I Forgot Last Night

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Romance

Rating : T+

Warning : AU! Typo(s), agak nganu/?

.

Enjoy guise~

.

.

Kiba kini sedang berada di meja makan rumahnya, ditemani Ino yang tengah menyiapkan ini dan itu agar sakit kepalanya sembuh. Tak lama, Ino ikut duduk di depannya. Lelaki itu mengambil sendok dan diulurkan ke si tetangga yang diam saja.

"Aku tidak menambahkan racun apapun di dalam supnya, jadi makan saja."

Kiba meraih uluran sendok dan segera menyeruput kuah sup pereda mabuk buatan Ino.

"Enak?"

Kiba mengangguk masih sambil menahan sakit. "Maaf merepotkanmu lagi."

Ino geleng-geleng. "Daripada merasa bersalah, tidakkah kau mau menceritakan padaku apa yang terjadi semalam?"

"Semalam? Bukankah aku mabuk?"

Ino mengangguk. "Iya, makanya aku tanya apa yang membuatmu mabuk."

"Entahlah, ku rasa aku membawa seorang perempuan masuk. Tapi begitu bangun, aku tidak melihat ada siapa-siapa di sampingku."

Ino membulatkan mulutnya. "Kau tidur dengan perempuan? Di kamarmu? Siapa dia?"

"Entahlah, aku pun tidak ingat. Mungkin orang kantor, atau justru orang yang baru ku kenal di bar. Aku tidak ingat, sungguh."

"Apa yang membuatmu mabuk, Kiba?" Ino menatap miris pada tetangganya sejak kecil ini.

"Orang-orang di hotel berulah lagi. Setiap ada relasi baru, maka makin banyak juga pertanyaan tentang ayah dan ibu. Sudah ku katakan pada Naruto agar membuat mereka berhenti menanyakan hal-hal itu, tapi Naruto tidak mau mendengarkanku."

"Ku rasa Naruto bukan orang yang suka mengadu."

"Iya, tapi Naruto tidak bisa menghentikan mereka bicara yang tidak-tidak. Aku jadi kesal padanya."

"Kenapa kau kesal pada Naruto? Sudah jelas relasi barumu itu yang bicara menyebalkan!"

Alis Kiba sedikit naik mendengar Ino membentaknya. "Kenapa kau marah padaku?"

"Karena kau menyebalkan! Sudah tahu yang salah bukan Naruto, masih saja membencinya!"

"Kau marah karena aku kesal pada Naruto? Ada hubungan apa kau dengannya?"

Bentakan Kiba tidak digubris sama sekali oleh Ino yang baru saja bangkit berdiri dan keluar dari rumah si lelaki.

"Terserah, aku mau ke kantor. Sudah terlambat."

Kiba hanya memandangi kepergian Ino datar. Memang sesekali mereka adu mulut, itu hal biasa mengingat setiap hari mereka bertemu dan membicarakan banyak hal. Terkadang, terlalu sering bertemu dengan orang yang sama bisa memicu kebosanan, dan bicara dengan mereka bisa membuncahkan emosi yang tidak tertahankan.

Ino sendiri sering emosi kalau Kiba sudah menjelek-jelekkan teman mereka. Ino tidak suka saja saat Kiba membicarakan keburukan orang lain atas masalah yang ia buat sendiri. Mabuk kan salahnya, tidur dengan perempuan yang entah siapa itu juga salahnya. Kenapa harus menyalahkan Naruto?

Bukankah itu terlalu berlebihan?

Sebelum benar-benar pergi, Ino berbalik arah dan membuka pintu rumah Kiba kembali, menampakkan Kiba yang masih melongo.

"Aku tidak marah padamu, kita lanjutkan pembicaraan ini nanti malam."

Hal itu membuat Kiba tersenyum senang.

Inilah yang membuatnya tidak pernah pergi dari sisi Ino walaupun mereka berdua kerap berselisih paham. Ino akan selalu melunak padanya, sampai kapanpun. Mungkinkah semua perempuan selalu punya sisi lembut yang tersembunyi seperti itu?

"Dan tentang perempuan yang entah siapa itu, ku harap kau segera minta maaf padanya." Ino benar-benar pergi ke kantor setelahnya.

Mungkin Ino benar soal Kiba yang meniduri seorang perempuan malam tadi. Tapi mungkin juga tidak. Kiba hanya ingat marah-marah di depan gerbang rumahnya yang tidak bisa dibuka. Selanjutnya ada seseorang yang membantunya mengatasi kunci itu dan mereka segera masuk ke dalam rumah. Kiba juga ingat saat ia memeluk perempuan yang memakai jaket jeans dan rok tenis itu hingga menuntunnya ke dalam kamar. Saat tubuh perempuan itu sudah ada di bawahnya, Kiba mengelus surai panjangnya dan juga pipinya yang begitu lembut.

"Kiba, hentikan,"

Perempuan itu memanggil namanya saat lidah nakal Kiba bermain-main di lehernya. Suaranya terdengar lirih, tapi Kiba tidak ingat siapa pemilik suara indah itu. Apa yang ia lakukan setelahnya pun ia tidak ingat. Sungguh. Kiba tidak tahu apakah ia benar-benar sudah meniduri perempuan itu atau belum.

"Argh, sial. Kenapa tidak ada yang membalas pesanku sama sekali? Kalau begini caranya, bagaimana aku tahu siapa yang aku tiduri tadi malam?"

Mengacak rambutnya frustasi mendadak memunculkan sebuah ide baru di kepala Kiba.

"Aku harus cek ranjangku sendiri. Pasti ada bukti di sana."

Dengan tergesa ia berjalan menuju kamarnya sendiri, tapi tak ditemukan bukti apapun yang menyangkut kegiatannya semalam. Ranjangnya bersih, tidak ada bekas apapun. Bahkan saat Kiba kira seprainya akan sedikit berantakan karena permainannya yang nakal bersama perempuan itu tadi malam, nyatanya tidak sama sekali.

Keasyikan melamun, Kiba tiba-tiba terhantam realita. Ini sudah pukul 9, sudah waktunya ia berangkat kerja. Naruto pasti akan mengomel habis-habisan.

Nah kan, baru juga dibilang. Naruto benar-benar menelepon.

"Kau dimana hah? Orang-orang di hotel daritadi mencarimu!"

"Jangan mentang-mentang kau pimpinan hotel ini jadi bisa berangkat seenakmu!"

"Cepat datang!"

"Sabar teman, aku akan ke sana dalam lima menit." Kiba memegangi kepalanya yang pening lagi.

Mungkin Ino benar, mungkin ia tak seharusnya kebanyakan minum seperti ini.

.

.

.

TBC :D