Title : Daisy

Author : chanbaekonlyy

Casts :

Byun Baekhyun EXO

Park Chanyeol EXO

Xi Luhan EXO

Oh Sehun EXO

Others

Genre : Romance, Angst ._.

Rate : T

.

.

.

.

Bucheon 2 Mei 1973

Baekhyun mengayuh sepedanya. Masih dengan masker, namun bukan pakaian tebal karena musim dingin telah lama berlalu. Kepulangan Chanyeol dan Luhan bagaikan mimpi buruk yang ia coba untuk hindari. Pagi hingga siang ia akan menetap di rumah jika ia tak harus menjaga toko dan ia tidur lebih awal, tepatnya selalu berusaha membuat dirinya memiliki sesuatu untuk dikerjakan walaupun keinginan untuk menanyai Chanyeol kenapa dia tidak membalas surat-suratnya dulu selalu menggelitikinya.

Hari ini ia dan Sehun akan pergi ke danau itu lagi. Entahlah, ia juga tak tau kenapa tepatnya Sehun mengajaknya ke sini tapi toh dia menyetujuinya juga. Daripada tidak ada pekerjaan, begitu mungkin pikirnya.

Kayuhan sepedanya berhenti saat dari tempatnya ia melihat seseorang sedang berdiri menghadap danau tempat ia dan Sehun akan bertemu. Bukan. Itu bukan Sehun. Tapi..

"Baek.."

Chanyeol berbalik dan seketika berjalan ke arah Baekhyun yang masih mengayuh sepedanya. Baekhyun sendiri segera membuang tatapannya ke arah lain, tak ingin jatuh dalam bola mata hitam Chanyeol yang masih berkilauan seperti terakhir kali ia melihat laki-laki itu.

"Kita perlu bicara."

Baekhyun menghempaskan pergelangan tangannya yang tiba-tiba digenggam oleh Chanyeol. "Pergilah, aku ada janji dengan orang lain."

"Lima menit saja."

Baekhyun tampaknya tak ingin mendengarkan Chanyeol. Ia mulai menyeimbangkan tubuhnya di atas sepedanya dan mulai hampir mulai mengayuh saat Chanyeol tiba-tiba berkata. "Kau.. masih menyimpan kalung itu."

Baekhyun mengikuti arah pandang Chanyeol dan segera menyembunyikan kalung itu di balik pakaiannya. "Lalu?"

"Baek, kumohon jangan seperti ini. Kau tau—"

"Kau yang seharusnya jangan seperti ini." Kali ini Baekhyun mendongakkan kepalanya, menatap Chanyeol tajam dengan keberanian yang entah muncul darimana walaupun kenyataannya mata Baekhyun sudah panas dengan pelupuknya yang terasa berat. "Kenapa kau terus menggangguku saat kau sudah punya seseorang yang akan kau nikahi? Kau ingin dia mendatangiku lagi untuk mengingatkan tentang pernikahan kalian? Brengsek. Kalung ini?" Baekhyun mengarahkan tangannya ke lehernya yang berhiaskan kalung putih imitasi dengan liontion berbentuk daisy, kalung yang dulu mereka beli bersama. "Kalau ini yang membuat kau salah paham." Jemarinya yang gemetaran menarik paksa hingga kalung itu terlepas, meninggalkan sedikit goresan di leher belakang Baekhyun. "Tak ada artinya lagi untukku." Ucapnya saat kalung itu terjatuh di tanah, tepat di depan Chanyeol.

Baekhyun segera memutar balik sepedanya meninggalkan Chanyeol yang berdiri kaku di sana bersama kalung yang telah ia pakai sejak pertama kali Chanyeol membelikannya.

"Aku minta maaf, tadi Baekkie mengulah."

Baekhyun tersenyum pada Sehun yang baru saja datang mengendarai sepedanya.

"Siapa dia?" tanya Sehun melihat seorang laki-laki yang berdiri dengan jarak tiga meter dari mereka.

"Chanyeol." Melihat raut muka Sehun yang berubah, Baekhyun segera mengganti topik. "Ngomong-ngomong bagaimana kalau kita ke tempat praktekmu saja?"

"Kau baik-baik saja kan Baekhyun?"

"Ya, tentu saja."

.

.

.

.

