Bisakah teman-teman tersayangnya ini bersikap sedikit tenang? Sejak di dalam kereta tadi Momo, Senna, Nel, dan Soi Fon, tidak henti-hentinya mengoceh. Apa lagi kalau bukan mengocehkan tentang Black Devils.

Black Devils yang inilah. Black Devils yang itulah. Membuat Rukia malu bukan main. Seandainya Rukia juga bisa bergabung dalam ocehan teman-temannya itu, pastilah dia tak akan begitu memperthatikan tatapan orang-orang.

Sayangnya jika teman-temannya sudah mulai ngobrol tentang apa yang disebut 'Artis Idola', Rukia langsung merasa berhadapan dengan orang-orang yang berbicara dengan bahasa asing. Jelas bukan bahasa yang dikuasainya, padahal Rukia mengusasi lima bahasa berbeda.

"Tahu tidak? Black Devils sepertinya sedang digosipkan dengan seorang model," Rukia hanya memutar bola matanya.

Tahu bakal sememalukan ini, lebih baik tadi dia pinjam limo keluarganya.

Eh, tapi setelah dipikir-pikir, menanggung malu lebih baik dari pada diberondong pertanyaan dari teman-temannya, seperti : "Keluargamu pengusaha sukses ya?". Dan pasti pertanyaan itu akan berbuntut panjang.

Andai Rukia tahu, pergi ke konser dengan tiket VIP (walau hanya tiket gratisan) dan memboyong teman-temannya yang cerewet sama saja dengan membawa anak TK ke taman safari, Rukia lebih memilih tidak pernah mendapat tiket itu.

Atau paling tidak memberikan tiket itu pada mereka, tapi dia tidak usah ikut pergi.

Bahkan saat antre keluar dari kereta pun, mereka masih sempat-sempatnya menyanyikan lagu –yang Rukia yakin adalah lagu Black Devils. Benar-benar memalukan!

'Terkutuk kau, Black Devils!' erang Rukia membatin.

Jujur sekarang Rukia benar-benar lebih memilih pulang dan ngumpet di bawah selimut.


Disc : BLEACH © TITE KUBO

WARNING! : AU, OOC, typo, susunan kalimat kacau, kalimat panjaaaaang, etc, etc.

REALIES

Sesungguhnya jauh didalam lubuk hatinya, Rukia juga ikut merasa bahagia melihat teman-temannya –kelewat- bahagia. Walau akibatnya menimbulkan rasa malu yang tak sebanding yang ditanggung Rukia.

Belum lagi, kemarin saat Rukia melambaikan tiket VIP(gratisan)-nya, Momo dan yang lain langsung berusaha 'membunuhnya'. Rukia mendapat pelukan –atau cekikkan- sangat erat dari mereka.

"Selamat malam, semuanya!" suara MC berdenging keras di telinga Rukia.

Sekarang mereka sudah berada di barisan VIP –barisan terdepan dan 'katanya' bakal dapat bonus berjabat tangan dengan sang idola. Yang benar saja! Mereka membayar tiket yang konon mahal hanya untuk berjabat tangan? Konyol!

Oh, Rukia baru sadar kalau teman-temannya sedikit jadi lebih tenang sekarang.

"Kalian siap untuk sambutan dari Black Devils?"

Duh, rasanya Rukia perlu ke THT setelah ini. Jika teriakan MC tadi diibaratkan gemuruh mesin jet, maka suara 'Kyaaa!' dari para penonton –yang rata-rata adalah gadis, dapat diibaratkan petir yang menggelegar saat badai topan!

'Ini pertama dan terkahir aku ikut ke acara macam ini!' sumpah Rukia.

Tak lama setelah sang MC menyingkir muncul asap dari panggung. Rukia yang belum pernah nonton konser, selama sedetik sempat mengira ada kebakaran. Hingga muncul sesosok manusia dari kepulan asap. Dan jeritan pun makin menjadi.

