Free Hug

Rate: T

Chara: Oda Sakunosuke x Sakaguchi Ango (OdaAngo)

Genre: Romance

Disclaimer: Asagiri Kafka & Harukawa Sango.

Warning: OOC, typo, gagal fluff (?), absurd (?), dll.

Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini, dan semata-mata dibuat untuk kesenangan pribadi, serta diikutkan pada "bsd crack pair" di tumblr. Bisa juga dibilang untuk memenuhi request dari zian.


Day 3: Carrying Home/Open Arms


Jika malam dimanjakan oleh peluk dari bulan dan bintang. Maka manusia dimanjakan kemesraan langit beserta kawanannya itu, ketika duduk di basah rerumputan. Sementara uap cokelat panas mengepul dari cangkir, sepasang mata akan setia menontoni lautan harap yang berjatuhan memenuhi pandang–pertunjukan paling keren, selain mendengarkan konster musik atau menikmati lamaran romantis.

Namun, semua kembali pada pilihan masing-masing. Berdiam di apartemen, dan mengenakan celemek untuk memasak makan malam bisa menjadi alternatif yang Oda Sakunosuke sukai. Ia tengah memasak kari dengan porsi dua orang. Setelahnya bersih-bersih sambil mendengarkan lagu, dan bersenandung menunggu bel berbunyi. Mungkin sekitar lima sampai sepuluh menit sampai yang dimaksud datang.

DING ... DONG ...

Pukul delapan malam ketika bel berbunyi. Lebih cepat tujuh menit yang tentu saja, pertanda bagus.

CKLEK!

"Selamat datang, A–" Sambutan Oda terputus mendapati tubuh basah kuyub bau got. Pemuda itu menaikkan kacamata, sebelum berlalu tanpa kata.

"Kondisimu benar-benar bu–"

GREP!

Nyaris saja kaki yang terantuk sepatu membuat ia terjatuh. Oda menghela napas lega, karena tepat waktu menarik lengannya.

"Kubantu. Kau pasti benar-benar lelah."

"Tidak perlu. Aku bisa jalan sendiri." Pegangan tersebut ditepis pelan olehnya. Mata biru malam Oda sebatas menontoni punggung itu pergi ke kamar mandi.

Sakaguchi Ango yang mengambek membuat Oda penasaran. Jatuh ke got tentu menyebalkan, meski kegusaran itu disebabkan lain alasan di luar sebuah kesialan. Jangan tanya mengapa pada Oda yang sibuk menyiapkan sepiring kari, ia hendak mencari tahu sehingga melesat ke kamar mereka. Pengguna kekuatan 'ten'imuhou' itu tahu bagaimana kelanjutannya, karena ini bukan kali pertama Ango demikian. Mungkin sudah dua sampai tiga dari bulan-bulan lalu.

CKLEK!

"Yo. Mandimu cepat." Keheranan Ango ditunjukkan dari sebelah alis yang naik. Kari di meja kerjanya terasa janggal, dan ia tidak nafsu walau belum mengisi perut.

"Jangan makan di kamar, Odasaku. Pergilah ke ruang makan." Laptop segera dinyalakan Ango yang duduk manis di kursi meja kerjanya. Oda menontoni jari-jari kurus yang menari di keyboard dengan tatapan tenang.

"Itu porsimu."

"Aku tidak lapar."

"Baiklah. Aku suapi."

Kursi yang menganggur di samping rak buku Oda tarik mendekati meja kerja Ango. Sesendok kari disodorkannya yang ditolak halus dengan mengangkat tangan. Namun, bukan Oda jika menyerah begitu saja. Manik kecokelatan Ango yang sesekali melirik lama-kelamaan tergoda, dan perutnya protes karena wangi seenak itu diabaikan. Pipinya bersemburat merah sewaktu menerima suapan tersebut. Malu bukan kepalang ketahuan berbohong.