Seoul, 5 Agustus 1969

Chanyeol rasanya sudah gila. Ia sangat gelisah, tak bisa tidur walaupun dia sudah menutup matanya hampir selama satu jam. Pikirannya penuh dengan Baekhyun, Baekhyun, dan Baekhyun. Baekhyun yang tersenyum saat pandangan mata mereka bertemu, Baekhyun yang bersemu merah saat Chanyeol terus menatapinya, Baekhyun yang menangis saat Chanyeol terjatuh, Baekhyun yang marah saat Chanyeol menggodanya, dan masih banyak Baekhyun Baekhyun yang lain.

Chanyeol bangkit dari tempat tidurnya dengan gusar lalu meraih sebotoh minuman keras yang selalu menjadi temannya. Jika ia mulai gila dengan memikirkan Baekhyun, maka ia akan menenggak minuman memabukkan itu hingga kesadarannya hilang.

Ia bersandar pada dinding yang dingin, ditemani cahaya redup dari bulan, menenggak tetes demi tetes minuman berwarna bening itu, membasahi tenggorokannya lagi dan lagi hingga ia tak mampu membuka mata secara utuh.

"Baekhyun.." bisiknya sepelan yang ia bisa, tak ingin suaranya sampai di telinga Luhan. Air mata yang selalu ia tahan saat ia ada di sekeliling orang-orang jatuh, meratapi dirinya yang hancur lebur, sudah berkeping-keping hingga dengan usaha apa pun tak akan pernah kembali utuh seperti semula.

Jemarinya yang panjang menggapai keranjang sampah yang ada di sebelah mejanya, mengais beberapa tumpukan kertas di dalamnya hingga ia meraih seuntai kalung imitasi dengan liontin berbentuk Daisy, benda satu-satunya yang ia punya yang berhubungan dengan Baekhyun.

Ia mencengkram kalung itu di dalam telapak tangannya yang lebar dengan kuat sekali seolah-olah jika ia melonggarkan sedikit saja maka kalung itu akan menghilang dari pandangan matanya.

Ia menarik lutut ke dadanya, menyembunyikan wajahnya di antara lipatan tangan yang ia tumpukan di atas lutut masih dengan kalung itu di telapak tangannya.

Tidak.

Ia tak boleh kehilangan benda ini.

Tidak walaupun Luhan tidak setuju.

Selama dia tak tau maka ia bisa menyimpan kalung ini sendiri. Diam-diam tentu saja.

.

.

.

.

Bucheon 2 Mei 1973

Mata Baekhyun melengkung indah membentuk senyuman saat Baekkie duduk di pangkuannya. Sehun sedang menatapi pot kecil berwarna orange di meja kerjanya yang baru saja ditanami Baekhyun dnegan bibit bunga Daisy.

"Mau kutunjukkan sesuatu Baekhyun?"

Baekhyun mengangguk bersemangat lalu mendekat pada Sehun.

"Baekkie kemari.." Sehun membuka lebar kedua lengannya dan anjing kecil itu pun segera turun dari pangkuan Baekhyun, berlari ke pemilik aslinya.

"Tangan." Sehun mengulurkan tangannya pada anjing kecil itu dan yang membuat Baekhyun kagum, Baekkie dengan segera menaruh salah satu kaki depannya di atas tangan Sehun.

"Wah, kau melatihnya dengan baik!"

Sehun mengelus kepala anjing itu sayang sementara anjing itu hanya menutup matanya dengan lidah terjulur—sebagaimana layaknya anjing. Kemudian Sehun mengeluarkan sebuah kotak persegi dengan warna merah muda. "Berikan padanya." Ucap Sehun sambil menyodorkan kotak itu di dekat muluut anjingnya. Si anjing dengan patuh mengapit kotak itu di antara geliginya yang tajam dan berlari ke arah Baekhyun, berusaha memanjat kaki Baekhyun dengan meletakkan kedua kaki depannya di atas lutut laki-laki itu.

Baekhyun mengambil kotak itu dengan senyum. "Apa ini?" ucapnya.

"Buka saja."