"Rukia! Dia yang namanya Black Devils! Tampan kan?" jerit Senna di sebelah kirinya. Rukia tak sanggup menjawab. Bukan karena ia terpesona akan ketampanan Black Devils. Bagaiman mau terpesona? Asapnya masih lumayan tebal untuk Rukia bisa melihat tampang orang itu.

"Selamat malam, semuanya!" eh! Rasanya Rukia kenal suara itu.

"Kyaaaaa! Selamat malam!" koor para penonton membuyarkan konsentrasi sekaligus minat Rukia untuk mengingat dimana ia pernah mendengar suara itu.

Tapi sepertinya Rukia tak perlu mengingat siapa pemilik suara itu. Karena dengan sendirinya Rukia langsung mengenali wajah seorang pria yang berdiri di atas panggung tak sampai lima meter darinya. Jarak yang cukup dekat bagi Rukia untuk mengenali si wajah rupawan.

Meski sekarang dengan dandanan yang lebih terkesan berandalan –jins super belel, rompi yang sobek, dan tiga anting menghias telinga kirinya-, Rukia yakin dia adalah pria aneh yang ditemuinya dua hari yang lalu.

Pria aneh yang ngotot mau balas budi.

Pria aneh yang ngotot memberinya tiket VIP.

Pria aneh yang pernah diselamatkannya...

Mulut Rukia menganga lebar. Terkejut rasanya bukan kata yang tepat. Rukia benar-benar merasa seperti orang tolol sekarang.

Apalagi saat alunan musik mulai berdentum keras melalui speaker-speaker jumbo dan suara sang pria mengalun.

"Kurosaki... Ichigo..." ucap Rukia tanpa sadar.

"Ya! Itu Kurosaki Ichigo, Black Devils adalah nama panggungnya," jelas Momo yang berdiri di kanan Rukia.

Rukia berharap lantai di bawahnya akan menelannya bulat-bulat. Menyembunyikan dirinya dan rasa malu yang sudah tak terbendung.

Jadi... sejak dua hari lalu Rukia telah bertemu dengan Black Devils yang dia kira adalah sebuah band?

Bengong selama konser yang meriah tentu bukanlah hal yang wajar. Tapi itulah yang Rukia lakukan sekarang...

.

.

.

"Maaf.. aku benar-benar tidak tahu. Kau pasti mengira aku tolol dan sebagainya." Sekaranga Rukia sudah kembali berada di cafe yang sama dengan cafe yang di datanginya dua hari lalu.

"Tidak, tidak... aku tidak beranggapan seperti itu. Aku hanya menganggapmu lucu dan... unik, mungkin," dan lagi Rukia duduk di sana bersama pria yang sama.

Kurosaki Ichigo.

"Oh, ya.. mana teman-temanmu yang heboh itu?" Ichigo menyesap late pesanannya.

"Um... mereka sudah pulang."

"Jadi kau manunggu dekat mobilku sendirian hanya untuk minta maaf karena sama sekali tak tahu siapa aku?"
"Eh, itu... emm... iya... Eh! Maaf, kau pasti sibuk. Kalau begitu aku pulang saja. Sekali lagi maaf sudah merepotkanmu," Rukia mulai beranjak dari kursinya. Bodohnya dia, seenaknya mengajak ngobrol seseorang yang pasti punya jadwal padat.

"Hei! Kau sudah seenaknya mengajakku bicara jadi temani aku setidaknya sampai tengah malam," titah Ichigo yang mau tak mau membuat Rukia kembali terduduk di kursinya. Sulit menolak ucapan pria ini. Apakah karena dia seorang artis?

"Oh, ya namamu Kuchiki Rukia kan? Boleh aku panggil Rukia?"

"Eh! Tentu."

"Nah, Rukia, panggil aku Ichigo. Kau kelas berapa?"

"Eee... kelas tiga," sekejap Rukia tersenyum miris mengingat besok try out terakhir akan diadakan.

