti akan luluh oleh mu, hanya oleh mu.." kemudian Itachi bangkit dan berjalan menuju kamar nya.
Belum juga badan Itachi hilang berbelok, Deidara sudah ikut berdiri. Tanpa izin lebih dulu, pemuda itu mengikuti kemana langkah Itachi pergi sambil memanggil nama Itachi mesra. Naruto memandangi dua orang itu dengan seksama. Namun tak berlangsung lama ia dengan cepat menoleh ke arah tangga dengan sumringan bak anak kecil di kasih permen.
\(-.-)/\(-.-)/\(-.-)/
Naruto berdiridiam di depan pintu kamar pujaan hati nya (eaaa.. *rasengan*) untuk waktu yang agak lama. Tangan nya terangkat beberapa kali, bermaksud mengetuk, namun selalu urung. Ada ketakutan di hati nya kalau kamar itu ternyata terkunci. Atau lebih buruk nya lagi, Sasuke tak mempersilahkan nya masuk.
Setelah melalui pegulatan dalam hati yang terasa sebagai seabad lama nya, Naruto pun memberanikan diri mengetukan jari nya pelan dua kali. Ia menunggu... namun tak ada jawaban. Sembari menarik napas panjang dan menggigit bibir bawah nya, Naruto menggeser pintu kamar Sasuke.
Tidak terkunci.
Ia embuka pintu itu perlahan. Kepala nya melongok ke dalam. Sepi dan agak gelap, hanya ada lampu keci di atas tempat tidur yang menyala. Pandangan Naruto lalu tertambat pada Sasuke yang berbaring telungkup di ranjang dengan wajah mengarah ke balkon.
"Teme?" panggil Naruto pelan.
Tak ada jawaban. Naruto pun memberanikan diri untuk masuk. Dengan hati-hati ia duduk di pinggir ranjang, berusaha tidak menimbulkan suara sedikit pun yang berpotensi membangukan pangeran nya (eaaaa..) itu. Punggung Sasuke naik turun dengan teratur. Naruto tidak bisa melihat wajah laki-laki itu yang menghadap ke balkon, namun ia tahu Sasuke sudah tidur.
"Cepat sekali sih tidur nya? Aku kan masih ingin mengobrol." keluh Naruto dengan suara yang bahkan lebih pelan dari pada gajah melihat tikus, ei? Maksud nya lebih pelan dari bisikan seolah bicara pada diri nya sendiri.
Narto menghembuskan napas perlahan. Sambil memainkan ujung jari telunjuk nya si atas sprei kasur , ia mulai berujar, "Aku minta maaf soal yang tadi." bisik nya. "Kata Ino aku salah paham soal kau yang ingin mencium ku. Setelah di pikir-pikir memang aku lah bodoh." Naruto tertawa miris. "Bisa-bisa nya aku berpikir kalau ingin mencium ku sementara kau bahkan tak memiliki perasaan apa pun terhadap ku. Tapi.."
TBC
.
.
.
BLETAK.. KOMPRYANG.. DUAGH.. JDUAR... BOOMM
A/N : A-aduhh.. minna.. keep calm pleasee, kan masih ada chapter depan.. *ngusap2 benjol* . Hwaaaaa! Akhir nya chapter ini selesai, oh iya, nanti akan ada perubahan pairing lhooo *smirk* ayo siapa coba ? silahkan aja tebak, kalau tau hebat ! XD btw gomen ya kalau chapter satu dan dua itu agak berantakan, abis publish chap ini, rencana nya mau Upan rombak biar gak terlalu.. err.. 4L4Y :V oke deh, tunggu Upan di chapter depan ya. Dan mohon di makslumi kalau Upan apdet nya lama, banyak tugas dari guru soal nya, jadi Upan nulis fict kalau ada waktu lagi laptop Upan kena virus.. habis sudah fict Upan dan harus menulis dari awal lagi T3T .
\
\
\
\
\
MIND TO RIVIEW OR FLAME ?