Baekhyun melirik Sehun sejenak dan terkekeh lalu membuka kotak yang diberikan padanya. Di sana ada sebuah gelang simpel dengan warna perak berbentuk seperti rantai-rantai kecil dengan gantungan kecil berbentuk bunga daisy, kesukaan Baekhyun. "Woahh" matanya berpendar kagum dan mengeluarkan gelang itu dari kotaknya. "Ini untukku?" tanyanya dengan senyum lebar pada Sehun yang mengangguk dengan senyum sama lebarnya. "Terima kasih, ini cantik sekali." Katanya sambil memasangkan gelang itu di pergelangan tangannya. "Tapi ini bukan gelang perempuan kan?"

Sehun terkekeh dan menggeleng. "Bukan bukan, itu gelang bisa dipakai siapa saja."

.

.

.

.

Seoul 12 April 1970

Luhan menjatuhkan semua benda di atas meja belajarnya ke lantai. Fotonya yang dibingkai kaca pecah, buku-bukunya jatuh berserakan, bahkan vas bunga yang biasa ada di meja belajarnya hancur berkeping-keping. "Apa kau sudah gila? Kenapa kau lakukan ini padaku Park Chanyeol?!"

Chanyeol maju selangkah dan memegang bahu Luhan berusaha menenangkan teman sekamarnya itu namun ia malah didorong keras. "Setelah semua yang kau lakukan padaku kau ingin aku melupakan semua yang terjadi seolah-olah tak ada yang terjadi?! Kau ingin kembali pada Baekhyun? Lalu bagaimana denganku?!" Luhan terus berteriak dengan suara tertinggi yang ia bisa, nafasnya cepat karena amarah yang membuncah saat Chanyeol mengatakan ia mencintai Baekhyun dan ingin kembali padanya. "Kau pikir jika kau kembali pada Baekhyun aku akan diam begitu saja?! Kau pikir jika aku mengatakan pada Baekhyun bahwa kau telah meniduriku berkali-kali dia akan tetap mau bersama denganmu?! Kau mau melihatku menghancurkan Baekhyun? Itukah yang ingin kau lihat?" Luhan menatap Chanyeol dnegan matanya yang tertutup kabut amarah. Ia menunduk untuk memungut sebuah kepingan kaca. Ia mengarahkan ujung kaca yang tajam itu pada pergelangan tangannya sendiri dan menatap Chanyeol nyalang. "Katakan kau ingin kembali padanya brengsek! Katakan!"

"Luhan jangan begini." Chanyeol mendekat lagi, kali ini memegang kedua pergelangan tangan Luhan. "Kau tidak boleh bertindak sejauh ini." Ucap Chanyeol dengan desahan berat. Sungguh tak pernah adegan seperti ini muncul di pikiran Chanyeol. Mereka memang kerap berkelahi setiap Chanyeol mulai membahas masalah Baekhyun namun kali ini Luhan sangat berbeda, seolah-olah semua kemarahannya meluap dan meledak hingga ia sendiri tak bisa mengontrol dirinya.

"Kenapa tidak boleh? Apa kau bahkan akan peduli jika aku membunuh diriku sendiri? Dengar kau brengsek, apa kau rasa kau masih pantas dengan Baekhyun? Aku mengenalnya lebih dulu daripada kau! Dia itu seperti anak polos yang seperti tak tau apa-apa, dia mudah menangis dan tak tau apa itu percintaan sebelum kau datang. Tubuhnya masih polos dan murni, tak pernah tersentuh oleh tangan orang lain dan kau mau kembali padanya?" Luhan menyeringai. "Kau rasa dirimu yang sekarang pantas untuk Baekhyun? Pemabuk dan sudah meniduri sahabatnya berkali-kali dan kau rasa dirimu masih pantas? Sadarlah Park Chanyeol, Baekhyun sudah terlalu jauh dari jangkauan tanganmu."

Pegangan Chanyeol pada kedua tangan Luhan melonggar perlahan-lahan hingga terlepas seutuhnya, begitu juga sekeping kaca di tangan Luhan yang jatuh ke lantai, pecah lagi menjadi beberapa bagian.

Luhan melingkarkan kedua tangannya di leher Chanyeol dan membawa laki-laki yang lebih tinggi itu ke dalam sebuah ciuman panas yang membuat keduanya mabuk dan lupa dengan betapa berantakannya ruangan itu sekarang.

.

.

.

.