"Bagaimana rasanya? Apa terlalu pedas?"

"Enak ... kok ..." bisik Ango yang suaranya tenggelam di pembauran napas mereka. Oda mendekatkan telinga memintanya mengulang.

"Rasanya ... enak. Setelah ini tidak ada pengulangan lagi." Mata-mata Port Mafia itu tahu Oda sengaja. Buktinya ia cekikikan setelah diancam begitu.

"Laporanmu diserahkan kapan ke Bos Mori?"

"Lusa. Aku ingin buru-buru menyelesaikannya." Oda berhenti menyuap setelah itu. Lekat-lekat memperhatikan sepasang mata Ango yang cokelatnya sedikit memudar–dugaan Oda benar ternyata.

"Jangan terlalu memaksakan diri. Kau terlihat lelah."

"Sudah kubilang aku baik-baik saja. Hanya sedikit jatuh tidak berarti apa pun."

Sebelum Ango sempat melanjutkan, Oda lebih dulu memblokir aksesnya dengan memajukan kepala. Tatapan mereka beradu sengit antar cokelat susu yang sebal, dan biru malam dengan keseriusannya yang meneduhkan. Ango memutus sepihak usai memejamkan mata. Jika kekonyolan ini berlanjut, keruntuhan itu tinggal menunggu waktu untuk mencipta merah manjanya kembali terlukiskan.

Membuatnya kelupaan lagi untuk sekali ini saja lebih keras kepala, dan Ango merasa harus demi kebaikan Oda.

"Ceritakanlah. Aku siap mendengarkanmu." Penuh kelembutan Oda mengelus rambut teman minumnya itu. Mereka sudah berpindah ke tepi ranjang untuk menyamankan diri.

"Banyak yang mengejekmu. Mereka bilang kau hanya pekerja rendahan, tetapi dekat dengan Dazai-kun yang seorang eksekutif mafia."

"Lalu, mereka seenak jidat bilang kau menyogok Dazai-kun untuk berbicara denganmu. Sengaja biar derajatmu naik meski hanya pekerja rendahan."

"Benar-benar parah, ya." Respons santai Oda dibalas Ango dengan memicing kesal. Meskipun tahu dan terbukti benar, apa pemuda 23 tahun itu selalu harus bersikap sekalem ini?

"Seharusnya kau melawan mereka. Lagi pula semua itu tidak benar."

"Soal pekerja rendahan itu mereka benar. Tetapi mengenai aku menyogok Dazai, jelas salah besar."

"Kalau begitu katakan pada mereka. Aku tidak suka kau dijelek-jelekkan seperti itu." Nada bicara Ango sedikit naik dari biasanya. Ia buru-buru menundukkan kepala menyadari suaranya kurang mengenakkan.

"Ango mengkhawatirkanku ternyata."

"Tentu saja aku khawatir. Mereka tidak tahu apa pun soalmu, tetapi sembarangan bicara. Kau juga tahu dibicarakan jelek-jelek, tetapi malah diam setiap mendengarnya."

"Setidaknya terlihatlah keren sesekali."

Sekilas Oda yakin Ango menggembungkan pipinya. Lagi-lagi pula Ango memalingkan wajah meski kali itu, ada segurat senyum tulus yang ingin meredam kemarahan berartinya.

"Menurutku tidak perlu membalas mereka. Ango tahu kenapa?" Bahu sang rekan dieratkan menyentuh tubuhnya. Kini selain rambut, Oda iseng mencubit pipi Ango membuat yang bersangkutan cemberut.

"Memang kenapa?"

"Selama ada Ango yang marah dan khawatir untukku, semua itu lebih dari cukup. Lagi pula ..."

Tanpa aba-aba dagu Ango ditarik untuk kemesraan dekap begitu lekat. Kecupan singkat mendarat pada kening, batang hidung dan bibir sebagai kasih tak lepas waktu–jam dinding selalu beku, ketika kata-kata berlari menjemput sekeranjang sepi agar berkumpul, untuk memanjakan mereka oleh kebersamaan tuju–menikmati detik yang tanggal sebagai kenangan baru.