"Apa? Bukankah sebentar lagi ujian kelulusan? Kenapa kau tidak belajar? Bagaimana jika kau tidak lulus? Berita yang kudengar besok akan ada ujian percobaan yang diadakan serentak di seluruh Jepang, kenapa kau justru tidak belajar?"

Rukia terperangah. Ichigo mengomelinya. Ichigo yang seorang artis terkenal menceramahinya seolah dia adalah ayahnya, bukan artis yang baru dikenalnya kurang dari seminggu.

Sedetik lalu pria ini melarangnya pulang, detik berikutnya dia malah mengusirnya. Apa-apaan ini? Dasar aneh.

Secepat cerpelai Ichigo menyambar tangan Rukia dan –lagi-lagi- menggiringnya ke luar dari cafe. Sebenarnya Rukia belum tahu secepat apa cerpalai itu, tapi katanya sangat cepat dan gesit.

"Kuantar kau pulang," Ichigo menyuruh Rukia masuk ke dalam BMW convertible hitamnya.

"Ti-tidak usah aku bisa naik taksi," cegah Rukia sambil berpegangan pada pintu mobil yang dibukakan oleh Ichigo.

"Tidak bisa. Ini sudah malam, taksi sudah jarang lewat," Ichigo mendorong Rukia masuk, lalu megitari mobil untuk masuk melalui pintu satunya dan mulai mengeluarkan mobil dari area parkir. "Dimana alamatmu?"

"Apartemen Kageyoshi," bisik Rukia.

"Hei! Aku tahu tempat itu. Katanya itu apartemen yang didirikan oleh seorang pengusaha kaya. Siapa ya namanya..." Ichigo menerawang ke arah langit.

"Eh, benar! Sepertinya pengusaha itu juga memiliki apartemen bernama sama di setiap distrik. Fasilitasnya juga lumayan," Rukia buru-buru mengalihkan pikiran Ichigo dari nama sang pengusaha. Karena jelas nama pengusaha itu adalah Kuchiki Byakuya, ayah dari Kuchiki Rukia sendiri.

Agak berlebihan memang, tapi Rukia berasumsi semakin sedikit yang tahu identitasnya itu semakin baik.

"Benarkah? Kebetulan aku sedanga mencari apartemen."

Perjalanan tak sampai sepuluh menit, mereka sudah berdiri di pintu masuk lobi depan. "Nah, Rukia sekarang kau harus masuk dan belajar dengan baik."

Rukia terkikik geli, "Kau seperti seorang ayah, jangan-jangan kau sudah menikah ya?"

"Kau ini! Aku hanya terpaut dua tahun diatasmu. Dan lagi, asal kau tahu saja ya, karena jadwal konserku yang padat aku bahkan tak sempat berburu pacar!" pengakuan Ichigo yang membuat Rukia tertawa keras.

"Benarkah? Aku jadi ingin segera memberi tahu teman-temanku!" Rukia masih tetawa ringan. Lampu hias di dasbor Ichigo menambah kesan tersendiri saat si putri Kuchiki itu tertawa lepas.

Tanpa bisa dicegah tangan Ichigo sudah menyentuh helain hitam rambut Rukia dan mengacaknya pelan. "Sudah larut, kau masih harus belajar. Sekarang masuklah," ucap Ichigo diakhiri dengan senyum.

Rukia bersumpah senyum Ichigo memang maut! Terlihat sangat... sangat... yah... tampan. Penampilan Ichigo sudah tidak seperti di panggung tadi. Sekarang penampilannya terlihat santai dan dewasa. Tanpa kostum robek disana-sini dan anting, tentu saja.

Buru-buru Rukia mengalihkan pandangan dan keluar dari mobil Ichigo yang mendadak membuatnya gerah.

"Em... selamat malam, terimakasih sudah mengantarku, Ichigo," Rukia masih sedikit canggung sebenarnya. Mengingat mereka bahkan belum benar-benar kenal.