Bucheon 3 Mei 1973

Mungkin Baekhyun harus bersyukur dengan adanya Sehun di sisinya sekarang. Laki-laki itu selalu berusaha membuat detik-detik yang dilaluinya berharga, berisi senyuman dan gelak tawa. Sejak kemarin, ia selalu memakai gelang cantik pemberian dokter hewan itu kemana pun dia pergi bahkan saat tidur, singkatnya ia tak pernah melepas gelang itu—kecuali saat ia mandi.

Hari ini mereka menghabiskan waktu di pantai berdua karena orang-orang di desa itu memang tidak datang ke pantai pada pukul lima sore seperti sekarang ini.

Baekhyun memegang sebuah ranting kayu di tangannya dan melukiskan namanya dan Sehun di pasir. Ia terkekeh pelan dan melambaikan tangannya pada Sehun yang berdiri di tepi pantai. "Sehun, kemari sebentar."

Sehun dengan senang hati berjalan ke arah Baekhyun dan melihat ke pasir dimana Baekhyun menunjuk. "Cantik kan?"

Sehun tertawa pelan dan mengangguk sebelum berjongkok diikuti oleh Baekhyun. Sehun mengambil ranting kayu yang lain dan menuliskan 'tampan' di sebelah namanya membuat Baekhyun yang bersandar lebih dekat pada laki-laki itu tertawa.

Sehun memutar kepalanya bermaksud ingin melihat senyum Baekhyun saat ia tertawa dengan girang dan dipertemukan oleh ujung hidung laki-laki itu yang menyentuh miliknya. Tawa Baekhyun perlahan mereda dan darah dengan cepat mengalir ke pipinya saat tatapan mereka bertemu dengan jarak yang terlalu dekat.

"Bolehkah aku…menciummu?" tanya Sehun ragu-ragu dan berusaha menahan dirinya agar tak menerjang Baekhyun begitu saja karena nafas hangatnya yang terus menyapu kulit wajah Sehun.

Baekhyun mengeratkan pegangannya pada ranting kayu yang ia pegang saat wajah Sehun semakin dekat. Matanya perlahan tertutup membiarkan bibir Sehun menyentuh bibirnya.

Suara jantung mereka berlomba menghantam dada masing-masing. Sehun tak bergerak tapi terus menekan bibir Baekhyun yang terasa lembut dengan bibirnya. Ciuman polos yang membuat mereka hampir gila.

Saat Sehun memundurkan wajahnya, Baekhyun perlahan membuka matanya, warna merah muda masih menghiasi pipi laki-laki itu. Ia malu. Sangat malu dengan apa yang baru saja ia lakukan dengan laki-laki yang bekerja sebagai dokter itu.

"Maaf.." Sehun menggigit bibir bawahnya dan menggosok tengkuknya malu sementara Baekhyun hanya tertunduk.

"Tak apa." Ucapnya pelan.

.

.

.

.

Baekhyun pulang ke rumahnya setelah pukul tujuh lewat. Saat ia membuka pintu dan memanggil ibunya, ia melihat Chanyeol sedang duduk di sofa ruang tengah rumah mereka ditemani oleh ibunya sendiri.

"Kau sudah pulang Baek? Kebetulan Chanyeol ada di sini, kalian bicaralah dulu, katanya kau menjatuhkan kalungmu di dekat danau."

Baekhyun membeku di pintu, saling berpandangan dengan Chanyeol. "Kita ada tamu? Kebetulan aku meninggalkan sesuatu di toko. Sebaiknya aku pergi mengambilnya dulu."

Saat Baekhyun berbalik Chanyeol sudah bangkit dari duduknya dan meraih tangannya. "Kita bicara sebentar."

Baekhyun mendesah dan berbalik pada Chanyeol kemudian melangkahkan kakinya masuk tanpa berkata apa pun. Ibunya sudah pergi ke dapur meninggalkan mereka berdua di ruang tamu. "Ini kalungmu." Ucap Chanyeol menyodorkan seuntai kalung berliontin daisy pada Baekhyun.

"Kau boleh mengambil itu. Aku sudah tidak memerlukannya." Ucap Baekhyun melihat ke dinding putih di depannya.

"Ini kan kalung yang kita beli bersama Baek."

"Itu hanya masa lalu dan kumohon pulanglah. Aku lelah dan aku ingin istirahat, aku tidak ada waktu untuk berbicara denganmu."

"Tidak ada waktu berbicara denganku tapi ada waktu berduaan dengan dokter hewan itu?"

"Dia punya nama Park Chanyeol."