"Juga ada Ango yang selalu memahamiku dengan kebaikan. Terima kasih." Daun telinganya bahkan kebagian jatah kecupan. Oda melepas rangkulannya, dan merentangkan tangan membuat Ango bertanya-tanya.

"Apa yang mau kau lakukan sekarang?"

"Tadi siang aku melihat seorang perempuan melakukan ini, dan ada papan bertuliskan 'free hug' di dadanya."

"Kupikir ada apa. Dazai-kun pasti memeluk perempuan itu."

"Ya. Dia melakukannya dan meminta nomor telepon setelah itu."

"Tetapi ... kenapa Odasaku kepikiran free hug?" Tawa ringan lolos dari bibirnya yang sedikit kering. Semenjak disuapkan kari, Ango belum menyentuh segelas air dari dispenser di kamar.

"Aku yakin Ango juga butuh. Misalnya seperti meyakinkanmu, bahwa aku selalu di sisimu."

Kebanyakan bertanya membuat Ango memeluknya sampai Oda terjatuh ke ranjang. Mereka sama-sama tertawa dan berhenti setelahnya, untuk menikmati kehangatan di tengah udara malam yang membekukan tulang.

"Tentang seorang wanita yang mengobrol denganku kemarin. Ango tidak cemburu?"

"Ya-yang itu jelas ... kamu tahu jawabanku." Sambil gelagapan Ango menaikkan kacamatanya. Mau masalah ini atau ketika Oda dipergunjingkan, ia tidak suka mana pun.

"Dulu aku pernah menolongnya. Wanita itu kemudian menyatakan perasaannya padaku. Setelah kutolak, aku jadi kepikiran sesuatu yang berkaitan dengan permintaanmu tadi." Maksudnya yang 'terlihat lebih keren', ya? Wajah penasaran Ango dibalas Oda dengan mengacak-acak rambutnya.

"Katakan yang kamu pikirkan."

"Wanita itu jatuh cinta padaku, karena aku terlihat keren di matanya. Jika aku begitu di hadapan mereka yang membicarakanku, bisa-bisa jatuh cinta juga."

"Y-ya ... sudah ... jangan dibalas kalau begitu."

"Jadi, aku cukup terlihat keren di mata Ango saja. Cemburu berlebihan tidak baik, lho. Senyummu jadi jelek."

"Tenang saja. Aku selalu percaya padamu."

"Sebelum kita melanjutkan makan malam. Apa aku harus memanggilmu dengan panggilan khususmu?" Firasat Ango buruk sehingga menggelengkan kepala. Herannya lagi bisa-bisanya Oda tampak memelas membuatnya luluh.

"Sekali saja. Setelah itu lupakan panggilan anehmu."

"Ayo makan malam, An. Kari-nya akan kuhangatkan lagi."

"Tetap saja terdengar seperti cewek."

"Lagi pula kau calon istriku. Untuk yang satu ini Ango setuju, bukan?"

Karena rencananya, bulan depan Oda ingin melamar Ango untuk mengakhiri enam bulan pacaran mereka.

Tamat.

A/N: Awalnya mau bikin DazRan juga, tapi akhirnya dibatalin karena di fanfic yang aku bikin itu buat collab ama temen, dan temenku enggak mau dimasukin kemari wkwkw. aku enggak kepikiran bikin OdaAngo juga awalnya, tapi abis liat fanart mereka di Tumblr (posisinya berdua saling pelukan), dan request dari Zian juga, jadilah fanfic ini kubikin wkwkw. moga sih enggak mengecewakan ya.

Thx buat yang udah review, fav/follow, atau sekedar baca. aku menghargai apapun yang kalian berikan padaku~ Sampai jumpa di day 4!