"Selamat malam, Rukia."

Dan mobil Ichigo melaju pergi, meninggalkan Rukia dan udara dingin di awal musim salju.

.

.

.

Namun akhirnya Rukia tidak melakukan apa yang Ichigo perintahkan. Belajar, maksudnya.

Begitu masuk ke apartemennya rasa lelah yang luar biasa langsung Rukia rasakan. Dan akhirnya tempat tidur dan selimut tebal adalah dua hal yang tidak dapat Rukia tolak.

Rukia langsung tertidur pulas detik keempat dia berbaring. Terus tertidur hingga ponselnya berdering nyaring di atas meja nakasnya.

Rukia mengerang dari balik selimut.

Merasa deringan itu tak akan berhenti, Rukia menyentakkan selimutnya dan menyambar ponselnya.

Nyaris dia memaki siapa pun yang meneleponnya pukul empat pagi seperti ini. Namun kata makiannya ia telan bulat-bulat begitu melihat tulisan 'Otou-sama' di layar ponselnya.

"Halo. Selamat pagi, Rukia di sini," sapa Rukia begitu kantuknya seratus persen hilang.

"Rukia! Ini ibu. Ada kabar buruk!" alih-alih suara tegas dan dingin sang ayah, suara ibunya yang paniklah yang ia dengar.

"Ada apa ibu?" entah kenapa Rukia kembali merasa ngantuk.

"Sepupumu! Riruka! Dia masuk rumah sakit."

"Eh! Rumah sakit mana? Dia sakit apa? Kecelakaan?"

"Bukan, sayang. Riruka masuk rumah sakit jiwa!"

"A-apa..."

.

.

.

Oh, sepertinya Rukia tak perlu khawatir tidak bisa mengerjakan soal uji coba karena semalam sama sekali tidak belajar. Pagi buta tadi beberapa bodyguard keluarga Kuchiki langsung menyergap apartemennya dan membawanya pulang ke Karakura.

'Ya, ampun. Mereka pikir aku ini buronan apa?' batin Rukia menjerit. Penampilannya masih awut-awutan dengan piyama orange kusut dan tas -yang dia yakin berisi dompetnya- tergeletak di pangkuannya.

Sedetik setelah sambungan telepon dari ibunya terputus mendadak pintu apartemennya menjeblak terbuka. Dan wajah Hisagi dan beberapa orang berpakaian serba hitam masuk lalu mulai mengoceh yang intinya Rukia harus menengok sepupunya di Karakura.

Riruka sebenarnya adalah sepupu jauh Rukia. Hanya saja keluarganya memandang hubungan mereka sangat akrab hanya karena mereka pernah satu kelas selama di SMP.

Oh, dan Riruka sering ikut pesta piyama bersama teman-teman perempuan Rukia. Yang tentu saja sulit disebut pesta piyama karena jumlah pesertanya yang sangat banyak. Bukan hanya murid perempuan dari kelas Rukia, murid dari kelas lain bahkan sekolah lain juga ada.

Tentu saja dengan jumlah yang banyak begitu kesempatan untuk ngobrol dengan Riruka tidak begitu sering terjadi.

.

.

.

Sesampainya di Karakura, bukan sambutan seperti biasa yang dia dapat tapi pemandangan kacau ala RSJ. Menilik penampilan kacaunya Rukia pasti juga disangka pasien.

Keadaan sepupunya memang lumayan memprihatinkan. Terkadang Riruka bergumam tak jelas lalu mengamuk dan terdiam seperti patung lalu mengamuk lagi.

Ibu dan ayah Riruka juga tidak tahu apa yang membuat putri mereka begitu. Mereka sepertinya sangat syok.

Entah atas dasar apa mereka beranggapan mungkin Rukia bisa mencari tahu penyebabnya.