"Terserahlah. Apa kalian berpacaran?"

Baekhyun diam sejenak seolah mempertimbangkan sebuah jawaban untuk diberikan pada Chanyeol. Ia mendesahkan nafas pelan dan menatap laki-laki tinggi bersuara berat itu. "Memangnya kenapa? Itu tidak ada urusannya denganmu."

"Aku melihatnya menciummu."

Baekhyun diam lagi namun jantungnya berdetak cepat dan tanpa disadarinya matanya sedikit melebar dari ukuran aslinya. Tidak mungkin dia melihat, pikirnya. "Lalu?"

"Jangan begini Baek, kumohon. Kau tidak tau bagaimana rindunya aku padamu."

Baekhyun mendecih kasar walaupun pelupuk matanya mulai terasa berat mengingat rindu yang ia pendam bertahun-tahun. "Rindu? Kau seharusnya pulang sekali-sekali jika kau rindu, bukannya malah menghilang." Bisik Baekhyun dengan sangat pelan seolah-olah tak ingin seorangpun mendengarnya termasuk Chanyeol sendiri.

"Baekhyun dengar—"

Sesaat Chanyeol meraih tangan Baekhyun bel pintu rumah laki-laki itu berbunyi. Ia menghempaskan tangan Chanyeol dan berjalan untuk membuka pintu itu.

"Aku hanya ingin mengembalikan ini. Tertinggal di tempat praktekku." Di sana Sehun melambaikan mantel abu-abu Baekhyun. Ia tersenyum dan mengambilnya.

"Mau masuk dulu?"

"Kupikir kau punya tamu?" ucapnya berkedip dan menoleh ke dalam rumah Baekhyun.

"Tak apa, masuklah." Baekhyun menarik tangan Sehun dan mendudukkan laki-laki itu di sofa.

Sehun memicingkan matanya pada Chanyeol sementara Chanyeol menatapnya tajam. Sesama dokter itu bertatapan beberapa saat sebelum Sehun membungkuk hormat di depan Chanyeol. "Aku Sehun."

"Chanyeol." Ucap Chanyeol balas membungkuk.

"Kau mau minum apa?" tanya Baekhyun pada Sehun.

"Apa saja tak masalah." Ucapnya dan mereka berbalas-balasan senyum.

"Tunggu sebentar." Baekhyun bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke dapur meninggalkan Sehun dan Chanyeol.

"Kalian berpacaran?" tanya Chanyeol, matanya tak lepas dari Sehun yang duduk di seberangnya.

"Maaf kurasa itu pertanyaan yang tidak sopan. Kita baru saja bertemu."

"Kau tak tau siapa aku?"

"Untungnya aku cukup tau." Sehun melempar senyum tipis. "Dan itu tidak ada pengaruhnya untukku walaupun kau adalah mantannya yang hilang bertahun-tahun dengan alasan kuliah ke Seoul dan tiba-tiba pulang dengan surat undangan." Sehun mengedikkan bahunya. "Cukup kejam untuk laki-laki sebaik Baekhyun. Bukankah begitu Chanyeol-ssi?"

Chanyeol mendengus dan memutar matanya. "Jangan bertingkah seolah-olah kau tau segalanya."

"Kau yang memulai dan aku tidka mencoba bertingkah seolah-olah aku tau segalanya."

Tak lama Baekhyun kembali dengan nampan. Ia meletakkan secangkir teh di depan Sehun dan tersenyum. "Minumlah." Kemudian ia melirik Chanyeol yang di depannya telah terhidang kopi, pasti ibunya yang membuatkan.

"Chanyeol, kalau urusanmu sudah selesai pulanglah."

Sehun menyeruput tehnya dan melirik Chanyeol yang bangkit berdiri sebelum ia bangkit berdiri juga. "Aku juga sebenarnya masih ada urusan Baek, Baekkie sendirian di tempat praktekku, aku takut terjadi sesuatu padanya jadi kurasa aku pamit saja. Dan tehnya enak sekali, terima kasih. Dan, sampai jumpa besok."

Sehun berjalan keluar diikuti oleh Chanyeol.

"Datanglah ke taman di dekat sekolah kita yang lama besok. Aku akan menunggu." Ucap Chanyeol sebelum bangkit dan menyusul Sehun yang sudah keluar terlebih dahulu.

TBC