Dan karena itulah siang ini Rukia, masih dengan piyamanya dan meringis menahan perut keroncongan, duduk di ruang tamu keluarga sang sepupu. Ternyata para pelayan di rumah ini sedang sibuk membersihkan rumah yang kacau akibat amukan Riruka, hingga tak ada yang menawarinya makan siang.

"Aduh, hebat juga Riruka bisa membuat rumahnya seperti kapal pecah," bisik Rukia sepontan begitu berada di dalam rumah si sepupu.

"Eh, maaf. Apa aku bisa melihat, eh, kamar Riruka?" tanya Rukia pada seorang pelayan yang kebetulan baru selesai memasang tirai baru. Sepertinya tirai yang lama pasti sudah koyak.

"Eh... i-iya nona Kuchiki. Maaf kami semua begitu sibuk hingga mengabaikan Anda," balas sang pelayan gugup. Rukia hanya tersenyum menanggapinya.

.

.

.

Sudut mata Rukia berkedut begitu ia menyibak tirai tebal di kamar Riruka.

Bukan karena cahaya menyilaukan dari luar, bukan juga karena ternyata kamar Riruka sama sekali tidak berantakan seperti di lantai bawah. Tapi poster Black Devils dan segala pernak pernik sang bintanglah yang membuat Rukia mengernyit.

Ya, itu poster Ichigo!

Mendadak Rukia tahu apa yang Riruka bisikkan tadi di rumah sakit. Itu buakan kalimat biasa, itu lagu yang kemarin dinyanyikan Ichigo. Dan yang Riruka teriakkan tadi adalah...

Rukia tak yakin, tapi itu pasti ada hubungannya dengan Ichigo.

"Nona Riruka adalah penggemar orang itu," seseorang masuk ke dalam kamar Riruka yang memang pintunya tidak Rukia tutup.

"Tsukishima-san."

"Tuan dan Nyonya tidak tahu betapa nona Riruka sangat menggilai Black Devils," Rukia ikut mengarahkan pandangannya pada poster besar Ichigo.

"Beberapa bulan ini bahkan nona mulai melakukan hal nekat. Melakukan apa saja agar idolanya mau menikah dengannya."

"Me-menikah. Ichi- maksudku Black Devils ini?" Rukia menunjuk poster Ichigo. "Riruka ingin menikah dengannya?"
Tsukishima-san hanya tersenyum lemah, "Ya, nona Riruka... entah bagaimana tiba-tiba punya pikiran seperti itu. Menikah, dia bilang."

Ada jeda cukup lama. "Padahal sebelumnya nona pernah bilang pria itu sudah seperti kakaknya," lanjut Tsukishima-san.

"Eh, maaf. Maksudnya Riruka memang sudah kenal dengan orang ini?" Rukia menunjuk poster Ichigo.

"Saya kurang tahu. Untuk itulah saya ingin nona Rukia menyelidikinya."

Rukia tertegun, "Aku? Kenapa?"

"Nona Riruka sudah mengamuk sejak kemarin, dan sebenarnya saya sudah mengira-ngira penyebabnya adalah orang ini. Maka saya mengirim beberapa orang untuk menyelidikinya," Tsukishima-san menghembuskan napas berat. "Dan sepertinya salah seorang anak buah saya melihat Anda bersama pria ini tadi malam."

"Eh!" Rukia terkejut. Rasanya dimata-matai oleh bodyguard keluarganya sudah lebih dari cukup. Tapi rupanya masih ada pihak lain yang –walau tidak secara langsung- juga memata-matainya.

.

.

.

Mau tidak mau Rukia harus membantu Tsukishima-san. Dahulu sekali, saat Rukia dan Riruka masih kecil, Tsukishima-san sudah mereka anggap kakak. Dulu sekali, saat Rukia benar-benar menganggap Riruka sebagai saudara sepupu. Dan bukan gadis sombong yang membangga-banggakan harta orang tuanya.

Sore itu juga Rukia meluncur kembali ke Seireitei. Setelah mendengar beberapa penjelasan dari Tsukishima-san. Dan bahwa Hisagi sudah ia minta secara khusus untuk melindungi Rukia.

"Aduh, kacau sekali," gerutu Rukia melemparkan tubuhnya ke sofa apartemennya.

Besok harus sekolah. Juga masih ada ujian percobaan.

Otaknya menolak untuk membuka buku apa pun. Tak peduli besok ia akan bisa mengerjakan ujiannya atau tidak. Alih-alih mengistirahatkan tubuhnya yang lelah, Rukia malah menyalakan televisi. Walau jelas tak ada acara yang menarik karena ini hampir tengah malam.

Paling hanya rangkuman berita sepanjang hari ini yang meanarik bagi Rukia. Dan itulah yang sedang dia tonton dengan mata menyipit karena tak satu pun lampu yang dinyalakan.

"Kabar selanjutnya, adalah kecelakaan yang terjadi di perbukitan timur pantai Seireitei. Sungguh mengenaskan. Seorang pemuda tanpa identitas ditemukan jatuh dari tebing setelah menabrak pagar pembatas," cerocos sang reporter sangat ekspresif.

Setelah itu layar menunjukkan motor yang sudah rusak parah dan sedikit terbakar. Saat kamera menyoroti bagian depan motor tersebut, Rukia seketika terbelalak –melotot malah.

Rukia mengenali motor itu. Itu motor yang sama dengan motor yang beberapa hari lalu hampir menabraknya. Atau menebrak Ichigo lebih tepatnya.

Bukan karena nomor polisinya yang membuat Rukia ingat –bagaimana mungkin ia sempat menghafalnya jika nyawanya saja sedang dipertaruhkan-, tapi stiker bergambar tengkorak merah yang membuat Rukia mengenali motor itu.

Oke, memang stiker seperti itu pasti banyak dijual. Stiker berbentuk tengkorak seperti yang ada pada film bajak laut yang sering Rukia tonton. Hanya saja ada sebuah tulisan lumayan besar tercetak di bawah stiker itu.

Nnoitra.

Dan Rukia yakin itu adalah sebuah nama.

Stiker dan cetakan nama itu terbuat dari bahan spotlight, hingga Rukia dapat melihatnya dengan jelas –saat insiden itu- dengan bantuan sorot lampu dari kendaraan yang berhenti di lampu merah dari arah berlawanan. Kan si pengemudi motor itu melawan arus, ngerti maksudnya kan?

Mandadak pikiran Rukia tertuju pada Kurosaki Ichigo. Ia bepikir seakan-akan segala hal buruk yang terjadi hari ini ada hubungannya dengan si Black Devils.

"Apa-apaan ini?" jerit Rukia.

Sepertinya bakal ada hal-hal mengejutkan setelah ini. Yang benar saja! Kayak hidup Rukia kurang rumit saja. Dia kan sudah kelas tiga SMU!

TBC


A/N: gomennasai! baru update. Bener-bener lagi depresi.

Ehm, ngomong-ngomong kok FFN sepi banget yah? Apa author lain juga lagi depresi? *hehee

Untuk chap depan kayaknya juga bakal lelet lagi updatenya. Aku mau ngelanjutin depresi lagi... T.T Bulan puasa kali ini bener-bener penuh cobaan... *curcol

Oh, ya... mohon do'anya semoga author gak salah ambil jurusan kuliah... *ini nih salah satu penyebab depresi yang dominan.

Trus, Byakuya nii-sama yang kabarnya [semoga salah] tewas... Aduh... bikin stres aja.

Thanks buat yang Review : ayaaa, Nana Hinamori-Elf, hirumaakarikurosakikuchizaki [bener gak nih namanya? panjang banget], Shizuku Kamae, Sora Yasu9a, dan Guest.

Gomen belum bisa bales review...


Cherry All-Sunday [vyorin]

07.28.12